Bersama Bunga Matahari

Yang menjulang tinggi menghadap mentari

Jika itu dipadukan dengan kilat bola matamu

Itulah duniaku

.

.

"Terserah apapun permintaanmu itu, Seijuurou-kun. Tapi tentu saja aku punya syarat."

Heterokrom Akashi menyiratkan pandangan bertanya pada manik baby blue Izaya. Jika dilihat-lihat, sepasang bola mata beda warna itu pun begitu bulat. Andaikan sifatnya bertolak belakang mungkin seorang Akashi Seijuurou adalah orang terimut kedua setelah Tetsuya.

Setelah sepintas mengamati scarlet-gold Akashi, Izaya menunduk memperhatikan jalan yang dilaluinya. Namun, Akashi tahu pikiran Izaya tidak terpaku pada trotoar itu.

"Tetsuya adalah segalanya bagiku. Jika suatu saat nanti kau terikat hubungan sah dengannya..." Izaya menggantungkan ucapannya, entah mungkin karena membayangkan masa depan atau masa lalu ketika Akashi meminta restu padanya. "...aku tidak akan segan-segan menarik dan membawa Tetsuya bersamaku kalau kau berani membuatnya meneteskan bulir air mata sia-sia, meski orang itu adalah kau, Seijuurou-kun."

.

.

Dan kini Izaya tengah berjalan seorang diri sementara Akashi sudah kembali ke Kyoto. Ia masih mengingat ucapannya sendiri beberapa menit yang lalu ketika bersama Akashi.

'Tetsuya adalah segalanya bagiku'. Izaya termenung. Apa perlu ia mengimbuhkan kata 'itu dulu' di akhir kalimatnya? Namun ia membuyarkan pikirannya begitu sebuah rumah sederhana bercat putih dan bertuliskan marga 'Kuroko' di sisi kiri pagar memantul di sepasang iris biru langitnya.

Izaya membuka gerbang dan memasuki rumah itu yang tak lain adalah tempat tinggalnya bersama orang tua serta adik kembarnya.

"Tadaima!" ujar Izaya seraya menutup pintu dan melepas sepatunya. Dengan perasaan heran karena tidak ada jawaban yang didapatnya, Izaya segera beranjak.

"Okaerinasai, Izaya-nii." Dan suara yang hampir tidak jauh beda dengan suara Izaya sendiri itu terdengar bersamaan ditemukannya Tetsuya di ruang keluarga. Sepertinya ia habis mandi karena terlihat sebuah handuk tersampir di lehernya.

"Otousan dan Okaasan belum pulang?"

"Belum. Sepertinya mereka pergi ke tempat lain dulu."

Oh, berarti kini di rumah hanya ada mereka berdua. Izaya hanya diam menatap lekat-lekat iris baby blue Tetsuya, tidak peduli dengan keheningan yang kini tengah menyelimuti mereka. Ia kembali mengingat beberapa menit yang lalu ketika ia masih tengah berjalan bersama Akashi.

Suatu hari nanti, adik kembar kesayangan didepannya ini akan menjadi milik Akashi. Tanpa sadar, kakinya kini melangkah mendekati Tetsuya yang masih heran dan terpaku dengan bola mata Izaya yang sama dengan bola mata Tetsuya sendiri. Tangan kanannya menyapu lembut pipi kanan Tetsuya. Suatu hari nanti akan tiba dimana ia tidak bisa melakukan hal macam ini setiap saat.

"I-Izaya...-nii? ...Ada apa?"

Sebuah panggilan yang terlontar dari mulut Tetsuya menyadarkan Izaya kembali ke masa sekarang. Mulutnya terbuka, namun ragu untuk mengucapkan kata-kata.

"Tetsuya..."

Berat. Entah kenapa sebuah nama yang menjadi bagian dari hidupnya itu berat untuk diucapkan.

.

.

"Twins of Kuroko" by Aragaki Kuga

Disclaimer : Kuroko no Basuke selamanya milik Tadatoshi Fujimaki

Warning : gaje, typo, shounen ai, twin!Kuroko, OOC, alur cepat, abal (maybe), dll

AkaKuro

Rated M

DLDR : )

.

.

.

Tetsuya mengerjap beberapa kali. Apa sang saudara kembar mengalami suatu kejadian saat ia keluar tadi sehingga menjadi aneh seperti ini?

Sesaat kemudian Izaya menurunkan tangannya, namun kedua manik baby bluenya masih terpaku pada sang saudara yang beberapa senti lebih pendek darinya yang masih berdiri di depannya ini. Dan kini seulas senyum tipis namun mampu menghipnotis Tetsuya tersungging di bibir Izaya.

"Aku akan jujur tentang semuanya, Tetsuya."

Tetsuya mengerjap, lagi. Baiklah, kini Tetsuya benar-benar penasaran kejadian apa yang sudah menimpa Izaya sehingga membuat sang kakak benar-benar aneh.

"Pertama, tentang kepindahanku ke London lima tahun lalu."

Kini baby blue Tetsuya makin membulat bersamaan melebarnya kelopak mata. Jadi ia punya alasan sendiri? Bukan hanya sekedar keinginan? Sebelum Izaya mulai melanjutkan, Tetsuya dapat menangkap getaran di bibir kakak kembarnya yang masih tersenyum tipis.

"Aku mencintaimu, Tetsuya. Lebih dari sekedar seorang saudara."

Dan baby blue Tetsuya membulat sempurna.

"Namun aku tahu harusnya itu tak boleh." Izaya buru-buru melanjutkan melihat keterkejutan sang adik kembar. "Karena itu, lima tahun lalu aku pindah ke London, menghindarimu, membuang perasaan ini jauh-jauh, melawan kerinduan yang makin lama makin membesar, berpacaran tanpa perasaan yang sebenarnya. Semua itu kulakukan untuk membunuh perasaan terlarang ini."

Keheningan kembali menyeruak. Otak Tetsuya masih mencoba mencerna deretan kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut kakaknya. Semua itu dilakukannya demi dirinya? Dan beberapa detik kemudian wajah datar khasnya mulai terlihat. Sebuah senyuman tipis ikut menghiasi air mukanya. Tangan kirinya terulur menyapu lembut pipi kanan sang kakak kembar yang lebih tinggi darinya. Dan kini membuat keadaan berbalik. Kelopak mata Izaya melebar.

"Daijoubu, oniichan. Kau hanya perlu mengingat bahwa aku adik kembarmu. Aku juga menyayangimu lebih dari apapun, selamanya, sebagai saudaraku. Berpisah darimu selama lima tahun juga membuatku tersiksa dengan kerinduan yang mencekikku. Apa jika perasaan terlarangmu itu tumbuh kembali, apa kau akan pergi lagi meninggalkanku?"

Kilat mata Izaya meredup sesaat. Dari penuturan sang adik barusan, ia menyimpulkan. Dirinya bersalah. Secara tak langsung ia sudah melibatkan sang adik yang justru menjadi alasannya melakukan itu semua, melakukan keinginan egoisnya.

"Gomennasai." Sebuah kata itu meluncur begitu saja.

Tetsuya menjatuhkan tangannya kembali ke samping tubuh mungilnya. "Jika Izaya-nii benar-benar membunuh perasaanmu, aku takut kalau-kalau Izaya-nii tidak menyayangiku lagi seperti dulu."

Izaya terkekeh sebentar. "Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin, Tetsuya. Apa kau tahu, aku kembali lagi ke Jepang karena aku sudah tidak punya alasan lagi untuk menetap di London. Aku tidak akan pernah menghindarimu lagi. Sekalipun aku berhasil membunuh perasaan itu, aku tidak akan pernah bisa membencimu. Tidak untuk adik kembar yang paling aku sayangi."

Izaya membalas senyuman manis Tetsuya. Kemudian ia semakin mengurangi jarak diantara mereka. Tidak mendapatkan penolakan apapun dari Tetsuya, Izaya terus melanjutkan dan menautkan kedua bibir mereka. Saling berbagi kehangatan melalui ciuman singkat nan lembut itu.

Selepasnya bibir Izaya dan jarak kembali terbentuk, Tetsuya menyadari bahwa saat itu adalah terakhir kalinya sang kakak melempar tatapan intens padanya.

#

Tiga tahun kemudian...

Akashi duduk di salah satu kursi dari beberapa kursi yang mengelilingi sebuah meja panjang dengan menyangga kepalanya pada tangan yang disandarkannya di meja. Sebuah jaket merah menjadi alas untuk sikunya yang bertumpu pada meja. Sedang scarlet-gold yang menghiasi kedua irisnya terfokus pada objek disamping tempat duduknya.

Menyadari Akashi yang sedari tadi tengah memandanginya, Tetsuya menghela nafas.

"Akashi-kun, jangan menatapku terus seperti itu. Aku tidak bisa konsentrasi pada buku yang aku baca."

"Aku hanya melakukan sesuatu untuk menghilangkan kebosananku, Tetsuya," balas Akashi. "Kapan kau selesai?"

Tetsuya menutup buku di depannya. "Baru saja, Akashi-kun."

Tetsuya berdiri bermaksud mengembalikan buku pada raknya semula, namun tangan Akashi menahan dan menariknya, mendudukkannya di meja.

"Boleh aku meminta balasannya?"

"Ba-balasan untuk apa, Akashi-kun?"

"Karena sudah membuatku menunggu."

"Tapi, aku kan tidak meminta Akashi-kun kemari." Spontan Tetsuya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang bebas.

"Kau menyalahkanku, Tetsuya?"

Dan detik berikutnya Akashi menarik leher belakang Tetsuya, menyahut bibir mungilnya. Demi apapun, Tetsuya merasa menyesal karena keceplosan bicara. Bukankah membantah Akashi adalah suatu kesalahan.

Akashi meraup, melumat, serta menghisap bibir Tetsuya, menciptakan semburat merah di kedua pipi Tetsuya. Namun dorongan kecil dari Tetsuya entah kenapa berhasil memisahkan kedua bibir yang sedang bertaut tersebut.

"He-hentikan, Akashi-kun, ini di tempat umum."

"Bukankah kau memilih duduk di sini karena bagian sini yang paling sepi dari perpustakaan kampusmu, Tetsuya?"

Tanpa mengizinkan si remaja bersurai langit musim panas tersebut kembali membalas ucapannya, Akashi kembali menyambar bibir Tetsuya. Menjilat bibir bagian bawah Tetsuya dan menerobos gua hangat itu dengan daging tak bertulang miliknya.

Ya, mereka sekarang memang sedang berada di perpustakaan kampus Tetsuya. Meski mereka berdua tidak melanjutkan kuliah di universitas yang sama, Akashi masih rajin untuk mengunjungi Tetsuya di kampusnya.

Kembali ke aktivitas Akashi dan Tetsuya yang errr- sedikit memanas. Lidah Akashi menjelajah serta mengabsen satu persatu deretan gigi Tetsuya. Bertukar saliva secara tak langsung melalui kedua lidah yang saling berdansa. Hingga akhirnya kehabisan stok oksigen dan keduanya pun saling memisah, memperlihatkan benang saliva yang menggantung dan menghilang seiring terciptanya jarak.

Tak ingin satu detik pun terlewat, Akashi menyambar kancing kemeja Tetsuya yang dianggapnya menggangggu karena menutupi leher pucat si pemuda baby blue. Setelah empat kancing bagian atas terpisah dari lubangnya, langsung saja Akashi mengecup perpotongan leher Tetsuya.

"A-Akashi-kun, bagaimana kalau ada yang melihat? Ngh..." tanya Tetsuya menahan desahan yang mendesak ingin keluar akibat sensasi dari rangsangan yang diberikan Akashi ketika memainkan kedua nipplenya.

Merelakan kecupannya yang belum selesai di beberapa bagian leher dan pundak Tetsuya, Akashi mengangkat kepaknya dan membalas pertanyaan Tetsuya. "Jika ada yang melihat, mungkin mereka akan segera meninggalkan kita berdua." Dan setelah itu Akashi kembali melanjutkan aktivitasnya dengan mengulum salah satu dari dua tonjolan di dada Tetsuya, membuat Tetsuya berusaha untuk tidak mengeluarkan erangan-erangan yang berisik.

"Mungkin kau harus membuat pengecualian untukku, Seijuurou-kun."

Dan kedua insan yang sedang dipergok tersebut tersentak hebat mendengar adanya suara dari seseorang selain mereka berdua. Buru-buru Akashi menyampirkan jaket merahnya yang tergeletak di meja ke tubuh Tetsuya.

"Untuk apa kau menutupinya? Aku bahkan berkali-kali melihat tubuhnya yang tak terbalut kain apapun."

"I...Izaya-nii...!" seru Tetsuya bermaksud menyuruh seseorang yang memergokinya itu untuk diam.

"Izaya, sebaiknya hilangkan kebiasaan mengagetkanmu itu," tambah Akashi. "Dan sejak kapan kau disana?"

"Kebiasaan tidak mungkin bisa dihilangkan begitu saja, Seijuurou-kun. Lagipula aku sudah sejak tadi berdiri disini, kau saja yang terlalu asyik dengan Tetsuya sehingga tidak menyadari sekelilingmu."

Salahkan juga hawa keberadaanmu yang tipis itu, baka! Umpat Akashi dalam hati.

Sementara kedua orang itu saling menyapa, Tetsuya membetulkan kemejanya yang terbuka mengekspos dadanya serta mengembalikna kancingnya ke lubang masing-masing. Setelah kemeja biru kotak-kotak yang ia kenakan sudah rapi kembali, ia melepas jaket Akashi yang masih bertengger di tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan disini, Izaya?" tanya Akashi sambil duduk di kursinya semula.

Izaya mengernyit. "Aku yang seharusnya bertanya begitu. Apa yang kau lakukan disini, di kampusku, setiap hari, Seijuurou-kun?"

Sebuah perempatan muncul di kening Akashi. Wajahnya kini memperlihatkan ekspresi kesal. "Bukankah kau sudah tahu jawabannya karena hampir tiap hari kau memergoki kami, Izaya oniisan?"

Kini Izaya terkekeh, ingin rasanya ia tertawa terbahak-bahak jika tidak mengingat adanya kata jaga image. "Dan kau tetap saja mengulangnya meski tiap hari aku hampir selalu memergokimu."

"Bu-bukankah ini terlalu cepat kalau Izaya-nii akan mengajakku pulang?" Ups, dan Tetsuya lagi-lagi harus menutup mulutnya dengan sebelah tangannya seperti tadi.

"Jadi... kau juga merasa terganggu, Tetsuya?"

Muka Tetsuya merona seketika, merutuki keceplosannya bicara untuk yang kedua kalinya.

"Baiklah, segera bereskan perlengkapanmu, Tetsuya. Aku akan menunggu di gerbang."

Izaya berbalik dan kini Akashi kembali hanya berdua dengan Tetsuya. Tetsuya menghela nafas sejenak sebelum akhirnya turun dari meja. Dan bersamaan dengan itu, Akashi kembali mencuri ciumannya yang sempat terpotong tadi.

#

Izaya berjalan seorang diri mengitari kampusnya. Sebenarnya tujuannya adalah gerbang kampus, tapi ia sengaja mencari jalan memutar. Karena ia tahu jika membiarkan Tetsuya berduaan dengan Akashi itu akan memakan waktu.

Dan karena melamun, tak sadar ia menabrak seseorang yang bagai tembok menghantamnya. Dilihatnya orang yang ditabraknya itu, dan ternyata seorang raksasa berkepala ungu.

Kemudian si raksasa itu mengulurkan tangan besarnya. Telapaknya menepuk pelan kepala Izaya, namun bagi Izaya tepukan pelan itu bagai pukulan di kepalanya.

"Oh, kakak Kurochin, ya?" terka Murasakibara Atsushi, nama si raksasa- sebaiknya kita juga menghargainya sebagai manusia- ungu itu. Disebelahnya berdiri Himuro Tatsuya dengan senyum manis khasnya. Dan, ya, tebakan kalian benar, mereka satu kampus.

"Doumo, Atsushi-kun. Maaf sudah menabrakmu." Tangan Izaya menepis pelan tangan Murasakibara yang masih lengket dengan surai langit musim panasnya. "Dan hentikan caramu membedakan aku dan Tetsuya dengan merasakan tinggi badan kami, jika aku Tetsuya, ia tak akan menyukai hal ini."

"Ara~ bermain tebak-tebakan itu asyik, kakak Kurochin," balas Murasakibara sambil melahap keripik kentang di tangannya.

"Kau tidak bersama adikmu?" kini Himuro ganti bertanya.

"Dia akan menyusulku nanti. Maaf sudah mengganggu sedikit waktumu, Tatsuya-kun."

"Tidak masalah, Kuroko Izaya-kun."

Setelah berpisah dengan mereka berdua, Izaya kembali mencari jalan menuju gerbang kampusnya. Dalam hati, ia terinspirasi sesuatu setelah bertemu dengan pasangan MuraHimu tadi.

Kalau dipikir-pikir, mungkin sebaiknya ia juga segera mencari pasangan agar dapat membiarkan adik kembarnya bebas berdua dengan si heterokrom dan tak perlu memergokinya terus karena merasa iri.

Dan Izaya kembali menabrak seseorang tak bersalah akibat ia melamun sambil berjalan.

"Gomennasai, aku melamun."

"Daijoubu, aku juga melamun."

"Ah, kau Kuroko Izaya-kun?" ucap seseorang yang ditabraknya tadi terdengar antusias.

"Hai."

"Apa kau tidak mengingatku? Kita bersama dalam satu kelas di mata kuliah pertama tadi. Apa kau punya waktu luang? Aku akan mentraktir minuman sebagai permintaan maafku."

Belum sempat menjawab ajakannya, orang itu sudah menarik tangan Izaya menuju cafetaria. Namun entah kenapa, hangat yang menjalar dari orang yang menabraknya memberi efek pada jantungnya yang kini berisik karena berdegup lebih cepat dari biasanya.

End

.

.

.

(A/N)

Itu endingnya. Apa? Nggak memuaskan? Baik, baik, author bener-bener nggak jago bikin ending yang bagus. Pokoknya end. Dan itu endingnya ceritanya Izaya dapat calon pasangan barunya, dan author nggak kasih tau gendernya karena itu terserah mau readers anggap cowok atau cewek. (smile innocent)

Dan akhirnya sempet juga munculin Murasakibara-kun, meski cuma secuil ._. (dilempar Murasakibara). Maaf untuk typo serta alur yang terlalu cepat, Kuga belum sempat membaca ulang.

Dan mungkin yang ingin minta sequel, boleh boleh. Daripada ending yang nggak jelas gini. -_-; yang ingin sequel silakan mengisi kotak review atau PM juga boleh, dua-duanya Kuga kasih karpet merak kok. *plak Dan Kuga pun tetap beri terima kasih juga kalau nggak ada yang minta. Ahaha... (krik krik)

Dan ini balasan bagi yang sudah mau mengisi kotak review :

Dewi15-san : Arigatou. Iya, ini lanjutannya, dan maaf kalau nggak sesuai harapan. Hehehe, author nggak bisa baca pikiran orang.

Flow . L-san : arigatou for review. Gomen, author hanya bisa bikin cerita yang pendek-pendek. Soal Karoku dari Karneval, lumayan juga sih, tapi karena author nggak tahu seperti apa sifat si Karoku karena nggak pernah nonton animenya, jadi author ragu untuk bilang mirip. Terus, updatenya beneran nggak lama, kan? Hehe...

Ayue935-san : arigatou review dan pujiannya. Dan arigatou karena ini juga pertama kalinya author dipanggil senpai XD kalau begitu Kuga ucapin selamat datang di fandom ini :)

Kurotori Rei-san : arigatou for review. Izaya hanya jadi bayangan Kagami sewaktu bertanding di lapangan basket jalanan itu saja, kok. Kalau author bikin bayangan baru buat Kagami, nanti author dimarahi Tetsu-kun dan Tadatoshi Fujimaki-sama. Hehe...

Yunjou-san : arigatou for review. Baca dari awal juga boleh, kok. Terima kasih juga untuk saran ceritanya, Kuga terharu :') . terima kasih juga sarannya, syukur deh kalau Kuga nggak salah ambil keputusan. Lagipula Kuga orangnya pembosan, kalau bikin fic yang panjang takutnya nanti lama-lama bosan untuk melanjutkan ceritanya, hehe. Maaf author jadi curcol.

Arigatou gozaimasu buat para readers, silent readers, yang udah review, fav juga follownya. Pokoknya terima kasih banyak buat yang sudah membaca dan mendukung fic gaje ini.

Untuk reviews di chapter ini akan Kuga balas jika ada sequel dari fic ini. Jika tidak ada lewat PM tidak apa-apa kan.

Yosh, arigatou minna ^o^)/ see you in the next story. Thanks a lot for RnR etc.