Attention! DOLL masih harus menunggu. Final Chapter sangat susah untuk dikerjakan, baru Konsepnya saja. Detail part per partnya masih belum ada. So jadi masih harus ditunggu. Saya harap sih bulan ini.
Untuk sekedar info, fic ini juga hanya akan berisi empat chap (tidak termasuk prolog dan epilog) dan kemungkinan besar tidak akan ada sequelnya jadi silahkan review yang banyak biar saya semangat nulinys (di sela-sela kerjaan).
Disclaimer : Masasshi Kishimoto.
1.
Ada sebuah hukum yang teraplikasikan pada semua vampire, dan hukum itu adalah.
Seorang vampire turunan tidak akan bisa melebihi tuannya. Termasuk jika yang jadi tuan adalah juga seorang vampire turunan. Jadi dengan kata-lain, kekuatan dari setiap keturunan vampire akan berkurang dan berkurang lalu akhirnya pada level di mana mereka tidak ada bedanya dengan manusia biasa.
Kecuali rasa haus mereka akan darah.
Mereka yang harusnya tidak bisa mati akan turun levelnya menjadi hanya mempunyai umur panjang, mereka yang punya kemampuan penyembuhan cepat akan perlu waktu lama untuk sembuh saat terluka, lalu mereka yang punya kekuatan fisik besar maka kekuatanya akan terus berkurang pada keturunan-keturunan selanjutnya.
Mereka kuat tapi mereka juga lemah.
Karena itulah mereka memilih bersembunyi dan menghindari perhatian agar bisa hidup dengan damai di tempatnya sendiri. Mereka hanya akan keluar jika mereka butuh, yaitu ketika mereka memerlukan darah.
Meski mereka kuat tapi di saat yang sama mereka adalah penakut.
Tapi, vampire darah murni lain.
Mereka punya tubuh yang abadi dan selalu mudah, punya kekuatan yang melimpah ruah, dan punya kemampuan uniknya masing-masing. Karena itulah, mereka tidak mempunyai musuh alami.
Manusia memang sudah lama ingin menghilangkan keberadaan vampire tapi sampai saat ini harapan itu masih belum bisa terwujud.
Ketika vampire turunan bisa mereka atasi, vampire darah murni adalah sesuatu yang mereka pilih untuk hindari sebab kekuatannya yang berada jauh di atas. Meski memang mebunuh seorang vampire darah murni adalah pekerjaan yang hampir mustahil, tapi melukainya adalah urusan lain.
Jika bersatu, para pembasmi vampire bisa melukai seorang vampire darah murni tapi untuk bisa melakukannya usaha itu sering berakhir dengan banyaknya korban yang jatuh. Bisa dibilang, kedua belah pihak mengalami kerugian besar tapi tetap tidak bisa menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang.
Hal seperti itu membuat ada status quo di antara para pembasmi vampire dan vampire darah murni.
Jika seorang vampire darah murni mengamuk, para pembasi hanya akan berfokus untuk meminimalisir kerugian. Sedangkan vampire darah murni akan memilih mundur karena takut terluka jika sekelompok pembasmi vampire yang terorganisir datang.
"Jadi walau bisa melakukan apapun, kami tetap harus menahan diri."
Naruto yang tidak tahu apa-apa tentang dunia paranormal ingin menanyakan beberapa hal yang tidak dia mengerti pada Hinata, tapi bukannya memberikan jawaban simple dari apa yang ditanyakannya. Gadis itu malah menceritakan pelajaran yang tidak akan ada gunanya untuk kebutuhan sehari-hari tadi pada pemuda itu.
"Aku paham, karena itulah mari kita akhiri topik ini dan segera makan malam."
"Makan malam?"
Hinata tidak meminta Naruto untuk memasak, karena itulah dia agak sedikit bingung kenapa Naruto menawarkan opsi itu padanya untuk mengakhiri pembicaraan kali ini.
"Ooooo…."
Lidah vampire tidak bisa merasakan apapun kecuali darah.
Gadis itu tersenyum pada Naruto.
"Apa yang kau maksud makan malam adalah ini?"
Hinata menubruk Naruto yang sedang duduk di sampingnya sambil menonton tv dengan tidak konsentrasi. Kemudian gadis itu menurunkan sedikit t-shirt kebesaran yang dia kenakan dan memperlihatkan pundak sampai lehernya pada Naruto.
Tapi sayangnya, yang diperhatikan oleh kedua mata Naruto bukan bagian itu.
Sebab Naruto ada di bawah dan Hinata ada di atasnya, dada Hinata jadi berada tepat di depan wajah pemuda itu.
"Bukaaan! bukan makan malam itu yang kumaksud!"
Begitu pemuda yang sama sekali tidak punya pengalaman dengan seorang gadis itu disuguhi pemandangan semacam itu, otaknya tiba-tiba panik dan tanpa sadar kedua tangganya mendorong badan Hinata.
"Kya. . ."
Hinata terdorong dan badanya terjatuh dari sofa, tapi karena kedua tangannya masih memegang badan Naruto dengan erat hal itu suskses membuat keadaan jadi berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Ok! aku paham! jadi yang kau maksud makan malam adalah ini?."
Awalnya Naruto tidak sadar apa yang sedang Hinata bicarakan, tapi begitu dia melihat ke bawah. Dia tahu apa yang dimaksud oleh gadis yang terbaring di bawah tubuhnya.
"Tapi sayangnya, sekeras apapun kau meremasnya tetap tidak akan ada yang keluar dari sana pelayan mesum!"
Di kedua telapak tanganya ada sensasi lembut dan kenyal yang sangat nyaman untuk diremas. Selain texturnya, ukurannya juga sangat pas di genggamannya, kalau mau dia bahkan bisa terus menerus meremasnya untuk satu atau dua jam lagi.
Tapi sayangnya, begitu dia sadar kalau yang dia sedang remas adalah dada Hinata. Firasat buruk langsung datang.
"Ini… kau tahu kan? kecelakaan! ya ini semua cuma kecelakaan!"
"Lalu kenapa kau terus meremasnya?"
Entah kenapa, meski Naruto tahu kalau yang dilakukannya salah tangannya tidak berhenti melakukannya.
Mungkin inilah yang orang sebut sebagai guilty pleasure.
"Ini. . . . "
Naruto sudah kehabisan kata-kata dan otaknya sudah tidak bisa mengarang alasan, karena itulah mulutnya bicara yang sesungguhnya.
"Insting laki-laki."
Mendengar jawaban itu, Hinata langsung menggigit jempolnya dan menuliskan sesuatu pada baju Naruto menggunakan darahnya.
"Kau tahu Naruto?"
Meski seorang vampire kekuatanya disegel sampai pada taraf dia tidak bisa mengeluarkannya lagi, tapi kenyataan kalau mereka adalah makhluk yang terbuat dari magic adalah masih valid. Karena itulah semua anggota tubuh mereka mengandung magic, dan sumber magic mereka adalah darahnya.
Jadi, darah seorang vampire bisa digunakan sebagai katalis untuk menggunakan magic.
"Seperti ini."
Sebuah gambar bintang segi lima terbalik sudah terbentuk di atas baju Naruto.
Setelah itu, Hinata menunjuk badan Naruto dengan dua buah jari tangan kanannya.
"Kai!"
Tanpa adanya momentum, tubuh Naruto terlempar dan menabrak tembok yang berada lima meter di belakangnya.
"Pelajaran selesai!"
Dengan santai, Hinata pergi setelah selesai membereskan penampilannya.
Dari luar, gadis itu memang kelihatan santai dan beberapa kali bertindak agresif pada Naruto. Hanya saja, sebenarnya walau dia punya umur yang sangat panjang serta pengalamannya sudah banyak. Dia belum pernah sekalipun berinteraksi sedekat itu dengan seorang laki-laki.
Pada awalnya, dia hanya ingin menggoda dan bermain-main dengan hati remaja Naruto. Baginya yang sudah hidup selama ratusan tahun, Naruto sama saja dengan anak kecil.
Tapi tanpa dia sadari, ketika melakukannya dia merasa senang. Senang yang bukan hanya sekedar terhibur, tapi senang yang dia belum pernah rasakan sebelumnya. Dan begitu merasakannya, dia jadi ketagihan dan terus-terusan menggoda pemuda itu agar bisa terus merasakan hal yang tidak dia ketahui itu.
"Aku perlu mendinginkan kepalaku."
Ketika Naruto memegang dadanya, bukan hanya marah yang dia rasakan. Dan perasaan itu entah kenapa membuat badanya jadi panas. Lalu, ketika dia mengingat kejadian itu badanya jadi tambah panas.
2.
Di hari berikutnya, Naruto dan Hinata kembali berangkat ke sekolah dan memancing banyak perhatian seperti biasa. Setelah masuk ke dalam kelas, mereka berdua berpisah dan menuju tempat duduk masing-masing di mana sudah ada yang menunggu mereka di sana.
Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya, mereka tidak diberondong banyak pertanyaan. Memang hal itu bisa dibilang baik, tapi untuk suatu alasan suana kelas agak terasa lain.
Sepuluh menit sebelum bel pelajaran pertama berbunyi, seluruh siswa kelas Naruto sudah berkumpul dan duduk rapi di tempatnya masing-masing lalu si ketua kelas berdiri di depan seakan sedang ingin berpidato.
"Mungkin kalian sudah tahu, tapi akan tetap kuberitahukan lagi."
Salah satu teman mereka diserang oleh seseorang dan sekarang sedang berada di rumah sakit, luka yang dia terima cukup parah dan dia harus melakukan pemulihan selama lebih dari sebulan.
Siapa yang menyerangnya belum diketahui, tapi yang jelas ada masalah yang lebih penting untuk dipikirkan sekarang.
"Siapa yang mau jadi perwakilan kelas untuk memeriksanya setiap hari?"
Mendengar kalimat itu, Naruto akhinya menyadari suasana aneh apa yang dari tadi menyelimuti kelas. Suasana itu adalah suana yang ditimbulkan oleh orang-orang yang was-was karena takut ditunjuk untuk melakukan tugas itu.
"Karena orang yang menyerangnya masih belum tertangkap jadi kurasa akan lebih baik kalau seorang laki-laki yang melakukan tugas ini."
Jika tugas yang akan dibebankan juga termasuk tugas untuk menjaga si orang yang bersangkutan, sepertinya memang benar kalau mengirim murid laki-laki sebagai penjaga adalah hal tepat. Jika seorang perempuan yang dikirim ada kemungkinan malah dia yang akan jadi korban selanjutnya.
Tapi.
Naruto tidak bisa menangkap maksud seperti itu dari kata-kata yang keluar dari mulut si ketua kelas. Impresi yang dia dapat adalah, si ketua kelas sedang mencoba mengamankan diri karena dia juga seorang perempuan. Dia juga sama sekali tidak mau ditunjuk oleh seseorang.
"Jadi siapa?"
Si ketua kelas tidak mengatakannya, tapi Naruto bisa menerjemahkan kalimat itu dengan baik.
Arti dari kata-kata itu adalah, aku tidak mau jadi kau saja ya!. Begitulah.
Keadaan kelas jadi semakin tenang karena situasi berada dalam posisi stalemate di mana semua orang takut berbicara karena takut ditunjuk. Dan Naruto juga ikut di dalamnya, mungkin satu-satunya orang yang tidak membaca suasana adalah Hinata. Karena itulah dia masih kelihatan tenang dan benar-benar serius memikirkan siapa yang paling cocok untuk menjalankan tugas itu.
"Kalau terus begini tidak akan solusi, bagaimana kalau kita voting?"
Si ketua kelas memegang sebuah penggaris kayu lalu memukulkannya ke papan tulis untuk memanggil perhatian dari teman-temannya.
"Tidak perlu ada calon, tidak perlu ada kerahasiaan, dan tidak perlu perjanjian tertulis, angkat tangan kalian lalu teriakan nama orang yang kalian pilih."
Voting yang akan diadakan penuh dengan flaw dan tidak memenuhi asas pemilihan, tapi berhubung ini adalah jalan pintas untuk bisa menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi dengan cepat. Naruto tidak punya alasan untuk tidak setuju.
Yang perlu dia lakukan hanyalah menyebutkan nama orang di sampingnya lalu masalah selsai. Jika semua orang melakukan voting dengan tidak terlalu serius sepertinya, kemungkinan besar orang di sampingnya tidak akan terpilih karena terlalu banyak orang dengan jumlah suara yang sama.
Ini yang namanya sinbiosis mutualisme, mendapatkan keuntungan dengam memberi orang lain keuntungan.
"Voting akan dimulai dalam tiga."
Seluruh murid di kelas mengangguk di saat yang sama tanpa Naruto sadari, dan meski Hinata menyadari tindakan itu dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia diam saja dan menyiapkan tangan kanannya.
"Dua."
Naruto sudah bersiap mengangkat tangannya dan membuka mulut untuk mengatakan nama orang yang jadi pilihannya.
"Satu."
Papan tulis digebrak dan.
"Aku memili. . . . .eh?"
Sebelum Naruto bisa menyelasikan kalimatnya, seluruh kelas menyuarakan nama yang sama pada waktu yang hampir bersamaan. Dan nama itu adalah namanya sendiri.
"Naruto!"
"Sakura."
Rencana Naruto sudah gagal total, entah kenapa seluruh kelas sudah setuju untuk memilihnya. Dan untuk sekedar catatan, yang terakhir itu adalah Hinata yang serius berpikir kalau Sakura adalah kandidat terbaik.
Dengan bela dirinya, siapapun yang datang pasti bisa dihadapi. Dan karena si pasien adalah seorang perempuan, punya teman perempuan lain Hinata rasa adalah hal yang palin tepat.
Tapi sayangnya tidak ada yang punya pikiran logis sama dengannya.
"Ini jebakan."
Pemuda itu mengeluh tapi tidak ada yang memperdulikan keluhannya.
"Naruto, tugasmu dimulai hari ini! karena tidak boleh ada rombongan yang masuk ke rumah sakit, jika kau tidak ingin sendiri ajaklah satu atau dua temanmu! rapat selesai!"
Naruto langsung lemas di kursinya.
"Ini sama sekali bukan rapat."
3.
Begitu sore tiba dan sekolah dibubarkan, Naruto segera pergi menuju rumah sakit untuk menjalankan tugasnya. Sedangkan Hinata, untuk suatu alasan ditahan oleh teman-temannya untuk tetap tinggal di kelas.
Teman sekelasnya memang menyebalkan, tapi mereka semua adalah orang yang baik. Karena itulah Naruto bisa tenang meninggalkan gadis itu di sana sendirian.
Rumah sakit yang dia tuju agak jauh, tapi dengan menggunakan bus dia bisa sampai dalam waktu sepuluh menit.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
Bilang kalau dia dipaksa untuk melakukan tugas sama sekali bukan pilihan. Lalu jika tiba-tiba orang asing sepertinya datang lalu sok kenal mengajak bicara, dia akan mendapat impresi yang buruk.
Memutuskan kalau memikirkan hal itu sama sekali tidak ada gunanya, dia berjalan masuk menuju lobby dan menanyakan kamar di mana teman sekelasnya itu dirawat.
Sementara itu, Hinata yang ditinggalkan oleh Naruto sedang dikerubungi oleh teman-teman sekelasnya yang kebanyakan adalah perempuan.
"Sekarang pengganggu sudah pergi, bagaimana kalau kita ngobrol Hinata?"
"Penganggu?"
Sadar dengan apa yang baru saja dikatakannya, seorang teman Hinata segera tersenyum dan mundur lalu mengalihkan perhatian.
Ketika murid laki-laki berpikir untuk memisahkan Hinata dengan Naruto dengan memilih pemuda itu, murid perempuan ingin Naruto pergi agar bisa banyak bertanya pada murid baru itu. Lalu, karena kebetulan tujuan akhir mereka sama, semuanya sepakat untuk mengusir Naruto dengan cara halus itu.
Walaupun sama sekali tidak halus.
Tentu tidak ada yang punya dendam pribadi dengan Naruto, tapi melihat pemuda itu selalu bertingkah mesra secara berlebihan dengan gadis cantik yang katanya adalah keponakannya tidak bisa dipungkiri agak menyebalkan untuk dilihat.
Selain itu, karena Hinata sendiri tidak pernah jauh dari Naruto teman perempun gadis itu jadi agak segan untuk mengajaknya ngobrol.
Solusi untuk mengatasi masalah itu adalah memisahkan Naruto dan Hinata untuk sementara.
"Jangan terlalu dipikirkan Hinata, boleh aku tanya sesuatu padamu?"
"Tentu saja."
"Sebenarnya apa kalian benar-benar saudara? maksudku apa kau benar-benar keponakannya Naruto?"
Naruto dan Hinata sama sekali tidak mempunyai kemiripan barang sedikitpun, tidak heran percaya kalau dua orang itu adalah saudara adalah hal yang sangat sulit.
"Aku bukan keponakannya!"
"Sudah kuduga!"
"Tapi aku adalah adik perempuannya."
"Apaaaaa!?"
Jika dibilang keponakan saja sudah tidak bisa dipercaya, apalagi adik perempuan. Teman-temannya ingin bilang hal itu, tapi melihat Hinata yang mengatakannya sambil tersenyum. Tidak ada yang mau mengatakan hal itu.
"Adik tiri."
"Ooooo."
Sebab mereka tidak tahu kalau ayah Naruto tidak pernah menikah lagi, mereka bisa menerima penjelasan itu dengan mudah. Di saat semua orang sudah agak lega mendengar penjelasan itu, Hinata malah menambahkan kalimat lain.
"Aku adalah adik tiri yang nakal."
"Ceritakan detailnya!"
Yang Hinata maksud dengan nakal adalah jahil, tapi sepertinya semua temannya berpikir ke arah yang lain. Dan arah lain itu sama sekali bukan arah yang baik untuk nama baik Naruto.
4.
"Haciiiiii! kenapa tiba-tiba aku merinding."
Cuaca sedang panas jadi tidak mungkin dia kedinginan, sedangkan ruangan sangat bersih jadi tidak mungkin dia bersin karena menghirup debu.
"Perasaanku sangat tidak enak."
Tidak jelas bagian mananya yang tidak enak, tapi yang jelas dia merasa tidak enak.
Dengan menelusuri lorong yang agak redup karena penerangannya belum dinyalakan, Naruto melewati satu-persatu kamar pasien yang kelihatannya kosong. Jika ingin membandingkan pengalamannya dengan sesuatu, mungkin yang paling tepat untuk menggambarkannya adalah menonton reality show tentang kemunculan makhluk halus di tv saat malam hari.
"Kenapa lorong rumah sakitnya harus seseram ini?"
Karena merasa semakin tidak nyaman dengan suasananya, Naruto memutuskan untuk mempercepat jalannya dan segera menuju kamar nomor dua ratus empat tempat temannya itu dirawat.
Hanya saja, begitu dia sampai di depan ruangan yang dia tuju. Tubuhnya berhenti bergerak. Tentu bukan karena efek magis melainkan karena dia melihat dan mendengar sesuatu yang harusnya hanya boleh ditonton oleh orang-orang yang sudah delapan belas plus.
Dari dalam dia mendengar suara mendesah, dan dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna dia bisa melihat kalau seorang gadis remaja seumurannya sedang kelihatan dicium oleh seorang pria yang umurnya ada di atasnya. Dari posturnya mungkin pria itu berusia dua puluhan.
Sebab si pria memeluk badan si gadis dengan erat serta posisinya juga membelakangi Naruto, dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan. Tapi dengan mendengarkan desahan dan tarikan nafas gadis itu saja, Naruto sudah bisa tahu kalau apapun yang sedang mereka lakukan hal itu bukanlah sesuatu yang boleh ditonton oleh orang lain.
"Apa yang harus kulakukan?"
Apapun itu, dari apa yang Naruto lihat si pria melakukan apa yang sedang dia lakukan dengan kasar dan menggebu-gebu. Tindakannya saat ini bisa disamakan dengan hewan buas kelaparan yang sedang memakan mangsanya.
Dari apa yang Naruto lihat, perbuatan pria itu bisa dimasukan dalam kategori sebuah pelecehan. Jadi jika dia masuk untuk menghentikannya, hal itu sepertinya adalah tindakan yang benar.
Tapi di sisi lain. Si gadis kelihatan menikmati perlakuan itu dan dengan sengaja membiarkan si pria melakukan apapun yang dia suka. Jadi mungkin mereka berdua punya hubungan sepesial, sehingga jika Naruto masuk dia cuma akan jadi pengganggu.
Di saat Naruto sedang bingung bukan main, dia melihat si pria sudah berhasil mengubah posisi mereka dan membuat Naruto jadi tambah tegang.
Si pria mendorong tubuh partnernya dengan kuat dan membuat tubuh si gadis jadi terbaring di atas ranjang rumah sakitnya, setelah itu si pria memegang kedua pundak si gadis dan mulai mendekatkan wajahnya ke arah si gadis. Kemudian, untuk membuat gadis itu semakin sulit bergerak si pria meletakan kaki kanannya di antara dua paha si gadis.
Dari posisi yang sekarang, dia bisa melihat jelas raut muka si gadis. Dari sana jelas terlihat kalau si gadis sudah kecapekan untuk suatu alasan. Dadanya naik dan turun dengan cepat sedangkan di mukanya dia memasang ekspresi memelas.
"Apa yang sedang kupikirkan?"
Melihat wanita yang berada dalam keadaan seperti itu membuat Naruto mempunyai dua pikiran. Pertama, dia ingin masuk dan segera menyelamatkannya dan yang kedua adalah dia ingin bertukar posisi dengan pria di sana.
"Dasar libido sialan!"
Naruto memutuskan kalau libidonya sangat tidak penting di situasi semacam ini dan mencoba masuk, tapi begitu dia menggerakan badannya sebuah suara yang bilang kalau staff rumah sakit boleh beristirahat berbunyi dan sukses mengganggu kegiatan dua orang yang ada di dalam kamar.
Dia melihat si pria yang ada di dalam berdiri merapikan penampilannya, lalu setelah mengatakan beberapa hal si gadis mengangguk dan mereka berduapun berpisah. Tentu saja sebelum si pria keluar, Naruto sudah sempat bersembunyi di balik ruangan lain terlebih dahulu.
"Aman."
Begitu yakin kalau si pria tadi sudah tidak bisa melihatnya, Naruto keluar mengetuk pintu teman sekelasnya itu. Dan tanpa menunggu, sebuah jawaban yang menyuruhnya untuk masuk bisa dia dengar.
"Maafkan aku."
Si gadis tiba-tiba menunduk dan meminta maaf, membuat rambut pirang panjangnya tertarik grafitasi dan menghasilkan efek sekelas iklan shampoo. Naruto sempat terpana, tapi dia langsung sadar dan bertanya.
"Kenapa kau minta maaf?"
"Aku dengar kau dipaksa untuk menjagaku, kalau aku tidak ingin melakukannya kau tidak perlu melakukannya."
Naruto memang dipaksa tapi dia datang ke sini bukan karena dia terpaksa.
"Jangan terlalu memikirkannya aku sudah sering diperlakukan seperti ini!"
Perlakuannya bahkan mungkin lebih buruk.
"Aku malah takut kalau aku yang menganggumu, bagaimana kalau kita mengatur jam kunjunganku? kau tidak mau kegiatanmu dengan pacarmu terganggu kan?"
Naruto tidak tahu harus melihat ke mana, sebab melihat langsung pada orang yang dia ajak bicara sudah tidak mungkin. Tanpa sengaja dia melihat ke arah kasur yang masih berantakan hasil dari aktifitas gadis di depannya tadi.
"Uh menganggu?"
Awalnya si gadis tidak tahu apa yang Naruto bicarakan tapi begitu dia melihat ke arah yang sama dengan Naruto, dia sadar apa yang ingin dikatakan oleh pemuda di depannya. Dan hal itu membuat mukanya jadi merah secara instan.
"Ka-ka-kau melihatnya? tolong jangan salah paham!."
"Aku hanya lewat saja."
Tapi berhentinya lama.
"Dan jangan khawatir! aku akan menganggap kalau aku tidak pernah melihat apa-apa! aku paham! aku paham!."
Sebagai seorang remaja Naruto juga pernah merasakan waktu di mana dia ingin melakukan hal seperti itu, tapi sayangnya dia tidak punya pacar sehingga dia hanya bisa bermimpi dan membayangkan.
Dia pernah mencium Hinata, tapi berhubung hal itu dikarenakan keadaan darurat dia tidak menghitungnya. Lagipula, hubungannya dengan Hinata masih belum ada pada level yang seperti itu. Gadis itu hanya suka menggodanya, tidak lebih dari itu.
Setidaknya begitulah anggapan Naruto.
"Kau tidak paham! hubunganku dengan Yahiko tidak seperti itu! dia itu kakakku!."
Apa yang baru saja gadis itu bilang sama sekali tidak menjelaskan apapun dan malah memperkeruh pikiran Naruto.
"Shion! kurasa sekarang aku punya kesalahpahaman yang lebih buruk dari sebelumnya! jika kau tidak bilang kalau dia adalah kakakmu masalah ini sudah selesai."
Sekarang. Begitu Naruto tahu kalau Shion sudah melakukan hal semacam itu dengan kakaknya sendiri, dia tidak lagi bisa menganggap kalau apa yang dilihatnya tadi adalah barang normal. Sudah jelas kalau hubungan antara Shion dan kakaknya adalah hubungan terlarang.
"Ada alasan khusus aku melakukannya."
Tentu saja ada, hanya orang tidak waras saja yang melakukan hal semacam itu tanpa alasan.
"Ok mungkin ini sudah terlambat, tapi aku tetap akan mencoba menganggap mataku ini tidak pernah melihat apapun setelah itu kau bisa hidup bahagia dengan kakakmu selamanya."
"Sudah kubilang kau salah paham! hubunganku dengannya tidak seperti itu! aku tidak bisa menjelaskannya tapi yang jelas tidak ada hubungan tidak sehat di antara kami berdua!."
Setelah melihat hal itu, ada satu hal yang sama sekali tidak bisa Naruto percayai yaitu kalimat yang bilang kalau tidak ada hubungan tidak sehat di antara kedua saudara itu.
"Shion! kasus ini sudah ditutup aku tidak akan membicarakannya lagi."
Gadis itu masih tidak puas dengan keputusan akhirnya, tapi dia juga tidak mau membicarakan topik itu lagi karena dia tidak punya materi untuk melakukan bela diri. Hubungannya dengan kakaknya memang tidak seperti yang dipikirkan Naruto, tapi kenyataan kalau kontak fisik di antara mereka sudah abnormal dari mata orang lain sama sekali tidak bisa dipungkiri.
Tapi ada hal lain yang membuat gadis itu ingin segera mengakhiri pembicaraan sebelumnya.
"Kau menyebut namaku dengan benar, padahal aku baru tahu namamu dari telpon tadi pagi."
Shion jarang berangkat ke sekolah jadi dia tidak terlalu hafal dengan nama dan wajah temanya walau mereka ada dalam satu kelas.
"Tentu saja aku tahu, memangnya siapa yang tidak tahu nama murid yang hanya berangkat sekolah tiga kali sebulan."
"Jadi begitu ya bagaiman aku dikenal."
Mendengar suara kecil itu, Naruto sadar kalau dia baru saja mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan dengan santainya.
"Maafkan aku."
Shion tidak masuk ke sekolah bukan karena dia tidak mau. Dia tidak bisa melakukannya sebab ada masalah dengan tubuhnya, karena hal itu dia harus terus berada dalam pengawasan dan perawatan yang intensif.
Dia bisa berangkat ke sekolah tiga kali dalam sebulan adalah batas yang diperbolehkan orang rumah sakit. Baginya, rumah sakit adalah rumahnya yang sebenarnya sert dokter serta staff di sana adalah orang tua kedua baginya. Jadi dia menurut pada mereka.
"Tidak apa-apa, lagipula setelah ini mungkin aku akan benar-benar tidak bisa berangkat ke sekolah lagi."
"Shion."
Sejak kejadian penyerangan kemarin, gadis itu mendengar kalau ada pembicaraan untuk tidak lagi memperbolehkan Shion keluar lingkungan rumah sakit di mana dia tidak bisa diawasi.
"Aku memang tidak bisa diandalkan, tapi jika perlu bantuan kau bisa selalu memanggilku, aku berjanji."
Naruto tidak bisa membantu masalah kesehatan tubuh gadis itu, dia tidak bisa membantu gadis itu secara finansial, dan dia juga tidak mungkin bisa menjaga kelesamatan gadis itu dua puluh empat jam sehari. Dan jika dia bisapun, dia tidak bisa memastikan kalau tidak akan ada sesuatu yang terjadi pada Shion.
Tapi jika gadis itu membutuhkan bantuannya, dia akan lebih dari mau untuk melakukannya dengan suka rela.
"Terima kasih, aku akan mengingat janjimu itu."
Gadis itu mengangkat wajahnya dan menunjukan matanya yang agak lembab. Dia tidak merasa sedih atau sakit tapi entah kenapa ada air mata rasanya mau keluar. Dia tidak mau membuat pemuda di depannya yang sudah repot-repot datang jadi khawatir karena itulah dia mencoba menahan diri agar air matanya tidak keluar.
"Sama-sam. . . . . . Shion, mungkin aku tidak sopan tapi bolehkah aku melihat pundakmu lebih dekat?"
"Ah. . . apa?"
Shion meraba bagian leher sampai pundak dengan tangan tangannya sendiri, lalu ketika dia menyentuh sebuah tempat dia sadar kalau pemuda di depannya mungkin menyadari apa yang coba dia sembunyikan.
"Aku tidak bisa menunjukannya."
Gadis itu mundur sambil memegangi area lehernya dan memasang pose waspada pada Naruto.
"Jangan takut begitu! aku agak merasa terluka kalau kau melakukannya, aku tidak akan menyakitimu jadi menurut saja."
"Bagaimana aku bisa tidak takut kalau kau bicara dengan cara seperti itu."
"Aku cuma ingin melihatnya tidak kurang tidak lebih."
Shion menggunakan tangan kirinya untuk mendorong Naruto, tapi hal itu malah dimanfaatkan pemuda itu untuk menangkap gadis itu dan membuat gerakannya berhenti.
Naruto menangkap tangan kiri gadis itu lalu menariknya dan ketika jarak mereka sudah dekat, Naruto memegang tangan kanan Shion lalu menekankan kedua lengannya pada ranjang. Membuat gadis itu tidak bisa bergerak dengan kedua tangannya berada di kedua sisi kepalanya.
"Kalau kau melakukan lebih dari ini kakaku tidak akan membiarkanmu hidup, kalau dia sudah marah kata-katakupun biasanya tidak akan dia dengarkan jadi aku tidak bisa membantumu."
"Sudah bilang kalau aku hanya ingin melihat, aku tidak punya niat un...untuk. . . kurasa aku sudah berlebihan."
Shion yang berada di bawahnya ada dalam posisi yang sangat menggoda. Dua kancing baju pasien rumah sakitnya terbuka dan membuat Naruto bisa melihat sebagian besar area dadanya. Selain itu, kenyataan kalau Shion ada dalam posisi tidak bisa melawan membuat Naruto tiba-tiba teringat pada kejadian yang dia lihat tadi.
"Naruto, boleh tanya apa yang sedang kau lakukan?"
Dari balik pintu, sebuah suara dingin masuk ke dalam ruangan. Dengan pelan, Naruto membalikan badanya dan mendapati Sakura ada di sana.
"Karena khawatir aku datang ke sini untuk melihatmu, dan ternyata kekhawatiranku terbukti."
"Aku bisa menjelaskannya."
"Tidak perlu! aku sudah mendengar semuanya! sekarang pilih saja yang kanan atau yang kiri!"
Apa yang didengar oleh gadis itu sepertinya berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apanya?"
Naruto melepaskan pegangannya pada Shion dan mulai mundur dari tempatnya.
"Tangan yang akan kugunakan untuk menghajar wajahmu."
Kalau dihadapkan pada posisi sulit yang sangat tidak bisa dihindari, orang akan cenderung memilih untuk meminimalisir kerugian. Tapi pada situasi Naruto diberi pilihan dengan hanya satu jawaban.
Karena Sakura sudah belajar bela diri dari kecil, dipukul dengan tangan kanan atau kiri sama sekali tidak ada bedanya. Biasanya tangan kiri lebih lemah dari kanan, tapi untuk kasus gadis itu kekuatan kedua tanganya sama saja. Sama-sama sangat menyakitkan. Pengalaman sudah membuktikan.
"Aku tidak bisa memilih."
Sakura tersenyum.
"Kalau kau tidak bisa memilih bagaimana kalau aku memberimu keduanyaaaa!"
"Bukan itu maksudkuuuuuu!"
Dengan muka babak belur, Naruto disuruh pulang dan tugas untuk menjaga Shion berpindah pada Sakura. kemudian, pemuda itu pulang dengan langkah berat hanya untuk menemukan Hinata yang kelihatannya sangat marah.
"Kau tahu tidak Naruto, karena kau terikat kontrak nyawa denganku bisa dibilang jiwa kita ini terhubung."
Tentu Naruto tidak tahu hal seperti itu, dia hanya mengangguk.
"Jadi secara global aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, dan ketika libidomu naik aku juga tahu hal itu."
"Itu aku bisa menjelaskannya."
Pada akhirnya, Naruto tidak bisa menjelaskan apa-apa dan hanya pasrah menerima hukuman yang bahkan dia tidak tahu kenapa dia bisa mendapatkannya.
5.
Dengan tugas yang sudah diambil alih oleh Sakura, aktifitas Naruto kembali seperti semula. Dia memang agak khawatir dengan Shion, tapi karena takut datang di saat yang salah dia selalu menahan diri dan mempercayakan semuanya pada Sakura.
Setelah seminggu tidak ada kejadian yang cukup menarik untuk disebutkan, di hari senin semua orang dibuat terkejut oleh kehadiran Shion di sekolah. Kecuali Hinata, semua murid yang sudah kenal dengan Shion hanya bisa melihat gadis itu dengan heran.
Sampai saat ini, meski Shion berangkat ke sekolah dia akan kelihatan pucat dan tidak bertenaga. Selain itu dia juga lebih sering membatasi area jelajahnya pada ruangan tertutup dan menghindari udara luar sebisa mungkin.
Gadis itu selalu mencoba bertingkah ceria, tapi dari luar sangat jelas kalau dia sedang memaksakan diri. Hanya saja kali ini berbeda.
Salah, kalau dibilang berbeda rasanya kurang tepat. Kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan gadis itu yang sekarang adalah berubah, berganti, atau lahir kembali.
Hari ini, hari senin. Shion datang ke sekolah lewat pintu gerbang dengan berlari, lalu begitu gadis itu melihat sosok Naruto tanpa berpikir panjang dia langsung menghampirinya.
"Bagaimana kabarmu Naruto?"
"Lumayan."
Memang benar kalau mereka sudah sempat mengbrol beberapa hal saat di rumah sakit, tapi Naruto yakin kalau hubungan mereka tidaklah seakrab ini. Hubungan mereka hanya sekedar dua orang yang saling kenal, itu saja tidak kurang dan tidak lebih.
Karena hal itulah, Naruto bingung harus bereaksi bagaimana. Membiarkannya tentu bukan hal yang baik untuk dilakukan, tapi mengikuti arus dan bertingkah sama dengan Shion juga sama sekali bukan pilihan yang bisa diambil.
"Ngomong-ngomong siapa dia Naruto? apa kau tidak mau mengenalkannya padaku?"
Dia tidak bisa bertingkah akrab karena ada gadis lain, sebab di sampingnya ada gadis yang untuk suatu alasan moodnya jadi tidak baik. Kalimatnya memang biasa, tapi nada yang gadis itu gunakan sama sekali bukan sesuatu yang biasa digunakan untuk meminta seseorang mengenalkannya pada orang lain.
"Ooooo. . . . . kalian sedang kencan pagi ya? maaf sudah menganggu!"
"Siapa yang sedang kencan!?"
Naruto dan Hinata, untuk pertama kalinya punya pikiran yang sama.
"Coba kita lihat, lengan kaliian bergandengan, badan kalian saling menempel, dan kalian berjalan di bawah satu payung yang sama."
Naruto juga sadar kalau dari prespektif orang lain mereka kelihatan seperti pasangan yang mesra.
"Kau salah paham aku dan dia tidak punya hubungan seperti itu, tapi. . . ."
Shion mengangguk.
"Tapi kau tidak bisa menjelaskannya kan Naruto? aku paham! aku paham!"
"Kau sama sekali tidak paham!."
Shion mundur lalu memasang pose orang tua yang sedang memarahi anaknya.
"Ok! mungkin ini sudah terlambat, tapi aku tetap akan mencoba menganggap aku tidak pernah melihat apapun! setelah itu kau bisa hidup bahagia dengannya selamanya."
"Jangan meniru kata-kataku!"
Hinata kelihatan tidak suka dengan kehadiran Shion, tapi pada akhirnya dia membiarkan saja gadis itu berjalan bersamanya dan Naruto.
Setiap hari Hinata selalu bersama dengan Naruto, entah itu di rumah, di sekolah, dan bahkan di jalan. Tapi, hari ini adalah pertama kalinya pemuda itu tersenyum dan tertawa dengan lepas.
"Apa aku. . . ."
Suara yang dia keluarkan tidak cukup keras untuk bisa didengar orang lain kecuali dirinya sendiri. Dan tentu saja kelanjutan kalimatnya juga hanya dia sendiri yang tahu.
Berhubung seminggu sudah berlalu, mau tidak mau Naruto harus menghadapi hal yang dia tidak suka lagi. Kelas olah raga.
Setelah upacara pagi selesai dilaksanakan, siswa kelasnya harus segera berganti baju dan menuju lapangan untuk melakukan kegiatan yang katanya untuk menjaga kesehatan itu. Dengan sangat terpaksa, pemuda itu menyeret kakinya dan ikut menuju lapangan.
Untungnya, hari ini materi yang diberikan tidaklah terlalu sulit untuk dilakukan. Setelah pemanasan dilakukan, kelas disuruh untuk membagi tim menjadi empat. Dua tim perempuan dan dua tim laki-laki.
Sebab jumlah laki-laki lebih banyak, diputuskan kalau laki-laki akan bermain sepak bola sedangkan perempuan akan bermain voli karena jumlahnya yang sedikit. Meski memang ada yang terisa, tapi mereka akan bermain secara bergantian.
"Syukurlah."
Dan Naruto adalah salah satu dari orang yang tersisa itu. Ketika murid lain kesal karena tidak bisa ikut main, dia malah senang karena tidak harus main. Tentu bukan karena dia tidak ingin main, tapi karena dia tidak akan berguna walau ikut dalam permainan.
"Apa kau ingin bermain Naruto?"
"Aku tidak bisa."
Di sampingnya, Hinata juga sedang duduk berlindung dari sinar matahari. Tidak seperti Naruto, dia tidak terlalu terpengaruh oleh sinar matahari, tapi meski begitu cahayanya masih bisa membuat tubuhnya merasa tidak nyaman.
Meski bukan itu alasan dia duduk di samping Naruto.
"Aku tanya apa kau ingin atau tidak?"
"Aku ingin, tapi mau bagaimana lagi? aku tidak bisa melakukannya."
"Oh begitu."
Maski seperti yang sudah Hinata katakan kalau jiwa mereka berdua saling terhubung, Naruto tetap tidak tahu apa yang gadis di sampingnya rasakan. Mereka begitu dekat, tapi jaraknya dengan gadis itu terasa sangat jauh.
Entah karena mereka itu berbeda spesies atau karena mereka belum saling mengenal, yang manapun itu yang paling jelas Naruto tidak bisa mengerti jalan pikir Hinata.
Tapi, mengerti atau tidak tugas yang harus dia lakukan sangatlah sederhana. Naruto tidak harus mengerti bagaimana pikiran Hinata berjalan, apapun yang gadis itu perintahkan pemuda itu harus mengerjakannya, apapun yang gadis itu inginkan pemuda itu harus mewujudkannya, dan apapun yang terjadi. Naruto harus melindungi Hinata.
Untuk sementara, hanya tiga poin itu yang perlu Naruto tancapkan pada otaknya.
"Naruto sebaiknya kau segera menyuruh gadis itu berhenti bermain."
"Apa kau khawatir padanya?"
"Omong kosong apa yang kau bilang tadi?"
"Eh?"
Naruto ingin bertanya kenapa dia tiba-tiba dibentak, tapi dia tidak sempat melakukannya.
"Aku tidak menyukainya! tapi aku lebih tidak suka kalau apa yang kau suka jadi abu di depan matamu."
"Apa maksudmu?"
"Apa sinar matahari sudah membutakan matamu? aku akan pergi ke ruang perawatan untuk istirahat! bilang pada guru kalau aku tidak enak badan."
Hinata segera pergi dan meninggalkan Naruto yang kebingungan. Dan karena kebingungan itu, dia mencoba memperhatikan Shion yang sedang melakukan smash dengan kuatnya.
Dengan bantuan sinar matahari, Naruto bisa melihat kalau ada lapisan yang memantulkan cahaya dari tubuh Shion. Sekilas benda itu terlihat seperti keringat tapi Naruto tahu kalau benda itu bukan keringat. Benda itu adalah benda yang sangat akrab dengan kulitnya sejak satu setengah bulan yang lalu.
"Jangan bilang kalau. . ."
6.
Naruto segera berlari menuju Shion lalu tanpa banyak omong dia menariknya pergi.
Mereka berdua pergi ke belakang gudang di mana peralatan rusak ditaruh sementara sebelum di buang, dan karena isinya memang hanya sampah jarang ada orang yang datang ke sana kecuali petugas kebersihan di hari jumat.
"Kenapa kita ke sini Naruto?"
"Dari pagi aku sudah menahannya tapi sepertinya ini sudah batasku."
"Heh?"
Dari pagi, Naruto sudah ingin menanyakan apa penyebab perubahan Shion yang sangat mencolok itu. Tapi gadis itu selalu saja dikelilingi oleh teman-temannya yang sudah lama tidak bertatap muka dengannya. Naruto merasa kalau dia akan mengganggu reuni mereka jadi dia memutuskan untuk menahan diri dan menjaga jarak.
"Ini terlalu cepat, hubungan kita belum sedekat itu, dan hatiku masih belum siap."
Satu kali pertemuan dalam jangka waktu satu minggu, tentu saja semua orang tidak akan siap kalau tiba-tiba diintogasi oleh orang yang setidak dikenal itu. Tapi, apapun yang terjadi Naruto harus menanyakannya.
"Aku tahu kalau ini mendadak tapi percaya saja padaku dan bekerjasamalah! aku janji tidak akan memaksa kalau kau memang tidak menginginkannya."
Shion mundur beberapa langkah, tapi sesaat kemudan dia berhenti. Dia mengepalkan tangannya lalu seakan baru saja membuat sebuah keputusan besar, dia kembali maju dan masang wajah penuh keyakinan.
"Bukannya tidak mau, aku hanya sedikit terkejut, kalau kau ingin melakukannya kau boleh melakukannya."
"Melakukanya? melakukan apa? aku hanya ingin bertanya padamu."
"Eh?"
Saat itulah kedua orang itu sadar kalau sedari tadi mereka berdua sedang membicarakan masalah berbeda yang kebetulan tanpa sengaja nyambung.
"Lupakan semua yang sudah kukatakan!"
Naruto tidak menyadari apa yang sedang dipikirkan Shion, tapi melihat reaksi gadis itu yang berlebihan. Sedikit banyak dia mulai paham apa penyebabnya.
"Ooooo…"
Naruto mengangguk.
"Aku akan menganggap kalau aku tidak pernah mendengar apapun, aku rasa untuk gadis seumuranmu hal itu sangat normal."
Naruto pernah membaca sebuah artikel yang isinya tentang sebuah studi yang bilang kalau ternyata wanita kadang lebih mesum daripada lelaki.
"Tolong jangan mulai lagi."
"Aku paham! aku paham!"
"Kau tidak paham!"
Shion memukul dada Naruto, tapi tentu pukulannya tidak keras. Setelah agak tenang, mereka berpindah lokasi. Meski memang tempat itu jarang dikunjungi, tapi tetap saja tanah itu adalah tanah sekolah sehingga ada kemungkinan murid lain datang ke sana dengan tiba-tiba.
Apa yang ingin Naruto tanyakan adalah, kapan Shion berubah jadi vampire.
Setelah menyadari apa yang Hinata ingin katakan ketika di lapangan. Naruto tahu kalau Shion memakai krim yang sama dengan yang dia pakai, krim khusus yang bisa memantulkan sinar matahari dan melindungi kulit seorang vampire agar tidak melakukan kontak langsung dengan cahaya itu.
Meskipun agak ragu, tapi begitu Naruto memperlihatkan taringnya Shion langsung mau bilang kalau dia baru jadi vampire seminggu yang lalu. Detailnya tidak mau gadis itu ceritakan, tapi dari ingatannya secara kasar Naruto bisa tahu siapa kandidat yang bisa dijadikan tersangka.
Hanya ada dua kemungkinan.
Tapi siapapun yang melakukannya, satu hal yang pasti adalah Shion bukan lagi manusia. Sama seperti Naruto. Dan hal itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan perubahan gadis itu.
Dengan kemampuan penyembuhan yang dimiliki seprang vampire, penyakit macam apapun bisa diobati bahkan tanpa menggunakan obat. Karena hal itulah, Shion bisa jauh lebih aktif dari sebelumnya.
Sembuh dari penyakitnya memang bagus, tapi menjad vampire sama sekali bukan berita yang bisa Naruto anggap baik. Naruto paham kalau dia tidak bisa melakukan apa-apa terhadap fakta itu, jadi dia memutuskan untuk melakukan saja apa yang dia bisa.
Vampire tidak punya musuh alami, tapi itu bukan berarti mereka itu aman. Pemburu vampire itu ada di mana-mana dan asalakan yang ditemuinya bukan seorang darah murni, mereka tidak akan berpikir panjang untuk menyerang. Entah itu anak kecil, wanita, atau apapun asalakan vampire mereka tidak ada bedanya.
Sebagai seorang senior, Naruto menyarankan Shion untuk tetap low profile dan jangan terlalu memancing perhatian. Pada bagian yang terakhir dia merasa agak miris sebab setiap hari dia selalu memancing perhatian, tapi dia tetap mengatakannya untuk mengingatkan Shion.
"Kalau kau punya masalah hubungilah aku, menelpon polisi sama sekali tidak ada gunanya."
Naruto menggirimkan vcardnya via bluetooth pada ponsel Shon, dan dengan gugup Shion menerimanya.
"I-Iya, mohon bantuannya."
Mereka kembali ke lapangan, mereka bilang kalau tiba-tiba Shion merasa pusing sehingga meminta Naruto untuk mengantarnya ke ruang perawatan. Meski kepercayaan terhadap Naruto sudah hampir tidak ada, tapi untu Shion adalah masalah lain. Begitu dia yang bicara semua langsung mengiyakan saja tanpa banyak tanya.
Mereka berdua berpisah lalu begitu kelas olahraga sudah selsai Naruto bergegas menuju ruang perawatan. Hinata bilang kalau dia akan ke sana, karena itulah Naruto pergi untuk menjemputnya.
Pemuda itu tidak lupa dengan posisinya. Sekarang dia adalah pelayan dari gadis itu.
Tapi begitu dia sampai di ruangan yang dia tuju, tidak ada seorangpun di sana. Tidak ada orang dan bahkan tidak adan tanda-tanda kalau ada orang yang sudah ke sana. Semuanya rapi seakan tidak pernah disentuh.
"Apa dia sudah ke kelas ya?"
Daripada menebak lebih tepat kalau dia disebut sedang berharap.
Hanya saja, begitu Naruto masuk ke dalam kelas Hinata juga tidak berada di sana. Gadis itu memang tidak membutuhkan pendidikan formal untuk mencari pekerjaan, tapi biasanya dia tetap mengikuti pelajaran sebab menganggap kegiatan itu menyenangkan. Karena itulah, dia tidak berada di dalam kelas saat bel masuk sudah berbunyi adalah hal yang aneh.
Dia mencoba bertanya pada orang di sampingnya, tapi dia tidak mendapat jawaban dan malah hanya sebuah pertanyaan yang balik dilontarkan.
"Hinata siapa?"
Kalau ada yang bertanya siapa itu Naruto dia masih bisa paham. Tapi kalau ada yang tanya siapa itu Hinata, Naruto tidak bisa merasakan hal lain kecuali firasat buruk.
Lain dari Naruto yang mencoba jadi low profile meski akhirnya gagal, gadis itu tidak sudah jadi pusat perhatian sejak kehadirannya untuk pertama kali. Harusnya satu sekolah sudah tahu gadis itu atau minimal pernah mendengar namanya.
Mendengar teman sekelasnya secara langsung bilag kalau dia tidak tahu tentang gadis yang bernama Hinata, Naruto langsung sadar kalau ada situasi tidak normal yang sedang terjadi.
Dia tahu kalau ada hal yang tidak beres, tapi dia tetap duduk di kelas dan mengawasi keadaan. Dia tentu ingin segera lari mencari Hinata, tapi selain sekarang masih jam pelajaran dia juga tidak tahu ke mana dia harus mencari. Jadi, dia memutuskan kalau mencari informasi adalah hal paling pertama yang harus dia lakukan.
"Aku harap kau baik-baik saja."
Jiwa mereka berdua saling terhubung, sehingga jika Hinata merasakan sakit Naruto juga akan ikut merasakan sebagain kecilnya. Dan sampai sekarang Naruto belum merasakan apa-apa yang artinya apapun yang sedang terjadi, keadaan Hinata masih baik.
Setelah pulang sekolah, Naruto segera berlari ke rumahnya untuk memeriksa kalau-kalau Hinata sudah pulang duluan. Tapi sayangnya, dia juga tidak menemukan gadis itu di sana. Dia tidak terlalu berharap banyak, tapi mengetahui hal itu masih membuatnya agak kecewa.
Hinata tidak mempunyai ponsel, karena itu Naruto tidak bisa menghubunginya. Membuat Naruto jadi semakin bingung, dan ketika kebingungannya sudah memuncak tiba-tiba sebuah petunjuk datang.
Dengan cara yang sangat tidak Naruto inginkan.
Sebuah telpon datang dan begitu Naruto mengangkatnya, yang dia dengar adalah.
"Gadis yang kau cari ada padaku, datanglah sendiri ke auditorium sekolah malam ini sendirian jika kau ingin melihatnya lagi."
Naruto tidak bisa memberikan reaksi karena begitu orang tidak dikenal itu selesai bicara, sambungan telpon langsung terputus.
Meskipun begitu, Naruto langsung memutuskan kalau dia akan pergi. Lalu, begitu dia ingin bergerak dari tempatnya tadi. Sebuah suara menganggunya.
"Telpon tadi adalah pancingan dan jeals yang menunggumu adalah jebakan, apa kau tetap mau pergi?"
Di belakang Naruto, ada seorang pemuda yang sedang duduk santai menonton televisi sambil memakan kripik kentang seakan tempat itu adalah rumahnya sendiri.
"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, tapi sementara ini cuma satu hal yang sangat aku ingin tahu."
"Aha ihu."
"Telan dulu makananmu!"
Pemuda di sana menelan kripik kentangnya dan melihat Naruto.
"Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku!?."
"Sepertinya pintu rumahmu sudah rusak."
Naruto melihat ke arah pintu depan rumahnya, dan yang berhasil dia temui hanyalah sebuah kayu yang tadinya adalah pintu sudah terbelah jadi dua dengan sangat rapi. Padanan untuk keadaan pintu rumahnya saat ini adalah, pisang yang dibelah menggunakan golok tajam dengan sekali tebas.
"Pintu rumahku! kau harus menggantinya orang gila!"
"Jangan marah karena hal kecil semacam itu, cari saja selotip lalu tempelkan kembali dan masalah selesai."
"Ok! itu sama sekali bukan masalah kecil! dan aku tidak punya selotip!"
"Daripada masalahmu yang sekarang, bukankah urusan pintu itu sama sekali bukan apa-apa."
Ya. Masalah terbesar Naruto saat ini adalah Hinata yang diculik untuk suatu alasan.
"Kau ini siapa?"
"Uchiha Sasuke! dan sebagai catatan aku bukan orang berkemampuan supranatural maupun makhluk lain, aku seratus persen manusia biasa.
"
Manusia yang mampu membelah pintu seperti roti sama sekali tidak mungkin biasa. Tapi hal sama sekali tidak ada gunanya untuk dipikirkan, karena ada masalah lain yang harus jadi fokus utama Naruto.
Naruto duduk di sofa sedangkan Sasuke tetap duduk di atas lantai sambil terus makan dan menonton acara komedi yang Naruto tidak tahu lucunya ada di bagian mana.
"Belakangan ini ada vampire yang menyerang banyak teman-teman onmyojiku dan aku ditugaskan untuk memburunya, lalu kebetulan sepertinya dia juga adalah vampire yang menculik gadismu."
"Vampire ya."
Naruto mengingat kejadian tadi pagi. Teman-temannya tidak mengingat Hinata jadi kemungkinan besar pikiran mereka dimanipulasi, dan satu-satunya makhluk yang dia tahu bisa memanipulasi pikiran seseorang hanya ada satu. Vampire.
Naruto sudah memperkirakan hal itu sehingga dia melakukan sedikit percobaan.
Dan dia mendapat hasil yang aneh. Orang yang terkena kehilangan ingatan tentang Hinata bukan hanya teman sekelasnya saja melainkan seluruh sekolah, murid, guru, staff, dan bahkan petugas kebersihan. Mereka semua lupa dengan Hinata.
Bagi vampire biasa, melakukan semua itu sama sekali tidak mungkin. Jadi...
"Apa dia juga seorang darah murni? Hinata memang lemah tapi dia tidak selemah itu sampai seseorang dengan mudah bisa membawanya."
Setidaknya Hinata pasti akan melawan, dan ketika gadis itu melawan lalu terluka Naruto akan langsung tahu. Tidak adanya tanda perlawanan berarti vampire itu menggunakan cara lain yang tidak melibatkan kekerasan.
"Tidak! dia bukan vampire darah murni, memang ada yang mati tapi bukti kalau sebagain besar teman-temanku bisa lolos menandakan kalau dia bukan vampire darah murni.
Seorang onmyoji tidak bisa menghadapi vampire darah murni sendirian. Itu adalah fakta yang Sasuke sendiri tidak mau akui.
"Aku paham kalau dia menyerang Onmyoji tapi kenapa dia menculik Hinata?"
Sasuke melirik Naruto.
"Apa kau lupa julukan gadis itu?"
Vampire darah murni terkuat.
"Jadi dia menginginkan kekuatan Hinata, lalu kenapa dia harus menculiknya apa caranya tidak terlalu berputar-putar."
"Kau ini bodoh ya?"
"Iya aku memang bodoh!"
Sebab tidak ada mata pelajaran yang mengajarkan hal semacam itu pada Naruto.
"Jadi tolong jelaskan."
Mengambil kekuatan dari seorang vampire sama sekali bukan sesuatu yang sederhana. Naruto bisa melakukannya hanya dengan menghisap darah Hinata, tapi itu karena mereka terikat kontrak sepesial. Bisa dibilang keadaan mereka sekarang sudah seperti satu jiwa yang mempunyai dua tubuh.
Kekuatan Hinata sedang disegel, dan segel itu membuat Hinata tidak bisa mengeluarkan kekuatannya. Selain itu segel yang dipasangkan padanya juga membuat kekuatan gadis itu tidak bisa ditarik dari luar. Jadi, apapun yang si penculik lakukan dia tidak akan bisa mengekstrak kekuatan gadis itu dari tubuhnya.
Selama segel itu masih ada kekuatan gadis itu akan terus tersimpan tanpa bisa diakses oleh siapapun kecuali Naruto yang punya ikatan sepesial dengan Hinata.
Sayangnya segel itu tidak bisa dibuka kecuali oleh orang yang memasangkannya, dan orang yang memasang segel sekuat itu pasti bukan orang bisa. Sasuke tahu betul kenapa si penculik tidak menyerang, hal itu karena orang yang dia sebutkan bukan sesuatu yang bahkan bisa dia hadapi.
"Karena itulah dia mengincarmu, dengan membunuhmu kekuatan Hinata akan jadi seratus persen dan dia bisa melepas segel itu secara paksa."
Tidak diragukan lagi kalau telpon tadi hanyalah sebuah jebakan untuk memancing Naruto agar mau dibunuh. Selain jelas si penculik tidak punya niat baik, ada kemungkinan besar kalau dia bahkan tidak akan ada di tempat yang disebutkan dalam telpon.
"Apa kau mau aku yang menyeleasikan masalah ini sendiri?"
Tawaran Sasuke kedengaran logis sebab dia adalah profesional, tapi Naruto tidak bisa percaya padanya seratus persen. Selain karena mereka baru saja bertemu, fakta kalau pemuda di depannya adalah seorang pemburu vampire membuat Naruto harus selalu waspada.
Hinata adalah vampire darah murni terkuat yang keberadaanya dianggap berbahaya, dan tugas mereka adalah menghilangkan bahaya itu dengan cara apapun.
"Mau jebakan atau bukan aku tidak punya pilihan lain sebab cuma itu petunjuk yang ada untuk bisa menemukan Hinata, jadi aku tetap ikut."
"Jadi kau mau mengambil resiko? aku akan memberimu sedikit rasa hormatku, meski kau adalah vampire."
"Aku memang vampire. . ."
Tapi dulu aku adalah manusia.
Dia tidak mengatakannya sebab itu adalah dulu dan bukan sekarang.
7.
Meski mereka tahu kalau yang menunggu hanyalah jebakan, mereka masih tetap masuk ke dalam audiorium. Dan begitu mereka berada di dalamnya, sebuah sambutan tidak mengenakan dipersembahkan pada mereka.
Di sekitar mereka ada sangat banyak lembing yang bagian tajamnya terarah pada mereka berdua.
"Jadi dia punya telekinesis."
Tapi telekinesis tidak akan berguna kalau musuh tidak terlihat, jadi pasti orang itu melihat Naruto dan Sasuke dari suatu tempat.
"Jangan kagum begitu! aku bisa menyembuhkan diri tapi kau bagaimana?"
Naruto adalah vampire, jadi dia punya kemampuan penyembuhan yang sangat cepat. Rasa sakitnya masih bisa dia terima, tapi setidaknya benda-benda itu tidak akan bisa membunuhnya jika tidak ada yang mengenai jantungnya.
Tapi tidak sepertinya, Sasuke adalah manusia biasa.
"Aku tidak akan terluka oleh benda seperti itu, selain itu aku juga ragu kalau benda semacam itu bisa mengenaiku."
Gelombang serangan pertama datang dan puluhan tombak tajam bergerak cepat menuju mereka berdua.
Sasuke mengeluarkan sebuah pedang lalu berdiri di depan Naruto.
Naruto sempat khawatir melihat kepercayaan diri Sasuke yang terlalu besar. Tapi begitu serangan datang dan dalam sekejap mata, pemuda itu mampu memotong semua benda di depannya. Naruto akhirnya yakin seratus persen kalau pemuda di sampingny sama sekali bukan manusia biasa.
Gelombang demi gelombang serangan terus berdatangan, tapi mereka berdua masih bisa tetap berdiri. Beberapa luka kecil dialamai oleh Naruto, tapi dengan kemampuan penyembuhannya hal itu sama sekali bukan masalah.
Sedangkan Sasuke, meski Naruto sudah berkali-kali mengedipkan matanya dia masih tidak bisa percaya kalau sama sekali tidak ada luka pada pemuda itu. Sasuke beberapa kali terkena serangan dan bahkan banyak bagian pakaiannya yang sudah sobek, tapi untuk suatu alasan tidak ada satupun benda yang bisa melukai kulitnya.
Naruto ingin bertanya, tapi tentu dia tidak punya waktu.
Hanya saja sepertinya Sasuke lain, di sedang berbicara pada seseorang lewat telpon.
"Sepertinya ini memang murni perangkap, tidak ada tanda-tanda dari vampire sialan itu."
Sasuke beberapa kali mengangguk lalu dia menutup telponnya dan berlari menuju sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan peralatan sound system bersama dengan Naruto.
"Dia tidak bisa menggerakan sesuatu jika dia tidak bisa melihat bendanya jadi semua barang di sini tidak akan bergerak dengan sendirinya."
Meskipun begitu, kalau si penculik melemparkan benda besar dan brat ke pintunya ruangan itu mereka tetap akan dalam masalah.
"Apa kau tidak sadar, benda yang bisa dia kontrol adalah benda berberat tidak lebih dari tiga kilo."
"Tapi tetap saja, tiga di tambah banyak sama dengan banyak sekali."
Mungkin benda yang bisa digerakan hanya berberat tiga kilo gram, tapi kalau jumlahnya banyak tentu hasil akhirnya akan jauh lebih besar dari angka itu. Dan, pintu alumunium di samping mereka pasti tidak akan bisa bertahan dalam waktu yang lebih lama lagi.
"Karena itulah kita harus memanfaatkan waktu sempit ini, keluarkan darahmu."
"Apa?"
"Keluarkan darahmu bodoh!"
"Aku dengar! yang ingin kutanyakan adalah kenapa aku harus mengeluarkan darahku."
"Aku sudah pernah bilang kalau aku ini hanya manusia biasa kan?"
"Manusia biasa dari hongkong!?"
Meski jadi seorang onmyoji, Sasuke sama seperti Sasori. Tidak memiliki kekuatan supranatural dan hanya bergantung pada kemampuan yang dia latih sendiri. Kalau Sasori mengasah kemampuannya untuk melakukan trik, Sasuke melatih kemampuan yang jauh lebih sederhana.
Karena dia lahir di keluarga yang dulunya adalah keluarga samurai, kemampuan menggunakan pedang sudah dia dapatkan dari kecil. Dan, meski masih muda dia sudah menjadi pengguna pedang paling kuat di keluarganya.
"Naruto dekatkan wajahmu."
"Apa?"
"Dekatkan saja!."
Seperti yang diminta, Naruto mendekatkan wajahnya pada Sasuke. Lalu, setelah jarak di antara mereka sudah berkurang dengan derastis. Sebuah pukulan keras Sasuke lancarkan ke hidung Naruto.
"Apa-apaan kau?"
"Mengeluarkan darahmu!."
"Setidaknya bilang dulu!"
"Kalau aku bilang, kau akan menghindar! sudahlah! sekarang gambar bentuk ini dengan darahmu."
Sasuke mengeluarkan ponselnya lalu melemparkan benda itu pada Naruto, di sana ada sebuah gambar geometris dengan sebuah segi tiga yang dikelilingi lingkaran.
Sasuke tidak bisa menggunakan magic dan begitu juga Naruto, tapi tidak sepertinya yang benar-benar seratus persen manusia biasa Naruto adalah vampire jadi darahnya mengandung magic.
"Sayang, bisakah kau meledakan tempat ini?"
Tentu yang Sasuke maksud sayang bukanlah Naruto tapi seseorang yang sedang dia ajak bicara di telpon.
Sasuke kembali mengangguk beberapa kali kemudian dia berbalik menghadap Naruto.
"Hancurkan tembok di belakangmu!"
"Apa?"
"Hancurkan tembok di belakangmu bodoh!"
"Sudah kubilang kalau aku dengar bodoh! maksudku kenapa aku harus menghancurkan tembok itu?"
"Cepat lakukan saja kalau tidak ingin mati!."
Sasuke sudah berlari dengan cepat meninggalkan Naruto yang masih kebingungan. Sedangkan Naruto yang kebingungan baru menyadari kalau keadaan bahaya yang besar akan segera terjadi. Simbol yang dia gambar menggunakan darahnya bersinar dengan cahaya biru, dan logo yang tadinya kecil jadi semakin besar dan besar.
"Aaaaaaaaaa!"
Naruto tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi setidaknya insting bertahan hidup yang dia miliki bilang jika dia tidak segera keluar dia akan benar-benar mati. Untuk kedua kalinya.
Naruto berlari menubruk tembok dan menghancurkannya lalu terus berlari, berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu.
Setelah beberapa saat, sebuah ledakan besar terdengar dari belakangnya.
"Ini sudah lebih dari sekedar berlebihan!"
8.
Sasuke mengirimkan shikigami berbentuk burung untuk mengawasi daerah sekitar mereka, setelah itu mereka berjalan meski belum jelas tujuannya mau ke mana.
Musuh mereka bisa menggunakan telekinesis, tapi kemampuan seperti itu tidak akan berguna jika musuhnya tidak terlihat. Oleh karena itu dia harus terus mengawasi tergetnya dari suatu tempat karena mereka tidak bisa menggunakan shikigami.
Mengontrol sebuah shikigami sangatlah sulit bagi vampire, karena keuatan mereka yang besar sebuah shikigambi biasanya akan langsung hancur.
"Harusnya dia tidak terlalu jauh dari tempat tadi."
Setelah kata-kata itu, mereka berdua berjalan dalam suasana sepi dalam waktu yang lama. Sampai Naruto membuka pembicaraan ketika mereka melewati sebuah bangunan tua.
"Yang tadi kau telpon, apa dia pacarmu?"
"Pacar?"
"Yang kau panggil sayang itu."
Naruto tidak ingin membicarakan hal itu, tapi karena dia tidak punya topik lain dan hanya itu materi yang dia punyai. Mau tidak mau dia terpaksa mengangkat topik itu.
"Aku tidak punya pacar yang tadi adalah adik perempuanku!."
"Kalau kau bilang pacar aku kan mencoba maklum dan menganggap kalau kata-kata yang kau gunakan padanya itu normal."
"Memangnya apa salahnya bilang sayang pada adik sendiri."
"Kau memang tidak salah, tapi kau juga tidak benar."
Bilang sayang pada anggota keluarga mungkin bisa dibilang normal, tapi bilang sayang pada adik perempuan sendiri dengan nada yang biasa digunakan pada seorang kekasih terdengar sangat salah.
"Lagipula aku tidak butuh pacar! memangnya siapa yang butuh pacar atau istri kalau aku punya adik perempuan yang sangat manis!"
"Aku rasa pikiranmu perlu banyak dikoreksi, logika yang kau gunakan sama sekali tidak logis."
"Kau bilang begitu karena tidak punya adik perempuan, kalau kau punya pasti kau setuju denganku."
"Tidak mungkin!"
"Diam!"
Muka serius Sasuke mampu membuat Naruto yang akan mengutarakan sejuta alasan kenapa pikiran Sasuke tidak logis berhenti di tempat dan menahan diri untuk tidak membuka mulutnya.
"Semua shikigami yang kusebar hancur, lokasinya berbeda-beda jadi mungkin musuhnya ada banyak."
Mereke berdua memutuskan untuk berpencar.
Jika musuh yang dihadapi oleh mereka memang benar ada banyak, mereka harus mengalahkannya satu persatu sebelum lawanya berkumpul dan bisa bekerjasama. Tujuan strategi itue adalah agar membuat mereka tidak bisa dikepung oleh musuhnya.
Naruto berjalan mengendap menulusri tembok mencoba untuk menyembunyikan diri. Untuk manusia biasa lingkungan gelap adalah penghalang, tapi bagi Naruto yang sudah berubah jadi makhluk malam kegelapan sama sekali bukan halangan.
Sekolahnya dulu tidak berlokasi di tempat yang sekarang, dulunya sekolahnya berada di area yang sedang dia jelajahi sekarang. Hanya saja, di abad pertengahan lokasi itu dijadikan arena pertempuran sehingga banyak bangunan yang hancur dan tinggal puing-puing.
Selain itu, karena dikhawatirkan masih ada senjata yang masih aktif tempat itu ditutup dan murid-muridnya di larang ke sana. Dan hal itu menyebabkan suasananya jadi seram. Bangunan tua dipadukan dengan kegelapan membuat tempat itu seperti berhantu.
"Kalau kau sedang mencariku, jangan mengendap-nedap seperti itu sebab aku juga bisa melihatmu dengan jelas."
"Aaaaaaaaaa…"
Naruto kaget, dan hal itu membuatnya berteriak seperti wanita tanpa dia sadari.
"Aku tidak menyangka kalau kau semenjijikan itu."
"Itu hanya reflex!"
"Reflex yang sangat unik."
Yang dia temukan bukan Hinata, jadi apa yang sedang dia cari sama sekali belum ditemukan. Tapi, menemukan musuh yang dari tadi bersembunyi dan melihat dari jauh juga bukan hal yang buruk.
"Untuk pembukaan, bagaimana kalau kau melepas topengmu itu? sebab aku sudah tahu siapa kau dan apa alasanmu menculik Hinata."
Orang yang tadi memanggil Naruto membuang topeng berwarna oranyenya dan memperlihatkan wajahnya.
"Kalau begitu semua akan lebih mudah, jadi bisakah kau mati dan segera merealisasikan keinginanku?"
"Aku juga ingin menolong adikmu, tapi menyerahkan nyawaku sama sekali bukan tawaran yang bagus."
Rambut berwarna cerah, wajah mengintimidasi, serta aksesosir semacam tindik, anting, serta cincin yang ada di mana-mana. Hanya satu orang yang pernah Naruto lihat punya penampilan seperti itu.
"Yahiko!"
9.
Hanya ada dua orang yang punya kemungkinan membuat Shion menjadi Vampire, orang pertama adalah penyerangnya dan yang kedua adalah kakaknya sendiri.
Shion mengalami luka fisik yang serius sampai membuatnya harus segera dirawat kembali di rumah sakit, jika saat dia diserang gadis itu dijadikan vampire lukanya akan sembuh bahkan sebelum ada yang menemukannya tergeletak di jalan.
Jadi jelas Shion menjadi vampire setelah dia berada di rumah sakit, dan pengunjung yang Naruto tahu sering datang ke sana hanya ada dua yaitu Sakura yang jadi petugas menggantikannya dan kakaknya yang hanya pernah dia lihat sekali.
"Kalau kau tidak mau bekerja sama maka aku akan memaksamu!"
Yahiko maju dengan berlari hendak memukul Naruto, tapi bukannya menghindar Naruto juga ikut berlari hendak memukul Yahiko. Naruto hanyalah seorang vampire amatiran tapi dia memiliki sepuluh persen kekuatan seorang vampire darah murni di tubuhnya, sedangkan Yahiko. Meski kelihatannya adalah vampire yang lebih berpengalaman, tapi dia hanyalah vampire turunan.
Secara statistik mereka berdua seimbang.
"Rasakan ini bocah!"
Pukulan mereka saling bertabrakan, tapi tidak seperti yang sudah diperkirakan oleh Naruto. Ternyata kekuatan mereka tidak sama. Pukulan Naruto bisa dipatahkan bersamaan dengan tangannya, setelah itu badannya terlempar sejauh beberapa meter ke belakang.
"Bagaimana bisa?"
Tangan patah Naruto terasa sakit, tapi dia sedang tidak sempat untuk memikirkannya.
"Kau tahu sendiri kan? setiap vampire mempunyai kemampuan uniknya masing-masing."
Naruto melihat ke arah tangan Yahiko, saat ini tangannya sudah berubah warna dan tekstur. Gampangnya, sekarang tangan Yahiko sudah serupa dengan batu.
Yahiko datang lagi, tapi untuk kali ini Naruto memilih lari dan menghindar. Konfrontasi langsung dengan Yahiko sama sekali tidak menguntungkan buatnya, selain itu tangannya juga masih perlu waktu untuk sembuh. Karena itulah dia memilih untuk kabur.
"Kenapa kau kabur?"
"Siapa yang kabur."
Naruto melihat ke arah atasnya, di sana ada sebuah burung abnormal yang sedang terbang rendah.
Naruto berhenti lalu kembali menghadap Yahiko.
"Aku sudah pernah bilang ini pada seseorang, dan sekarang sepertinya aku perlu bilang hal ini juga padamu."
Yahiko tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Naruto dan terus maju. Lalu, dia merasakan sesuatu, sebuah firasat kalau dia ada dalam bahaya. Tapi meski begitu, dia tetap maju tanpa ragu sedikitpun.
"Jangan hanya lihat apa yang ada di depanmu."
Di saat itu juga, sebuah pedang menembus badan Yahiko dari belakang.
"Sialan, aku meleset."
Yahiko sempat mengubah posisi badannya tepat sebelum pedang Sasuke menembus badanny. Lukanya jelas berat, tapi setidaknya jantungnya masih selamat. Bagi vampire, hal itu sudah cukup untuk memastikan ketahanan hidupnya.
"Jadi kalian membuatku mengira kalau kalian berpisah lalu menyiapkan jebakan semacam ini, pintar tapi sayangnya."
Yahiko melepaskan sebuah cincin di salah satu jarinya setelah itu tangan kiri pemuda itu berubah menjadi sebuah wakizashi dan digunakan untuk menusuk Sasuke.
"Sayangnya tidak ada yang bisa melukai tubuhku."
Yahiko terkejut begitu menyadari kalau senjatanya bahkan tidak bisa melukai kulit Sasuke, tapi dia tidak kehilangan akal. Meski badannya tidak bisa ditembus benda asing, tapi badannya masih seberat manusia biasa.
Yahiko merubah bentuk tangannya menjadi seperti palu besar lalu memukulkannya pada tubuh Sasuke, membuat pemuda itu terlempar jauh dan sukses merobohkan tembok bangunan di belakangnya.
"Tidak mungkin."
Selain kemampuan khususnya, ciri dari semua vampire adalah sama. Kelebihan, kekurangan, kekuatan, dan kelemahan yang mereka tidak berbeda jauh. Dan, kemampuan khusus seorang vampire itu hanya bisa punya satu atribut.
Batu bisa dibentuk menjadi benda lain, tapi untuk seorang vampire. Mempunyai kemampuan merubah bagian tubuhnya menjadi batu berarti dia memang hanya mempunyai kemampuan itu, dia tidak bisa memanipulasi bentuk dan yang lainnya.
Jadi kesimpulannya, Yahiko baru saja menggunakan kemampuan khusus lain untuk melemparkan Sasuke. Yang secara hukum tidak mungkin bisa dilakukan.
"Aku mencari kekuatan, dan aku tidak mau kekuatanku dibatasi oleh hukum, sebab aku ingin jadi yang paling kuat, yang terkuat sampai tidak ada yang berani melihtku secara langsung."
Dari belakang Naruto, Sasuke bangun dan keluar dari tumpukan puing yang menumpuk di atas badannya. Setelah itu, dia berjalan dan mendekati Naruto. Mengalahkannya seorang diri sama sekali tidak mungkin, jadi di saat seperti ini pilihan yang paling tepat untuk dilakukan adalah melawannya secara bersama-sama.
"Kenapa kau begitu gila dengan kekuatan?"
Naruto menyuarakan pertanyaannya.
"Kenapa kau bilang? karena dengan kekuatan apa yang kau sayang dan cintai bisa kau lindungi dan kau tidak akan kehilangan mereka."
"Apa kau sedang membicarakan tentang adik perempuanmu?"
Delapan tahun yang lalu, mereka berdua adalah saudara biasa. Mereka bermain bersama dan juga bertengkar untuk sesuatu yang kecil. Sama seperti saudara pada umumnya, si kakak kadang menjahili adiknya dan si adik sering minta ini dan itu tanpa melihat kondisi.
Keluarga mereka tidak kaya, tapi mereka sudah bahagia hanya dengan bisa berkumpul dengan sesama anggota keluarganya. Mereka adalah contoh nyata dari apa yang disebut keluarga kecil bahagia.
Tapi hal itu hanya terjadi sementara. Roda berputar, yang tadinya di atas akan berada di bawah. Dan hal itu sudah pasti akan terjadi.
Si adik, Shion tanpa diketahui ternyata menderita penyakit jenis baru yang masih belum ada penanganan pastinya. Dan hal itu membuat ekonomi keluarganya jadi sekarat, bersama dengan adiknya yang tidak bisa lagi meninggalkan rumah.
Mereka jadi miskin dan hal itu membuat ibu mereka pergi karena tidak mau menderita. Tapi bukan itu masalah paling besar yang dihadapi si kakak. Yahiko.
Jadi miskin sama sekali bukan masalah yang penting bagi Yahiko, dan kehilang ibunya juga sama sekali tidak membuatnya sedih walau Shion sepertinya berpikir lain. Ayah mereka masih bekerja dan penghasilannya sudah lebih dari cukup membiayai kehidupan mereka walau memang dalam batas minimal.
Masalah terbesar Yahiko adalah. Dia lemah.
Dia tidak punya pengetahuan apa-apa tentang hal medis, tapi setidaknya dia ingin menjaga adiknya agar selalu aman. Hanya saja dia lemah, dan karena kelemahannya itu dia sering tidak bisa menjaga adik perempuannya.
Dia tidak bisa menyelamatkan adiknya yang hampir tenggelam, dia tidak bisa menyelamatkan adiknya yang hampir tetabrak mobil, dan dia bahkan tidak bisa mengusir orang-orang yang membully adiknya.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa, dan hal itulah hal yang paling dia sesali dalam hidupnya.
Sampai orang itu datang. Dia menawarkan kekuatan, kekuatan yang bisa membuat dia bisa melindungi adiknya.
Mendengar hal itu, tanpa ragu Yahiko menerimanya dan membiarkan taring orang yang sudah tidak dia ingat lagi namanya itu masuk ke dalam lehernya.
Dengan menggunakan kekuatan baru yang dia miliki, dia bisa menjaga dan melindungi adik perempuannya. Memang dia harus selalu kerpotan jika keinginannya mengkonsumsi darah sudah muncul, tapi karena dia sudah punya senjata dia bisa mendapatkannya hanya dengan pergi ke sarang para preman di sekitarnya.
Dia bisa menghisap mereka lalu menjadikannya vampire, setelah itu dia membunuh mereka dan bukti kalau dia sudah melakukan tindakan kriminalpun bisa langsung hilang. Ketika seorang vampire mati, tubuh mereka tidak akan tersisa karena itu dia tidak perlu menyembunyikan apapun.
"Siapapun orangnya, membunuh sama sekali bukan hal yang boleh dilakukan dengan sembarangan."
Meski yang jadi target pelampiasan mungkin memang orang-orang jahat, tapi yang namanya nyawa tetap saja nyawa. Nyawa bukanlah sesuatu yang bisa dibeli atau dibuat manusia, karena itulah mereka sangat berharga. Lalu, karena masing-masing orang hanya punya satu nyawa mengambilnya tanpa pikir panjang sangat kedengaran tidak mengenakan untuk Naruto.
"Memangnya siapa yang perduli!?"
"Jangan egois kau!"
Mereka sama-sama berteriak, dan kalau hal itu terus dilanjutkan bisa dipastikan kalau sebentar lagi mereka akan saling menghajar. Dan, Naruto memang sudah kembali menyiapkan tinjunya sebab tangannya sudah kembali pulih.
Tapi sebelum pemuda itu memulai pertarungan babak kedua, Sasuke menepuk pundak Naruto dari belakang.
"Kau tidak punya adik perempuan jadi kau tidak tahu perasaan kami, kalau kau punya kau pasti juga akan melakukan apapun untuknya, jika dihadapkan degan masalah sepertinya mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama."
"Sasuke! dengarkan pertanyaanku baik-baik! kenapa dari tadi kau membatasi topik pada adik perempuan? bagaimana dengan adik laki-laki?"
"Kau tidak paham!."
Meski tidak ada perjanjian sebelumnya, entah kenapa Yahiko dan Sasuke mengatakan hal yang sama di saat yang sama.
"Adik perempuan itu sepesial, kalau kau punya dia kau tidak akan butuh pacar atau istri!."
"Aku tidak mau paham dasar siscoooonnnn!"
Naruto sama sekali tidak bisa paham bagaimana cara berpikir kedua orang di sekitarnya itu. Dan yang paling dia tidak pahami adalah, seberapa hebat pengaruh seorang adik perempuan bagi seorang kakak.
Sesekali dia ingin sekali melakukan survey.
Yahiko bergerak dari tempatnya, tapi dia kembali melanjutkan ceritanya yang baru saja tersela.
Dia bisa melindungi adiknya dari ancaman eksternal, tapi dia tidaka bisa menyembuhkan penyakit adiknya dan tidak bisa melawan apa yang disebut dengan malaikat kematian. Karena hal itu, dia memutuskan untuk selalu berada di dekat adiknya dan mengawasinya walau usaha itu pada akhirnya gagal dan membuat Shion terluka.
Kejadian itu menjadi semacam turning point untuk Yahiko, dan hal itu membuatnya kemballi sadar kalau walau dia itu kuat mencegah kematian adiknya adalah tidak mungkin. Selama dia masih jadi manusia.
Lalu pada akhirnya, dia memutuskan untuk menjadikan adiknya sebagai vampire sama sepertinya.
Dengan menjadikan adiknya sebagai vampire, penyakit adiknya bisa sembuh, dia tidak bisa mati, dan mereka bisa terus bersama selamanya.
"Begitulah yang kupikir, tapi kenyataanya tidak begitu."
Yahiko adalah vampire turunan begitu juga dengan Shion, jadi apa yang akan terjadi jika vampire yang membuat Yahiko tiba-tiba mati? jawabannya cuma ada dua. Mereka berdua akan ikut mati dan impian pemuda itu untuk melindugi adiknya akan tinggal impian.
"Karena itulah, aku akan membunuhmu dan memakan Hinata agar aku bisa jadi vampire darah murni! menjadi yang terkuat, menjadi tak terkalahakan dan terus bisa bersamanya seumur hidupku."
"Kau mungkin menganggap dirimu adalah kakak yang baik karena memikirkan adiknya dengan sangat berlebihan, tapi di mataku kau hanya orang mesum yang senang melecehkan adiknya perempuannya sendiri."
"Apa kau bilang?"
Yahiko berlari dan mengubah tangannya menjadi pedang sepanjang dua meter, setelah itu dia menyabetkanny pada Naruto.
"Kakak macam apa yang terangsang dan menjilati leher adiknya?"
Dengan margin setipis kertas, Naruto berhasil menghindar dan maju beberapa langkah.
"Siapa yang menjilat!? aku hanya menggigitnya."
Kejadian itu masih terbayang jelas di ingatan Naruto. Tapi Yahiko mengatakan yang sebenarnya, dia hanya menggigit dan menghisap darah adik perempuannya. Meski dia memang saat itu terngsang berat tapi dia masih bisa menahan diri.
"Lalu kakak macam apa yang memegang dada adik perempuannya dengan muka mesum?"
"Aku hanya memegang pundaknya bodoh!"
"Kakak macam apa yang bermain-main dengan bagian bawah tubuh adik perempuannya sampai membuat gadis itu bersuara menggoda?"
"Aku hanya menahan kaki kanannya agar tidak menendangku dan suara yang dia keluarkan bukan karena aku sedang mempermainkannya, tapi karena dia mulai berubah jadi vampire."
Naruto belum sempat menghindari serangan horizontal yang datang padanya, tapi sebelum dia sempat bergerak Sasuke sudah melesat terlebih dahulu dan berhasil menggegam tangan Yahiko.
"Jangan pamer kauuuuu!."
Pedangnya dia tusukan pada perut Yahiko.
"Apa kau tidak sadar kalau aku juga ingin melakukannya, tapi adik perempuanku baru sebelas tahun jadi aku belum bisa melakukan hal semacam itu padanya! dan mendengarmu sudah melakukan banyak hal mesum pada adikmu sendiri membuatku sangat marah! aku iriiii bodoh!."
"Alasaaan macam apa ituuuuuu!."
Kali ini Naruto benar-benar sudah menyerah. Dia tidak mau lagi membantah apa yang diomongkan oleh dua orang little sister lover di depannya, sebab hal itu sangat melelahkan. Karena itu, dia hanya bisa melihat dari jauh pertengkaran tidak berarti mereka berdua.
"Sekarang dengarkan baik-baik!."
Yahiko melepaskan sebuah cincin dari jari kanannya kembali.
"Aku! tidak! suka! loli!"
Bola-bola putih bertebaran di sekitar mereka berdua, lalu ukurannya yang pada awalnya besar menjadi kecil dan sesaat kemudian meledak. Melemparkan kedua pecinta adik perempuan itu menjauh satu sama lain.
"Aku tidak menyangka kalau kalian akan semerepotkan ini."
Yahiko melepaskan sebuah cincin di jari tangan kanannya dan sebuah cincin di jari tangan kirinya.
"Aku akan serius kali ini!."
Kali ini, Yahiko berteriak dengan suara yang sangat keras. Intonasi dan nadanya berbeda, tapi jelas teriakannya adalah sama dengan teriakan yang dilakukan oleh Hinata sebelumnya.
Dan seperti yang sudah Naruto perkirakan, ada banyak hewan nocturnal yang datang ke lokasi mereka dengan buru-buru.
"Ini, Hinata?"
Untuk suatu alasan, Naruto merasa sangat marah. Yahiko mendapatkan kekuatan Hinata, itu berarti dia sudah melakukan sesuatu pada gadis itu. Dan begitu mengetahui akan hal itu. Naruto langsung maju, berlari, dan mengepalkan tangannya untuk menghajar orang di depannya.
Dari samping kanan, seekor anjing menggigit pundaknya. Dari kiri seekor burung gagak menancapkan cakarnya. Dari bawah, seekor ular beracun melilit kedua kainya sambil menusukan taringnya. Dan dari depan, puluah kelelawar mencakar wajahnya.
"Aku tidak menyangka kalau fauna di tempat ini begitu beragam."
Luka sebanyak itu tidak akan berpengaruh pada seorang vampire. Racun tidak akan ada pengaruhnya, luka akan cepat sembuh, dan kekuatan mereka jauh di atas binatang-binatang itu. Kekuatan khusus Hinata memang bukan ditujukan untuk melawan vampire, melainkan untuk mengalihkan perhatian, menolong mendapatkan darah, dan menjauhkan manusia.
"Apa yang kau inginkan?"
"Membunuhmu."
Yahiko mengangkat satu tanangannya lalu menunjukan jari telunjuknya pada Naruto, dan di saat yang sama. Sebuah petir keluar dari sana yang langsung menyambar Naruto beserta hewan yang ada di sekitarnya.
Aliran listrik itu pergerakannya liar, karena itulah Yahiko perlu memperlambat gerakan lawannya agar dia bisa mengincar dengan tepat.
"Kalau cuma itu yang kau punya? jangan pernah datang lagi dan menggangguku!"
Dengan tubuh yang masih mengeluarkan asap Naruto kembali berlari dengan sekuat tenaga. Dan begitu sudah dekat, bukannya menghajar wajah Yahiko. Naruto malah melingkarkan kedua lengannya pada tubuh pemuda itu.
"Apa yang kau lakukan?"
Yahiko mengangangkat tangan kirinya untuk bersiap melemparkan serangan listrik dari jarak dekat, tapi sebelum dia berhasil mewujudkan niatnya.
"Jangan lupakan aku!"
Pergelangan dan telapak tangannya melayang.
Setelah itu, Naruto memutar tubuh Yahiko dan melemparkannya sejauh belasan meter.
Salah satu cincin di jari dari telapak tangan yang terbang itu lepas, dan dalam sekejap tangan kiri Yahiko sudak kembali ada dan tangan yang tadi melayang langsung berubah jadi abu.
"Jadi kalian sudah sadar ya."
"Memangnya siapa yang tidak akan sadar kalau kau sama sekali tidak mencoba menyembunyikannya."
Sasuke dan Naruto tidak tahu bagaimana caranya, tapi semua kemampuan khusus yang dimiliki oleh Yahiko disimpan di dalam cincin yang dikenakannya. Mungkin kemampuan itu adalah hasil yang dia dapatkan dari mengalahkan beberapa onmyoji dan bisa juga beberapa vampire lain.
Tapi yang jelas kemampuan yang dia gunakan bukan kemampuannya sendiri dan hal itu hanya bisa digunakan secara terbatas. Selain itu, cincin yang dia kenakan juga punya fungsi tambahan.
Ketika penggunanya sudah dalam keadaan di mana fisiknya mengalami kerusakan berat, kekuatan yang tersimpan dalam cincin itu akan langsung digunakan sebagai sumber magic untuk menyembuhkan pemakainya.
Dan ketika fungsi tambahan itu dipakai, magic yang berada dalam cincin itu akan langsung hilang.
"Main-mainnya sudah selesai! sekarang aku ingin serius."
Mata Yahiko berubah jadi merah, setelah itu di sekelilingnya mulai terbentuk tembok dari api setinggi sepuluh meter.
"Aku sudah melakukan sesuatu pada gadismu, kau sudah sadar kan vampire amatiran? jadi kau harusnya sudah tidak perlu tanya bagaimana aku bisa mendapatkan kekuatan sebesar ini."
"Sasukeeeeeee!."
"Jangan tanya aku! aku juga tidak tahu!"
Harusnya kekuatan Hinata tidak bisa diambil oleh siapapun, tapi Yahiko yang berdiri di depan mereka berdua tidak diragaukan lagi sedang mengeluarkan kekuatan yang harusnya hanya milik seorang vampire darah murni.
"Ini gawat."
Meski kulit Sasuke tidak bisa ditembus benda tajam dan tak bisa terluka tapi rasa panas tetap dia rasakan, jika dia dibakar meski tidak akan mati tapi dia akan merasa sangat tersiksa.
Sedangkan bagi Naruto malah lebih berbahaya lagi. Kalau tubuhnya terbakar, hangus, lalu jadi abu. Jiwanya tidak akan punya host lagi dan di saat itu dia akan langsung mati untuk kedua kalinya.
"Sekarang! bagaimana kalian akan melawanku?"
Api yang menyala semakin melebar dan membakar semua hal yang menyentuhnya, sekarang jarak jangkau api yang dikeluarkan oleh Yahiko adalah sepuluh meter, dan jarak itu sudah cukup untuk membuat Naruto dan Sasuke benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa.
Pilar api yang berdiri di depan mereka mampu mengubah pohon menjadi abu serta melelehkan tanah, tembok, dan bahkan batu. Yahiko sengaja membakar benda-benda itu untuk membuat lawannya merasa terintimidasi oleh kekuatannya.
"Naruto, kurasa kita butuh bantuan kalau kau mau menunggu aku bisa menghilangkan api itu untukmu."
"Tidak perlu! aku bisa mengatasinya."
"Hoy jangan somb….."
"Hinataaaaaa! kau melihatku kan? kau di dekatku kan? aku butuh bantuanmu!"
Jiwa Naruto dan Hinata saling terhubung, meski Naruto tidak tahu di mana tepatnya lokasi gadis itu dia bisa setidaknya merasakan kalau Hinata berada di dekatnya.
Hinata bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Jika ada onmyoji normal di sana, keberadaan Hinata akan langsung diketahui, tapi Sasuke tidak mempunyai kemampuan supranatural sehingga dia tidak bisa merasakan kehadiran gadis itu.
"Sebelum itu aku akan memberimu pilihan, tergantung dari jawabanmu aku akan memutuskan untuk membantumu atau tidak."
"Apa itu?"
10.
Hinata menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya.
"Siapa yang akan kau selamatkan? aku atau gadis itu?"
"Gadis itu?"
Yang dimaksud Hinata adalah Shion.
"Aku memilih."
Jika Naruto ingin menyelamatkan Shion lalu membiarkannya hidup selamanya. Dia harus menyerah dan rela dibunuh lalu menyerahkan Hinata untuk diambil oleh Yahiko. Tapi jika dia ingin mendapatkan Hinata kembali, dia harus membereskan Yahiko yang berarti juga membereskan Shion.
"Aku tidak mau orang itu memilikimu, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Shion menghilang!."
Jadi?
"Aku memilih kalian berdua!"
"Egois sekali kau!"
Jawaban itu bukalah yang ingin Hinata dengar, tapi mendengarnya sama sekali tidak membuatnya marah. Sebab dia tahu, Naruto adalah orang yang tidak bisa memilih meski yang jadi taruhan adalah satu banding banyak.
Selama hal itu berharga baginya, dia akan melindunginya dengan cara apapun.
"Tapi aku suka kau yang egois."
Hinata memeluk Naruto dari belakang, dia melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Naruto. Menjadikan pemuda di depannya sebagai tempat dia membebankan semua yang dia miliki, masalahnya, kelemahannya, dan nyawanya. Kepercayaanya.
"Hinata."
Naruto membalik badannya lalu memegang kedua pundak Hinata sambil dengan pelan menyingkirkan rambut lembut dan pakaian bagian atas gadis itu. Memperlihatkan sebagian besar pundak dan bagian dada Hinata.
"Kekuatanku sedang tidak stabil, kau harus berhati-hati dalam menggunakannya."
Saat dia bangun, dia menyadari kalau segel yang ada padanya sudah dilepaskan sehingga sebagian besar kekuatannya kembali dan dia bisa dengan mudah kabur dari tempatnya dikurung.
Tapi begitu dia keluar, segel yang ada padanya kembali aktif dan dia kembali jadi gadis biasa. Sayangnya, sebelum segelnya aktif kembali setengah dari kekuatannya sudah diambil oleh seseorang.
Jadi kekuatannya hanya tersisa sebesar empat puluh persen setelah dikurangi yang ada pada Naruto. Meskipun pemuda di depannya menghisap darahnya, kekuatan yang akan dia dapatkan tetap lebih kecil dari yang dimiliki Yahiko.
Tentu saja dengan asumsi kalau Naruto tidak akan menghisap semua kekuatan Hinata.
"Tidak apa-apa, aku tidak ingin mengalahkannya yang ingin kulakukan hanyalah menyadarkannya."
"Kalau kau bilang begitu berarti memang begitu."
Hinata melihat ke mata Naruto.
"Yang lembut."
Naruto mengangguk lalu dia bergerak untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Hinata.
Bibir mereka saling bertemu.
Naruto sudah pernah meraskannya, tapi meskipun begitu dia tidak pernah bosan dengan apa yang dia dapatkan dari Hinata. Kelembutnya dan rasa manis yang dia dapatkan tidak pernah bisa membuatnya bilang cukup.
Naruto semakin memperdalam ciumannya, dia menekan lebih kuat bagian belakang kepala Hinata sambil terus merapatkan jarak di antara tubuh mereka berdua. Dan bukan itu saja yang Naruto lakukan, untuk suatu alasan tangannya tidak bisa tinggal diam.
Begitu dia merasakan kehangatan dari tubuh Hinata, dia kembali mengingat sensasi yang dia rasakan pagi itu di tangannya. Dia mengingat kejadian saat dia tidak sengaja memegang dada Hinata, dan begitu dia mencium gadis di depannya. Perasaan ingin melakukannya lagi langsung muncul tanpa dia bisa tahan.
Taringnya mulai dia gunakan untuk menggigit bibir Hinata, tangan kirinya dia gunakan untuk mendorong pinggan gadis itu agar mereka bisa terus menempel, serta tanpa penolakan Hinata membiarkan tangan kanan Naruto meremas dadanya.
Setelah dua puluh detik berlalu, Naruto menghentikan ciumannya dan memisahkan diri dari Hinata. Kemudian, dia memperhatikan wajah Hinata yang sudah dipenuhi oleh warna merah serta nafasnya yang mulai memburu dan kelihatan berat.
"Apa aku melakukannya dengan benar?"
Naruto tidak pernah melakukan hal semacam itu sehingga dia tidak tahu apakah yang dia lakukan adalah apa yang diinginkan Hinata, karena itulah dia menanyakannya.
"Apa aku boleh lanjut ke tahap selanjutnya."
Hinata tidak menjawab, tapi bukan karena dia tidak mau menjawab melainkan dia tidak bisa menjawab. Kondisinya saat ini tidak sedang ada pada keadaan di mana dia bisa menggunakan akal sehatnya untuk menjawab pertanyaan pemuda di depannya. Apa yang dia inginkan hanya pemuda itu agar segera melanjutkan apa yang tadi dia lakukan.
Karena itulah dia mengangguk.
"Kalau begitu."
Naruto membuka mulutnya dan memperlihatkan taringnya, lalu tanpa peringatan dia menancapkannya ke leher bagian bawah Hinata kemudian menghisap darah gadis itu.
"Nghhh..."
Tubuh Hinata tidak menjadi lemah karena darahnya dihisap dalam jumlah yang banyak, tapi tubuhnya tiba-tiba merasa lemah dan kedua kakinya tidak mampu menopang berat badannya lagi.
Menyadari Hinata tidak lagi mampu berdiri, Naruto mengeratkan pegangannya pada pinggang Hinata dan pelan-pelan merubah posisi mereka menjadi duduk.
"Apa kau masih lama? Keadaanya tidak kelihatan baik kalau aku boleh mengingatkan."
Selain adik perempuannya, Sasuke tidak pernah berhubungan dengan wanita lain termasuk ibunya. Karena hal itu dia mengalihkan pandangannya dari Naruto dan Hinata agar pikirannya tidak terkontaminasi dan mulai membayangkan bagaimana kalau dia melakukan hal semacam itu dengan adiknya.
Dia menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kupikirkan?"
Ada yang jaug lebih penting untuk dipikirkan daripada libidonya. Dan hal itu ada di depannya.
Yahiko mulai bergerak. Sambil membawa pilar api yang jadi semakin panas dan tinggi.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku! meski kau mendapatkan kekuatan tambahan, kekuatanku masih jauh lebih besar dari yang kau punya."
Naruto melepaskan Hinata lalu kemudian menyadarkan tubuh gadis itu ke sisa gedung yang ada di belakangnya.
"Biarkan aku memberitahumu sesuatu!"
Naruto berdiri lalu menatap tajam Yahiko dengan menggunakan matanya yang sudah bersinar merah.
"Mungkin kau pikir kau adalah kakak baik yang bersedia mengorbankan apapun untuk adiknya, tapi di mataku kau hanya orang mesum! Orang mesum yang terobsesi untuk memiliknya adiknya selamanya untuk diri sendiri!"
"Apa kau bilang!? aku ingin dia hidup! Apa salahnya? Aku ingin menjaganya! Apa salahnya? Aku ingin kami tetap bersama! Apa salahnya?"
"Itulah masalahnya bodoooooohhhh! kau tidak menyebutkan satu halpun tentang membuatnya bahagia! yang kau sebutkan hanya keinginanmu agar dia selalu berada di sisimu!"
Naruto melihat Hinata yang ada di belakanya.
"Hinata! Aku mohon berikan aku sedikit lagi dorongan agar aku bisa membuka mata orang itu!"
Hinata sama sekali tidak perduli dengan manusia dan urusannya. Keinginan mereka, nasib mereka, nyawa mereka, dan masalah mereka sama sekali bukan sesuatu yang dia perlu perdulikan.
Dia hanya ingin menolong pemuda di depannya agar bisa mewujudkan apa yang dia inginkan. Hanya itu.
"Bersiaplah Naruto!"
Sebuah bintang segi lima terbalik sudah selesai Hinata gambarkan di punggung Naruto.
"Kai!"
Dengan satu kata itu, tubuh Naruto langsung terlempar dan meluncur bagaikan peluru yang ditembakan dari sebuah meriam. Dengan menggunakan momentum yang didapatkannya, Naruto bisa dengan sangat cepat menerobos api yang mengelilingi tubuh Yahiko.
Begitu berhasil mencapai Yahiko, Naruto langsung menjatuhkan tubuh pemuda itu dan menyegal pergerakannya.
"Membuatnya jadi vampire memamng bisa menyembuhkan penyakitnya."
Dengan menjadi vampire bukan hanya penyakit yang diderita Shion jadi hilang, tapi gadis itu juga akan mendapatkan keabadian dan tubuh yang tidak akan tua.
"Selain itu dengan menjadi vampire dia bisa terus bersamamu sampai kiamat."
Api yang dikeluarkan Yahiko hanya akan membakar apa yang sudah jadi terget sehingga pakaian Naruto tetap utuh, tapi kulitnya sudah mulai terbakar dan mengelupas.
"Bisa bersamanya mungkin sudah cukup untuk membuatmu seperti memiliki apapun, tapi bagaimana dengannya? Bagaimana dengan perasaannya? Apa kau pernah memikirkannya?"
Api yang dikeluarkan oleh Yahiko bergetar seperti sebuah lilin yang apinya ditiup, tapi tingkat kepanasannya sama sekali tidak menurun.
"Sekarang dengarkan dan pikirkan!"
Shion harus mengindari semua temannya karena mereka semua akan jadi tua, dia harus pergi ke banyak tempat lain agar fakta dia tidak bisa tua tidak ketahuan. Dia akan bertemu dengan orang baru, mengenal mereka, menyayangi mereka, lalu meinggalkannya lagi dan lagi dan lagi.
Dia akan terus mengalami pertemuan dan perpisahan, dia akan terus membangun hubungan hanya untuk memutuskannya nanti. Dia tidak akan bisa lagi masuk ke dalam komunitas sosial, dia akan takut membangun hubungan, dia akan ditinggalkan.
Waktu akan meninggalkannya, orang-orang akan meninggalkannya, dunia akan meninggalkannya. Dan pada akhinya yang terisa hanya dia. Sendirian, kesepian, dan tidak punya teman.
"Naruto."
Hinata yang melihat dari jauh tahu benar apa yang Naruto katakan. Sebab dia sudah mengalami hal semcam itu, dan pemuda itu juga tahu kalau hal yang sama akan terjadi padanya cepat atau lambat.
Dia tidak akan lagi bisa bermain dengan temannya, dia tidak akan lagi bisa menemui mereka, dan dia akan ditinggalkan sendirian. Dia juga akan melihat teman-temannya mulai mati satu demi satu.
Mendengar hal itu, bukan hanya Yahiko yang mulai meragukan keputusannya tapi juga Hinata. Mereka berdua berpikir apakah yang mereka berdua lakukan adalah hal yang salah atau benar.
"Lalu apa yang harus kulakukaaaaann! apa aku harus mebiarkannya mati!? jawab aku!"
Naruto memang seorang vampire, tapi dia adalah mayat yang dipaksakan untuk jadi vampire sehingga dia masih memiliki organ tubuh seperti manusia pada umumnya. Sama dengan manusia lain yang menjadi vampire.
Kulit Naruto sudah mengelupas, yang ada di atas badannya hanya lapisan kulit kedua yang berwarna merah darah. Rupanya bukan lagi seperti seorang remaja laki-laki, tapi monster mengerikan yang seluruh tubuhnya dilapisi oleh otot dan pembuluh darah.
Matanya mulai tidak bisa digunakan untuk melihat dengan jelas, dan badannya terasa semakin berat untuk digerakan. Tapi meski keadaanya seperti itu, dia tetap ingin bicara.
"Kalau meweujudkan keinginanmu harus mengorbankan orang yang penting bagiku! Kalau mewujudkan keingnanmu harus mengorbankan kebahagiannya."
Naruto mengangkat tangan kanannya yang sudah hanya hampir tulang.
"Maka aku akan menghentikanmu sekarang jugaaaa!"
Naruto memukulkan kepalan tangannya ke bagian kanan dada Yahiko. Dengan tindakan itu, bukan hanya Yahiko yang tubuhnya terluka parah karena badannya jadi berlubang tapi juga Naruto yang telapak tangannya menjadi hancur.
"Aku..."
Cincin terakhir Yahiko terlepas dari jarinya dan pilar api yang mengelilingi mereka berdua mengilang.
"Dari sini aku yang akan menanganinya! Tidak semua onmyoji tahu kalau kalian tidak boleh dijadikan target dalam misi ini jadi sebaiknya kalian segera pergi kalau tidak mau dapat masalah."
Dengan menggunakan kemampuan penyembuhan yang Naruto miliki, penampilannya pelan-pelan mulai kembali seperti semula. Kulitnya mulai muncul kembali dan tangannya mulai kembali tumbuh.
Dia bisa sembuh seratus persen kalau menunggu selama beberapa waktu, tapi jika dia harus menangani masalah lain lagi sepertinya dia tidaka akn bisa. Karena alasan itu dia mengajak Hinata untuk segera pulang.
Mereka berjalan bersebelahan seperti biasa, tapi tidak ada satupun yang membuka pembicaraan.
Alasan Hinata tidak mau bicara adalah karena dia sedang menebak apa yang sedang Naruto pikirkan, sedangkan Naruto diam karena dia sadar kalau yang dia katakan hanyalah sekedar sudut pandangnya terhadap masalah Shion.
Semua yang dia katakan hanya asumsi dan bukan fakta.
Dia tidak tahu apakah Shion merasakan apa yang sudah dia katakan pada Yahiko. Bisa saja gadis itu tidak terlalu memikirkannya dan memang sudah cukup bahagia dengan hidup berdua dengan kakaknya.
Lalu, seperti yang sudah Sasuke katakan. Jika Naruto mengalami masalah yang sama, Naruto juga mungkin akan melakukan hal yang sama dengan Yahiko. Jadi sebenarnya dia tidak punya hak untuk sok tahu dan menyalahkan Yahiko dengan buta.
Pada akhirnya dia hanya meneriakan persaanya pada orang lain dengan dalih kalau dia sedang membela kebahagiaan orang lain. Dia hanya melampiaskan perasaan tidak aman yang dia punya pada orang lain.
Dia hanya mencari pelarian.
"Dasar menjijikan!"
Omongan itu dia tujukan untuk dirinya sendiri.
Jika ada yang baca fic ini dengan harapan mendapat cerita romance yang bersliweran atau lemon yang ada di sana dan sini, sepertinya ada yang kesasar. Saya gak akan menjelasakan secara detail, jelas, gamblang apapun yang berhubungan dengan hubungan seksual. Bagian atas bisa saya tulis secara eksplisit, tapi bagian bawah adalah urusan lain. Jadi jangan berharap.
Catatan kaki.
Kai : Di chap ini ada banyak tulisan kai, secara literal artinya adalah "lepas". Di konsep fic ini ketika mereka mengatakan kai berarti mereka melepaskan magic untuk melakukan sesuatu. Normlanya mungkin akan lebih baik jika diisi mantra seperti yang mirip bahasa sangsekerta seperti di Tokyo ravens. Tapi jelas jadi kesannya gak ori (walopun emang iya).
Untuk kali ini saya akan adakan quiz. Jika berminat silahkan PM/tulis di review(hanya yang pertama yang diambil kalau jawabannya sama) saya jawaban dari pertanyaan di bawah ini.
Kalian bisa menuliskan garis besarnya saja.
tema utama dari chapter depan.
tema utama dari chapter terakhir.
Sebagai petunjuk saya akan berikan judul dari chapter setelah ini.
Greatest Weapon.
the Queen.
Untuk chap end temanya berhubungan erat dengan apa yang dipikirkan Hinata dan dirasakan Naruto di chap ini. Saya gak bisa menawarkan apa-apa tapi kalau sekedar mengirim beberapa digit angka dari voucher gsm yang saya beli mungkin masih bisa.
Terima kasih.
