Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Animals © Maroon 5

Disarankan membaca chapter 3 di akun Kapten Masa Depan terlebih dahulu, biar nggak bingung.


.

.

.

"Mau kubantu?"

"Tentu."

Great! Entah harus bagaimana Hinata merespon satu kata itu. Jawaban yang diucapkannya tanpa pikir panjang, yang nyatanya sekarang memberi efek membingungkan bagi dirinya sendiri.

Mengiyakan lelaki itu jelas sangat membantu pekerjaannya dan menghemat tenaga, sekaligus secara sadar memberikan peluang untuk lelaki itu untuk melanjutkan interaksi mereka sebelumnya.

Yang pertama, Hinata tak menolak, malah menguntungkan. Tapi yang kedua? No! Ia tidak suka bagian itu, dan sangat menyesali kelancangan mulutnya karena hal itu. Yah, sebagai gadis yang jelas jauh dari kata polos, kelanjutan interaksi ini sanggup diartikan Hinata sebagai sebuah celah bagi lelaki itu untuk memasuki lingkarannya.

Bukan maksud untuk terlalu percaya diri. Sungguh, bukan itu. Tapi kenyataan dan pengalaman mengajarkannya banyak hal. Terlebih melihat gestur tubuh dan sorot mata sekelam jelaga itu ketika memandangnya, cih! Hinata tidak bodoh sampai tidak bisa mengartikannya.


.

.

Story: BURNING UP © ookami

[Madara x Hinata]

.

.


"Apa!?"

Aku kesal melihat Sakura memandangku dengan tatapan ganjil itu.

"Dari tadi aku gatal ingin bertanya. Dimana kau kenal dengannya?"

"Siapa?" Kubalas pertanyaannya dengan pura-pura tak mengerti sambil berjalan ke arah lemari pendingin.

"Hinata!"

Seketika aku menutup telingaku saat Sakura berteriak. Wajahnya sekarang berganti menjadi lebih kesal dari milikku sebelumnya. Aku hanya bisa menghela napas, mana bisa gadis ini diminta bersabar.

"Dia rekan bisnis ayahku," jawabku seadanya, "Katanya sih."

"Katanya?"

Aku mengangkat bahu dan kembali berjalan mendekati Sakura yang sudah duduk di sofa ruang tamu. "Pernah lihat di majalah bisnis dan aku tidak sengaja berkenalan dengannya. Ingat Susanoo Corp? Sepertinya dia boss di sana."

Sakura sekarang sudah kembali mengubah mimik wajahnya, dan sengaja duduk mendekat padaku. Ck! Apa menariknya sih dari cerita ini!?

"Jadi, kalian bertemu dua hari lalu dan berkenalan?" tanya Sakura penuh rasa penasaran, dan penuh semangat.

"Begitulah. Tidak sengaja juga." Aku malas menceritakan kronologinya. Sakura paling senang berimajinasi berlebihan, apalagi kalau sampai mendengar insiden kopi tumpah itu. Pikirannya pasti langsung berkelana keberbagai macam scene drama percintaan yang sering kami tonton. Dan kali ini aku tidak mau menjadi korban fantasinya.

"Tidak sengaja bagaimana? Ceritakan! Kenapa kalian bisa saling memanggil nama dengan akrab begitu? Dan tadi dia bilang rumahnya yang di sebarang itu? Dan apa kau lihat tadi body-nya, Hinata? Astaga! Lalu cara dia menatap juga! Oh my!"

Oke, ini mulai menyebalkan. Macam pertanyaannya itu mulai membuatku pening.

"Sakura, aku baru dua kali bertemu dengannya, termasuk yang hari ini. Kami tidak sengaja berkenalan dan hanya itu. Aku bahkan baru tahu dia tinggal di seberang rumah. Dia bilang dia baru pindah, ingat? Dan jangan memintaku menanggapi hal lainnya," ucapku saat melihatnya ingin memotong kalimatku, "Karena aku tidak tertarik."

"Kau ini menyebalkan! Yang tadi itu benar-benar tidak bisa dilewatkan begitu saja. Dia hot. Kenapa kau malah cuek begini?"

"Kalau kau suka, dekati sendiri! Jangan melibatkanku," ucapku frontal. Gampang membaca pikirannya.

"Maunya sih begitu," gumamnya lagi dengan nada kesal, "Tapi lihat sendiri tadi tatapannya seperti apa."

Aku mengerutkan kening. "Kenapa?"

Dan Sakura langsung memutar bola matanya dengan bosan. "Tidak usah sok polos."

"Maksudmu?"

"Berhenti berlagak, princess. Jelas-jelas dia hanya menatapmu dan matanya itu seperti ingin memakanmu bulat-bulat!"

Dan aku merengut seketika saat mendengar itu, dan bertambah kesal saat Sakura tergelak saat melihat tampang cemberutku karena penyampaian fakta sialan itu.

"Hahaha… Ah, apa sebaiknya aku mengubungi Ino supaya bergabung di sini dan melihat tuan putri kita kembali kelimpungan dengan para secret admirer-nya yang tidak sesuai dengan kriteria?"

"Omong kosong!" Aku marah sekarang dan mendorong pundak Sakura dengan lumayan keras. Tapi tidak berefek, dia malah semakin tertawa dan benar-benar mengambil ponselnya untuk menelpon Ino, sepertinya.

"Jangan macam-macam Sakura. Hentikan gosip menyebalkan ini!" seruku sambil melempar majalah ke arahnya.

"Kenapa? Aku hanya chatting dengan Ino," sahutnya sambil terus mengaplikasikan ponsel di tangannya sambil terus menyeringai.

Aku memutuskan untuk mengabaikan ini dan menyalakan televisi sebagai pengalih perhatian. Oke, Sakura dan Ino bukan orang baru dihidupku. Mereka bahkan mengenalku luar-dalam dibanding siapapun saat ini. Dan aku senantiasa terbuka dengan mereka, karena mereka jauh lebih kompeten untuk masuk kategori keluarga dibandingkan makhluk lain yang sedarah denganku.

Jadi, sudah pasti sekarang menjadi hiburan tersendiri bagi mereka saat melihatku kesal karena perkara menyebalkan ini.

Sudah kubilang, aku bukan gadis polos, apalagi tidak peka.

Madara Uchiha.

Cih! Apa bedanya dia dengan beberapa pemuda dan pria terdahulu? Sorot mata itu terlalu mudah terbaca. Gelagat itu terlihat gampang untuk diartikan. Meskipun ada beberapa hal yang masih tak terprediksi. Tapi, sama saja. Dia tak beda dengan yang lain.

Sebenarnya tidak masalah saat ada seseorang yang mencoba menarik perhatianku. Itu hak mereka, lumrah. Tapi, lagi-lagi ada kata tapi

Kenapa tipe seperti itu? Kenapa harus yang seperti itu lagi? Seperti yang dikatakan Sakura. Tidak sesuai kriteria.

Angkuh. Dingin. Tak terbaca. Sok berkuasa. Dominan berlebihan. Dan sorot itu…

Tidak! Kalau masih ada pilihan lain, lebih baik aku cari yang lain. Tipe seperti itu jelas harus dihindari. Tapi sialnya, dari beberapa pengalaman, kenapa hanya yang seperti itu yang kekeuh mendekatiku? Ini memuakkan.

Terlebih saat aku menyadari ada yang berbeda dengan sosok ini. Madara…

Aku menghela napas dalam diam, bukankah saat pertemuan pertama itu aku sudah menunjukkan keengganan dengan sangat kentara? Kenapa lelaki itu tidak paham juga? Padahal sangat jelas ia bukan pria yang tidak berpengalaman menghadapi wanita—aku bisa tahu itu, terlihat jelas.

Dan apa-apan tadi? Ia tinggal di seberang rumah? Aneh, bahkan tadi ia tidak terlihat kaget saat mendapati kami bertetangga. Kenapa—

"Baby I'm preying on you tonight—"

Aku memalingkan wajah dengan cepat, menatap tajam ke arah Sakura yang sudah mengangkat alisnya dengan sok polos.

"Hunt you down, eat you alive—"

"Matikan itu!" desisku dengan tertahan.

"Kenapa? Ini band favorit kita, darl."

"Maybe you think that you can hide—"

"Tidak sekarang!" raungku murka.

"I can smell your scent from miles."

"Just like animals, animals—"

"Sakura!" Aku menerjang ke arahnya untuk merampas ponselnya yang tengah mendengungkan suara Adam Levine dari speaker yang disetel dengan volume maksimal. Dan Sakura kembali tergelak sambil meloncat dari sofa, berlari ke arah anak tangga terbawah dan duduk di sana sembari terus menertawaiku.

"Don't tell no lie, lie, lie, lie—"

Demi Tuhan! Hanya Adam Levine yang sering kukhayalkan untuk menjadi partner bercintaku. Dan semua lagu milik band-nya lah yang sanggup membuatku menjerit. Menggilai semuanya.

"You can't deny, ny, ny, ny—"

Tapi tidak sekarang! Saat lagu yang satu ini benar-benar membuat kepalaku semakin pening kuadrat. Liriknya! Tidak! Sakura tahu apa yang kubayangkan saat ini.

"The beast inside, side, side, side—"

Lagu ini hanya memperparah paranoid-ku. Mengingatkanku dengan sorot mata itu. Milik pria yang beberapa waktu lalu dengan sukarela membuang tenaga, keringat, dan waktunya untuk membantu kami memperbaiki pintu garasiku.

"Baby I'm preying on you tonight—"

Ini gawat! Sakura benar. Madara Uchiha. Dia sengaja memperlihatkan itu, sorot mata berkilatnya, ingin memakanku. Seperti…

"Just like animals, animals—"

"Like animals."

.

.

Kalau ada yang bisa membuatku out of character dalam konotasi negatif, maka hanya pemilik suara ini yang bisa. Suara milik si tua bangka yang kalau langsung dari nomor ponselnya maka tidak akan sudi kuangkat.

Licik sekali menghubungiku dari nomor berbeda dan membuatku tak punya pilihan selain meladeni bicaranya.

"Aku tidak bisa."

"Harus bisa. Sebentar lagi kau lulus, berbaurlah!"

"Untuk apa? Aku tidak akan berhubungan dengan mereka nanti!"

"Hinata—"

"Katakan saja langsung apa tujuanmu menyuruhku datang ke sana!?" Jangan harap aku akan bersikap lembek seperti bertahun-tahun lalu. Tidak akan kubiarkan ia mengatur hidupku lagi. Bahkan saat aku mendengar helaan napasnya yang berat dan sangat menampakkan kejelasan dari umurnya, aku tetap tak berminat.

"Ada beberapa orang yang ingin berkenalan denganmu," ucapnya lirih, meskipun nada angkuh itu masih ada.

"Apa peduliku!?"

Helaan napas itu lagi. "Mereka kenalan ibumu."

Dan aku berhasil terdiam beberapa saat. Kami memang tidak sedang berhadapan langsung, tapi cukup mudah memprediksi raut emosi masing-masing saat satu panggilan itu disebut. Efeknya luarbiasa.

Aku bisa saja menebak ini hanya tipu muslihat. Kenalan ibu yang mana? Omong kosong! Tapi, kepedulian ini tetap tidak bisa disingkirkan. Egoku memang mendominasi, tapi ikatan ini juga membuatku mengambang.

"Pikirkanlah. Kau bisa meminta Neji menjemputmu nanti."

"Akan kupikirkan." Dan tanpa salam penutup, kuputuskan komunikasi itu secara sepihak. Tidak peduli dengan respon si penelpon, karena sekarang pikiranku sudah mulai bercabang ke masa lalu dan bermain tarik ulur dengan masa depan.

Pesta, huh? Membayangkan orang-orang macam apa yang akan hadir di sana seketika membuat kepalaku berdenyut. Ditambah pertemuan dengan orang-orang yang bermarga sama denganku, betapa nerakanya tempat itu bagiku. Tapi, ibuku tidak pernah menolak mendampingi si tua bangka ke acara macam itu. Dia selalu hadir—aku tahu itu. Dan kenalannya? Haruskan aku?

.

.

Astaga! Inikan hanya BodyCon Dress biasa. Oke, memang seluruh kulit bahuku terlihat dan sedikit belahan di dada, tapi tidak perlu juga mendelik begitu, 'kan? Toh aku tidak terlihat kampungan dan sampai memalukan nama belakang terhormatnya. Menurutku warna hitam ini cukup elegan, dan itu dibenarkan oleh para stylist-ku, Ino dan Sakura.

Neji memang selalu begitu. Berlebihan. Mendelik pada semua hal yang kulakukan kalau itu tidak sesuai kriterianya. Tapi apa peduliku? Dikira aku masih gadis ingusan yang selalu bisa digertak olehnya. Jangan harap aku menghiraukannya. Harusnya ia bersyukur karena aku mau menginjakkan kaki di ballroom hotel ini. Tidak usah menuntut yang macam-macam lagi.

Dan aku hanya tersenyum setipis mungkin saat ia mampu mengartikan tatapan menantangku dan memilih menahan otoritasnya demi kenyamananku di pesta sialan ini. Ia tidak mengatakan apapun dan menghentikan sorot geramnya saat melihat pakaianku. Tapi tetap setia menempel seperti biasa, sok menjadi bodyguard.

Tak masalah. Toh tempat ini sudah membuatku tak nyaman bahkan sejak langkah pertama aku memasuki ruangan. Jelas berbeda sekali dengan nightclub ataupun party bersama dengan teman kampusku. Dan Neji bisa menjadi tameng untuk sementara waktu.

Aura membosankan sudah menguar dimana-mana. Kalaupun ada orang-orang yang sepantaran denganku, mereka terlihat memuakkan dengan segala atribut keborjuisan mereka. Dan aku harus menjadi bagian dari mereka malam ini? Cih!

"Kau datang."

Aku melirik sekilas sosok lelaki dewasa di sampingku. Sangking bosannya aku bahkan tidak menyadari saat ia mendekat. Membawa rekan, eh? Supaya aku tidak ada alasan menghindarinya? Licik.

"Ayah." Aku Hyuuga malam ini, maka harus mengikuti sedikit aturan mainnya. Sopan santun, anggun, dan berkelas.

"Wah, ternyata kabar itu bukan isapan jempol belaka. Tuan putri Hyuuga kita memang sangat cantik." Seseorang yang berdiri bersama si tua bangka menyapaku dengan ramah.

Aku hanya tersenyum sopan, bergerak mendekat ke arah lelaki yang memiliki warna mata hampir mirip denganku, berlagak layaknya anak dan ayah yang rukun. "Terimakasih. Kalaupun itu benar, jelas ini berkat ibuku, tuan," ucapku masih dengan tersenyum sopan.

"Ah, ya…" Kulihat lelaki yang kuduga sudah pasti rekan bisnis ayah itu hanya mengangguk dengan wajah sendu. "Hitomi jelas menurunkan kecantikannya padamu."

Bagus. Sebut namanya dan aku tak perlu melirik ke samping untuk melihat gestur tegang dari si tua bangka. Ah, itu pun kalau dia peka dengan keangkuhannya.

"Hinata, kenalkan ini Minato Namikaze. Kami seangkatan dulu saat kuliah," ucap ayahku dengan nada datarnya.

Aku menyalami uluran tangan tuan Namikaze, jelas orang ini berbeda 180 derajat dengan ayahku. Senyum tak lepas dari bibirnya, aura yang hangat.

"Seangkatan dengan ibumu juga. Tapi yah, Kushina—istriku yang lebih akrab dengan Hitomi. Tapi maaf, dia sedang tidak bisa ikut malam ini, padahal dia sangat ingin bertemu denganmu saat tahu kau akan hadir. Mungkin nanti dia ingin menemuimu, boleh?"

Aku terkesiap sejenak, sedikit berdegup jantung ini saat mengetahui bahwa ada lagi seseorang yang mengenal dan terhubung dengan ibuku di masa lalu. Tidak, aku tidak akan menolaknya.

"Tentu, Mr. Namikaze. Pasti menyenangkan bisa berkenalan dengan istri Anda." Dan aku tak peduli dengan kerutan di wajah ayah dan Neji.

Dan perlahan mood-ku mulai teralihkan, meskipun rasa bosan dan muak masih dominan. Jadi saat Mr. Namikaze berlalu menyapa tamu lain, dengan cepat aku bergerak menjauhi ayahku dan Neji. Aku ingin sendiri saja, berkeliling sebentar lalu kabur secepatnya. Yang penting aku sudah setor muka.

Aku tahu Neji masih menancapkan matanya ke arahku, sudah pasti sesuai perintah si tua bangka. Tapi aku juga tak peduli dan tak berniat diintimidasi.

Aku meraih segelas minuman dan menenggak sedikit isinya. Tak peduli dengan keadaan sekitar, bahkan ini pesta siapa dan tentang apa saja aku tak tertarik. Aku hanya menatap minuman di tanganku dengan datar, masih menerawang, merindukan ibuku.

Bahkan keberadaan seseorang di sampingku saja tak mengusikku sampai sapaan itu terdengar.

"Maaf, kau…" Aku berpaling untuk menatap wanita yang mungkin seumuran ibuku tengah berdiri dengan mata berbinar, sebelah telapak tangan menutup mulutnya. Ia sedikit terperangah, "Astaga! Hitomi, kah?"

Aku terdiam. Kenalan ibu yang lain?

"Iya, Nyonya. Hitomi Hyuuga adalah ibuku," sahutku sambil tersenyum sopan, lagi.

"Ah, ya. Sudah pasti. Kalian bagai pinang dibelah dua. Kau cantik sepertinya." Yah, sudah sering mendengar itu. Aku bangga dengan fakta itu, tapi juga merasa sakit dan perih secara bersamaan. Sulit untuk menerima kenyataannya…

"Apa Anda teman ibuku?" tanyaku ragu.

Wanita berambut gelap itu tersenyum anggun, tapi binar senang itu masih terlihat di mata kelamnya. "Ya, kami seangkatan saat SMA. Tapi aku terlalu lama mengikuti suami ke luar negeri, jadi lama sekali tidak bertemu ibumu, bahkan saat pemakamannya aku…"

Ia menghentikan kalimatnya dan memandangku dengan tidak nyaman, aku maklum dan sudah biasa.

"Maaf, aku tidak bisa hadir saat—"

"Tidak apa-apa, bibi…" Aku sengaja menggantung kalimatku, aku butuh namanya.

"Mikoto. Itu namaku, sayang. Dan kau adalah Hinata, Hiashi sudah memberitahuku tadi saat kami saling menyapa."

Aku mengangguk sopan padanya, kembali tersenyum. Kali ini tulus, karena kulihat ia hampir mirip dengan tampilan ibu. Mungkinkah ia juga akrab dengan ibu seperti istri Mr. Namikaze? Aku perlu mengenal orang ini.

Oke, pesta ini ternyata tidak buruk juga. Bukan tipu muslihat dari si tua bangka untuk menjeratku di dunia bisnisnya. Benar-benar bisa mempertemukanku dengan kenalan ibu. Terlebih ini adalah teman-teman akrabnya. Aku perlu bersama mereka, aku ingin mengenal sosok ibu di masa lalu. Aku menginginkan segala kenangan tentangnya, sesuatu yang tidak bisa kudapatkan dari ayahku sendiri.

Dan ditengah perbincangan menyenangkanku dengan bibi Mikoto, tiba-tiba aku mencium aroma musk yang familiar. Bau ini mengingatku akan sesuatu, dan dengan refleks alarm di kepalaku berbunyi tanpa diminta.

"Boleh aku menyela, kakak?"

Aku terhenyak, menatap sosok tinggi dengan balutan jas Armani gelapnya. Berdiri kokoh menatapku dengan tatapan intensnya, seperti biasa. Kami bertatapan sejenak, sialnya jantungku mulai bertingkah tidak jelas. Sampai akhirnya ia memutuskan kontak mata dan berpaling untuk menatap bibi Mikoto yang entah bagaimana menyapanya dengan sangat akrab. Dan siapa yang dipanggilnya kakak tadi?

"Ah, Madara. Kupikir kau tidak datang malam ini."

"Hm," Kudengar ia hanya menjawab dengan gumaman sebelum melontarkan kalimat yang membuatku mendelik seketika. "Kupikir kalian sudah terlalu lama mengobrol. Sekarang aku ingin mengajaknya berdansa."

Apa!?

Bahkan kalimat itu bukan kalimat tawaran ataupun ajakan, apalagi permohonan. Sialan! Ia pikir ia siapa berani meminta hal itu padaku. Ia pikir aku akan mau!?

Tapi mata sialanku tidak bisa beralih dari manik sehitam jelaga itu. Bahkan jantung ini semakin bertingkah dengan tarian penuh semangatnya. Shit! Bahkan aroma kayu dan hutan segar itu masih enggan menyingkir dari indera penciumanku, membuatku meremang.

Apa-apaan ini!? Seingatku tidak seperti ini efek yang diberikannya padaku beberapa hari lalu. Tapi sekarang…

"So, whatcha' trying to do to me?"

"You're like a drug, that's killing me..."

.

.

.

A/n: Entah apa ini. Hanya menulis sesuai imajinasi abstrak di kepala. Dan tanpa komunikasi sedikitpun dengan si Kapten. (Sori, Sen. Jelas ini banyak plot hole-nya, ya? Btw, ingat saat pertama kali Erfan melihat Fiandra memegang segelas minuman di pesta? Love at the first sight)