Chapter 7
Berawal dari sebuah "Comment War". Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Disclaimer : Oh.. Om Masashi sama Om Zuckerberg.. Kapan kau mewariskan surat kepemilikan Naruto dan Facebook kepadaku.. *Om Masashi dan Om Zuckerberg : Lo doain kita berdua biar cepet mati gitu?* *Author di kubur hidup-hidup*
Rated : M *M = Manula* u,u
Genre : Romance/Humor
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, HidanKyuu, ItaDei, ...Dei
Warning : OOC, Gaje, Typo*Semoga aja gak banyak*, Yaoi, EYD yang suka-suka Author, BoyXBoy. Etc. Dont like, just no flame it. OK?
A/N : Holaaaaa para Reader sekalian.. Apa kabarnya? Semoga aja pada baik-baik aja yah! Kok Author gak ditanyain kabarnya? *Reader : Gak peduli, mau lo lagi sakit juga kita kagak peduli.* Author baik-baik aja kok.. *Reader : Gak ada yang nanya!*. Aduh maaf nih, gara-gara kesibukan sekolah, Author baru bisa update sekarang. Sudah 1 bulan lebih yah? Aihh.. jadi gak enak sama para reader sekalian nih.. Pokoknya Author minta maaf sebesar-besarnya yah.. Langsung aja yuk di bales review dari para Reader tersayang.
Dee chan - tik : OK! *Simple answer for simple review* n.n
Icha Clalu Bhgia : Tamatnya kecepatan? Masa sih? hehehe.. Author gak suka fic yang kepanjangan.. Entar kayak sinetron cin*a fitri dong kalo kepanjangan.. n,n
yunaucii : Iya nih bentar lagi abis.. Kabar baik untuk anda, ItaKyuuHidanDei-nya di chapter ini, muncul lho..
MiiSoshiru : Ihh.. Maaf Mii, Sebenarnya udah dibales tapi, dichapter sebelumnya cuma tertulis 'M' doang.. Gak tau deh kenapa? Serius lhoo.. Jangan Marah yah.. Mii cantik deh.. *Ngebujuk* Belom puas? *Mind mikir yang iya-iya* Maaf yah.. Author belum bisa bikin fic yang panjang-panjang.. Ternyata setelah ku edit lagi, titik di antara kata 'Mii' dan 'Soshiru' adalah penyebabnya. Jadinya nama kamu gak muncul. u,u
Yun Ran Livianda : Huaa.. Masa pendek sih? Menurutku udah panjang loh.. Biar puas aku buat chapter ini 5K+.. Bayangkan 5K+.. Apa gak kurang banyak coba? *Lebay*
AmuiChan : Apa? Pendek? *Kamera Zoom in-Zoom out* Ya udah deh.. Aku buat chap ini 5K+ tuh..
Uzumaki Prince Dobe-Nii : Hehe.. Lanjut? OK dehh..
Shikakukouki777 : Lanjut? OK aja lahh.. n,n
autumnaoki : Lucu? Ahh, terima kasih.. Maaf nama kamu gak ada titiknya di anatara 'autumn' dan 'aoki'.. Masalahnya setiap aku edit hilang terus nama kamu, gara-gara titik itu..
Azure'czar : Aduhh.. kita berarti senasib yah.. Sama-sama sibuk di dunia sekolah.. u,u Azure ada email tidak? Aku jarang buka sosmed masalahnya.. u,u
Konno Asuke : Aduh.. Pendek lagi? Ok deh.. Aku buat panjang chap ini..
TheBrownEyes'129 : Hayo mikir apa? Hahaha
Meyra Uzumaki : Kabar baik untuk anda.. Itachi bakal muncul di chap ini lhoo..
aya-chan : Makin seru? Ah, terima kasih.. n,n
kkhukhukhukhudattebayo : Next? Sipp deh..
Juniel Is A Vampire Hybrid : Penasaran yah? Makanya, terus baca yah.. n,n
Hyuuga Himawari 'ttebane : Maaf yah.. Lama updatenya.. Silahkan dinikmati chapter ini..
Arum Junnie : Lanjut? Sipp..
Calico Neko : Emang sebelumnya gak terbaca? O,o .. Eh ternyata ada yang setuju kalo Kyuubi sama Hidan aja.. Hehehe
BlackXX : Your welcome.. n,n
Anak Baik : Benarkah? Terima kasih..
Woww.. lumayan banyak nih yang review.. Terima kasih kepada Reviewers dan Readers yang telah meluangkan waktunya untuk membaca dan mengomentari fic ini.. Pokoknya.. I LOP YU dahh.. *Reader muntah kecoa*.. Sebagai ganti atas update lama dan kesetiaan para reader sekalian.. Aku buat Chap ini 5K+ loh.. *Mengacungkan jempol yang udah keriting karena kelamaan ngetik*.. Selamat membaca.. n,n
Enjoy~~~~~~~
Comment War!
By : In My Bla-Bla Mind
(Author yang lebaynya sudah memasuki stadium kronis)
"Tap, Tap.."
Langkah kaki Naruto terdengar dengan jelas di jalan setapak yang ia lalui. Kepalanya menunduk lesu dengan raut wajah yang tidak bersemangat, sungguh tidak biasa bagi sang Uzumaki yang biasanya selalu ceria dan bersemangat. Orang-orang yang menyapanya di tengah jalan pun ia hiraukan. Otaknya terus memutar kejadian di saat Sasuke dan ia berada di taman sekolah.
"Grrrhhh"
Hatinya entah kenapa menjadi berkecamuk. Rasa menyesal, marah, malu dan rasa yang tak dapat ia jelaskan bercampur baur menjadi sesuatu yang dapat mengalirkan semua darahnya ke muka berkulit tannya.
"ARGHHH.. SIALANNN" Teriak Naruto frustasi. Mukanya sudah panas dan memerah. Entah karena marah atau malu, sepertinya sih dua-duanya.
Naruto terus melangkahkan kakinya dengan langkah yang cepat dan berat, terlihat sekali sang Blondie ini menghentak-hentakan kakinya dengan sengaja. Menunjukan kepada siapa saja yang berada di depannya bahwa ia sedang tidak ingin diganggu.
Ia tersenyum kecil ketika sebuah pagar bercat orange cerah mulai terlihat. Rumah merupakan surga baginya sekarang. Tempat dimana ia bisa beristirahat dengan tenang, Untuk sejenak melupakan kepenatan dunia yang rasanya tak pernah berhenti bergulir. Ia pun membuka pagar bercat orange tersebut dan memutar knop pintu di depannya.
"Aku pulang" Ujar Naruto lemah. Dengan cepat, ia pun melepas dan melempar sepatunya entah kemana. Kakinya langsung melangkah ke dapur, Naruto langsung membuka kulkas dan mengambil segelas air dingin yang berada di dalamnya, meneguknya dengan cepat dan meletakan kembali gelasnya ke meja makan.
"Hm?" Naruto mengalihkan pandangannya ke sepiring kare yang berada di atas meja makan. Ini tandanya bahwa Kyuubi sudah pulang lebih dulu. Naruto menarik kursi dan duduk di atasnya.
"Kyuu" Panggil Naruto sambil mengambil sendok dan memulai menyendokkan satu suapan besar ke mulutnya.
"Di sini, Naruto" Suara Kyuubi terdengar di ruang keluarga. Naruto mengangguk kecil dan melanjutkan makannya.
.
.
.
"Itu suara adikmu, Kyuu?"
"Iya, sensei." Ujar Kyuubi sambil menata buku tulis di atas meja ruang keluarganya. Seseorang berambut perak klimis yang ia panggil Sensei pun mengambil sebuah buku didepannya dan membukanya. Kyuubi duduk dan memperhatikan gerakan orang tersebut yang sibuk membalikan setiap lembar bukunya. Tepatnya sih bukan memperhatikan, tetapi terbengong.
"Kyuu" Ujar orang tersebut. Kyuubi masih saja melamun memperhatikan Orang tersebut.
"Ehmm.. Kyuu" Orang tersebut berdehem karena melihat sang muridnya terbengong. Untung saja Kyuubi masih terlalu sadar untuk tak membiarkan alir liurnya menetes.
"Hah? Eh? iya, Hidan-sensei" Ujar Kyuubi terkejut baru saja ia tersadar dari lamunan indahnya. Orang yang dipangil Hidan-sensei hanya menggeleng.
"Lihat nilaimu" Kata Hidan sambil menunjukan lembaran buku yang tadi ia buka. Kyuubi menatap buku yang terdapat nilai 'C-' besar bertinta merah. Kyuubi hanya nyengir kuda melihat nilainya tersebut.
"Lalu bandingkan dengan ini" Kata Hidan sambil mengambil buku yang lain dan memperlihatkan nilai 'A+' besar yang tertulis di atasnya. Lagi-lagi, Kyuubi nyengir tanpa dosa. Sang guru pun hanya menepok jidatnya melihat tingkah laku muridnya yang satu ini.
"Kenapa, Kyuubi? Kenapa hanya mata kuliahku saja yang nilaimu sungguh tak memuaskan? Apa ada yang salah dengan caraku mengajar?" Ujar Hidan dengan muka serius. Sedangkan murid yang dipandangnya hanya menggaruk belakang kepalanya.
"Tidak, sensei. Tidak ada yang salah denganmu" Ujar Kyuubi, ia jadi sedikit merasa bersalah. Membuat senseinya ini merasa khawatir.
"Hm, Lalu? Apa kau mempunyai masalah yang menggangu pikiranmu"
"Tidak" Ujar Kyuubi sambil menunduk.
"Lalu apa? Cerita saja padaku"
"Se-sebenarnya, A-aku.." Ujar Kyuubi gugup. Pikirannya berkecamuk
'Nyatakan atau tidak.. Nyatakan atau tidak..' Suara dalam hatinya terus berteriak, membuat degup jantungnya berpacu lebih cepat. Memompakan seluruh darahnya ke muka yang dengan sukses membuat mukanya memerah. Sekaligus efeknya membuat lidahnya kelu seketika.
"Hm?" Ujar Hidan, mengangkat sebelah alisnya tanda bahwa ia bingung dan masih menunggu.
"A-aku se-sebenarnya suka.. suka-"
"Hey, Kyuu.. Kare-nya terlalu pedas.. Eh,ternyata ada tamu" Ujar Naruto sambil mengusap mulutnya yang masih tersisa sedikit kare. Hidan pun menoleh dan tersenyum ke arah Naruto yang sedang berjalan menuju kamarnya.
"Ya udah silahkan lanjutkan pembicaraan kalian." Ujar Naruto santai sambil memasuki kamarnya.
Hidan pun kembali menatap Kyuubi yang sekarang sedang menunduk dengan wajah yang… Arghh, tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya dan kembali bertanya.
"Tadi kau ingin bilang apa, Kyuu? Kau suka apa?" Tanya Hidan. Yang menjadi objek pertanyaannya langsung mengangkat kepalanya panik.
"Hah? Ah.. Em.. Anu.. Itu.. Aku suka.. Aku-aku suka-" Kyuubi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia langsung melirik buku yang berserakan di atas meja dan meraih salah satunya dan menunjukan buku tersebut ke depan muka Hidan.
"Aku suka warna sampul buku ini." Ujar Kyuubi sambil nyengir gak jelas.
"Oh, Jadi kau suka warna PINK, Kyuu?" Kata Hidan dengan ekspresi muka yang aneh
"Hahaha.. Tidak juga sih" Tawa Kyuubi garing.
Ahh.. sebaiknya kita tinggalkan dulu PASANGAN ROMANTIS ini.
.
.
.
Naruto langsung memasuki kamarnya dan melempar tas punggungnya ke kasurnya. Ia langsung menarik kursi belajarnya dan mendudukan dirinya diatas kursi tersebut. Ia memutar-mutar badannya hingga matanya menangkap monitor komputer tiba-tiba menyala. Ia mendorong kursi tersebut sampai tubuhnya menghadap layar komputer tersebut dan mengklik tab browser yang langsung membawanya ke halaman awal Facebook.
Mata birunya membulat ketika dia tahu bahwa ternyata ada pemberitahuan di profil Facebooknya.
OnyxNight Eyes mengomentari status anda.
Oh ya tuhan.. Bagaimana orang ini bisa tahu? Bagaimana bisa orang stress ini online saat Naruto juga sedang online? Sepertinya Naruto harus memeriksa kamarnya, semoga saja nanti ia tidak menemukan kamera penyadap.
OnyxNight Eyes : Hello, DOBE.. Bagaimana dengan harimu? Menyenangkan?
Naruto langsung mengerutkan alisnya sebal. Dalam hatinya meruntuk kesal 'Sok akrab banget sih ni orang'. Naruto langsung membalas komentar tersebut dengan cepat.
SapphireSky Eyes : Tidak usah basa-basi. Apa maumu?
"Ah.. Bodoh sekali aku ini.. Kenapa harus menanyakan sebuah jawaban yang sudah pasti" Ujar Naruto
OnyxNight Eyes : Aku hanya mau janjimu.
"Tuh kan bener.. Nih orang pasti minta 'itu'." Gumam Naruto kesal. Tangannya bergerak menepok jidatnya sendiri. Ia menenggelamkan kepalanya tanda berpikir. Lama sekali ia berdiam seperti itu hingga sebuah pemberitahuan kembali muncul di layar Facebooknya.
OnyxNight Eyes : Jadi kau mau mencabut perkataanmu?
SapphireSky Eyes : Seorang Uzumaki Naruto tidak pernah mencabut kembali perkataannya!
OnyxNight Eyes : Lalu?
"Aduhh.. Gimana ini" Ujar Naruto sambil mengacak-acak rambut jabriknya. Pikirannya kalut entah kemana. Dan sepertinya rencana pergi ke luar negeri dan merubah nama menjadi Brad Pitt kembali terpikir olehnya.. Mungkin reader berpikir : 'Arghh, Konyol sekali Naruto ini.. tinggal log out Facebook dan jangan pernah sekali-kali membuka Facebooknya lagi.. Dan masalah pun selesai'. Tapi tidak begitu dengan Naruto, yang ia pertaruhkan adalah nama baiknya ia sendiri. Ingat sekali bahwa ia pernah berkata bahwa ia tidak pernah sekalipun mencabut perkataannya kembali. Ia harus menepati janjinya. Ini adalah jalan hidupnya sebagai seorang 'Lelaki Sejati'. 'Lelaki Sejati' selalu menepati janjinya kan?
OnyxNight Eyes : Any bodies here?
Arghh.. Persetan dengan orang ini.. Dia pasti sedang tertawa mesum di suatu tempat nan jauh disana.
"Ayolah Naruto.. Berpikir.. Berpikir" Sekali lagi Naruto memegang dahinya. Sesekali dahinya berkerut tanda ia sedang mencari jalan keluar dari semua masalah ini. Ia kembali menatap layar monitornya ketika sebuah pemberitahuan masuk.
OnyxNight Eyes : Hahaha.. Kau sepertinya sangat kesulitan dengan janjimu itu.. Biasanya sih aku tak mau berbelas kasihan kepada seseorang, tetapi khusus kepada orang manis sepertimu, Aku memiliki sebuah penawaran yang sangat menarik.
Muka Naruto kembali memanas ketika sebuah kata 'Manis' terselip di komentar itu.
"Sialan kau, Onyx." Geram Naruto. Tapi ia harus menahannya, ketika ia mendapat sebuah penawaran dari sang Onyx, siapa tau dia berubah pikiran dan melepaskannya.
SapphireSky Eyes : Apa itu?
Naruto terlihat tidak sabar menunggu komentar dari sang Onyx. Beberapa menit kemudian, mata birunya membulat besar ketika sebuah komentar balasan dari si Onyx terpampang di depan layar monitornya.
"APAAAAA?" Teriak Naruto dengan mulut ternganga. Author sih belum pernah ngeliat mulut selebar itu *Digampar Naru*
.
.
.
"Perhatian-Perhatian.. Kepada seluruh penumpang pesawat Singa Air *Karena Li*on Air sudah terlalu mainstream* Jurusan Konoha-London *Yehh.. lo kira angkot pake jurusan segala* Untuk segera memasuki pesawat.. Terima Kasih" Ujar Seseorang dari speaker bandara yang entah kenapa membuat seseorang berambut pirang panjang tersenyum picik.
"Akan ku kejar kemana pun kau berada, Itachi.. un"
.
.
.
"Sebentar lagi, Pesawat akan melakukan pendaratan di International Konoha Airport.. Dimohon kepada seluruh penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman anda" Speaker pesawat terbang itu kembali berbunyi. Membuat seseorang berambut hitam panjang sadar dari lamunan panjangnya. Ia meraih sabuk pengaman dan mengencangkan di sekitar pinggangnya.
"Akan ku kejar kemana pun kau berada, Kyuu"
.
.
.
"Hatchii.."
"Kau kenapa, Kyuu?"
"Tidak apa-apa, Sensei.. Lanjutkan saja pelajarannya"
'Sepertinya ada yang sedang membicarakanku"
.
.
.
Pintu kamar mandi pun terbuka, menampilkan sosok Naruto dengan hanya menggunakan lilitan handuk di pinggangnya *Sasuke, Author dan Reader langsung ber-nosebleed ria* tubuhnya menebarkan wangi jeruk ke seluruh sudut kamarnya. Naruto berjalan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Ia membuka lemari pakaiannya. Ia langsung memilih pakaian apa yang cocok untuk ia pergi berkencan. Yap, Reader tidak salah membaca. Naruto yang JONES ingin berkencan *Dibakar hidup-hidup sama Naru*. Tetapi, biasanya seseorang yang ingin berkencan mukanya berseri-seri. Tapi kenapa muka Naruto lesu begitu? Kita lihat saja layar komputer yang masih menyala, menunjukan beberapa rangkaian komentar antara Naruto dan si Onyx.
OnyxNight Eyes : Kau harus berkencan denganku
SapphireSky Eyes : Apa? Kau pasti gila
OnyxNight Eyes : Tidak, aku serius, Dobe.
SapphireSky Eyes : Oh, bagus sekali.. Aku sudah tau bahwa kau itu Homo. Tetapi aku baru tahu bahwa kau itu tidak waras.
OnyxNight Eyes : Baiklah kalau kau tidak mau. Berarti kau harus menyerahkan foto itu besok.
SapphireSky Eyes : Hey, tunggu, tunggu sebentar.
OnyxNight Eyes : Apa? Orang "Normal" sepertimu tak akan mau bukan berkencan denganku?
SapphireSky Eyes : Emm.. Sebentar aku pikir dulu
OnyxNight Eyes : Bagaimana?
SapphireSky Eyes : Terserah
OnyxNight Eyes : Aku ingin kau mengatakannya dengan jelas
SapphireSky Eyes : Baiklah
OnyxNight Eyes : Aku tunggu di Taman Shuriken pukul 7 malam nanti
Nah, sekarang reader tahu kan, Naruto ingin berkencan dengan siapa.. Kita kembali ke Naruto yang masih sibuk dengan mengacak-acak lemarinya..
"Arghhh.." Ujar Naruto kesal sambil melempar baju yang berada di dalam lemari ke sembarang arah. Keputusannya memang aneh untuk berkencan kepada orang menyebalkan yang bahkan ia belum kenal sama sekali. Tapi ia berpikir itu lebih baik daripada 'janji foto' itu. Lagian Naruto juga sudah punya rencana di dalam otaknya untuk kencan buta ini.
1. Bertemu
2. Kenalan
3. Ajak ke restoran paling mahal di Konoha
4. Pesan makanan termahal
5. Pura-pura ke toilet
6. Kabur lewat jendela
7. Pulang ke rumah dengan tenang
8. Tertawa penuh kemenangan
9. Selesai
Naruto pun memilih untuk mengenakan kaos putih dan kemeja orange dengan bawahan jeans biru tua. Ditambah dengan sneaker orange polos dan jaket tebal berwarna senada. Ia pun mengantongi dompet, HP dan tidak lupa semprotan lada jika terjadi suatu yang aneh-aneh.
Naruto melangkahkan kakinya keluar kamar. Mendekati kakaknya Kyuubi dan gurunya yang masih sibuk belajar dari tadi siang.
"Kyuu, Aku pamit" Ujar Naruto sedikit berbisik ke kakaknya. Tidak enak juga kalo menggangu Gurunya yang sedang menerangkan pelajarannya.
"Hah? Oh.. iya, Naru.. Pulangnya jangan terlalu larut ya" Ujar Kyuubi, baru sadar dari lamunannya.. Ketahuan deh kalo dari tadi gak ngedengerin guru yang sibuk ngejelasin pelajaran.
Naruto pun melangkah ke depan pintu rumah dengan langkah yang berat. Ia berhenti di depan pintu pagar sambil menghembuskan nafas panjang.
"Semoga saja berjalan dengan lancar"
Yap, semoga saja
.
.
.
"Bla... Bla... Bla… Kyuu, kau mengerti tidak?"
"Hah?"
"Aku bilang kau mengerti tidak?"
" Iya, aku mengerti, sensei"
"Baiklah. Mungkin itu cukup untuk hari ini.. Jika kau ada kesulitan, jangan malu untuk bertanya. Ok?"
"Ok"
Kyuubi pun membantu membereskan peralatan yang digunakan Hidan untuk mengajarkannya, yang tentu saja tidak ada yang nyangkut di otaknya. Hidan pun memasukan semua peralatannya ke tasnya dan mengalungkan tasnya ke punggungnya.
"Baiklah, Kyuu.. Aku pulang dulu" Ujar Hidan sambil melangkahkan kakinya menuju pintu depan
"Heits.. Tunggu dulu, sensei" Kata Kyuubi sambil melompat ke depan Hidan dengan tangan di rentangkan, menghalangi Hidan untuk lewat. Untung saja Hidan tidak punya penyakit jantung.
"Ada apa, Kyuu?"
"Kau mau tidak, me-menemaniku makan malam?" Ujar Kyuubi gugup. Hidan hanya terdiam sambil mengangkat sedikit alisnya.
"Sensei kan belum makan dari tadi siang." Lanjut Kyuuubi
"Aku jadi merepotkan"
"Tidak, tidak.. aku malah senang ada yang menemaniku makan malam." Ujar Kyuubi meyakinkan. Hidan pun memegang perutnya. Sebenarnya ia juga merasa lapar sih, lagian juga tidak ada salahnya menemani orang makan malam.
"Emm.. Baiklah" Ujar Hidan sambil menggaruk kepalanya tak enak.
"Yeiyy.. Ayo, sensei" Ujar Kyuubi sambil menarik tangan Hidan ke dapur
.
.
.
Itachi berjalan melewati jalanan melawan udara dingin yang berusaha menembus jaket tebalnya. Ia terlihat menghampiri orang yang kebetulan berada di jalan tersebut.
"Permisi, tuan" Sapa Itachi
"Ya?" Kata Orang tersebut bingung.
"Apakah kau tahu alamat ini?" Tanya Itachi sambil menunjukan sauatu kertas bertuliskan sesuatu alamat.
"Hmm.. Oh, iya. Alamat ini hanya 3 blok lagi dari sini. Kau akan melihat pagar berwarna orange cerah yang berbeda dari lainnya. Itulah rumahnya."
"Terima kasih, tuan" Ujar Itachi sambil membungkukan badannya tanda berterima kasih
"Ya, sama-sama" Ujar orang tersebut sambil berlalu.
'Gotcha you, Kyuu'
.
.
.
Yap, disinilah akhirnya Naruto berada. Ditaman, sendirian, galau *Mulai deh, penyakit lebaynya kambuh*.. Sesekali ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukan 7.15.. Arghh.. tuh orang terlambat 15 menit dari waktu yang di tentukan.. Naruto kembali merapatkan jaketnya, kepulan uap udara keluar seirama dengan hembusan nafasnya. Begitu pula dengan deru jantungnya, ia masih gugup untuk memikirkan bagaimana rupa si Onyx dalam dunia nyata. Apakah dia orang jelek yang psycho plus homo atau …. Ah entahlah
Naruto memandang suasana taman yang mulai lenggang dari pengunjung. Hanya cahaya lampu taman dan suara jangkrik yang menemaninya saat ini. Naruto melihat sekelilingnya lagi sambil menggosok kedua tangannya mencari kehangatan. Rasanya udara makin dingin mengikuti malam yang semakin larut.
Naruto jadi teringat suatu film horror yang pernah ia tonton. Waktu itu ada suatu adegan di mana karakter utamanya berada di taman yang gelap dan tiba-tiba pundaknya di pegang dari belakang oleh sang hantu, dan langsung terjadi adegan kejar-kejaran lebay ala sinetron. Ah, memikirkannya saja membuat bulu Naruto berdiri. *Hayo.. bulu yang mana?*
*Grep*
Tiba-tiba Naruto merasa sebuah tepukan halus di pundak kanannya. Otaknya langsung memutar kembali film horror tersebut, tetapi bedanya adalah dialah yang menjadi karakter utamanya. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Dengan gerakan patah-patah, Naruto melihat ke arah pundak kanannya.
*DEG*
Mata birunya membulat penuh ketika sebuah tangan putih dan pucat bertengger tanpa dosa di pundaknya. Apakah akan terjadi sebuah adegan kejar-kejaran lebay ala sinetron?
"WWWHHHHHHHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA" Teriak Naruto *Lebay* membuat kaca rumah author pecah semua.
Tanpa sempat melihat kebelakang lagi, Naruto langsung kuda-kuda untuk mengambil langkah seribu. Tetapi sebelum ia mengambil langkah pertama, tangannya langsung di pegang dengan kuat oleh sesosok tangan putih tersebut, hingga Naruto terpeleset oleh salju dan jatuh terjerambab. Naruto kembali bangkit dan menatap seseorang bertubuh tinggi tegap berada di depannya. Mukanya tidak terlihat karena tertutup oleh tudung jaket biru tua yang ia pakai. Naruto menutup matanya takut, hingga berapa lama ia menutup matanya, ia membuka matanya sedikit hanya untuk mendapati bahwa tangan putih dan pucat orang tersebut sedang terulur berada di depan mukanya.
"JANGAN GANGGU AKU, dagingku tidak enak.. Aku masih muda dan utangku masih banyak yang ku belum bayar" Buset dah, Kenapa Naruto jadi curhat gitu ya?
"Dan aku masih jomblo" Lanjut Naruto dengan tubuh gemetaran.. Ah sudahlah Naru, lu kira hantunya mamah de*eh bisa curhat gitu. u,u
"Hn" Eh hantunya bisa jawab loh. Naruto dalam hatinya pun terkejut setengah mati, apakah hantu sekarang mengikuti perkembangan jaman? Apakah nanti akan muncul hantu yang bisa berbicara dengan bahasa gaul?
Naruto pun membuka sebelah matanya. Tangan pucat itu masih saja terulur di depan mukanya. Dengan takut, Naruto meraih tangan tersebut yang ternyata hanya bertujuan membantunya untuk berdiri. Naruto menatap sosok tersebut dengan lekat, hantu seperti apa yang modis seperti ini. Memakai jaket bulu berwarna biru tua, sneaker yang berwarna senada, kaos berwarna coklat dan sarung tangan berwarna biru cerah.
Naruto dengan pelan mengatakan "Te-terima kasih". Orang tersebut hanya mengangguk. Naruto bingung ingin mengatakan apa lagi, jadi ia hanya menggaruk kepalanya.
"Ck, Dobe" Hantu tersebut berkata. Naruto kaget, berani sekali hantu ini mengatakan itu kepada Naruto. Eh, tapi sepertinya ia pernah mendengar nada suara ini di suatu tempat. Dimana yah?
Orang tersebut membuka tudung jaketnya dengan pelan, menampakan sesosok orang yang dikenalnya.
"Sa-sasuke?"
"Hn"
"Ya ampun, Aku kira kau itu hantu."
"…"
"Kau sedang apa disini?"
"Menunggu seseorang"
"Baguslah, Aku juga sednag menunggu seseorang"
"Apanya yang bagus?"
"Tentu saja karena aku jadi tidak sendirian lagi." 'Aku takut sendirian'
"…"
"Kalau boleh tau. Kau sedang menunggu siapa?"
"SapphireSky Eyes"
"…"
"…"
"…"
"…"
"HAH?"
Ah, setidaknya rencana pertama dan kedua berjalan lancar
1. Bertemu
2. Kenalan
.
.
.
"Ternyata kau pandai memasak ya, Kyuu?" Ujar Hidan sambil memasukan lagi sesendok penuh nasi kare ke mulutnya. Nasi kare panas benar-benar cocok untuk dimakan di malam yang dingin ini.
"Iya, aku hanya hobi memasak." Ujar Kyuubi sambil menuangkan air putih kedalam gelas dan meletakkannya di dekat piring Hidan.
"Nyam, tapi masakanmu lumayan.. Nyam" Kata Hidan sambil kembali memasukan satu sendok terakhir kedalam mulutnya.
"Aku senang kalau Sensei suka" Kata Kyuubi sambil mengambil beberapa sendok kare kedalam mulutnya. Oarng yang di ajak berbicara hanya menenggak habis air minum yang disediakan Kyuubi tadi. Setelah menghabiskan sepiring penuh nasinya, ia menunjukan piring kosongnya kearah Kyuubi.
"Boleh aku tambah sepiring lagi, Kyuu" Ujar Hidan dengan nada tidak enak.
"Tentu saja, jangan sungkan" Ujar Kyuubi sambil mengambil piring tersebut dan melangkahkan kakinya ke dapur. Tidak lama kemudian, Kyuubi kembali dengan satu piring kare yang masih hangat. Tetapi entah angin apa yang membuat kaki Kyuubi jadi tersandung dan…
*BRUK*
"Aduh…"
"AWW.. PANASSSSS..."
Kyuubi langsung bangkit dan mendapati baju senseinya sudah berlumuran kare yang ia yakin panas, Iya lah kan dia baru mengambilnya dari kompor.
"Aduh sensei.. Maaf, maaf" Ujar Kyuubi, nada panic terlihat mendominasi dari setiap kata-katanya. Ia langsung meraih lap dan mengelap baju senseinya.
"Haha, tidak apa-apa. Ini hanya kecelakaan" Kata Hidan sambil tertawa garing menahan panas di perut dan dadanya.
"Sebagai permintaan maafku. Bolehkah aku cuci bajumu, Sensei." Ujar Kyuubi memohon, ia merasa tidak enak kalau membiarkan Senseinya pulang dengan baju kotor seperti itu.
"Ah, tidak usah, Kyuu"
"Aku mohon, Sensei" Ujar Kyuubi dengan 'Najis Eyes No Jutsu'nya. *Di tendang Kyuu*
"Ah, baiklah" Ujar Hidan sambil membuka kemejanya. Wah tontonan gratis nih buat Kyuubi. Kyuubi hanya menundukan kepalanya malu. Ia menerima baju Senseinya dan membawanya kekamar mandi. Tinggalah si Hidan bertopless ria di ruang makan sendirian, kedinginan. *Kasihan, sini author peyuk*Ditendang Hidan*
*Teng…Nong*
Tiba-tiba terdengar bel rumah dari pintu depan. Hidan pun berteriak.
"Kyuu, ada tamu"
"Tolong terima dulu, Sensei. Sebentar lagi aku akan kesana." Terdengar suara Kyuubi dari kamar mandi.
Hidan pun menarik nafas panjang sambil berjalan kearah pintu depan. Tangannya meraih knop pintu tersebut dan membukanya. Terpampang didepannya seorang pria berperawakan tinggi dan tegap. Setengah mukanya tertutup syal berwarna merah maroon. Orang tersebut berdiam diri cukup lama. Hingga Hidan menyapanya
"Maaf, anda mencari siapa, tuan?"
"…"
*Itachi POV*
Akhirnya aku sampai juga di depan rumah ini. Aku melihat sekali lagi alamat yang tertulis di kertas tersebut dan mencocokannya dengan plat kayu kecil yang tertulis di pagar orange tersebut. Cocok. Aku mengalihkan pandanganku ke rumah tersebut. Rumahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga.
Aku membuka pagar bercat orange tersebut dengan pelan, ternyata Kyuubi masih saja seperti dulu. Kurang berhati-hati, buktinya ia lupa mengunci pagar tersebut. Aku menutup kembali pagar tersebut dengan pelan juga. Aku melangkahkan kakiku menghampiri pintu depan rumah tersebut. Aku menekan tombol bel yang berada di sebelah pintu tersebut. Sayup-sayup ku mendengar suara seseorang.
"Kyuu, ada tamu"
Itu bukan seperti suara Kyuubi. Apa aku salah rumah? Tetapi orang tersebut memanggil seseorang bernama Kyuu.. Berarti aku tidak salah rumah. Semoga saja.
"Tolong terima dulu, Sensei. Sebentar lagi aku akan kesana."
Itu-itu.. Suara lembut dan cempreng itu, tidak salah lagi ini adalah rumah Kyuubi, Ini pasti rumah Kyuubi.
Seseorang membukakan pintu itu. Kyuubi, Ingin sekali aku menghampiri rubah kecilku dan memeluknya erat. Tetapi ternyata bukan Kyuubi yang membukakan pintu tersebut. Siapa orang ini? Apa yang ia lakukan bersama Kyuubiku hingga ia bertelanjang dada seperti itu? Pikiranku kosong.
"Maaf, anda mencari siapa, tuan?"
Suaranya membuatku tersadar dari lamunanku. Tetapi aku bingung harus menjawab apa.
'Kyuu, apa semudah ini kau melupakanku?'
Mukaku langsung memanas. Pikiranku kalap dan darahku memuncak. Tanganku tiba-tiba bergerak.
*BUGH*
Orang tersebut tersungkur didepanku. Ia memegang pipinya yang memerah dan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Aku memegang tanganku, tidak percaya akan apa yang telah aku lakukan.
"Kenapa kau tidak bawa saja tamunya masuk, sensei?"
Itu, Kyuubi.. Aku harus lari, Aku tak ingin dia melihat aku dalam kondisi seperti ini. Aku membalikan diriku dengan cepat dan memacu kakiku untuk menjauh dari rumah tersebut.
"Sensei, ada apa denganmu?"
Kyuu…..
"Hey, kau.. Tunggu dulu.. Apa maksud dari semua ini?"
Aku mendengar derap langkah mulai mendekat. Dan ketika aku menoleh ke belakang, Kyuubi mulai terlihat olehku.
Aku harus mempercepat langkahku.
"Hey, Tunggu"
'Maafkan aku, Kyuu'
*End Itachi POV*
.
.
.
"AP-"
Sebelum melanjutkan pekikannya. Mulut Naruto sudah dibekap oleh Sasuke.
"Bisakah kau tenang, Dobe"
"Ja-jadi kau itu ad-adalah OnyxNight Eyes"
"Hn"
"Kau itu Teman Facebookku yang menyebalkan itu?"
"Hn"
"Dan kau…"
"Hn"
"Homo"
Twitch
"Dan kau-" Sebelum melanjutkan perkataannya, mulut Naruto di bekap oleh tangan Sasuke kembali.
"Simpan semua pernyataanmu itu, Dobe. Kau mengerti?" Ujar Sasuke berbisik di telinga Naruto, setelah Naruto mengangguk mengerti, Sasuke pun melepaskan bekapannya.
"Hah, hah" Naruto mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Sasuke hanya mengangkat sudut bibirnya saat melihatnya. Baru di bekap oleh tangan saja sudah begitu. Apa lagi jika dibekap oleh …
"Seharusnya aku tahu sejak kejadian ditaman tadi" Ujar Naruto sambil menyilangkan tangannya didepan dada. Mukanya terlihat sebal dan acuh dengan bibir dikerucutkan sambil melihat ke arah berlainan. Aduh, membuat Sasuke 'Lapar' melihatnya.
Cukup lama terjadi keheningan di antara mereka. Sasuke juga bingung ingin mau ngomong apa. Ia tidak pintar basa-basi. Apakah langsung 'Serang' saja yah? *Reader langsung bersorak "Serang, Serang, Serang"*. Sedangkan Naruto sedang berpikir bagaimana caranya untuk kabur yang aman.
*Kruyukkk*
"Hm?" Sasuke menoleh ke Naruto yang memegang perutnya sambil malu-malu.
"Apa kau lihat-lihat?" Ujar Naruto sewot sambil membalikan badannya, memunggungi Sasuke. Persis sekali seperti seorang anak perempuan yang sedang ngambek gak dikasih permen.
"Kau lapar?" Bagus sekali, Sasuke. Kau membuat awal yang bagus untuk memulai hubungan ini. Sasuke pernah melihat suatu adegan sinetron dimana ia mengajak makan malam bersama pacarnya. *Jangan percaya sinetron, apa lagi sinetron Indonesia!*. Naruto hanya menoleh dan mengangguk kecil.
"Baiklah, kita makan di-"
"Di Ichiraku Ramen Restoran saja"
"Hah?" Hancur sudah muka stoic Sasuke. Icharaku Ramen kan restoran bintang 6 super mewah. Disana adalah tempat dimana kau bisa menemukan semangkuk ramen sampai berharga jutaan Ryo. Ia harus membayarnya pakai apa nantinya?
"Oh, Baiklah.. Jika kau tidak mau" Ujar Naruto dengan muka -dibuat-buat- sedih dengan mengigit satu jari telunjuknya. Membuat pose yang menguncang hati para Seme manapun.
"Ba-baiklah, Ayo kita kesana" Ujar Sasuke mengusap keringat dinginnya. Ia harus membuat kencan pertamanya menyenangkan bukan?
"Yeiy, Terima kasih, Sasu" Ujar Naruto girang sambil melompat-lompat ceria. Membuatnya sangat imut seperti anak kecil. Yang lagi-lagi harus membuat Sasuke menelan ludahnya. Ia tidak sadar saja bahwa didalam hati Naruto, Naruto sedang tertawa iblis.
'Rencana ketiga berjalan dengan baik'
3. Ajak ke restoran paling mahal di Konoha.
.
.
.
"Wawww.. Besar sekali" *Hayo.. Reader mikirin apa?* Ujar Naruto ketika melihat suasana restoran bintang enam ini. Meja-meja restoran tersebut tertata dengan rapi dengan 4 kursi mengelilinginya. Para pelayan sibuk mondar-mandir melayani para pengunjung dengan sepatu roda. Restoran ini memiliki system open kitchen, sehingga para pelanggan bisa melihat para koki yang sibuk memasak dan menyiapkan pesanannya. Kepulan asap dan denting piring saji terus beradu membuat suasana makin berwarna. Sedangkan Sasuke berada di belakang Naruto, sibuk membuka dompetnya sambil menghitung isinya.
"Aduh, cukup gak ya, duit gue?" Bisik Sasuke ke dirinya sendiri.
"Selamat datang. Boleh ku ambil jaketmu, tuan?" Ujar seseorang wanita berambut merah pendek dengan nada sopan. Di dadanya terdapat ID Card bertuliskan 'Sakura Haruno'
"Ah, iya." Ujar Naruto dan Sasuke bersamaan sambil menyerahkan jaket tebalnya ke wanita tersebut.
"Ayo, Teme. Kita ke meja itu" Teriak Naruto menunjuk kearah meja kosong yang berada di pojok kiri ruangan tersebut.
"Heh? Iya.. Kau duluan saja" Kata Sasuke datar sambil dengan cepat menyembunyikan dompetnya. Naruto mengangguk dan langsung meluncur secepat kilat menuju ke meja yang ditunjuknya. Naruto mendudukan dirinya ke salah satu kursi, sedangkan Sasuke mengambil tempat didepannya sehingga ia berhadapan dengan Naruto.
"Ssst.. Naruto, kau yakin tidak ingin…." Bisik Sasuke ke Naruto yang langsung dipotong oleh Naruto.
"Sudah tidak apa-apa, Sasuke.. Tidak usah malu-malu" Ujar Naruto watados, dalam hati, Sasuke berkata
'Tidak apa-apa bagi dirimu, bukan bagi dompetku'
"PELAYANNN" Teriak Naruto menggelegar. Membuat gempa local terjadi di bangunan tersebut *Lebay gilaaa*. Tidak beberapa lama seseorang pelayan berambut merah dan berkacamata menghampirinya.
"Selamat malam, Tuan. Selamat datang di Ichiraku Ramen Restoran." Ujar Pelayan tersebut sopan, yang telah di identifikasikan bernama Karin *Lo kira mayat, pake diidentifikasikan segala*. Pelayan tersebut menyerahkan buku menu ke Sasuke dan Naruto. Sasuke membukanya, matanya langsung membelalak kaget.
'Kenapa angka nolnya banyak sekali?'
Ditengah kekagetan Sasuke, Naruto langsung menyela. "Aku pesan makanan yang paling mahal dan enak.". Sasuke hanya membelo kaget. Untung mukanya ia tutup dengan buku menu, coba kalau tidak, bisa-bisa hancur sudah martabat klan Uchiha.
"Baiklah, lalu tuan mau pesan apa?" Ujar Karin sambil menunjuk pulpennya kearah Sasuke. Sambil berkeringat dingin Sasuke menyembulkan setengah mukanya dari buku menu.
"Apa yang paling murah disini?"
"Ehmm.. Air putih"
"Ba-baiklah, Aku pesan itu"
"Hah? Emm.. Baiklah.. Mohon tunggu sebentar yah" Ujar Karin sambil berlalu. Naruto hanya bingung menatap Sasuke.
"Kau tidak lapar, Teme?"
"Ti-tidak" Ujar Sasuke, masih menutup setengah mukanya dengan buku menu.
'Rencana keempat, COMPLETE'
4. Pesan makanan termahal
.
.
.
Sasuke menatap Naruto yang masih dengan lahapnya makanan yang dihidangkan. Pantas saja harganya mahal, lihat saja ukuran mangkok mie ramennya. Cukup untuk makan satu keluarga dalam satu bulan.
"Slurpppp" Naruto masih sibuk menyedot mie ramen super jumbo yang tersedia di depannya dengan lahap. Sasuke hanya memutar bola matanya jengah, jarinya masih terus memutar di gelas air putih yang tadi ia pesan.
"Nyamm.. Kau tidak lapar, Te.. Nyam.. me?" Kata Naruto kesulitan karena mulutnya penuh dengan mie ramen.
"Hn, Kau makan saja"
'Melihatmu makan saja, sudah membuatku kenyang'
"Baiklah." Naruto kembali sibuk mengunyah mie ramen terakhir dan mengangkat mangkok ramennya dan menenggak kuah ramen sampai benar-benar tandas.
"Ahhh.." Naruto bersendawa sambil menepuk-nepuk perutnya kenyang. Sasuke menghabiskan air minumnya segera.
"Ayo, dobe. Kita pulang."
"Urghh.. sebentar dulu." Naruto tiba-tiba meringis aneh sambil memegang perutnya. Sasuke memicingkan matanya aneh.
"Kau kenapa, Dobe?"
"Aduh, perutku sakit. Teme"
"Memang kau dihamili oleh siapa?" Ujar Sasuke dengan OOC
"Ihhhh.. Dasar Teme. Aku mules tau!" Ujar Naruto. Tanpa menunggu komando, ia melesat dengan kecepatan penuh ke toilet.
"Hey, Dobe.."
Tanpa menghiraukan perkataan Sasuke, Naruto terus berlari hingga mencapai toilet. Setelah sampai di toilet. Naruto tertawa dalam hatinya.
'Huahahaha.. Rencana kelima.. Berhasil'
5. Pura-pura ke toilet
Setelah puas dengan tertawanya. Ia mengedarkan pandanganya ke seluruh penjuru toilet. Mata birunya menyipit senang ketika melihat satu buah jendela kecil di pojok. Waww.. Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya.
Setelah menunggu beberapa saat. Akhirnya toilet tersebut sepi juga. Naruto memastikan tidak ada CCTV yang merekam aksi bejatnya tersebut. Naruto pun mendekati jendela kecil tersebut dengan senyum terkembang.
"Rasakanlah kau, Teme. Ini adalah balas dendamku atas perbuatanmu di Facebook waktu itu."
Naruto pun membuka penutup jendela tersebut.
"Kau telah memilih orang yang salah untuk kau ajak berperang, Teme."
Naruto pun memasukan kepalanya kearah jendela tersebut.
"Inilah balas dendamku. Huahahahahaha"
'Rencana ke enamku.. Berha-'
SLEP
"Eh?" Naruto membelo. Naruto melihat kearah tubuhnya dalam posisi ini. Setengah badan Naruto memang sudah berada diluar. Tetapi Bokongnya dan kakinya masih tersangkut didalam.
"Ihhhhh" Naruto berusaha sekuat tenaga untuk menarik tubuhnya keluar. Ternyata kendalanya adalah…
"Hah? Bokongku terlalu besar." Ternyata bokong Naruto tersangkut di bingkai jendela karena tidak muat untuk melalui jendela kecil tersebut. MAMPUS LO
"Ihhhhhhhhhh" Masalahnya adalah sekuat apapun Naruto mencoba, Bokongnya tidak bisa keluar dari bingkai jendela tersebut. Urat lehernya mengencang sempurna, tanda bahwa ia mengerahkan semua energinya. Jadilah muka Naruto seperti ibu-ibu mengejan karena proses lahiran.
Hingga akhirnya Naruto menghela nafas cepat karena kecapekan. "Hahh.. Hahh..". Memang Dewi Fortuna ini parah banget. Baru saja ia berada di pihaknya.
Tiba-tiba, Mulut Naruto menganga dan matanya membulat.
"Hey, Brengsek. Siapa itu?" Teriak Naruto dengan muka memerah. Tiba-tiba dalam situasi genting seperti ini, ada orang di dalam toilet sana yang mengelus pantatnya. Sialan sekali. Beruntungnya elusan dipantatnya tidak terjadi lagi ketika Naruto berteriak seperti itu. Tetapi tiba-tiba orang yang berada di dalam toilet tersebut memegang kakinya erat dan menariknya. Membuat Naruto tertarik kedalam toilet kembali.
"Hey, Brengsek.. Aduh, pelan-pelan, Bodoh"
SLEP
"Aduh.." Ujar Naruto ketika mukanya mencium lantai toilet tersebut dengan suksesnya. Untung saja lantai toiletnya bersih.
Naruto langsung berbalik dan berniat memarahi orang yang berani menariknya itu. Menolong sih iya, tetapi bukan begitu caranya, kan? "Hey, kau.. Eh-" Mulut Naruto kembali membuka, Ternyata orang yang menolongnya adalah…
"Sa-sa-sa-sa-sasuke" Ujar Naruto tergagap. Sasuke hanya memandang Naruto heran
"Kau sedang apa, Dobe?" Kata Sasuke sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Tatapan bingung masih saja ia tujukan ke Naruto yang sekarang sedang menggaruk belakang kepalanya bingung.
"A-aku sedang i-itu.. Emm.. Mengecek pemandangan saja.. Hehe.." Tawa Naruto garing plus ngawur. Alasan Naruto membuat sudut alis Sasuke naik.
"Sudahlah. Ayo, Dobe" Ujar Sasuke sambil membalikan badannya dan keluar dari toilet tersebut.
"Ta-ta-tapi rencana balas dendamku?"
"Rencana?"
"Eh.. Bukan apa-apa.. Hehehe" Tawa Naruto garing lagi. Ia bangkit dan mengejar Sasuke yang berada didepannya dengan lesu.
"Ck, Dobe"
Sebaiknya kau lupakan saja rencanamu selanjutnya, Naru.. Dewi Fortuna sudah males denganmu..
'Mungkin lain kali sebaiknya aku menyogok Dewi Fortuna untuk bekerja sama'
"Kau tahu, Ramen yang kau pesan tadi?"
"Memang ada apa, Teme?"
"Harganya 3 ribu Ryo."
"HAH?"
"Dan aku hanya membawa seribu Ryo"
"HAH?"
"Sekali lagi kau mengatakan 'Hah', akan ku bungkam mulutmu, Dobe"
"Lalu bagaimana kita membayarnya?"
"Kata manajer restoran disini kita harus bekerja sebagai pencuci piring untuk malam ini saja."
"HAH?"
"Grhhh"
Mungkin kita harus lihat lagi rencana balas dendam Naruto.
6. Kabur lewat jendela : "GAGAL TOTAL"
7. Pulang ke rumah dengan tenang : "BAGAIMANA AKU BISA PULANG? AKU HARUS MENCUCI PIRING DI RESTORAN INI SEMALAMAN"
8. Tertawa penuh kemenangan : "BAGAIMANA AKU BISA TERTAWA SEKARANG?"
9. Selesai : "KAPAN INI AKAN SELESAAAIII?"
Ahhh.. Enaknya, saat rencana balas dendam kita berjalan dengan lancar.. *Naruto : "Muka lu berjalan dengan lancar!"* Author di rasengan sama Naru*
.
.
.
"Hah.. Hah" Itachi menunduk sambil menarik nafas dengan cepat. Ia menoleh ke belakang, ternyata Kyuubi sudah tidak mengejarnya lagi. Itachi pun meghela nafas lega, akhirnya adegan kejar-kejaran ala sinetron ini berakhir juga.
Itachi membangkitkan tubuhnya dan berjalan menuju apartemen sewaannya. Sepanjang perjalanannya, Itachi memikirkan bagaimana caranya agar dia bertemu lagi dengan Kyuubi. Rasanya ia ingin kembali ke rumah Kyuubi dan meminta maaf kepada orang yang ia pukul tadi. Tapi.. Setelah dipikir-pikir, untuk apa ia meminta maaf kepada selingkuhan pacarnya yah? Ah, setidaknya, hari ini tidak akan bisa lebih buruk lagi kan?
"ITACHI, Aku datang untuk menjemputmu, un!" Teriak seseorang berambut pirang panjang dari kejauhan.
"Sialan" Ah, ternyata hari ini bisa bertambah buruk dari yang Itachi bayangkan.
TBC
Sepertinya Chapter depan nih tamatnya.. Maaf kalo ada typo atau apa yah! Masalahnya Author ngetik ini sambil nyuri-nyuri waktu saat pelajaran matematika *Jangan dicontoh yah*.. Habis setiap liburan tugas numpuk terus sih u,u .. Oh ya, Author juga mau ngucapin MERRY CHRISTMAS AND HAPPY NEWYEAR buat para reader sekalian.. Maaf telat ngucapinnya.. Selamat bertemu di Tahun berikutnyaaa...
.
.
.
Review?
*Kecup Basah dari Mind-san
