Chapter 6
Berawal dari sebuah "Comment War". Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Disclaimer : Udah pada denger berita terbaru apa belum? Naruto dan Facebook kan sudah jadi milik saya.. *Dilempar kejurang sama Om Masashi sama Om Zuckerberg*
Rated : M *Pasang muka tanpa dosa*
Genre : Romance/Humor yang kurang nendang *Author ditendang*
Warning : OOC *Dichapter ini, OOC akan mendominasi*, Gaje, Typo*Masih banyak*, Yaoi, EYD yang ancur, BoyXBoy. Etc. Gak suka? Ya gak usah baca.. Gitu aja kok repottt..
A/N : Lalalala *Melenggang tanpa dosa*Dikejar reader* Hello semuaaa.. Kabarnya gimana? Sehat? Masih hidup? *Ditabok reader* OK.. Emm.. Author jadi bingung mau ngomong apa.. *Panci melayang ke arah muka Author*.. Ya udah deh kita balas saja review-reviewnya dari para reader yah..
Azure'czar : Oh.. terima kasih banget atas sarannya yah *Aduh aku bingung mau manggil apa*.. Setelah membaca review darimu, Author benar-benar langsung semangat '45 lagi deh.. Review darimu tuh benar-benar nyentuh lubuk Mind banget.. Sampai gak bisa tidur gara-gara kepikiran review darimu *Lebay*.. Sungguh Author benar-benar berterima kasih atas Review dari Azure.. Gak nyangka bahwa ada seorang yang benar-benar memerhatikan fic abal dari Author pemula ini.. Sekali lagi terima kasih.. n,n Oh iya.. Tentang fic berjudul DAMN! Itu aku sudah baca.. Ihh.. Gila itu fic terkeren yang pernah saya baca.. Kayaknya emang sedikit mirip yah? Dan anehnya hampir 50% ide saya sudah masuk di fic itu semua.. Uhh.. Aku juga sebenarnya bingung? Kenapa bisa sama gitu yah? Jodoh kali yah? *Dikeplak Author Iria-san* Ughh.. Aku usahain beda deh.. u,u Oh iya satu lagi.. Azure, tolong log-in donggg… Aku ingin belajar dunia FF denganmuuu… n,n
Icha Clalu Bhagia : DAMN yah? Cuma agak sama kan? Author usahain beda deh..
Uzumaki Prince Dobe-Nii : Kyaaaa.. Adegan ku jangan ditebakkk.. u,u Terima kasih atas kesetiaannya menunggu fic ini
yunaucii : Di chapter ini ItaKyuuHidan-nya muncul lho.. Aku malah suka kalo si Teme mesum.. Hahaha *Evil Laugh*
Anisa Phantomhive : Suka? Terima kasih.. Author jadi senang kalo ada yang suka.. n,n
M: Iya dong cuma mimpi.. Author tak akan membuat semudah itu Sasuke mendapatkan Naruto.. Huehehehe
RichiMichi : Kalo bukan mimpi basah, Kesenengan Sasukenya donggg…
TheBrownEyes'129 : Makin seru? Terima kasih yahh..
cheesynamonst : Gak apa-apa.. Aku malah suka kalau ada pembaca baru.. Artinya fic ini terkenal kan? *Pede banget si lu, Thor* Keep Reading yah..
Yun Ran Livianda : Hehehe.. Author gak akan buat Sasuke mudah mendapatkan Naruto dong.. Mau tau tentang kelanjutan ItaKyuuHidan? Makanya baca dan review terus yah.. *Modus*
7D : Hayoo.. Chapter kemaren udah 3k loh.. Ada typo yah? Padahal udah aku cek sekali loh..
Arum Junnie : Oh ya? Author bakal usahain berbeda deh..
Kkhukhukhukhudattebayo : Aihh.. Masa langsung di Rape.. Kan kasian Narutonya.. Walaupun Author juga setuju kalo Naruto di Rape ama Sasuke.. Huehehehe
Aulia Si Lia : Hah? Cuma itu Reviewnya? *Tepok jidat Sakura* Ya udahlah dari pada gak review sama sekali.. Keep Reading yah..
Meyra Uzumaki : Terima kasih udah mengatakan kalo fic ini bagus.. Keep Reading yahh..
aya-chan : makin seru? aihh.. terima kasih.. n,n penasaran yah sama ItaKyuu? Makanya keep reading yah..
Guest : Terima kasih udah bilang kalo fic ini lucu.. n,n
Baiklah.. Mungkin cuma segini yang Review.. Author harap, semoga kedepannya makin banyak lagi yang review yah.. Silahkan dinikmati Chapter-nya…
Enjoy~~~~~~~
Comment War!
By: In My Bla-Bla Mind (Author yang males bikin Penname)
Pagi yang indah di kota Konoha. Matahari yang sepertinya enggan muncul dari tempat persembunyiannya mulai merahmati pepohonan di kota tersebut dengan jari-jemari kehangatannya. Membuat makhluk hidup terbangun dan melangkah keluar dari tempat persembunyiannya dan memulai aktivitasnya masing-masing. Membuat Author jadi ingat tentang syair dalam sebuah cerpen yang berkata 'Seharusnya manusia memuji Matahari. Karena dialah yang menebarkan semangat kepada seluruh makhluk. Tanpa memilih-milih'. Tetapi sepertinya syair tersebut tidak berlaku pada seseorang. Kita coba saja lihat ke dalam sebuah rumah yang didepannya terdapat papan bertuliskan 'Uzumaki'. Dan memasuki sebuah kamar yang berbeda dari yang lain karena cat kamar tersebut didominasi warna merah. Terlihatlah didalamnya terdapat seseorang yang masih bergumul dengan 'indahnya' dengan kasur kesayangannya. Tetapi anehnya, dia berbicara sambil tidur alias mengigau.
"Hehehe.. Ah, Sensei jangan menggodaku"
Pemuda yang tidur dengan mengenakan piyama berwarna merah dengan gambar Rubah Ekor Sembilan di depannya. mengubah posisi tidurnya. Tak lama kemudian dia kembali mengigau sambil tertawa.
"Ah, sensei.. Jangan genit seperti itu"
Author jadi kasihan dengan seprei merah yang sudah tidak berbentuk karena di tiduri oleh sang pemuda itu. Ditambah genangan air liur yang keluar dari sudut mulut Pemuda tersebut berhasil mendominasi seprei tersebut membentuk sebuah laut yang luas. *Poor Seprei* Mungkin jika seprei tersebut mempunyai mulut, Dia sudah berteriak tak rela jadi korban keganasan air liur pemuda tersebut.
"Baiklah Sensei. Aku akan menciummu"
Pemuda tersebut memajukan bibirnya beberapa senti dan menggerakan badannya menuju ke samping. Tanpa sadar, badannya mendekati Tepi ranjang dan-
*BRUKK*
"Aww.."
-Pemuda tersebut dengan indahnya terjun dari ranjangnya dengan kepala dahulu menyentuh lantai dan kaki masih berada di atas ranjang. Posisi yang hebat sekali bukan? Pemuda tersebut bangkit dari posisi 'indahnya' dan duduk di tepi ranjang.
"Heh? Kemana perginya Hidan-sensei?" Ucap pemuda tersebut sambil mengedarkan pandangannya ke suluruh ruangan kamarnya, dan tak lupa menggaruk kepalanya yang tertutup rambut berwarna merah panjang sambil meringis.
"Ah, ternyata hanya mimpi." Pemuda tersebut berkata sambil meregangkan tubuhnya dan berjalan menuju lemari bajunya, mengobrak-abrik isinya dan tersenyum sebentar setelah mendapati baju yang dicarinya. Ia mengeluarkan baju seragam yang akan ia pakai untuk ke Universitas Konoha. Walaupun itu adalah seragam Universitas Harvardnya yang ia pakai dahulu. Pemuda tersebut memang belum dapat seragamnya setelah ia pindah ke Universitas tersebut. Kata kepala dosen Di Universitas Konoha, dia bisa memakai Seragam Universitas Harvardnya dulu. Baru setelah ia mendapatkan Seragam Universitas Konoha, ia bisa memakainya.
Pemuda tersebut kembali berjalan ke arah lemari bajunya dan mengambil handuk merah yang tergantung didalamya. Ia keluar kamarnya sambil mengalungkan handuk yang ia ambil sebelumnya di lehernya. Ia melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi dan menutup pintunya.
Baiklah kita beralih ke sebuah kamar bercat orange. Di dalamnya terdapat seseorang yang sedang membaringkan dirinya di tempat tidur. Ia membangkitkan tubuhnya dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap-usap mata beriris birunya yang terlihat sedikit memerah. Ia mengumamkan kata-kata umpatan seperti 'Sialan' dan 'Brengsek' tanpa henti. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar kamar dan meraih handuk orangenya. Lalu pemuda tersebut melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang sama dengan pemuda sebelumnya. Sebelum sampai di depan pintu kamar mandi, Pemuda sebelumnya keluar dari kamar mandi dan sedikit terlonjak kaget dengan pemuda didepannya.
"WHAAAAA"
"Hey, Kyuubi. Berisik, bodoh" Ujar pemuda didepannya sambil menutup telinganya
"Hah? K-Kau Na-Naruto?" Kata pemuda yang di panggil Kyuubi tersebut sambil memegang dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang naik turun karena kaget.
"Tentu saja, Bodoh. Kau melihat adikmu seperti melihat hantu saja" Ujar pemuda yang lebih pendek dari Kyuubi yang bernama Naruto.
'Tentu saja seperti hantu. Lihat dirimu, Naruto. Mata merah, Rambut berantakan, Lingkaran hitam di matamu. Tentu saja aku kaget, Bodoh.' Kata Kyuubi dalam Hati sambil memandangi Naruto yang berjalan memasuki kamar mandi.
"Matamu merah sekali, Naruto. Ada apa?" Lanjut Kyuubi
"Aku kurang tidur, Kyuu" Ujar Naruto sambil menutup pintu kamar mandinya.
Naruto melangkahkan kakinya di lorong Konoha High School dengan langkah lemas. Tangannya terus aktif bergerak untuk mengosok matanya sendiri berusaha menahan kantuknya. Ia meraih knop pintu kelas dan membukanya. Tanpa memperhatikan seluruh pandangan yang tertuju padanya ia melangkahkan kakinya pelan menuju salah satu meja yang ada dikelasnya dan duduk di bangkunya. Tanpa menghiraukan orang yang duduk disebelahnya yang menatapnya dengan tatapan bingung ia membaringkan kepalanya di meja belajarnya.
"Dobe, kau tidak lihat ada Kakashi-sensei didepan kelas?"
"Heh?" Tanpa mengubah posisi kepalanya, Naruto melirik ke depan kelas. Ia melihat ada gurunya didepan kelas terbengong karena dianggak tidak ada oleh Naruto.
"Oh, maaf sensei. Aku terlambat." Kata Naruto dengan nada tanpa dosanya. Tentu saja itu membuat urat di dahi Kakashi berkedut ria.
"Narutoo.." Kata Kakashi dengan sangatttt lembut
"Ah.. Aku sudah tahu kelanjutannya Kakashi-sensei. Kau pasti akan berkata dengan nada keras 'Bisakah kau tidak mengacau saat pelajaranku berlangsung' Lalu menyuruhku keluar dan mengepel koridor" Kata Naruto sambil berjalan keluar kelas dengan santai.
Dan Kakashi hanya cengo dibuatnya.
.
.
.
Naruto berbaring dilantai koridor dengan dada naik turun. Disebelahnya terdapat pel lantai yang tergeletak tak berdosa. Naruto bangkit dan menyeka keringat yang bertengger di dahinya. Kakashi-sensei memang kejam. Ia bukan hanya di suruh mengepel koridor saja, tetapi juga toilet sekolah yang sudah bisa ditebak seberapa 'BERSIH'nya. Dan yang bikin Naruto kesel setengah hidup itu adalah ketika ia ingin membersihkan toilet wanita. Baru saja masuk, Ia malah dilempari berbagai alat membersihkan diri, seperti gayung, tempat sabun cair dan yang paling parah itu adalah softex bekas tepat melayang ke muka tampannya. Ia melihat jam tangannya dan berkata.
"Ah, pelajaran Kakashi-sensei masih satu jam lagi. Daripada aku balik ke kelas dan mendapat omelan dari Kakashi-sensei, lebih baik aku tidur saja di bangku taman." Kata Naruto sambil melangkahkan kakinya menuju taman sekolah. Naruto pikir taman sekolah yang rimbun dan tenang adalah tempat yang tepat untuk tidur.
Berbeda dengan kelas yang sedang diajar oleh Kakashi-sensei. Samar-samar kita bisa mendengar Kakashi yang menggeram dengan nada marah.
"Siapa yang melempar pulpen ini ke arahku?"
"Saya, sensei" Ujar seseorang pemuda sambil mengangkat tangannya.
"Kau... KELUAR DARI KELASKUUU" Teriak Kakashi hingga membuat beberapa kaca retak. Pemuda tersebut melangkahkan kakinya keluar kelas sambil menyeringai.
"Itulah yang ku harapkan."
.
.
.
"Ahhh.. Segarnyaaa~" Kata Naruto sambil menghirup udara taman yang sejuk. Ia membaringkan dirinya di bangku panjang yang berada di dekat air mancur kecil yang berada di tengah taman. Sambil memandang pohon yang bergoyang karena ditiup angin, Naruto menyamankan posisinya. Ia lalu memejamkan matanya. Tetapi sebelum singgah ke alam mimpi, Ia mendengar sebuah suara baritone menginstrupsinya.
"Dobe"
"Siapa itu?" Kata Naruto kesal. Ia membuka matanya sedikit dan menangkap siluet seseorang yang berdiri di depannya.
"Ini aku, Bodoh" Kata orang didepannya sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya. Naruto membangkitkan setengah badannya hingga terduduk dan mengusap matanya. Berusaha memfokuskan tatapan matanya.
"Ohh.. Sasuke, Kenapa kau ada disini?" Naruto sambil menggeser badannya, mempersilahkan Orang yang dipanggil Sasuke duduk disebelahnya. Sasuke duduk disebelah Naruto dan berkata.
"Aku disuruh keluar oleh Kakashi-sensei"
"Eh? Kenapa?"
"Aku mengacau dikelasnya. Ah, sudahlah lupakan." Kata Sasuke sambil memandang langit di atasnya. Beberapa detik terjadi kesunyian di antara mereka, hingga Sasuke memulai pembicaraan.
"Dobe"
"Hm?" Sahut Naruto sambil menengok ke arah Sasuke.
"Kau itu kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kau seperti... berbeda"
"Berbeda apanya?"
"Kau tidak seperti Naruto yang sebelumnya ku kenal. Aku memang anak baru. Tetapi bukankah dulu kau itu orang yang selalu bersemangat, hiperaktif, selalu tersenyum dan menyenangkan. Tetapi beberapa hari ini, kau jadi orang yang.. Umm.. Seperti orang yang mempunyai masalah"
DEG
Naruto terkejut. Ingatannya berputar kembali, rekaman tentang percakapan antara Dia dan OnyxNight Eyes berputar ulang seperti rangkaian kaset rusak. Bagaimana ia bisa lupa oleh penyebab ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Dan yang membuat ia semakin terkejut adalah, Ia menyadari bahwa objek taruhannya berada disebelahnya saat ini. Apakah ini saatnya untuk memberitahu Sasuke?
"Dobe.. Aku tak suka menunggu, bodoh"
"Umm.. Se-sebenarnya A-Aku punya teman.. Teman sepermainan, kemana ada dia selalu ada aku.. Eh, kenapa jadi nyanyi.. Emm.. A-Aku punya teman" Ujar Naruto gugup
"Hn"
"Tepatnya sih teman Facebook"
"Hn"
"Dia mengajukan suatu Ta-tantangan"
"Hn"
"Bisa tidak sih kau tidak berkata 'Hn', Dasar Teme"
"Baiklah, lanjutkan"
"Tantangan itu adalah..."
"Adalah?"
"Umm.."
"Umm..?"
"Adalah.."
PLAK
"Ittai, kenapa kau memukulku, Teme" Kata Naruto sambil memegang kepalanya yang sedikit membenjol
"Kau membuatku penasaran, Dobe"
"Ughh.. Dia itu meminta foto..."
"Foto..?"
"Anu..."
"Anu?"
"Itunya.."
"Kau ingin ku pukul lagi, Dobe?"
"Ihh.. DIA ITU MEMINTA FOTONYA ANUNYA DIRIMU" Teriak Naruto kearah Sasuke. Naruto terengah-engah sedngkan Sasuke menatap Sasuke bingung.
"Anuku?" Ujar Sasuke bingung
"Ughh.." Naruto memalingkan mukanya ke arah samping. Mukanya pasti sudah merah padam sekarang.
"'Anu' itu maksudnya apa?" Tanya Sasuke kepada Naruto sambil melihat ke arah punggung Naruto. Sudut bibirnya terangkat sedikit, sayang saja Naruto tidak melihatnya.
"Kau jangan pura-pura tidak tahu, Teme" Kata Naruto tanpa mengubah posisinya memungungi Sasuke.
"Aku benar-benar tidak tahu" Kata Sasuke. Seringaiannya bertambah lebar
"KEMALUANMU, BODOHHH.." Teriak Naruto sambil berbalik dan menatap Sasuke tajam. Sasuke dengan cepat menyembunyikan seringaiannya. Sekarang Ia malah menatap muka Naruto yang memerah dengan pandangan heran.
"Jadi?" Tanya Sasuke
"Jadi apa?"
"Kau ingin meminta foto 'anuku'?" Tanya Sasuke, masih dengan topeng herannya. Naruto kembali memalingkan wajahnya. Ia tidak berani menatap Sasuke. Ia juga tidak menjawab pertanyaan Sasuke.
Sasuke tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya, Naruto mendongak ke arah Sasuke dengan tatapan heran.
"Baiklah" Kata Sasuke ia memasukan tangan kanannya ke saku dan mengeluarkan HPnya. Ia mengulurkan HPnya ke arah Naruto yang masih menatapnya heran. Naruto mengambil HP Sasuke dari tangannya dan bertanya
"Apa yang akan kau lakukan, Teme?" Tanya Naruto. Tapi Sasuke tidak menjawabnya, Ia hanya berdiri didepan Naruto dan...
"HEY TEME, APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH" Teriak Naruto ketika melihat Sasuke melepaskan ikat pinggangnya.
"TEME, BODOH.. JANGANNN" Naruto semakin panik ketika Sasuke melepaskan kancing celananya. *Naru lebay yak?*Author digampar
"SASUKEEE..." Naruto menutup matanya ketika Sasuke menurunkan resleting celananya.
Kemudian Naruto langsung berlari dari taman tersebut tanpa menghiraukan Sasuke yang sudah bersiap menurunkan celananya.
Kyuubi memainkan pulpen ditangannya dengan bosan. Sesekali ia melipat tangannya di depan dada untuk melihat jam tangan yang berada di tangannya. Ia menarik nafas panjang.
"Ayolah.. Tahukah dirimu, wahai Orochimaru-sensei.. bahwa pelajaranmu itu sangat membosankan." Gumam Kyuubi sambil memandangi dosen di depannya yang sedang menerangkan bagaimana cara sebuah ular berreproduksi. Sepertinya mahasiswa yang lain juga setuju bahwa pelajaran ini memang membosankan. Lihat saja bangku bagian belakang, murid-murid dengan damainya tidur. Lihat ke samping kanan ada yang sedang menggosip. Lihat ke samping kiri ada yang sedang membaca buku yang tidak ada sangkut pautnya dengan pelajaran. Hanya mahasiswa yang duduk di depan yang memperhatikan, tetapi tentu saja alasannya karena posisinya yang ada tepat didepan hidung si dosen.
Kyuubi melihat jam tangannya sekali lagi. Tiba-tiba matanya berbinar senang, dalam hatinya ia menghitung mundur.
3
2
1
TRINGGG.. TRINGGG
"YEIYYYYYY" Satu ruangan tersebut tiba-tiba bergemuruh dengan teriakan senang para mahasiswa. Kyuubi langsung membereskan semua peralatan sekolahnya dan mengendong tasnya ke punggungnya. Ia keluar dari ruangan kelasnya lalu melangkahkan kakinya di koridor yang ramai oleh mahasiswa lainnya. Tetapi sebelum melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, sebuah tangan meraih bahunya. Ketika Kyuubi menoleh ia mendapati sesosok laki-laki yang lebih tinggi darinya. Rambut perak klimisnya membuat efek bercahaya ketika di terpa sinar matahari. Kyuubi langsung tersenyum sopan dan menyapanya.
"Ada apa, Hidan-sensei?"
"Kau belum memesan seragam universitas?" Kata orang yang dipanggil Hidan
"Umm.. Belum"
"Baiklah, ikut denganku."
Hidan berjalan memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu jauh dari pintu keluar. Kyuubi menelengkan kepalanya heran sebelum ia memasuki gudang, ruangan yang sama yang dimasuki oleh gurunya. Ketika memasuki ruangan tersebut, Kyuubi melihat Hidan sedang mengobrak-abrik sebuah kotak besar dan setelah beberapa lama, Hidan menarik sebuah pita yang cukup panjang dari box tersebut.
"Baiklah, kita ukur panjang tubuh." Kata Hidan yang berhasil membuyarkan lamunan Kyuubi. Kyuubi meletakan tas yang digendongnya ke atas meja usang yang tergeletak sembarangan. Ia lalu mendekati Hidan yang sedang merentangkan pita ukur tersebut.
"Sekarang, balikan badanmu"
"Balikan badanku?" Ujar Kyuubi sambil menunjukan jari telunjuknya ke dirinya sendiri dengan ekspresi bingung.
"Tentu saja. Memang disini ada orang lain. Balikan tubuhmu dan angkat kedua tanganmu." Perintah Hidan sambil memutar bola matanya. Dalam hatinya berkata.
'Anak yang satu ini, memang benar-benar... Kemana saja sih pikirannya? Salah fokus sepertinya"
Berbeda dengan Kyuubi. Dia malah terus memperhatikan pita ukur yang dipegang oleh senseinya, Hidan. Dihatinya ia berkata.
'Aku jadi ingat adegan Bondage yang biasa di film-film biru" *Benar-benar salah fokus*
"Ayolah, Kyuu.. Aku disini bukan untuk melihatmu bengong" Ujar Hidan sambil memicingkan matanya heran.
"Umm.. Ba-Baik" Ujar Kyuubi gugup sambil berbalik memunggungi Hidan. Detak jantungnya makin cepat di setiap dia mendengar langkah dibelakangnya makin mendekat. Hingga sebuah benda kenyal menempel di kupingnya, dan mengeluarkan suara.
"Aku bilang angkat kedua tanganmu, Kyuu"
"WHAAAAAAA" Teriak Kyuubi sambil terlonjak kaget
"Kau itu ada apa sih, Kyuu?" Tanya Hidan sambil melipat tangannya di depan dada. Kyuubi yang masih menenangkan jantungnya menunduk dengan dengan muka merah.
"Ayolah, sebentar lagi waktunya dosen sepertiku untuk pulang." Kata Hidan sambil melihat jam tangannya.
"Um.. Baik" Ujar Kyuubi cepat sambil berbalik dan tak lupa mengangkat tangannya. Hidan pun berjalan mendekati punggung Kyuubi dan melingkarkan tanganya ke pinggul Kyuubi. Dan Kyuubi? Berusaha mati-matian untuk tidak memerahkan wajahnya.
"Baiklah lingkar pinggulmu sudah ku catat. Sekarang lingkar pahamu."
"Eh, eh.. Jangan paha" Kata Kyuubi dengan nada terkejut yang sungguh ketara. Hidan hanya menatapnya bingung. Dengan cepat Kyuubi meraih pita ukurnya dan menghitung lingkar pahanya sendiri.
"Ini, sudah." Kata Kyuubi sambil menjulurkan pita ukurnya ke arah Hidan.
"Baiklah, Aku pulang dulu ya, Hidan-sensei?" Pamit Kyuubi tanpa menoleh ke arah Senseinya. Tak mau mukanya yang sudah semerah kepiting rebus ini terlihat oleh Senseinya.
"Eh, tunggu, Kyuu" Kyuubi langsung berhenti di tempat mendengar suara Senseinya memanggilnya.
"Bolehkah aku kerumahmu nanti malam?" Tanya Hidan
"Un-Untuk apa?" Ujar Kyuubi tanpa berbalik
"Kau tahu, nilaimu sungguh jelek dalam mata kuliahku"
"Tentu saja, Sensei.. Kan setiap kamu yang mengajar, aku tak memperhatikan pelajarannya. Tapi memperhatikan kamu"
"Aku ingin memberi pelajaran tambahan padamu. Mungkin seperti pendalaman materi."
"Em.. Bo-boleh."
"Baiklah, Hati-hati dijalan yah"
"He'em"
Sudah 5 jam lebih Naruto mendekam di salah satu bilik toilet sekolah. Ia sengaja membolos pelajaran selanjutnya karena... Ah, Reader pasti sudah tau alasannya.. Apalagi alasannya, jika bukan 'tak ingin bertemu Teme sialan itu'.. Dia terduduk merenung di toilet duduk yang sekarang telah membuat pantatnya kesemutan tingkat kronis karena saking lamanya duduk. Mulutnya tak berhenti menggumamkan kata-kata indah seperti 'Teme Sialan', 'Onyx Brengsek' dan lain-lain. Hingga sebuah bel panjang terdengar mengema di toilet tersebut.
TRINGGGGGGGGGG
Muka Naruto yang sebelumnya tertunduk lesu berubah jadi ceria sumringah.
"Bel pulang" Ia membuka pintu toilet dengan pelan. Menahan agar tak membuat decit engsel pintu yang terlalu keras. Ia mengintip dari sela pintu dan ternyata sudah tidak ada orang lagi di lorong. Naruto mengendap-endap ala detektif menuju kelasnya. Ia berteriak kecil setelah melihat kelasnya sudah kosong tanpa ada penghuninya. Ia melangkah ke dalam ruang kelas dengan santai tetapi ia langsung menyambar tas sekolahnya dan berjalan menuju gerbang sekolah yang mulai terlihat sepi. Ia berjalan dengan langkah yang ringan sambil bersiul santai, seolah tak ada beban di dunia ini. Coba saja Naruto tahu apa yang akan terjadi padanya..
"Hey, Dobe"
Duarrrrr
Kilat menyambar-nyambar di otak Naruto. Menjadi background kepala kuningnya yang sedang menampilkan ekspresi bercampur aduk, antara terkejut dan takut. Ia menoleh ke belakang dengan gerakan patah-patah. Mata biru makin membulat ketika menangkap sesosok makhluk halus *Ditendang Sasu*Emm.. Maksud Author sesosok makhluk berkulit putih karena sering berendam di lautan pemutih baju dan mata hitam sehitam arang kayu *Author lari*Eh, jadi kayak pantun yah?* Mendekati Naruto yang belum sadar dari ekspresi terkejutnya. Wajah Sasuke makin dekat..
Makin dekat...
Dan makin dekat...
Hingga bibir Sasuke melantunkan beberapa kalimat..
"Kembalikan HPku"
Naruto ternganga..
"A-A-A-Ap-Apa?"
"Aku bilang kembalikan HPku, Dobe.. Kau langsung lari dari taman tanpa menghiraukan HPku masih ada di genggamanmu"
"A-a-a I-i-iya" Naruto merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah HP yang ia yakin bukan punyanya. Sasuke langsung merebut HPnya dari tangan Naruto dan meninggalkannya dengan beberapa rangkai kat
"Dasar, Dobe.. Aku jadi membuang-buang waktuku. Hanya untuk menunggumu. Dasar Baka Dobe"
Sedangkan Naruto?
Dia sedang membatu dengan mulut yang masih terbuka dengan lebarnya.
TBC
Aihhh.. Aku lagi mood nulis fic nih.. Gara-gara Review dari Authorku tercinta.. Azure'czar, Terima kasih atas Reviewnya, Kau benar-benar membangkitkan semangat diriku.. Cukup berbeda kan dengan ficnya Iria-san? All Reader.. Kayaknya sebentar lagi fic ini mau tamat deh.. Mungkin fic ini akan sampai Chapter 7-10 tergantung nanti Authornya saja.. yang pasti gak akan nyampe Chapter 10 lebih.. Jangan sedih yah para Reader *Reader : Malah kita semua seneng*Author : Aihhh.. u,u* Oh ya satu lagi, Entah sense of humorku yang buruk atau apa yah? Kok aku baca fic ini jadi ngakak sendiri. *Mempertawakan fic sendiri?* Aku juga bingung.. Menurut reader gimana? Fic ini lucu atau tidak? Mind berbakat ngelawak gak sih?
.
.
Silent Reader? Is too yesterday!
*Kecup basah dari Mind-san
