Banyak sekali masalah (terutama masalah koneksi internet) ketika saya pulang kampung, jadi saya harus nulis secara offline dan begitu saya gak bisa akses internet entah kenapa otak saya jadi buntu. Pengumuman-pengumuman, chapter depan adalah chapter terakhir.
Disclaimer : Masasi Kisshimoto
1.
Banyak teman sekelas Naruto yang bilang kalau tahun ajaran mereka adalah tahun ajaran yang bagus. Dengan berada dalam tahun pelajaran yang saat ini, mereka akan bisa ikut pergi study tour bersama dengan kakak kelas mereka di tingkat kedua.
Tapi, tidak ada satupun dari mereka yang sadar kalau mungkin kepergian mereka kali ini akan bisa membuat mereka tidak lagi kembali ke kota tempat mereka tinggal. Karena saat ini ada sebuah rencana besar yang akan segera direalisasikan.
Rencana dari sebuah organisasi yang sudah ada bahkan jauh sebelum perang dunia pertama pecah. Organisasi yang tidak bergantung pada sains tapi keberadaanya diakui oleh semua negara, sebuah organisasi yang bisa disebut seperti khayalan tapi memang benar-benar ada.
Keputusan yang mereka buat punya cukup kekuatan untuk mempengaruhi pemerintahan, karena itulah mereka bisa melakukan apapun jika mereka punya alasan yang tepat dan bukti yang kuat. Dan kekuatan politik mereka yang sekarang, organisasi itu sudah punya cukup kekuasaan untuk membuat mereka bisa mengosongkan sebuah kota dari penduduknya.
Lalu kenapa mereka repot-repot mengosongkan sebuah kota? jawabannya gampang. Mereka ingin melakukan tugas utama mereka. Mengeliminasi ancaman terbesar manusia, Vampire.
Mereka ada untuk melakukan itu, mereka dilatih untuk melakukan hal itu, dan tujuan hidup mereka tidak ada yang lain kecuali itu. Menghilangkan vampire dari dunia ini.
Vampire punya kekuatan yang melebihi manusia biasa, punya tubuh yang terus muda, tidak bisa mati, dan kemampuan khusus yang berbeda antar individunya. Mereka bisa dibilang adalah bentuk ideal dari manusia yang ada sekarang.
Menghilangkan mereka hanya karena iri akan kelebihan yang dimilikinya adalah alasan yang sangat bodoh, meski memang ada yang melakukannya karena alasan semacam. Tapi alasan utama mereka disebut ancaman terbesar manusia adalah karena mereka bisa menggantikan posisi manusia di dunia ini.
Dan posisi baru manusia sama sekali bukan posisi yang bagus jika tidak dimiliki oleh manusia itu sendiri.
Begitu vampire menggigit seseorang, korbannya akan jadi vampire atau mati. Lalu jika korbannya jadi vampire maka dia akan punya kebutuhan dasar sama seperti vampire lain untuk tetap hidup yaitu darah. Oleh karena itu dia akan menggigit orang lain dan kembali membuat orang lain jadi vampire.
Lalu? bagaimana kalau siklus itu terus berulang-ulang dan pada akhirnya sebagaian besar dunia sudah jadi vampire.
Manusia akan diperbudak dan bisa saja manusia akan diternakan seperti hewan.
Manusia bisa hidup tanpa vampire, tapi bagi vampire. Meskipun kuat mereka masih perlu manusia untuk terus bisa hidup. Dan dengan menggunakan kekuatan mereka, jika jumlah dari vampire melebihi manusia maka tidak mungkin manusia bisa melawan balik. Selain itu, vampire dan manusia memiliki tingkat intelegensi yang sama sehingga melawan dengan kekuatan senjata dan militer hasilnya akan tetap sama saja.
Karena itulah onmyoji ada dan ditugaskan untuk memusnahkan mereka.
Berapa jumlah vampire pada suatu tempat tidak bisa dengan mudah dihitung. Karena kebanyakan dari mereka dulunya adalah manusia, hidup di sekitar manusia lain sama sekali bukan hal yang berat. Dengan sedikit usaha mereka bisa berkamuflase dan menyatu dengan komunitas sosial. Membuat mereka tidak bisa dibedakan dengan manusia biasa.
Dengan tidak bisa mengetahui jumlahnya, orang yang dikirimkan untuk membunuh mereka tidak bisa diukur jumlahnya. Jika mereka mengirim satu orang ada kemungkinan kalau vampire yang diburu ada banyak, jika mereka mengirim banyak orang semua itu akan sia-sia kalau yang diburu ternyata hanya satu.
Oleh sebab itu, memburu vampire satu persatu sama sekali bukan cara yang efisien. Dalam beberapa kasus malah hal itu bukan hanya tidak efisien melainkan merugikan. Sebab kadang seorang onmyoji malah balik diburu dan mati karena kalah dalam pertarungan.
Bertempur dengan para vampire dengan cara memburunya satu persatu tidak akan ada habisnya, dan jika hal itu tidak segera berakhir kerugian yang lebih besar sudah menunggu untuk menghantam umat manusia.
Lalu bagaimana caranya untuk mengakhiri semua hal itu dalam waktu yang singkat?
Gampang!
Kumpulkan saja para vampire di satu tempat lalu musnahkan mereka dalam waktu yang bersamaan pula.
Dari solusi itu, muncul sebuah pertanyaan besar. Pertanyaan tentang bagaimana cara melakukannya dan siapa yang akan melakukannya?
Sebelumnya, pertanyaan itu adalah hal yang sangat sulit dijawab. Mengumpulkan vampire yang kecerdasanya sama dengan manusia normal di satu tempat sangatlah sulit, lalu setelah mereka berkumpulpun onmyoji yang juga ada tidak akan bisa mengatasinya.
Menjatuhkan bom di tengah-tengah kumpulan vampire itu memang bisa dilakukan, tapi karena kemampuan penyembuhan mereka yang abnormal jika si vampire tidak langsung mati maka masalah sama sekali jauh dari apa yang namanya selesai.
Mungkin bom nuklir ukuran kecil bisa mengatasinya, tapi kalau begitu yang hilang bukan cuma vampire melainkan seluruh benda di sekitarnya. Termasuk gedung dan berbagai macam prasarana lain yang dibangun menggunakan uang.
Dan bekas ledakan serta radiasinyapun bukan sesuatu yang bisa disembunyikan dengan mudah.
Tapi masalah itu sudah selesai sebab seorang anak dilahirkan ke dunia ini.
Yang akan mengumpulkan para vampire dan membunuhnya di waktu yang bersamaan hanyalah satu orang. Orang yang dilahirkan hanya untuk tujuan itu. Orang yang akan mengundang vampire untuk mendekatinya lalu membunuhnya setelah dia sudah datang. Dia yang disebut sebagai senjata terhebat umat manusia untuk melawan makhluk supranatural.
2.
Dua hari yang lalu, sekolah mengeluarkan sebuah pengumuman yang aneh sekaligus menggembirakan bagi sebagian muridnya. Pengumuman itu berisi informasi kalau study tour untuk anak kelas satu yang seharusnya diadakan enam bulan lagi bersama dengan siswa kelas dua dimajukan serta siswa kelas tiga yang sudah pernah ikut kembali diwajibkan untuk ikut study tour.
Semua merasa kalau hal itu aneh dan mencurigakan. Tapi karena menganggap hal itu adalah kesempatan untuk refreshing yang langka, pada akhirnya tidak ada yang menyuarakan pendapatnya dan mengikuti acara itu dengan patuh.
Semua yang ikut diharuskan membawa pakaian yang cukup minimal untuk lima hari dan juga beberapa peralatan yang dianggap perlu untuk hidup di tengah tempat yang jauh dari pemukiman. Dan untuk kali ini, peraturan itu benar-benar ditegakan. Semua yang melanggar akan langsung dihukum, oleh karena itu tidak ada satupun yang kelihatan tidak mematuhinya.
Setelah perjalanan selama entah berapa jam lamanya, akhirnya kami semua sampai di sebuah gunung yang sudah sangat sering masuk TV karena terkenal suka membuat orang jadi hilang. Meski memang agak menyeramkan tapi karena kami bersama-sama kegiatanpun berlangsung dengan lancar.
Anak laki-laki membuka area dan mendirikan tenda sedangkan anak perempuan mengumpulkan material untuk konsumsi. Begitu semua sudah siap dan mereka bisa beristirahat, guru dan staff sekolah meminta semua murid memberikan semua alat telekomunikasinya.
Dan kali inipun mereka sangat tegas serta teliti sehingga pada akhirnya semua murid hidup terisolasi di tempat itu. Tanpa tahu apapun yang sedang terjadi di luar sana.
"Kenapa aku harus ikut? padahal aku sudah sengaja tidak membayar biaya study tour agar ditinggalkan."
"Jangan banyak mengeluh dan bawa kayu-kayu ini! sebab ini dataran tinggi udara malam bisa sangat dingin."
"Aku akan baik-baik saja Sakura jadi bisakah aku pulang duluan!"
"Tolong jangan pikirkan dirimu sendiri!"
Saat ini, Naruto dan Sakura sedang mencari kayu bakar untuk digunakan sebagai bahan membuat api unggun. Udara di dataran tinggi memang sangat dingin untuk ukuran orang normal, tapi bagi Naruto yang tubuhnya sudah tidak normal udara sedingin itu bukanlah sebuah masalah.
"Jangan lupa kalau Hinata mungkin juga akan kedinginan."
Sakura menambahkan kalimatnya. Dan hal itu cukup untuk membuat Naruto mengubah pikirannya. Membuat Hinata tidak nyaman adalah hal yang tabu untuk dia lakukan, sebab mood Hinata adalah hal yang menentukan seberapa beruntung atau sial dirinya hari itu.
"Kau sangat dekat dengannya kan? jadi aku yakin kau tidak ingin membuat adik tirimu itu kena flu."
"Adik tiri?"
Sebuah tanda tanya besar muncul di atas kepala Naruto. Seingatnya, dia hanya punya seorang kakak laki-laki dan kedua orang tuanya sebagai keluarga. Dia tidak ingat kalau ada yang namanya adik tiri di dalam keluarganya.
"Heh?"
Merasa kalau reaksi Naruto agak aneh, Sakura hendak bertanya lebih jauh tentang apa sebenarnya hubungan mereka berdua tapi sebelum itu perhatiannya lebih dulu tertuju pada hal lain.
Dia melihat Shion berjalan menurun dengan muka agak pucat. Cara jalannya tidak normal dan gadis itu juga berjalan seperti orang yang tidak sadar, kalau ingin disamakan mungkin tidur sambil jalan adalah perbandingan yang paling tepat.
"Kau tunggu sebentar di sini Naruto!"
Sakura langsung berlari mengejar Shion yang sudah berjalan semakin jauh.
Normalnya, Naruto akan membiarkan saja Sakura yang mengurus masalah itu. Sebab dia juga seorang perempuan, mereka akan lebih mudah mengerti satu sama lain. Tapi kali ini Naruto tidak bisa melakukan kebiasaannya itu.
Sebab Shion bertingkah aneh. Jalannya kelihatan sangat lemas, pandangannya tidak fokus, dan gadis itu jelas tidak kelihatan seperti dalam keadaan sadar seratus persen.
Bagi vampire yang sudah tidak bisa lagi sakit, hanya ada satu hal yang dapat menyebabkan gejala semacam itu. Rasa haus akan darah. Lalu jika ada manusia, terutama seorang gadis mendekati vampire yang berada dalam keadaan seperti itu.
Sesuatu yang buruk akan menimpa si manusia.
Karena itulah Naruto segera bergegas menyusul Sakura.
"Serahkan Shion padaku! Kau segeralah pulang sebelum hari semakin gelap."
Kata-kata itu bukanlah saran melainkan perintah dari Naruto. Dengan menggunakan hipnotisnya, Naruto menyuruh Sakura pulang setelah memberikan lampu portablenya pada gadis itu.
Dia dan Shion adalah vampire yang notabene adalah makhluk nocturnal, sehingga penerangan sama sekali tidak mereka butuhkan dan malah mengganggu penglihatan. Tapi bagi Sakura yang manusia normal, harusnya benda itu berguna sebab keadaan memang sudah semakin gelap.
Setelah memastikan kalau Sakura sudah berjalan ke arah yang berlawanan dengannya, Naruto segera mendekati Shion dengan hati-hati. Sebab biasanya vampire yang sedang haus akan jadi lebih agresif Naruto tidak bisa sembarangan mendekati gadis itu tanpa kewaspadaan sedikitpun.
"Shion, mau ke mana kau?"
"Seseorang memanggilku."
Lima indra vampire jauh lebih peka dari manusia, bisa dibilang kemampuan mereka dalam merasakan sesuatu sudah bisa disamakan dengan anjing maupun kucing. Dan itu berlaku secara universal, jadi jika Shion mendengar sesuatu harusnya Naruto juga mendengar hal yang sama.
Hanya saja, meski pemuda itu sudah berkonsentrasi dan memperhatikan sekitarnya dengan seksama dia tetap tidak bisa menangkap sebuah suara yang berbunyi nama gadis di sampingnya.
"Rasanya suara itu langsung masuk ke kepalaku."
Ini aneh. Jika memang suara itu benar-benar ada, bukan berarti Shion harus mengejarnya. Tidak ada alasan untuk Shion langsung pergi menuju tempat asal suara itu untuk memenuhi panggilannya.
"Apa yang suara itu katakan selain namamu?"
Suara itu tidak jelas dikatakan oleh laki-laki atau perempuan, suara itu juga tidak punya intonasi yang jelas dan susah untuk dikenali kalimat-kalimatnya. Tapi meski begitu, Shion entah kenapa bisa tahu kalau suara itu memanggil namanya dan menyuruhnya untuk.
"Kembali ke kota sebelum matahari terbit."
Naruto tidak tahu kenapa suara itu menyuruh Shion kembali ke kota, tapi hal itu sudah cukup memberi tahunya kalau sesuatu yang tidak normal sedang terjadi. Dan biasanya selalu bukan hal yang baik.
"Ikut aku Shion!"
Suara di kepalanya menyuruh gadis itu tidak menuruti kata-kata Naruto. Tapi begitu pemuda itu menggenggam tangannya dengan paksa, entah kenapa dia jadi merasa tidak lagi punya pilihan lain kecuali menurut.
3.
"Senjata pemusnah masal, saat di sekap aku sempat mendengar ada onmyoji yang membicarakan hal seperti itu."
Setelah berhasil mengajak Shion untuk kembali, mereka berdua segera bergegas untuk menemui Hinata. Sebab meski penampilannya sama dengan remaja seumuran mereka, tapi dia adalah vampire yang sudah hidup selama ratusan tahun. Jadi pasti gadis itu punya pengalaman yang jauh lebih banyak.
"Onmyoji? Tapi bukankah kau disekap oleh Yahiko?."
Yahiko adalah vampire, dan Onmyoji adalah musuh alami dari seorang vampire. Lalu kenapa bisa ada onmyoji di tempat seorang vampire?
"Aku tidak tahu detailnya tapi yang jelas aku pasti benar sebab aku tidak pernah salah."
Mengesampingkan deklarasi sombong Hinata. Naruto sendiri yakin kalau apa yang dikatakan oleh Hinata adalah benar. Gadis itu mengatakannya dengan yakin yang artinya dia ingat jelas apa yang terjadi saat itu, selain itu Naruto juga bisa merasakan kalau apa yang Hinata katakan bukan main-main ataupun kebohongan.
Jiwa mereka saling terikat karena itulah dia bisa tahu hal itu.
"Panggilan yang Shion dengar pasti adalah magic untuk mengumpulkan para vampire di dalam kota."
Naruto meletakan jarinya di bawah dagunya.
"Di dalam kota ya? Tapi apa tidak akan ada korban? Di dalam kota kan ada banyak orang?"
Tujuan para onmyoji adalah melindungi orang biasa dari vampire, jadi kalau ada orang biasa menjadi korban dalam proses melindungi yang mereka rencanakan. Berarti usaha mereka sama dengan sia-sia.
"Hah..."
Hinata menghela nafas lalu melihat ke arah siswa yang sedang menumpuk kayu.
"Kalau kau mau sedikit berpikir, semua ini akan jadi masuk akal."
Naruto diam dan mencoba mengumpulkan beberapa informasi yang ada untuk membentuk sebuah kesimpulan.
Study tour yang waktunya dimajukan serta pesertanya yang terdiri dari siswa dari semua kelas jelas sangat mencurigakan. Kalau dibilang study tour hanyalah sebuah alasan untuk mengeluarkan mereka dari kota dengan cara damai adalah sama sekali bukan kesimpulan yang berlebihan.
Kalau memang kota digunakan untuk mengumpulkan vampire yang akan dimusnahkan, maka yang keluar dari kota pasti bukan hanya mereka saja melainkan semua orang di dalamnya. Jadi menyita alat komunikasi adalah agar supaya seua orang tidak sadar akan keadaan satu sama lain dan mengira kalau semuanya masih normal.
Selain itu, tour ke gunung sama sekali bukan pilihan yang normal apalagi kalau gunung yang dimaksud adalah sebuah gunung yang terkenal karena kemistikannya.
"Kita sedang diisolasi."
Ada segel di tubuh Hinata. Selain berguna agar gadis itu tidak bisa mengeluarkan kekuatannya, segel itu juga bisa menghalangi magic masuk ke tubuhnya. Karena itulah, Hinata bisa dibilang kebal dengan magic non offensive.
Seperti suara yang didengar oleh Shion.
"Aku bisa mengawasi Shion dan membuatnya tidak keluar dari gunung ini, tapi itu bukan jaminan kalau dia tidak akan mati."
Yahiko adalah seorang vampire, dan bahkan dia sedang berada di tangan para onmyoji. Keadaan itu sama sekali tidak baik, terutama baginya dan Shion. Sebab jika Yahiko mati maka Shion juga akan ikut mati karena gadis itu adalah vampire turunan dari kakaknya.
Dan meski secara ajaib Yahiko bisa meloloskan diri lalu selamat, hal itu juga masih belum menjamin kalau kakak beradik itu tidak akan mati. Sebab jika vampire yang mengigit Yahiko mati mereka berdua akan tetap mati.
Lalu, hal itu masih terus berlaku sampai ke akar-akarnya. Menjadikan kemungkinan kalau mereka berdua akan mati tidak terhingga.
"Kemungkinan besar, jika rencana itu berhasil mereka akan melakukannya lagi dan lagi sehingga bisa dibilang aku hanya tinggal menunggu giliran untuk mati."
Jika kebanyakan vampire sudah dihilangkan, mencari Hinata tidak akan lagi jadi hal yang sulit sebab mereka tidak harus mengurus vampire lain. Meski memang vampire darah murni itu sangat kuat, jika jumlah onmyoji yang mengurusnya sangat banyak. Hinatapun tidak akan punya kesempatan menang.
"Dari raut wajahmu aku sudah tahu hal macam apa yang sedang kau pikirkan Naruto, tapi meski begitu kali ini aku tidak bisa ikut denganmu."
Hinata yang keadaanya sedang lemah adalah individu yang paling rentang jika dibawa ke dalam kota berisi vampire yang sedang tidak waras. Jadi keputusan Hinata untuk tinggal adalah hal yang sangat tepat.
Tapi keputusan itu membawa sebuah konsekuensi yang sama sekali tidak ringan. Jika Hinata tidak ikut pergi dengan Naruto ke dalam kota, pemuda itu akan dalam bahaya jika dia kehabisan energi lalu tidak bisa melakukan recharge dengan menghisap darah Hinata.
"Aku juga tidak punya rencana untuk mengajakmu, sebab aku tahu kalau kau tidak ikut bukan karena takut mati tapi takut aku yang mati."
Hinata bukanlah gadis pengecut, dia tidak akan mudah mudah mundur jika sudah menentukan apa yang dimau. Walaupun yang dihadapinya adalah kematian, dia akan menghadapinya dan bukannya kabur.
Jika gadis itu adalah pengecut, seorang pemuda bernama Naruto tidak akan lagi ada sekarang. Naruto masih bisa masuk ke sekolah lalu bertemu dengan teman-temannya adalah karena Hinata menyelamatkannya meski dia sendiri waktu itu sedang dalam keadaan sekarat.
"Kau mungkin tidak terlalu perduli dengan nyawamu sendiri, tapi kau juga harus ingat kalau aku ingin pergi bukan karena ingin menyelamatkan nyawaku sendiri."
Naruto terikat pada Hinata yang artinya jika gadis itu mati maka dia juga akan mati. Tapi dia pergi bukan karena tahu dengan menyalamatkan gadis itu dia bisa hidup lebih lama. Dia hanya ingin menyelamatkan Hinata. Hanya itu saja.
Dan meski tidak ada ikatan seperti itupun di antara mereka berdua, dia akan tetap berangkat. Sebab dia menganggap kalau dirinya sebenarnya sudah mati, dan kehidupannya yang sekarang hanyalah sekedar hadiah.
Hadiah dari gadis yang sedang dia ajak bicara sekarang.
"Aku akan mengambil ponsel kita agar nanti bisa saling berhubungan."
Naruto mengangguk pada Shion yang menawarkan bantuan.
"Aku akan berangkat tengah malam nanti."
Naruto melihat pada kedua gadis di depannya seakan meminta sebuah persetujuan.
Begitu pembicaraan selesai, api unggun yang menyala di tengah camp membuat sekitarnya menjadi terang dengan sinar oranye yang hangat.
Shion langsung memisahkan diri dari Naruto dan Hinata. Dia memang ingin membantu keduanya, hal itu adalah sama sekali bukan kebohongan. Tapi alasan utamanya meninggalkan mereka adalah agar keduanya punya lebih banyak waktu bersama. Meski dia sendiri merasa agak tidak rela.
Sebab. Meski pengetahuan Shion tentang dunia supranatural masih sangat sedikit. Dia tetap bisa merasakan kalau keadaan saat ini sama sekali bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng. Tidak ada jaminan kalau Naruto bisa kembali.
Shion pergi menuju tenda guru sedangkan Naruto.
Mereka berdua yang bukan manusia sudah kebal dengan udara dingin dan tidak mungkin terkena flu, jadi sebenarnya mereka tidak punya alasan untuk mendekat ke api unggun yang sedang menyala.
"Hinata, kalau aku. . . ."
"Kau akan pulang! Dengan selamat!."
Awalnya, mereka hanya melihat api unggun dengan saling berdiam diri dan membuang muka. Tapi begitu Naruto mengambil langkah untuk mengutarakan apa yang dia pikirkan, Hinata langsung menggenggam tangan pemuda itu dengan erat lalu menatapnya dengan pandangan yakin.
"Kalau kau tidak ada, siapa yang akan melindungiku?'
Jika Naruto mati, kekuatan Hinata sebagai vampire darah murni terkuat akan kembali padanya. Dan dengan begitu, perlindungan dari Naruto tidak akan lagi diperlukan sebab kekuatan gadis itu sendiri sudah cukup untuk bukan hanya melindungi dirinya melainkan menghancurkan semua yang dia tidak suka.
Asalkan Hinata tidak dijebak seperti saat mereka berdua pertama kali bertemu dulu, tidak akan yang bisa menghentikan gadis itu. Dengan kembalinya kekuatan vampire Hinata, kemungkinan hidup gadis itu akan jadi jauh lebih tinggi daripada harus menyerahkan perlindungannya pada Naruto.
"Kau harus melindungiku! Ini adalah perintah!."
Tapi sekali lagi, Naruto tidak bisa memberitahukan isi pikirannya pada Hinata. Naruto sadar kalau gadis itu juga sudah tahu faktanya, meski begitu untuk suatu alasan Hinata masih ingin Naruto untuk tetap melindunginya.
Alasan itulah yang tidak diketahui oleh si pemuda. Bagi Hinata, yang terpenting bukanlah dilindungi tapi bisa terus tetap bersama dengan Naruto. Hanya itu saja.
Naruto tidak sadar akan pesan tersirat itu, tapi apa yang dikatakan oleh Hinata sudah lebih dari cukup untuk membuatnya termotivasi untuk berjanji pada dirinya sendiri. Sebab baginya, apa yang diinginkan oleh gadis itu adalah segalanya.
"Hm! Aku janji akan kembali! Dengan selamat!."
4.
Setelah api unggun mati, sebagian siswa kembali ke tendanya masing-masing. Tapi tidak seperti orang lain yang masuk untuk beristirahat atau melanjutkan kegiatan mereka mengobrol dengan temannya. Naruto malah sedang sibuk sendiri di dalam tendanya.
Entah itu bisa disebut ironis atau apapun. Fakta kalau Naruto tidak disukai oleh teman laki-lakinya benar-benar membantunya dalam keadaan seperti saat ini.
Dia tidak mempunyai teman satu tenda, yang memang awalnya menyusahkan sebab tidak ada yang membantunya mendirikan tenda tapi akhirnya menguntungkan karena dia jadi tidak repot ditanyai ini dan itu terus-terusan. Sebab dia sedang mengepak barang-barangnya yang sedikit.
Naruto tidak memerlukan pakaian tambahan untuk menyesuaikan diri dengan udara dingin pegunungan, dia juga tidak membutuhkan kotak p3k karena lukanya bisa langsung sembuh, kemudian dia juga tidak membutuhkan alat penerangan karena dia bisa melihat dalam gelap.
Karena itulah bisa dibilang isi tasnya sangat minim.
Barang yang dia bawa hanyalah pakaian yang dia persiapkan untuk beberapa hari tinggal di gunung dan peralatan yang diwajibkan oleh sekolah semacam korek api, pisau, tali, dan lampu portable yang dia sudah berikan pada Sakura.
Dan betapa beruntungnya dia, alat-alat yang dia bawa dengan terpaksa itu sepertinya memang akan benar-benar berguna. Meski memang bukan untuk kepentingan yang seharusnya.
Lalu begitu dia selesai memasukan barang yang kira-kira dia butuhkan, tiba-tiba dia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.
"Naruto, keadaan kita benar-benar sedang terancam."
Naruto tidak perlu lagi membalikan badannya untuk mengkonfirmasi kalau yang sudah memeluknya dari belakang adalah Hinata. Dia sudah familiar dengan bentuk tubuh dan tindakan gadis itu yang sering membuat jantungnya yang sudah mati terasa berdetak lagi.
Lagipula tidak akan ada gadis lain yang mau sedekat itu dengan Naruto.
Naruto meletakan tasnya di bagian samping tenda, lalu dengan perlahan dia melapaskan tangan Hinata dan berbalik untuk bisa melihat langsung pada gadis itu.
"Aku tahu itu."
"Kau tidak tahu!."
Hinata menggunakan nada tinggi padanya itu sudah biasa, tapi nada tinggi yang dia gunakan kali ini terasa berbeda di telinga Naruto.
"Masalah kali ini lebih serius dari sebelumnya! kau ada dalam bahaya yang lebih besar dari sebelumnya."
Datang ke kota yang dipenuhi vampire sama sekali tidak bisa disebut aman, selain itu di sana juga pasti akan ada onmyoji yang jumlahnya tidak sedikit. Jika dia datang ke sana, berarti dia sudah masuk ke tempat di mana maju ataupun mundur sama-sama berbahayanya.
Kemudian ada kemungkinan kalau magic di dalam kota akan jauh lebih kuat pengaruhnya dan mampu mempengaruhi pikiran Naruto yang secara ajaib tidak bisa dicapai sampai dengan saat ini. Jika Naruto bisa mendengar suara itu, maka semuanya akan tamat sebab pikirannya akan diambil alih dan pada akhirnya dia hanya aka ikut dieliminasi bersama dengan vampire lainnya.
Jadi apa yang dibilang Hinata sama sekali tidak bisa disebut berlebihan.
"Tapi aku tidak bisa mengajakmu."
Naruto menatap mata Hinata secara langsung.
"Karena itulah."
Hinata memegang kedua pundak Hinata dan mendorongnya dengan cukup kuat sampai membuat pemuda itu terjatuh ke belakang.
"Apa yang kau lakukan Hinata?"
"Menurutlah!."
Setelah mendengar perintah itu, Naruto tidak bergerak dan membiarkan Hinata menaiki badannya dan duduk di atas perutnya lalu menjepit pinggangnya menggunakan kedua paha gadis itu.
"Untuk menambah kemungkinan keselamatanmu."
Hinata merendahkan badannya sampai pada level di mana seluruh anggota tubuh bagain depan mereka bersentuhan, setelah itu Hinata meletakan kepalanya di atas pundak Naruto dan berbisik tepat ke telingan pemuda itu.
"Kita perlu melakukan yang lebih dari sekedar ciuman."
Hinata mengangkat kepalanya lalu memandang Naruto yang sedang menutup matanya erat-erat. Gadis itu tidak tahu apa yang pemuda di depannya pikirkan tapi apapun itu, dia sudah memutuskan apa yang akan dia lakukan.
Dengan atau tanpa persetujuan Naruto.
Mereka berdua bukan sepasang kekasih lalu hubungan mereka juga tidaklah sedekat itu. Kemudian mereka juga baru berinteraksi selama beberapa bulan jadi bisa dibilang hubungan mereka masih sama dengan dua orang asing yang secara kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Tidak lebih dari itu.
Hinata berpikir kalau Naruto tidak mau membuka matanya sebab dia tidak menyukai apa yang sedang Hinata lakukan dan pemuda itu hanya diam bukan karena membiarkan gadis itu tapi karena dia tidak bisa menolak sebab sebuah perintah sudah disuarakan.
Tapi meski dia merasa agak bersalah karena sudah memaksakan kehendaknya pada Naruto, dia tetap maju. Sebab cuma cara ini yang paling efektif untuk memberikan pemuda itu lebih banyak kekuatan dan menaikan kesempatan hidupnya.
"Maafkan aku Naruto."
Perlahan Hinata mendekatkan bibirnya pada bibir Naruto. Hanya saja ketika jarak di antara mereka sudah hampir nol.
"Kya."
Naruto menggenggam erat pundak Hinata dan bangun lalu balik mendorong gadis itu sehingga posisi mereka sekarang menjadi terbalik.
"Yang seharusnya minta maaf itu aku Hinata."
Naruto adalah laki-laki normal, jadi ketika ada seorang gadis yang datang padanya sambil membawa ekspresi yang mengatakan kalau dia sedang panas dan bertindak secara agresif padanya. Pasti dia merasakan reaksi alami yang akan semua laki-laki rasakan.
Sudah begitu, gadis dalam deskripsi yang disebutkan juga adalah seorang gadis yang kecantikannya akan membuat seorang model malu. Jika Naruto tidak berpikir mesum setelah mendapatkan berbagai stimulus dari Hinata, sudah jelas kalau pikirannya mungkin sudah menyimpang.
Setelah diserang dengan tiba-tiba, dibisiki kata-kata yang kedengaran manis, dan diberi service menggunakan tubuh lembut gadis itu. Mau tidak mau, perasaan ingin memangsa seseorang yang tidur jadi langsung bangun.
Untuk saat ini. Walau memang sudah di ujung tanduk, tapi dia masih bisa menahan diri.
Ketika Hinata menaiki tubuhnya dia menutup mata agar tidak bisa melihat langsung penampilan gadis itu agar dia tidak jadi kehilangan kendali. Tapi ketika Naruto merasakan nafas gadis itu berada di atas bibirnya, dia jadi kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri.
"Aku sudah tidak mau dan tidak bisa berhenti! perintahkan aku untuk berhenti jika kau tidak ingi aku melakukan lebih dari i…"
"Kenapa?"
Tentu saja pertanyaan Hinata sukses membuat Naruto kebingungan.
Meski kelihatannya seperti remaja berumur lima atau enam belas tahun tapi Hinata adalah seorang vampire yang sudah hidup selama ratusan tahun jadi tidak mungkin gadis itu tidak mengetahui apa yang hendak Naruto lakukan padanya.
Lagipula, di jaman sekarang ini akan SMP saja pasti sudah tahu apa yang Naruto maksudkan.
Kemudian sekarang Hinata juga ada dalam posisi yang sangat memprovokasi karena Naruto yang bangun tiba-tiba sehingga gadis itu belum sempat memindahkan kedua pahanya yang berada di samping pinggang pemuda di depannya.
Jika rok Hinata tidak menyangkut di sabuk Naruto, mungkin saat ini celana dalamnya sudah bisa terlihat jelas.
"Kenapa kau mau aku menghentikanmu?."
"Kenapa? karena aku tidak mau melakukan apa yang tidak kau inginkan."
Kalau dipikir lebih jauh, alasan satu-satunya gadis itu mau dekat dengan Naruto yang tidak punya hubungan apa-apa dengannya hanyalah karena faktor keterpaksaan.
Gadis itu memang selalu bersamanya, selalu menempel padanya, dan bahkan mereka pernah beberapa melakukan hal yang bisanya hanya akan dilakukan oleh sepasang kekasih. Tapi itu bukan berarti mereka itu memang sedekat itu.
Semua hal itu bisa terjadi karena mereka terikat kontrak gaib yang membuat Naruto bertugas sebagai pelayan gadis itu dan juga karena mereka dihadapkan pada sebuah situasi di mana nyawa mereka terancam.
Bukan karena gadis itu mempunyai perasaan khusus pada Naruto.
"Memangnya siapa yang bilang kalau aku terpaksa? kau masih ingat dengan posisi kita kan?."
Nyawa Naruto adalah properti pribadi Hinata. Jadi jika Naruto melakukan hal yang tidak disukai oleh Hinata, gadis itu bisa menghentikannya kapanpun dia mau. Meski secara fisik Naruto lebih kuat dari Hinata, tapi mengatasi pemuda itu sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan.
Kesimpulannya?
"Kau membiarkanku?"
Perbedaan umur antara Naruto dan Hinata terpaut sangat jauh, dan itu bukan lagi perbedaan yang memisahkan antara orang dewasa dan remaja. Melainkan nenek moyang dan beberapa generasi selanjutnya. Karena itulah Hinata menganggap kalau Naruto hanyalah anak kecil.
Tapi anggapan itu hanya ada pada awal pertemuan mereka berdua.
Begitu Hinata menghabiskan waktu bersama Naruto, meski memang hanya beberapa bulan. Hal itu sudah cukup untuk membuat Hinata merasakan sesuatu hal yang lain. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Dan perasaan itu membuat Hinata ingin menggoda pemuda itu, sebab ketika dia menggodanya dia merasakan kesenangan yang sekali lagi, belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dan mulai saat itu juga, tanpa dia sadari Hinata mulai menginginkan dirinya bisa terus berada di samping Naruto.
Membuatnya bertindak agresif pada pemuda itu, menuruti saran dari sebuah majalah yang bilang kalau laki-laki suka wanita yang agresif.
"Kalau kau yang melakukannya aku tidak keberatan."
Kata-kata mengundang yang Hinata ucapkan adalah lampu hijau yang menandakan kalau Naruto sudah dibolehkan untuk melakukan apa yang dia inginkan pada gadis di depannya. Hanya saja dia masih ragu untuk maju, sebab dia sadar kalau sekarang mereka berdua berada di tempat yang sangat ramai.
Tempat Naruto membangun tendanya memang agak jauh dari yang lain, atau mungkin lebih tepat dibilang jika tidak ada yang mau dekat dengannya. Tapi walau ada jarak di antara dia dan teman-temannya, mereka semua masihlah berada di tempat yang relatif dekat.
Bahkan Naruto bisa samar-samar mendengar suara teman-temannya yang sedang ngobrol di tenda masing-masing. Meski Naruto tidak akan melakukan tindakan yang mencurigakan dengan sengaja untuk menarik perhatian, tapi sama sekali tidak ada jaminan kalau tidak akan ada yang datang ke tendanya untuk suatu alasan.
"Relax saja Naruto tidak akan ada yang datang ke sini, jadi kau tidak perlu khawatir maupun tergesa-gesa."
Kemampuan Hinata adalah mengendalikan semua jenis makhluk nokturnal, dan lewat kemampuan itu dia bisa membagi sedikit magicnya sama seperti yang dia lakukan pada Naruto. Walau memang sangat terbatas, tapi itu sudah cukup untuk mampu mempengaruhi pikiran orang yang mendekat tempat itu jadi terganggu.
Mereka akan tidak nyaman, mereka akan bingung kenapa mereka sudah ke sana, dan mereka akan lupa apa tujuan masing-masing lalu menyingkir dari sana.
"Jadi tidak usah kha. . . .ehmmmmmm."
Kesimpulannya Naruto tidak perlu lagi menahan diri dan mengkhawatirkan hal lain. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau pada gadis di depannya itu tanpa ragu lagi. Dan bahkan, Hinata tidak lagi dia berikan kesempatan untuk bicara.
Menerima perlakuan itu, Hinata hanya menutup mata dan menahan mulutnya untuk tidak bersuara. Dia merasakan apa yang Naruto sedang lakukan dengan tubunya, dan gara-gara hal itu dia tidak berani melihat langsung pada mata pemuda di depannya.
"Hinata."
Hinata merasakan kalau kedua pipinya sedang dipegang, setelah itu tidak lama kemudian kedua orang itu tidak lagi bisa berpikir rasional dan hanya menginginkan satu sam lain.
5.
Keadaan Hinata yang disegel memang agak susah dijelaskan efeknya, kadang segel itu jadi hambatan tapi kadang segel itu malah membantu. Sebab Hinata tidak bisa lagi terpengaruh magic, magic yang di pasang di sekitar gunung untuk mencegah siswa keluar tidak berpengaruh padanya.
Dengan bantuan Hinata, Naruto bisa lolos dari magic penyesat itu sehingga mereka bisa turun ke kota tanpa dengan cepat dan selamat.
"Bawa ini, Shion mengambil ini dari salah satu guru."
Hinata memberikan sebuah kunci sepeda motor pada Naruto.
"Aku tidak bisa naik motor."
Naruto tidak pernah menaiki sepeda motor sebab rumahnya dekat dengan sekolah, jadi selain tidak punya dia juga tidak bisa menaiki kendaraan itu. Memang basic cara mengendarainya sama dengan sepeda, tapi Naruto sama sekali tidak yakin kalau benda itu tidak akan minimal penyok setelah dia kendarai.
"Jika semuanya sudah selesai aku akan mengurusi pemiliknya."
"Kalau begitu aku akan pergi."
Hinata mampu melakukan manipulasi ingatan. Jadi meski sepeda motor yang Naruto bawa tidak bisa kembalipun Hinata bisa menambahkan ingatan palsu ke pemiliknya kalau benda itu entah kenapa sudah terjun ke jurang.
"Kenapa kau belum berangkat juga Naruto?"
Pemuda itu sudah bilang kalau dia akan pergi dan diapun sepertinya sudah dalam keadaan siap untuk pergi, tapi sedari tadi Naruto tetap saja belum berangkat dan malah tetap berada di sekitar Hinata.
"Apa aku tidak dapat ciuman kemenangan?"
"Akan kuberikan kalau kau sudah menang."
"Apa tidak bisa sekarang?"
Naruto sadar kalau apa yang dia ucapkan kedengaran seperti memaksa, tapi mau bagaimana lagi. Setelah sekali mencicipinya entah kenapa dia jadi merasa ketagihan dan ingin merasakannya terus.
Dia tidak perduli lagi kalau ada yang menyebutnya mesum, yang jelas dia ingin merasakan bibir Hinata berkali-kali lagi. Bukan hanya satu atau dua kali lagi.
"Kalau aku memberikannya kau tidak akan lagi punya motivasi untuk kembali."
"Mungkin kau benar."
Jika Naruto tiba-tiba harus mati lagi, kalau dia sudah mendapatkan ciuman kemenangan dari Hinata. Mungkin dia tidak akan lagi menyimpan penyesalan dan bisa mati dengan tenang.
Setelah itu Naruto benar-benar berangkat. Dan sesuai seperti yang sudah dia duga, sepeda motor yang dia naiki berjalan dengan tidak stabil dan berkali-kali hampir menabrak sesuatu. Hanya saja, sebab pada dasarnya benda itu punya asas yang sama dengan sepeda, setelah berjalan agak cepat Naruto mulai bisa mengendalikannya dan bergerak dengan lebih baik.
Jalan menuju gunung adalah jalan yang terisolasi dan tidak ada penghuninya, di kanan dan kirinya yang ada hanyalah pohon tinggi tinggi gelap serta semak rimbun yang hampir mulai merambat ke jalan.
Normalnya suasana macam itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang takut, tapi betapa beruntungnya Naruto. Dia bukan lagi orang, bukan lagi manusia. Dan dia juga malah bisa dikategorikan sebagai makhluk yang seharusnya ditakuti.
"Aku adalah monster."
Adalah apa yang Naruto sedang pikirkan.
Perjalanan Naruto tidak berlangsung lama. Selain karena memang jalannya sangat sepi sampai tidak ada yang pernah dia lihat lewat, daerah di sekitar kotanya yang biasanya ramai dan jalannya macet juga tidak ada lagi penghuninya.
Kurang dari satu jam kemudian, Naruto turun dari sepeda motor pinjamannya dan memutuskan untuk berjalan kaki ketika dia sudah berada lima kilometer dari pintu utama masuk ke kotanya.
Dia tidak ingin memancing perhatian dari vampire-vampire yang berjalan seperti zombie di kanan dan kirinya.
Begitu dia masuk ke daerah sekitar kotanya, dia mulai bisa melihat soso-sosok mencurigakan yang berjalan seperti zombie menuju ke kota. Mereka memang tidak terlalu memperhatikan Naruto yang menaiki kendaraan, tapi meski begitu Naruto tetap tidak mau jadi mencolok dan menarik perhatian yang tidak perlu.
Karena itulah dia menaruh sepeda motor pinjamannya itu di sebuah rumah lalu ikut berjalan dengan tempo yang sama seperti vampire lain.
Di dalam sana ada onmyoji yang sedang menunggu, jika Naruto bertindak lain lalu memancing kecurigaan ada kemungkinan sangat besar kalau salah satu dari mereka datang dan langsung mengurusnya.
Jika hal itu sampai terjadi, tujuan awal Naruto kembali ke kota tidak akan bisa terpenuhi.
Dalam waktu setengah jam, akhirnya Naruto berhasil masuk ke dalam kota. Lalu begitu dia di dalam, dia langsung merasa kalau sepertinya dia sudah salah tempat sebab pemandangan yang dia lihat adalah sebuah kota dipenuhi vampire seperti zombie persis film lama berjudul walking de*d.
Jika saat ini dia sendiri bukan seorang vampire, Naruto pasti sudah lari terbirit-birit dari tempat itu. Sebab keadaan kota sangatlah horor, bahkan lebih horor dari film paling horor sekalipun.
Tapi meski horor, Naruto tetap berjalan dan mengikuti arus vampire zombie yang berada di sekitarnya. Tujuan Naruto adalah menghentikan seseorang atau sesuatu yang memaksa vampire-vampire di sekitarnya untuk berkumpul di kota, dan sesuatu itu pasti berada di ujung perjalanan dari gerombolan vampire mabuk yang sedang dia iringi.
Selain dia jadi gampang menemukan targetnya dia juga bisa berkamuflase dan menghindari perhatian jika ada onmyoji yang mengawasi di sekitar daerah itu.
Waktu yang dia punya sangat sedikit sehingga Naruto tidak sempat untuk membuat rencana infiltrasinya, dan meskipun dia punya waktupun pada dasarnya otaknya itu memang tidak terlalu cemerlang dalam masalah berfikir.
Semua hal yang dia sudah lakukan sampai saat ini adalah hanya sekedar hasil dari improvisasinya dalam menyesuaikan keadaan. Dan meski Naruto memang sedang menuju ke pusat dari masalah yang ingin dia selesaikan, sebenarnya dia masih belum tahu apa yang akan dia lakukan saat sudah sampai.
Tapi sebelum itu. Sebelum dia sempat memikirkan apa yang harus dia lakukan nanti, dia dipaksa untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Sebab saat ini mau dia harus segera melakukan sesuatu karena. .
"Kenapa masih ada orang di kota ini?"
Beberapa puluh meter di depannya, ada segerombolan vampire yang mengepung seseorang dan seseorang itu adalah manusia.
Hal itu pada akhirnya membuat Naruto segera merubah pikirannya dan melakukan improvisasi rencana. Sekarang menuju kota sudah jadi prioritas nomor dua dan menyembunyikan diri jadi prioritas nomor tiga. Sedangkan yang jadi prioritas utamanya sekarang adalah, berlari secepat mungkin menuju manusia yang sedang lari dikejar vampire zombie di depannya.
Seorang vampire tidak tertarik dengan vampire lain, karena itulah meski Naruto sudah membuat keributan dengan berjalan melawan arus dan berkali-kali menabrak vampire lainnya keberadaanya tidak terlalu dipikirkan. Selain itu keadaan mereka juga sedang antara sadar dan tidak sadar sehingga Naruto dengan mudah bisa menyingkirkan penghalang jalannya tanpa takut diserang.
Hanya saja orang di depannya adalah masalah lain. Selain dia adalah manusia dia juga adalah seorang gadis.
Selain hal universal tentang vampir yang sudah dia sering dengan dari Hinata, ada satu hal universal lain tentang vampire. Hal itu adalah makanan kesukaan.
Entah itu murni atau turunan, wanita atau pria, yang sudah lama ataupun yang baru. Semua vampire sangat menyukai darah dari gadis muda yang masih perawan. Dan Naruto juga bukan pengecualian.
Hal itu tidak mengejutkannya sebab dia sendiri sudah merasakan bagaimana rasanya harus menahan diri ketika ada banyak gadis mudah lewat di depannya. Ketika hidungnya mencium aroma gadis muda rasanya dia ingin segera melompat dan mencicipi rasa dari darah mereka.
Dia masih beruntung bisa menahan diri, selain itu di sampingnya juga ada Hinata yang bisa mengeremnya kapan saja. Tapi meski begitu, meskipun dia tidak pernah bilang pada siapapun. Dia sempat merasa ingin menyantap Sakura dan gadis-gadis teman sekelasnya.
Dia tahu kalau menginginkan gadis muda yang masih perawan adalah normal untuk seorang vampire. Tapi saat ini dia baru sadar kalau ternyata definisi umur gadis muda vampire itu ternyata jarak jangkaunya sangat jauh. Membuat Naruto menarik kesimpulan kalau.
"Ternyata vampire itu pedo."
Dia mampu mengambil kesimpulan itu adalah sebab orang yang dikejar oleh sekumpulan vampire bermuka bringas dengan liur di mulutnya adalah bukan hanya sekedar gadis muda yang masih perawan. Tapi gadis kecil imut-imut yang umurnya mungkin sekitar antara sembilan sampai dua belas tahun.
Bisa dibilang bahkan dia itu belum bisa disebut gadis melainkan anak-anak. Anak perempuan yang sangat manis. Mungkin gadis anak perempuan paling manis yang pernah Naruto temui sampai saat ini.
"Kenapa aku jadi ikut-ikutan pedo!?"
Naruto mempercepat larinya lalu setelah itu dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk melompat ke depan. Seberapa cepatpun dia berlari dia tidak akan sempat menyelamatkan anak itu sebelum ada vampire lain yang mampu menyentuhnya, karena itulah dia memanfaatkan kekuatannya yang abnormal untuk melompat.
Seperti roket, Naruto meluncur melewati vampire lain yang mulai ikut berkumpul untuk mengepung anak kecil itu.
"Lihat ke sini bocah!"
Naruto yang sedang meluncur membuka kedua tangannya untuk menangkap anak itu, hanya saja ketika pemuda itu sudah lumayan dekat. Bukannya bekerjasama anak itu malah menghindar dan membuat Naruto yang sudah tidak lagi bisa mengerem menabrak sebuah bangunan dan memecahkan kacanya.
"Kenapa kau menghindar!"
Naruto marah dan berteriak. Tapi dia sendiri tahu kenapa anak itu menghindar. Tiba-tiba ada seorang yang terbang dengan tangan terbuka dengan maksud untuk menangkapnya saat dia sendiri sedang berada dalam situasi sulit.
Sangat normal kalau tindakan Naruto dianggap sebagai serangan.
Menanggapi teriakan Naruto, anak kecil itu hanya melihat Naruto dengan tatapan kosong sambil memiringkan kepalanya. Tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Di belakang!"
Di belakang anak kecil itu ada seorang vampire yang sudah bersiap untuk meremas leher mangsanya. Taringnya yang tajam bisa terlihat jelas, matanya yang merah sangat mengintimidasi, dan telapak tangannya yang berkuku tajam sudah bersiap untuk mencabik kulit mulus anak kecil di depannya.
Naruto segera melompat kembali, tapi dia tidak mungkin bisa sampai tepat waktu.
"Sialaaaaaaannn!"
Di saat Nartuo sudah bersiap untuk menutup matanya agar tidak melihat pemandangan mengerikan yang akan segera terjadi, tanpa di diguna anak kecil itu malah hanya melihat vampire di belakangnya dengan tatapan kosong lalu berjalan satu langkah ke depan.
Setelah itu.
"Uhkhklhhkkhkk. . ."
Suara orang yang kesusahan bernafas karena muntah darahpun terdengar. Tapi suara itu bukan berasal dari anak kecil yang tadi akan dimangsa melainkan berasal dari vampire yang berada di sekitarnya.
"Apa yang baru saja terjdi?"
Naruto tahu apa yang baru saja terjadi, tapi dia masih kesulitan untuk mempercayai matanya.
Sebelum leher gadis itu berhasil disentuh oleh vampire di belakangnya, tiba-tiba beberapa buah besi baja besar yang dari tadi menggantung di atas crane jatuh dan langsung meremukan tubuh vampire yang hendak menyerangnya dan beberapa vampire lain yang berada di sekitar gadis itu.
". . . . . . . . . . "
Naruto tidak bisa bicara apa-apa dan hanya berdiri dengan muka bodoh.
Hal yang baru saja terjadi hanya bisa dijelaskan dengan satu hal. Beruntung. Memang benar di tempatnya ada sebuah gedung yang sedang dalam konstruksi tapi meski begitu kesempatan tulang bajanya jatuh pada saat yang sangat tepat sangatlah kecil. Selain itu, secara ajaib anak kecil itu juga tidak bahkan terluka sedikitpun meski harusnya dia tidak sempat bersiap dan menghindari kecelakaan itu.
"Ini kesempatan."
Vampire memang punya kemampuan penyembuhan yang sangat cepat, tapi jika otak serta jantungnya hancur mereka tidak akan bisa lolos dari kematian. Sambil berjalan melewati tubuh-tubuh vampire mati yang mulai jadi abu, Naruto mendekati anak kecil itu.
". . . ."
Anak kecil itu terus menatap Naruto, lalu perlahan dia mulai mundur.
"Jangan takut, aku tidak akan melukaimu."
Anak kecil itu mengedipkan matanya lalu bilang.
"Kau ini vampire kan?"
"Iya tapi. . . . eeeeeeeeeeeee. . . . "
Kalau tadi yang jatuh adalah besi baja seberat beberapa ton, sekarang malah crane yang digunakan untuk mengangkat besi itu yang sedang roboh menuju Naruto. Bukan, tapi menuju mereka berdua. Naruto dan anak kecil tadi.
"Aku akan menyelamatkanmu."
Naruto tidak menyadarinya, tapi untuk sesaat anak kecil itu memperlihatkan wajah terkejut begitu mendengar apa yang Naruto katakan.
Naruto berlari dengan sekuat tenaga, setelah itu dia menggunakan salah satu bayang baja yang jatuh untuk menolakan tubuhnya agar bisa bergerak menuju anak tadi dengan cepat. Yang dia ingin lakukan adalah segera menangkap anak itu dan membawanya ke bagian bawah salah satu baja yang jatuh untuk berlindung.
". . . "
Dalam diam, anak itu kembali mencoba menghindari Naruto dengan berpindah posisi.
"Jangan menghindar bodoh!"
Naruto menggunakan kaki kanannya untuk merubah arah gerakannya kemudian dia kembali mulai berlari arah yang dia tuju sudah benar.
"Aaaaaa. . . . kena kau!"
Akhirnya, Naruto berhasil memegang lengan kecil anak kecil di depannya. Hanya saja.
Gara-gara harus berhenti sejenak dan memutar arah, Naruto kehilangan timingnya dan sampai pada saat yang sudah terlambat. Bagian dari crane yang tadi roboh sudah tinggal beberapa meter dari kepalanya.
Kali ini semuanya sudah out. Adalah apa yang Naruto pikirkan. Tapi.
Anak kecil yang lengannya dia pegang sangat erat balik memegang lengan Naruto, kemudian dia menarik tubuh Naruto menggunakan satu tangannya yang sudah bebas. Membuat mereka jatuh ke aspal.
Dan selamat dari maut karena crane yang roboh tersangkut di sebuah baja yang sebelumnya sudah lebih dulu jatuh.
"Aku, selamat?"
Benda besar itu berhenti tepat lima senti di belakang kepala Naruto.
Naruto sudah tidak tahu lagi harus bereaksi bagaimana pada keadaanya karena itulah dia hanya diam sambil terus mengatur nafasnya yang sempat jadi tidak teratur karena tegang tadi.
"Berhubung kau sudah selamat, tolong lepaskan tanganku kau memegangnya terlalu kuat rasanya sakit dan, jangan bernafas di atas perutku aku geli."
Naruto ingin segera berterima kasih pada anak yang sekarang berada di bawahnya, tapi begitu dia melihat ke bawah tiba-tiba hidungnya mengeluarkan darah dan taringnya terasa memanjang.
"Bagaimana bisa? padahal aku sangat yakin kalau aku ini bukan pedo!"
Anak perempuan yang berada di bawah Naruto memakai hakama dan haori seperti seorang miko, sehingga pakaiannya jadi sangat mudah berantakan dan terbuka karena tidak memiliki kancing.
Naruto tidak tahu kapan terjadinya, tapi yang jelas gadis kecil di bawahnya sekarang sedang memperlihatkan banyak sekali kulitnya. Atas dan bawah. Bukan hanya sebagian besar dadanya bebas untuk Naruto lihat, tapi kulit perutnya yang halus dan lembut sempat menyentuh wajah Naruto. Lalu yang terakhir, hakama yang harusnya menutupi sampai mata kaki sekarang tersingkap sangat tinggi dan sukses mempertontonkan paha putih gadis kecil itu.
"Aku punya banyak sekali pertanyaan bocah, tapi yang pertama ingin kutahu adalah kenapa kau tidak memakai dalaman!?"
Gadis kecil itu hanya memiringkan kepalanya.
"Jangan berikan aku ekspresi semacam itu!"
Gadis kecil itu beberapa kali berkedip sebelum menjawab Naruto.
"Aku baru sebelas tahun jadi tidak perlu bra."
Melihat dadanya yang seratus persen rata, tidak diragukan lagi kalau memang bra sama sekali tidak ada gunanya.
"Lalu kakakku juga bilang kalau ketika menggunakan pakaian ini aku tidak boleh mengenakan dalaman."
Jadi kesimpulannya sekarang gadis kecil itu juga tidak mengenakan celana dalam.
"Siapa kakakmu!? akan kuhajar orang mesum itu!"
Sambil mengelap darah yang keluar dari hidungnya, Naruto terus mengumpat dan mengutuk entah siapapun kakak dari gadis kecil itu. Dia tidak tahu siapa kakak dari gadis kecil itu, tapi yang jelas dia yakin kalau orang itu pasti pedo mesum gila yang bahkan mampu menipu adiknya sendiri untuk jalan-jalan di tengah kota dengan tidak mengenakan pakaian dalam.
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang apa kau mau menjawab kalau aku bertanya?"
Posisi mereka berada pada tempat yang sangat berbahaya, sedikit saja salah bergerak bisa jadi tubuh mereka berdua akan remuk tertindih beban seberat beberapa ton yang secara ajaib berhenti beberapa senti di atas tubuh mereka. Oleh karena itulah Naruto yang sedari tadi ingin merubah posisinya harus melakukan hal itu dengan sangat hati-hati dan pelan.
"Kau ingin tanya apa?"
"Tolong lepaskan genggamanmu, tanganku sakit."
Begitu sadar kalau tangannya masih dengan sangat erat menggenggam lengan kecil anak itu, Naruto segera buru-buru melepaskannya. Dia mengira kalau anak itu hanya menggunakan alasan sakit untuk memaksanya melepaskannya tapi begitu melihat lengannya yang pucat karena darahnya sulit mengalir dan bekas tangannya yang melekat di kulit anak itu. Dia sadar kalau dia menggunakan terlalu banyak kekuatan dan membuat anak itu kesakitan.
"Lalu yang ingin kutanyakan adalah, apa kau tidak ingin memakanku? apakah kau akan memakanku?"
"Aku ingin melakukannya!"
Tubuhnya tidak bisa memungkiri hal itu.
Dia yakin kalau orientasi seksualnya tidak menyeleweng dan dia sudah sering membuktikan kalau dia tidak punya ketertarikan seksual pada anak kecil.
Setiap dia berhasil melihat celana dalam seorang murid SD yang kebetulan roknya terbawa angin satu-satunya pikiran yang melintas di otaknya hanyalah, o bahanya seratus persen katu. Hanya begitu. Dia tidak menganggap kalau melihat pantat anak kecil itu cukup berharga atau menarik untuk dilihat.
Lagipula, dia juga tidak mungkin bisa merasa tega untuk menyakiti gadis kecil yang sedang tidak sengaja dia peluk itu.
Badannya yang kelihatan rapuh seperti kaca dan bisa rusak hanya dengan sedikit tekanan, hal itu membuat Naruto ingin menjaganya. Kemudian, wajah imut, manis, polos dan kekanakannya juga berhasil membuat Naruto ingin melindunginya tanpa ragu dengan suka rela.
Semua hal tentang gadis kecil itu adlah putih, bersih, suci, polos, dan murni. Seakan sekedar berpikir kotor tentangnya saja sudah dikategorikan sebuah dosa.
Tapi.
"Aku ingin memakanmu!"
Untuk suatu alasan keinginan untuk memakan gadis kecil itu terus saja terlintas di kepalanya.
Bibir mungil semerah ceri itu, dia ingin mencicipinya.
Leher seputih susu itu, dia ingin merasakannya.
Paha putih mulus itu, dia ingin menyentuh dan merabanya.
Tubuh kecil lembut itu, dia ingin memeluknya seerat mungkin.
Lalu. Aroma manis yang keluar dari gadis kecil itu juga sudah berkali-kali membuat Naruto tanpa sadar sudah membuka mulut dan mengeluarkan lidahnya lalu mempersiapkan taringnya.
"Mungkin menjadi vampire sudah membuatku jadi pedo tapi aku tidak akan melakukannya! aku tidak akan memakanmu!"
"Bagi vampire menginginkanku adalah normal."
Naruto sudah berhasil keluar, setelah itu dia menyuruh gadis kecil itu untuk merangkak keluar dengan pelan. Lalu setelah mereka berdua sudah berada di tempat yang Naruto anggap aman, dia segera mengangkat tubuh gadis kecil itu dan menggendongnya di depan menggunakan kedua tangannya.
"Kalau begitu kau sedang beruntung sebab banyak yang bilang kalau aku ini aneh, namaku Naruto, kau?"
"Hanabi, Hyuuga Hanabi."
Naruto melihat situasi di sekitarnya, kemudian dia memutuskan untuk segera pergi sambil membawa Hanabi.
6.
"Jadi sebenarnya siapa kau?"
Sambil terus mengawasi keadaan sekitar Naruto menanyai gadis kecil yang sekarang sedang duduk di belakangnya sambil menyandar ke tembok.
"Aku Hanabi?"
"Bukan namamu tapi latar belakangmu."
Seorang gadis kecil berkeliaran di tengah kota yang dipenuhi vampire sendirian saja. Alasan tersesat sama sekali sudah tidak bisa menjelaskan keadaanya, lalu jika memang dia itu orang biasa tidak mungkin si Hanabi itu bisa tetap tenang dalam keadaannya tadi.
Orang normal pasti sudah ketakutan, berteriak, dan mencoba lari untuk kabur dengan sekuat tenaga jika dihadapkan pada situasi yang sama sepertinya. Selain itu, dari cara bicaranya kemungkinan besar dia juga sudah akrab dengan hal supranatural.
"Aku."
Keadaan di luar kelihatan aman, tidak ada vampire yang mencoba mendekati gedung tempat Naruto mengungsikan Hanabi. Oleh sebab itu dia bisa agak sedikit tenang dan segera duduk dengan agak santai di depan Hanabi.
"Seorang Onmyoji."
"Oh sekarang aku yang akan balik bertanya, apa kau akan membunuhku?"
Hanabi melirik Naruto, kemudian dia melihat pemuda itu seakan sedang menaksir harganya.
"Kalau perlu, iya."
Jawaban itu sudah agak diprediksi oleh Naruto. Onmyoji adalah antonim dari vampire, mereka ada untuk membasmi makhluk seperti Naruto. Dia memang sudah mencoba menyelamatkan Hanabi, tapi meski begitu
"Tapi sekarang belum perlu, sebab aku bisa melakukannya kapan saja."
Naruto tidak tahu apa yang bisa Hanabi lakukan, tapi meski begitu dia tidak akan meremehkan gadis kecil itu hanya karena dia kelihatan lemah. Setelah melihat apa yang terjadi pada vampire yang mencoba menyerangnya, setidaknya Naruto paham kalau gadis kecil yang sekarang ada di depannya itu jelas tidak sekedar membual.
"Aku ingin menanyakan bagaimana kau bisa tetap sadar di tempat ini, tapi yang ingin kuketahui kenapa kau ada di sini? kenapa kau datang ke tempat ini?"
Vampire lain datang ke kota ini adalah karena pikiran mereka terpengaruh oleh sebuah magic, dan magic itu digunakan untuk mengumpulkan semua vampire di daerah itu agar mereka bisa dihancurkan dengan sekali coba.
Jika seseorang mampu sadar kalau dia sedang dipengaruhi dan disuruh untuk masuk ke dalam jebakan mematikan, normalnya seseorang itu akan menghindar dan menjauhi kota sejauh-jauhnya. Dan bukannya malah sengaja datang.
"Jika rencana kalian berhasil orang yang penting bagiku nyawanya akan dalam bahaya, karena itulah aku akan menghentikan kalian."
"Kau yakin tidak mau merahasiakan informasi itu dariku?"
Yang sedang diajak bicara oleh Naruto adalah bagian dari pihak musuh, mengatakan tujuannya datang ke sini pada Hanabi adalah sama dengan menyuruh para onmyoji untuk bersiap menyambutnya.
"Kalau kau ingin menghentikanku kau sudah melakukannya dari tadi, jadi kalau sampai sekarang kau masih tidak melakukan apa-apa berarti akan kuanggap kalau kau tidak akan memberitahukan info tadi pada siapapun."
Naruto mengatakannya dengan yakin tapi dia sendiri tidak terlalu percaya diri dengan hasil kesimpulannya itu.
Hanabi mengatakan kalau dia tidak melakukan apa-apa pada Naruto karena dia belum perlu melakukannya, jadi jika gadis kecil itu sudah memutuskan perlu maka mau tidak mau Naruto juga harus menghadapinya.
Meski dia tidak mau.
"Kau ini vampire turunan kan? harusnya kau tahu seberapa makhluk bernama vampire bagi manusia? meskipun aku tidak terlalu perduli."
Vampire memerlukan darah manusia untuk tetap hidup, hubungan antara kedua makhluk itu tidak pernah baik sebab salah satu pihak harus rugi agar pihak lain bisa mempertahankan keberadaanya.
Selain itu, karena sifat fisik vampire yang berada di atas manusia di berbagai segi akan membuat masalah jika jumlah mereka ada banyak.
Mengurangi jumlah mereka, atau bahkan menghilangkan mereka dari dunia tidak diragukan lagi adalah cara yang tepat untuk tetap mempertahankan posisi manusia di dunia ini.
"Apa kau melakukannya karena kau sendiri itu vampire."
"Tidak, aku ini tidak rasis lagipula aku juga tidak mau teman-temanku dihisap darahnya sampai mati atau melihat mereka dirubah menjadi vampire."
Tapi meski begitu, dia akan tetap menghentikan rencana itu.
"Sebab aku harus melindunginya."
"nya yang kau maksud di sini itu seorang vampire kan?"
"Bukan hanya seorang vampire, dia juga adalah tuanku."
"Jadi dia yang membuatmu jadi vampire, berarti kau disuruh ke sini olehnya."
Seorang vampire turunan tidak akan bisa menolak apa yang diperintahkan oleh tuannya, segila apapun itu seorang pelayan akan menuruti semua keinginan tuannya dengan patuh. Meski yang harus dijadikan taruhan adalah nyawa seorang pelayan akan tetap melakukannya. Mau tidak atau tidak mau.
"Hanabi, kenapa dari tadi konotasi perkataanmu selalu saja menindikasikan kalau aku sedang dimanfaatkan?"
"Sebab memanfaatkan orang lain untuk keuntungan diri sendiri itu normal."
"Apa kakakmu juga yang mengajarkannya?"
"Kalau itu bukan, pengalaman yang memberitahuku."
"Aku tidak tahu pengalaman apa yang membuatmu bisa bicara begitu tapi sama seperti manusia, tidak semua vampire itu seburuk apa yang kebanyakan kalian pikirkan."
Di antara mereka ada yang cukup bodoh untuk menghidupkan kembali seorang remaja laki-laki yang sudah mati untuk alasan yang tidak jelas, menginvasi rumahnya lalu jadi tuan di sana. Setelah itu, saking bodohnya dia juga ikut masuk ke sekolah meski umurnya sudah lewat jauh dari umur wajib belajar, dan bahkan dia merasa senang saat mendapatkan pelajaran di kelas.
Di antara mereka juga ada seorang siscon yang sangat naif. Dia bersedia melakukan apapun agar dia bisa terus bersama adik perempuannya.
Mereka itu sama seperti manusia pada umumnya. Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan melakukan apa yang dimau. Dan sepertinya, kebanyakan mereka tidak terlalu perduli dengan penguasaan dunia atau mengambil posisi manusia.
"Kedengarannya mereka tidak terlalu baik."
"Sampai sekarang aku memang belum pernah menemukan vampire yang seratus persen baik."
Kecuali Shion yang baru saja jadi vampire beberapa minggu yang lalu.
"Tapi yang ingin kucoba katakan adalah tidak semua vampire itu perlu dimusnahkan."
Tidak menjawab dan hanya diam. Adalah apa yang dilakukan Hanabi. Dia kelihatan mendengarkan semua yang dikatakan oleh Naruto, tapi untuk suatu alasan dia juga kelihatan tidak mengerti dengan apa yang Naruto baru saja katakan.
"Aku tidak paham apa yang kau bicarakan, aku tidak pernah berinteraksi dengan orang lain lalu hubunganku dengan orang lain kecuali kakakku hanyalah take and take aku tidak punya cukup pengalam untuk bisa mengerti apa yang coba kau sampaikan padaku aku tidak bisa menilai apakah mereka itu pantas dilindungi atau tidak."
Take and take? bukankah normalnya take and give.
Naruto ingin menanyakannya, tapi suaranya sudah didahului oleh perkataan tambahan Hanabi.
"Lagipula, aku tidak pantas bicara masalah benar dan salah seba aku sudah membunuh kedua orang tuaku."
Dia lahir di tengah keluarga biasa, sebuah keluarga normal yang tidak ada sangkut pautnya dengan hal supranatural. Memang secara nama dia masih ikut dengan keluarga yang katanya adalah pembasmi monster, tapi itupun hanya nama.
Keluarganya adalah keluarga yang punya hubungan jauh dengan keluarga utama, bahkan saling berkunjung saja Hanabi belum pernah melakukannya. Yang jelas hubungan keluargannya dengan keluarga utama itu sangat jauh.
Tapi. Untuk sebuah alasan yang tidak diketahui, Hanabi lahir dengan sebuah kemampuan khusus yang membuatnya jadi pembawa kemalangan. Dan karena kedua orang tuanya hanya manusia biasa, mereka tidak bisa meraskan bahaya yang datang.
Suatu hari entah dari mana datangnya, rumah Hanabi sudah dikelilingi vampire dan kedua orang tuanya langsung jadi korban bahkan dia sempat tahu apa yang sedang terjadi.
"Ketika aku sudah ketakutan dan gemetaran di pojok kamarku setelah melihat kedua orang tuaku dimakan oleh mereka. . . "
Kakaknya datang dan melindunginya.
Kakanya, sama seperti kedua orang tuanya juga hanyalah manusia biasa. Dia ketakutan, dia ingin lari, dia tahu kalau dia tidak punya kemampuan yang cukup untuk bisa terus berdiri dan melindungi adiknya tapi dia dia tetap berdiri dan menggenggam pedangnya.
Tidak seperti Hanabi yang diperlakukan layaknya anak perempuan pada normal, Kakaknya adalah seseorang yang sudah dilatih keras di keluarga utama. Dan di sana dia adalah murid terkuat meski tidak mempunyai kemampuan supranatural.
Dengan hanya menggunakan kemampuan fisiknya yang terbatas dan kemampuan pedangnya, dia trus melindungi Hanabi sampai semua vampire yang ada di rumahnya berkurang derastis tiga jam kemudian.
"Para onmyoji datang ketika kakak sudah babak dan sekarat, selama melindungiku dia menerima banyak sekali luka dari sekedar tulang patah sampai pendarahan dia sudah mendapatkannya."
Bisa dibilang satu-satunya hal yang membuatnya masih bisa berdiri adalah keinginannya sebab secara fisik harusnya dia sudah jatuh dan tidak sadarkan diri.
Sisa vampire yang berada di sana dibereskan oleh para onmyoji dan meskipun ancaman sudah hilang, masalah tidak mau meninggalkan kedua saudara itu.
Kedua orang tua mereka sudah tidak ada lagi, meninggalkan mereka berdua sendirian di dunia ini. Lalu karena serangan membabi buta ke rumah mereka oleh para vampire, harta benda yang ditinggalkan oleh orangtuannya juga sudah hanya bisa dihitung dengan jari.
Keduanya masih kecil sehingga masalah finansial pasti tidak akan bisa mereka selesaikan, dan yang terakhir. Hanabi tidak bisa tinggal dengan orang lain sebab keberadaanya mengundang masalah.
Kakaknya berjanji kalau dia yang akan mengurus semua dan Hanabi percaya kalau kakaknya pasti akan melakukan apapun agar bisa menepati janji itu. Untuknya, apapun dia akan berikan demi Hanabi.
"Tapi aku tidak ingin dia melakukannya! aku tidak ingin dia berjudi dengan nyawanya! aku tidak ingin dia lebih menderita lagi."
Hanabi sedih bukan main karena ayah dan ibunya tidak ada lagi, dia sedih karena tidak lagi punya rumah, dan sedih karena sekarang dia sendiri. Tapi perasaan itu bukan hanya miliknya. Hal yang sama juga dirasakan oleh kakaknya.
Tidak diragukan lagi kalau kakaknya juga sama sedihnya, tapi dia selalu memasang wajah kalau dia baik-baik saja. Kalau semua baik-baik saja sebab dia tidak ingin membuat Hanabi jadi semakin sedih.
"Karena itulah aku membuat perjanjian dengan mereka."
Para onyoji menyadari kemampuan Hanabi dan memintanya untuk bergabung, lalu sebagai bayarannya mereka akan memberikan perlindungan pada kakaknya, menjamin kehidupan mereka.
"Sepintas tawaran mereka menguntungkan tapi."
Menggunakan perjanjian itu mereka memaksa Hanabi bukan hanya menggunakan kekuatannya untuk membunuh vampire tapi juga siapapun yang menghalangi apa yang mereka inginkan. Mereka menggunakan Hanabi sebagai alat, memperlakukannya sebagai alat, dan menganggapnya hanya alat.
Hanabi tidak ingin melakukannya tapi pada akhirnya dia selalu melakukannya sebab jika dia menolak nyawa kakaknya akan dalam bahaya. Karena itulah dia menutup mata dan mengunci hatinya, lalu dia sendiripun akhirnya ikut menganggap kalau dia ada untuk jadi alat dia adalah alat.
Alat yang bisa digunakan sesuka hati oleh yang memilikinya.
"Sebenarnya apa kekuatanmu? jika kau memang sekuat itu bukankah harusnya mereka menjagamu dengan baik."
Hanabi meluruskan kakinya lalu meregangkan tangannya, setelah itu menjatuhkan badannya ke samping. Membuat dia jadi seperti tertidur dalam posisi miring.
"Aku tidak bisa memberitahukannya sebab aku ini musuhmu, tapi yang jelas kekuatanku cukup untuk menghancurkan seorang vampire darah murni."
Naruto tidak tahu apakah yang dikatakan gadis kecil bernama Hanabi itu benar atau tidak, tapi yang jelas dia sama sekali tidak ingin berhadapan dengan seseorang yang bahkan bisa menumbangkan makhluk yang tempatnya di bagian pucuk rantai makanan, makhluk yang tidak punya musuh alami, dan makhluk yang jadi punya sinonim dengan ketakutan.
Jika darah murni saja bisa dihancurkan apalagi Naruto yang cuma turunan dan hanya memiliki sebagian kecil kekuatan Hinata.
Jika di masa depan Naruto kembali bertemu dengan gadis kecil itu lagi sebagai musuh. Pemuda itu sudah memutuskan kalau dia akan lari.
"Hanya saja kekuatanku itu juga merusakku dan pada akhirnya pasti akan membunuhku, karena itulah sebelum aku mencapai batas dan jadi tidak berguna mereka akan terus memanfaatkanku dengan maksimal."
"Jika kau semenderita itu kenapa tidak kabur saja dan hidup dengan kakakmu jauh dari orang-orang itu."
"Aku tidak bisa, kekuatanku tidak cukup untuk melindunginya."
Keberadaan Hanabi membawa bencana. Dengan hanya hadir di suatu tempat dia akan mengumpulkan berbagai macam kesialan sebab apapun yang berbau supranatural akan mencoba mendekatinya.
Kakaknya bisa melindungi diri, tapi tidak semua ancaman supranatural bisa diatasi dengan fisik saja. Karena itulah hanya masalah waktu saja sampai kakaknya tidak bisa lagi mempertahankan diri dan mati karena kesialan yang dibawa Hanabi.
Jika kakaknya sudah tidak bisa lagi melindungi mereka maka Hanabi yang akan melindungi mereka, tapi jika melakukannya cepat atau lambat dia sendiri akan mati.
"Dan melihatku mati adalah hal yang paling tidak diinginkan kakakku, jika aku mati aku yakin dia akan memilih bunuh diri daripada harus hidup tanpaku! dan aku tidak mau hal itu terjadi."
"Ya ampun! siscon memang benar-benar menyusahkan."
Naruto tidak punya saudara dan dia juga sudah lama tidak berinterkasi dengan kedua orang tuanya, hal itu membuatnya tidak ingat lagi seberapa berharga keberadaan keluarga baginya. Membuatnya tidak tahu bagaimana perasaan Hanabi yang diberi pilihan dead or die.
"Kau bilang kalau kekuatanmu menghancurkanmu kan? bagaimana bisa?"
Mungkin aku bisa melakukan sesuatu. Adalah apa yang dipikirkan Naruto.
"Kekuatanku mengambil kehidupanku, setiap kali menggunakannya umurku akan dikurangi sebagai gantinya."
Tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan yang murah saja tidak ada. Dengan memiliki kekuatan besar, tentu harga yang harus dibayarkan juga besar.
"Dan jika misi terkahir ini sudah selesai."
Hanabi membuka matanya yang sempat dia pejamkan tadi.
"Aku pasti akan mati."
"Hey! kau tidak ingin membuat kakakmu sedih kan lalu kenapa kau tetap mejalankan misi ini meski kau tahu kalau kau akan mati!?"
"Mereka akan membuat keberadaanku menghilang, semua tenangku akan menghilang, dan apapun yang kakakku ingat tentangku akan mereka hilangkan."
Naruto segera berdiri dan berjalan menuju Hanabi.
"Dia tidak akan lagi sedih dan jika dia sudah tidak sedih, aku bisa mati dengan tenang."
"Apanya yang mati dengan tenang! tidak ada orang yang tenang saat mati! mati itu sakit!."
"Sebab kau sudah mencoba menyelamatkanku aku akan memberimu kesempatan untuk pergi dari kota ini, jika kau pergi aku tidak akan mengeliminasimu tapi."
Tatapan Hanabi jadi tajam.
"Kalau kau menghalangiku, aku tidak akan ragu untuk membunuhmu."
Mereka berdua punya orang yang ingin dilindungi. Dan untuk melindungi orang itu, mereka sama-sama akan melakukan apa saja. Jika mereka harus mati untuk bisa melakukannya mereka akan mati, jika mereka perlu mengorbankan sesuatu mereka akan mengorbankannya, dan jika ada yang menghalangi mereka.
Mereka akan menghancurkannya.
"Kau masih kecil jadi jangan sok!"
Naruto berlari, tapi sebelum dia sempat berakselerasi tembok di belakang Hanabi runtuh dan dari sana puluhan vampire masuk bagai tsunami.
"Bagaimana bisa? aku tidak merasakan apapun!."
Tsunami vampire itu terus mengalir dan vampire baru terus saja masuk ke dalam ruangan itu, membuat ruangan jadi penuh dan menghalangi Naruto untuk bergerak.
"Sialan!"
Vampire yang masuk tidak memperdulikan Naruto, tapi mereka semua langsung mengerubungi Hanabi bagai semua yang mengerubungi gula. Dari tempatnya sekarang dia tidak bisa lagi melihat Hanabi dan hanya mampu melihat vampire-vampire yang sedang menjulurkan tangannya ke sebuah tempat kecil dengan muka beringas.
"Hanabiiii!"
Dia tidak mendengar teriakan kesakitan atau permintaan tolong, tapi Naruto melihat setiap tangan yang menjulur mempunyai noda darah dan beberapa sobekan kain.
Lalu sesaat kemudian.
Naruto melihat sebuah tangan melayang di udara. Sebuah tangan kecil yang beberapa saat lalu dia genggam sangat erat sampai pemiliknya bilang kalau dia sakit. Sebuah tangan kecil yang punya kulit yang sangat halus dan tekstur yang lembut, sebuah tangan milik Hanabi.
Hanya tangan.
Naruto tidak bisa bicara apa-apa.
Tangan itu jatuh dan langsung jadi rebutan oleh vampire di sekitarnya.
Hanabi.
Dia bahkan tidak bisa mengucapkan nama itu dengan mulutnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!"
Mata Naruto berubah jadi merah, taringnya memanjang, dan kuku di jari-jarinya menajam.
"Akan kubunuh kalian semuaaa!"
Naruto menarik tangan kanannya lalu mengayunkannya sekuat tenaga.
Lalu setelah itu, suara ledakanpun terdengar.
7.
"Aku akan menyelamatkanmu!"
Naruto berlari dengan sangat cepat menuju tengah kota sambil memegang sebuah potongan kertas di tangan kanannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati!"
Dia datang ke kota ini untuk menyematkan Hinata dan juga Shion, tapi sekarang daftar orang yang dia ingin selamatkan jadi bertambah. Dan nama orang yang jadi tambahan itu adalah Hanabi.
Hanabi yang dia temui tadi bukanlah Hanabi yang sebenarnya, Hanabi yang sudah dia coba selamatkan sebelumny hanyalah sebuah shikigami. Kertas yang sedang dia genggam adalah sisa dari shikigami yang dimakan oleh vampire zombie di gedung tadi.
Hanabi yang dia temui itu bukan yang asli, tapi meski begitu Naruto tidak merasa dibohongi melainkan malah merasa lega. Dia lega karena gadis kecil itu masih hidup. Walau mungkin hanya sementara.
Sementara. Jika apa yang dia bicarakan memang adalah kenyataan, Naruto jadi punya alasan yang lebih kuat untuk mengagalkan rencana pemusnahan masal vampire oleh para onmyoji. Bukan hanya Hinata, bukan hanya Shion, dan bukan hanya teman-temannya. Tapi juga Hanabi. Gadis kecil yang baru saja dia temui setengah jam yang lalu.
". . . . . . "
Naruto mencoba membaca arah pasti dari tsunami vampire yang sedang terjadi di bawahnya. Semua vampire yang sedang jadi gila itu menju ke arah sebuah stasiun radio. Atau lebih tepat kalau dibilang ke menara raksasa yang di atasnya terpasang berbagai macam antena.
"Tunggu aku!."
Naruto segera berlari dan melompat melewati gedung-gedung tinggi di depannya.
Dia memilih mengikuti arus vampire lain dan menyesuaikan gerakannya dengan mereka adalah untuk berkamuflase supaya tidak mengundang perhatian yang tidak perlu. Tapi untuk sekaran menyembunyikan diri adalah prioritas ke sekian.
Dia tidak lagi perduli kalau dia jadi mudah terlihat dan memancing kecurigaan, sebab saat ini dia sedang sangat buru-buru. Jika ada yang menghalanginya dia akan menabrak penghalang itu. Sesimple itulah rencananya sekarang.
Dalam beberapa saat saja Naruto sudah hampir sampai di stasiun radio yang dia tuju dan sekarang dia sedang terjun ke arahnya dalam kecepatan tinggi.
"Sebentar lagi aku akan sampai."
Hanya saja dari bawah ada yang tidak terima dengan statementnya.
"Sampai ke mana!?"
Di tempat dia akan mendarat ada seseorang yang memegang sebuah pedang panjang layaknya tongkat basebal. Lalu, sebelum Naruto sempat memastikan siapa yang ada di sana, orang itu sudah mengayunkan pedang panjangnya itu untuk menebas Naruto.
Dan Naruto tidak punya pilihan lain kecuali tatap maju menuju pedang yang sedang diayunkan itu karena dia tidak bisa berhenti di udara.
Di banyak cerita vampire mempunyai sayap seperti kelelawar, tapi sesungguhnya mereka tidak punya benda seperti itu. Sayap mereka bukanlah organ fisik melainkan manifestasi magic, dan betapa beruntungnya Naruto. Dia hanya bisa melakukan manipulasi magic dasar yaitu memaksimalkan kekuatan tubuhnya.
Karena keadaan Hinata yang disegel, gadis itu tidak menggunakan magicnya untuk memanipulasi fenomena maupun mematerialisasikan kekuatannya tanpa medium. Oleh sebab itu dia tidak bisa mengajarkan Naruto apapun. Membuatnya hanya bertarung dengan mengandalkan tubuhnya saja.
"Aku tidak akan membiarkanmu melewatiku!."
Naruto memfokuskan semua konsentrasi pada penglihatannya, lalu setelah sudah mulai dekat dengan orang itu dia merubah posis tubuhnya dan berhasil menghindari tebasan yang dilancarkan padanya dengan margin yang sangat tipis.
"Adudududud. . . . . "
Gara-gara itu dia tidak bisa mendarat dengan baik dan menabrak lantai dengan keras.
"Aku sudah menduga kalau kau akan datang tapi aku tidak menyangka kalau kau akan benar-benar datang."
"Jadi kau ingin aku datang atau tidak? Sasuke!"
Mereka berdua adalah musuh, vampire dan onmyoji adalah lawan kata satu sama lain jadi mereka bertemu dan berada dalam dua pihak yang berbeda sama sekali bukan kejutan. Hanya saja Naruto tidak mengira kalau waktunya akan datang secepat ini.
"Aku ingin melindungi seseorang, jadi bisakah kau minggir dan membiarkanku masuk."
"Aku juga di sini untuk melindungi seseorang, jadi aku tidak akan membiarkanmu masuk lagipula bukankah orang yang kau maksud di sini itu vampire jadi dia itu bukan seseorang melainkan sesuatu."
Sasuke adalah seorang onmyoji dan tugas mereka adalah melindungi orang biasa dari ancaman supranatural, dan ancaman supranatural yang mereka anggap paling berbahaya adalah vampire. Oleh sebab itu para onmyoji ingin mengeliminasi mereka semua.
Apa yang mereka lakukan adalah untuk orang banyak, untuk melindungi orang banyak, dan mencegah bencana untuk manusia. Jika rencana mereka gagal, mereka harus kembali mempertaruhkan nyawa mereka di garis depan untuk melawan vampire. Selain itu ada kemungkinan vampire yang sadar nantinya akan mengamuk di dalam kota.
Jika mereka gagal mengekseskusi rencana ini masalah besar akan terjadi. Karena itulah mereka tidak akan membiarkan Naruto menggagalkannya.
Apa yang mereka ingin lakukan adalah benar.
Tapi Naruto juga punya kebenarannya sendiri.
Baginya, keselamatan Hinata adalah segalanya dan membiarkan sesuatu mengancam gadis itu adalah sama sekali bukan pilihan. Selain itu dia juga harus menyelamatkan satu orang lagi, seseorang yang akan membiarkan dirinya mati demi orang lain.
Matinya banyak orang itu hanya statistik sedangkan matinya satu orang adalah tragedi.
Yang bisa dipikirkan nanti harus dipikirkan nanti, yang harus dipikirkan sekarang adalah prioritas. Memang benar manusia bisa terancam keberadaannya oleh vampire tapi hal itu tidaklah akan terjadi besok atau lusa.
Lagipula apa yang akan terjadi pada manusia di masa depan hanyalah prediksi dan belum jadi kenyataan.
Meski memang agak aneh, tapi bisa saja vampire akan hidup bersama dengan manusia sebab sebagian besar vampire itu adalah turunan yang berasal dari manusia. Pikiran Naruto memang naif, tapi pikiran naif itu tidak selalu tidak salah.
Baginya. Kebenaran yang dia percayai adalah adalah fakta kalau dia harus segera menggagalkan rencana para onmyoji agar Hinata dan yang lainnya bisa tetap hidup.
Hanya itu.
Di antara mereka berdua tidak ada yang merasa takut, di antara mereka berdua tidak ada yang ingin mengalah. Lalu, mereka berdua itu sama-sama keras kepala dan tidak biasa bicara. Karena itulah.
"Aku akan mengalahkanmu!"
Adalah jawab yang sama-sama mereka setujui.
Naruto maju dengan berlari cepat sedangkan Sasuke menunggu sambil menarik tangannya ke belakang untuk menghorizontalkan posisi pedangnya, bersiap untuk langsung menusuk Naruto begitu pemuda itu sudah berada di depannya.
Keberadaan mereka berdua adalah seperti sebuah antonim untuk masing-masing, jika Naruto adalah minyak maka Sasuke adalah air. Tapi meski begitu, meski mereka adalah musuh alami karena posisinya sebagai manusia dan vampire mereka tidak punya dendam pribadi.
Mereka hanya sama-sama keras kepala, sama-sama tidak ada yang mau mengalah, dan sama-sama tidak terbiasa berbicara. Karena itulah mereka menyelesaikan masalahnya dengan cara yang paling mudah.
Mereka saling berhadapan bukan karena saling membenci tapi karena mereka memang harus melakukannya. Bahkan di pertemuan mereka yang terakhir, meski mereka berada di posisi yang berbeda mereka sempat bekerja sama.
Mungkin. Jika Naruto bukan vampire dan Sasuke hanya remaja laki-laki biasa mereka akan jadi teman baik.
Mungkin.
Hanya saja kenyataanya tidak seperti itu.
Naruto mendekat dengan kecepatan sangat tinggi dan Sasuke menghunuskan pedangnya ke depan, ke arah dada Naruto.
"Ternyata replika memang tidak cukup untuk menjatuhkanmu!."
Serangan Sasuke memang meleset, tapi serangannya masih mengenai Naruto dengan telak. Pedang panjang yang Sasuke tusukan masuk ke dalam perut bagian atas sebelah kiri Naruto dan menembus badannya dengan sangat mudah.
Sesaat kemudian, Naruto menggengam pedang itu dengan tangan kirinya lalu memukul wajah Sasuke sekuat tenaga. Dengan tenaga yang cukup kuat untuk melemparkan pemuda itu terbang beberapa meter ke belakang.
"Kenapa kau tidak melepaskan pedangmu Sasuke? apa kau memang ingin kuhajar?"
Yang Naruto pegang hanyalah pedangnya dan bukan tangan pemiliknya. Di saat Naruto akan melancarkan pukulannya, dengan kecepatan Sasuke harusnya dia bisa menghindar kalau dia mau melepaskan pedangnya untuk sementara.
"Satu-satunya cara agar aku bisa menang adalah menggunakan pedang, jika pedang ini kulepaskan bisa dipastikan kalau aku akan kalah."
"Kalau kau benar-benar ingin membunuhku kenapa kau tidak menggunakan perak? apa kau mengasihaniku?"
Luka yang diterima Naruto tidak diragukan lagi adalah sebuah luka yang sangat parah. Jika orang biasa yang menerimanya bisa dipastikan kalau orang itu akan mati kehabisan darah dan kesulitan pernafasan dalam waktu singkat.
Tapi Naruto berbeda. Di adalah vampire, dia mempunyai kemampuan penyembuhan yang cepat. Lalu, setelah mendapatkan kekuatan dari Hinata kemampuan itu jadi semakin efektif dan penyembuhan lukannya jadi jauh lebih cepat dari biasanya.
Jika tidak ada bekas sayatan pada pakaiannya, tidak akan ada yang percaya kalau Naruto baru saja ditusuk dan terluka parah. Dalam beberapa detik saja dia sudah sembuh total.
Sasuke tidak akan mungkin lupa hal semacam itu.
"Benda seperti itu akan hancur duluan sebelum aku bisa menghancurkanmu."
Satu-satunya senjatanya adalah pedangnya. Satu-satunya yang dia bisa gunakan untuk bertarung adalah pedangnya. Dan satu-satunya yang bisa memanfaatkan benda itu sampai ke taraf maksimal hanyalah dirinya.
Sebelum dia memegang sendok dia sudah memegang pedang kayu. Cara menggunakan dan memanfaatkan senjata sederhana itu sudah diajarkan padanya sejak masih sangat kecil.
Dalam bidang lain dia lebih jelek dari siapapun, tapi kalau sudah urusan pedang. Baginya tidak pepatah di atas langit masih ada langit sudah itu tidak lebih dari sekedar angin lalu. Karena. Dalam masalah pedang, dialah yang berada pada tingkat tertinggi.
Tingkat yang tidak akan mampu dicapai oleh siapapun lagi.
Kemampuan pedangnya adalah senjatanya yang terkuat. Senjata yang bahkan membuatnya bisa menghancurkan makhluk supranatural tanpa kekuatan supranatural. Satu-satunya onmyoji yang seratus persen manusia biasa.
"Kau tahu tidak kenapa keluargaku itu bisa jadi pembasmi monster?."
"Tentu saja aku tidak tahu."
Manusia biasa jadi pembasmi monster dengan hanya mengandalkan kemampuan pedanganya sama sekali tidak kedengaran realistis. Selain pedang itu adalah senjata tradisional yang jarak serang dan kekuatannya sangat terbatas, banyak juga monster yang tidak akan mati walau sudah ditebas.
Kemudian yang terakhir, kemapuan fisik manusia biasa harusnya tidak bisa dibandingkan dengan makhluk supranatural yang tidak terikat hukum fisika.
"Alasan kedua adalah keluarga kami mempunyai senjata khusus yang kebetulan sekali dua-duanya sedang hilang."
Keluarga Sasuke mempunyai dua buah pedang khusus yang sudah diwariskan sejak dulu. Salah satunya adalah pedang yang replikanya sedang Sasuke bawa. Bukan hanya vampire, semua makhluk supranatural yang ditebas menggunakannya akan langsung lenyap.
Sedangkan pedang yang satunya adalah pedang yang tidak pernah dipakai oleh siapapun sebab tidak ada gunanya. Sebuah pedang yang sebenarnya sangat tidak dibutuhkan oleh keturunan keluarga pemburu makhluk supranatural sepertinya.
"Dan alasan pertamanya adalah."
Sasuke menatap Naruto dengan tajam, setelah itu dia mengangkat pedangnya secara horizontal di depan wajahnya. Membuat Naruto bisa melihat sinar bulan memantul dari benda itu. Memberikan aura intimidasai yang tidak jelas datanya dari mana.
"Meski kami itu manusia biasa tapi kami bisa melewati batas dan menjadi monster!."
Sama seperti Naruto, mata Sasuke juga berubah jadi merah. Tapi tidak seperti Naruto yang badannya dipenuhi magic, keadaan Sasuke masih sama seperti sebelumnya.
Naruto bisa melihat kalau secara fisik tidak ada perubahan pada tubuh Sasuke dan diapun tidak merasakan adanya magic yang keluar dari tubuhnya. Secara kasat mata tidak ada yang berubah dari pemuda di depannya keculai matanya yang jadi merah untuk suatu alasan.
Naruto tidak bisa merasakan hal yang Sasuke bilang 'menjadi monster'.
Sasuke masih manusia biasa seperti sebelumnya.
"Ugh. . "
Adalah apa yang Naruto pikirkan.
"Bagaimana bisa?"
Dalam sekejap mata, sosok Sasuke yang dari tadi berada beberapa meter di depannya menghilang dan tiba-tiba sebuah pedang sudah bergerak dalam kecepatan sangat tinggi untuk menebas lehernya. Kecepatan yang bahkan hampir tidak bisa dia ikuti meski menggunakan matanya yang sudah melampaui manusia biasa.
". . . . ."
Sasuke yang sedang berada di sampingnya tidak mengatakan apa-apa, tapi meski begitu Naruto merasa sepertinya dia benar-benar akan mati.
Naruto berhasil menahan serangan pedang Sasuke menggunakan kedua tangannya sebagai pelindung, tapi meski begitu karena serangan yang datang terlalu kuat lengan kirinya terpotong dan melayang seperti tangan boneka yang putus.
Jika dia beraksi sedikit lebih lambat saja, yang melayang bukanlah lengan kirinya melainkan kepalanya.
Di saat-saat terakhir dia sempat mendengar langkah kaki dan suara angin yang terbelah, karena itulah dia sempat menyelipkan kedua tangganya di antara pedang Sasuke dan lehernya.
"Sialan kau!."
Secepat yang dia bisa, Naruto segera mengulurkan tangan kananya yang masih selamat untuk memukul tubuh Sasuke dengan sekuat tenaga. Tapi saat kepalan tangannya hampir menyentuh badan Sasuke. Pemuda itu dengan mudahnya menghindar dan malah sempat menurunkan pedanganya lalu menebas telapak tangan Naruto dari arah bawah.
Naruto yang panik segera melompat ke belakang dengan sekuat tenaga.
"Ada apa dengan dengannya?"
Naruto seratus persen yakin kalau tidak ada perubahan dalam tubuh Sasuke. Tapi meski begitu kekuatan, kecepatan, serta reaksi pemuda itu bisa melebihi Naruto yang mempunyai kekuatan dari seorang vampire darah murni. Makhluk supranatural terkuat yang bahkan tidak bisa ditangani oleh para onmyoji.
"Kalau kau ingin kabur? kaburlah yang jauh!."
Ini benar-benar gawat.
Adalah bunyi alarm yang berdering di kepala Naruto.
8.
Manusia punya sesuatu yang namanya limiter di dalam diri mereka. Ada sebuah mekanisme khusus yang membuat manusia tidak bisa mengeluarkan semua yang mereka punya. Dengan kata lain, tidak semua potensi manusia bisa dikeluarkan oleh dirinya sendiri.
Mekanisme itu dibuat untuk membuat manusia tidak menghancurkan dirinya sendiri.
Mekanisme itu akan membatasi gerakan otot jika seseorang melakukan gerakan yang melebihi batas tertentu. Mekanisme itu akan membuat seseorang berhenti menggunakan tenaganya jika dia sudah menggunakan energinya dalam volume tertentu. Mekanisme itu akan membatasi panca indra agar tidak terlalu banyak data masuk yang harus diproses dan membebani otak lalu menimbulkan ketegangan. Dan mekanisme itu juga membatasi otak agar dia tidak bisa memaksimalkan organ lain yang dikontrol demi mencegah sistem tubuh mengalami overload.
Dan mekanisme itu juga yang bertanggung jawab ketika seseorang jadi merasa takut dan memilih menghindar dari bahaya.
Tapi mekanisme itulah yang membuat manusia menjadi manusia.
Safety lock manusia itu bisa disamakan dengan notifikasi yang akan muncul ketika baterai ponselmu ada pada taraf kritis dan perlu untuk direcharge, circuit breaker yang akan mematikan listrik jika tegangan naik atau turun mendadak, sistem injection yang akan mengatur bahan bakar agar lebih hemat, atau sensor yang akan mematikan mesin ketika sepeda motor berada pada kemiringan yang berbahaya.
Mekanisme itu membuat manusia menghindari masalah, menjaga tubuh mereka tidak digunakan sampai batasnya, dan menjaga tidak ada yang melewati batasnya. Lalu membuat mereka tidak melakukan hal yang tidak mungkin serta.
Membuat mereka tetap menjadi manusia.
Hanya saja. Ketika mengatasi sesuatu yang di luar hukum fisika dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan berpikir. Kekuatan manusia tidak cukup untuk mengakomodasinya.
Manusia tidak bisa menerka apa yang tidak bisa dilihat. Manusia tidak bisa mengetahui apa yang tidak bisa dengar. Dan manusia tidak bisa merasakan apa yang keberadaanya itu antara ada dan tiada. Lalu yang terakhir, manusia tidak bisa mengalahkan makhluk yang punya fisik jauh di atasnya.
Untuk mengatasi semua kelemahan itu hanya ada satu cara.
Berhenti menjadi manusia lalu berubahlah menjadi monster.
Mata untuk mata. Untuk mengalahkan monster diperlukan monster.
Dan keluarga yang tahu cara untuk mengubah manusia menjadi monster hanya ada satu. Yaitu keluarga di mana Sasuke dibesarkan. Uchiha.
Selain bela diri dan ilmu pedang yang dibuat untuk menghadapi sesama manusia, keluarga itu juga mengembangkan ilmu pedang yang dikhusukan untuk menghadapi makhluk supranatural serta cara untuk membuat mereka mampu berkompetisi dengan monster.
Siapa dan kapannya masih belum diketahui, tapi yang jelas keluarga Sasuke sudah menemukan cara untuk membuka safety lock pada dirinya sendiri. Dan kemampuan itu juga diturunkan kepada Sasuke yang hanya orang biasa.
Yang Sasuke lakukan bukanlah magic sebab pada dasarnya dia tidak mampu menggunakan magic. Bisa dibilang dia hanya melakukan pembobolan bendungan di dalam otaknya, Karena itulah Naruto tidak merasakan perubahan dalam diri Sasuke.
Dari luar Sasuke kelihatan masih sama, tapi dari dalam Sasuke bukan lagi manusia.
"Kalau kau ingin kabur? kaburlah yang jauh!."
Yang Sasuke lakukan bukanlah sebuah peringatan kosong. Peringatan itu berisi harapan yang ingin segera terjadi.
"Aku tidak bisa melakukannya, dan meski bisapun aku tidak akan mau melakukannya sebab di dalam sana adaa gadis kecil yang perlu kutolong!."
Ini benar-benar gawat.
Adalah bunyi alarm yang berdering di kepala Sasuke.
Dari luar terlihat jelas kalau Sasuke adalah pihak yang sekarang sedang berada di atas angin. Hanya saja dengan mengetahui kalau lawannya sama sekali tidak mau mundur meski sudah babak belur membuat Sasuke jadi khawatir.
Kekuatan yang Sasuke dapatkan punya resiko tersendiri. Karena pada dasarnya dia memaksa seluruh organ tubuhnya untuk bekerja pada kapasitas penuh, seluruh anggota badannya mengalami tekanan hebat.
Tidak ada yang gratis di dunia ini, begitu juga kekuatan yang Sasuke gunakan. Sebagai ganti dari kekuatan yang membuatnya jadi monster, selama pertarungan Sasuke harus menahan rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya selama pertarungan.
Dan rasa sakit bukan satu-satunya hal yang harus Sasuke terima. Jika dia terlalu lama membuka safety locknya, lama-kelamaan tubuhnya tidak akan lagi kuat menerima beban dan tidak bisa lagi digerakan.
Karena itulah pertarungan jangka panjang sama sekali bukan pilihan yang baik. Jika pertarungan berlangsung lewat dari sepuluh menit tubuhnya tidak akan kuat lagi dan dia bisa dipastikan akan kalah.
"Sialan!."
Selain Naruto, Sasuke juga harus memikirkan masalah vampire lain yang sedang berbondong-bondong berjalan menuju tempatnya berada. Jika dia ingin segera menyelesaikan pertarungannya dia harus mengejar Naruto sebelum pemuda itu bisa memulihkan diri, tapi dia tidak bisa meninggalkan pintu di belakangnya sebab di dalam sana adik perempuannya sedang mempersiapkan diri untuk menjalankan rencana mereka.
"Aku tidak bisa mengambil resiko, dia jauh lebih penting."
Setelah Sasuke dan adik perempuannya berhasil mengeksekusi rencana pemusnahan masalah vampire yang ada di kota itu. Impian Sasuke selama bertahun-tahun akan terkabul. Impiannya agar bisa hidup berdua dengan damai tanpa harus memikirkan gangguan supranatural macam apapun.
Dibandingkan dengan keselamatan adiknya dan kesuksesan misi ini, menghajar Naruto sama sekali tidak ada gunanya. Dia tahu Naruto sedangkan mengulur waktu untuk memulihkan tubuhnya. Tapi Sasuke memutuskan untuk tidak melakukan apapun kecuali mengawasi pemuda itu dari jauh. Dia melihat Naruto melakukan sesuatu hanya saja dia lebih fokus pada vampire lain yang mulai mendekati lokasinya.
Agar rencana pemusnahan mereka bisa terlaksana memang vampire-vampire itu perlu berada di dekat adiknya sebab wajah mereka perlu terlihat, tapi jika target mereka terlalu dekat. Meski punya kekuatan yang cukup untuk melenyapkan bahkan vampire darah murni sekalipun, tapi pada dasarnya sama seperti Sasuke adiknya juga hanya manusia biasa.
Adik perempuannya punya kemampuan untuk melakukan manipulasi pada hal supranatural karena itulah dia bisa menghadapi makhluk-makhluk nonmanusia meski tidak bisa menggunakan magic. Tapi dia tetaplah gadis sebelas tahun yang lemah dan tidak bisa membela diri jika dikasari, karena itulah jika ada vampire yang bisa lolos melewati Sasuke dan menyerangnya dari belakang. Adiknya tidak akan mampu membela diri.
Tidak seperti Sasuke yang bisa melakukan akselerasi pada pikiran dan tubuhnya untuk melindungi diri, sebelum menjadi onmyoji dia hanyalah gadis kecil normal yang suka dimanja oleh kedua orang tuanya. Gadis kecil normal yang suka minta ini dan itu dengan egois, gadis kecil yang selalu minta diperhatikan, dan gadis kecil yang tidak pernah dipandang dengan tatapan tajam karena semua orang menyukainya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati, aku akan membuat kita bisa bahagia lagi."
Dan ketika Sasuke kembali memperhatikan ke arah Naruto, dia melihat pemuda itu sedang meluncur ke arahnya dengan kecepatan tinggi setelah melompat dari atap gedung ratusan meter di depannya.
"Memangnya hanya kau saja yang punya seseorang untuk dilindungi!?"
Di atas udara Naruto memutar tubuhnya dan menyerang Sasuke menggunakan dua buah pisau yang dia genggam erat oleh kedua tangannya. Memanfaatkan rotasi tubuhnya, Naruto bermaksud untuk langsung menjatuhkan Sasuke dengan kekuatannya.
Hanya saja, meski memang kekuatan Sasuke sudah bertambah tapi dia juga sadar kalau dalam duel murni kekuatan dia pasti akan kalah. Karena itulah, bukannya fokus untuk bertahan dia malah maju dan mencari celah untuk menyerang balik.
Dengan margin yang sangat tipis Sasuke berhasil menghindari serangan Naruto dengan mengubah posisinya menjadi di antara kedua pisau yang Naruto tebaskan. Setelah itu, menggunakan tangan kanan yang sekarang ada di belakangnya dia meluncurkan pedangnya untuk menebas langsung kepala pemuda di depannya.
Seakan dalam slow motion, Naruto mampu melihat pedang Sasuke mulai mendekati kepalanya. Dan yang lebih buruknya adalah dia tidak akan sempat mengembalikan tangannya ke belakang untuk melindunginya.
"Aaaaaaa. . ."
Kaki Naruto menapak ke tanah lalu dia menambahkan dorongan pada tubuhnya sehingga membuat tubuhnya menabrak tubuh Sasuke dan akhirnya membuat mereka berdua terlempar.
Jika Sasuke tidak bisa berkompetisi dalam hal kekuatan, sebaliknya Naruto tidak bisa dalam hal teknik. Dia tidak tahu bagimana cara melakukan counter terhadap serangan Sasuke karena itulah dia mengandalkan kekuatan fisiknya untuk menyelesaikan masalah.
"Apa kau memang benar-benar melakukan ini semua, daripada menggagalkan tugasku bukankah lebih baik jika kau membawa gadis vampire itu pergi dan vampire bernama Yahiko itupun sudah pergi kabur setelah mengetahui rencana ini."
Tubuh Sasuke terdorong, tapi dia malah mejatuhkan diri dengan sengaja lalu ketika dia sudah terbaring dan masih terdorong dan terlempar dalam posisi itu dia meletakan kedua kakinya di perut Naruto lalu melemparkan pemuda itu kemudian dia sendiri bersalto ke belakang.
"Aku juga bisa bilang kalau kalian berdua sudah mati sehingga kalian tidak akan diburu, di tempat ini hanya ada aku dan adikku jadi meski mereka tidak punya bukti mereka harus percaya pada omonganku."
Naruto yang terlempar mendarat dan menabrak tembok, tapi dengan kemampuan penyembuhannya dalam sesaat dia langsung bisa berdiri meski harusnya tulang dan organ dalamnya mengalami kerusakan serius.
"Mungkin hal itu bisa berlaku padaku, Hinata, dan Shion tapi sayangnya tawaranmu tidak memecahkan masalah yang sedang kuhadapi sekarang! satu-satunya cara aku bisa menyelamatkannya adalah dengan menghentikan proyekmu ini."
Seperti yang Sasuke bilang, sepertinya memang kabur dan menjauhi para onmyoji adalah cara terbaik untuk bisa selamat. Seorang vampire hanya akan menjadi debu ketika mereka mati sehingga jika Sasuke bilang Naruto, Hinata, dan Shion ikut mati dalam rencana itu mereka tidak akan lagi diincar.
Selain itu Yahiko juga sudah kabur dan bisa dikontak kapan saja, jadi kemungkinan selama Shion juga ikut meningkat. ugcvb
Selama mereka semua tidak melakukan sesuatu yang bisa memancing perhatian seharusnya mereka bisa hidup dengan lumayan damai tanpa harus takut dieliminasi.
Seharusnya.
"Sayangnya solusi yang kau tawarkan itu tidak akan membuatku bisa menyelamatkannya."
"Dasar keras kepala, dibandingkan dengan hidupnya semua hal di dunia ini tidak ada harganya! dan nyawamu juga termasuk di dalamnyaaaa!."
Sasuke berlari dengan cepat ke arah Naruto dan sebaliknya, Naruto juga melakukan hal yang sama.
"Aku memang tidak mengenalnya, pertemuan kami memang hanya berlangsung selama setengah jam, tapi aku tahu kalau dia menderita, dia sedih dan dia kesepian serta dia juga kehilangan harapan serta kepercayaan! meski harus mengorbankanmu! aku akan menyelamatkannyaaaaa!."
Mereka memang punya banyak perbedaan, tapi mereka juga punya banyak kesamaan. Dan di antara banyak ke samaan itu kebodohan adalah salah satunya. Ya, mereka sama-sama bodoh karena itulah meski sudah sangat lama saling bicara.
"Hanabiii!."
"Hanabiii!."
Tidak ada yang sadar kalau orang yang mereka ingin lindungi itu orang yang sama,
"Jadi kau kakaknya yang mesum itu!.. aaaaa!"
"Jadi kau vampire pedo yang di sebutkan!..aaaaa!"
Dan yang lebih bodohnya lagi mereka masih melanjutkan pertarungannya dengan alasan yang tidak jelas.
Naruto mengincar tenggorokan Sasuke dengan pisau di tangan kanannya dan mengincar dada pemuda itu dengan pisau di tangan kirinya. Untuk mempertahankan diri Sasuke memalangkan pedang panjangnya di depan dadanya setelah itu dia memutar benda itu searah jarum jam sehingga tangan Naruto terdorong dan gagal mendaratkan serangan di tubuh Sasuke.
"Kau tahu tidak Sasuke, pisau ini bukan pisau biasa."
"Hah?"
Naruto tidak bisa memanfaatkan magic kecuali pada dirinya sendiri, jadi jelas pisau yang dia pakai sebagai senjata juga sama sekali tidak mengandung unsur supranatural. Pisau yang dia pakai adalah pisau yang dia bawa dari rumah atas perintah guru sebagai syarat untuk acara study tournya.
"Sialan!."
Membawa pisau dapur sama sekali tidak kelihatan bagus sehingga Naruto masuk ke kamar orang tuanya dan mengambil dua buah pisau milik Ayahnya yang punya hobi hiking. Rencananya dia akan memberikan satunya pada Hinata saat ada pemeriksaan, tapi sepertinya benda itu malah lebih berguna untuk ha lain.
Sebab.
"Ini adalah pisau balistik."
Tangan Naruto yang dialihkan arahnya dia buat berada di samping kanan dan kiri tubuh Sasuke, lalu setelah tepat di bagian punggungnya Naruto memencet sebuah switch yang berada di atas gagangnya dan bagian tajam dari kedua benda itupun meluncur ke arah yang berlawanan.
"Aku haru. . ."
Sasuke akhirnya sadar kalau Naruto bukan ingin langsung menyerang Sasuke melainkan menghentikan gerakannya.
Pisau balistik yang ditembakan Naruto di belakang tubuhnya terikat dengan dua buah tali, dan dengan tali itu Naruto mencegah Sasuke bergerak menghindar serta membuatnya bisa memegang tubuh pemuda itu dengan kencang.
"Ugh. . ."
Sebab tangan Sasuke sempat berada di depan dadanya, sekarang tangan serta pedangnya juga terkunci sebab mereka semua terjepit di antara tubuhnya dan Naruto. Dan dengan kekuatan Naruto yang sekarang, Sasuke bahkan tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk bisa meloloskan diri.
Dari luar mereka kelihatan seperti dua orang petinju yang sedang bertanding dalam detik-detik terakhir dan sedang berusaha membuat lawan tidak bisa menyerang. Atau perumpamaan yang lebih mudahnya adalah. Mereka sedang berpelukan. Atau lebih tepatnya, Naruto dengan paksa memeluk Sasuke.
"Aku tidak tahu apa yang mereka katakan padamu sampai kau mau mendukung rencana ini, kekuatan Hanabi mengurangi umurnya dan dia akan mati jika dia menyelesaikan misi ini."
Naruto melepaskan dirinya dari Sasuke lalu mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak.
"Apa yang kau katakan? mereka bilang . . tunggu dulu semuanya mulai lebih jelas."
Sama seperti Hanabi, para onmyoji itu juga berjanji pada Sasuke untuk memberikan perlindungan pada adik perempuannya jika dia mau melakukan apa yang mereka perintahkan.
Dia sudah berkali-kali pulang dengan luka serius, dia berkali-kali sudah diperintahkan untuk menjalankan misi yang hampir tidak mungkin, dia juga beberapa kali menjalankan misi eliminasi bukan hanya pada makhluk supranatural tapi juga orang-orang yang dianggap menghalangi para onmyoji.
Sama seperti Hanabi dia juga berpikir bahwa asalkan adik perempuannya aman menjadi alatpun bukan sebuah masalah.
Semuanya mulai benar-benar jelas untuk Sasuke.
"Aku tidak akan berbohong, jika kau mau mendengarkannya akan kukatan semua yang dia ceritakan padaku."
Dengan tempo cepat dan versi yang sudah dipendekan Naruto menceritakan kembali cerita yang dia dengar dari Hanabi .
Tentang Hanabi yang tidak ingin melihat kakaknya terluka lagi, tentang Hanabi yang ingin melindungi kakaknya, tentang Hanabi yang rela menjadi alat agar kakaknya tidak harus terluka, tentang gadis kecil yang rela mati dan dilupakan hanya agar kakaknya bisa mendapatkan kehidupan yang normal.
"Dasar bajingan!."
Mereka memanfaatkan keinginan kedua bersaudara itu untuk saling melindungi agar mereka bisa mendapat alat yang setia.
Mereka melarang kedua saudara saling bertemu dan membatasi komunikasi mereka hanya lewat telpon yang disadap adalah agar mereka tidak sadar keadaan satu sama lain.
Lalu mereka menyuruh mereka melakukan misi besar itu sendirian saja tanpa bantuan siapapun adalah agar kedua bersaudara itu mati setelah menyelesaikan misi.
Jika Sasuke mati terlebih dahulu sebelum Hanabi sempat menyelesaikan misinya, akan ada masalah besar sebab ribuan vampire yang berada di kota akan mengamuk tanpa kontrol dari gadis itu.
Jika secara ajaib Hanabi bisa bertahan dan mendapati Sasuke mati makan gadis itu tidak diragukan lagi akan langsung membunuh orang yang memerintahkannya.
Jika Hanabi yang mati duluan Sasuke tidak akan perduli lagi dengan misinya.
Jika Hanabi mati setelah misi selesai Sasuke akan membuat masalah dengan para pemimpin onmyoji, dan menangani pemuda itu sama sekali bukan urusan mudah.
"Mereka ingin membunuh kami berdua bersamaan dengan misi ini."
Entah mereka itu hidup ataupun mati, mereka berdua akan membuat masalah untuk para onmyoji karena itulah diputuskan kalau misi itu adalah misi terakhir mereka.
"Jika kau sudah paham keadaannya cepatlah bangun dan bantu aku membujuknya untuk berhenti."
"Aku tidak bisa menghubunginya dan aku tidak bisa mendekatinya."
Ponsel yang mereka gunakan diberikan oleh onmyoji yang memerintahkan mereka di misi terakhir saat Sasuke menangkap Yahiko, dan sebelum pergi untuk menjalankan misinya sekarang benda itu disita dengan asalan mengganggu konsentrasi.
"Untuk mencegahku mendekati Hanabi mereka memberiku ini."
Sasuke menarik kerah lehernya dan memperlihatkan benda seperti tato api di lehernya.
"Jika aku mendekatinya benda ini akan membakarku dan jika aku berhadapan langsung dengannya benda ini akan mencekiku sampai mati."
"Jadi kau . . . . ."
"Um, kami memang bisa berhubungan lewat telpon tapi selama lima tahun ini aku belum pernah bisa melihat wajahnya."
Sasuke berdiri dan mengangkat pedangnya lagi.
"Lagipula kalau kita berdua masuk, siapa yang akan menjaga pintunya? aku tidak perduli jika kau mati tapi demi melindungiku dau kau ketika para vampire itu masuk dia pasti akan menggunakan kemampuannya."
Waktu yang kuhabiskan dengannya hanyalah sebentar dan aku tidak ingin memperpendeknya lagi.
Adalah motivasi terbesar Sasuke untuk tetap berjaga di depan pintu untuk membendung vampire yang sekarang mulai terlihat dengan jelas.
"Aku akan menyerahkannya padamu, tapi kau harus meyakinkannya sebelum lima menit."
Sasuke sudah mulai mencapai batasnya.
Naruto membantu Sasuke berdiri, setelah itu dia langsung lari menuju ke dalam gedung di mana Hanabi berada.
9.
Naruto berlari dengan sekuat tenaga tapi sebab di dalam gedung itu penuh dengan berbagai peralatan serta jalan yang kecil dan sempit dia tidak bisa memaksimalkan kecepatannya. Dia bisa saja menabrak apapun yang ada di depannya atau langsung melompat ke lantai tertinggi di mana Hanabi berada menurut Sasuke.
Tapi dia tidak bisa menyia-nyiakan kekuatannya.
Setelah dia berhasil meyakinkan Hanabi Sasuke tidak akan jadi sangat lemah dan Hanabi juga tidak bisa kabur dengan kekuatannya sendiri, mau tidak mau nanti dialah yang harus membawa mereka berdua keluar dari kota. Dan sebab dia tidak bisa mendapatkan darah dari Hinata lagi, dia harus menghemat kekuatannya.
Untunglah, meski memang gedung itu bertingkat lantainya hanya sampai empat dan layoutnya sederhana sehingga dalam waktu dua menit Naruto sudah bisa sampai dan menemukan seorang gadis kecil yang sedang duduk dengan mata terpejam di sebuah kursi kayu yang juga kecil.
" . . . . . . . . . "
Naruto tahu kalau dia tidak boleh membuang waktu, tapi begitu dia melihat gadis di depannya, waktu terasa seperti berhenti, tubuhnya terasa tidak mau bergerak, dan matanya tidak bisa dia alihkan pandangannya, serta jantungnya berdetak sangat kencang.
Pemandangan yang ada di depannya bisa disamakan dengan lukisan dari seniman paling hebat sedunia, tidak. Bahkan lebih dari itu. Potret Hanabi yang sedang duduk seperti boneka itu bahkan lebih menarik jiwa dari pemandangan maha megah manapun yang pernah Naruto tahu.
Dan jelmaan peri di depannya itu mulai membuka matanya dengan perlahan.
"Mungkin tekanan darahmu naik, mungkin kau merasa gugup dan gelisah, mungkin kau merasa kalau aku sangat menarik sampai-sampai membuatmu takjub."
Hal itu bukan lagi kemungkinan tapi kenyataan.
"Tapi sayangnya semua itu bukan karena aku, tapi karena kekuatanku! kau merasa seperti itu karena kau itu vampire."
Bagi vampire menginginkan Hanabi adalah normal, dan bukan hanya vampire tapi semua jenis hal gaib. Bagi makhluk-makhluk supranatural Hanabi bisa disamakan dengan gula untuk semut.
"Aku memang menginginkanmu, tapi bukan karena kekuatan bodoh yang kau bicarakan itu melainkan karena kau sangat cantik dan meski aku bukan pedo, tapi pakaianmu itu juga membuatmu jadi sangat mempesona."
Sama seperti pakaian yang dikenakan oleh shikigaminya, Hanabi juga menggunakan pakaian dengan nuansa puth dan merah tapi dengan motif bunga yang berada di setiap bagiannya. Meski ukurannya kelihatan agak kebesaran tapi pakaian itu benar-bear menyatu dengan indah pada Hanabi.
Lalu di kepalanya juga ada semacam mahkota kecil berwarna emas bermotif antara daun dan pedang, dan di bagian di mana dia mengikat rambutnya di samping kanan ada sebuah hiasan rambut yang menjulur dan berbunyi ketika Hanabi sedang berjalan. Dan yang terakhir, di lehernya terpasang juga kalung berwarna emas.
Indah, cantik, menakjubkan tapi menenangkan adalah aura yang dibawa oleh Hanabi.
"Kenapa kau kau tidak keluar dari kota ini seperti yang kubilang? dan bagaimana kau bisa sampai ke sini? padahal aku sudah bilang kalau kau ini pedo lewat shikigami aku yakin harusnya dia ingin sekali membunuhmu."
"Aku ingin menyelamatkanmu, dan lain kali tolong jangan melaporkanku pada Sasuke! lalu, ayo kita pergi, dia menunggumu di luar."
"Jatuh!."
"Apa?"
Pertanyaanya langsung dijawab dengan cara yang sangat tidak dia suatu alasan, antena raksasa yang berada di samping gedung itu mulai roboh dan jatuh tepat ke arah Naruto dan sukses membelah gedung itu menjadi dua bagian.
Dan Naruto sendiri selamat, tapi dia hampir jatuh langsung ke lantai satu karena lantai di yang dia pijak retak dan runtuh.
"Hanya dengan kata-kata?"
Vampire darah murnipun tidak akan bisa menjatuhkan sebuah tiang radio setinggi tiga puluh meter yang terbuat dari baja dengan hanya kata-katanya. Jika yang dia perlu lakukan hanyalah berbicara, tidak diragukan lagi kalau Hanabi adalah orang paling kuat yang pernah Naruto temui sampai saat ini.
Ya, dia hanya seorang gadis kecil yang kelebihan kekuatan jadi dia bukan musuh.
"Di dunia ini, semuanya dikendalikan oleh aliran magic dan meski aku tidak diberikan kemampuan untuk memproduksinya sendiri aku punya kemampuan untuk bisa menginterfensi aliran itu."
Jika semuanya dikendalikan oleh magic maka jika takdir dan kebetulan juga adalah magic sepertinya bukanlah kesimpulan yang terlalu salah. Dengan bisa mengendalikan magic yang mengalir bisa dibilang dia bisa melakukan apapun termasuk.
"Aku bisa membunuhmu jika aku ingin, tapi sekali lagi kubilang! pergilah dar . . ."
"Jangan gunakan kekuatanmu lagi! kau bilang sendiri kan kalau umurmu jadi lebih pendek karenanya? Sasuke akan sangat sedih kalau kau. . . ."
"Hancur."
Bagian yang jadi pegangan Naruto hancur dan hal itu membuatnya jatuh, setelah itu begitu Naruto sudah sampai di lantai paling bawah. Lantai-lantai di atasnya mulai runtuh dan puingnya mengubur tubuh pemuda itu.
"Kau tahu tidak Hanabi!?."
Puing-puing yang tadi menindih Naruto berterbangan ke segala arah.
"Takdir itu bisa dirubah!."
"Pergi kau! jangan sok tahu! kau tidak paham dengan sitasi kami!."
"Yang tidak tahu itu kau bodoh! mereka memanfaatkan kalian berdua!."
"Aku tahu itu!."
"Ha?."
Sebab mereka berada di lantai yang berbeda mereka perlu saling berteriak untuk bisa berkomunikasi, dan teriakan Hanabi yang terkahir berhasil membuat tempat itu kembali tenang.
"Kau tahu?."
"Aku tahu semuanya! aku tahu mereka memanfaatkan kami, aku tahu kalau mereka ingin membunuh kami berdua, dan."
Aku tahu kalau kakak menjalani kehidupan yang sangat buruk.
"Lalu kenapa?"
"Aku tidak punya pilihan lain! jadi jangan dekati aku! pergi kau!"
Di saat itu juga sebuah truck terlempar masuk dan menghantam tubuh Naruto. Badan pemuda itu terhimpit ke tembok dan darah seperti mengalir keluar dari seluruh tubuhnya. Tapi meski begitu, meski dia merasakan sakit yang hebat tapi dia tetap menggerakan badannya.
"Aku kan pergi tapi kepergianku harus denganmu di tanganku!."
Dan pertempuran satu pihakpun dimulai.
Meskipun namanya pertempuran satu-satunya yang menyerang hanyalah Hanabi sedangkan Naruto sendiri lebih fokus untuk bisa mendekati gadis itu dan menghentikannya terus menggunakan kekuatannya.
Kekuatan Naruto memang sangat besar dan dia juga kemampuan penyembuhan yang sangat cepat. Tapi semua itu masih belum cukup untuk bisa menghadapi kebetulan-kebetulan merugikan yang terus-terusan menimpanya.
Kakinya tersandung dan dia jatuh lalu membentur puing tembok, dia terdorong dan tubuhnya tertusuk besi tulang lantai, tangannya berkali-kali patah karena dia menggunakannya untuk menahan barang-barang yang akan menghancurkan tubuhnya, dan kakinya sudah pulan kali terlindas benda benda berat sampai-sampai dia tidak bisa lagi merasakan jari-jarinya.
"Kenapa kau? Kenapa kau terus berjalan?"
Untuk suatu alasan Hanabi merasa takut dengan Naruto yang berlumuran darah di sana-sini. Bukan karena penampilannya, tapi karena pemuda itu terus saja berjalan ke arahnya meski dia sudah menyerangnya terus-terusan.
"Karena kau ingin diselamatkan! kau selalu saja bilang ingin membunuhku, ingin mengorbankan dirimu sendiri untuk menyelamatkan kakakmu, tapi jauh di salam sana kau ingin seseorang menyelamatkanmu!."
Gadis itu ingin seseorang menyelamatkannya dan membawanya pada kakaknya.
"Tapi aku tidak bisa! aku tidak punya pilihan lain! kami berdua tidak bisa bersama, jika aku ingin dia hidup aku harus mati."
Naruto tersenyum.
"Kau ingin mati? kata-kata itu tidak pantas diucapkan oleh gadis kecil yang sedang menangis ketakutan di hadapanku."
Hanabi mengangkat telapak tangannya lalu meletakannya di atas pipinya, dan di sana dia merasakan ada air mata yang mengalir. Dia tidak tahu kapan, tapi sepertinya dia sudah menangis.
"Kau ini anak kecil sangat normal kalau kau takut mati, orang dewasa saja pasti takut mati dan tentu saja kau akan merasa sedih sebab kau tahu tidak akan bisa melihat orang yang kau sayangi lagi."
"Kau tidak paham!."
"Ya, aku tidak paham! aku mengaku jadi sekarang ayo kita pergi."
Lima menit sudah lewat. Naruto mengkhawatirkan Hanabi tapi dia juga mengkhawatirkan Sasuke yang berada di luar sendirian menghadapi vampire-vampire zombie.
"Ayo kita pergi ke tempatnya dan kabur dari sini."
"Tidak akan ada gunanya."
"Takdirnya sudah ditentukan, dan yang bisa mengubahnya hanya aku! jika kau ingin menghalangiku maka."
Naruto tidak perduli dengan apa yang Hanabi katakan dan kembali berlari setelah kakinya sembuh. Tapi dia langsung berhenti dan tersungkur seperti boneka yang tiba-tiba talinya putus.
"Ma-ti."
"Uuooogghhhhhkkkk. . . .hkhkkkkkkkk."
Tiba-tiba tubuh Naruto terasa tidak bertenaga dan tenggorokannya terasa seakan dipelintir dari dalam, dan hal itu membuatnya tidak bisa bernafas apalagi bicara. Dan di saat itu dia juga merasakan sakit luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Hanabi mendekat dan berjongkok di depan Naruto.
"Pemimpin memberikanku benda ini."
Hanabi memegang sebuah bola sebesar kelereng dengan tanganya.
"Begitu dia menelannya dia akan menurutiku."
Pada dasarnya rasa sayang berlebih Sasuke sudah cukup untuk membuatnya mau menuruti semua permintaan Hanabi, tapi jika gadis itu meminta kakaknya untuk meninggalkannya atau melupakannya jelas Sasuke tidak akan mau dan tidak akan bisa.
"Aku akan keluar, mengusir vampire lain, menyuruhnya menelan benda ini, setelah itu aku akan membuatnya pergi dari kota ini dan begitu dia keluar dia akan melupakanku! dengan begitu dia akan bisa menjalani kehidupan normal."
Jika Hanabi ikut kabur kesialan hanya akan menunggunya, selain itu Hanabi juga sangat mudah ditemukan karena kekuatannya yang tidak bisa dikontrol dan secara alami mengundang makhluk supranatural.
Jadi pilihan terbaiknya adalah.
"Aku akan mati sendiri di sini, dengan begitu semua orang akan bahagia, bu-bukankah ini yang namanya sekali lempar dapat dua burung? yah, ini yang terbaik."
Mungkin dengan cara itu memang semua orang akan bahagia. Sasuke tidak akan stress karena ingat sudah ditinggalkan adik tersayangnya, Hinata yang tidak bisa terpengaruh magic bisa selamat bersama Shion, lalu ada banyak orang yang bisa selamat dari dijadikan vampire setelah banyak sekali vampire dieliminasi.
Mungkin itu yang namanya happy ending, tapi happy ending itu tidak untuk semua orang. Semua orang mungkin akan bahagia.
"Kehuahi hau."
Hanabi melihat ke arah Naruto yang masih bisa menggerakan mulutnya meski harusnya sekarang dia sudah mati. Mungkin ini kedengaran aneh, tapi Hanabi tidak ingin pemuda itu lebih menderita lagi karena itulah.
"Mati."
Dia ingin segera mengakhiri hidup orang di depannya.
"Ughaaa. . . . ."
Naruto ingin berteriak, jantungnya terasa diremas dengan sangat keras. Tapi tenggorokannya tidak bisa dia gunakan, bernafas saja sangat sulit dan bicara sepertinya sudah tidak lagi mungkin bisa dia lakukan.
Hanabi berdiri lalu bilang.
"Mati."
Untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu dia berjalan pergi meninggalkan Naruto yang sekarang bahkan tidak mampu membuka matanya.
Mereka bilang kalau dengan mati semua masalah akan hilang, katanya orang yang mati tidak merasakan apa. Tapi Naruto merasakan sesuatu. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, rasa tidak nyaman di bawah badannya, udara dingin, dan yang lebih menyebalkannya lagi adalah dia ingat dengan fakta kalau sepertinya dia sudah gagal menyelamatkan seseorang.
Drrttttt. . . .
Tunggu dulu. Kenapa dia dunia tempatnya orang yang sudah mati Naruto masih bisa mendengar suara ponsel? tidak mungkin sinyal bisa sampai dunia semacam itu kan? jadi. Kesimpulannya.
"Uhaaaaaaa. . . . . "
Mata Naruto yang sedari tadi tertutup tiba-tiba langsung terbuka.
"Bagaimana mungkin. . . . aku masih hidup?"
Dia masih hidup, setidaknya dia yakin akan hal itu.
Tapi meski hidup dia masih tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengedipkan matanya dan menggerakan mulutnya. Semua ototnya masih belum bisa digerakan dan luka-luka di tubuhnya juga masih belum sembuh.
Drrrttttt. . . . .
Ponsel di kantongnya berbunyi, tapi berhubung tubuhnya tidak bisa dia gerakan dia tidak mampu mengangkatnya dan terpaksa membiarkan saja siapapun yang menelponnya untuk menunggu dalam jangka waktu yang masih belum ditentukan.
Dan setelah beberapa menit terus-terusan tidak mendapat jawaban orang di seberang sana memutuskan untuk meninggalkan pesan.
"Ada dua kemungkinan kau tidak menjawab telpon dariku, satu kau ingin membuatku marah dan dua kau sedang sekarat! dan dari pengalaman sebelum-sebelumnya aku yakin kau ini sedang sekarat setelah tiba-tiba ketemu orang tidak beruntung dan secara sepihak ingin menyelamatkannya. . . . . Hah. . . ."
Orang itu adalah Hinata. Dan gadis itu menghela nafas panjang setelah mendengar kesimpulannya sendiri.
"Jika kau menyelamatkan seseorang karena kau punya kekuatan dan susah mati aku akan membiarkanmu saja, tapi sayangnya kau itu orang bodoh yang akan tetap pergi meski tidak punya apa-apa."
Hinata memang hanya mengenal Naruto selama beberapa bulan. Tapi meski begitu dia sangat percaya diri dengan kemampuannya menilai pemuda itu. Selain mereka hampir selalu bersama, jiwa mereka juga saling terhubung sehingga secara global Hinata tahu bagaimana perasaan pemuda itu.
"Dan tolong jangan biarkan dirimu babak belur, aku juga ikut merasakan sakitnya."
Walau memang tidak semuanya apa yang dirasakan oleh tubuh Naruto semacam rasa sakit juga bisa Hinata rasakan. Dan di saat-saat terakhir tadi dia juga sempat merasakan bagaimana jantungnya seperti akan meledak serta tenggorkannya dicekik.
"Lagipula kau sudah berjanji kan kalau kau akan pulang dengan selamat? apa kau tidak mau hadiahmu?"
Aku belum bisa mati. Aku belum boleh mati. Hadiahku masih menunggu dan aku tidak ingin mengingkari janjiku dengannya. Sebab memenuhi keinginannya adalah tujuan dari hidupku yang sekarang. Kehidupan yang dia berikan padaku.
"Jadi jika kau ingin menyelamatkan seseorang. . . . ."
Kemampuan penyembuhan Naruto mulai membuahkan hasil. Perlahan tapi pasti keadaan tubuhnya mulai membaik.
"Masukan namamu sendiri dalam daftarnya."
Setelah itu sambungan terputus dan dengan perlahan Naruto mulai kembali berdiri di atas kedua kakinya.
"Sepertinya aku tidak tidur terlalu lama."
Naruto masih bisa melihat Hanabi yang sedang berjalan menuju pintu keluar dalam tempo lambat. Tapi meski begitu, untuk sementara Naruto masih belum mempunyai kemampuan untuk berjalan dan mengejar gadis kecil itu.
Karena itulah.
"Kau itu anak kecil Hanabiii!. . . . . . . "
Naruto berteriak dengan sekuat tenaga.
Teriakan itu cukup untuk membuat Hanabi merinding dan langsung berbalik dengan raut wajah horor beserta tidak percaya.
"Jadi jangan berlagak seperti orang dewasa!. . ."
"Bagaimana kau masih hiduuuuup?!."
Dengan tubuh yang masih babak-belur Naruto memasang pose sombong dan merendahkan di depan Hanabi.
"Kau tidak akan bisa membunuhku!."
"Mati!, mati!, mati!, mati!, mati!, mati!, matiiiiiii!."
Naruto merasakan rasa sakit luar biasa lagi, dan dia kembali tersungkur. Tapi efeknya hanya berhenti sampai di situ, Naruto kembali bangun dan kembali bangun. Berapa kalipun Hanabi bilang mati Naruto masih tetap hidup dan kembali bangun.
"Kenapa?"
"Karena aku lebih kuat darimu! dan tugas orang yang kuat adalah melindungi yang lemah!."
"Aku adalah senjata paling kuat! bagiku tidak langit di atas langit! dan. . "
"Kau tahu tidak kelemahan terbesar D*ath Note? wajah targetnya harus si penulis lihat atau ingat dan sayangnya nyawaku bukan lagi miliku."
Selain kekuatannya untuk menarik perhatian dari makhluk supranatural, kekuatannya yang lain tidak akan bisa dia gunakan jika dia tidak bisa melihat wajah dari targetnya oleh karena itulah vampire-vampire yang akan dia eliminasi harus dikumpulkan di satu tempat.
Dan tidak seperti D*ath Note yang hanya perlu foto, Hanabi tidak bisa mempengaruhi magic pada seseorang jika dia tidak pernah setidaknya melihat target secara langsung.
"Kau mencoba memutus ikatan antara tubuh dan nyawaku tapi sayangnya nyawaku tidak lagi diikat dengan namku melinkan dengan namanya? dan sayangnya lagi kau tidak tahu namanya dan kau belum pernah bertemu dengannya."
Jadi kesimpulannya Hanabi tidak akan bisa membunuh Naruto secara langsung.
"Tapi kau tetaplah makhluk dengan magic di dalam tub. . "
"Sekali lagi sayang sekali, kau mungkin bisa mempengaruhi magic di dalam tubuhku tapi setelah serangan masalmu itu magic di dalam tubuhku sudah mulai menipis karena digunakan untuk pemulihan."
Magic yang berada di tubuh Naruto tinggal sedikit dan hal itu membuat meskipun Hanabi bisa memanipulasinya dia hanya akan bisa memberikan rasa sakit tanpa benar-benar memberi serangan macam apapun.
"Seperti yang sudah kubilang, kau ini anak kecil."
Hanabi bisa saja menyerang Naruto, tapi dia seakan tidak bisa melakukannya dan malah mundur menghindari Naruto yang berjalan dengan tidak lancar dengan wajah ketakutan.
"Anak kecil itu egois, hanya memikirkan diri sendiri, tidak punya rasa tanggung jawab, dan melakukan apapun semaunya serta suka merengek! jadi jangan lawan sifat naturalmu itu dan berpikir seperti orang dewasa!."
Gadis kecil itu menanggung bebannya sendiri sambil mencoba meringankan beban kakaknya. Dia tidak boleh manja dan bergantung pada orang lain, dia boleh membuat kakaknya merasa berat dan terbebani. Dia akan melakukan apapun agar orang yang disayanginya bisa hidup lebih baik.
Dia gadis kecil yang baik.
Tapi.
"Itu bukan tugasmu! memikirkan masalah menyulitkan semacam itu tugas adalah tugas orang dewasa! tugas kami! tugasku dan kakakmu! yang kau perlu lakukan hanyalah jadi dirimu sendiri!."
Hanabi ingin mengatakan sesuatu, dia ingin menolak semua perkataan Naruto tapi dia tidak tahu apa yang harus dia katakan dan akhirnya dia hanya bisa menggigit giginya sendiri dengan sangat erat.
"Jika kau ingin menangis menangislah! jika marah ya marah saja! jika kau bingung minta tolonglah! dan jika kau ingin memeluku mengangguklah!."
Hanabi terlalu bingung dengan keadaanya, segala macam perasaan sedang bergejolak di dalam hatinya serta bermacam pikiran sedang memenuhi otaknya. Dia sama sekali tidak mengangguk dana juga tidak punya rencana untuk mengangguk, tapi meski begitu.
"Sampai semua rasa khwatirmu hilang dan kau bisa merasa bahagia, aku akan tetap bersamamu dan jelas aku yakin kakakmu juga memikirkan hal yang sama."
Naruto mengulurkan kedua tangannya ke belakang tubuh gadis kecil itu, setelah itu dengan pelan dia memeluk dengan erat Hanabi dan menyelimutinya dengan tubuhnya.
"Uuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaa. . . . . uaaa. . .aaaaa. . . . ."
Hanabi melepaskan tangisan yang sudah selama lima tahun dia tahan.
Naruto menggendong Hanabi dan berhasil membawanya keluar dari gedung. Setelah itu, bersama dengan Sasuke yang menjaga jarak jauh-jauh mereka bertiga keluar dari kota dengan sembunyi-sembunyi melewati vampire-vampire yang tiba-tiba bertindak aneh setelah tidak lagi dikontrol oleh Hanabi.
Naruto ingin membantu Sasuke yang sudah babak-belur tapi orang itu tidak bisa berada di dekat Hanabi sehingga mereka bergerak secara terpisah.
Dia kembali ke gunung tempat teman-temannya berkemah lalu ketika dia menelpon ponsel Hinata untuk meminta bantuan masuk ke area perkemahan. Bukannya Hinata, yang mengangkat ponsel gadis itu adalah Shion.
Dan dia bilang.
"Hinata menghilang! dia tidak ada di sini!."
Dengan suara panik.
Terima kasih bagi yang sudah setia baca.
Untuk kali ini tidak ada side note, tapi saya masih tetap mau tanya beberapa hal. Tantu bagi yang mau jawab.
1. Apa kalian bosan? : Gimana sih ya? meski memang saya nulis dengan cara yang agak beda dengan author lain tapi tema dari fic-fic saya itu saya bisa bilang "sama". Tentu ukan boy meets girl, tapi "Boy Save the Girl." dan untuk suatu alasan karakter loli selalu saja muncul.
2. Kalian pilih yang mana. a : young girl, b : small girl, atau c : little girl. Ini jangan kasih tahu orang lain.
3. Bukan sebuah pertanyaan sih. Foto profile saya ganti. Dan yang saya upload itu saya bikin sendiri, masih draf sih tapi rencananya dia itu akan saya jadikan Heroine di DOLL (versi komiknya), saya butuh sasran buat penampilan.
Thanks for reading.
