Aku akan berdiri dan tetap tersenyum
Meski senyummu tidak selalu disampingku
Tapi aku harap kau tahu bahwa itu adalah bagian dari hidupku
Karena kita adalah satu
.
.
"Lakukan seperti yang biasa kita lakukan dulu, Tetsuya. Atau kau benar-benar ingin aku melanjutkan ucapanku?"
Heterokrom dari sang pemilik bersurai merah melebar. Mereka biasa melakukannya? Dan kemudian sepasang scarlet-gold itu bergeser ke sudut matanya melihat sepasang kembar yang sedang berpagut di sebelahnya.
Dia pasti sengaja. Kuroko Izaya pasti sengaja memamerkannya. Tanpa disadarinya, kedua tangan Akashi Seijuurou, nama dari pemilik surai merah itu, mengepal. Dan satu lagi yang Akashi tahu. Bagi Tetsuya, ucapan Izaya adalah absolut. Sifat kakak kembar Tetsuya bagai cermin bagi Akashi.
Detik berikutnya, Akashi kembali dikejutkan oleh aksi Izaya.
"Harusnya Tetsuya masih milikku."
Didapatinya Izaya yang tengah menyingkap kaos putih bergaris biru yang dikenakan Tetsuya. Kedua manik baby blue Izaya berkilat memandang bercak-bercak merah di dada dan perut Tetsuya yang dibuat oleh Akashi. Cukup, dia benar-benar memancing Akashi.
Ditariknya Tetsuya ke dekapannya, membuat tangan Izaya terlepas dari kaos Tetsuya dan kaos itu kembali menutupi dada dan perutnya. Dan tanpa membiarkan satu detik pun terlewat, disahutnya bibir Tetsuya, seolah tidak ingin ciumannya diambil lagi.
"Tetsuya juga akan menjadi milikku, Oniisan."
Heterokrom Akashi membalas kilatan sepasang baby blue Izaya.
.
.
"Twins of Kuroko" by Aragaki Kuga
Disclaimer : Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Warning : gaje, typo, shounen ai, twin!Kuroko, OOC, alur cepat, dll
AkaKuro
DLDR
.
.
.
Tetsuya tak pernah terlalu memperhatikan kedua bola matanya sendiri. Jika tidak karena kakak kembarnya, ia mungkin tidak akan pernah merasa terkagum-kagum dengan sepasang aquamarine itu. Iris aquamarine Izaya berkilat-kilat, menampakkan kemurnian warna biru langit musim panas disana. Tatapan Tetsuya terpaku pada dua langit yang tergambar di mata saudaranya. Apakah bola matanya juga bisa jadi seindah itu?
Namun pikiran Tetsuya buyar kala ia menyadari pandangan Izaya kini tertuju ke arahnya. Lalu sang kakak berdiri dan memejamkan matanya, menyembunyikan kilatan yang dikagumi Tetsuya.
"Aku akan keluar sebentar, Tetsuya. Sepertinya aku merindukan vanillashake di Maji Burger."
Seiring dengan langkah Izaya yang makin menjauh, Tetsuya membetulkan posisi duduknya di sofa. Sementara heterokrom Akashi terpaku pada belakang kepala Izaya, memerhatikan bagian rambut belakangnya yang terlihat lebih panjang. Sedang hidungnya menangkap sekelebat aroma vanilla yang menguar dari sosok yang baru saja melintas didepannya.
"Dan Seijuurou-kun, apapun yang kau lakukan pada Tetsuya, aku pasti akan mengetahuinya."
Izaya memegang kenop pintu dan memutarnya, membuat pintu itu terbuka. Setelah menutupnya kembali, si putra sulung keluarga Kuroko itu membuka gerbang rumahnya dan menatap jalanan di depannya. Sebuah helaan lolos dari mulut si remaja bersurai baby blue itu sebelum kakinya mulai melangkah menyusuri jalanan itu.
Bukankah dengan keluar dari rumah, akan memberi kesempatan pada mereka berdua? Tapi, entah kenapa, rasanya Izaya ingin segera keluar dari ruangan itu. Menjauh dari sosok mereka berdua. Entah karena tidak ingin melihat hubungan mereka, atau takut jika perasaannya yang sudah dipendamnya dalam-dalam tergali hanya karena cemburu.
#
Seorang remaja bersurai merah kehitaman dengan alis yang terbelah selesai memesan burger dengan jumlah yang tidak normal. Ia pun meletakkan nampan berisi burger yang dipesannya tadi di salah satu meja. Sambil membuka plastik salah satu burger yang diambilnya, pandangan matanya tertuju ke pemandangan di luar jendela sebelah kirinya.
Sang remaja melahap satu gigitan burgernya dengan nikmat. Hingga akhirnya kenikmatan itu berakhir ketika ia menyadari adanya sebuah makhluk Tuhan bersurai baby blue di depannya. Langsung saja segigit burger itu menyumbat kerongkongannya.
"Uhuk…uhuk… apa yang kau lakukan disini, Kuroko?"
"Aku lebih dulu disini, Taiga-kun."
Si remaja yang bernama Kagami Taiga itu langsung terdiam begitu menyadari bahwa yang di depannya bukanlah si bayangannya. Namun, meski begitu, mereka berdua sama-sama memiliki hawa keberadaan yang tipis. Dan apa itu tadi, dia memanggil nama kecilnya? Dia bukan si kapten merah pecinta gunting itu, kan. Ah, lupakan itu. Kagami melirik ke arah pesanan si saudara Tetsuya di depannya. Segelas vanilla milkshake? Oh, orang ini tidak jauh beda dengan si adik ternyata.
"Kau hanya memesan segelas vanillashake itu?" Tanya Kagami membuka percakapan.
Kuroko Izaya meletakkan minuman yang baru diseruputnya kembali ke meja. "Aku menyukai vanilla milkshake di restoran ini. Apa ada yang salah?"
Oh, jawaban yang tidak jauh berbeda dengan jawaban Tetsuya dulu ketika Kagami mengajukan pertanyaan yang sama dimana mereka belum lama mengenal. Namun tidak untuk kalimat yang terakhir. "Tidak, tidak. Hanya saja kau benar-benar mirip Kuroko," Kagami terdiam sejenak mendengar kata-katanya yang rancu. "Uhm... Kuroko Tetsuya…maksudku."
"Entah itu pujian atau apa, tapi, terima kasih, Taiga-kun."
"Kau tidak bersamanya?"
Izaya kembali menyeruput minuman kesukaannya dan kembali meletakkannya di atas nampan. "Tidak. Tetsuya baru saja pulang dari acara malam minggunya. Dan kini ia di rumah bersama Seijuurou-kun."
"Akashi?"
"Kau sendiri?"
Kagami membuka plastik burger yang lain dan memberikan Izaya satu yang dibalas ucapan 'terima kasih' darinya. "Aku juga sendiri. Tapi setelah ini Kise dan Aomine mengajakku bermain basket di lapangan jalanan. Mungkin kau mau ikut?" Entah kenapa Kagami merasa sedikit canggung saat mengajaknya.
"Boleh," namun Izaya membalasnya dengan senyuman tipis, membuat Kagami menghembuskan nafas lega. Jika dari depan wajahnya benar-benar mirip Tetsuya.
Dan mereka pun menuju lapangan basket jalanan yang dimaksud Kagami seusai dari restoran siap saji yang barusan mereka kunjungi. Izaya hanya mengekor dibelakang Kagami sambil menyeruput vanilla milkshakenya yang belum habis tadi.
"Kagamicchi~"
Izaya menoleh ke arah sumber suara. Terlihat disana, seorang remaja pirang melambaikan tangan ke arah Kagami. Disebelahnya berdiri remaja lain bersurai hijau memegang bola orange yang biasa mereka mainkan.
"Mana si Ahomine?" Tanya Kagami setelah menghampiri remaja pirang bermanik madu itu.
"Aominecchi tidak bisa datang karena Momocchi meminjamnya ssu. Lalu karena kebetulan aku bertemu Midorimacchi jadi aku mengajaknya ssu," jawabnya riang sambil menoleh ke remaja bersurai hijau di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan si threepoint shooter Shutoku, Midorima Shintarou. Kemudian sesosok remaja bersurai baby blue terpantul di kedua bola mata madunya. "Kurokocchi~"
Si pemuda pirang bernama Kise Ryouta yang begitu senang bertemu dengan pemuda yang dirindukannya spontan bersiap untuk memeluknya.
CKRIS…
Namun, gerakannya terhenti di udara bersamaan dengan pantulan cahaya yang mengenai sebuah gunting merah yang diacungkan Izaya tepat ke muka sang model itu, yang entah sejak kapan gunting itu dikeluarkan.
Kise bisa mati! Teriak batin Kagami dan Midorima ikut membatu seketika. Memangnya dia jelmaan Akashi?!
"Hidoi, Kurokocchi~" rengek Kise. "Dan sejak kapan kau bawa-bawa gunting seperti itu ssu," Kise masih gemetar mengingat beberapa detik lalu nyawanya hampir melayang.
"Ah, ini gunting yang aku ambil diam-diam dari Seijuurou-kun."
"Se-Seijuurou-kun? Bagaimana bisa na-nanodayo. Dan kenapa kau memanggil dengan nama i-itu?" Midorima tak bisa membayangkan bagaimana remaja pecinta vanilla milkshake di depannya ini mendapatkan gunting keramat Akashi.
"Ano… dia bukan Kuroko Tetsuya, tapi Kuroko Izaya," sahut Kagami.
"Kuroko…Izaya?" ucap Kise dan Midorima bebarengan.
"Hajimemashite, Kuroko Izaya desu. Aku kakak kembar Tetsuya." Izaya ikut menyela dan memperkenalkan diri.
"Kakak kembar?" dan Kise serta Midorima kembali mengucapkan bebarengan. Sepasang manik madu dan emerald itu mengamati Izaya dari bawah sampai atas. Parasnya benar-benar mirip dengan Tetsuya. Hanya saja ia terlihat lebih tinggi. Bagaimana ia bisa lebih tinggi? Bukankah mereka kembar? Batin mereka. Dan beberapa helai rambut Izaya bagian belakang yang terlihat sengaja dipanjangkan ikut terpantul di indra penglihatan mereka.
"Jangan-jangan kau Kuroko yang lebih tinggi yang aku dan Takao temui kemarin?" terka Midorima.
Izaya menatap tajam ke arah Midorima. "Bagaimana aku bisa tahu?"
Dan ketiga makhluk lainnya merinding disko melihat kilatan mata Izaya yang begitu mirip Akashi, hanya saja kali ini bukan heterokromatik, hanya sepasang gambaran langit biru yang begitu indah namun juga begitu menusuk.
"Ah, etto… boku wa Kise Ryouta desu," Kise mencoba mencairkan suasana dan mengulurkan tangan sambil tersenyum, namun masih rada-rada takut. Kenapa aku seperti berhadapan dengan Akashicchi begini ssu, pikirnya.
Dan Izaya pun membalas uluran tangan Kise, terlihat senyuman tipis tersungging di bibirnya, membuat ketakutan Kise agak menguap.
"Midorimacchi!" bisik Kise. "Cepat perkenalkan dirimu juga!"
Midorima menghela nafas sejenak sebelum tangannya terulur. "Midorima Shintarou desu."
Namun Midorima dibalas dengan tampang puppy eyes dari Izaya. "Kau tidak tulus berkenalan denganku?"
Demi Tuhan, Kuroko Izaya terlalu imut! Sudah pasti karena faktor parasnya yang mirip dengan Tetsuya itu ia bisa meluluhkan hati sang Tsundere. Sampai-sampai membuat si threepoint shooter itu melupakan sifat aslinya.
Semburat merah tipis tersirat di kedua pipi Midorima melihat tampang Izaya yang begitu imut seperti Tetsuya. Kemudian ia membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak bergeser kemana-mana. "Tentu saja aku tulus, nanodayo." Dan ia kembali mengulurkan tangannya. "Namae wa Midorima Shintarou desu."
Dan Izaya kembali membalas uluran tangan Midorima dan kembali tersenyum tipis kepada Midorima. Namun entah kenapa Kagami dan Kise yang melihat itu hanya bisa sweatdrop.
"Kagamicchi, apa kau merasakan perubahan aura Kurokocchi?" Tanya Kise serasa merinding.
"Apa yang kau maksud aura hitam yang tertahan itu, Kise?" jawab Kagami juga sedikit merinding.
Dan menit berikutnya, kini mereka berhadapan di lapangan yang sama. Maksudnya bermain basket, tenang saja bukan tawuran (*digampar). Kagami berpasangan dengan Izaya dan Kise dengan Midorima.
"Aku sama seperti Tetsuya, aku adalah bayangan. Hari ini, aku yang akan menjadi bayanganmu, Taiga-kun. Dan akan aku tunjukkan bahwa kegelapanku lebih pekat dari Tetsuya," ucap Izaya kepada Kagami sebelum bertanding.
Kagami tersenyum puas, lalu tertawa. "Heh…percaya dirimu persis Kuroko. Baiklah, Kuroko Izaya. Buktikan kepadaku."
#
Beberapa jam telah berlalu, namun kedua pasangan yang masih asyik bertanding belum kehilangan semangat mereka meski sudah banyak peluh yang diekskresikan dari tubuh mereka. Hingga akhirnya permainan mereka hentikan karena matahari terik makin terasa serta kebutuhan tubuh mereka untuk mengganti cairan yang hilang tak luput juga untuk mengistirahatkannya.
Skor akhir dimenangkan oleh pasangan Kagami dan Izaya dengan 286 melawan 277. Entah berapa babak lamanya mereka bermain.
"Aa~ kita kalah, Midorimacchi." Kise merengek seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainannya.
"Ini hanya permainan, nanodayo," balas Midorima sambil membetulkan kacamatanya.
"Yosh!" ujar Kagami meneriakkan kemenangannya.
"Terima kasih atas permainannya," tambah Izaya.
"Kau mengucapkannya seperti habis makan saja, Kuroko," sela Kagami.
Tanpa mereka sadari, sebuah tepukan tangan menyela diantara empat makhluk warna-warni itu. Spontan keempat remaja itu menoleh ke sumber suara. Dan terlihatlah surai crimson seorang pemuda dengan heterokromatik khasnya.
"Akashi?"
"Sudah selesai? Boleh aku meminjam Kuroko Izaya? Ada yang ingin kubicarakan dengannya."
Begitu yang diucapkan sang tuan muda Seijuurou. Membuat keempat orang yang baru saja bermain basket itu menggumamkan "Hah?!" bersamaan layaknya paduan suara.
.
.
Dan beberapa detik setelahnya, makhluk berkepala merah gelap, kuning, serta hijau sweatdrop melihat dua makhluk scarlet dan baby blue berjalan beriringan meninggalkan mereka. Apalagi melihat Akashi berjalan dengan kembaran Kuroko yang lebih tinggi darinya menambah pengalaman melihat momen langka bagi mereka.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Izaya memecah keheningan.
Akashi diam sebentar. "Kau mencintai Tetsuya?"
Kedua iris baby blue Izaya menyipit, merasa tak suka pertanyaannya juga dibalas dengan pertanyaan. Meski dalam hatinya itu bukanlah alasan yang sebenarnya. "Kau yakin hanya ingin bertanya hal bodoh macam itu?"
"Itu hanya sebuah awalan. Jadi menurutmu itu bodoh?"
Izaya melengos. Lagi-lagi pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
Akashi kembali terdiam. Rupanya orang yang berjalan disebelahnya ini tidak suka basa-basi. Ia benar-benar merasa berhadapan dengan dirinya yang lain.
"Kalau jawabannya tidak, tentu saja aku bisa tenang. Kalau jawabannya iya…" Akashi menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan. "…berarti aku menganggapmu sebagai saingan. Jujur saja, aku belum pernah menganggap siapapun sebagai saingan."
Manik baby blue Izaya kembali berkilat. "Bilang saja kau juga ingin memiliki Tetsuya."
Akashi hanya diam. Namun, Izaya tahu diamnya Akashi menandakan bahwa tidak ada penolakan darinya.
"Terserah apapun permintaanmu itu, Seijuurou-kun."
Sepasang heterokrom Akashi sedikit melebar. Tentu saja ia mengira ada yang salah dengan pendengarannya, Izaya merestuinya?
"Tapi tentu saja aku punya syarat."
Dan sepasang heterokrom menatap sepasang baby blue dengan pandangan bertanya.
#
Tetsuya baru saja selesai mandi ketika ia mendengar suara pintu depan terbuka.
"Tadaima!"
Suara sang saudara kembar memasuki indra pendengarannya. Dan tanpa sadar, seulas senyum tipis tersungging di bibir mungilnya.
"Okaerinasai, Izaya-nii," balas Tetsuya begitu kedua aquamarine bertemu.
"Otousan dan Okaasan belum pulang?"
"Belum. Sepertinya mereka berdua pergi ke tempat lain dulu."
Keheningan menyeruak begitu Tetsuya mengakhiri kalimatnya. Wajah datar Izaya masih terpaku pada wajah Tetsuya yang sama datarnya. Entah kenapa Tetsuya merasa aneh. Bukannya Tetsuya risih dengan pokerface Izaya, ia malah terbiasa dengan itu. Yang membuat ia merasa aneh ialah maksud yang tersirat di kedua kelereng aquamarine kakaknya. Tatapan itu begitu memaku pandangannya. Apa yang ingin disampaikan Izaya?
Langkah kaki Izaya bergerak menuju Tetsuya yang masih berdiri termenung di ruang keluarga itu, menghilangkan jarak demi jarak. Begitu jarak keduanya sudah cukup dekat, tangan kanan Izaya terulur menangkup pipi kiri Tetsuya.
"I-Izaya…-nii?"
Kedua langit musim panas Izaya terlihat begitu sayu, namun tetap mampu menghipnotis Tetsuya. "A-ada apa?" tanyanya.
Mulut Izaya sedikit terbuka, namun belum ada satu katapun yang terlontar.
"Tetsuya…"
Hingga akhirnya hanya sebuah nama itu yang terdengar sebelum kata-kata yang akan merubah hidup mereka dikeluarkan oleh Izaya.
To Be Continued
.
.
.
(A/N)
Hontou ni gomenasai! Maaf karena baru update. Karena faktor laptop author rusak serta banyak tugas karena author masih pelajar. Author sendiri greget banget pingin update tapi kepayahan.
Aduh, bahkan alur pun kacau. Maaf juga karena Murasakibara tidak bisa Kuga libatkan karena bingung mau dibuat gimana. Maafkan keteledoran author. Bukannya Kuga mendiskriminasi Mukkun. TTvTT
Dan Kuga akan mengusahakan chapter depan adalah last chapter karena Kuga ingin segera bikin cerita yang baru. Kalau fic ini belum tamat rasanya belum bisa tenang -_-;
Sekian cerocosan author, sekali lagi maaf yang sebesar-besarnya atas typo dan kekurangannya karena author terburu-buru mengetiknya. (bungkuk-bungkuk)
Dan untuk balasan reviewnya, yang sekali lagi maaf telat :
Hanabee-c-san : Arigatou for review. Justru disitulah menariknya XD Seperti Akashi vs other Akashi
MySa-san : Arigatou reviewnya. Syukur banget deh kalo fic ini bisa bikin greget sekaligus tegang, hehe… :D
Flow . L –san : Arigatou for review. Author bersyukur kalo bisa menghibur Flow-san. Tapi kalau soal fic yang panjang, mungkin author pada dasarnya nggak terlalu jago dan lebih suka bikin yang oneshot. Gomenasai.
Beb bee blue-san : Arigatou for review. Nama yang sangat aneh, haha. Beb bee sayang, kamu kelihatan banget tipe orang yang mesum (emang author sendiri nggak). Lain kali Kuga akan berusaha biar alurnya nggak kecepatan.
Shizuka Miyuki-san : Arigatou reviewnya, Miyuki-san. Maaf kalau author nggak bisa bikin fic yang panjang. Dan author belum pernah tau cerita atau tokoh di Durarara, jadi kalau ada kesamaan nama dan sifat itu hanya suatu kebetulan.
sofi asat-san : Arigatou for review. Terima kasih komennya. :3
Arigatou gozaimasu, minnacchi ^v^
See you in the next chapter, and thanks for RnR.
