Kalau aku lahir di kehidupan lain

Apa aku bisa bersamamu?

Tanpa harus dipisahkan oleh ikatan ini

Tanpa harus ada takdir seperti ini

.

.

PRIIITT...

Suara peluit berbunyi menandakan berakhirnya pertandingan Touou vs Seirin.

"Berbaris."

Semua pemain pun berbaris saling berhadapan di tengah lapangan. Bola oranye yang daritadi diperebutkan dibiarkan menggelinding ke pinggir lapangan. Keringat bercucuran dari kesepuluh pemain dari kedua tim.

"Dengan skor 116 melawan 107, SMA Seirin menang!"

Belum ada yang mau berbicara setelah wasit. Sampai akhirnya teriakan riuh terlontar dari para pemain dan pelatih Seirin dari bangku cadangan. Bersamaan dengan itu, kelima pemain inti yang baru saja selesai bertanding langsung mendapat sambutan juga.

"Otsukaresama Hyuga, Kiyoshi, Kagami, dan kedua Kuroko!" sambut Izuki Shun. "Permainan kalian bagus, meski ini pertama kalinya aku harus duduk di bangku cadangan."

Sementara itu, di bangku Touou, si ace terlihat begitu kesal. Sementara si manajer ikut terbengong-bengong melihat hasil pertandingan mereka.

"Apa-apaan si kakak kembar Tetsu-kun itu," komentar Momoi.

"Aku duluan Satsuki," sahut Aomine. Kemudian ia menyempatkan diri memandang si pemuda bersurai baby blue yang baru hari ini dilawannya. "Bahkan kemampuannya setara dengan Kiseki no Sedai."

Seulas senyum terpampang di wajah seseorang bersurai merah yang sedang duduk menyendiri. "Permainan yang bagus, Kuroko Izaya."

.

.

"Twins of Kuroko" by Aragaki Kuga

Disclaimer : Kuroko no Basuke selamanya milik Tadatoshi Fujimaki

Warning : gaje, typo, shounen ai, twin!Kuroko, OOC, alur cepat, lemon, dll

AkaKuro

Rated M

Kalo nggak tertarik silahkan di close, jika penasaran boleh terus

.

.

.

Tetsuya duduk di sebuah restoran bernama Maji Burger sambil menyeruput vanillashake kesukaannya. Dipandangnya langit berbintang melalui kaca jendela. Bulan purnama hari ini pun begitu terang.

"Darimana Izaya belajar basket, Tetsuya?" Oh, rupanya ia tidak sendirian. Seorang remaja pemilik heterokrom duduk di hadapan Tetsuya. Mungkin mereka sedang berkencan seusai pertandingan Touou vs Seirin hari ini.

"Maaf, aku tidak tau, Akashi-kun," balas si pemuda bersurai baby blue itu. "Izaya-nii pindah ke London lima tahun lalu. Waktu itu kami sama-sama belum bisa basket."

Tenggelam dalam diam, keduanya mengingat permainan Kuroko Izaya tadi sore.

"Baiklah, kita lihat seperti apa kemampuan Kuroko Izaya," ujar Riko semangat.

Memasuki kuarter tiga, Seirin mengganti Izuki Shun dengan Kuroko Izaya. Izaya melangkahkan kakinya ke tengah lapangan. Dilihatnya para pemain Seirin yang lain, juga pemain Touou terdiam memandangnya. Sepertinya mereka sedang berpikir tentangnya.

"Jangan terdiam seperti itu. Bukankah jika ingin tahu seperti apa diriku, sebaiknya kalian segera bermain?"

Ucapan Izaya memecah keheningan di gym itu. Sang wasit pun tersentak dan segera membunyikan peluitnya tanda permainan akan segera dimulai. Dan bola pertama didapatkan Seirin.

Hyuga yang mendribble bola dan dijaga oleh Sakurai, langsung memberi operan pada Izaya yang paling dekat dengannya. "Baiklah, ini operan pertamamu, Kuroko Izaya."

Setelah bola ditangan si pemuda beriris baby blue itu, semua yang ada disana melebarkan mata karena tiba-tiba sosok itu menghilang beserta bolanya.

PRIIT...

"Nani?! Bola masuk? Sejak kapan?" ujar Imayoshi menatap ring dan skor bergantian. Kemudian, kelopak mata yang biasa menutupi iris hitamnya itu terbuka menatap Izaya. "Bagaimana dia dan bola itu menghilang begitu ia mendapat operan? Dan dia menembak di bagian luar?"

Sang ace Touou terkekeh. "Rupanya dia punya misdirection seperti Tetsu. Hanya saja, misdirection itu bukan untuk mengoper, tapi untuk menembak."

"Itu seperti vanishing drive milik Kuroko!" tambah Hyuga. "Jika itu Kuroko dan begitu ia mendapat bola, bola itu akan langsung diopernya. Tapi jika itu si kakak kembar Kuroko, begitu ia mendapat bola, bola itu akan langsung ditembaknya." Penjelasan Hyuga membuat semua mengerti, termasuk Tetsuya yang juga baru melihat permainan kakaknya.

"Dan tak peduli dimana aku sedang berdiri, aku akan langsung menembak bolanya," lanjut Izaya sendiri, melebarkan kelopak matanya dan memamerkan iris aquamarinenya.

"Jangan lupakan keberadaan tipisnya seperti Kuroko. Ini membuat tim kita semakin mudah untuk mencuri bola," pikir Riko sambil tersenyum penuh kemenangan.

Kembali ke waktu sekarang. Si pemilik emperor eyes itu tersenyum, senyum yang tak bisa dibaca maknanya. "Dan kalau kalian berdua digabungkan, bukankah itu akan jadi sebuah permainan yang tak terlihat alurnya?"

Tetsuya terdiam sejenak, memandang pria di depannya. Mengerti maksud Akashi, Tetsuya meletakkan gelas vanilla milkshake yang dipegangnya kembali ke meja. "Aku akan tetap menjadi bayangan Kagami-kun, Akashi-kun."

Akashi terkekeh. Ia tahu sifat Tetsuya yang keras kepala, dan memutuskan ia mengalah. "Baiklah Tetsuya. Ngomong-ngomong, kau tak keberatan untuk menginap di rumahku? Bukankah besok hari Minggu?"

Lagi-lagi Tetsuya mengerti maksud Akashi. Ia mengangguk mengingat Akashi mempunyai sebuah mansion kecil di Tokyo. Dan tentu saja anggukan Tetsuya menghasilkan senyum di bibir Akashi.

Skip time, skip time... (author nggak sabaran)

Si pemilik manik scarlet-gold menutup pintu kamar dibelakangnya. Kemudian dihampirinya si pemuda mungil bersurai baby blue yang sedang duduk manis di atas kasur berukuran sedang. Jari telunjuknya menyentuh dagu pria yang duduk di depannya itu dan membuatnya mendongak.

Tetsuya tenggelam dalam heterokrom Akashi yang memaku kedua iris biru langitnya. Hingga detik berikutnya Akashi menautkan kedua bibir mereka. Dinikmatinya bibir yang saling mengecap bibir masing-masing itu. Menguarkan dua rasa yang berbeda dari keduanya.

Tangan kanan Akashi membuka kancing seragam Seirin yang masih dikenakan Tetsuya. Sambil lidahnya menerobos masuk di antara dua bibir Tetsuya, mengabsen deretan giginya dan berdansa dengan daging tak bertulang disana, ibu jari dan telunjuk Akashi memainkan dua tonjolan di dada Tetsuya secara bergantian.

"Uuh...Hnh..." Tetsuya hanya bisa melenguh merasakan jalaran nikmat dari bibir dan jari Akashi di kedua nipplenya. Dua foreplay dari Akashi cukup menguras tenaganya. Dan kemudian dirasakannya Akashi mendorong tubuh mungil yang tak lagi bertenaga itu di atas ranjang.

Si tuan muda Akashi menindih tubuh yang lebih kecil darinya itu dan menggenggam kedua tangannya. Bersamaan dengan itu, Akashi melepaskan tautan bibir mereka karena keduanya hampir kehabisan stok oksigen di paru-paru mereka.

Tetsuya segera menghirup udara untuk mengisi kembali oksigen di dalam tubuhnya. Beberapa detik setelah Akashi membiarkannya mengatur nafas, Tetsuya mengerang tertahan kala Akashi meremas kejantanan miliknya yang sudah menegang di balik celana seragamnya.

"Sudah ada yang minta perhatian rupanya," goda Akashi.

"A...Akashi-kun..." desah Tetsuya bersamaan ketika Akashi melucuti semua bawahannya. Dan kini hanya seragam atasan yang masih menempel di tubuh Tetsuya.

Si remaja bersurai merah itu mengarahkan mukanya pada kejantanan Tetsuya yang kini terekspos tanpa dilapisi satu benang pun. Dikulumnya batang yang menegak itu, menimbulkan desahan-desahan keluar dari bibir Tetsuya.

"Aka...Akashi...-kun...hnggh..." Tetsuya menahan geli akibat kuluman, jilatan, serta hisapan yang diberikan Akashi. Rongga mulut serta lidah Akashi begitu menggelitik juniornya.

"Aku...tidak...ta...ah...tahan lagi...Akashi-kun..."

Mendengar ucapan Tetsuya itu, Akashi langsung menghentikan aktivitasnya, menimbulkan ekspresi protes dari si uke. Kenapa berhenti? Kan, tinggal sedikit lagi?

"Aku tidak akan membiarkanmu keluar duluan, Tetsuya," ucap si emperor eyes. Akashi melepas satu persatu pakaian yang masih dikenakannya. Tak lupa ia juga melepas dan membuang satu pakaian yang masih tersisa di tubuh Tetsuyanya ke segala arah. Dan kini keduanya sama-sama memamerkan tubuh mereka tanpa satu kain pun yang menempel di tubuh mereka.

Akashi menuju ke perpotongan leher Kuroko. Memperbarui tanda kepemilikan yang hampir hilang disana. Didengarnya lenguhan merdu dari bibir remaja di bawahnya.

"Hmmh...ah...Akashi-kun..." Tetsuya mengerang merasakan sesuatu yang asing memasuki lubangnya, dirasakannya dan ia tahu itu jari Akashi. Kemudian lenguhan Tetsuya diredam oleh bibir Akashi ketika jari kedua dan ketiga Akashi menyusul masuk, menyiapkan untuk sesuatu yang lain nanti.

Menit berikutnya, Akashi melepas ciumannya serta menarik ketiga jarinya dari lubang Tetsuya. Menimbulkan sensasi yang menggelikan bagi si pemilik surai baby blue itu. Sang tuan muda memandang mantan rekan satu timnya sewaktu di Teiko itu. Pemandangan yang begitu menggiurkan.

Akashi menyiapkan kejantanannya tepat di depan lubang Kuroko. "Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau keluar duluan, Tetsuya." Mengakhiri kalimatnya, Akashi langsung melesakkan batangnya yang sudah tak tahan untuk menerobos lubang sempit di depannya itu.

"Aakkh...Akashi...-kunnh..." Tak kuat dengan serangan Akashi, Tetsuya sengaja tidak menahan sekeras apa lenguhannya. Bagaimana ia bisa tahan kalau Akashi langsung memasukkan seluruh miliknya dalam satu hentakan? Memangnya ia sekuat apa? Sebulir air mata jatuh dari salah satu manik aquamarine Tetsuya.

"Gomen, Tetsuya. Sepertinya aku terlalu bersemangat." Akashi langsung mencium bibir Tetsuya untuk meredakan rasa sakit yang dialami sang phantom itu.

Setelah dirasanya tenang, Akashi mulai memaju mundurkan miliknya di dalam lubang hangat dan sempit milik remaja di bawahnya, serta melepas ciumannya dengan maksud mendengar musik merdu berupa erangan dari bibir Tetsuyanya.

"Uuh...umh...anh...Akashi...-kun..."

Begitu merdu. Oh, ngomong-ngomong, mengingat perkataannya tadi, apa Tetsuya yang tadinya hampir mencapai klimaks kini benar-benar menahannya? Dilihatnya si junior Tetsuya yang sedikit-sedikit mengeluarkan cairan putih kental. Ah, rasanya ia merasa bersalah sudah berkata demikian.

Akashi mempercepat tempo sodokannya. Diraihnya kejantanan Tetsuya dan dikocoknya. Akashi yakin dengan ini Tetsuya tidak akan tahan lagi untuk tidak mengeluarkannya. Apakah ia terlalu jahil?

"Aaakkhh...Akashi-kunnnh..."

Dan benar saja, cairan putih kental itu menyembur keluar mengenai dada dan perut keduanya serta wajah Akashi. Namun hal itu tak membuat Akashi menghentikan aktivitasnya.

Tetsuya tahu, Akashi pasti sengaja melakukannya. Baiklah, tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali pasrah. Tenaganya benar-benar terkuras.

"Uukkh...Tetsuyaa..."

Dan detik berikutnya Tetsuya merasakan suatu cairan hangat memenuhi lubangnya. Akashi sudah keluar rupanya. Bersamaan dengan Akashi yang mencabut kejantanannya, cairan miliknya ikut meluber keluar dari lubang Tetsuya.

Kemudian Akashi berbaring di samping Tetsuya. Keduanya sama-sama tersengal-sengal. Mengetahui Tetsuya yang hampir memejamkan matanya, Akashi mencubit pipi Tetsuya agak keras, membuat kelopak mata itu kembali terbuka memperlihatkan dua iris sewarna langit musim panas.

"Akashi-kun," protes Tetsuya.

"Jangan tidur dulu, Tetsuya. Aku belum puas hanya dengan satu ronde."

Dan Tetsuya langsung menelan ludahnya yang entah kenapa jadi terasa berat.

#

"Izaya, ini sudah malam. Cepatlah tidur. Bukankah tadi sudah kubilang kalau Tetsuya menginap di rumah temannya? Kau tak perlu menunggunya." Seorang perempuan bersurai baby blue panjang memandang anak sulungnya yang masih setia duduk menonton televisi.

"Hai, Okaasan." Menuruti keinginan ibundanya, Izaya mematikan televisi di depannya. Namun ia tak beranjak dari sana ketika ibunya sudah pergi ke kamar terlebih dahulu.

"Aku tidak mau tidur sendirian di kasur yang biasanya kami tiduri sementara Tetsuya sedang tidur bersama orang lain, Okaasan," gumam Izaya pada dirinya sendiri. "Tetsuya pasti sedang bersama Seijuurou sekarang.

To Be Continued

.

.

.

(A/N)

Huaaahh... (meregangkan badan)

Demi apa chapter yang isinya lemon bisa update sehari, yang nggak ada lemonnya malah seminggu, udah gitu pendek lagi.

Dan demi apa juga author tenggelam dalam fic ini sementara tugas menumpuk di belakang.

Author minta maaf kalau alurnya nggak sesuai dengan keinginan readers. Adegan sewaktu Seirin bertanding pun cuma sedikit (sekali). Dan mungkin chapter depan akan ada kejadian di atas ranjang antara Izaya dan Akashi. Tapi author mikir juga, masak di tiap chapter ada lemon (kcl chapter2). Aakh, author bakal dicap orang paling mesum. Dx

Dan ini balasan reviewnya di chapter dua...

Yunjou-san : Arigatou gozaimasu. Jujur saja author merasa senang kalau bisa mengubah perasaan seseorang dari tidak suka menjadi tertarik atau bahkan suka. Maaf kalau adegan bertandingnya hanya memperlihatkan kemampuan Izaya saja, author susah mengungkapkan lewat kata-kata soalnya (ciee). Author juga nggak nyangka bagaimana Akashi bisa memohon, haha. Dan terima kasih juga review dari Yunjou-san sedikit menginspirasi Kuga.

Flow . L-san : Arigatou, soal pairing, setelah dipikir-pikir sepertinya hanya akan ada pairing AkaKuro, deh. Mungkin Izaya tidak akan sampai ke adegan lemon sama Tetsuya. Tapi nggak tau kalau tiba-tiba Izaya lemonan sama Akashi, hehe.

Lee Kibum-san : Arigatou for review. Hohoho, author jadi memikirkan Izaya yang melihat seperti apa Tetsuya di atas ranjang ketika bersama orang lain. Tapi sepertinya Izaya tidak akan membiarkan hal itu berlanjut, kalau ketahuan basah sama Izaya, udah pasti kegiatan Akashi dan Tetsuya bakal dihentikan bagaimanapun caranya. Terima kasih sarannya

HanaBee-c-san : Arigatou, Hana-san. Terima kasih untuk sarannya. Kalau soal incest, di fic ini nggak terlalu menekankan itu. Bisa dibilang cinta sepihak Izaya.

Arigatou minna ^o^)/ See you in the next chapter. Thanks for RnR.