Lost Memories
Chapter 3
Disclaimer : Persona Series Owned By Atlus
6 February, 2010
Minako mencuci peralatan yang mereka gunakan untuk membuat kue sementara Fuuka mengatur oven untuk memanggang kue mereka. Minako selalu kagum dengan keahlian Fuuka mengatur alat – alat elektronik, ia ingat Fuuka bisa mengoperasikan komputer di ruang komando dulu tanpa melihat buku panduan meskipun Minako bisa mengoperasikannya secara diam – diam untuk melihat rekaman video di kamar teman – temannya.
"ah, Minako – chan, apa yang harus kita lakukan dengan sisa bahan ini?" tanya Fuuka merapikan sisa separuh bungkus tepung, gula, dan beberapa butir telur
"kita bisa bawa ke asrama, mungkin bisa untuk dibuat omelet rice" saran Minako. Fuuka mengangguk lalu memasukan bahan – bahan tersebut ke kantung plastik lalu membantu Minako mengeringkan peralatan masak mereka.
Fuuka's POV
Aku melihat Minako – chan menghela nafas, tubuhnya bersandar di salah satu meja, nampak kelelahan tapi ketika matanya bertemu denganku ia langsung tersenyum, kurasa aktifitas memasak tadi membuatnya lelah.
"kuharap hasilnya bagus, Yukari – chan dan Mitsuru – senpai suka sekali cookies, terutama untuk minum teh" ucap Minako – chan
"aku tidak heran kalau Minako – chan dekat dengan penghuni asrama lain, sejujurnya aku sedikit iri, seandainya aku bisa bicara lebih terbuka mungkin akan lebih mudah berteman dengan yang lain... bukan berarti aku tidak sukan bersama dengan Natsuki – chan, Yukari – chan dan Minako – chan..." aku mengutarakan pikiranku tanpa pikir panjang, rasanya itu terdengar seperti keluhan
"ah, maaf, aku tidak bermaksud – " ucapanku dipotong oleh tawa kecil Minako – chan
"tidak perlu meminta maaf, aku senang Fuuka mengatakan itu" ucap Minako – chan lalu tersenyum padaku
"um, sebenarnya, aku ingin mendirikan klub teknologi... mungkin sekarang sudah terlambat untuk membuat klub baru tapi aku ingin melakukannya, Minako – chan, apa kau mau ikut bergabung?" tanyaku, sebenarnya aku sudah siap menerima kata tidak. Minako – chan sangat sibuk, selain menjadi anggota OSIS, ia juga komite perpustakaan dan klub tennis tapi Minako – chan mengangguk.
"tentu saja, kalau kau tidak keberatan mengajariku dari awal"
"terima kasih, aku yakin Minako – chan pasti cepat belajar" ucapku lega, suara deting oven mengagetkanku. Minako – chan mengeluarkan loyang berisi cookies yang kami buat bersama.
"wah, warnanya bagus, wanginya membuatku jadi lapar" ucap Minako – chan, aku tertawa kecil. Kami memasukan kue ke kantung – kantung kecil dengan pita warna – warni.
"kau akan memberikan kuemu ke siapa?"
"aku akan memberikan beberapa ke Natsuki – chan lalu..." aku ingin mengatakan untuk yang lain tapi aku tidak tahu siapa orang – orang itu, rasanya aku seperti melupakan sesuatu yang penting.
"bagaimana kalau Keisuke – senpai? Kudengar dia akan pergi belajar keluar negeri lagipula kalian satu klub fotografi bukan?" saran Minako – chan terdengar bagus untukku tapi aku masih memikirkan perasaan aneh sebelumnya.
"y-ya, aku akan memberikan beberapa untuk Keisuke – senpai mungkin untuk Amada – kun juga" ucapku sedikit ragu, Minako – chan tersenyum. Aku tidak mengerti arti senyum itu. Kami membersihkan loyang kue sebelum berjalan pulang ke asrama.
End of POV
Akihiko melihat sosok yang sangat dikenalnya ketika melangkah keluar kamar, rambut pirang coklat kemerahan dengan jepit membentuk angka romawi XXII. Akihiko bermaksud menyapanya ketika menyadari keadaan gadis itu sedikit aneh, ia duduk di sofa lounge kecil lantai dua dengan tangan menyangga kepala, wajahnya tertutup oleh telapak tangannya.
"Minako.. kau tidak apa?" Minako tersentak dan langsung menoleh ke arah Akihiko
"Akihiko – senpai..." ucap Minako lirih
"wajahmu pucat, apa kau sakit?" tanya Akihiko, Minako menggeleng
"tidak, hanya sedikit lelah" jawab Minako tersenyum lemah, sebelah tangannya menyentuh bungkus kue yang dibuat tadi bersama Fuuka.
"um.. senpai, terimalah ini, aku tahu senpai kurang suka makanan manis tapi aku ingin senpai mencobanya" Minako mengulurkan bungkus kue, Akihiko sedikit terkejut tapi ia menerima kue Minako. Wajahnya sedikit memerah
"kau tahu aku akan memakan apapun yang kau buat untukku, Mina" ucap Akihiko, wajah Minako ikut memerah
"kalau begitu aku kembali ke kamarku, selamat malam senpai" ucap Minako berdiri dari sofa, Akihiko memegang tangan Minako.
"kau yakin kau tidak apa – apa? Jangan memaksakan diri" ucapan Akihiko dibalas dengan senyuman dan ciuman kilat di pipi Akihiko
"jangan khawatir Akihiko – senpai, aku baik – baik saja" ucap Minako melepas tangan Akihiko perlahan lalu berjalan menaiki tangga. Wajah Akihiko sudah semerah kaus yang di kenakannya, tangannya menyentuh pipi sekaligus berusaha menyembunyikan wajahnya
"sial.. Minako, kau curang..." gumamnya seorang diri
"ah, selamat malam Sanada – senpai" sapa Ken dari tangga, Akihiko menurunkan tangannya
"selamat malam, Amada, apa yang ada di tanganmu – "
"oh, Yamagishi – san memberikannya padaku tadi, dia mengatakan kalau membuatnya bersama Minako – san" Akihiko sedikit terkejut ketika Ken memanggil Minako dengan nama depannya
"apa ada yang aneh, Sanada- senpai?" tanya Ken, Akihiko menghela nafas
"tidak, sekarang sudah cukup malam, sebaiknya kita kembali ke kamar, selamat malam Amada" Ken mengangguk lalu membalas salam senpainya, sekilas ia melihat bungkus kue yang sama dengan miliknya di tangan Akihiko tapi Ken tidak yakin sehingga ia mengabaikannya dan masuk ke kamarnya.
Minako's POV
Aku nyaris membanting pintu kamar, air mataku mengalir. Akihiko mengingatku... dia masih ingat... kalimat itu terus terulang dalam pikiranku. Kakiku kehilangan tenaganya, tubuhku merosot bersandarkan pintu.
Aku membiarkan diriku menangis untuk beberapa waktu, mengabaikan kegelapan di kamar. Aku tidak tahu berapa lama aku menangis, tapi kelelahan segera menguasaiku. Kusisakan sedikit tenaga untuk berdiri dan berjalan ke tempat tidur. Mataku langsung menutup begitu kepalaku menyentuh bantal.
A/N :ehm..okay.. its got cheesy.. semoga ini bisa menghibur reader sekalian, Read and Review please but no flame :D
