Chapter 5

Berawal dari sebuah "Commnet War". Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Disclaimer : Naruto itu masih punya Om Masashi Kishimoto dan Facebook pun masih punya Om Mark Zuckerberg kan?

Rated : T *Dikeplak reader* Iya ini M kok.. u,u

Genre : Romance/Humor yang kurang berasa

Warning : OOC, Gaje, Typo(s), Yaoi, EYD yang ancur, BoyXBoy. Etc. If you like it, You must read this!

A/N : *Muncul asap tebal dan Author pun muncul* Halooo Semuaaaaa… *Reader: siapa lo?*Pundung* Masih dengan Author ter-absurd sepanjang sejarah. Maaf nih updatenya lama, soalnya semenjak masuk SMA, Author jadi semakin sibuk. Dari ekskul sampai organisasi nyita waktu semua. Jadilah aku pulang malem terus, jadi gak ada waktu buat mampir ke FF ini. Jadi jika gaya penulisan Author sudah banyak berbeda dari sebelumnya, Author minta maaf yah.. Maaf juga nih karena Review dari para reader tidak saya balas, tapi tetap saya baca kok reviewnya..dan review selanjutnya bakal Mind bales kok..Langsung aja.. Silahkan dibaca chapter ini..

Enjoy~~~~~~~

Comment War!

By: In My Bla-Bla Mind


"Hay, Teme!"

"Diamlah, Dobe. Kita baru saja melakukannya 10 menit yang lalu."

"Ishh.. Teme bangunlah!"

"Aku masih lemas untuk melakukan itu lagi, Dobe"

"Apa yang kau pikirkan sih, Teme? Bangunlah, ini sudah sore. Kita bisa telat pulang"

Sepasang mata hitam kelam terbuka dari kelopak mata putih yang membungkusnya. Pemilik mata hitam itu segera menaikan tubuhnya untuk mengambil posisi terduduk di matras tempat ia tertidur. Ia meregangkan tubuh tegapnya dan menggerakan ekor matanya kearah suara berisik yang menggangu tidurnya. Ia menatap lekat punggung seseorang yang sedang sibuk dengan isi tas sekolahnya. Ia lalu menaikan sedikit sudut bibirnya sebelum mengedarkan pandangnya keruangan tempat mereka berada.

"Ini dimana?"

"Baka Teme, kau seperti orang bangun dari Insomnia. Ini di UKS sekolah"

" Yang benar itu Amnesia, Dobe"

"Terserah, yang penting sekarang kita cepat kita pulang"

Mata hitam kelam tersebut kembali menatap punggung yang masih terbungkus seragam olahraga itu. Ia menggerakan tangan putihnya menuju pinggang orang itu dan menarik tubuhnya kearah pemilik punggung tersebut. Pemilik pinggang sempat terlonjak kaget dibuatnya.

"Lepaskan, Sasuke"

"Kau yakin ingin pulang, Naruto? Apakah kau tidak ingin melakukan 'Itu' lagi?" Ujar Orang yang dipanggil 'Sasuke' dengan penekanan di kata 'Itu'

"Melakukan apa?" Kata sang pemilik nama 'Naruto' yang mulai berontak dengan wajah bingung. Tetapi tidak begitu berhasil karena tangan di pinggangnya malah semakin mengerat.

"Kau bisa lupa? Kita baru saja melakukannya 15 menit yang lalu dan kau sudah lupa?"

Naruto yang sudah risih langsung menyikut perut Sasuke sehingga ia bisa terbebas dari pelukan sepihak tersebut.

"Teme, yang ku tahu, 15 menit yang lalu kau sedang tidur sambil mengigau dan mendesah sendiri" Ujar Naruto sambil menatap Sasuke tajam.

Sasuke mengangkat alisnya bingung. Bukankah ia baru saja melakukan adegan 'Ehm' dengan Naruto. Tetapi Naruto bilang bahwa ia… Eh, tunggu sebentar, kenapa celananya agak basah? Jangan-jangan… MIMPI BASAH?

"Ayo, Teme. Kita pulang!" Ajak Naruto sambil berjalan kearah pintu UKS sekolah yang berada di depan Sasuke yang masih bingung dengan kejadian ini. Yap, Sasuke tidak terlalu bodoh untuk menyadari bahwa NARUTO BERDIRI dan TIDAK MENGALAMI KESULITAN BERJALAN.

"TEME, KAU MAU PULANG TIDAK?" Teriakan sang rambut blonde pun berhasil menyadarkan sang Uchiha untuk bangun dari dunia lamunannya. Ia menoleh tanpa memperlihatkan kekecewaannya lalu mengapai tasnya dan berjalan kearah berlawanan dari arah Naruto berjalan.

"Hay, Teme. Gerbang sekolah itu kearah sini!" Ujar Naruto menatap punggung Sasuke yang sudah menjauh.

"Aku tau, Dobe"

"Lalu kau mau kemana?"

"Ke toilet"

"Mau ngapain lagi sih?"

"Ganti Celana"


Kyuubi mendudukan dirinya di halaman depan rumahnya, Ia terus menatap jalan raya didepannya, tidak seperti saat siang yang biasanya padat dengan kendaraan, saat malam -seperti sekarang ini- jalan tersebut telah lenggang dari kendaraan yang lewat. Tetapi tujuannya duduk disini bukan untuk menghitung kendaraan yang lewat, tetapi menunggu kepulangan dari adiknya yang tercinta, Naruto. Kyuubi sedikit merapatkan jaket bulunya, berusaha untuk menghalau udara dingin memasuki dan menusuk tulangnya lalu menyesap sedikit kopi hangat yang ia buat. Udara awal bulan desember memang selalu tidak bersahabat. Begitu pula dengan hidupnya. Tiba-tiba sebuah peristiwa berputar mundur di sebuah sudut kecil dikepalanya, yang sudah ia pendam rapat-rapat. Yang bahkan juga terjadi di udara dan saat yang 'tidak bersahabat' pula.

~FlashBack~

Kyuubi terus berlari di menuju gerbang Harvard University sambil menenteng beberapa tumpuk dokumen ditangannya. Sesekali ia harus berhenti untuk menarik nafas yang bagai tercekat ditenggorokannya. Ia menggosok hidungnya gatal setelah menyadari bahwa ada sesuatu benda asing yang terasa dingin memasuki hidungnya yang sedang menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Ia menoleh keatas dan tersenyum.

"Salju sudah turun yah? Tak terasa sudah memasuki bulan Desember" Ujar Kyuubi sambil memasuki gerbang Universitas nomer satu didunia itu.

.

.

.

"Grrrhhh.. Dosen sialan" Ujar Kyuubi geram sambil menendang kaleng tak berdosa yang menghalangi langkahnya sejauh mungkin. Bahkan orang yang berada disekitarnya merasakan aura pembunuh dari sang pemilik rambut merah panjang tersebut. Bagaimana tidak, Ia sudah menyelesaikan tugas dadakan yang diberi oleh dosennya dan diberi deadline yang sungguh mendesak untuk tugas sebanyak itu. Setelah ia memberikan tugasnya kepada dosen 'tercinta', ia hanya mendapat beberapa coretan besar di lembar tugasnya dan kata 'Perbaiki!' dari sang dosen. Sialan sekali bukan?. Kyuubi terus melangkah dengan langkah yang dihentak-hentakan, menandakan bahwa sang Kyuubi tidak boleh diganggu sekarang ini. Tapi bagaimana jika sebuah pohon yang tak tahu apa-apa menganggunya?

BUGH

"Awww.." Kyuubi memegangi dahinya yang memerah karena beradu dengan batang pohon yang tumbuh di pinggir trotoar tempat ia berjalan. Sepertinya pohon itu tidak tahu jika Kyuubi sedang kesal kali ini. Jadilah Kyuubi bertambah geram dan meninju batang pohon tersebut.

DUGGG

*Srekkk*

"Eh?"

BRUKKKK

Kyuubi tidak sadar bahwa di dahan pohon tersebut terkumpul salju yang menumpuk karena salju turun dengan lebat. Jadilah ia tertimpa tumpukan salju tersebut setelah batang kayu tersebut goyah karena pukulannya sendiri dan membuat salju itu jatuh menimpa badannya sendiri.

"Aduhhh.. Aku tidak bisa keluar dari sini" Ujar Kyuubi minta tolong. Tangannya terus menggapai udara meminta seseorang menolongnya. Tiba-tiba seseorang menggapai tangannya dan menariknya keluar dari tumpukan salju.

"Kau tidak apa-apa?" Ujar orang itu. Kyuubi belum bisa melihatnya karena matanya masih menyesuaikan cahaya lampu jalan yang menerpa. Lalu ia menyipitkan sedikit matanya dan menangkap sesuatu…

KERIPUT?

"Eh, eh, Terima kasih.." Ujar Kyuubi gugup. Ia pun tidak tahu kenapa ia jadi salah tingkah seperti ini.

"Sama-sama. Kau ingin pergi kemana, Nyonya?"

"Aku ingin pulang ke apartemenku. Dan.. Err.. Aku laki-laki tau" Ujar Kyuubi sambil menatap lekat ke pria didepannya. Jika dilihat baik-baik, perawakan orang tersebut sama seperti anak kuliahan sama seperti Kyuubi. Hanya saja posturnya lebih tinggi dan tegap,Ia juga sedang memakai Hoodie berwarna biru tua dengan bawahan jeans berwarna senada. Dipunggungnya terdapat tas sekolah berwarna coklat.

"Oh, maaf. Habis rambutmu panjang sih"

"Rambutmu juga panjang"

"Tapi kau itu manis, seperti perempuan" Kata orang tersebut sambil tersenyum. Kyuubi menunduk dengan muka memanas. Apa sih maunya orang ini? Menggodanya? Kyuubi biasa saja ketika Naruto dan ibunya memujinya. Tapi kenapa ini… Err, Berbeda?

"Ah, permisi aku harus pulang." Pamit Kyuubi sebelum pembicaraan ini mengalih ke Gender. Tapi sebelum Kyuubi melagkahkan kakinya, didepannya berhenti sebuah mobil Ferrari berwarna silver metalik. Tiba-tiba kaca mobil tersebut turun dan memperlihatkan seorang wanita memakai kacamata dan berambut merah. Wanita tersebut turun dan berlari kecil kearah orang yang telah menolong Kyuubi tadi.

"Tuan Itachi, Kenapa tidak menunggu di gerbang Universitas Harvard saja?"

"Sesekali, Orang butuh berjalan kaki, Karin"

"Tapi kau bisa sakit, Tuan Itachi. Udara sangat dingin diluar."

"Ah, sudahlah. Aku bukan anak kecil lagi."

Kyuubi terperanjat. Jadi orang ini satu universitas dengannya. Dan tadi siapa namanya? Itachi?. Kyuubi mendengar langkah dibelakangnya mulai mendekat.

"Kau sudah tau namaku. Sekarang, bolehkah ku tahu namamu?" Kata Itachi sambil memegang pundak Kyuubi.

"Err.. Kyu-Kyuubi.. Namikaze Kyuubi"

~FlashBack End~

Ingatannya itu membuat nafas Kyuubi sedikit tercekat. Dia mengeratkan gengamannya di syal berwarna merah tua yang melingkar dilehernya dan membuat ia sedikit tersenyum. Ia mendekatkan hidungnya untuk mencium wangi yang menguar dari syal tersebut.

"Hmm.. Masih berbau Hidan-sensei.. Aku tak akan mencucinya ahh.." Ucap Kyuubi kekanakan. Yap, syal pemberian senseinya yang diberikan karena Hidan tidak tega melihat Kyuubi kedinginan karena tidak membawa mantel itu di genggamnya erat. Seakan jika ia melepasnya, syal tersebut akan menghilang ditelan kegelapan malam *Lebay*.

Tiba-tiba sebuah derit pagar yang dibuka membuatnya menoleh ke sumber suara.

"Aku pulang"

"Naruto, kau sudah pulang?"

"Iyalah, kalau aku belum pulang, ngapain aku ada disini?"

Naruto menutup pintu pagar dan berjalan menuju halaman rumahnya. Naruto mendapati Kyuubi yang sedang menunggunya, bangkit dari kuburnya *Ditampol Kyuu* Eh, maksud Author bangkit dari duduknya.

"Kemana saja kau? Pulang larut malam tanpa memberitahu kakakmu lebih dahulu." Ujar Kyuubi sambil berdiri dan mengapai tas sekolah yang dilempar Naruto kepadanya.

"Aku hanya di UKS seharian" Kata Naruto sambil melangkah menuju pintu rumahnya dan memutar knop pintunya.

"Kau sakit?" Kata Kyuubi melangkahkan kakinya menuju pintu rumahnya menyusul Naruto. Kyuubi ingin bertanya kenapa Naruto berjalan pulang memakai seragam olahraga tanpa jaket atau sejenisnya dengan tidak kedinginan. Tapi ia urungkan niatnya.

"Aku hanya sedikit pusing karena ada kecelakaan kecil saat olahraga" Naruto melangkahkan kakinya yang masih berbalut kaos kaki menuju kamarnya yang langsung dihalangi oleh Kyuubi.

"Kau tidak makan dulu? Aku sudah membuatkan omelet di meja makan"

"Aku ingin ramen instant. Udara dingin seperti ini, enaknya kan makan ramen" Naruto membelokkan badannya menuju keruang tamu. Ia membaringkan tubuhnya di atas sofa dan melihat kakaknya yang menuju dapur. Naruto menyadari bahwa ada yang beda dari Kyuubi. Tapi apa yah? Ah, syalnya..

"Syal dari siapa, Kak?" Kyuubi menoleh ke Naruto yang sedang berusaha menggapai remote TV.

"Ada dehh.. Kepoo bangettt.. Mau tahu banget apa mau tahu aja?" Dan Author pun tidak tahu akan apa yang Author katakan kepada Om Masashi tentang alasan membuat Kyuubi jadi alay seperti ini. *Ampunn.. Om Masashi*


Naruto memasuki kamarnya sambil memegang perutnya. Sesekali ia bersendawa. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya dan duduk di tepi ranjangnya. Entah kenapa ia jadi ingat perkataan ibunya agar tidak langsung tidur setelah makan. Ia menggerakan Ekor matanya ke Komputer yang terongok disudut kamarnya. Ia sedikit menelan ludahnya sebelum beranjak dan duduk di kursi yang berada di depan komputer tersebut. Tanpa sadar ia mengetikan sebuah alamat yang mengajaknya untuk kembali ke dunia Facebook. Ia melihat teman-temannya yang sedang online, ia sedikit bisa menghembuskan nafasnya karena tidak ada Akun online yang bernama… Ah, apalah itu.. Matanya kembali menjelajahi beranda Facebooknya untuk melihat apa yang teman-teman dunia mayanya perbuat. Ia juga ikut meramaikan dunia maya dengan menulis status bertuliskan : "Today is the best Damn day ever!". Ya mungkin isi statusnya agak sedikit curhat. Naruto terus asyik melihat berandanya hingga tanpa sadar orang yang sudah ditunggunya sudah tiba.

OnyxNight Eyes mengomentari status anda

Naruto sedikit terlonjak ketika melihat ada pemberitahuan muncul di monitor komputernya. Ia ingin sekali langsung offline saat itu juga. Tetapi rasa penasaran terus mendorongnya untuk mengklik link itu.

OnyxNight Eyes: Me too

Hanya itu yang ditampilkan dimonitor didepannya. Naruto mengetik sesuatu di keyboard dengan kecepatan tinggi. Entah sadar atau tidak ia membalas komentar orang tersebut.

SapphireSky Eyes: Apa maumu?

Naruto mengetuk jemari rampingnya di keyboard komputernya. Entah kenapa ia jadi gugup dibuatnya.

OnyxNight Eyes: Mauku? Aku hanya ingin kau menepati janjimu.

SapphireSky Eyes: Janji? Seingatku aku tak pernah berjanji apa-apa kepadamu.

OnyxNight Eyes: Hahaha.. Ingin lari dari tanggung jawab, Heh? Atau kau takut?

SapphireSky Eyes: Haha.. Lucu sekali kau, Onyx! Asal kau tahu, tak ada arti kata 'Takut' dalam kamus bahasa Naruto.

OnyxNight Eyes: Menarik sekali. Lalu apa lagi yang kau tunggu, Tuan Mulut Besar?

SapphireSky Eyes: Biarkan aku berpikir dulu, Tuan Homo Tukang Masturbasi!

"Gila! Kau sungguh gila, Naruto. Apa sih yang kau pikirkan tadi?" Ujar Naruto sambil mengacak rambutnya ketika kembali ia melihat layar komputernya menampilkan perang komentar antara dirinya dengan orang yang bahkan ia tidak kenal. Ia menyadari dirinya sendiri bukan orang yang tidak berpikir panjang. Ia sudah terlalu tersulut emosi sehingga bisa lepas control seperti ini. Ia kembali menatap layar monitornya, lalu beralih ke celananya. Lalu kembali kearah monitor, lalu kearah celananya.

"Arghhh.. Aku pasti sudah gila" Ujar Naruto sambil mengacak rambutnya. Ia sungguh menyesal telah menantang si Onyx ini. Eh, tunggu mungkin kau bisa melakukan tawar-menawar mungkin. Yap, kalo dicoba mana mungkin tahu kan?

SapphireSky Eyes: Apa kita tidak bisa.. Err.. Bernegosiasi mungkin?

Mata biru Naruto berkilat terkena cahaya komputernya. Entah berapa kali ia menelan ludahnya sendiri untuk mengobati rasa panas di tenggorokannya. Dan entah kenapa suasana di kamar Naruto menjadi mencekam, hanya bunyi jarum jam yang berdetik yang bergema di seluruh penjuru ruangan tersebut.

PING

Naruto kembali memfokuskan mata birunya kembali kearah monitor ketika sebuah pemberitahuan terpampang jelas di depannya.

OnyxNight Eyes: Hmm.. Apa yang akan kau jadikan alat penawar?

Naruto kembali memutar kursi putarnya membelakangi monitor komputernya. Ia mengedarkan pandangannya kearah setiap sudut kamar tidurnya, mungkin saja ada barang bagus yang bisa dijadikan penawar. Yap, TIDAK ADA. Naruto jadi sedikit menyesal dengan kamarnya yang hanya berisi lemari, meja belajar, rak buku, meja komputer dan beberapa poster artis yang ia idolakan. Tidak ada barang berharga satupun di kamarnya kecuali celengan berbentuk rubah ekor sembilan dengan isi beberapa ribu yen saja.

Ia memutar bangku putarnya kembali menuju kearah monitor sebelum menangkap sebuah foto dimeja belajarnya. Naruto bangkit lalu mendekati foto tersebut. Foto suasana kelas yang sedang kacau karena ulang tahun sang ketua kelas, Neji yang ia cetak kemarin. Ia memandangi foto tersebut dengan seksama dan menangkap sebuah objek yang tidak asing lagi baginya. Yap, Uchiha Sasuke. Di foto tersebut, Sasuke dengan wajah stoicnya melempar tatapan tidak senang kepada Naruto yang melempar krim kue ulang tahunnya Neji ke segala arah hingga mengenai dahi Sasuke. Naruto cukup lama memandangi foto tersebut hingga sebuah ide terbesit di kepalanya.

Ia kembali menghampiri meja komputernya dan mengeti sesuatu dengan cepat.

SapphireSky Eyes: Hay, bocah homo. Aku kenal dengan seseorang. Tepatnya sih dia itu temanku. Ia itu keren dan tampan. Kau pasti akan menyukainya.

Naruto mengangkat sedikit sudut bibirnya. Rencana ini pasti akan berhasil. Ia hanya tinggal meminta Sasuke untuk berfoto dan fotonya akan ia kirim ke OnyxNight Eyes, dan masalah pun selesai. Janjinya sudah terpenuhi dan ucapkan selamat tinggal kepada 'tidak bisa tidur karena terus dihantui rasa cemas'. Dan tentu saja, Author tidak membuat fic ini selesai seperti itu. *Dikejar Naru*

OnyxNight Eyes: Tidak, aku hanya tertarik padamu.

Mulut Naruto terbuka. Ia berpikir cepat, Ia harus meyakinkan orang ini bahwa Sasuke orang yang Keren dan Tampan. Eh, kok jadi terlihat seperti mengakui bahwa Sasuke lebih keren daripada Naruto sendiri yah? Ah, masa bodo. Persetan dengan mengorbankan teman sendiri.

SapphireSky Eyes: Kau belum melihatnya. Jika sudah, kau pasti langsung suka padanya.

OnyxNight Eyes: Kau lama-lama mulai terlihat seperti orang homo juga yah? Mulai menyimpang heh?

Mulut Naruto bertambah lebar. Bodoh juga ia menawarkan Sasuke seperti barang dagangan saja.

SapphireSky Eyes: Tidak, Baka. Kau harus melihatnya dulu.

OnyxNight Eyes: Siapa nama orang itu?

.

.

.

Di tempat yang cukup jauh dari tempat Naruto berada, terdapat orang yang sedang menatap layar monitornya. Sama dengan Naruto yang juga membuka Facebook. Hanya saja orang tersebut mempunyai nama akun OnyxNight Eyes. Ia sepertinya sedang menunggu sesuatu. Dan ketika layar monitornya menampilkan sebuah pemberitahuan ia dengan cepat mengarahkan mousenya ke arah pemberitahuan tersebut. Ia sedikit terkejut ketika membaca isi komentar dari seseorang.

SapphireSky Eyes: Uchiha Sasuke.

Orang tersebut menyandarkan punggungnya kesandaran kursi di belakangnya. Ia hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit sambil berkata.

"Permainan ini akan semakin menyenangkan, Naruto."

.

.

.

Naruto masih menunggu balasan dari sang Onyx, ia belum membalas sejak ia memberitahu bahwa Sasukelah yang menjadi barang tawarannya. Ia meraih jam weker di samping monitor.

"Tak terasa sekarang sudah jam 10 malam" Ujar Naruto sambil meletakan kembali jam tersebut. Ia meregangkan sedikit tubuhnya lalu melihat monitor ketika lagi-lagi pemberitahuan muncul di monitornya.

OnyxNight Eyes: Baiklah. Tapi kau harus berjanji.

Naruto memutar bola matanya. Ah, gampang. Bilang saja bahwa ia membutuhkan foto Sasuke untuk pengisian biodata sekolah.

SapphireSky Eyes: Iya, aku berjanji.

OnyxNight Eyes: Untuk mendapatkan foto kejantanannya Uchiha Sasuke?

"Eh, Mampuslah Gue" Ujar Naruto spontan. Ia menggerakan jemarinya di atas keyboard dengan cepat.

SapphireSky Eyes: Hey, Aku tidak berjanji seperti itu.

OnyxNight Eyes: Perjanjian pertama kita adalah mengirimkan foto kejantananmu, dank au melanggarnya. Jadi adil bukan jika Perjanjian kedua kita adalah mengirimkan foto kejantanan orang lain. Bukankah kau yang merekomendasikan Uchiha Sasuke kepadaku? Dan bukankah orang itu adalah temanmu? Atau pacarmu?

Naruto kembali membuka mulutnya. Kali ini lebih lebar dari sebelum-sebelumnya. Arghh.. Rasanya Ingin sekali langsung offline saat ini juga dan pindah Negara dan mengganti nama dari Namikaze Naruto menjadi Brad Pitt. Yah walaupun, mukanya jauh banget bedanya *Di rasengan sama Naru*. Lalu yang sekarang jadi pertanyaannya adalah : 'Bagaimana caranya mendapat foto 'Anu-nya' Sasuke?'. Sebelum Naruto berpikir lebih jauh lagi. Ia mendapatkan sebuah komentar lagi.

OnyxNight Eyes: Tak bisa menjawab, heh? Atau kau takut?

SapphireSky Eyes: BAKAAAA… Tunggu saja, aku akan mendapatkan foto itu segera. Dan setelah aku bertemu denganmu, Aku akan langsung menyumpal mulut besarmu dengan foto itu. Lalu akan meninju wajah mesummu, menguliti tubuhmu, mencincang-cincang penismu lalu membuang semua potongannya ke ujung dunia…

Naruto terengah-engah. Ia sudah sangat kesal dengan siapapun orang yang bernama Onyx ini. Tapi ya akhirnya ia terkejut dan menyesal karena telah hilang kendali. Ia membentur-benturkan kepalanya ke meja komputer. Ia terus mengumamkan sebuah deretan kata.

"Ini tidak pernah terjadi.. Ini tidak pernah terjadi.." Hingga layar monitornya menampilkan sebuah komentar baru.

OnyxNight Eyes: Baiklah, aku tunggu

Dan beberapa detik kemudian, Layar monitor tersebut menampilkan sebuah deretan kata yang tidak pernah Naruto harap akan melihatnya.

OnyxNight Eyes is Offline now

Yang entah kenapa membuat Naruto membenturkan kembali kepalanya ke meja komputer dengan lebih keras dari pada sebelumnya.


"Tuan itachi, ada yang kau butuhkan lagi?"

"Tidak untuk kali ini, Karin"

"Baiklah" Kata Karin sambil berjalan menjauhi orang yang disebutnya tuan Itachi. Sedangkan Itachi hanya menatap gulungan awan yang berlalu-lalang lewat jendela pesawatnya. Ia menghembuskan nafasnya berat sehingga menimbulkan beberapa uap air mengembun kaca jendelanya. Ia menggerakan jarinya dan menulis beberapa kata di atas uap air tersebut dan mengalihkan pandangannya kembali ke gumpalan awan yang mulai berwarna merah terkena terpaan sinar matahari senja. Tanpa sadar ia mengumamkan beberapa kata.

"Merah? Aku baru menyadari bahwa Kyuubi dan matahari terbenam itu sama-sama indah ya…"

Itachi terus mengangkat sudut bibirnya. Walaupun tanpa sadar, tulisan 'Kyuubi, I Love You' yang ia tulis di kaca jendela tadi mulai menghilang.

TAMAT *Dikeroyok Reader* Iya, Ini cuma TBC kok..


Selesai juga Chapter 5 ini. Entah kenapa, setelah lama tidak menulis fic, rasanya ada yang berbeda dari cara penulisanku. Agak melow? Jadi kurang lucu? Apakah reader merasa begitu juga? Dimohon kritik dan sarannya di kolom review yah semua…

R-E-V-I-E-W…! *dengan penekanan disetiap hurufnya*