Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning! Crack pair, AU, Out of Character, typo(s), etc.

Fiksi ini ditulis dalam dua sudut pandang berbeda oleh dua orang yang berbeda pula. Saya khusus Hinata, dan sudut pandang Madara ditulis oleh Kapten Masa Depan (tengoklah ke akun dia). Bisa dibilang ini fiksi kolaborasi. Dan peringatan tentang 'Out of Character' itu bukan main-main, ini hanya hiburan, murni kesenangan semata. Semoga menikmati.


.

.

.

Hinata bersidekap sambil memandang gadis di depannya dengan tampang bosan.

"Tolonglah, Hinata."

Beginilah kalau gadis ini ada maunya. Merengek seperti remaja labil. Dan Hinata terlalu sayang dengan makhluk di hadapannya ini. Sungguh kelemahannya.

"Kumohon, kali ini saja—"

"Mana?" Hinata menyodorkan sebelah tangannya.

Gadis di depannya terdiam dan membulatkan mata takjub.

"Mana majalahnya, nona manja?" lanjut Hinata lagi sambil menggerakkan tangannya lagi meminta atensi.

"Oh—tentu. Ini!" Dengan tergesa gadis di depannya bergerak mengambil amplop cokelat besar di nakasnya, menyerahkannya pada Hinata dan tiba-tba langsung menubruk tubuh gadis Hyuuga itu dengan sukacita. "Ah, Hinata-ku! Kau memang yang terbaik… hiks… aku cinta padamu."

"Konyol!" Tapi Hinata tak bisa menahan senyumnya saat gadis itu memeluknya dengan erat seperti anak kecil. "Lepaskan aku, Sakura! Nanti aku terjangkit juga."

"Ah, kau tetap saja jahat. Ini kan hanya flu biasa," sahut gadis yang tadi dipanggil Hinata dengan nama Sakura—sahabatnya.

Hinata enggan menanggapi keluhan Sakura. Dikenakannya coat yang tadi sempat dilepas saat dia baru datang untuk menengok Sakura yang sedang sakit. "Sudah pasti kau mengincarnya."

"Hah? Apanya?"

Hinata memicingkan mata ke arah Sakura yang sudah kembali berbaring di ranjang pink-nya. "Mr. Temujin ini, kau menginginkannya, 'kan?"

Dilihatnya gadis Haruno itu terkekeh sambil bergelung dalam selimutnya. "Tentu saja, siapa yang tidak menginginkan berkencan dengan manager keuangan yang hot sepertinya?"

Hinata mendengus, "Jangan salahkan aku kalau nanti dia malah naksir padaku."

"Boleh saja. Nanti kita berbagi, threesome terdengar menarik, 'kan?"

"Sinting!" Hinata memilih segera beranjak keluar kamar dan mengabaikan tawa terbahak Sakura yang terdengar menjengkelkan di telinganya.

Sahabatnya itu—tidak peduli sedang sakit atau apa, jiwa playgirl dan kegilaannya tak pernah terhenti. Hinata dan Ino kadang harus sering mengurut dada saat mendapati aksi tebar pesona Sakura yang tak pernah ada habisnya. Tapi tentu saja itu tak mengurangi rasa sayang mereka terhadap gadis berambut cerah itu.

Seperti saat ini, Sakura meminta tolong padanya untuk mengantarkan cetakan majalah kampus mereka ke narasumber salah satu rubrik di kolom majalah itu. Hinata tak kuasa menolaknya, itu karena Sakura bersikekeuh bahwa majalah itu harus diantar hari ini juga, mengingat dia sudah membuat janji dengan narasumber itu yang tak lain adalah target Sakura untuk dijadikan teman kencannya.

Sakura memang salah satu reporter di majalah kampus mereka. Dia luarbiasa excited saat harus mewawancarai seorang manager keuangan sebuah perusahaan besar. Dan langsung berkoar tentang betapa menawannya pria itu, lalu berikrar harus bisa mengencaninya dalam waktu dekat. Maka cara apapun akan dilakukannya agar bisa mendekati lelaki itu, salah satunya adalah mengantarkan majalah dan bisa meminta tanggapan lelaki itu setelahnya.

Tapi gadis itu sedang sakit dan tak diizinkan ibunya keluar rumah. Maka terpaksalah Hinata yang harus turun tangan. Merepotkan, memang. Tapi Hinata tak bisa menolak. Seperti yang dibilang sebelumnya, dia sangat menyayangi Sakura dan tak suka melihat gadis itu sedih.

Jadi di sinilah sekarang dia berada. Mengendarai mobilnya menuju sebuah perusahaan besar untuk menyerahkan langsung majalah kampus mereka pada seseorang bernama Mr. Temujin yang dia sendiri tak tahu tampang lelaki itu.


.

.

Story: BURNING UP © ookami

[Madara x Hinata]

.

.


Sebenarnya ada alasan lain kenapa Hinata tak begitu masalah saat harus mengantarkan majalah itu ke tempat macam ini.

Kantor dan gedung bertingkat.

Hinata sudah biasa dengan hal itu mengingat dimana tempat ayahnya dan hampir seluruh keluarga besar Hyuuga bekerja. Dia dengan luwes langsung mendatangi resepsionis tanpa canggung dan menanyakan keberadaan Mr. Temujin yang sedang dicarinya.

Dan saat berhasil menemui pria itu, Hinata hanya tersenyum tipis. Pantas saja Sakura menginginkan pria itu, sangat sesuai dengan idamannya—terlihat pintar dan cool. Maka dengan keengganan yang tak ditutupi, Hinata mempersingkat pertemuan itu dan meminta Mr. Temujin langsung menghubungi Sakura untuk tanggapan terkait majalahnya.

Meskipun Hinata biasa dengan suasana perkantoran macam ini, tetap saja dia merasa tak betah saat harus berlama-lama di sana. Dan hidup dengan pengekangan dan kekecewaan saat remaja kadangkala membuat Hinata dengan sengaja menampakkan pemberontakan pada keadaan sekitar, contohnya adalah sekarang. Saat pengunjung dan penghuni Susanoo Corp sibuk masuk dan mengantri di lift umum, Hinata malah melirik lift khusus di sisi kanan gedung itu. Dia tahu lift itu untuk siapa.

Jam istirahat seperti ini lift lain pasti penuh dengan pegawai yang ingin makan siang, kalau dia memakai yang di ujung itu tidak masalah, 'kan?

Hinata sedikit menyeringai dan melangkahkan kakinya mendekati lift khusus dengan percaya diri. Kalau bertemu seseorang, pura-pura tidak kenal saja, gampang. Sembari menunggu pintu lift terbuka, Hinata yang sejak masuk gedung sudah melepas coat-nya berniat merapikan full skirt dress yang tengah dikenakannya.

Dentingan pintu lift membuatnya mendongak dan bersiap. Tepat saat dia akan melangkahkan kaki maka dengan refleks dia merutuk dalam hati saat mendapati sudah ada seseorang di dalam sana—lelaki.

Tunggu—dimana dia pernah melihat orang ini? Terasa familiar, sorot mata itu… ah, entahlah, Hinata tak ingin memperpanjang kesialan ini, cukup kedapatan memasuki lift yang tak seharusnya saja sudah membuatnya canggung. Tapi dia enggan menunjukkannya, maka dengan wajah biasa, Hinata melangkah memasuki lift dengan mata masih menatap sekilas ke arah lelaki itu, sebelum akhirnya berdiri bersampingan dalam diam.

Hinata menghitung detik demi detik sampai pintu lift terbuka, dan saat itu terjadi, dengan cepat Hinata keluar dan tak berani menatap lagi ke arah lelaki yang beberapa waktu lalu bersamanya di dalam lift. Lelaki itu aneh, berdiam seperti patung tanpa gerak sedikitpun dan tadi menatapnya dengan sorot aneh. Hinata tahu tipe macam apa pria seperti itu, maka dengan cepat dia merasa harus segera menyingkir.

.

.

"Ya, ya, sudah kusampaikan padanya untuk langsung menghubungimu." Hinata menjepit ponselnya di antara bahu dan sebelah pipinya. Tangannya penuh dengan secangkir kopi dan crepes yang baru dibelinya di kedai pinggir jalan. Sedang Sakura terus saja menelponnya untuk memastikan apakah pertemuannya dengan Mr. Temujin berjalan lancar, jadilah sekarang dia harus kerepotan untuk mengangkat telpon dan membawa makanan sekaligus.

"Aku akan ketempatmu lagi dan—" Dia bahkan sampai tak berpikir panjang saat mendorong pintu kedai dan melangkah keluar tanpa memfungsikan matanya dengan baik.

Bruk!

"Ah!" Hinata terbelalak saat gelas kopi di tangannya sudah terlepas dan sebagian besar isinya malah menyerap di pakaian seseorang yang baru saja ditubruknya. "Astaga! Apa yang kulakukan?" ucapnya gugup saat kesialan apa yang baru diperbuatnya.

"Maaf, tuan. Aku tidak sengaja, tadi—" Hinata tak melanjutkan kalimatnya saat dia mendongak dan mendapati sosok yang berdiri di hadapannya sama persis dengan seseorang yang beberapa saat lalu berbagi lift dengannya.

"Anda…" Hinata tak bisa berkata-kata. Dua kali bertemu disituasi yang memalukan membuatnya canggung tak terkira. Dia memandang lelaki itu dalam diam, bingung ingin berkata apa. Terlebih lagi saat lelaki itu juga ikut terdiam bersamanya, tidak—lelaki itu menatapnya intens dengan sorot yang lagi-lagi menurut Hinata sangat—err, mencurigakan.

"Tisu."

"Eh?" Hinata sedikit terperanjat saat mendengar nada berat itu.

"Tisu, mungkin? Untuk bajuku yang basah." Lelaki itu masih menatapnya intens saat mengucapkan kalimat itu.

"Oh! Tentu, aku punya. Tunggu!" Sekarang Hinata benar-benar mengumpat dalam hatinya, memalukan sekali harus merespon secanggung ini—bukan kebiasaannya, mengingat biasanya dia selalu bisa tenang menghadapi apapun. Tapi tatapan pria itu…

"Sekali lagi aku benar-benar minta maaf, tuan," ucap Hinata lagi saat menyerahkan sebungkus tisu mini pada lelaki di hadapannya.

Tidak ada respon. Lelaki itu mendiamkan Hinata dan membersihkan jas hitamnya yang terkena tumpahan kopi dalam diam. Dan sekarang Hinata mulai menggigit bibir bawahnya.

"Kopimu tumpah. Biar kuganti."

Hinata menaikkan alisnya, heran. Dia yang menabrak kenapa lelaki itu yang malah ingin mengganti kopinya?

"Tidak, terimaksih. Tapi tadi aku yang tidak lihat-lihat saat berjalan, jadi harusnya aku yang melakukan sesuatu untuk permintaan maaf."

Ah, Hinata baru saja mengisyaratkan tawaran yang seketika membuatnya bingung sendiri kenapa itu bisa terucap dari bibirnya. Dia kembali merutuk, di hadapannya itu adalah orang asing, beraninya dia menawarkan hal itu.

Dan Hinata bersumpah melihat suatu percikan di mata gelap lelaki itu saat dia mengucapkan kalimat tawaran tersebut.

"Kalau begitu temani aku membeli kopi yang sama sepertimu tadi, nona."

Hah! Benar, kan? Lelaki ini…

Hinata memaksakan dirinya memasang senyum tipis dan terdiam sejenak untuk merespon permintaan itu. Hinata jelas tidak mau, tapi dia seutuhnya bersalah dengan insiden ini. Tak ada pilihan.

"Tentu. Aku akan mentraktir Anda, kalau begitu."

"Madara."

"Ya?" Hinata kembali mengangkat alisnya.

"Namaku Madara. Madara Uchiha."

Lelaki itu mengangkat sebelah tangannya, kembali menatap Hinata. Mengagetkan, memang. Hinata bahkan harus kembali terdiam lagi sejenak karena hal itu. Tapi, ada hal lain yang membuatnya mengerutkan kening selain uluran tangan tiba-tiba dari lelaki itu.

Uchiha? Orang itu tadi menyebutkan nama Uchiha? Damn! Hinata jelas kenal nama itu, dan kenapa dia bisa lupa dengan warna gelap dari manik mata milik pria di hadapannya. Jelas sekali jenis mata itu familiar baginya.

"Dan mengingat tadi kita sudah bertemu—itu kalau kau ingat saat di lift, aku teringat bahwa mengenal seseorang yang punya warna mata sepertimu, nona. Dia rekan bisnisku."

Tidak! Hinata benci momen ini. Ketika seseorang merasa mengenalnya karena bola mata ini. Ketika seseorang mengetahui identitasnya hanya karena kemiripan corak pucat ini. Hinata tidak suka. Dia benci ayahnya. Dan enggan melibatkan nama belakang mereka. Dan…

"Hyuuga, kah?"

Bagus! Dan Hinata mengatupkan bibirnya untuk emosi tak jelas yang tiba-tiba menyeruak mengganggu kenyamanannya.

.

.

.

A/n: Kekurangan dan keanehan terjadi dimana-mana. Maaf, semoga tidak terlalu absurd. Tapi, sungguh terimakasih banyak bagi yang menyempatkan diri membaca fict ini.