Lost Memories

Chapter 5

Disclaimer : Persona Series Owned By Atlus


9 February, 2010

Chihiro menaruh kotak besar berisi perlengkapan alat tulis di atas meja ruang OSIS, diikuti Minako yang membawa dua gulung karton dan file holder kosong.

"terima kasih Chihiro – chan, kau benar – benar membantu" ucap Minako

"ah, tidak, Senpai, aku hanya kebetulan berada di sini meski hari ini tidak ada pertemuan" Chihiro menunduk sedikit tetapi sudut matanya mengawasi senior nya yang terlihat lelah. Minako melihat ke arah tumpukan bon dan buku yang ditinggalkan oleh Chihiro ketika membantunya.

"kau sedang menghitung ulang anggaran kita?" Tanya Minako, Chihiro mengangguk.

"aku hanya ingin memastikan tidak ada yang salah, Kirijo – senpai akan lulus musim semi ini"

"keberatan kalau aku membantu? Setelah merapikan isi kotak ini tentu saja" tawar Minako menyeringai

"eh,ah, tidak apa Senpai, aku bisa menanganinya" tolak Chihiro gugup, ia tidak ingin merepotkan seniornya. Minako mengangkat bahunya

"baiklah, lebih baik aku segera mengerjakan tugasku juga" Minako mulai mengaduk isi kotak lalu menempatkan isinya di penjuru ruangan OSIS. Pintu terbuka, Hidetoshi masuk dengan membawa beberapa map dan berkas di tangan nya.

"Fushimi, kau di sini" ucap Hidetoshi dengan seringaian khas miliknya

"apa ini sudah semuanya, Hidetoshi – kun?" tanya Minako menyelamatkan Chihiro yang gugup

"ya, kita juga harus menempatkan beberapa benda kembali ke gudang" jawab Hidetoshi menaruh berkas di tangan nya.

"lebih cepat, lebih baik" sahut Minako ceria, Hidetoshi mau tidak mau tersenyum melihat tingkah gadis itu. Mereka bekerja dalam diam, hanya sesekali Hidetoshi memberikan instruksi atau bertanya. Pekerjaan mereka selesai ketika tiga siswa anggota komite disiplin masuk seusai berpatroli. Minako merasa lega melihat Hidetoshi lebih berinteraksi dengan mereka, mencoba menerima masukan dari anggota lain.

"A-Arisato - senpai, um… kau tidak apa? Wajahmu terlihat pucat" tanya Chihiro

"aku baik – baik saja, apa kau sudah menyelesaikan anggaran mu?"

"Arisato, sebentar lagi sekolah akan di tutup, lebih baik kita pulang sekarang" potong Hidetoshi, Minako mengangguk

"a-aku harus merapikan ini sebentar, senpai bisa pulang duluan" Chihiro merapikan bon yang berserakan, tangan Minako bergerak membantunya

"lebih cepat kalau berdua, kita bisa berjalan ke stasiun bersama, bagaimana Hidetoshi –kun? Mau ikut bersama kami?" Hidetoshi menyeringai, ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.

"tentu, akan ku tunggu di lorong" Chihiro nyaris tidak mempercayai pendengarannya. Odagiri Hidetoshi yang terkenal sombong dan berharga diri tinggi itu mau menunggu mereka untuk pulang bersama. Chihiro melirik ke arah Minako, yang sibuk mengurutkan tanggal bon di tangannya kemudian menyadari tatapan juniornya.

"ada sesuatu di wajah ku?" tanya Minako, wajah Chihiro memerah malu

"t-tidak, bukan apa – apa… ha-hanya saja senpai begitu cantik dan baik" Minako menyeringai

"terima kasih atas pujian mu" Chihiro menunduk, mengumamkan sesuatu, Minako memutuskan untuk tidak bertanya.

Hidetoshi's POV

Udara di luar begitu dingin meski salju sudah berhenti, nafasku berubah menjadi asap putih. Aku berjalan sedikit di depan, memberi sedikit ruang untuk kedua gadis yang berjalan bersamaku, Fushimi Chihiro dan Arisato Minako.

Kami berjalan dalam diam, tidak banyak yang bisa dibicarakan. Aku melihat beberapa orang sedang membersihkan coretan di dinding stasiun, sesuatu mengenai okultisme dan akhri dunia. Menurutku itu hanya igauan orang bodoh dan tidak masuk akal.

Arisato dan Fushimi sepertinya mendiskusikan sesuatu ketika mereka melewati pertokoan Stasiun Iwatodai, aku senang melihat Arisato lebih ceria, dia terlihat lelah dan pucat belakangan ini. Hari ini pun sebenarnya hanya aku dan beberapa anggota komite disiplin yang bertugas tetapi Arisato langsung menawarkan bantuannya ketika kami berpapasan di lorong.

"kalau begitu kita berpisah di sini, sampai nanti, Chihiro – Chan, Hidetoshi – kun" Arisato melambai ketika kami berpisah dekat asrama Iwatodai, aku mengantar Fushimi yang rumahnya satu arah denganku

"Arisato – senpai selalu bersemangat" komentar Fushimi, aku mengangguk setuju

"kurasa karena itu Presiden merekrutnya menjadi anggota OSIS" gumamku memandang punggung Arisato beberapa lama sampai ia menghilang.

Fushimi memandangku, seolah ingin mengatakan sesuatu. Aku tahu apa yang ingin ia ungkapkan tetapi kurasa mengatakannya secara terang – terangan tidak akan membantu.

Aku tahu perasaanku terhadap Arisato dan memutuskan untuk mengungkapkannya sekali lagi ketika aku sudah menjadi orang yang lebih baik, lebih pantas untuknya. Itu keputusanku.

End of POV


A/N : maaf untuk update yang (kelewat) lama... well, enjoy :D