Aku akan melihatmu tersenyum

Kepada orang lain dan bukan kepadaku lagi

Aku hanya akan selalu terikat pada takdir

Melepasmu tanpa kau tahu apapun dariku

.

.

"Izaya-nii! Izaya nii-chan!" seorang anak bersurai baby blue berusia sepuluh tahun melonjak-lonjak di atas tubuh kakak kembarnya yang tidur di sebelahnya.

"Uungh...Tetsuya...Aku masih mengantuk...Ini, kan, hari Minggu," balas si kakak yang juga bersurai baby blue. Tubuhnya terasa begitu berat akibat adiknya yang duduk di atas badannya. "Tubuhmu berat, Tetsu."

"Tapi, bunga mataharinya sudah tumbuh," ucap sang adik masih berusaha membangunkan sang kakak. Dan usahanya berhasil, manik aquamarine kakaknya terbuka dan bertemu dengan manik aquamarine miliknya.

Menit berikutnya, kedua anak itu berlari menuju ke halaman belakang. Matahari masih setengah bersembunyi di ufuk timur. Kedua anak itu menghampiri rerumpunan bunga matahari yang beberapa minggu lalu mereka tanam bersama. Dan kini bunga itu menjulang melebihi tinggi mereka.

Dan sejenak kedua anak kembar itu memandang takjub pada bunga yang berhasil mereka tumbuhkan itu. Meski sang mentari yang sesungguhnya mengintip dari peristirahatannya, kedua saudara kembar itu telah melihat matahari mereka.

"Indah sekali, ya, onii-chan," ujar si adik.

"Benar, Tetsuya. Usaha kita tidak sia-sia," balas sang kakak. "Kelak, aku ingin kau bisa membawa bunga ini ketika jadi mempelaiku."

Sang adik terhenyak mendengar penuturan sang kakak. "Izaya nii-chan?"

Dan sang kakak pun tersentak mengingat ucapannya sendiri serta panggilan dari adiknya. "A-ah, maksudku...maaf, aku sedang membayangkan orang yang kusukai," balas kakaknya cepat.

Kemudian sang adik tersenyum, manik biru langitnya mengerjap beberapa kali. "Oh, lain kali kenalkan aku, ya, nii-chan!"

Sang kakak hanya mengangguk membalas senyum adik kesayangannya.

.

.

"Twins of Kuroko" by Aragaki Kuga

Disclaimer : Kuroko no Basuke selamanya milik Tadatoshi Fujimaki

Warning : gaje, typo, shounen ai, twin!Kuroko, OOC, alur cepat, dll

AkaKuro

Rated M

Kalo nggak tertarik silahkan di close, jika penasaran boleh terus

.

.

.

Seorang remaja bersurai baby blue terbangun dari tidurnya. Ia terdiam sejenak mengingat mimpi yang barusan dialaminya.

"Izaya-nii?" tanpa sadar, sebuah nama itu meluncur dari kedua bibir mungilnya.

Ia tahu, mimpi itu bukan sekedar imajinasinya saja, bukankah itu kejadian di masa kecilnya bersama sang kakak kembar? Memori di otaknya berputar menuju masa lalu, mengingat kejadian setelah sang kakak mengangguk membalas senyumnya.

Manik aquamarinenya terbuka sempurna ketika ingat apa yang ingin diingatnya. Usai sang kakak tersenyum cerah, senyum itu berubah seolah kakaknya sedang melepas suatu keinginan besar yang tidak pernah bisa diwujudkannya.

"Izaya-nii?" dan sebuah nama itu kembali meluncur dari mulut sang adik.

"Tetsuya?"

Sebuah panggilan itu membuyarkan pikran si pemuda baby blue. Ia menoleh ke belakang dari posisi berbaringnya bersamaan ketika pemuda lain yang memanggilnya menyingkap tirai jendela, membuat sinar matahari berbondong-bondong menerobos masuk. Si pemuda yang masih berbaring itu pun menyipitkan kedua matanya dan mengangkat tangan menutupi kedua iris sewarna rambutnya agar tidak silau.

"Kau habis bermimpi?" surai merah dan heterokrom terpantul di kedua iris baby blue.

"Ya, Akashi-kun." Si pemilik iris dan surai baby blue itu membalas singkat.

"Ayo, kita segera ke ruang makan. Aku sudah menyiapkan beberapa makanan meski itu hanya makanan sederhana."

"Akashi-kun yang membuatnya sendiri?"

Akashi Seijuurou, nama lengkap pemilik heterokrom itu, mengangguk.

Dan Kuroko Tetsuya, si pemilik surai baby blue tentunya, terduduk dan membuat selimut yang satu-satunya menutupi tubuh pucatnya tersingkap, membuat tubuh bagian atasnya terekspos. Terlihat beberapa bercak merah tergambar di beberapa bagian tubuhnya.

"Lihat betapa indahnya tubuhmu sekarang, Tetsuya."

Menghiraukan semburat merah di kedua pipinya, Tetsuya kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.

"A...Akashi-kun...hentikan...!"

Akashi terkekeh. Di pungutnya kembali seragam Seirin yang dikenakan Tetsuya kemarin. Dan kemudian memberikannya pada Tetsuya.

"Mandilah terlebih dahulu. Setelah sarapan, aku akan mengantarmu pulang."

"Apa Akashi-kun juga akan kembali ke Kyoto?"

"Entahlah, Mungkin nanti sore."

"Kalau begitu, kenapa tidak berkunjung ke rumahku dulu? Kita bisa bermain mini game atau menonton CD. Hari ini kedua orangtuaku ada acara reuni."

#

"Tadaima!" ujar Tetsuya. Namun tak ada sahutan. "Mungkin orangtuaku sudah pergi, Akashi-kun. Kalau Izaya-nii mungkin sedang di kamar."

Akashi hanya diam mengikuti langkah kaki pemuda baby blue di depannya. Sesampainya di ruang tamu, Tetsuya menghentikan langkahnya, dan otomatis Akashi pun ikut berhenti.

"Izaya-nii?"

Karena penasaran, Akashi maju beberapa langkah untuk melihat apa yang Tetsuyanya lihat. Ternyata seorang pemuda baby blue lain yang sedang berbaring tidur di sofa ruang keluarga itu. Tetsuya pun menghampiri sang kakak yang masih terlelap itu.

"Izaya-nii! Bangun, Izaya-nii! Sudah pagi," Tetsuya menggoncang-goncangkan tubuh Kuroko Izaya yang terlihat begitu kurang nyaman karena kekurangan tempat untuk tidur.

Beberapa detik kemudian, kedua iris baby blue sang kakak mulai terbuka. Melihat sosok sang adik, spontan Izaya mengulurkan tangannya ke leher belakang Tetsuya dan menariknya untuk mendekat.

Detik berikutnya, kedua bibir saudara kembar itu saling bertaut. Akashi yang melihatnya hanya bisa melebarkan kedua kelopak mata heterokromnya.

"Ohayou, Tetsu," sapa Izaya mengakhiri ciuman singkatnya.

"O-Ohayou, Izaya-nii. Tapi tolong jangan gunakan 'salam selamat pagi' seperti itu lagi. Kita sudah besar."

Kedua manik aquamarine Izaya menyipit. Melihat Tetsuya menoleh ke samping, Izaya pun terduduk dan mengikuti pandangan adiknya.

Dan barulah sang kakak mengerti kenapa Tetsuya berkata demikian. Seorang pemuda crimson sedang berdiri di sana, di depan pintu ruang keluarga tepatnya.

"Duduklah kemari, Akashi-kun. Akan aku buatkan minum dulu dan mengambil beberapa cemilan," kata Tetsuya.

"Persiapan untuk apa, Tetsuya?" tanya Izaya dengan rambut berantakannya yang mencuat kesana kemari.

"Aku dan Akashi-kun akan menonton film yang barusan aku beli, Izaya-nii. Lalu setelah itu kami akan bermain mini game dan juga shogi. Izaya-nii boleh ikut jika ingin."

Seperginya Tetsuya menuju dapur, hanya ada keheningan di antara si pemuda crimson dan baby blue itu. Kedua pasang manik heterokrom dan baby blue itu sedikitpun tidak bergeser hanya untuk bertemu satu sama lain. Mereka lebih memilih melihat sekeliling ruangan atau memejamkan mata.

Hingga Tetsuya yang sudah berganti pakaian kembali dengan membawa senampan minuman dan cemilan serta CD yang akan mereka tonton, keheningan itu masih menguar. Tetsuya menghidupkan televisi di sana dan memasukkan CD yang ia bawa ke dalam CD player, membuat suara televisi yang hanya mengisi suara disana. Setelah itu, Tetsuya menyusul Akashi dan Izaya yang telah duduk di sofa.

"Jadi..." beberapa menit kemudian, akhirnya Izaya yang duduk di sofa paling tepi sebelah kanan menghadap televisi memecah keheningan di antara mereka bertiga itu. "...apa saja yang kalian lakukan kemarin?"

Seolah tersengat listrik, tubuh Tetsuya dan Akashi menegang. Selang beberapa detik, keheningan tadi kembali menyelimuti mereka.

"Apa kalian memulainya dengan bercumbu?" karena merasa tidak ada jawaban, Izaya melanjutkan. "Pasti begitu. Dan setelah itu kalian akan saling menggerayangi tubuh satu sama lain. Seperti di atap sekolah kemarin."

"I-Izaya-nii...hentikan, apa yang kau bicarakan?" Tetsuya yang duduk di tengah mulai kikuk, terlihat semburat merah di kedua pipinya.

"Kenapa kau diam saja, Seijuurou?" Izaya menghiraukan ujaran adiknya. "Aku yakin kau pasti senang menjamah tubuh Tetsuya, memainkan kedua putingnya dan bahkan miliknya."

"Izaya-nii...!" muka Tetsuya makin merah padam.

"Kau tidak berkata-kata karena kau membayangkan malam minggumu kemarin dengan Tetsuya, Seijuurou? Ketika kau mengulum, menjilat, serta menghisap milik Tetsuya seolah-olah itu adalah permen lollipop?"

Akashi tetap memilih untuk diam. Dalam hati, ia berharap agar si kembaran Tetsuya itu tidak lagi melanjutkan ucapannya. Sungguh, bagaimana hanya dengan menebak apa yang dilakukannya kemarin, dan semua itu hampir benar karena Tetsuya tidak ikut menggerayangi tubuhnya, Izaya mampu membuat Akashi merasa bahwa celana yang ia kenakan makin sesak. Ia merutuk dalam hati, seharusnya ia tidak usah kemari. Dan bagaimana seorang Kuroko Izaya bisa mengucapkan semua itu begitu ringan, seolah topik itu adalah topik yang biasa digunakan untuk bahan obrolan.

Tetsuya ikut terdiam. Ia tak menyangka Izaya akan berkata panjang lebar, apalagi topik yang dibicarakannya itu membuatnya ingin membungkam mulut sang kakak. Apa kakaknya tidak lagi kesal? Atau sebaliknya, makin kesal sampai-sampai mengutarakan itu semua? Ah, yang manapun itu, entah kenapa ucapan kembarannya bisa membuat celananya terasa begitu sesak.

"Oh, lihat. Bahkan milik kalian sudah menegang, minta diperhatikan karena kekurangan tempat disana."

Akashi dan Tetsuya tersentak. Reflek, keduanya menutupi bagian yang disebut Izaya. Tetsuya mengapitkan kedua tangannya di antara kedua kakinya, sedangkan Akashi hanya membetulkan posisi duduknya dengan menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Keduanya sama-sama makin berkeringat dingin. Jangan sampai Izaya masih melanjutkan kata-katanya lagi.

"Kalian berharap aku menghentikan ucapanku? Baiklah."

Mendengar kata terakhir, Akashi dan Tetsuya spontan menghela nafas lega.

"Karena yang terakhir, kalian pasti ke tahap memasuki dan dimasuki. Aku jadi penasaran senikmat apa kalian melakukannya."

"Izaya-nii!" sang adik spontan berteriak karena terkejut kakak kembarnya masih menambahkan kata terakhir.

"Apa, Tetsuya?" balas sang kakak. "Kalau kau ingin aku benar-benar berhenti, cium aku Tetsuya. Hanya kecupan singkat saja."

Dengan malu-malu, Tetsuya melirik si pemuda bersurai merah di sebelahnya. Namun, karena ia memalingkan muka, menopang dagunya dan menghadap ke arah lain, Tetsuya tak bisa menebak ekspresinya.

"Tak usah meminta izin Seijuurou, Tetsuya." Mengerti pikiran Tetsuya, Izaya menyahut. "Lakukan seperti yang biasa kita lakukan seperti dulu. Atau kau benar-benar ingin aku melanjutkan ucapanku?"

Baiklah, mau bagaimana lagi. Jika si kakak kembar sudah berkata demikian, maka si adik kembar harus segera melaksanakan. Tetsuya sedikit berdiri untuk meraih bibir kakaknya. Dan kecupan singkat itu pun berhasil didapatkan Izaya. Kedua sudut bibirnya sedikit terangkat.

Dan diam-diam tangan kanan Akashi mengepal, dahinya berkerut. Kuroko Izaya membuatnya benar-benar cemburu.

Izaya tahu Akashi tengah diliputi cemburu. Ia memandang tubuh Tetsuya sejenak sebelum akhirnya disingkapkannya kaos putih bergaris biru yang dipakai Tetsuya itu.

"Harusnya Tetsuya masih milikku." Izaya menatap datar, namun kelopak matanya terbuka lebar, pada bercak-bercak merah yang ditemukannya di beberapa bagian tubuh Tetsuya.

Tak tahan lagi, Akashi menarik tangan Tetsuya mendekat kepadanya, membuat pegangan Izaya pada kaos Tetsuya terlepas. Dan detik berikutnya Akashi menarik wajah Tetsuya, meraup bibir mungil yang habis memberikan ciuman kepada saudaranya, seolah Akashi ingin mengambil kembali ciuman itu.

"Tetsuya juga akan menjadi milikku, Oniisan."

Dan kedua iris baby blue Izaya makin berkilat. Sudut-sudut bibirnya makin terangkat.

To Be Continued

.

.

.

(A/N)

Bagi author yang masih newbie, bikin multichap itu emang susah. Jadi maaf kalau tiap chapter ceritanya masih pendek-pendek.

Dan author benar-benar minta maaf untuk jalan ceritanya. Awalnya cerita antara Izaya dan Akashi di ranjang itu author bikin untuk hukuman dari Izaya buat Akashi. Tapi karena sepertinya alur itu melenceng dan banyak readers yang protes, syukur-syukur juga diingatkan, jadi author ganti jalan ceritanya. Makanya mungkin jadinya agak-agak absurd gini.

Dan sampai chapter ini, author jadi melupakan Kisedai yang lain *gigit tisu. Semoga segera dapat inspirasi untuk pertemuan Izaya dengan Kisedai yang lain, karena bagi Kuga multichap itu susahnya disini. Author juga jadi merindukan lemparan gunting Akashi.

Terima kasih sama yang udah review dan mengingatkan, ini balasan singkatnya.

Kurotori Rei-san : Arigatou for review. Kasihan mereka kalau diganggu Izaya terus, hehe. Dan maaf karena adegan bertandingnya yang menunjukkan misdirection Izaya sedikit sekali.

Flow . L-san : Arigatou gozaimasu. Maaf untuk jalan ceritanya, karena awalnya author pikir Akashi melakukan itu karena hukuman dari Izaya. Tapi karena melenceng dari pairingnya, jadi author ganti alurnya. Maafkan author karena buta arah akut. Dan Akashi sama Izaya nggak bakal author bikin saling mencintai, kok. (bungkuk-bungkuk)

Myadorabletetsuya-san : Arigatou for review. Dan terima kasih sudah mengingatkan. Kalau ada ada adegan itu, Akashi jadi benar-benar selingkuh ya. Gomen, gomen (bungkuk-bungkuk, lagi)

Lee Kibum-san : Arigatou. Seme yang mesum itu juga tipe kesukaan author *plak. Tapi kalau misal ada adegan Izaya narik Tetsuya pulang, author jadi nggak tega nulisnya.

Sarashiina-san : Arigatou, Shiina-san. Ini nih yang bikin author kembali ke jalan yang benar. Shiina-san nggak perlu sujud lagi karena alurnya sudah berubah. Dan entah kenapa author merasa makhluk paling rendah karena sudah membuat readers sampai bersujud dan memohon. -_-

Seidocamui-san : Arigatou. Kalau hari-hari biasa, author nggak mungkin bisa update kilat karena tugas di kehidupan nyata mencekik author. Maaf karena author hanya bisa update saat weekend. Tapi Kuga akan terus berusaha lanjut, hehe.

Kuu-chan : Arigatou, Kuu-chan. Terima kasih karena udah baca dan mau ngasih author semangat.

Arigatou gozaimasu, minna-san ^o^)/ See you in the next chapter. Thanks again for RnR.