Sudah memasuki musim gugur tahun ini saat Uzumaki Naruto berjalan pulang melewati pertokoan di sudut kota Tokyo. Matanya tertuju pada sebuah jaket ungu di etalase. Jaket yang simpel dengan lengan dan hoodie berwarna putih dan ujung pergelangan tangan berwarna ungu lavender yang sama seperti bagian badan jaket itu. Memang sederhana, namun Naruto yakin jaket itu akan sangat cocok untuk gadis itu. Gadis yang ia ketahui akan berulang tahun di akhir bulan Desember.
Jaket yang mirip dengan jaket salah seorang karakter perempuan anime ninja yang sedang populer saat ini di Jepang. Naruto tahu itu, karakter yang dirasanya mirip dengan gadis yang ia maksud.
Ya, pasti akan sangat cocok untuk hadiah ulang tahunnya.
Sore itu Naruto bertekad untuk bekerja part time di musim gugur ini—kali ini di Tokyo—untuk membeli jaket itu.
A Naruto fanfiction,
Gingham Check ©2014 Munya munya
Rated: T
Genre: Romance
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Alternate Universe, maybe typos inside.
inspired by AKB48's song "Gingham Check"
Special for Hinata Hyuuga's Birthday! My favorite character!
**Dianjurkan membaca fanfic ini sambil mendengarkan lagu Gingham Check dari JKT48 (yang bahasa Indonesia) biar lebih mendalami artinya.
ENJOY!
Hyuuga Hinata menggosokkan kedua tangannya cepat sambil meniupkan napasnya kesana. Udara dingin bulan Desember sangat menusuk tulang namun gadis itu seakan tak menghiraukannya. Dengan hanya memakai kardigan berwarna peach yang entah sejak kapan mulai dipakainya, gadis bermata unik itu duduk diam di batu besar pinggir pantai.
Batu yang sama seperti musim panas lalu.
Pantai yang sama, di tempat yang sama, Hokkaido.
Namun keadaannya berbeda.
Jika musim panas lalu ia berada di sini bersama seseorang yang sangat berarti baginya, kini ia hanya sendiri. Musim telah berganti, jelas saja pemuda itu tidak ada kan?
Biasanya juga ia hanya sekali dalam setahun mengunjungi Hokkaido. Hanya libur musim panas saja. Tapi entah mengapa musim dingin ini ia ingin sekali pergi ke Hokkaido lagi.
Tentu saja Hinata tahu, ia mengunggu sesuatu yang sia-sia.
Naruto tak mungkin berada di Hokkaido musim ini.
Tersenyum miris, ia mulai mengeratkan syal merah yang ada di lehernya. Ia menggenggam dan memandang syal buatannya sendiri itu. Awalnya syal itu memang bukan untuknya. Ia khusus membuatnya untuk pemuda yang disukainya. Namun ia tahu itu percuma, ia tidak bisa memberikannya.
Lagipula, sekolah telah usai beberapa hari lalu membuatnya sulit bertemu dengan pemuda pirang itu. Apalagi kini ia berada di Hokkaido. Tidak mungkin Naruto juga di sini.
Jadi ia memutuskan untuk memakainya hari ini.
Kotak kado yang ia persiapkan hanya tegeletak kosong di bawah kakinya. "Sudahlah," ucapnya lirih.
Hanya laut yang sedingin es yang menemaninya pagi itu.
Gingham Check
Remaja berambut kuning jabrik itu berjalan tergesa menyusuri batas pantai. Mata birunya bergerak mencari sosok yang memenuhi pikirannya. Ia terlihat sedikit kerepotan dengan dua bungkusan yang dibawanya di kanan-kirinya. Pemuda dengan jaket orange dan celana yang senada itu terlihat sedikit menggigil. Tapi ia bertekad terus mencari gadis itu sampai ketemu.
Kini pandangannya beralih ke arah laut. Ia melihat pondok cokelat tempatnya bekerja di musim panas. Entah mendapat firasat darimana, ia mendekat ke pondok itu dan turun ke pasir pantai. Saat ia menengok ke kiri, ia melihat batu hitam besar yang ia ingat adalah tempatnya mengobrol dulu bersama gadis itu.
Ia pun menghampiri batu itu dan senyumnya mengembang kala ia menemukan gadis berambut biru panjang yang dicarinya tengah duduk diam membelakanginya. Tanpa bermaksud mengejutkannya, Naruto pun membuka suara.
"Jadi kau di sini, Hinata."
Mendengar suara yang amat dikenalnya membuat gadis cantik itu berbalik cepat. Ia tidak bisa mempercayai penglihatannya saat Naruto, pemuda yang sejak tadi memenuhi pikirannya, berjalan mendekatinya dan perlahan duduk di sampingnya.
"Na-Naruto-kun, mengapa bisa ada di Hokkaido?"
"Aku ingin menemuimu," jawab pemuda itu enteng.
Wajah Hinata terasa panas mendengarnya. Ia menunduk menutupi rona merah di pipinya. Seketika itu berbagai pikiran berkelebat di kepalanya. Ia tidak menyangka Naruto akan muncul tiba-tiba begini.
Lalu ia kembali teringat akan perasaanya. Keadaannya sama seperti saat musim panas lalu. Perasaan bimbang yang terus menghantuinya. Entah mengapa ia belum merasa lega jika belum mengutarakan perasaan yang sebenarnya pada Naruto. Tapi di sisi lain ia masih ragu. Apakah Naruto akan membalas perasaannya?
Memang hubungan mereka menjadi lebih dekat semenjak liburan musim panas lalu. Namun sebagai perempuan tetap saja Hinata butuh kepastian. Kepastian yang mengikat.
Naruto memang seringkali memberikan kode atau apapun itu hal yang membuat Hinata merasa Naruto memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun tanpa kepastian, hal-hal seperti itu tidak bisa dipegang kan?
Jujur sejauh ini Hinata merasa senang dekat dengan pemuda yang selama ini disukainya. Meskipun bukan berarti ia bisa menjalani ini sampai kapanpun.
Perasaan wanita memang hal yang rumit. Mereka seringkali berpikir menggunakan hatinya, bukan logika.
Batas waktu cintanya sudah dekat, mungkin setelah ini ia tidak memiliki momen seperti ini lagi bersama Naruto karena musim depan ia akan naik ke kelas tiga dan mungkin berpisah kelas dengan pemuda itu. Tidak bisa ia bayangkan intensitas bertemunya akan semakin berkurang ditambah lagi ujian yang menanti. Dan untuk kedua kalinya, dengan perasaannya, Hinata harus membuat keputusan.
"Naruto-"
"Selamat ulang tahun, Hinata!"
Gadis bermata bak kristal amethyst itu terkejut dengan wajah yang amat lucu membuat pemuda yang sedang menyodorkan sebuah kotak kado ukuran sedang itu ingin mencubitnya gemas. Ia terdiam bingung mencerna apa yang terjadi di depannya. Naruto? kotak kado putih berpita merah? ulang tahun?
Ah benar. Hari ini dua puluh tujuh Desember. Tepat tujuh belas tahun yang lalu ia dilahirkan. Hampir saja ia melupakannya. Sepertinya ulang tahunmu kali ini akan terasa spesial, Hinata.
"Ini untukmu," ujar Naruto sambil mendekatkan kotak itu ke pangkuan Hinata.
Malu-malu Hinata mengambilnya dan perlahan menatap wajah ceria Naruto. "Arigatou, Naruto-kun!"
"Boleh ku buka sekarang?"
"Tentu saja, kurasa kau membutuhkannya."
Memandang Naruto heran, Hinata memilih membuka kado itu cepat dan dilihatnya sebuah jaket ungu terlipat rapi di dalamnya. Senyum kecil tercipta kala ia mengeluarkan jaket itu dan merentangkannya. Sebuah jaket cukup tebal yang ia yakini akan sangat hangat jika ia memakainya. Warna ungu pastelnya senada dengan bola matanya. Pasti akan sangat serasi juga dengan warna rambutnya yang gelap. Hinata tak bisa menahan senyum bahagianya mengingat siapa yang memberikannya jaket itu, menambah nilai plus pada jaket itu.
"Kau suka?" tanya Naruto yang membuat gadis itu menolehkan kepalanya. "Iya, aku sangat suka. Terimakasih Naruto-kun sudah repot-repot memberikanku kado," padahal kehadiranmu saja sangat cukup di hari ulang tahunku ini.Tambah Hinata dalam hati. Senyum kembali mengembang di wajah ayu nya.
"Hahaha tidak kok," ujar Naruto sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Hinata sedang antusias membolak-balik jaket barunya saat tiba-tiba tangan Naruto merebut jaket itu pelan. Hinata sedikit terkejut dan dilihatnya Naruto membuka risleting jaket itu dan tanpa diduganya, pemuda disebelahnya menyampirkan jaket itu di bahu Hinata. Rona merah di pipi tak bisa ditahannya saat dirasanya tangan Naruto yang sedang memakaikan jaket terasa seperti sedang merangkul pundaknya. Hinata menundukkan wajahnya yang terasa panas di tengah bekunya hawa pantai musim dingin.
"Na-naru—"
"Kau bisa sakit kalau hanya memakai kardigan itu, Hinata. Hm, kurasa ukurannya pas untukmu. Syukurlah."
Naruto menatap Hinata dari atas sampai bawah setelah ia selesai menyampirkan jaket ke tubuh gadis di sampingnya. Ia tersenyum dan mengangkat jempol tangannya di udara. Hinata balas tersenyum ke arahnya sambil menggumamkan terimakasih lagi.
Tidak hanya tubuhnya yang hangat namun hatinya juga merasakan hal yang sama saat menerima perhatian itu dari lelaki di sampingnya. Hinata bersyukur pada Tuhan atas ulang tahunnya yang sangat berkesan ini.
Ia rasa, batas waktu yang ia tetapkan sendiri tidak apa-apa jika terlewat. Batas waktu untuk mengungkapkan perasaan sejujur-jujurnya pada Naruto agar semua ini jelas, agar tidak ada lagi yang samar diantara mereka. Sekali lagi, ia harus mengalah pada rasa bahagianya. Ia tidak ingin rasa tegang dan berdebar saat mengatakan perasaannya itu menghancurkan hatinya yang sedang ditumbuhi bunga oleh perlakuan pemuda pirang di sebelahnya ini. Ini zona nyamannya. Senyumnya pun mengembang lagi saat menatap mata biru di sebelahnya. Karena Naruto teramat penting, mungkin ia bisa menundanya kembali hingga tahun depan datang. Mungkin, liburan musim panas tahun depan akan mempertemukan mereka lagi di Hokkaido yang indah ini. Di tengah kebahagiaannya Hinata membiarkan rasa di hatinya kembali berpola kotak-kotak.
Gingham Check
Entah mengapa baik Naruto maupun Hinata begitu menikmati kesunyian dan udara dingin tepi pantai yang beku ini. Pemandangan laut yang airnya seakan dipenuhi kristal bening itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Berkilauan sejauh mata memandang. Memantulkan cahaya biru menakjubkan yang mempesona siapa saja yang memandangnya. Penghujung desember memang bukanlah waktu yang baik untuk menghabiskan waktu duduk berdiam di luar rumah. Namun hal itu seakan tidak berlaku untuk dua remaja yang masih betah berlama-lama di pantai yang menuliskan banyak kenangan ini.
Hinata mengalihkan atensinya sejenak dari laut di depannya ke arah pemuda berjaket orange yang tengah menggosok-gosok telapak tangannya sambil meniupkan udara dari mulutnya. Dari gelagatnya Hinata tahu pemuda itu kedinginan. Kemudian ia ingat dengan syal merah yang telah ia rajut dengan sepenuh hati itu. Harusnya ia memberikannya pada orang yang spesial di sampingnya ini kan?
Perlahan ia membuka syal yang mengalungi lehernya. Naruto hanya menatap heran gadis di sampingnya. Udara sedang dingin mengapa malah dilepas?
Naruto lebih terkejut lagi saat mendapati Hinata sedang memakaikan syal merah hangat itu ke lehernya. Perlahan wajahnya memanas. Gejolak rasa hangat dan senang yang tengah memenuhi hatinya tak dapat dipungkiri pamuda pirang itu. Dilihatnya gadis di sebelahnya wajahnya memerah dan masih melilitkan syal merah panjang itu di lehernya. Naruto hanya diam memandangi ekspresi manis wajah merah padam gadis di sebelahnya.
Setelah selesai, Hinata hendak membuka suara menjelaskan segalanya namun lebih dulu dipotong oleh Naruto. "Hinata! wajahmu merah. Apa kau sakit? Kalau begitu pakai saja syal ini lagi," ujar Naruto sambil menempelkan punggung tangannya di kening Hinata. Refleks Hinata menjauhkan kepalanya. "Bu-bukan begitu, Na-Naruto-kun! Aku.. ano.. syal itu untukmu. Anggap saja hadiah natal dariku. Uhm.."
Naruto menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya. Dilihatnya Hinata memainkan jari-jarinya di depan dada, gugup. "Aku.. aku membuatnya sendiri. Syal itu.. Ku harap kau suka. Ma-maaf karena sudah memakainya. Aku pikir, Naruto-kun tidak akan ada di Hokkaido musim dingin ini. Aku.. aku baru memakainya hari ini kok, percayalah. Itu.. itu masih bersih, jadi.."
Hinata terkejut dan rona merah makin menjalari wajahnya saat Naruto mendekat ke arahnya dan perlahan melepas lilitan syal itu sampai sepanjang setengahnya. Pemuda pirang itu lalu memakaikan setengah syal merah itu ke leher gadis di sebelahnya. Hinata mati-matian menahan pingsan saat wajahnya terasa sangat dekat dengan orang yang disukainya.
Perlahan Naruto menyatukan kening mereka sambil memegang ujung syal yang tersampir di bahu Hinata. "Aku suka. Terimakasih. Tapi berdua seperti ini lebih baik kan?"
Napas Hinata seakan hilang entah kemana saat Naruto berkata seperti itu tepat di depan hidungnya. Ia hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil bergumam dalam hatinya sendiri. Jangan pingsan, Hinata. Jangan pingsan.
Gingham Check
Perasaan Hyuuga Hinata campur aduk bagai sinar dan bayangan. Lihat saja, terkadang Naruto bersikap begitu manis di depannya namun ketika sadar, ia harus menghadapi kenyataan bahwa kepastian itu belum ada. Perasaan pemuda itu masih samar tanpa ada kata-kata yang mengikatnya. Bisa saja kan Naruto memang bersikap baik pada semua orang? Pemuda itu masih belum menjadi miliknya seorang. Mungkin terdengar egois. Namun, hey, perempuan mana yang tahan bila dihadapkan pada dua situasi ini?
Hinata merasa Naruto di sebelahnya memandanginya dalam diam. Jarak mereka saat ini hanya sejengkal karena syal yang melilit mereka berdua.
Berbagi syal di musim dingin.
Hangat.
"Kau cantik dengan jaket itu."
Apa Hinata tidak salah dengar?
"Kau tahu film anime ninja yang sedang populer akhir-akhir ini? Jaket itu mirip dengan salah satu tokoh perempuannya kan? Hehehe aku suka sekali tokoh itu. Itu loh yang jurusnya byakugan! Aku rasa dia mirip denganmu," ujar Naruto panjang lebar sambil terkekeh memamerkan deretan gigi-giginya.
Hinata menolehkan kepalanya ke arah Naruto dengan bibir sedikit terbuka dan mata membulat, sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda di sebelahnya. Gadis itu menunduk dalam-dalam dan kembali mencerna kata-kata Naruto.
Aku suka sekali tokoh itu.
Dia mirip denganmu.
Gadis itu tidak tahu sudah berapa kali wajahnya memerah hari ini. Dan cuaca yang beku pun sama sekali tak membantu menormalkan warna kulit wajahnya.
Kembali, sinar harapan itu menerpa Hinata dibalik bayang-bayang ketidakpastian.
Hinata tahu tokoh yang dimaksud Naruto. Tentu saja, semua orang berbondong-bondong menonton film anime ninja itu yang kata kebanyakan orang sangat seru, dramatis, romantis dan berkesan. Hinata merasa dirinya tidak pantas disamakan dengan tokoh itu. Tokoh itu mempunyai keberanian mengungkapkan cintanya yang besar, sedangkan dirinya?
Tiba-tiba ia menyadari bahwa keadaannya kali ini begitu mirip dengan adegan dalam film itu ketika sang ninja perempuan memberikan syal merah kepada orang yang disukainya di musim dingin. Film yang sangat romantis. Terkadang Hinata berharap memiliki akhir kisah yang bahagia sama seperti kisah anime itu.
"Ah, Naruto-kun berlebihan." Pada akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Hinata. ia memberanikan wajahnya menatap pemuda di sampingnya sambil mengulum senyum manis.
Naruto tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri bahwa Hinata dengan rona merah di pipi putihnya dan rambut gelapnya yang sangat kontras dengan salju musim dingin terlihat lebih anggun dan mempesona. Manis.
"Ohya aku hampir lupa!"
Gadis berambut prussian blue panjang itu sedikit heran memperhatikan Naruto yang tengah mengambil sesuatu di dalam bungkusan di tangan kanannya. Tiba-tiba Naruto berhenti sejenak lalu berkata pada gadis di sebelahnya, "Hinata, bisa kah kau berbalik dan tutup mata mu?"
"A-ada apa Naruto-kun?"
"Sudah lakukan saja sebentar," Naruto perlahan memegang pundak Hinata dan hendak memutar tubuh gadis itu saat tiba-tiba Hinata buka suara.
"Naruto-kun! Aku.. susah berbalik. Syal nya.. uh," lirih Hinata pelan sambil menunduk menahan semburat merah di wajahnya. Naruto yang baru menyadari hal itu lantas terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu melepaskan syal di leher Hinata.
"Aa gomen Hinata, aku lupa. Sekarang berbaliklah!"
Hinata pun hanya patuh mengikuti instruksi Naruto. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang di lakukan pemuda pirang itu. Namun rasa penasarannya terbayar saat Naruto menyuruhnya berbalik kembali.
Hinata membuka matanya dan melihat Naruto yang membawa kue tart berwarna putih yang dilapisi hiasan krim bergaris biru muda kotak-kotak di semua sisinya. Kue itu bertuliskan 'Tanjoubi Omedettou Hinata!' dan tidak lupa lilin angka 17 yang sudah menyala tersemat di atasnya.
"Naruto-kun, kue nya.."
"Itu seperti baju yang sama yang kita gunakan di musim panas lalu kan? Hehe aku sengaja memilihnya untukmu. Ulang tahun kurang lengkap kalau tanpa kue kan? Tunggu apa lagi, ayo tiup lilinnya!" seru Naruto sambil menyodorkan kue itu pada Hinata.
Hinata tidak bisa menahan rasa haru dan bahagianya. Tangannya tergerak untuk menutup mulutnya yang sedikit terbuka. Ia tidak menyangka, bahkan keberadaan Naruto di sampingnya hari ini pun, ia tidak dapat membayangkannya akan jadi nyata. Namun api lilin di depannya hidup, semuanya sangat nyata. Ia memejamkan matanya dan mengucap doa sebelum meniup lilin di depannya.
Ya Tuhan, aku harap orang di depanku ini selalu bisa bersamaku.
Semoga kebahagiaan ini tidak pernah terhapus.
Dan bolehkan aku minta dia yang ada di depanku ini untuk jadi orang yang ditakdirkan untukku selamanya?
WHUSS
Api pun tertiup mati. Bersama dengan melayangnya doa itu ke langit yang paling tinggi.
Hinata tidak dapat berhenti bersyukur kala Naruto menaruh kue itu ke pangkuannya sejenak dan bertepuk tangan ceria. Kembali mengucapkan kata selamat ulang tahun, doa serta harapan untuknya.
"Sekali lagi, arigatou Naruto-kun!" ujar Hinata sembari tersenyum tulus yang membuat Naruto terpana untuk sesaat.
"Ayo potong kuenya, Hinata!" kata Naruto semangat sambil memberikan pisau kue kepada Hinata.
Hinata menerima pisau itu dan perlahan memotong kue itu dari tengah ke tepi. Namun sebelum berhasil memotongnya, ia merasa pisau kuenya terganjal sesuatu di dalam.
Naruto yang melihat itu hanya dapat menahan senyumnya walaupun dalam hati ia merasa sedikit gugup.
Mengapa Naruto seperti itu ya?
Hinata masih kesulitan memotong kue saat tiba-tiba tangan Naruto menggenggam tangannya yang memegang pisau dan membantunya memotong. Hinata menolehkan wajahnya yang mulai dipenuhi semburat merah itu sejenak ke arah Naruto. "Aku bantu," ujar Naruto disertai cengiran lebarnya.
Saat kue berhasil terpotong, mata Hinata menangkap sesuatu seperti kartu yang dilapisi plastik mika terselip di dalam kue. Keningnya berkerut saat mengeluarkan benda mencurigakan itu dari dalam kue. "Apa ini?"
Naruto hanya bungkam dan menaikkan alis matanya saat Hinata melempar tatapan bertanya ke arahnya.
Hinata mengembalikan atensinya pada kartu di tangannya. Ekspresi gadis itu berubah drastis saat melihat tulisan di kartu itu. 'Hinata, Daisuki.'
Hinata terdiam dengan sebelah tangan menutupi mulutnya yang terbuka. Matanya perlahan menatap Naruto lurus-lurus, wajahnya memerah dan semakin terasa panas saat Naruto menggenggam tangannya yang memegang kartu dan melafalkan kalimat yang tertera di kartu tersebut sambil menatap matanya dalam. Biru bertemu lavender.
"Daisuki, Hinata. Aku menyukaimu, maukah kau jadi kekasihku?"
Runtuh sudah keraguan Hinata. Harapannya telah terkabul. Tidak disangka semuanya terasa begitu lengkap hari ini, hari ulang tahunnya. Sweet seventeen yang teramat manis, tidak akan pernah ia lupakan. Tak pernah ia sangka orang yang disukainya ini akan lebih dulu membalas perasaannya tanpa perlu ia ungkapkan isi hatinya. Senyum bahagia kembali terukir di wajah cantiknya saat ia membalas perkataan Naruto.
"Ya."
Hinata sungguh kehilangan kata-katanya dan hanya dapat mengangguk kencang penuh keyakinan dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya. Naruto melebarkan matanya senang mendengar jawaban itu dan tiba-tiba ia kembali melilitkan syal merah yang menjuntai panjang di lehernya ke leher kekasihnya. Membagi kehangatan untuk berdua. Tersenyum lebar, Naruto berujar pelan. "Terimakasih, Hinata."
Kini tidak ada lagi baju lengan pendek kotak-kotak yang Hinata lihat membungkus tubuh Naruto, yang ada hanya jaket oranye penanda musim dingin melatari kisah mereka. Tidak ada rasa sayang yang dibarengi kepedihan akan cinta bertepuk sebelah tangan, yang ada hanya kepastian yang nyata langsung dari mulut seorang Uzumaki Naruto. Karena lelaki itu juga mencintainya. Perasaan mereka sama. Tidak ada lagi kebimbangan yang membuat hati Hinata terasa kotak-kotak. Mungkin, mungkin pola kotak-kotak yang tersisa hanya ada pada hiasan kue dan rok biru-putih yang masih Hinata kenakan hari ini, gingham check.
Mereka mendekatkan tubuh masing-masing mencari kehangatan di tengah dinginnya hawa akhir Desember. Tangan mereka saling menggenggam. Naruto menempelkan kepala kuningnya manja ke kepala biru kekasihnya. Kue yang ada di pangkuan Hinata pun tidak terabaikan, mereka memakan kue itu bersama dan dengan jahil kedua sejoli ini saling menempelkan krim ke wajah pasangannya. Kebahagiaan tergambar jelas dari wajah mereka. Tak berhenti bersyukur, Hinata pun tak lupa mengatakan hal yang selama ini mengganjal di hatinya agar ia lega, agar ia tidak lagi menyisakan cinta kotak-kotak.
"Aku juga menyukaimu, Naruto-kun."
OWARI
A/N:
Nah, di chapter ini udah berbau 'ulang tahun' kan? Hehe telat abis sih sebenernya. Maafkan aku Hinata-sama! Sekali lagi tanjoubi omedettou! Sepertinya ini tahun terindahnya Hinata. Akhirnya.. dapet juga si hokage orange-orange the jak (?) itu. Wkwkwk. Gue kapan ya dapetin dia? Loh.
Maaf juga kalo terasa OOC atau banyak kesalahan lain, mohon kritik dan sarannya karena saya terhitung masih newbie. Saya udah berusaha semaksimal mungkin biar gak OOC.
Daaan saya minta maaf gabisa menepati janji update kemarin. Habis ga ada yang komentar apa-apa jadi saya merasa cerita ini ga ada yang baca
Tapiii ternyata ada juga yang memberi saya semangat untuk nulis ini lagi! Terimakasih reader setia saya: Blackschool-san! Ini updatenya maaf agak telat yaa hehe.
Ohiya chapter ini berbau The Last juga loh wkwk mumpung lagi ngeHitz abis nih The Last: Naruhina the movie. LOL.
Btw, curhat dikit nih saya belum nonton the last. Hiksss ayolah cepat tayang di Indonesiaaaa! Hayati udah ga kuat sama spoiler baangg! Jangan sampe batal tayang dong pleasee
Oya, Iseng aja bikin ada anime naruto di dunia AU naruto ini. Wkwk.
Silakan di baca omake nya...
OMAKE
"Ngomong-ngomong, kamu tahu dari mana aku ada di sini Naruto-kun?" tanya Hinata penasaran.
Naruto gemas dengan wajah Hinata yang terlihat lucu kalau sedang penasaran. Ia pun mencubit pipi kekasihnya pelan. Ya, kekasih. Mereka sudah resmi kan?
"Dari Neji," jawab Naruto singkat. Tangannya masih sibuk mengayunkan genggaman tangan mereka. Aduh, pasangan baru..
"Aa.. lalu, bagaimana kau bisa menemukanku di pantai ini? Neji-niisan kan tidak tahu aku di sini," Hinata kembali memandang heran Naruto yang duduk di sebelahnya. Wajah mereka kini agak lengket akibat perang krim kue—walaupun sudah di lap pakai tisu.
Naruto mengarahkan tangan Hinata dan meletakkannya di dadanya. "Pakai sinyal hatiku," ujar Naruto terkekeh geli dengan gombalannya sendiri.
Hinata hanya menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
"Ohya, Hinata apa kau sudah menonton The Last? Ituloh, film yang sedang ngehits." Tiba-tiba Naruto membuka topik baru.
"Oh, itu.. aku su—"
"Ah! Tidakkah kau berpikir kita ini mirip seperti mereka? Yaa, aku baru melihat trailernya sih, tapi kurasa kita hari ini seperti sedang berada dalam adegan film itu saja. Lihat saljunya! Lalu syal merah ini, lalu kau, aku.."
"Naruto-kun.. ng.. i-iya ya," Hinata berusaha menjawab walau pipinya merona hebat akibat perkataan Naruto tadi yang entah disadarinya atau tidak, terdengar romantis.
"Hahaha. Wajahmu lucu kalau sedang malu-malu begitu, Hinata. Hm, jadi kau sudah menontonnya ya? Apa boleh buat, padahal aku mau mengajakmu menonton film itu." Naruto mengatakan kalimat terakhir dengan wajah kecewa yang dibuat-buat.
Melihat itu, Hinata pun terlihat menyesal dan cepat-cepat berkata, "Ka-kalau Naruto-kun benar-benar ingin menontonnya, aku.. aku akan menemanimu."
"Tidak usah."
"Eh?" Hinata sedikit kecewa mendengar penolakan Naruto.
Namun gadis itu tidak menyadari seringai kekasih pirangnya ini. Naruto pun kembali berkata. "Kita buat saja 'The Last' kita sendiri. Karena kamu kan.. the last love in my life, Hime." cengiran rubah menghiasi wajah tan lelaki itu.
"Na-Naruto-kun gombal!"
FIN
Yak, Naruto nonton Naruto.
Review ya!
