Chapter 2

Kenapa harus ada takdir?

Takdir yang membuatku tidak pernah bisa mendapat apa yang kuinginkan

Dan membuat kita tak akan pernah bisa bersama

Kenapa harus ada ikatan yang disebut saudara?

"Aku hanya akan istirahat sebentar, Izaya-nii."

Izaya terdiam sejenak. Dipandangnya si adik kembar, wajah datarnya masih sama seperti lima tahun lalu. "Tidak ingin kutemani?"

"Tidak perlu, Izaya-nii. Izaya-nii murid baru, sebaiknya menyesuaikan diri dengan kelas ini dulu."

Kedua iris baby blue Izaya terus terpaku pada punggung Tetsuya, hingga sosoknya menghilang dari kelas. Si putra sulung Kuroko menautkan kedua tangannya di atas meja. Ada rasa gelisah menghantuinya.

SREKK...

Suara pintu yang dibuka seorang sensei membuyarkan lamunan Izaya. Makin kesal. Ia semakin kesal dengan rasa gelisah itu. Pelajaran yang diterangkan tak ada satupun yang masuk ke otaknya. Tak tahan lagi, Izaya berdiri dari bangkunya.

"Sensei, saya izin ke toilet."

Setelah mendapat anggukan dari senseinya, Izaya keluar dari kelas. Dengan tampang datarnya, ia melangkah tenang menuju ruang kesehatan. Izin ke toilet hanyalah alasan yang ia berikan agar diizinkan keluar kelas. Dibukanya pintu putih itu, mencari sosok yang ingin ditemuinya. Namun, hanya angin yang berhembus serta tirai yang tersibak gara-gara angin yang didapatinya.

Ditutupnya kembali pintu itu. Tetsuya punya maksud lain, pikirnya. Ia kembali membawa langkahnya pergi meninggalkan ruangan kosong itu. Dan langkah itu bukannya membawanya kembali ke kelas, malah semakin menjauhi kelas. Ia melewati koridor yang terlihat semakin sepi dan agak gelap. Hingga akhirnya suatu tempat terlintas di kepalanya.

Sambil mempercepat langkah, kedua manik langit musim panasnya mencari jalan menuju tempat yang ia tuju. Dan tiba-tiba pandangannya tersita oleh satu pintu diujung beberapa anak tangga. Ia berjalan menaiki beberapa anak tangga itu dan membuka pintunya dengan perlahan. Seketika, cahaya dan angin yang berhembus menerpanya. Ini tempat yang ia cari dan dirindukannya ketika masih di sekolahnya yang lama. Ditutupnya kembali pintu di belakangnya sangat perlahan. Dan kedua iris biru mudanya menangkap dua pasang kaki di balik suatu tembok.

Kedua iris biru muda itu menyipit. Dihampirinya pemilik kedua pasang kaki itu. Dan ia membelalak menyaksikan pemandangan yang baru saja terpantul di kedua bola matanya. Tetsuyanya sedang diraba-raba oleh pria lain berambut merah. Dan seragam yang dikenakannya jelas bukan seragam Seirin. Siapa itu? Siapa yang sedang bersama Tetsuyanya? Siapa laki-laki bersurai merah yang kini tengah mencumbu si adik kembarnya?

"Inikah yang kau maksud tak enak badan, Tetsuya?"

Tanpa sadar kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Izaya. Dilihatnya kedua insan yang sedang duduk di depannya itu menghentikan aktivitasnya, menoleh dan menatapnya yang tengah berdiri di tengah cahaya matahari, membuat kedua remaja yang dipergokinya menyipitkan mata karena silau.

Bertatapan dengan sepasang heterokrom, Izaya ingat adiknya pernah bercerita tentang Akashi Seijuurou. Tapi ia hanya sekedar bercerita, tidak pernah menceritakannya sejauh ini. Siapa sebenarnya Akashi Seijuurou itu? Apa dia menjalin hubungan dengan Tetsuya?

"Kau yang mirip Tetsuya yang kutemukan tadi."

Ucapan si Akashi Seijuurou itu memecah pikiran Izaya. Rupanya Tetsuya tidak pernah menceritakan tentang sang kakak kembar.

"Oh, kau sudah bertemu denganku." Dalam hati Izaya terkekeh, namun sinis. "Tapi kau belum mengenalku, Akashi Seijuurou. Akan kuberitahu seperti apa diriku ketika melihat dirimu melahap Tetsuyaku di depan kedua mata ini."

Oh, bukankah ucapannya itu cukup posesif?

.

.

"Twins of Kuroko" by Aragaki Kuga

Disclaimer : Kuroko no Basuke selamanya milik Tadatoshi Fujimaki

Warning : gaje, typo, BL, shounen ai, twin!Kuroko, OOC, alur cepat, dll

AkaKuro

Rated T, buat sementara

Kalo nggak tertarik silahkan di close, jika penasaran boleh terus

.

.

.

Izaya berjalan melewati koridor yang sedikit-sedikit dikenalnya, yang tak lain adalah jalan kembali menuju kelasnya. Ia tenggelam dalam pikirannya, mengingat kejadian ketika di atap sekolah beberapa menit yang lalu...

Izaya masih menatap tajam pada sosok berkepala merah di depannya. Kemudian si tuan muda Akashi itu berdiri, membalas tatapannya. Oh, bahkan tingginya belum bisa menyamai tinggi si kepala baby blue itu.

Sebuah rasa gelisah menyerang si putra bungsu Kuroko. Bagaimana ia bisa lupa dengan sifat kakaknya? Bukankah Izaya memiliki ikatan batin yang kuat karena mereka kembar? Dipandangnya kedua orang berbeda tinggi yang sedang berdiri berhadapan di depannya itu. Ia masih ingat, jika Izaya hanya menatap lawannya tanpa berbicara sedikitpun, itu menandakan bahwa ia kesal. Dan kini Izaya berlaku seperti itu pada Akashi.

Akashi sedikit mendongak. Siapa sebenarnya orang asing di depannya yang begitu mirip dengan Tetsuya? Apa dia kakaknya? "Siapa dia, Tetsuya?" tanpa merasa canggung sedikitpun, Akashi bertanya.

Yang ditanya terdiam sejenak sambil memandang objek yang ditanyakan, namun kedua iris baby blue milik kakak kembarnya masih terpaku pada heterokrom Akashi. "Dia Kuroko Izaya, kakak kembarku, Akashi-kun."

Kedua kelopak mata Akashi sedikit melebar. Kembar? Mereka kembar? Kenapa Tetsuya tak pernah menceritakannya? Dan bagaimana Kuroko Izaya yang nyatanya sebagai saudara kembar Kuroko Tetsuya bisa lebih tinggi? Bahkan tinggi Akashi masih sedikit di bawahnya.

Akashi dan Izaya masih tenggelam dalam pandangan masing-masing. Hingga akhirnya kedua pasang bola mata yang saling terpaku itu terputus kala Akashi membungkuk di depan Izaya, membuat kedua pasang iris baby blue yang masih memandangnya sedikit melebar.

"Boku wa Akashi Seijuurou desu," Akashi memperkenalkan diri. "Saya...menyukai Tetsuya, namun saat ini kami belum berstatus apapun. Tapi saya berjanji dan menjamin kebahagiaan Tetsuya hingga masa depan nanti. Saya...mohon restunya."

Kelopak mata Izaya makin melebar. Mereka berencana membangun rumah tangga bersama? Kedua bola mata Izaya bergeser melirik adik kembarnya. Dan pemandangan yang terpantul disana makin membuatnya luluh.

Tetsuya, adik kembarnya yang terkenal akan muka datarnya itu, tersenyum. Bukan senyum biasa, itu senyum kebahagiaan. Untuk pertama kalinya Izaya melihat adiknya tersenyum selain kepadanya dan orangtuanya.

Izaya menyipitkan kedua matanya, menciptakan ekspresi yang tak bisa dibaca. Kemudian, tanpa mengucapkan satu kata pun, ia berbalik meninggalkan mereka berdua.

"Izaya-nii?" panggil Tetsuya, tak mengerti maksud sang kakak.

Sebelum membuka pintu keluar, dengan tangan masih memegang kenop pintu, Izaya menoleh dengan tatapan mengintimidasi, kedua kelopak matanya melebar memamerkan kedua iris biru mudanya. "Menurutmu aku akan merestui kalian?"

Seiring ditutupnya pintu keluar, angin berhembus menerpa si surai merah dan surai biru muda. Kemudian Akashi kembali duduk di samping Tetsuya.

"Aku seperti...melihat diriku yang lain, namun berwujud sepertimu, Tetsuya."

Karena pintu atap belum sepenuhnya ditututp, Izaya masih bisa mendengar suara Akashi melalui hembusan angin.

Kembali ke waktu sekarang, tanpa sadar pintu kelas Izaya sudah di depan mata biru muda itu.

#

"Baiklah, kau akan masuk tim pertama dalam latih tanding dengan Akademi Touou hari ini, Kuroko Izaya," ucapan si pelatih tim basket Seirin, Aida Riko, memecah keheningan di gym Seirin.

"Nani? Apa kau serius, pelatih?" teriakan si ace Seirin, Kagami Taiga, membuat semua yang ada disitu menoleh padanya. "Dia, kan, baru bergabung hari ini?"

"Justru karena dia baru bergabung hari ini, kita akan langsung melihat seperti apa kemampuannya, Kagami." Sang kapten, Hyuuga Junpei, membalas ucapan sang kouhai.

"Tasuketekudasai," tambah si anggota baru yang sedang dibicarakan, Kuroko Izaya.

Mereka pun bergegas menuju Akademi Touou. Setibanya disana, manajer kebanggaan Touou, Momoi Satsuki, menyambut kedatangan mereka di pintu gym.

"Wah, sang pelatih bercup B sudah datang bersama anggota Seirin."

Seketika Hyuga, Izuki, dan Koganei menahan kedua tangan sang pelatih untuk tidak langsung menerkam si manajer bersurai pink itu.

"Tetsu...-kun? Tetsu-kun ada dua!" belum selesai dengan masalahnya, Momoi terkejut melihat kedua Kuroko di depannya.

"Ano...Momoi-san...perkenalkan dia kakak kembarku, Izaya-nii." Menghentikan ocehan si mantan manajer Teiko, Tetsuya maju ke depan.

"Kakak kembar?"

"Ada apa dengan kakak kembar?" seorang remaja bersurai biru tua berkulit tan menyahut dari balik pintu masuk gym. Setelah melihat kedua Kuroko, barulah ia sadar (tumben mikirnya cepet). "Oh, jadi yang tadi pagi aku lihat itu dia, ya?"

"Tampang dan cara bicaramu itu tidak pantas, Aomine Daiki."

Sebuah siku-siku mendarat di dahi si ace Touou. "Darimana kau tahu namaku? Kau memang mirip Tetsu, tapi kenapa ucapan tajammu itu seperti si kapten sadis itu?!"

Dan sebuah gunting melesat dengan cepat dan berhasil memotong dan membuat beberapa helai rambut biru tua jatuh ke lantai. Seketika si pemilik rambut membeku di tempat.

"Tadi kau bilang apa, Daiki?"

"Kapten sa... ah, Akashi, apa yang kau lakukan disini?" Aomine mundur beberapa langkah menjauhi sang mantan kapten.

"Karena aku masih di Tokyo, maka aku putuskan untuk melihat aksi Tetsuya hari ini." Kemudian Akashi melirik pada Izaya yang berdiri di samping Tetsuya. Sebuah senyuman yang tak bisa dibaca mampir di wajahnya. "Dan juga...melihat tampilan perdana saudara kembarnya."

Kuroko Izaya hanya diam sambil membalas tatapan Akashi.

To Be Continued

.

.

.

(A/N)

Fyuuuh... (ngelap dahi)

Ternyata bikin multichap bagi author itu sulit. Terima kasih sudah mau melanjutkan membaca, minna-san.

Maaf di chapter ini belum ada lemonnya. Dan maaf juga kalau updatenya lama, author disibukkan banyak tugas di kehidupan nyata. Sampai-sampai Kuga tidak bisa jadi reader lagi.

Bahkan chapter ini pendek sekali ya. Author buru-buru nyelesaiin di tengah kesibukkan dan berusaha mempersingkat updatenya, tapi ternyata jadi molor. Gomen, gomen (bungkuk-bungkuk)

Dan ini ada balasan review buat reader yang sudah mau menyempatkan diri untuk mampir ke fic ini.

KakaknyaKurokoTetsuya-san : Arigatou, meski author masih bingung alur yang gimana (gomen). Sebelumnya Kuga minta maaf kalau reader-san nggak suka incest, soalnya ini mungkin bisa dibilang Izaya suka sama Tetsuya tapi dia sadar statusnya sebagai saudara.

Bona Nano-san : Arigatou, Nano-san. Akashi memang harus greget! Hahah... soal pertarungan antara Akashi dan Izaya, mungkin udah rencana pasti bakal ada, kok. Mungkin Nano-san kalau ada usul boleh..

Flow . L -san : Arigatou for review. Maaf sebelumnya author belum tau apa itu incest (karena Kuga masih newbie). Kalau menurut cerita, Izaya memang suka sama si adik kembar, tapi karena mereka saudara kembar, Izaya Cuma jadi protektif brother. Maaf kalau author udah PHP. Tapi cerita ini bakal author selesaiin kok. Heheh, kalau inginnya lemon, mungkin ada usulan buat siapa pairingnya?

HanaBee-c-san : Arigatou gozaimasu. Hahah, kalau Hana-san ingin usul mau siapa pairingnya, AkaKuro, IzaTetsu, atau AkaIza juga boleh, kok. Author malah senang kok.

Sachi d Readers-san : Arigatou, Sachi-san. Author sungguh bersyukur kalau OC nya nggak gagal, hehe.

mizuki arisawa-san : Arigatou Mizuki-san. Mungkin Izaya memang Brocom, tapi nggak sampai akut, kok. Maaf kalau udah bikin nunggu gara-gara updatenya. Terima kasih juga buat sarannya ^^

Lee Kibum-san : Arigatou reviewnya. Sekali-sekali Akashi bolos nggak apa, apa sih yang nggak buat Tetsu x) ..Kan lebih baik to the point daripada basa-basi. Maafkan pikiran kotor author.

Kurotori Rei-san : Arigatou gozaimasu, Rei-san. Terima kasih buat fav dan follownya. Kalau ada usul boleh kok?

Chii-san : Arigatou chii-san. Haha, yang namanya usul juga boleh kok :3

Ain-san : Arigatou for review. Entah kenapa author kepikiran bagaimana kalau Akashi dapat saingan dengan sifat yang mirip. Dan jadilah fic ini, hehe.

Salmaasuka-san : Arigatou, author bungkuk-bungkuk ngucapin terima kasih kalau fic nya disukai. Ingin ExTreme? (otak author langsung berputar mikir buat yang namanya extreme *plak)

Arigatou minna ^o^)/ See you in the next chapter

Karena di chapter ini belum ada lemonnya, author berencana bikin lemonnya di next chapter. Kuga bakal berusaha cepet-cepet update, karena itu usul dan saran readers diharapkan oleh author.

Jaa...