Hy ^^
Sebenarnya saya berencana ikut Opposite Party ^^a Tapi apa daya si ilham g mau datang sama sekali =.=
Jadi setidaknya mau ikut update juga ^^a
Hope you like it!
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto sensei.
Warning : OOC, Gaje, Typo bertaburan, DON'T LIKE DON'T READ!
Pairing : SasuFemnaru!
I Don't Own Naruto!
.
.
Suasana kamar itu terlihat terang dengan sebuah lampu hias berwarna biru yang menciptakan pendar-pendar cahaya yang berkilauan meski dalam gelap, seakan menciptakan sekat dengan malam kelam yang dinaungi mendung diluar jendela. Tak seperti kebanyakan orang yang tak akan bisa tidur bila cahaya terlalu terang, sang pemilik kamar itu memang benci kegelapan. Jadi tak usah heran jika kamar itu terlihat terang meski malam telah larut.
Di dalam ruangan yang didominasi warna orange-biru itu, seorang gadis berambut pirang berantakan terlihat tertidur lelap sambil bergumul dengan selimutnya yang tebal. Wajah tan berhias goresan itu terlelap dengan bibir yang sedikit terbuka. Jam kecil di samping ranjang menunjuk angka 00.13.
Malam yang tenang walau mendung bergelanyut menutupi sang rembulan. Meski begitu, tak ada suara yang terdengar saat sosok itu memasuki kamar dalam sekelebat bayangan. Hanya bunyi 'Tuk!' pelan saat jendela kamar itu tertutup diikuti korden orange yang berayun pelan.
Tanpa suara pula, sosok bersurai hitam itu berjalan cepat menuju sisi ranjang dimana sang gadis berbaring. Wajah pucat bermata kelam itu penuh keringat. Dengan hanya piama berwarna putih yang membungkus tubuhnya.
Napasnya yang tak beraturan menciptakan kabut putih tipis yang dengan cepat menghilang dalam udara dingin. Sosok itu hanya berdiri diam sambil menatap sang gadis yang tertidur lelap. Hingga ia menghela nafas pelan dan terduduk lemas di lantai di samping ranjang.
Syukurlah.
Ia baik-baik saja.
Tak ada darah.
Tak ada teriakan sakit.
Tak ada kematian.
Sasuke mengusap wajahnya yang penuh peluh dengan tangan yang gemetaran. Berusaha meredakan detak jantung yang bertalu-talu di dalam dada.
Mimpi.
Syukurlah itu hanya mimpi buruk.
Bayangan 'langit' itu yang menatapnya kosong dengan tubuh penuh darah masih terpatri jelas di matanya. Bagaimana ia yang tak bisa berbuat apapun saat tubuh itu mulai mendingin di depannya.
Mata kelam itu menatap sang gadis yang masih terlelap, diikuti tangan pucatnya yang perlahan membelai sisi wajah sang gadis. Rasa hangat yang menyebar dari ujung jari yang bersentuhan itu membuatnya tenang. Membuat jantungnya perlahan berdetak normal dan menghapus rasa takut yang menyelimuti hatinya.
Dan sepanjang malam itu Sasuke hanya memandanginya. Dengan jemari yang perlahan membelai tiap goresan yang menghiasi wajah sang gadis yang masih terlelap.
.
.
.
### Your Shadow ###
By : Ayushina
.
.
"GYAAAAA! AKU TELAAAT!"
Gadis bermata biru itu berteriak panik sambil berlari menuruni tangga. Diikuti bunyi 'gedebak gedebuk' saat langkah kakinya membentur tangga berlantai kayu.
"Naruto... jangan berlari di tangga, kau bisa jatuh," kata Kushina sambil meletakkan sepiring besar roti panggang di atas meja.
"Iya maaf! Aku berangkat Kaa-chan!" kata Naruto cepat sambil mengambil sepotong roti dan mencium pipi sang ibu. Lalu berlari keluar sambil memakai sebuah jaket tebal berwarna orange.
"Hati hati," jawaban sang ibu itu hampir tak terdengar saat sang gadis buru-buru menutup pintu dan berlari ke luar rumah. Dengan mulut yang masih menggigit roti bakar. Rambut pirang panjangnya terurai berantakan.
Setelah menutup pagar rumahnya, Naruto kembali berlari hingga tanpa sengaja ia menubruk seseorang saat berbelok di sudut jalan rumahnya. Roti bakar yang semula ia gigit jatuh di tanah beraspal yang kotor. Tubuh kecilnya hampir terpental kebelakang kalau saja tidak ada lengan yang melingkari pinggangnya. Gadis itu segera mendongak dan bersiap melemparkan pukulan kalau-kalau orang dihadapannya itu berniat berbuat mesum. Hingga ia mendengar suara yang sangat ia kenal.
"Sudah kukatakan, lihat kedepan saat kau berjalan, Dobe,"
"Sas-SASUKE!" teriak gadis itu membuat sosok pucat bersurai hitam di depannya berjengit sambil menjauhkan telinga.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto sambil mendongak menatap sang Uchiha yang memakai jaket hitam tebal dengan sebuah syal biru gelap melilit lehernya.
"Menjemputmu, sudah kuduga kau akan telat lagi," kata Sasuke perlahan melepaskan tangannya dari pinggang sang gadis.
"Heh... kau menungguku? Kau bisa ikutan telat!" kata Naruto sambil menatap jam tangannya. Ia segera menggengam tangan Sasuke dan menariknya ikut berlari.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke memandang genggaman tangan keduanya.
"Ayo! Kita harus mengejar bis!" kata Naruto panik sambil berusaha menarik Sasuke yang tak bergeming sedikitpun.
Sasuke menghela nafas pelan sebelum menarik sang gadis ke arah berlawanan.
"Heh... mau kemana? Haltenya ada di sebelah sana!" teriak Naruto sambil berusaha berjalan melawan tarikan Sasuke. Namun tubuh berjaket hitam itu seakan tak bergeming sedikitpun menerima tarikan sekuat tenaga sang gadis, dengan mudah ia membawa tubuh Naruto yang memang agak kurus –meski ia selalu makan ramen- menuju sebuah sepeda motor yang terparkir di pinggir jalan.
Teriakan Naruto itu terhenti saat Sasuke memakaikan sebuah helm berwarna putih di kepala sang gadis. Lalu memakai helm senada dan menaiki sepeda motor yang seperti motor balap itu -yang juga bercat warna putih-.
"Tunggu apa lagi? Cepat naik," perintah Sasuke sambil melirik Naruto yang masih membeku menatapnya.
"Eh... kau yakin?" kata gadis itu sebelum perlahan naik dengan canggung.
"K-kau sudah punya SIM?" tanya sang gadis lagi tak percaya.
Sasuke mendecih pelan sebelum menarik kedua tangan Naruto agar melingkari pinggangnya.
"Pegangan yang erat,"
Hanya itu peringatan sang raven sebelum menarik gas dan melaju pergi dengan kecepatan tinggi.
10 menit kemudian, mereka sudah sampai di halaman parkir sekolah yang khusus digunakan untuk para staf dan guru.
Sasuke segera melepas helmnya dan menoleh kebelakang saat Naruto masih saja mencengkeram pinggangnya erat dan tak bergerak sedikitpun.
"Oi... Dobe, cepat turun," perintah Sasuke saat gadis itu tak juga bergerak. Hingga ia menyadari tubuh berbalut jaket orange itu gemetaran.
Dengan segera Sasuke menoleh ke belakang dan melepaskan helm yang dipakai Naruto, menampakkan wajah gadis itu yang terlihat lebih pucat, nafasnya juga terengah.
"Naruto, kau baik-baik saja? Apa asmamu kambuh lagi?" tanya Sasuke dengan sedikit nada panik. Ia mengusap pipi berwarna madu itu lembut hingga Naruto yang semula memejamkan mata membuka safirnya dan menatap Sasuke dengan tatapan kesal.
"T-teme! Kau ngebut seperti orang gila! A-aku tak mau naik motor lagi denganmu!" kata Naruto sambil berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Bayangkan saja, perjalanan yang biasa ia tempuh selama setengah jam dengan naik bis itu bisa sampai hanya dengan sepuluh menit.
Sasuke sedikit menghela nafas lega sebelum memejamkan mata dan menyatukan dahi mereka dengan lembut.
"Huh, aku membuatmu takut ya?" bisiknya dengan nada yang tak dimengerti Naruto. Nada itu terdengar seperti penyesalan, atau rasa bersalah? Atau putus asa? Apapun itu, Naruto tak menyukainya. Jadi ia segera tersenyum dan memasang wajah jahil.
"Apa maksudmu? Menurutmu aku penakut? Dulu aku suka naik RollerCoaster tahu! J-jadi kecepatanmu tadi tak ada apa-apanya buatku," kata sang gadis sambil tertawa.
Sasuke membuka mata dan menatap mata Naruto dalam diam. Dari jarak sedekat itu, ia seakan melihat lautan. Lautan dalam yang disaput ketakutan.
Biru dan hitam itu terus bertatapan dalam diam. Membuat sang gadis berkeringat dingin. Merasa ketahuan kalau tengah berbohong.
Sesaat kemudian, Sasuke menjauhkan wajah mereka tanpa mengatakan apapun. Lalu mengangkat tubuh Naruto turun dari motor dengan mudah, sebelum kembali memeluknya setelah sang gadis hampir ambruk karena kakinya masih gemetaran.
Sasuke mengangkat sebelah alis sambil menatap wajah Naruto yang merah padam karena malu.
"Berisik-ttebayo! Aku tak pernah naik motor sebelumnya!" gumam Naruto sambil menggembungkan pipi dan memalingkan muka.
Sang raven akhirnya mendengus dan tertawa kecil. Siapa sangka ninja hiperaktif yang dulu sering menantangnya adu lari itu takut kecepatan. Padahal kecepatannya tadi hanya seperti saat ia berlari normal. Apa jadinya kalau ia menggendongnya dan mengajaknya berlari dengan kecepatan penuh? Bukan berarti ia ingin menggendongnya –lagi-.
Setelah melihat kaki Naruto yang berhenti bergetar, ia mengajak sang gadis agar duduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon di tepi tempat parkir. Tempat parkir itu tak terlalu penuh mengingat sebenarnya tempat itu hanya untuk para staf dan guru. Jadi sisi luar tanah lapang itu di beri kursi-kursi panjang sepanjang taman kecil yang membatasi tempat parkir dan bangunan sekolah. Dan terima kasih berkat cara ngebut Sasuke, mereka kini bukannya telat malah bisa dibilang datang lebih awal –menurut standar Naruto tentu saja-.
Setelah mereka berdua duduk, Sasuke mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kotak bekal berisi roti bakar dengan selai stroberi seperti yang sebelumnya tengah di makan Naruto –tapi tak jadi karena jatuh-.
"Makanlah," perintah Sasuke sambil menyodorkan bekal itu. Bersamaan itu perut Naruto berbunyi keras. Tanda sang empunya tengah kelaparan. Dengan wajah yang kembali memerah, Naruto mengambil sepotong roti dan memakannya.
"K-kau tak makan?" tanya Naruto dengan mulut penuh.
"Aku tak suka manis," jawab Sasuke sambil memandang Naruto tanpa berkedip. Ia benar-benar tak berubah ya?
"Eh? Lalu kenapa kau bawa bekal seperti ini?" tanya Naruto lagi.
"Diam dan makan saja, Dobe. Kau cerewet sekali," jawab sang raven sambil menyandarkan punggungnya.
"Kau benar-benar tak mau makan?" tanya sang gadis.
"Hn,"
"Sedikiiiit saja,"
"Hn,"
"Sasuke!"
"..."
"Saaaasssukeee!"
"Berisik, Usuratonkachi!"
Dan tangan pucat itu bergerak meraih sepotong roti dan ikut makan tanpa berkata apapun. Sedang Naruto hanya tersenyum lebar sambil menghabiskan potongan roti dalam genggamannya.
Saat waktu menunjukkan bel masuk akan berbunyi sepuluh menit lagi, Sasuke dan Naruto terlihat berjalan bersisian memasuki gedung sekolah. Diiringi bisik-bisik dan teriakan tak percaya dari para murid dan fangirl Sasuke. Pasalnya sang pangeran Uchiha itu telah pindah sekolah sekitar seminggu yang lalu.
Seakan tak mendengar sekitar, mereka berdua terus berjalan hingga sampai di depan kelas Naruto.
"Thanks, Teme! Sudah repot mau mengantarku, kau-EEEh!" pekik Naruto seakan baru benar-benar melihat Sasuke.
"KENAPA KAU TAK MEMAKAI SERAGAM?"teriak Naruto saat menyadari Sasuke mengenakan celana jeans bukannya celana biru gelap seragam sekolahnya.
"Kau lupa kalau aku sudah pindah dari sini?" tanya Sasuke tenang.
"T-tapi kau-"
"Sssh," gumam Sasuke sambil melepaskan syal biru miliknya dan melingkarkannya di leher Naruto.
"Lain kali pakai jaket yang lebih tebal saat dingin seperti ini, idiot." Kata Sasuke saat mengeratkan syal itu dan membelai rambut pirang itu sesaat. Sebelum berbalik dan berjalan pergi.
"EEEh! SASUKE! A-apa apaan ini!" teriak Naruto dengan muka merona. Sasuke hanya melambaikan tangan tanpa berbalik atau menjawab. Hingga sosok itu menghilang di ujung koridor.
"Nee... Naruto. Kau pacaran dengan Sasuke-kun ya?" tanya Ino saat Naruto baru saja duduk dikursinya. Sekejap saja ia sudah dikerubungi seisi kelas. Semuanya terlihat memandang Naruto dengan wajah bertanya tanya.
"E-eh... tentu saja tidak!" Jawab Naruto dengan wajah merona.
"Benarkah?" tanya Sakura tak percaya dengan sebelah alis terangkat.
"Bukannya tadi kau dijemput Sasuke-kun? Tadi aku melihat kau dibonceng dengan motornya... Sasuke-kun tak pernah membawa motor sebelumnya," salah satu teman sekelas Naruto berkata.
"Iya, tapi-"
"Aku tadi juga melihat kalian sarapan bersama," yang lain ikut bicara.
"Eh itu-"
"Aku melihat mereka berciuman!"
"HEEEH? K-kapan itu?"
"Sasuke-kun juga memberi syalnya untukmu,"
"T-tapi-"
"Dan lihat bagaimana Sasuke-kun melihatnya tadi, Sasuke-kun pasti-"
"Oi! BERISIK! BERHENTI MEMANGGILNYA SEPERTI ITU! DATTEBAYO!" bentak Naruto sambil menggebrak mejanya. Entah kenapa mendengar teman-temannya memanggil Sasuke dengan nada manja seperti itu membuatnya kesal. Seketika mereka semua langsung diam dan perlahan melangkah menjauh. Naruto memang biasanya selalu tersenyum, tapi kalau sedang marah lain lagi.
"Kenapa, Naruto? Kau cemburu?" tanya Sai dengan senyumnya yang terkesan polos. Tentu saja bagi yang sudah mengenal pemuda berambut hitam itu pasti tahu arti senyuman sang raven.
"U-untuk apa aku cemburu! A-aku dan S-sasuke itu cuma t-teman. D-dia hanya khawatir padaku, itu saja." Jawab Naruto terbata.
"Benarkah? Bukannya kalian baru bertemu sekali sebelumnya? Seminggu yang lalu kalau aku tidak salah," kata Sai lagi, kali ini tanpa senyum.
Naruto tak menjawab.
"Apa kau yakin ia menganggapmu seperti kau menganggapnya teman?" tanya Sai lagi sambil memandang syal biru yang dipakai Naruto, di ujung syal itu terpampang jelas lambang marga Uchiha berupa kipas merah putih.
"Kau baru saja bertemu dengannya bukan? Kau yakin kau benar-benar mengenalnya? Siapa dia? Apa yang dia inginkan? Apa yang dia lakukan?"
Di luar jendela, di antara rimbunnya dedaunan, Sasuke hanya duduk di antara cabang pohon sambil menatap lurus kedepan. Memandang punggung berjaket orange yang tak mengatakan apapun. Sebelum bangkit berdiri dan menghilang dalam pusaran angin.
Dan gadis itu masih terdiam.
.
.
.
Sosok berjaket kelam itu tiba-tiba muncul di atap gedung dalam pusaran angin kecil. Selama beberapa saat ia hanya berdiri diam dengan kepala menunduk, membiarkan angin dingin membelai surai ravennya dan ujung jaket hitamnya. Perlahan ia mendongak, menatap langit biru yang tak secerah biasanya, langit itu berwarna kelam karena mendung tipis.
Lama ia terdiam sambil memikirkan kata-kata Sai yang baru saja ia dengar.
Apa Naruto akan memaafkannya jika ia tahu semua yang telah ia lakukan? Dimasa lalu ataupun di kehidupan ini. Apa ia masih akan mau menemuinya? Bersamanya?
Tentu saja Naruto takkan memaafkannya. Memangnya ada orang yang akan memaafkan seseorang yang pernah membunuhnya? Tentunya Naruto akan menjauhinya...
Bagaimana ini... ia masih ingin berada di sisinya lebih lama. Rasa takut menyelimuti seluruh tubuhnya bagai selimut tak kasat mata.
Ah.. ia hanya perlu menjaga rahasia, jangan sampai gadis itu tahu tentang masa lalunya.
Sasuke memandang sekeliling yang sepi lalu berjalan ke tepian gedung yang berdinding kawat baja. Ia berbalik dan menyandarkan punggungnya di kawat yang kasar sambil menghela nafas. Perlahan ia merosot duduk di lantai dengan sebelah lutut tertekuk. Kepalanya terasa pusing karena ia tidak bisa tidur selama berhari-hari. sebenarnya itu hal biasa di kehidupannya yang dulu sebagai ninja. Namun kini, sepertinya tubuhnya tak sekuat dulu. Ia merasa lelah. Tapi ia tak ingin memejamkan mata. Ia tahu apa yang menunggunya jika itu terjadi.
Jadi, apa yang harus ia lakukan selama 8 jam kedepan sambil menunggu Narutonya hingga pulang sekolah? Ia bisa berlatih tentu saja, namun kali ini sepertinya tubuhnya terasa enggan untuk digerakkan.
Jadi ia hanya duduk disana. Mendengarkan desau angin yang berhembus di sekelilingnya. Membuatnya tanpa sadar memejamkan mata.
Seperti biasa ia kembali berjalan di lorong yang familiar. Lorong gelap yang hanya disinari lilin kecil di tiap dindingnya. Ia hanya berjalan seperti biasa, melangkah maju tanpa memikirkan apapun. Hingga ia berbelok dan terhenti.
Sekelilingnya sekejap berubah, ia tak lagi di dalam lorong gelap. Melainkan sebuah jalanan terang yang penuh lalu lalang. Ia menatap ke depan dan kemudian melihatnya.
Gadis kecil yang terbaring penuh darah dengan pecahan kaca yang bertebaran disekitar tubuh kecil bergerak dan mata biru yang familiar itu menatapnya. Seolah berkata,
Kenapa?
Kenapa kau membunuhku?
Sasuke terkesiap dan tanpa sadar melangkah mundur. Dan sekelilingnya kembali berubah gelap. Ia menoleh kesamping dan membeku saat melihat sosok itu.
Sosok pemuda berambut pirang dengan jaket orange hitam yang telah compang-camping. Pemuda itumencoba meraihnya dengan tangan penuh darah. Mata biru yang sama kembali menatapnya.
Kenapa?Kau mengkhianatiku?
Kenapa?
Kau membunuhku?
Ia segera meraih sosok itu. Mencoba menolong. Mencoba menebus kesalahannya. Namun saat tangannya menyentuh sosok itu, rantai-rantai berwarna hitam membelenggu seluruh tubuhnya. Membuatnya terduduk dengan jarak sejengkal dari sosok pirang itu. Ia merasakan seseorang mendekat dan ia menoleh. Menatap sosok yang sama persis dengan dirinya berdiri disampingnya. Yang balas memandangnya dengan seringaian.
Oniks itu melebar.
Dan ia tak bisa melakukan apapun, saat ia melihat sosoknya sendiri. Berdiri angkuh dengan tubuh penuh darah dan pedang di tangan. Menghujani sosok bermata langit itu dengan ujung pedang. Hingga tak ada apapun yang tersisa.
Ia takkan bisa menghentikannya, meski telah meronta dan berteriak sekuat tenaga, saat monster berwajah dirinya itu berpaling dan tertawa, melangkah menuju sosok lain.
Ia memohon. Menghiba agar monster itu tak menyentuhnya.
Jangan menyentuhnya.
Kumohon.
Jangan melukainya.
Dan ia bahkan tak bisa menutup mata, saat sosok dirinya yang penuh darah itu meliriknya dengan seringaian. Menyentuh dagu gadis yang tengah tertidur lelap dan meletakkan ujung pedang di lehernya. Menumpahkan warna merah yang menggenang. Membanjiri tubuhnya.
Ia bahkan tak bisa menutup telinga, saat mendengar tawa dirinya yang mencabik-cabik tubuh itu hingga tak bersisa.
Dan mata langit itu akan kembali menatapnya.
Kenapa?
Kenapa kau melukaiku?
Tubuh berbalut jaket hitam itu tersentak bangun dan memuntahkan semua isi perutnya.
.
.
.
Hari itu entah mengapa terasa berjalan sangat cepat bagi Naruto. Tanpa ia sadari, bel pulang sudah berbunyi dan ia hanya bisa terdiam di bangkunya sementara seluruh teman sekelasnya bergegas merapikan buku-buku dan beranjak pulang.
"Naruto, kau tidak pulang?" tanya Sakura saat berjalan melintasi bangku Naruto sambil mengangkat tasnya.
"E-eh... Sakura-chan. Iya, ini aku juga mau pulang kok," jawab gadis berambut pirang itu sambil perlahan memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Apa kau demam lagi, Naruto?" tanya Hinata sambil memandangnya cemas.
"Tidak, aku baik-baik saja. Kalian tak perlu khawatir," jawab Naruto sambil tersenyum dan bangkit berdiri.
"Mau kuantar pulang?" tanya Sai di sisinya.
"Tidak usah, Sai. Rumahmu beda arah denganku. Aku naik bis seperti biasa saja," jawab Naruto sambil berjalan keluar diikuti teman-temannya.
Dan langkah Naruto terhenti saat melihat sosok itu. Sosok Uchiha Sasuke yang sudah menunggunya didepan pintu. Bukan di depan pintu gerbang seperti di dalam komik-komik yang ia baca, tapi di depan pintu kelas. Yang tentunya tak kurang menarik perhatian setiap murid yang lewat. Apalagi dengan pose stoicnya.
"S-SASUKE! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?"pekik Naruto kaget saat mendapati sosok Sasuke yang dengan santai berdiri bersandar di dinding depan pintu kelasnya. Ia masih mengenakan jaket hitam yang sama seperti tadi pagi. Minus syal biru yang kini dipakai Naruto.
"Bisakah kau berhenti berteriak seperti anak TK? Kau membuat telingaku sakit," kata Sasuke setelah berjalan mendekat hingga ia berdiri di depan Naruto yang membeku di depan pintu. Tangan pucat itu terangkat dan dengan sangat pelan membelai pipi kecoklatan yang penuh bekas luka gores. Naruto hanya menatap Sasuke tak mengerti, sama sekali tak sadar tangan pucat itu gemetaran.
"Bisakah kau berhenti mengagetkanku seperti ini? Kukira jantungku hampir berhenti tadi," balas sang gadis sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Entah itu karena kaget, atau karena memandang wajah pucat yang menjadi pikirannya seharian ini berdiri sangat dekat di depannya. Ia bisa menghirup aroma mint dari tubuh berbalut hitam di depannya.
Mendengar jawaban itu membuat Sasuke sedikit berjengit. Ia segera memalingkan muka. Dan menjatuhkan tangannya.
"Berisik, ayo jalan," kata Sasuke sambil berbalik dan berjalan pergi tanpa memandang Naruto.
"Eh? Kemana?" tanya gadis berambut pirang panjang itu setelah terdiam sesaat hingga harus berlari mengejar sosok berjaket hitam di depannya. Mengabaikan seluruh temannya yang masih membeku di depan pintu.
"Pulang. Memangnya kau mau kemana lagi?" balas Sasuke. Sama sekali tak peduli dengan tatapan tiap murid yang berada di koridor saat itu.
"K-kau menjemputku?" tanya Naruto lagi dengan nada tak percaya.
Sosok bermarga Uchiha itu tak menjawab, hanya terus berjalan tanpa menoleh atau menatap gadis berjaket orange di sampingnya. Mereka berdua tak bicara lagi hingga mereka melewati tempat parkir khusus staf dan guru dimana tadi pagi Sasuke memarkir motornya. Tapi ia terus berjalan menuju gerbang sekolah tanpa menoleh.
"Kau tak membawa motor lagi?" tanya Naruto sambil mengernyitkan alis. Sebenarnya ia sudah takut kalau harus ngebut lagi seperti tadi pagi.
"Kau bilang kau tak mau naik motor denganku lagi," jawab Sasuke sambil terus berjalan. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku jeans hitam yang ia kenakan, "Dan aku membuatmu takut," bisiknya tanpa suara.
"Lalu kita naik apa?" tanya Naruto, tak mendengar kata-kata terakhir yang diucap sang raven dan tanpa sadar menghela nafas lega. Membuat onix itu meliriknya.
"Bis," jawab Sasuke singkat sambil kembali memandang ke depan.
"Oh, Baiklah," kata Naruto kembali berjalan bersandingan dengan Sasuke. Menembus lautan murid yang juga pulang saat itu. Keduanya terdiam beberapa saat. Naruto kembali merenung sambil memandang wajah pucat disampingnya. Kata-kata Sai kembali terngiang dan ia kembali bertanya-tanya.
Sasuke kemarin jelas-jelas mengatakan kalau mereka berdua pernah bertemu. Dan Sang Uchiha itu membuat kesalahan hingga tak berani menemuinya lagi.
Dimana? Dimana ia pernah bertemu dengan sosok raven disampingnya ini. Wajahnya memang terlihat familiar. Terutama sepasang oniks itu. Hingga Naruto menyadari sesuatu dan menarik lengan Sasuke. Membuat keduanya terhenti di tengah jalan dengan lalu lalang murid lain yang melewatinya.
"Kau sakit?" tanya Naruto sambil menyentuh pipi pucat itu. Rasanya dingin. Ia baru sadar kalau wajah Sasuke terlalu pucat, lebih pucat dari biasanya. Apalagi dengan bayangan hitam di bawah matanya.
Keduanya bertatapan sebelum Sasuke memalingkan muka.
"Aku baik-baik saja," jawab Sasuke pendek sambil melepas tangan Naruto dari wajahnya dan kembali berjalan.
Sambil mengernyitkan alis, Naruto ikut berjalan hingga mereka kembali bersisian. Mereka berdua diam beberapa saat hingga tiba-tiba Naruto berhenti berjalan, membuat Sasuke disisinya ikut terhenti.
"Nah! Sepertinya aku mau pergi ke satu tempat lebih dulu sebelum pulang, Ayo! Sasuke!" kata Naruto tiba-tiba sambil menarik lengan Sasuke dan mengajaknya berlari sambil tertawa lebar.
Sasuke yang terkejut hanya ikut berlari tanpa berkata apapun. Dalam hati bertanya darimana gadis didepannya itu bisa memiliki tenaga untuk menyeretnya. Padahal tadi pagi saja tarikannya seperti tarikan anak TK.
Selama beberapa saat mereka berdua berlari –berjalan cepat?- hingga mereka sampai di tepi sebuah sungai dengan sebuah lapangan yang lumayan lebar diseberangnya. Sebuah jembatan beton menghubungkan dua sisi sungai. Sekelompok tim terlihat berlatih sepak bola meski dalam cuaca yang lumayan dingin.
"Waaah! Sudah lama aku tak kesini!" kata Naruto sambil menjatuhkan tasnya diikuti tubuhnya yang kini berbaring di tanah berumput di tepi sungai yang menurun seperti bukit kecil itu. Sasuke hanya berdiri diam sambil melihat tingkah gadis didepannya yang seperti sekor kucing yang menemukan tempat nyaman untuk tidur.
"Oi Dobe, kau tak takut kalau ada ulat bulu atau cacing di atas tempatmu tidur itu?" tanya Sasuke yang membuat gadis didepannya membeku. Sebelum perlahan duduk dan menoleh ke arahnya.
"Teme...! jangan mengatakan sesuatu yang merusak kesenanganku... disini tak ada ulat atau cacing!" teriak Naruto kesal. Mata birunya sekilas melirik tanah brumput tempatnya berbaring tadi.
"Huh... sesukamu, Idiot!" kata Sasuke sambil ikut duduk di samping Naruto yang kini menggembungkan pipinya. Ia menatap wajah pucat itu sesaat sebelum kembali berbaring dengan kedua lengan sebagai bantal.
Safir itu menatap langit biru berkabut di atasnya dalam diam. Sebelum memejamkan mata. Mendengar kicauan burung yang samar dan teriakan tim sepak bola yang tengah berlatih. Sosok Uchiha disampingnya juga tak mengatakan apapun.
"Nee... Sasuke... kemarin kau bilang kita pernah bertemu sebelumnya, iya kan?" tanya Naruto masih sambil menutup mata. Yang dibalas lirikan oleh Sasuke.
"Tapi walau aku mencoba mengingatnya, aku benar-benar tak bisa ingat, kapan kita pernah bertemu. Aku tak mungkin melupakanmu semudah itu kan?" kata gadis blonde itu pelan.
"Aku tak ingin membicarakannya," kata Sasuke sambil memalingkan muka.
Angin dingin yang perlahan bertiup meniup rambut keduanya, juga ujung-ujung rerumputan disekitar mereka.
"Kau benar-benar tak ingin menemuiku... jika kemarin aku tidak jatuh, mungkin kau tak akan berada disini sekarang. Apa kali ini aku harus terjun ke sungai itu hanya agar kau mau menceritakannya?" tanya Naruto sambil membuka mata dan melirik sosok disampingnya.
Sepasang oniks itu menatapnya tajam dengan alis berkerut.
"Jangan pernah berpikir melakukannya." Desis Sasuke marah.
Keduanya saling pandang. Mencoba mengalahkan tekad satu sama lain.
"Kau terlihat sangat bersalah... sementara aku tak ingat apapun. Bukankah itu tak adil, Sasuke?" kata Naruto. Sang Uchiha itu hanya diam.
"Seharian ini aku terus berpikir, mencoba mengingat. Kesalahan apa yang kau buat... tentunya tak akan terlalu buruk jika aku bisa melupakannya... dan bertanya-tanya apa aku terkena amnesia saat kecil? Yah... aku pernah mengalami kecelakaan memang. Tapi aku masih mengingat hari itu dengan jelas." Kata Naruto sambil menatap Sasuke yang masih balas menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Namun oniks itu terlihat berbeda. Rasa bersalah tersaput jelas di hitam itu. Dan sekelebat sosok kecil itu terlintas dimata Naruto.
Mungkinkah?
Naruto perlahan bangun dan duduk menghadap Sasuke. Tangan sewarna madu itu terangkat dan menyentuh pipi pucat sang Raven. Menatap sepasang oniks itu lebih dekat.
"Apa itu kau?" tanya Naruto sambil memandang wajah Sasuke lekat. Sasuke sama sekali tak bergerak.
"Apa kau anak laki-laki yang kulihat sebelum kecelakaan?" Tanya Naruto yang dibalas sepasang oniks yang melebar terkejut.
"Itu kau, Sasuke?" Tanya Naruto dengan Safir yang perlahan berkabut. Sasuke tak menjawab.
Safir itu menatapnya lama sebelum akhirnya menggenggam tangan pucat sang Uchiha.
"Maaf. Maaf-ttebayo... kau jadi harus melihat hal menakutkan seperti itu." Kata Naruto sambil memejamkan mata. Membuat setetes cairan bening mengalir di pipinya. Tangan pucat yang lain terangkat. Menghapus cairan itu perlahan.
"Kenapa kau yang minta maaf, Idiot? Itu semua salahku," jawab Sasuke pelan.
"Tapi kau menangis," kata Naruto diikuti isakan saat kenangan itu terputar semakin jelas, "Kau terlihat sangat ketakutan dan menangis. S-saat itu aku ingin bilang b-bahwa aku baik-baik saja. B-bahwa kau tak perlu takut. T-tapi aku tak bisa bergerak. Dan s-semuanya terasa sakit.".
Ia bisa mengingatnya. Saat itu ia baru saja pulang berbelanja dengan sang Ibu. Kedua tangan sang ibu penuh belanjaan, jadi ia harus menggenggam lengannya saat menyeberang jalan. Hal itu sudah sering ia lakukan, dan ia sudah terbiasa melakukannya dan mengingatkan diri untuk tetap menggengam lengan sang Ibu. Namun saat itu angin yang berhembus meniup debu ke matanya. Jadi ia menyipitkan mata hingga sesuatu menarik perhatiannya. Sesosok anak laki-laki kecil yang berdiri diam di ujung jalan. Menatapnya lekat dengan sepasang oniks yang familiar. Sangat familiar hingga ia bertanya-tanya dimana ia pernah melihatnya. Ia tanpa sadar melepas genggaman sang Ibu dan berusaha melihat sosok itu lebih jelas. Namun semua berubah sangat cepat.
Tiba-tiba saja ia sudah memandang sosok itu dari sudut pandang yang jauh berbeda. Dan ia baru sadar kini ia sudah berbaring di lantai trotar yang penuh pecahan kaca. Percikan merah menghiasi sekelilingnya. Tapi bukan itu yang ia lihat. Matanya yang terasa berat dan setengah terbuka masih menatap sosok itu. Sosok kecil yang berada jauh di ujung jalan. Yang tengah menatapnya ketakutan dengan airmata yang mengalir deras di pipi kecilnya yg pucat.
"M-maaf, Sasuke." bisik Naruto sambil balas menggenggam tangan pucat itu dan menyembunyikan wajahnya. Mencoba menahan agar airmata itu tak semakin deras mengalir.
"Itu gara-gara aku bertemu denganmu," bisik Sasuke sambil menunduk, "Gara-gara bertemu denganku kau mengalami kecelakaan itu, apa kau tak ingin menyalahkanku?".
Naruto terdiam dan segera mendongak menatap wajah Sasuke.
"Jadi selama ini kau menyalahkan dirimu karena hal itu?" tanya Naruto tak percaya.
Sasuke masih tak mau menatapnya.
"Ternyata kau lebih bodoh dari yang kukira," lanjut Naruto. Air matanya berhenti seketika. Sasuke akhirnya menoleh dan balas menatapnya dengan alis berkerut.
"Siapa yang kau bilang bodoh, Dobe?" tanya Sasuke pelan.
"Kau, Teme! Kau ternyata orang paling bodoh sedunia." Kata Naruto balas menatap tajam.
"Itu bukan salahmu," Kata Naruto cepat. Memotong kata-kata yang akan keluar dari mulut Sasuke.
"Itu sama sekali bukan salahmu," ucap Naruto lagi, "Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.".
"Kau salah." Balas Sasuke tajam, "Itu semua salah-,"
'Puk'
Sebuah tepukan kecil di pipinya membuat Sasuke terdiam. Tepukan itu sama sekali tidak sakit dan sama sekali tidak mirip sebuah tamparan. Tapi Sasuke merasa seakan Naruto baru saja menamparnya.
"Diamlah." Perintah gadis pirang itu. Kedua safirnya menatap serius. Dalam sekejap Sasuke melihat bayangan seorang pemuda dengan tatapan yang sama. Tatapan saat sosok ninja itu berusaha membawanya pulang ke desa dulu.
"Itu bukan salahmu. Titik! Kau dengar aku?" kata gadis itu penuh keyakinan. Dan mata itu masih menatapnya.
Sasuke hanya diam dan tak menjawab.
Benarkah itu bukan salahnya?
Ia yang telah membunuhnya dulu. Jadi apa yang membuatnya yakin ia tak melakukannya lagi kali ini?
"Kau jangan ikut menangis dong, Teme!" kata Naruto panik. Ia segera menghapus setetes airmata yang mengalir di pipi pucat itu.
Sasuke tertegun dan ikut meraba pipinya yang basah. Dan merasakan tangan hangat lain di wajahnya. Ia menatap wajah gadis bermata safir di depannya dan seolah baru sadar. Bahwa sosok didepannya itu benar-benar masih hidup.
Ia tak membunuhnya. Ia tidak membunuhnya.
Sasuke segera meraup sosok itu dalam pelukannya.
Ia tak akan membunuhnya kali ini. Ia akan melakukan apapun agar sosok didalam pelukannya kini tetap hidup dan tersenyum. Ia akan melindunginya. Ia akan mengorbankan nyawanya sendiri bila perlu.
"O-oi... Sasuke," panggil Naruto yang terkejut. Sebelum akhirnya ia balas memeluk sang raven dan tersenyum kecil.
"Semua akan baik-baik saja, Dattebayo." kata gadis itu dalam bisikan.
.
.
.
Naruto tak mengerti bagaimana ia bisa ada di posisi seperti ini sekarang. Seingatnya mereka berdua hanya duduk-duduk di tempat itu setelah semua yang telah terucap.
Dan kini ia tengah duduk dengan sosok Sasuke yang tertidur pulas di pangkuannya. Sepertinya sang Uchiha itu benar-benar kelelahan. Wajah pucat itu tertidur lelap dengan sebelah tangan yang masih menggenggam tangan Naruto.
Naruto hanya bisa menatap tak percaya wajah tampan yang seperti anak kecil di pangkuannya itu. Kedua alis yang biasanya berkerut itu terlihat tenang. Dan Naruto tak bisa menahan untuk tidak membelai surai hitam Sasuke yang ternyata sangat lembut.
Ia terus memandangi wajah itu. Bulu mata hitam yang panjang. Hidung yang mancung. Dan bibir kemerahan yang setengah terbuka dan terlihat sangat lembut. Tanpa sadar Naruto merunduk dan mendekatkan wajahnya. Ingin merasakan apakah sepasang bibir itu benar-benar lembut seperti yang terlihat. Sebelum terhenti dalam jarak beberapa senti. Gadis itu baru sadar apa yang baru saja akan ia lakukan. Ia segera menegakkan tubuh dengan wajah merona merah.
Apa yang ia lakukan?
Ia memandang sekeliling dan menghela nafas lega saat tak ada yang melihat. Tempatnya berada kini lebih menjorok ke bawah sehingga tak bisa terlihat dari jalanan di atasnya. Dan para pemain yang berada di lapangan seberang masih berlatih dengan giat.
Naruto menghela nafas lega sambil berusaha mengusap wajahnya yang berkeringat. Namun terhenti saat ia sadar Sasuke kini menggengam tangannya lebih erat. Gadis itu tersenyum kecil sambil mendongak menatap langit senja yang mulai memerah. Perlahan ia menyandarkan punggungnya di gundukan tanah di belakangnya dan ikut memejamkan mata. Tanpa sadar ikut tertidur.
Saat Naruto bangun. Ia menyadari kalau ia tengah tertidur di atas ranjangnya yang nyaman. Masih setengah sadar, ia bertanya-tanya apa yang baru saja ia ingat itu adalah mimpi. Hingga ia menyadari ia masih memakai seragam lengkap. Gadis itu langsung terkesiap bangun dan memandang sekeliling. Menyadari ia benar-benar berada di kamarnya.
Apa itu semua hanya mimpi?
Naruto menghela nafas kecewa. Hingga ia sadar ada sebuah kertas kecil berwarna putih yang ada di atas mejanya. Ia segera mengambilnya dan membaca tulisan yang tertera di atasnya.
'Jangan tertidur di tepi jalan seperti gelandangan, Idiot.'
Naruto terdiam. Mencoba mencerna maksud dari tulisan itu sebelum tiga sudut siku-siku bertengger di dahinya.
"Yang tidur duluan kan kau, Brengsek!" teriak Naruto kesal yang langsung dibalas panggilan sang ibu dari luar kamar. Gadis itu kembali berteriak kata maaf sebelum menyadari tulisan lain di sudut bawah.
'Hubungi aku segera setelah kau bangun.'
Diikuti deretan nomor dibawahnya.
Naruto langsung terdiam dengan wajah merah padam. Ia segera mengambil ponselnya di dalam tas yang tergeletak di atas meja dan mengetik pesan singkat.
'Aku sudah bangun, Brengsek.'
Jemari lentik itu menekan tombol Send sambil tersenyum lebar.
.
.
.
Pagi itu tak seperti biasa, Naruto sudah berseragam lengkap dan duduk manis di halte tempat ia biasa menunggu bis untuk berangkat ke sekolah –kalau ia tidak kesiangan tentu saja-. Karena kemarin ia tidur dari sore dan baru bangun saat makan malam. Pagi ini entah mengapa ia bisa bangun sebelum alarm jam –yang biasanya tak berguna- berdering. Dan ia segera bersiap berangkat dengan jantung berdebar-debar.
Ia agak ragu saat akan keluar rumah saat melihat jam yang jauh lebih pagi dari waktu ia biasa berangkat. Namun senyum lebar langsung merekah dibibirnya saat ia membuka pintu dan mendapati sosok bermata kelam itu sudah menunggunya di depan pagar.
Dan sebuah kejutan saat ia menyadari Sasuke mengenakan seragam yang sama dengannya.
Jadi dengan senyum lebar yang masih tersungging di bibirnya ia berjalan bersisian dengan sang Uchiha yang kali ini mengenakan syal berwarna merah. Dengan simbol kecil bergambar kipas merah putih di ujungnya yang sama seperti syal biru yang tengah ia pakai.
Keduanya hanya diam saat sampai di depan halte sambil menunggu bis datang. Beberapa siswa lain juga terlihat menunggu di halte itu. Memandang Sang Uchiha sambil berbisik-bisik.
Naruto hanya diam sambil menunduk menatap kedua tangannya yang saling bertaut, sebelum melirik ke samping dimana tangan sang raven yang berbalut jaket hitam itu terkulai di samping tubuhnya.
Entah kenapa ia ingin menggenggam tangan pucat itu.
Lamunannya terhenti saat bis yang mereka tunggu datang. Dan ia harus berdesakan dengan murid lain yang buru-buru naik agar mendapat tempat duduk. Ia hampir saja ambruk ke belakang saat seseorang dengan kasar mendorongnya, hingga seseorang menarik lengannya dan membantunya memasuki bis yang kini telah penuh sesak.
Naruto menghela nafas lega lalu memandang tangan yang memegang lengannya dan mendongak melihat sosok yang kini berada di depannya. Sasuke tengah menatapnya dengan raut wajah yang –agak sedikit- kesal.
"Aku mulai bertanya kenapa kau suka menaiki benda ini," kata Sasuke sambil mengerutkan alis saat bis itu berguncang dan membuat tubuh mereka terdorong ke depan.
"Memangnya kau tak pernah naik bis?" tanya Naruto heran, bis di jam berangkat sekolah seperti ini memang selalu ramai.
Sasuke hanya memalingkan wajah sambil melepas lengan Naruto tanpa mengatakan apapun.
Melihat itu Naruto tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. Senang karena sosok di depannya itu entah kenapa terlihat menyilaukan diantara para penumpang lain yang terlihat berwarna abu-abu.
"Apa yang kau tertawakan, Dobe?" tanya Sasuke sambil mengerutkan alis.
"Aku tidak tertawa," jawab sang Gadis sambil masih tersenyum.
Oniks itu hanya menatap kesal sebelum tiba-tiba bis itu berhenti mendadak membuat tubuh Naruto kembali terdorong ke depan. Refleks Sasuke menangkap pinggang gadis itu sebelum kemudian bis itu kembali berguncang, hingga membuat tubuh berbalut jaket orange itu menubruk dada bidang sang raven.
"M-maaf," gumam Naruto sambil mendongak. Dan terdiam saat menyadari wajah pucat itu tengah menunduk memandangnya . Wajah Naruto langsung memerah. Ia berusaha menjauh namun lengan itu tetap memeluknya erat.
"S-sasuke?" panggil sang gadis nyaris tanpa suara. Ia jadi mengingat hal yang hampir ia lakukan kemarin. Dan itu membuat wajahnya tanpa sadar merona.
Oniks itu memandangnya dengan alis berkerut.
"Jangan pernah naik benda ini lagi tanpaku," perintah Sasuke sambil memandang Naruto serius.
"EEEh?"
.
.
.
#End. 2#
.
.
Maaf ya kalau terlalu lebay ^^v.
Kemarin sepertinya banyak yang down ya gara-gara chap terakhir Naruto... kalau saya sih gak terlalu peduli sama pair canon ^^ soalnya di kepala saya Sasuke dan Naruto udah pasti bersama sih, saya gak peduli dalam hubungan kekasih, saudara, atau ayah anak sekalipun ^^*ngelirik salah satu fic fav* setidaknya mereka berdua udah gak saling bunuh lagi^^
Karena itu saya harap g ada yang ngejelekin MK sensei sampai keterlaluan. Kita masih punya ffn kok ^^v
Maaf banyak omong. Saya kasih omake nih...
.
.
#Omake#
.
Oniks itu perlahan terbuka. Sebelum kembali terpejam dan berusaha kembali tidur. Ia baru saja bermimpi indah. Untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama.
Ia memeluk sosok hangat dalam dekapannya lebih erat sebelum alis hitamnya terangkat saat merasakan angin dingin yang berhembus menerpa wajahnya.
Ia membuka mata. Menatap jaket berwarna orange di hadapannya sebelum perlahan bangun dan memandang sekeliling.
Apa ini surga?
Ia tengah berada di bukit berumput. Sungai jernih di depannya berkilau disinari sinar rembulan yang bertahta di puncak langit. Langit malam itu cerah. Ia bisa melihat sedikit bintang dari sela awan.
Ia menoleh ke samping dan mendapati sosok Naruto yang tengah tertidur pulas. Rambut pirang panjangnya yang tergerai terlihat agak berantakan di atas tanah berumput. Dan wajah kecoklatan itu tersenyum kecil dalam tidurnya. Tangan pucat Sasuke tanpa sadar bergerak menyentuhnya. Pipi sewarna madu yang sangat lembut. Dan rambut pirang yang seperti sinar matahari.
Ia pasti berada di Surga.
Imajinasi Sasuke itu seketika langsung hancur saat sebuah mobil lewat di jalan di atasnya. Dengan lagu yang terdengar keras hingga terdengar olehnya.
'~Sakitnya tuh disini~ Didalam hatiku~Sakitnya tuh disini... Kau menduakan aku~ Sakit~'
Dengan sangat anime sekali. Tubuh Sasuke langsung berubah putih. Dengan sehelai daun yang tertiup angin melewatinya.
Setelah mobil itu menjauh dan lagu itu sama sekali tak lagi bisa didengar, Sasuke langsung memegang wajahnya sambil merunduk. Mengutuki lagu sialan yang menghancurkan imajinasi indahnya.
Angin dingin yang kembali bertiup membuat Sasuke kembali sadar dimana mereka saat ini. Dan ia menoleh menatap tubuh Naruto yang agak menggigil meski telah mengenakan jaket tebal.
Sasuke menghela nafas. Sebelum ia melepas jaket hitamnya dan menyelimutkannya di tubuh Naruto. Ia mengambil tas sang gadis kemudian menyusupkan lengannya ke belakang leher dan lekukan kaki Naruto, dan mengangkat gadis itu dalam posisi pengantin dengan mudah.
Sosok Uchiha itu berdiri sambil memandang gadis dalam dekapannya untuk beberapa lama. Sebelum dalam sekejap menghilang dalam pusaran angin kecil.
Sosok ninja di masa lalu itu muncul di atap salah satu bangunan terdekat. Sebelum kembali bergerak cepat. Melompati tiap atap dalam bayangan.
Tak lama kemudian ia sudah berdiri di atas atap rumah Naruto. Mempertimbangkan apa ia akan melewati pintu depan dan dicap mesum oleh Ibu Naruto atau langsung masuk ke kamar sang gadis seperti biasa.
Keputusan selama sedetik diambil. Sasuke melompat ke bawah dan sedetik kemudian melompat masuk lewat jendela yang masih terbuka.
Kamar itu masih gelap tanpa penerangan, namun Sasuke dengan mudah berjalan menuju sisi ranjang. Ia membaringkan gadis dalam dekapannya itu dengan lembut kemudian menyalakan lampu kecil yang berada di sampingnya.
Sekejap kamar itu kini penuh pendar-pendar berwarna biru terang.
Sasuke duduk di samping ranjang dan menyibak rambut pirang Naruto yang berantakan. Memperlihatkan wajah sang gadis yang masih tertidur lelap.
Sasuke tersenyum kecil, sebelum mendekatkan wajahnya dan mencium dahi sang gadis.
"Mimpi indah, Naruto."
.
.
.
#End. Omake.#
.
REVIEW?
.
