Warning: ooc, geje, Femciel!, typo, dan semacamnya
Sebasxfemcielxalois(maybe)
Disclaimer: Kuroshitsuji adalah milik Yana Toboso-sensei
Tapi fict ini milik saya sepenuhnya *menghindari dari lemparan reader*
Reader: Kebanyakan omong loh author gak guna!
Oke-oke, gomen kalo saya udah cari masalah diawal cerita. Saya hanya ngumumin berita bagus! Chapter 2 dari fict ini udah UPDATE! Kebetulan saya lagi SKS (Sistem Kebut Semalam) untuk buat fict chapter 2 ini *ditampar reader sampe bonyok* Oke, saya ngaku, gak bisa cepet publish soalnya pulsa internet saya habis *puppy eyes no jutsu*
Jangan lupa review ya! Kritik dan saran saya terima apa adanya. Kalo menurut reader saya terlalu alay, saya mohon maaf sebesar-besarnya! Oke, yang penting jangan lupa review, terutama yang udah kenal saya tolong kasih kritiknya!
Don't Like Don't Read!
.
.
Chapter 2;
Ciel berjalan cepat melewati koridor-koridor sekolah, menuju kelasnya. Yah, kelas Ciel sedikit lebih spesial dari kelas lainnya. Kelas Ciel satu-satunya kelas junior yang berada dilantai dua, sementara yang lain berada dilantai tiga. Ciel sedikit lega, dia termasuk kedalam salah satu dari murid kelas spesial tersebut. Yah, itu karena ia tak perlu bersusah-susah menaikki anak tangga hingga lantai tiga.
Weston Academy dibedakan menjadi tujuh kelas, setiap tingkatannya. Dan kelas Ciel satu-satunya kelas yang berada dilantai dua, bersebelahan dengan kelas para senior di Weston Academy. Selain itu, kelas Ciel juga memiliki nilai diatas kelas yang lain. Atau bisa dibilang, kelas Ciel berisi kumpulan anak-anak genius. Sama sepertinya.
Ciel sedikit lega saat berhasil masuk kekelasnya dengan selamat(?) dari kejaran lizzy, karena Lizzy dan Ciel berbeda kelas. Lagipula, Lizzy tidak pernah masuk kekelas Ciel. Atau mungkin tidak berani?
Dengan santainya, Ciel berjalan melenggang melewati teman-teman sekelasnya tanpa mempedulikan mereka, menuju bangku pojok belakang yang letaknya bersebelahan dengan jendela luar. Ia sengaja memilih bangku itu dari awal ia masuk, karena ia tak suka terlalu dekat dengan guru, dan ia suka memandang keluar jendela saat ia merasa bosan.
Dengan asal, Ciel menaruh ransel biru tuanya dikursi. Wajahnya terlihat kusut, mengingat pertemuannya dengan pemuda berambut raven tadi.
Er, siapa namanya? Memangnya peduliku, jika aku lupa?!
Ciel kesal sendiri, mengingat pemuda berambut raven yang tak sengaja ia tabrak tadi. Ia bahkan tidak ingat siapa namanya, padahal jika ia disuruh untuk menghafal rumus-rumus, ia langsung ingat. Kenapa ia bisa lupa? Tentu saja karena ia tidak ingin mengingat nama pemuda tersebut. Untuk apa ia mengingatnya? Apa itu penting? Sama seperti harus menghafal rumus-rumus?
Aku bersumpah, dia itu tidak tampan sama sekali! Memangnya kenapa semua gadis memujanya?
Batin Ciel dengan wajah cemberut.
EH? Kenapa aku jadi bilang dia tampan?! Dia sama sekali tidak tampan! Pasti dia itu operasi plastik!
Ciel mengacak rambutnya kesal sendiri.
Sementara itu, salah seorang gadis yang melihat kelakuan aneh Ciel dipagi yang cerah ini, menghampirinya. Gadis itu menepuk pundak Ciel pelan, membuat Ciel sontak menoleh kearah gadis tersebut.
"Ada apa Ciel?" tanya gadis berwajah oriental, yang seminggu terakhir menjadi temannya selama dikelas. Gadis itu memiliki wajah tak kalah imutnya dengan Ciel, tak lupa dengan wajah oriental, dan rambut hitam.
Ciel menjawabnya dengan gelengan pelan, sembari memijat pelipisnya yang masih berdenyut. "Aku tidak apa-apa, Ran Mao" jawab Ciel pada gadis berwajah oriental yang bernama Ran Mao itu. Sementara yang bertanya, duduk didepan bangku Ciel. Itu memang tempatnya.
Ran Mao lalu menghadap kebelakang, menatap wajah Ciel yang terbenam didalam mejanya. Ia terlihat –sedikit- kacau hari ini. Poni kelabu Ciel menutupi wajah Ciel yang terbenam dibalik bangkunya. Sementara Ran Mao menatap Ciel dengan kepala miring, membuat kesan imut pada gadis berwajah oriental itu. "Ciel, kau sedang kesal?" tanya gadis itu dengan wajah innocent.
Ran Mao memang berbeda dengan gadis-gadis lain yang ada dikelas. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang membentuk kelompok-kelompok, Ran Mao lebih memilih menyendiri seperti Ciel. Seminggu terakhir, semenjak mereka baru masuk, Ran Mao dan Ciel cukup dekat. Awalnya tidak ada yang mengajak berkenalan, tentu saja karena keduanya sama-sama pendiam. Tapi semakin lama karena letak bangku mereka yang –sangat-dekat, yaitu Ran Mao didepan bangku Ciel sementara Ciel dibelakang banku Ran Mao, membuat mereka lama-kelamaan menjadi teman. Entah siapa yang memulai, tapi mereka cukup dekat.
Yah, Ciel lebih suka dekat dengan Ran Mao dibandingkan dengan Lizzy. Gadis berwajah oriental ini tidak banyak bicara, berbeda dengan Lizzy. Ran Mao tidak pernah memaksa Ciel untuk bercerita jika Ciel tidak ingin menceritakannya, itulah yang ia sukai dari Ran Mao.
Ciel mengangkat wajahnya, menatap wajah Ran Mao. "Sebenarnya sih, iya" jawab Ciel akhirnya. Ia menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan. "Hari ini benar-benar hari SIAL!" umpat Ciel dengan suara pelan. Tapi Ran Mao masih dapat melihat nada emosi dari cara Ciel berbicara.
Tanpa berkata lagi, lengan Ran Mao menepuk pelan pundak Ciel. Ekspresinya tetap datar, seperti biasanya. "Sudahlah, Ciel" ujar Ran Mao, menenangkan Ciel. Ciel hanya bisa mengambil nafas panjang, berusaha menstabilkan emosi yang meluap-luap sedari tadi. "Memangnya siapa yang membuatmu kesal?" tanya Ran Mao masih dengan wajah innocent. Ciel menghela nafas panjang, saat harus mengingat pria itu lagi. Rasanya ia ingin amnesia saja jika begini, dibanding harus mengingat pemuda tadi. (Aduh Ciel, jangan temperamental gitu dong! Kalo kamu amnesia, kamu'kan gak bisa inget Sebas! Terus gimana caranya kamu jatuh cinta_*disumpel Ciel*)
"Ah, itu…" Ciel menggantungkan kata-katanya. Wajahnya tampak berpikir sejenak. Tapi karena otaknya yang malas mengingat nama pemuda itu, Ia tidak dapat mengingatnya. Ciel hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tidak ingat namanya. Lagipula, aku senang jika tidak ingat" sambung Ciel, yang dijawab oleh tawa pelan dari Ran Mao.
"Ah, baiklah kalau begitu Ciel. Jangan cemberut gitu," Ran Mao tersenyum pada Ciel, lalu duduk dibangku depan Ciel.
.
.
.
Bel istirahat telah berbunyi, menginterupsi pelajaran Mr. Arthur diakhir jam kelas hari ini, sebelum istirahat pertama. "Baiklah anak-anak, pelajaran kita sampai disini dulu. Kita akan bertemu lagi minggu depan" ujar Mr. Arthur, sebelum melenggang keluar dari kelas. Semua murid yang ada dikelas berhambur keluar dari ruangan, sementara beberapa gadis terlihat sedang berkerumun disebuah bangku. Memangnya apa yang membuat mereka berkumpul seperti itu?
Dan yang perlu kalian tau adalah, orang yang berada didalam kerumunan itu adalah Sebastian dengan ketiga temannya. Ya, pemuda berambut raven tersebut memang populer disekolahnya, terutama dikalangan gadis-gadis.
Sementara ketiga temannya sedang asik menggoda gadis-gadis itu, Sebastian tampak murung dibangkunya. Pandangannya mengarah keluar jendela. Iris crimson miliknya menatap dingin, tanpa ekspresi. Sebastian sama sekali tidak tertarik dengan gadis-gadis itu. Justru ia sebal oleh mereka, yang terus memperhatikan Sebastian layaknya stalker.
"Baik-baik, kami akan menyusul nanti. Jaa, ne~" ujar seorang pemuda berwajah oriental dengan rambut hitam, yang sempat-sempatnya memberikan salam perpisahan pada gadis-gadis tersebut. Sementara kedua temannya yang lain hanya berwajah datar.
Mereka bertiga menghampiri Sebastian yang masih termenung dibangkunya, tanpa memperhatikan gadis-gadis tadi yang sempat-sempatnya memberikan 'kiss bye' pada pemuda bersurai raven ini.
"Hey Sebastian, kau kenapa sih?" tanya pemuda berwajah oriental tersebut. Kedua temannya menatap Sebastian dengan tatapan,… Hawatir?
Sebastian menoleh kearah teman-temannya, sembari tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa, Lau" jawabnya pada pemuda berwajah oriental yang bernama Lau tersebut. Sebastian menyunggingkan senyumnya sejenak, sampai akhirnya ia teringat sesuatu. Sesuatu yang membuat wajah berubah menjadi lebih kusut, dan terlihat menyeramkan dimata teman-temannya.
"Pasti ada yang kau sembunyikan," timpal pemuda yang berdiri disebelah Lau. Pemuda itu berbadan tegap, dan mungkin tingginya hampir sama dengan Sebastian. Sebastian dan pemuda itu benar-benar mirip, mereka memiliki warna rambut yang sama. Hanya saja, yang membedakan adalah model rambut mereka, serta iris mereka. Sebastian memiliki iris crimson, sementara pemuda tersebut memiliki iris gold yang terbingkai kaca mata.
"Memangnya aku harus cerita, Claude?" tanya Sebastian dengan nada sarkastik pada pemuda bernama Claude tersebut.
Pertanyaan yang diajukan Sebastian, membuat mereka bertiga bungkam. Tentu saja, itu karena saat ini Sebastian sedang kesal. Tidak mungkin'kan ia mengganggunya? Itu sama saja mereka mencari mati! Bukan karena apa-apa, tapi mereka tau pasti bagaimana Sebastian saat marah. Ia benar-benar menyeramkan, bahkan tidak ada yang bisa melawannya. Tapi Sebastian tidak pernah merasa sekesal ini. Apa yang menjadi penyebabnya?
Mereka bertanya-tanya dalam hati.
"Kau tak usah cerita, jika tak ingin" jawab pemuda berambut pirang, dengan iris berwarna biru terang. Seterang langit saat ini.
Pemuda berambut pirang itu, satu-satunya yang terlihat santai. Saat ini pemuda itu tengah duduk dimeja Sebastian, sambil membawa sebuah buku dengan santainya.
"Terimakasih telah mengerti, Alois Trancy" ujar Sebastian dengan nada melembut. Kali ini, Claude dan Lau patut berterimakasih pada pemuda berambut pirang disebelahnya ini karena telah membuat Sebastian menjadi tenang kembali.
.
.
Sementara itu,
Ciel dengan malasnya melangkahkan kaki kedalam kafetaria yang sudah penuh ini. Yah, sebenarnya Ciel hampir-bahkan tidak pernah- makan didalam kafetaria. Alasan utamanya adalah, karena kafetaria saat jam istirahat pertama –sangat- ramai. Lagipula, Ciel lebih suka memakan bekalnya dikelas.
Tidak untuk kali ini, CIel –terpaksa- harus ikut dengan Ran Mao dan Lizzy yang mengajaknya makan di kafetaria. Alasannya karena, ia lupa membawa bekal hari ini.
Sebenarnya Ran Mao dan Lizzy sudah saling mengenal. Atau bisa dikatakan, mereka bertiga –termasuk Ciel- merupakan sahabat karib semenjak masuk ke Weston Academy. Awal pertama kali Lizzy dan Ran Mao saling mengenal, tidak diketahui secara jelas oleh Ciel. Ia justru kaget, saat Lizzy mengenal Ran Mao. Begitu pula dengan sebaliknya.
-Back to the story-
Setelah mengantri mengambil nampan yang berisi makanan, mereka bertiga berputar-putar mengelilingi kafetaria yang penuh ini. Berharap mendapatkan bangku kosong. Tapi sepertinya mereka tidak beruntung hari ini, karena semua kursi disini telah terisi penuh. Beberapa kali mereka –kecuali Ciel- menoleh kearah seisi kafetaria, mencoba mencari bangku yang masih kosong.
Pandangan Ran Mao terhenti, melihat sofa yang ada didekat jendela kafetaria masih dapat terisi untuk tiga orang. Disana memiliki tujuh buah sofa yang masih kosong. Mata Ran Mao berbinar-binar menatap ketiga kursi tersebut. Tentu saja, ia tidak mempedulikan keempat pemuda yang merupakan seniornya yang tengah asik berbincang-bincang disana.
Dengan cepat, Ran Mao menarik tangan Ciel dan Lizzy berbarengan. Ciel dan Lizzy terbelalak kaget, melihat tingkah Ran Mao yang tiba-tiba menarik tangan mereka. Tapi sedetik kemudian, mereka berdua dapat menangkap arti pergerakan Ran Mao secara tiba-tiba ini. Mereka berdua menyunggingkan senyum, sembari bernafas lega.
Akhirnya kami dapat menemukan kursi yang kosong
.
Sebastian sedang termangu menatap keluar jendela, sementara tangannya sibuk mengaduk-aduk soup pada mangkuknya. Alois dan Claude memperhatikan perubahan sikap Sebastian. Sementara Lau? Dia malah tidak mempedulikan Sebastian, dan justru sibuk mengerlingkan wajahnya pada sesosok gadis. Yah, sosok gadis yang tak asing lagi baginya.
"Hey Ran Mao! Duduk disini!" seru Lau, membuyarkan lamunan Sebastian. Serentak, ketiga teman Lau menoleh kearah sosok gadis berwajah oriental tersebut.
"Oh ya, kebetulan kursi kalian kosong! Bolehkah aku dan teman-temanku makan disini?" tanya Ran Mao dengan wajah innocent. Sementara ketiga pemuda tersebut-minus Lau- mengangguk pelan.
Ciel dan Lizzy terlihat sedikit letih, setelah Ran Mao menarik tangan mereka. Yah, walaupun tubuh Ran Mao kecil, tapi tenaganya cukup besar. Nafas Ciel dan Lizzy tampak tersenggal-senggal, sambil membawa nampan. Beberapa saat kemudian, iris sapphire dan crimson itu bertemu.
Iris keduanya terbelalak kaget. Ciel sedikit berjengit melihat Sebatian, begitupula dengan Sebastian. Mereka berdua tampak tidak ingin bertemu. Serentak, pemandangan ini membuat semua yang ada disana-minus Lizzy yang dari awal tau apa permasalahannya-, menatap kedua orang itu bergantian.
"K-kau.." ujar Sebastian dan Ciel bersamaan.
Ciel dan Sebastian tidak melanjutkan apapun. Keduanya hening. Sementara yang lain? Mereka masih sibuk menerawang apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana Ciel dan Sebastian sudah saling mengenal?
"Kalian sudah saling mengenal? Wah~ senangnya kalau begitu, kita jadi teman dong" ujar Lau dengan nada riang.
Mendengar kata-kata Lau, Sebastian dan Ciel serentak menatap tajam kearah pemuda berwajah oriental tersebut bersamaan. (Wah, sebas sama Ciel kok kompak ya? Kalian pasti udah janjian jadi kompak *ditonjok Ciel*) Sementara yang ditatap, hanya bisa tersenyum canggung sembari bersweatdrop-ria.
"Ah, kenapa kalian menatapku seperti itu sih?" Lau sewatdrop yang kedua kalinya, sembari tersenyum canggung.
"Kau mengatakan, KAMI TEMAN?!" seru Sebastian dan Ciel, -yang lagi-lagi- kompak.
Hening. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
Claude, Alois dan Lau tidak ingin menambah masalah dengan Sebastian yang sedang mengamuk. Apalagi dengan gadis berambut kelabu dihadapan mereka ini. Sepertinya, dia lebih menyeramkan dari Sebastian. Sementara itu, Lizzy dan Ran Mao tidak berani memulai pembicaraan. Karena mereka juga takut pada Ciel yang saat ini sedang kesal. Kalian tau'kan bahwa Ciel adalah gadis temperamental?
"Siapa juga yang sudi jadi temanmu!" seru Ciel sembari membuang muka. Begitu pula dengan Sebastian. Walaupun tetap dengan wajah datar, tapi sorot mata crimsonnya tidak bisa membohongi siapapun jika dia juga kesal dengan Ciel.
"Dasar gadis tak tau sopan santun!" gumam Sebastian, ikut membuang muka. Walaupun suaranya cukup pelan, tapi Ciel tetap bisa mendengarnya.
Ciel yang pada dasarnya mudah sekali marah, langsung terulut emosinya tiba-tiba setelah mendengar perkataan Sebastian. Dengan cepat Ciel menoleh kearah Sebastian yang sedang berdiri dengan tatapan tajam. Lebih tajam dari biasanya. Bahkan, Ran Mao dan Lizzy yang melihatnya bergidik sendiri. Tapi tatapan itu dianggap angin lalu oleh Sebastian. Dia hanya menatap Ciel dengan wajah datar, dan dingin.
"APA KATAMU! JELAS-JELAS KAU SENDIRI YANG TIDAK TAU DIRI" Bentak Ciel, membuat seisi kafetaria melihat kearah mereka.
Sebastian menghela nafas panjang, sembari memijat pelipisnya yang serasa berdenyut karena emosi. Ah, sebenarnya dia ingin melupakan gadis ini. Tapi,…
KENAPA DIA BERTEMU LAGI DENGAN GADIS TEMPRAMENTAL INI LAGI'SIH?!
Alois yang sedari tadi diam saja, saat ini bangkit berdiri. Berusaha melerai kedua orang ini. "Kalian, bisakah kalian tenang sedikit?!" bentak Alois tak kalah kerasnya, membuat Sebastian dan Ciel yang sedari tadi perang mulut, berhenti seketika. Ciel dan Sebastian langsung menoleh kearah pemuda berambut pirang tersebut.
"Jadi, apa yang terjadi sebenarnya?" suara Claude menginterupsi keheningan diantara mereka. Claude dengan wajah datarnya, bangkit berdiri.
Lizzy yang sedari tadi duduk disebelah kursi Ran Mao, bangkit berdiri. "Um.. ano, senpai…" ujar Lizzy gelagapan karena gugup. Claude mengalihkan pandangannya kearah Lizzy, dengan sebelah alis terangkat. "Itu, sebenarnya tadi pagi Ciel tidak sengaja menabrak Sebastian-senpai" tamnah Lizzy. Alois, Claude serta Lau mengangguk mengerti.
"Bukan aku yang menabraknya, tapi DIA yang berdiri ditengah jalan!" seru Ciel tidak terima. Sebastian yang sedari tadi diam saja, kini menatap tajam kearah Ciel. Bersiap memulai perang mulut dengan gadis berambut kelabu ini.
"Apa yang kau katakan? Kau bilang aku yang berdiri ditengah jalan? Bukannya kau yang berlari tanpa melihat didepanmu ada aku?!" ujar Sebastian sarkastis, tapi nada bicaranya tetap kalem seperti biasanya. Ciel membuang mukanya, tidak suka.
"Hei kalian berdua sudah cukup!" lerai Alois, kali ini memandang kearah Ciel. "Sebastian, sejak kapan kau jadi seperti anak kecil?" tegur Alois, menatap Sebastian sekilas. Setelah itu pandangannya beralih kearah Ciel yang sedang membuang mukanya. Tersirat dibenak Alois bahwa Ciel adalah gadis yang imut, melihat wajah kesalnya saat ini.
"Dan kau, Ciel? Bisakah kau meminta maaf, jika benar kau yang salah?" Alois berusaha berbicara dengan nada selembut mungkin, agar gadis temperamental ini tidak tersinggung. Ciel menoleh kearah Alois dengan sebelah alis terangkat.
"Tidak! Aku tidak salah kok!" bantah Ciel dengan suara pelan, tapi Alois dapat merasakan tatapan dingin Ciel.
Setelah itu, dengan seenaknya Ciel meninggalkan mereka semua. Mereka semua –minus Sebastian- saling bertukar pandang, lalu tatapan mereka tertuju pada sang raven yang sedari tadi melipat tangannya didepan dadanya. Sebastian yang merasa diperhatikan, langsung menatap mereka semua dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Antara marah, kesal, bingung.
"Um, ano… Sebastian-senpai, maafkan Ciel" ujar Lizzy dengan nada gelagapan, takut jika Sebastian marah. Yah, ini pertama kalinya Sebastian marah didepan orang luar selain ketiga sahabatnya itu. Orang luar itu adalah Lizzy, Ran Mao, dan… Ciel?
Sebastian menarik nafas dalam-dalam, sebelum menanggapi pernyataan Lizzy. "Kau tak perlu minta maaf, lagipula yang salah itu temanmu_" kata-kata Sebastian terpotong dengan pernyataan Lizzy.
"Namanya Ciel. Dia sepupuku. Harusnya aku harus menyuruhnya bersikap sopan!" seru Lizzy dengan wajah tertunduk, sementara Sebastian tersenyum sembari mengangguk pelan.
"Tidak perlu, aku juga tidak berharap ia bersikap sopan kok" Sebastian menanggapi dengan nada enteng. Kali ini semua mata yang ada dibangku itu tertuju padanya.
"Lalu kenapa kau mengajaknya bertengkar seperti itu?" tanya Claude dengan ekspresi –masih- datar. Sebastian tertawa kecil, menanggapinya. Sementara Sebastian tertawa, yang lainnya hanya diam. Setelah tawanya mereda, Sebastian berdehem pelan. Wajahnya kembali terlihat serius.
"Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran padanya" jawab Sebastian dengan nada santai, walaupun wajahnya terlihat serius. Ia berdehem sekali lagi, sbeelum melanjutkan "Apa aku salah?" tanya Sebastian. Semuanya menggeleng pelan, kecuali Alois. Entah kenapa, Alois memiliki firasat buruk yang akan terjadi pada Ciel.
Apakah itu?
.
.
TBC~
Waah~ akhirnya selesai juga Chapter 2!
Gomen kalo ceritanya kepanjanggan, terlalu banyak basa-basinya. Maklum, saya emang author yang suka basa-basi *digampar*
Iya, saya minta maaf kalo gak ada adegan SebasxCiel'nya. Tapi di Chapter selanjutnya pasti ada adegan SebasxCiel yang bikin reader gak kecewa baca fict saya. Saya usahakan, reader suka fict saya ini!
Oh ya, jangan lupa review nya ya~ saya terima review mulai dari cacian dan hinaan dari reader untuk author kita tercinta ini. Semua review saya terima kok!
