Tittle : HATE OR LOVE

Author : AedaSha

Cast : YUNJAE, SICHUL, YOOSU

Genre : family, romance (pokoknya genrenya campur-campur)

Warning : SG buat para uke

CHAPTER 3

"Yunho, tolong jaga Jonggie… jika ada apa-apa langsung hubungi kami" ucapa Heechul. Kini Siwon dan Heechul akan pulang setelah keadaan Jaejoong membaik.

"ne.. Umma"

"kami pulang dulu Yunho-ah" ucap siwon berpamitan

-AedaSha-

Yunho berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat (bukan kamar utama, kamar biasa yang digunakan Yunho untuk tidur. Tapi ketika memasuki kamar badan Yunho ada yang mendorongnya kedinding..

"Boo apa yang kau lakukan?" ternyata orang yang mendorongnya adalah istrinya sendiri. Padahal setahunya Jaejoong sudah tidur tadinya.

"apa yang aku lakukan? SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA APA YANG KAU LAKUAKAN HAH… KENAPA KAU MEMBUATKU HAMIL" teriak Jaejoong

"tapi itu bukan salahku… seharusnya kita bersyukur. Banyak pasangan diluar sana yang susah mendapatkan keturunan."

Mendengar ucapan Yunho Jaejoong semakin kesal dan..

"AKHHH… Boo… kenapa menendang asetku.. akh… ini benar-benar sakit.." rintih Yunho kesakitan sambil menutup selangkangannya yang baru saja mendapat kekerasan fisik dari istrinya sendiri.

"rasakan! Aku tidak peduli… seharusnya kau bersyukur juniormu itu tidak aku cincang dengan pisau dapur!"

"kau tega sekali Boo.. kalau juniorku kenapa-napa.. akau tidak bisa memuaskanmu lagi Boo. Ini asset yang sangat berharga Boo.."

"benarkah… ah.. Yunnie benar… kalau Junior Yunnie terluka, pasti nanti tidak akan bisa memuaskan Jonggie lagi…" ucap Jaejoong seduktif sambil mendekat kepada Yunho. Tapi..

"AUHH… YAK BOO KENAPA MENENDANG KAKIKU JUGA…" oh ternyata Yunho salah mengira. Dia berfikir Jaejoong menyesali perbuatannya tapi ternyata Jaejoong menendang kembali, bukan di juniornya tapi ditulang kering kaki Yunho.

"ups.. mianhae Yunnie, Jonggie tidak sengaja.. hah.. Jonggie lelah. Yunnie, Jonggie tidur dulu ya…." Jaejoong pun melangkah cuek keluar kamar tanpa ada rasa bersalah dan tidak peduli dengan Yunho yang kesakitan

"rasakan! Kau lihat saja apa yang aku lakuakan padamu Beruang mesum. Aku akan membuatmu menyesal…" batin Jaejoong setelah keluar kamar

"akh.. tidak kusangka, ternyata perempuan hamil memeiliki kekuatan yang luar biasa, padahal dia baru pingsan beberapa jam yang lalu. Apa ini mungkin efek bayi yang dikandungnya. Tuhan… jangan samapi anakku memliki sifat buruk Ummanya.."

-AedaSha-

Hari yang dilalui pasangan Yunjae masih berjalan biasa. Ya… biasa dihiasi teriakan, omelan bahkan menjurus kekerasan fisik. Tapi semua itu hanya dirasakan oleh Yunho…

'Hyung… kenapa baru diangkat sekarang? Dari tadi aku dan Su-ie menghubungi Hyung' tanya Yoochun diseberang line telpon Yunho

"maaf Chun, Pekerjaanku sangat banyak dikantor, kebetulan ponselku di charg dalam keadaan mati tadi. Memangnya ada apa?"

'Hyung sebaiknya ke Club Mirotic sekarang…' "

"memngnya ada apa? aku masih berada dikantor"

"Hyung, Jaejoong sepertinya mabuk, aku…"

"baiklah aku akan kesana." Yunho pun menutup panggilan dan begeas pergi.

"aish… kenapa masih mabuk… Tuhan tolong jaga anakku jangan samapi terjadi hal buruk menimpanya hanya karena ulah Ummanya"

Sesampainya di club Mirotic Yunho mencari keberadaan Jaejoong.

"Jonggie sudah.. kau sudah mabuk. Jika Yunho Oppa tahu bagaimana" Junsu masih mencoba melarang Jaejoong hendak minum kembali.

"Hik.. Su-ie.. kau mengganggu.. sebaiknya kau pulang Hik.. dengan si Jidat itu.. Hik" Jaejoong mengambil gelasnya kembali tapi sudah ada yang menahan peregerakannya.

"Jae… cukup!" tegas Yunho sambil mengambil gelas dari tangan Jaejoong

"eh.. Yunnie… apa kau mau minum bersama hik..ku?"

"Jae sebainya kita pulang" ucap Yunho dingin

"ah..aku belum menghabiskan minumanku…" Yunho tidak peduli dan menarik pergelangan Jaejoong.

"YAK..AKU SUDAH BILANG… MINUMANKU BELUM HABIS…HIK…KENAPA KAU HIK..SELALU MERUSAK KESENAGANKU HAH?"

"Jae… sudah aku katakan, ubah sifat burukmu itu. Berhentilah minum. Kau bisa menyakiti anak kita"

"anak? Jangan bercanda. Aku tidak punya anak"

"jangan bodoh Jae.. jangan bilang kau lupa sekarang sedang hamil" semua orang yang berada di klub kaget mendengarnya termasuk Junsu dan Yoochun. Setau mereka semua Jaejoong belum menikah kecuali Junsu dan Yoochun.

"APA YANG KAU KATAKAN HAH… AKU TIDAK HAMIL"

"sebesar apapun kau menolaknya, tapi Tuhan sudah menitipkannya di dalam rahimmu sekarang."

"AKU TIDAK MENGINGINKAN ANAK INI! AKU BENCI KAU DAN JUGA ANAK INI!"

" Kau boleh membenciku tapi tidak dengan anak kita. Dia tidak tahu apa-apa Jae"

"aku benci anak ini karena kau! karena kau Appanya. Aku tidak sudih punya an… akhh… perutku.." Jaejoong meringis kesakitan sambil memegang perutnya.

"Jae Gwenchana?" panic Yunho melihat Jaejoong kesakitan.

"Hyung sebaiknya cepat bawa Jaejoong pergi dari sisni… jika perlu bawa dia kedokter sekarang, karena dia sudah terlalu banyak minum. Kemungkinan kandungannya dalam bahaya karena mengkonsumsi alcohol." Ucap Yoochun

"benar Oppa, jika tahu Jonggi hamil. Kami pasti sudah menyeretnya pergi dari sini. Mianhae Oppa" sesal Junsu

"ini bukan salah kalian. Kalian tahu sendiri Jaejoong sangat keras kepala." Yunhopun membawa Jaejoong pergi kerumah sakit

-Aedasha-

"Jae.. sebaiknya kita bicara" ucap Yunho. Kini Yunho dan Jaejoong sudah sampai ke Apartemen setelah sebelumnya dari rumah sakit.

"aku lelah…"

"aku tahu, tapi aku harap kau mendengar apa yang dikatakan dokter tadi. Mulai sekarang berhentilah minum alcohol. Kau harus menjaga kandunganmu.."

"aku sudah dengar, jangan kau ulangi lagi. Kau fikir aku tuli!" ketus Jaejoong

"aku hanya mengingatkan Jae. Aku sangat mengkhawatirkan kau dan juga anak kita. Aku tidak mau terjadi hal buruk dengan kalian berdua. untung saja anak kita tidak terjadi apa-apa"

"anak kita? Dia bukan anakku"

"Jae…"

"aku leleh. Kau tidak dengar apa yang dikatakan dokter hah.. aku harus banyak istirahatat. Tapi sekarang kau mau mengganggu istirahatku"

"mian.. Jae. Baiklah. Jika perlu sesuatu beritahu aku" Yunhopun keluar dari kamar dan membiarkan Jaeoong istirahat

"hei monster kecil.. ternyata kau kuat juga ya… padahal aku sudah banyak minum, tapi sepertinya kau baik-baik saja. Kau tidak gerah didalam pertku. hah… sepertinya aku sudah mulai gila dengan semua ini" Gertu Jaeoong

-AedaSha-

"aishhh susah sekali…. Kenapa sempit sekali"

"Jae kau sedang apa" tanya Yunho memasuki kamar dan melihat Jaejoong.

"kau tidak lihat akau sedang memasang celanaku, hah… kenapa tidak bisa" Jaejoong masih mencoba mengancingkan celanamya.

"Jae. Celana itu tidak muat lagi denganmu. Kau tidak lihat perutmu sudah mulai membeasr. Sebaiknya jangan memakai celana-celana itu lagi" larang Yunho. Perut Jaejoong sudah mulai terlihat mengakibatkan celana Jins yang akan dipakai Jaejoong tidak bisa dikancingkan lagi

"lalu aku harus pakai celana yang mana? Semua celanaku semuanya seperti ini! ini semua juga karenamu, jika aku tidak hamil, aku tidak akan serepot ini memilih celana!"

"mulai sekarang pakailah pakaian yang sesuai dengan kondisimu sekarang, ya.. mungkin dress atau semacam baju hamil.."

"TIDAK…AKU TIDAK MAU ORANG TAHU JIKA AKU SEKARANG SEDANG HAMIL… apalagi di kampus.. dengan memakai pakaian seperti itu orang-orang akan berfikir aneh tentangku… aishhh… kenapa hidupku semakin rumit…"

"bagaimanapun kau meutupnya, perutmu tidak bisa menutupinya Boo. Lihatlah sekarang, kehamilanmu masih di bulan ke tiga, tapi kau sudah susah memamki celana.."

"lalu aku harus bagaimana? INI SEMUA KARENAMU JU..oppss" Jaejoong langsung menutup mulutnya ketika hendak mengeluarkan kata yang seharusnya tidak ia ucapakan. Beberapa minggu ini Jaejoong mengontrol untuk tidak memanggill Yunho dengan JUNG lagi.. sepertinya Jaejoong kapok jika bibirnya dihabisi beruang mesum. Jaejoong lebih memilih memanggil Yunnie biarpun itu sangat menggelikan menurutnya.

"jika kau ingin tidak mau kampus tahu tentang kehamilanmu, kau bisa ambil cuti sampi melahirkan atau terserah kau saja mau melanjutkan kuliah atau tidak selesai melahirkan. Tapi aku lebih suka kau dirumah sehingga bisa menjaga anak kita nanti"

" DIRUMAH…JANGAN MIMPI.. AKU TIDAK MAU MNGURUS ANAK INI. aku setuju untuk menjaga kandunganku samapi melahirkan, tapi jangan harap akau mengurus anak ini lahir. Ini anakmu! kau saja yang mengurusnya!"

"Boo.. jangan bicara seperti itu… bagaimanpun kau tetap Ummanya"

"KAU TAHU, AKU MENIKAH DENGANMU SAJA ITU SUDAH BENCANA DI HIDUPKU. APALAGI ADA ANAK INI LAGI..! KAU BENAR-BENAR MERUSAK MASA MUDAKU! Kau tahu, Aku mearasa sudah tua diumurrku yang masih 19 tahun.. hiks hiks… Hweeee…." akhir-akhir ini Jaeoong sangat sensitive dan mudah menagis. Maklum bawaan hamil.

"Boo.. jangan menangis… kau tidak tua malahan kau semakin cantik dan sexy semenjak hamil"

"kau hiks..hanya menghiburku kan?.. KAU TIDAK LIHAT BADANKU SUDAH MULAI GENDUT DAN PERUT YANG MEMBESAR… SEXY DARIMANYA? Lebih baik aku gugurkan saja anak ini…!"

"Jae kau bicara apa? bukankah kau mau menjaga kandunganmu sampai melahirkan."

"baikalah.. aku akan tetap menjaga kandungan ini sampai melahirkan. Tapi ada syaratnya.."

"syarat? Syrat apa? da… dan untuk apa?" bingung Yunho

"KAU MAU ANAK INI LAHIR TIDAK?!"

"ok.. apa syaratnya.. tapi ingat, jika syarat itu masuk akal akau akan melakukannya, jika tidak.."

"kau tidak bisa menolaknnya" potong Jaejoong

"katakan…"

"aku akan menjaga kandungan ini samapi melahirkan. Tapi setealah melahirkan… kau harus menceraikan aku. Kau tenang saja aku pastikan anak ini untukmu, karena akau tidak mau mengurus anak ini.. bagaimana? Aku rasa itu bukan syarat yang sulit. "

" Kau boleh kejam denganku Jae, tapi tidak dengan anak kita. Tidakkah ada rasa sayangmu untuk anak kita, bahkan sekarang saja dia sudah bagian dari dirimu. Kenapa kau tega bicara seperti itu? Apa kau fikir dengan bercerai semuanya akan lebih baik?" ucap Yunho kecewa

"jangan banyak bicara.. cepat katakan setuju atau tidak" Jaejoong jengah dengan ucapan Yunho.

"baiklah, aku akan menceraikanmu sampai kau melahirkan. Tapi aku juga punya syarat juga untukmu"

"YAK.. APA-APAAN ITU. KAU TIDAK BISA MEMBERIKAU SYARAT JUGA! AKU TIDAK MAU!"

"kau tidak mau? Baiklah… jangan pernah berharap aku akan menceraikanmu"

"kalau begitu jangan berharap anak ini lahir dengan selamat!" ancam Jaejoong

"terserah… kau mau menggugurkannya aku tidak peduli. Akau bisa membuatnya lagi denganmu bukan?. Jika kau tidak mau, aku bisa memaksamu menidurimu setiap malam… tidak akan ada yang bisa melarangnya termasuk Hukum, karena kau akan menjadi istriku selamanya. Jika kau ingin mengadu dengan orang tuamu silahkan saja, karena aku pastikan orang tuamu akan berpihak kepadaku. Bagaimana Boo" Oh ternyata Yunho sangat pandai bertaktik membuat Jaejoong semakin panas.

"ka…kau KAU GILA HAH… MAU MENIDURIKU SETIAP MALAM… JANGAN BERMIMPI… ba..baiklah apa syaratnya"

"syaratnya juga mudah… kau harus menjaga kondisi kesehatanmu karena akau tidak mau hal buruk terjadi denganmu juga anak kita."

"anakmu!"

"ok.. anakku. Yang kedua Kau harus menuruti semua perintahku apapu itu selama kau hamil"

"TIDAK BISA SEPERTI ITU.. KENAPA HARUS AKU MENURUTIMU!"

"yang ketiga, berhentilah berterik dan mulai sekarang bicara yang lembut dan manis denganku"

"KENAPA BANYAK SEKLAI SYARATNYA! ITU TIDAK ADIL… AKU HANYA MEMBERIMU SATU SYARAT.!" Kesal Jaeoong atas syarat yang diberikan Yunho

"ya.. itu jika kau setuju. Jika kau setuju, aku juga akan setuju dengan syratmu tadi, tapi jika tidak ya.. kau tahu sendiri.." cuek Yunho

"baiklah… akau setuju. Tapi tepati janjimu.." mau tidak mau Jaejoong mnyetujui Syarat yang diberikan Yunho

"tenang saja, akau orang yang selalu komitmen dengan ucapanku. Tapi ingat… sekali saja kau melanggar syarat tadi… jangan pernah berharap akau akan menceraikannu"

"kau… ok! Deal.." dan keduanya berjabat tangan pertanda bersepakat

"aku pastikan kau menyesal meminta cerai dariku Boo. Tidak semudah itu aku melepaskanmu. Baby bantu Appa mengahadapi Ummu" bisik Yunho dalam hati

-Aedasha-

Jaejoong kini sibuk didapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Semenjak perjanjian itu kehidupan Yunjae sedikit berubah. Jaejoong memlih cuti dari kuliahnya dan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah. Kalaupun keluar hanya bersama Yunho atau dengan Ummanya.

Yunho keluar dari kamarnya, oh iya.. semenjak perjanjian itu pula Yunho sudah sekamar dengan Jaejoong. Tentu saja Yunho menggunakan syarat yang dibuatnya untuk menuruti semua perintahnya, salah satunya mereka harus tidur sekamar dan Jaejoong tidak bisa menolaknnya. Yunho melangkah kedapur dan melihat istrinya sedang sibuk. Tapi Yunho harus menelan ludah melihat penampilan istrinya. Lihatlah kini Jaejoong hanya memaki baju kemeja Yunho yang kebesaran ditubunya dan hanya menutupi sampai sebatas paha"

Grep

"YAKK..eh Yunnie, yunnie mengagetkanku" kaget Jaejoong.

"kau sedang apa Boo" ucap Yunho memeluk pinggang dan mengusap perit buncit istrinya dari belakang. Kehamilan Jaeoong sudah memasuki bulan ke lima.

"Yunnie.. geli.. sebaiknya kau duduk, aku akan menyiapkan sarapan" ucap Jaejoong kegelian akibat ulah Yunho yang mengendus leher Jaeoong.

"Boo, kenapa akhir-akhir ini aku lihat kau sering memaki kemejaku. Padahal Umma sudah membelikan dress hamilkan?" tanha Yunho yang kini sudah duduk di depan meja makan.

"entahlah.. akau merasa nyaman memakai kemejamu.. apa tidak bolah"

"bukan begitu.. tentu saja aku tidak masalah. Malah akau senang melihatnya kau semaki kelihatan sexy Boo" goda Yunho membuat wajah Jaejoong memerah.

"Yunnie.. aku bolah minta sesuatu?"

"apa..?"

"aku mau makan pizza porsi besar, burger 2 porsi dan ice cream rasa cokelat vanilla 2 cup "

"apa tidak kebanyakan? Kau yakin akan bisa menghabiskannya?"

"tentu saja. Aku selalu menghabiskan semua yang aku minta." Ya memang bebrapa hari ini Jaejoong memiliki selera makan diatas kewajaran dari porsi yang biasa dia makan. Beberapa hari sebelumnya Jaejoong juga ingin dibelikan Soondubu, Ddukbokkie, Dakjuk dan semua makanan yang selama ini tidak pernah dimakan dan tidak suka, semenjak kehamilannya Jaejoong ingin memakan semua. Jaejoong pernah mencoba menahan seleranya, tapi yang terjadi Jaejoong merasa tersiksa akan tendangan monster kecil dari dalam perutnya. Dia tidak rela jika Ummanya menahan selera makannya.

"sebelum kau hamil, makanmu tidak sebanyak ini? aku tidak tahu orang ngidam bisa makan sebanyak itu"

"aku juga tidak tahu.. kata Umma juga begitu. Biasanya orang ngidam itu hanya ingin saja, tapi nanti yang dimakan hanya sedikit. Aku mencoba menahannya, tapi tidak bisa. Aku rasa karena ada bayi foodmonsterrdi dalam perutku ini"

"sudahlah tidak apa-apa… selagi itu tidak mempengruhi kesehatanmu aku tidak masalah. Aku juga tidak mau anak kita ileran nantinya. Tapi akau sedikit bingung, bukankah orang ngidam itu dibulan awal, tapi kau sekarang sudah memasuki bulan ke lima masih mengalami ngidam"

"mana aku tahu Yunnie, semenjak aku tahu aku hamil aku tidak merasa apa-apa. ya.. hanya mual biasa. Tapi semenjak menginjak bulan ke lima ini barulah aku merasakan ini"

"mungkin baby kita tahu diawal kehamilannya Ummanya tidak menerimanya. Tapi akau rasa sekarang dia harus balas dendam denganmu.."

"kau fikir aku sudah menerimanya? Ah.. eh.. sebaiknya kau sarapan. Nanti kau terlambat" ucap Jaejoong keceplosan dan mencoba mengalihkan pembicaraan, tapi Yunho terlanjur mendengar ucapan Jaeoong.

"apa kau benar-benar belum bisa meneriamanya Boo" batin Yunho

-AedaSha-

"Yun bagaimana dengan Jaejoong? Apa dia masih berulah?" tanya Heechul. Heechul kini berada diruang kantor Yunho. Sebenarnya Siwon dan Heechul tahu sikap Jaejoong kepada Yunho selama ini. Yunho juga menceritakan apapun tentang Jaeoong kepada Heechul. Tetapi Siwon dan Heechul tidak mau terlalu mencampurinya terlalu dalam. Mereka hanya memberikan solusi dan nasihat kepada Yunho untuk menghadapi Jaejoong.

"entahlah Umma. Tapi semenjak perjanjian itu dia mulai bersikap lembut kepadaku. Aku tidak tahu itu dari hatinya atau hanya mengikuti syarat yang kuberikan agar aku menceraikannya"

"Hah… anak itu. Dasar keras kepala"

"maafkan aku Umma. Aku belum bisa membahagiakan Jaejoong"

"ini bukan salahmu. Aku tahu kau sangat mencintainya dan akan menjaganya. Malahan Umma salut denganmu bisa merubah sedikit kebiasaan buruknya itu, baiarpun harus ada perjajian konyol itu. "

"tapi akau takut Umma. Aku takut.. jika setelah selesi melahirkan nanti dia benar-benar akan meminta cerai dariku. Lalu akau harus bagaimana?" khawatir Yunho

"sudahlah jangan terlalu difikirkan, jalani saja dulu dan nikmati masa dimana kau bisa menguasainya dan mengaturnya. Setelah melahairkan kita fikirkan nanti. Umma dan Appa juga tidak akan mungkin membiarkan kalian bercerai.

-AedaSha-

Kandungan Jaejoong memasuki bulan ke tujuh dan perutnya semakin membesar. Tetapi semakin hari Jaejoong menjadi semakin rajin memasak padahal dulunya dia sangat malas memasak apalagi mengijakkan kakinya di dapur. Jaeoong selalu membuat menu-menu baru setiap harinya yang membuat Yunho dan orang tuanya bingung dengan kelakuan Jaeoong. Tapi mereka harus mengakui makanan buatan Jaejoong sangat enak. Ya.. setidaknya Jaejoong lebih sering dirumah dan itu lebih baik. Mungkin ini salah satu bawaan bayi yang menginginkan masakan buatan Ummanya sendiri. Pagi ini Heechul mengunjungi apartemen Yunjae.

"apa Jonggie tidak capek memasak terus? Apalagi sekarang perutmu sudah membesar" tanya Heechul

"Jonggie tidak tahu Umma. Rasanya berada di dapur itu sangat menyenangkan sambil membuat masakan baru setiap harinya."

"ya.. itu lebih baik daripada berkeliaran diluar tidak jelas. Ah.. sekali-kali kau antar m makan siang untuk Yunho dikantornya, Umma rasa di pasti akan sangat senang"

"untuk Yunho? Kekantor? Tidak! Dengan keadanku seperti ini? pasti sangat memalukan Umma…"

"dasar.. apanya yang memalukan. Kau malu jika kau sedang hamil hah..? lagi pula ini saatnya orang-orang tahu jika kau sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. Mau sampai kapan menutupinya?"

"bu…bukan begitu Umma, tapi…"

"sudah jangan banyak alasan. Nanti kau anatar bekal makan siang suamimu, biara Umma menyuruh supir mengantarmu kekantor. Ah.. Umma mau pergi dulu. Cucu halmonie jangan nakal ya.. jangan seperti Ummamu yang sangat keras kepala itu." Ucap Heechul sambil mengelus perut Jaeoong

"YAK UMAAA… SIAPA YANG KERAS KEPALA" teriak Jaeoong

"sudah jangan berteriak, nanti anakmu didalam perutmu terkejut.."

-AedaSha-

"aku tidak menyangka ternyata kau yang menjadi model untuk produk terbaru perusahaan kami" ucap Yunho

"aku juga tidak menyangka jika ternya Oppa yang menjadi pemimpin di persahaan Choi. Corp. setahuku pemimpin perusahan ini kan Choi Siwon. Oh ya Oppa, bukankah Oppa menjadi asisten dari anak Choi siwon? Tapi kenapa Oppa…" tanya Victoria

"sebenarnya aku bekerja disini Vic dan ya.. mungkin dia mengnggap aku sebagi asistenya karena aku memang masih bawahan Appanya, Choi Siwon."

"tapi sangat aneh Oppa. Jabatan Oppa disini hanya di bawah Choi Siwon pemilik perusahaan ini seharusnya dia tidak semena-mena dengan Oppa."

"biarkan saja Vic.." ucap Yunho dan dibarengi datangnya minuman yang dibawakan olah salah satu karyawannya.

"silahkan diminum Vic"

"ne.. Oppa ayo kita cheers sebagai tanda kerjasama kita"

"baiklah.. Cheers" tapi ketika hendak melakukan cheers, entah terlalu bersemangat Victoria tanpa sengaja menumpahkan minumannya ke jas Yunho. Memang hanya tumpah sedikit, tapi tetap saja terlihat

"maaf.. Oppa. Aku benar-benar minta maaf" Victoria pun mencoba membersihkan Jas yang dikenakan Yunho dengan Tissu

"sudah Vic tidak apa-apa, lagi pula tumpahnya hanya sedikit"

"tapi ini akan meninggalakn bekas Oppa… aduh bagaimana ini" panik Victoria

"sungguh Vic tidak apa-apa" Yunho mulai merasa kurang nyaman dengan kondisinya sekarang. Victoria sangat dekat dengannya ditambah lagi Victria sibuk membersihkan Jasnya. Bagaiman jika ada yang masuk dan berfikir macam-macan"

CEKLEKK..

"Yunn…" Yunho terkejut ketika ada yang memasuki ruangannya. Tapi lebih terkejut ketika dia melihat Jaeoong. Brakk.. Yunho dapat melihat bekal makanan yang dibawa Jaejoong terjatuh dan menyebabkan isinya berserakan sebagian.

"Boo… booo…" panggil Yunho. Tapi Jaejoong melangkah pergi

"Oppa mau kemana? Jas Oppa belum bersih."

"maaf Vic. sebaiknya kau pulang. aku harus menyelesaikan urusanku dulu"

Yunho dengan cepat pergi mencari Jaejoong dan dia dapat melihat Jaejoong yang akan keluar gedung..

"Jae… kau kenapa?" tanya Yunho setelah berhasil menagkap pergelangan Jaejoong

"LEPASKAN… AKU MAU PULANNG"

"tapi kau belum jawab pertanyaanku, dan kenapa kau menjatuhkan kotak bekal. Apa itu untukku?"

"tidak!"

"Boo, lalu kenapa kau menangis? Apa aku membuat kesalahan? Atau perumu sakit?" tanya Yunho yang melihat mata Jaejoong berair dan mencoba menyentuh Jaejoong

"jangan pernah mnyentuhku? Aku menyesal telah menyetujui syarat gila ini. SEHARUSNYA AKU TIDAK MENYETUJUI SYARAT GILA YANG KAU BERIKAN KEPADAKU. SEHARUSNYA AKU TIDAK MENIKAH DENGANMU DAN HAMIL ANAKMU PABOOO!"

"Boo kenapa berteriak. Ini masih dikantor tidak enak dilihat orang"

"KENAPA? KENAPA KAU MALU HAH? BIARKAN SAJA SEMUA ORANG DIKANTOR INI TAHU BAHWA KAU BRENGSEK.."

"jae kau bicara apa? aku tiak mengerti."

"kau tidak mengerti? Kau ingin aku mempertahankan anak ini, tapi apa balasanmu? KAU SELINGKUH DIBELAKNGKU HAH.. DISAAT AKU SUSAH PAYA MENJAGA ANAKMU INI, KAU SIBUK DENGAN YOEJA LAIN… DASAR BERENGSEK KAU JUNG…"

"siapa yang selingkuh, aku tidak selingkuh. Ohh.. kau hanya salah sangka Jae. Itu tidak seperti yang kau bayangkan"

"AKU TIDAK PERDULI LAGI DENGANMU…aku sangat membencimu Jung Yunho" Jaejoongpun melangkah pergi dengan tergesa-gesa dan langsung memasuki mobilnya.

"Jae.. tunggu dulu. Kau harus dengar penjelasanku dulu.. aishhh…"

Sedangkan karyawan kantor hanya bingung dengan pembicaraan Yunho dengan anak pemilik perusahaan. Mereka tahu Jaejoong anak dari Choi Siwon, tapi mereka tidak tahu hubungan Jaejoong dengan Yunho. Semua itu membuat tanda tanya besar bagi mereka yang melihat Yunho dan Jaejoong yang bertengkar

-AeadaSha-

Heechul mendengar bel ruamahnya berbunyi dan membukakn pintu

"YAKK…"

" hiks..hiks Umma…" Heechul terkejut ketika Jaeoong tiba-tiba memeluknya dan menangis

"hei.. kau kenapa? Kenapa menagis. Ayo sebaiknya kita kedalam dulu" Heechulpun membimbing Jaeoong berjaln keruang tengan dan duduk di sofa

"katakan, Jonggie kenapa menangis?"

"hiks.. Umma… Yunne selingkuh Umma" ucap Jaejoong

" selingkuh? Yunho?"

"iya Umma. Ketika Jonggie sedang mau mengantar bekal makan siang, Jonggie meliha Yunho dengan seorang Yoeja dan mereka sangat dekat dan Jonggie melihat mereka berpelukan Umma, Hwee.."

"berpelukan? Oh.. mungkin mereka hanya berteman. Kan biasa berteman berpelukan" ucap Heechul enteng

"UMMAA… mereka berpelukannya sangat intim dan sepertinya mereka hampir..hampir berciuman"

"berciuman? Tidak mungkin! Yunho bukan orang seperti itu. Mungkin kau salah lihat"

"tidak Umma! Aku melihat dengan mataku sendiri. Tapi kenapa Umma masih tidak percaya"

"percaya kepadamu sebuah kesalahan besar Jonggie. Umma tahu sifatmu selama ini. hah.. apa kau cemburu ?"

"APA? CE..CEE..MBURU? Si..siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu! Aku hanya kesal. Disaat aku sedang mengandung anaknya, malahan dia asyik dengan Yoeja lain. Memangnya dia anggap apa Jonggie"

"aish… sudahlah, jangan mengelak lagi. Lagi pula wajar jika kau cemburu. Berarti Jonggie mencintai Yunho, Yak an?" goda Heechul

"UMMA… UMMA BICARA APA? JJONGGIE TIDAK CEMBURU… umma sama saja dengan si Jung itu. Sama-sama menyebalkan!" ucap Jaejoong melangkah pergi

"Yak Jonggie. Kenapa jadi marah sama Umma. Aishh…anak itu, kapan dewasanya. Tuhan tolong lindungi cucuku…"

-AedaSha-

"Umma, Jonggie dimana?" ucap Yunho ketika memasuki rumah mertuanya

"dia sedang ada dikamarnya. Yunho, apa benar kau berselingkuh?" tanya Heechul

"selingkuh? Tidak mungkin Umma, Umma tahu sendiri aku sangat mencintai Jonggie apaalgi sekarang dia sedangm mengandung anak kami."

"lalu siapa Yoeja yang kau peluk"

"hah.. Dia salah paham Umma. Dia temanku namanya Victoria, dia juga akan menjadi model untuk produk baru perusahaan dan Kami tidak berpelukan. Mungkin Jonggi salah melihat. sebenarnnya Victoria membersihkan jasku yang terkena kopi, sehingga kelihatannya kami sanagt dekat dan membuat Jonggie salah paham."

"Umma percaya padamu Yun. Kau pasti tidak akan menghianatinya. Justru Umma khawatir dengan anak nakal itu jika dia yang akan berselingkuh nantinya."

"itu tidak akan kubiarkan Umma…"

"ya… Umma harapa semuanya baik-baik saja. Tapi sepertinya dia mulai menyukaimu"

"maksud Umma apa? aku rasa dia masih membenciku apalagi dengan kejadian ini"

"aishh kau ini… kau tahu kenapa dia marah ketika melihat kau dengan Yoeja lain? Itu tandanya dia cemburu. Masa itu saja kau tidak tahu."

"be..benarkah Umma?" kaget Yunho

"yang Umma lihat seperti itu, tapi sepertinya dia masih gengsi mengakuinya. Sebaknya kau lihat dia dikamarnya. Umma lihat dia agak gelisah tidurnya dan tadi juga dia mengeluh monster kecil didalm perutnya itu tidak mau diam"

"benarkah? Kalau begitu aku kekakmar dulu Umma"

Yunho membuka kamar Jaeoong dan melihat Jaejoong yang sedang tidur, tapi Yunho dapat melihat Jaeoong tidur agak gelisah. Yunho pun melangkah mendekati ranjang Jaeoong

"baby…ini Appa. Kenapa belum tidur? Kasian Umma tidak bisa tidur nyenayak sayang" ucap Yunho sambil membelai perut buncit Jaeoong. Tapi bukannya berhenti Yunho masih merasaakn pergerakan baby kecilnya di perutk Jaejoong.

"baby merindukan Appa? Appa kan sudah disini, Appa janji tidak akan pergi. Ini sudah malam sayang. Sebaiknya kita istirahat" Yunho melepaskan usapan perut Jaejoong dan akan beranjak keluar, tapi

"eugh…" Yunho melihat Jaeoong yang masih gelisah didalm tidurnya dan Yunho tahu bahwa anaknya belum tenang. Akhirnya Yunho menaiki rranjang dan tidur disebelah Jaeoong sambil mengusap peut Jaeoong dan akhirnya tertidur.

Jaeoong membuka matanya dan merasakan ada yang menyentuh perutnya dan ketika menoleh kesamping

"YAKK.. APA YANG KAU LAKUKAN DISINI HAH… PERGI SANA! KENAPA KAU DIKAMARKU"

"ugh.. Jae.. kenapa berteriak ini masih pagi. Atau kau sudah lupa janjimu untuk tidak berteriak lagi"

"JANJI? AKU TIDAK PEDULI DENGAN JANJI ATAUPUN SYRAT YANG KAU BERIKAN… AKU MERASA DIBODOHI OLEHMU JUNG BRENGSEK! AKH…"

"Jae… apa ada yang sakit?" ucap Yunho

"akh.. kau tahu, anakmu ini menendangku. Hei monster kecil, kau tidak terima aku mengatai Appamu brengsek hah.? akh… YAK KENAPA DENGANMU? JANGAN MENENDANGKU TERUS, ATAU KAU INGIN AKU KELUARKAN SEKARANG HAH.."

"Jae.. jangn bicara seperti itu. Kau ingin dia tenang? Tapi kau yang membuantnya tidak tenang. Aku rasa dia tidak suka Ummanya berteriak"

"hey… dengar ya? Ini anakmu. seharusnya dia bersyukur aku masih menumpangkan dia tumbuh diperutku, jika akau mau, aku sudah megeluarkannya sejak dulu."

"Jae… aku fikir kau sudah berubah. Kau tahu, aku kecewa dengan sikapmu. Aku mengajukan syrat-syrat itu semua agar kau lebih baik. Dan kau yang memulai membuat syrat bukan?"

"jadi kau berharap aku akan luluh mencintaimu begitu? Hah… kau terlalu banyak berkhyal Jung. Aku tidak peduli lagi dengan syratmu dan juga dengan hukuman anehmu itu. Berani kau menghukumku dengan bibirmu itu, aku pastikan ankmu ini akan lahir lebih cepat. Ingat itu Jung"

"…." Kenapa? Kenapa kau tega Boo, bahkan dia darah dagingmu sendiri" lirih Yunho. Jaeoong pergi keluar kamarnya tanpa peduli dengan Yunho.

"Um..ma,. Kenapa berdiri di.. disni" tanya Jaejoong gugup. Ketika membuka pintu kamar ternya Heechul sudah berdiri didepan kamarnya, Jaeoong takut jika Umma mendengar ucapannya tadi

"berani Jonggie mengeluarkan cucu Umma sebelum waktunya, Umma juga akan memasukkan Jonggie ke perut Umma kembali" ucap Heeschul dingin

"Um…umma bicara apa? mana mungkin Jonggie megeluarkannya sekarang. Ini kan belum waktunya. Lagi pula mana mungkin Jonggie bisa masuk dalam perut Umma kembali"

"benarkah? Tapi Umma rasa mudah. Umma akan membagi tubuh Jonnggie kecil-kecil, lalu Umma makan dan sampai keperut Umma. Mudah bukan?"

"um..umma kenapa jadi menyeramkan seperti itu. Itu sama saja menghabisi nyawa Jonggie"

"bagaimana denganmu Hah.. bukankah kau juga ingin menghabisi nyawa anakmu Hah? Umma tidak menyangka kau bisa menjadi Umma yang kejam"

"apa yang Umma bicarakan. Jonggie tidak mengerti"

"jangan mengelak lagi Jung Jaejoong. Umma tahu semua kelakuanmu selama ini juga kelakuan dengan suamimu"

"jadi si Jung itu mengadu dengan Umma, lucu sekali.. lalu Umma percaya? Sebenarnya Jonggie atau dia anak Umma. Kenapa Umma lebih percya dengannya dari pada Jonggie?"

"jangan banyak bicara… kalau sampai Jonggie bercerai dengan Yunho, jangan harap memakai nama Choi kembali"

"jika Jonggie bercerai dengan si Jung itu, tentu saja nama Jonggie menjadi Choi Jaejoong kembali"

"oh… jadi kau benar ingin bercerai dengan Yunho?"

"ah… i..itu…" Jaejoong bingung. Tanpa disadrainya, Jaejoong sudah mengatakan ingin bercerai.

"kau akan menyesal menyia-nyiakan seorang Jung Yunho. Ingat itu Jung Jaejoong" ucap Heechul dingin dan melangkah pergi meninggalkan Jaejoong yang masih gugup.

-AedaSha-

Jaeoong kini sedang di supermarket. Jaejoongpun masih tinggal dengan orang tuanya. Jaeoong tidak mau kembali keapartemen bersama Yunho. Yunhopun tidak bisa memaksa Jaejoong pulang keapartemen. Apalagi semenjak insiden itu, Jaejoong benar-benar tidak peduli dan tidak mau dengar lagi seorang Jung Yunho. Ya… setidaknya Jaejoong bersama orang tuanya dan masih ada yang mengawasi Jaejoong.

Jaejoong kini sedang memilih sayuran. Jaejoong sebenarnya agak risih keluar rumah apalagi dengan perut yang membesar. Jaejoongpun mau tidak mau memakai pakain ibu hamil dan dilapisi dengan jaket tebal untuk melindungi suhu dingin dan untuk menutupi perutnya.

"eh… kau Jaejoongkan? Tidak kusangka kita berjumpa disini."

"kenapa? Kau merindukanku hah?" ucap Jaejoong ketus. Ya orang yang menyapanya adalah musuhnya di kampus yaitu Go Ara. Mereka tidak pernah akur. Mereka selalu bersaing dalam hal apaun, ya.. sebenarnya yang merasa teraingi hanya Ahra.

"merindukanmu? Ya…anggap saja seperti itu. Lagi pula aku sedang tidak mood untuk perang denganmu saat ini. mm.. tapi kuliahat-lihat kau sedikit berubah.." selidik Ara melihat Jaejoong dari ujung rambut sampai ujung kaki

" a..ku tidak berubah, ah.. aku harus pergi" ucap Jaejoong. Jaejoong takut jika musuhnya itu tahu kondisinya sekarang. Bisa habis riwayatnya dipermalukan Ahra.

"tunggu!" tahan Ahra

"aku tidak ada urusan denganmu ja…"

"kau semakin gendut.. oh… aku tahu, karena itu kau mengambil cuti kuliah. Kau malu dengan kondisimu sekarang, tidak kusangka seorang Jung Jaejoong kehilangan kepercayaan diri karena berat badannya bertamabah.. Hahhh"

"kau…" Jaejoong yang mulai kesal dengan ucapan Ahra, tiba-tiba..

"OPPAA…"Jaejoong yang tadinya ingin mealnjutkan umpatannya terhenti ketika Jaeoong melihat namja yang dipanggil Ahra. Dan betapa terkejutnya Jaejoong namja yang dipanggil musuhnya itu mantan keksaihnya Hyunjoong.

"oppa darimana? Dari tadi aku mencari Oppa" ucap Ahra manja sambil memeluk lengan Hyunjoong

"Aku tadi habis dari…" ucapan Hyunjoong terputus ketika dia sadar sedang diperhatikan sesorang didepannya. Dan lebih terkejut lagi itu Jaejoong.

"dari mana Oppa?" Hyunjoong tidak merespon pertanyaan Ahra. Ternyata Jaejoong dan Hyunjoong saling bertatap dengan ekspresi sulit diartikan.

"OPPA mendengarku tidak?" kesal Ahra karena tidak mendapatkan jawaban. Jaejoong sadar jika itu benar-benar Hyunjoong ingin lekas pergi dari hadapan Namja yang membuatnya sakit hati.

"Jae, aku ingin mengenalkan kekasihku padamu. Biarpun kita bermushan aku rasa tidak apa aku mengenalkan kekasihku kepadamu." Ucap Ahra ketika Jaejoong hendang melangkah pergi.

"tapi kau tidak tertarik mengenal kekasihmu"

"Jae.." lirih Hyunjoong

"Oppa, Oppa kenal Dia?" Heran Ahra mendengar panggilan Hyunjoong

"TIDAK, kami tidak saling kenal dan aku tidak mau kenal dia dan aku berharap aku tidak mengenal keksihmu selamanya.. karena aku tidak tertarik berkenalan dengan kekasihmu" ucap Jaeoong sinis

"ah.. aku tahu, kau iri kan? Karena aku sudah punya keakasih yang tampan, sedangkan dirimu? Aish.. apalagi dengan kondisimu sekarang, aku yakin orang berfikir berkali lipat menjadi kekasihmu apalagi dengan sifatmu. Kalaupun mau juga karena kau anak Choi Siwon" ucap Ahra merendahkan

"Oh ya? Asal kau tahu, akau bisa mendapatkan kekasih yang lebih tampan dari kekasihmu. Dan aku sekarang sudah mendapatkannya"

"dasar pede… aku sudah katakan , jika ada yang mau itu juga karena nama besar orang tuamu. Kalau begitu bisa kau tunjukkan kepadaku. Siapa namja bernasib sial yang menjadi kasih seorang Choi Jaejoong.?"tantang Ahra

"kau… aku tidak akan mengenalkannnya denganmu. Tidak akan pernah"

"sudahlah, aku tahu kau tidak punya kekasih, jangan terlalu berharap.."

"YAK… KENAPA KAU MENYEBALKAN HAH… KAU BENAR-BRNAR MEMbUATKU KESAL DITAMBAH KEKASIH BRENGSEKMUN ITU, AKHH….. perutku" ucap Jaeoong sambil memegangi perutnya.

"Yak… jangan berakting didepanku. Tadi kau berteriak sekarang pura-pura sakit. Ternyata sifatmu itu tidak berubah, aku…. i..itu kenapa kau ngompol ah? Tidak kusangka sudah sebesar ini kau masih ngompol" Ucap Ahra melihat ada cairan yang mengalir dari selangkangan Jaejoong.

Tiba-tiba ada seorang Ajhuma yang melihat Jaejoong kesakitan dan mendekati Jaejoong

"apa yang kalian lakukan? Temanmu ini sedang kesakitan kenapa dibiarkan?" ucap Ajhuma tersebut panik melihat kondisi Jaeoong

"ah.. dia Cuma pura-pura Ahjuma" ucap Ahra enteng

"pura-pura bagaimana, kau tidak lihat air ketubannya sudah peach, itu tandanya dia mau melahirkan" kesal Ahjuma mendengar ucapan Ahra.

"MELAHIRKAN?" kaget Ahra dan Hyunjoong

"Ja…ja..di dia.. Ha..mil?" tanya Ahra shok

"kau kan temannya? Masa teman hamil tidak tahu? Sudah cepat ditolong, jangan banyak tanya.." ya Ahjuma itu berfikir Jaejoong dan Ahra berteman.

"….."

T.B.C

Maaf kalau updatenya lama… maaf juga kalau ceritanya GAJE dan TYPO beretebaran..

Terima kasih buat semua yang udah memfollow, memfavoritkan dan mereview ffku ini (maaf ga bisa nyebutin satu-satu).

Silahkan berikan saran atau apapun tentang ff ini di kolom REVIEW...

Mau bertanya atau atau yang lebih spesifik tentang ff ini silahkan di PM..

terima kasih ^-^

21 oktober 2014