Warning: ooc, geje, Femciel!, typo, dan semacamnya
Sebasxfemcielxalois(maybe)

Disclaimer: Kuroshitsuji adalah milik Yana Toboso-sensei
Tapi fict ini milik saya sepenuhnya

Halo Mina~ ketemu lagi sama author kita tercinta*plak*

Terimakasih bagi reader setia yang mau membaca fict geje saya ini.

Happy reading~

Chapter 3;

Ciel duduk disebuah bangku taman yang berada dibawah pohon maple. Wajah manisnya terlihat kusut. Apa yang terjadi? Kenapa Ciel sampai kesal seperti itu? Dan yang menjadi kunci dari jawabannya adalah Sebastian. Satu-satunya orang yang ia benci disekolah barunya. Padahal, Ciel tidak ingin ada masalah apapun, disekolah barunya ini. Kenapa'sih ia harus bertemu pemuda itu lagi? Sudah cukup tadi pagi, dan sekarang? Ciel tidak bisa makan siang gara-gara Sebastian. (Ralat, itu semua gara-gara Ciel sendiri yang tidak mau makan bersama Sebastian'kan? *dipelototin Ciel*)

Yah, siapa juga yang mau makan bersama orang yang dibencinya? Pasti semua orang menolaknya, termasuk Ciel. Ia bahkan lupa jika perutnya lapar sedari tadi saat ia berjalan diantara koridor kelas dan menuju ketaman ini. Tapi sayangnya perutnya tidak bisa diajak kompromi lagi.

Grryyuuukkk~

Bunyi itu cukup terdengar, walaupun sedikit pelan. Wajah Ciel merona, saat dirasakannya perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Saat ini ia mengutuk dirinya sendiri, yang tidak sempat mengambil nampan yang ia bawa.

"Ahhhgggg!" Ciel menjambak rambut kelabunya, frustasi. Rasa lapar membuatnya menjadi –sedikit- gila.

"Kau pasti lapar" suara baritone memecah kesunyian yang ada ditaman itu. Benar, taman itu sungguh sepi. Tidak seorangpun disini, selain Ciel dan pemilik suara itu?

Ciel yang merasa tidak ada orang lagi selain dirinya, reflek menoleh kearah sumber suara tersebut. Iris sapphire Ciel terbelalak, mendapati orang yang paling tidak ingin ia temui berada dihadapannya. Dengan segera, Ciel mengubah pandangannya menjadi sarkastik. "Mau apa lagi kau'huh?" tanya Ciel dengan nada tajam. Sebastian menghela nafas panjang, sebelum akhirnya ia mengeluarkan sepotong sandwich dari kantong mantelnya.

"Kau tak mau, eh? Ciel?" tanya Sebastian dengan nada ramah –yang dibuat-buat-, menurut Ciel.

Dengan wajah berpaling dari Sebastian, Ciel mengambil sandwich yang ada ditangan Sebastian dengan kasar (Baca: merampas). "Kau itu, memang gadis temperamental" ujar Sebastian, -tanpa disuruh- ikut duduk dibangku sebelah Ciel. Wajah tampan pemuda itu menatap sosok gadis berambut kelabu disampingnya. Sementara yang dipandangi hanya asik memakan sandwichnya dengan lahap, karena kelaparan. "Dan aku baru tau, selera makanmu bagus juga ya" ujar Sebastian dengan nada menggoda. Kali ini Ciel menoleh kearahnya, sambil memberikan death glare yang dibalas dengan sweatdrop dari Sebastian.

"Memangnya kenapa? Apa itu masalah? Aku lapar tau! Itu semua gara-gara kau!" seru Ciel dengan nada tajam. Sebastian terkekeh, melihat wajah Ciel yang sedikit belepotan akibat saus yang menempel pada sudut bibirnya yang mungil. "Apanya yang lucu?" tanya Ciel tajam, melihat Sebastian yang terkekeh pelan.

Tanpa menghiraukan omelan-omelan dari gadis berambut kelabu tersebut, Sebastian meraih sapu tangan berwarna hitam pada saku celanannya. Dengan sigap, Sebastian mengusap ujung bibir Ciel yang ternoda saus tersebut. "Ada saus yang tertinggal, aku sudah membersihkannya" ujar Sebastian, memasukkan sapu tangannya kesakunya lagi. Kali ini Sebastian dapat melihat iris sedalam lautan Ciel membulat, sedangkan wajahnya ditumbuhi semburat kemerahan yang membuatnya… semakin manis?

"Er…" Ciel bergumam pelan, membuat Sebastian yang menatap lurus kearah danau yang berada didepan mereka, memalingkan wajahnya kearah Ciel. "A-aku.." Ciel masih terlihat gelisah. Tangannya mencengkram kuat-kuat rok nya. "Aku minta maaf" ujar Ciel cepat. "Dan terimakasih membawakanku makanan" sambung Ciel dengan wajah tertunduk, dan merah? Ciel sedang malu?

Sebastian tersenyum lembut, berbeda dari senyum yang biasanya ia tunjukan pada gadis-gadis yang mengejarnya. Apa itu artinya Ciel orang yang spesial?

"Ya, tidak apa-apa" jawab Sebastian dengan nada kalem.

Hening.

Tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Kedua orang itu tengah menatap kearah danau, menyelami pikiran masing-masing. Ciel merasa sedikit bersalah pada Sebastian. Tentu saja, ia telah menuduh pemuda tersebut tidak-tidak padahal seseungguhnya Sebastian itu baik. Sedangkan Sebastian? Ia merasa Ciel adalah gadis yang menarik. Dari awal mereka bertemu, Ciel memang gadis yang menarik. Ia berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini mengejarnya. Ciel berbeda…
Ciel seperti permata yang sulit didapatkan.

"Emm, memangnya kenapa kau membawakanku makanan? Padahal kau juga tak perlu repot-repot membawakanku makanan seperti itu" suara Ciel memecah keheningan diantara mereka. Sebastian yang sedari tadi tenggelam kedalam pikirannya, terpaksa harus tersadar dari lamunannya.

"Itu karena, aku takut jika kau sakit karena tidak makan, pasti itu jadi salahku" jawab Sebastian kalem, sementara Ciel memiringkan wajahnya dengan pandangan bertanya. "Kau tidak jadi makan karena ada aku'kan?" ujar Sebastian seakan-akan menjawab pertanyaan Ciel.

"benar juga sih, itu memang salahmu" ujar Ciel dengan mengembungkan pipinya, menambah aksen imut pada Ciel. Sebastian terkekeh pelan, melihat wajah Ciel.

'Ternyata Ciel manis juga' batin Sebastian, tanpa sadar ia tersenyum menatap gadis bersurai kelabu disampingnya. Ciel yang merasa diperhatikan, berpaling menatap Sebastian dengan tatapan curiga. Dengan –sedikit- kasar, Ciel menyikut perut Sebastian. Membuat Sebastian sedikit meringis kesakitan.

"Kenapa kau memandangku seperti itu, apalagi dengan MUKA MESUMMU!" seru Ciel dengan penekanan pada kalimat terakhirnya.

Sebastian masih meringis kesakitan, "Aduh, kau itu memang gadis yang galak!" seru Sebastian, sedikit merintih kesakitan. "jika kau galak, siapa yang ingin menjadi pacarmu'huh?" lanjut Sebastian dengan nada menggoda. Ciel sempat blushing mendengar pernyataan Sebastian, tapi cepat-cepat Ciel membuang mukanya kearah lain.

"Apanya'huh?! Dasar otak mesum!" seru Ciel bangkit berdiri, lalu berjalan meninggalkan Sebastian sendirian ditaman itu.

Sebastian tersenyum, menatap kepergian Ciel. Tangan kanannya memegang dada bagian kirinya, merasakan debaran jantung didalamnya. Wajah tampan Sebastian menengadah kelangit, matanya terpejam, membiarkan angin menerbangkan helaian rambut ravennya.

Ah, apa maksud semua ini?

Sebastian POV

Ah, apa maksud semua ini? Ciel… gadis itu, dia berbeda. Dia, dia bilang aku 'muka mesum' tadi?! Benar-benar gadis yang tidak mudah ditebak. Apa sih yang dia pikirkan tentang aku? Apa wajahku benar-benar mesum?

Aku terkekeh pelan, mengingat wajahnya yang memerah tadi. Benar-benar manis, apalagi saat ia mengucapkan terimakasih padaku. Dia memang manis, tapi memang sedikit temperamental. Aku jadi ingin menggodanya lagi. Rasanya seperti hiburan tersendiri, melihatnya marah seperti itu. Wajahnya… Wajahnya mengingatkanku akan sesuatu. Sesuatu yang lembut, dengan mata besar sama seperti Ciel.

Ciel mirip dengan kucing? Ah, aku memang suka kucing. Tapi apakah aku juga menyukai Ciel?

Kali ini aku menggelengkan kepalaku sendiri.

Apa yang kupikirkan sih? Aku.., kenapa aku jadi tertarik pada gadis itu?

"Aghhh!" kali ini aku'lah yang berteriak ditengah taman yang sedang sepi. Aku menjambak rambutku, frustasi. 'Apa yang kupikirkan?!' batinku. "Ah, sepertinya aku terlalu banyak berpikir" ujarku, sembari bangkit berdiri. Kulihat jam pada lengan kiriku, jam istirahat sebentar lagi akan berakhir. Aku berjalan meninggalkan taman.

End Sebastian POV

Sebastian berjalan meninggalkan taman, tempat ia dan Ciel bertemu. Yah, selama perjalanan menuju kelasnya, Sebastian terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Wajahnya terlihat… gelisah?

.

.

Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua murid-murid segera membereskan barang-barang mereka lalu berhamburan keluar kelas. Sementara kelas mulai sepi, Ciel masih terlihat sibuk membereskan kertas-kertasnya. Sementara disamping Ciel, terlihat gadis berwajah oriental tengah menunggunya. Gadis itu adalah Ran Mao.

"Ciel~" suara yang tak asing lagi bagi Ciel, menginterupsi suasana kelas yang hening karena hanya tinggal Ran Mao dan Ciel yang berada dikelas. Ciel berpaling, menatap horror kearah sumber suara. Orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini, berlari kearahnya.

"Kau kenapa Lizzy?" tanya Ciel dengan wajah datar, membuat Lizzy mengembungkan pipinya kesal.

"Kenapa kau jadi dingin gitu sih, Ciel?!" seru lizzy kesal. Ciel hanya menghela nafas panjang. "Oh ya, tadi kau dan senior Michaelis bicara apa?" tanya Lizzy dengan wajah berbinar-binar. Ciel yang awalnya berwajah datar, terbelalak kaget setelah mendengar perkataan Lizzy. "Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya Lizzy dengan wajah berbinar-binar. Ciel tau maksud Lizzy, tapi ia pura-pura tidak tau.

"Apa maksudmu? Dia hanya memberikan sandwich, itu saja. Memangnya apa yang kau pikirkan?" tanya Ciel dengan tatapan curiga kearah Lizzy.

"Ah, lupakan saja!" umpat Lizzy kesal. "Ayo Ran Mao" ajak Lizzy, sembari menarik tangan gadis berwajah oriental yang sedari tadi hanya diam saja.

.

.

Sementara itu

Sebastian membereskan buku-bukunya. Ada sedikit keanehan dari wajah Sebastian. Semenjak ia pergi dari taman itu untuk menemui Ciel, sikapnya menjadi sedikit aneh. Berbeda dengan biasanya, kali ini Sebastian lebih memilih untuk menyendiri dari teman-temannya. Dan perubahan sikap Sebastian membuat ketiga sahabatnya memandanginya sesekali.

Ketiga pemuda tersebut saling bertukar pandang satu sama lain, lalu pandangan mereka tertuju pada Sebastian yang melamun –lagi- seakan mereka mengatakan hal yang sama, Ada apa dengannya?

Beberapa gadis yang ada disana telah keluar dari kelas, meninggalkan mereka berempat dikelas. Lau mendekat kearah Sebastian, memegang pundak sang raven. "Hey Seb, kau tak apa?" tanya Lau dengan wajah yang sedikit cemas. Kedua temannya (baca: Claude dan Alois) ikut mendekat, dengan tatapan yang hampir sama dengan Lau. Hanya saja, wajah Claude lebih terlihat datar.

Sebastian hanya menjawab pertanyaan pemuda berwajah oriental itu dengan senyum tipis, "Aku tidak apa-apa, Lau" jawabnya santai. Walaupun Sebastian terlihat santai, tapi ketiga temannya tau bahwa itu semua hanya palsu. Yah, sebagai sahabat Sebastian, mereka sudah mengetahui watak asli sang raven. Sebastian selalu berpura-pura terlihat ramah dengan senyumannya, tapi itu hanya sebuah topeng belaka. Jika dibilang-bilang, Sebastian sangat jarang tersenyum -senyum tulus.

"Jangan berbohong, kami tau kau hanya berpura-pura tersenyum seperti yang kau lakukan pada gadis-gadis itu" Alois angkat bicara dengan iris biru langitnya yang berkilat-kilat, menatap kedalam kedua iris crimson Sebastian. "Kau bisa tersenyum seperti itu pada mereka, tapi tidak bisa untuk kami. Kami tau kau yang sebenarnya, Seb. Jadi pasti ada sesuatu yang kau tutupi" ujar Alois dengan pandangan penuh selidik.

Sebastian hanya bungkam. Tentu saja ia tersenyum palsu, dan pasti ketiga temannya mengetahui hal ini. Percuma saja tersenyum palsu didepan mereka. "Jangan memaksa Sebastian, Alois. Bagaimanapun Sebastian juga butuh privasi" tegur Claude dengan wajah datar.

"Memangnya apa'sih yang membuat seorang Sebastian Michaelis mejadi kacau seperti ini?" goda Lau. Sebastian membalasnya dengan melempar death glare, membuat Lau bergidik melihatnya.

"Sudahlah, kalian ingin menginap disini?" tanya Sebasian menghela nafas, sekaligus berusaha mengalihkan topic pembicaraan. Ketiga temannya yang mengetahui maksud Sebastian, hanya mengangguk mengerti.

Mereka bertiga melewati koridor, menuju gerbang depan sekolah. Sesampainya didepan halaman sekolah, ketiga pemuda tersebut mendapati ketiga sosok gadis yang tidak asing lagi. Yang satu berwajah oriental dengan rambut kelam, sementara yang satu lagi memiliki rambut blonde yang sedikit ikal, dan yang satu lagi berambut kelabu.

Keempat pemuda itu menghampiri kearah ketiga gadis tersebut.

.

"Jadi, senior Michaelis hanya berbicara itu saja?" tanya Ran Mao dengan wajah innocent. Ciel kesal mendengarnya. Bagaimana tidak? Ran Mao sudah menanyakan pertanyaan yang sama EMPAT KALI! Apa Ciel harus menjawabnya lagi?!

"Sudah kubilang, hanya itu.." Ciel sengaja memberi jeda pada kalimatnya. Ia menghela nafas panjang, menahan amarhnya. "KAU BAHKAN SUDAH MENANYAKANNYA EMPAT KALI! EMPAT KALI" seru Ciel berteriak pada Ran Mao, sedangkan yang diteriaki malah terkekeh pelan. Lizzy ikut tertawa, melihat wajah Ciel yang imut saat emosi. Yah, bagi mereka Ciel justru semakin 'imut dan manis' saat marah, karena Lizzy dan Ran Mao sudah terbiasa dengan amukan Ciel.

"Apa yang kalian ributkan?" tanya Lau –sok kenal dan akrab- dengan nada tertarik. Ciel yang dari tadi mengembungkan pipinya sembari membuang muka, lalu menoleh cepat kearah sumber suara. Iris sapphire Ciel terbelalak, mendapati keempat pemuda yang sedari tadi memperhatikan mereka.

"Ah, Senpai? Bagaimana kalian ada disini?" tanya Lizzy, setelah tawanya mereda. Sementara keempat pemuda itu –kecuali Claude, menaikkan sebelah alis mereka.

"Tentu saja kami ingin pulang, nona MIDDLEFORD" jawab Sebastian dengan penekanan pada kata 'Middleford'. Sementara Lizzy menyunggingkan senyum canggung. Kelihatannya Sebastian sedang kesal? Tidak biasanya ia memperlihatkan sikap kesalnya didepan orang lain, selain ketiga sahabatnya.

"Lalu, kalian kenapa disini? Belum pulang?" tanya Alois, entah kenapa pandangannya mengarah pada Ciel. Ciel yang merasa diperhatikan, hanya membuang muka kearah lain.

"Aku dan Lizzy baru saja menanyakan apa yang sebenarnya dikatakan Seb_" kata-kata Ran Mao terputus saat Lizzy membekap mulut gadis berwajah oriental itu. Sementara Ciel? Dia hanya menghela nafas panjang. Ia terlihat tidak peduli apa yang kedua sahabatnya perbuat, dan melihatnya dengan tatapan datar.

Mereka berempat (baca: Alois, Sebastian, Claude, Lau) menatap Lizzy dengan sebelah alis terangkat. "Apa kalian menyembunyikan sesuatu dari kami?" kali ini suara baritone Claude yang mewakili dari ketiga sahabatnya.

"Ah Tidak ada yang kami sembunyikan senpai! K-kami…" ujar Lizzy terbata-bata karena gugup melihat tatapan itrogasi dari ketiga pemuda dihadapannya –minus Lau yang malah tersenyum-senyum sendiri-

"Kau benar-benar menyembunyikan sesuatu dari kami, nona Middleford?" tanya Sebastian dengan nada introgasi, membuat peluh bercucuran pada kening Lizzy. Yah, bisa dibilang saat ini Sebastian sedang menatap Lizzy secara intens. Siapa yang tidak gugup, coba jika dilihat seperti itu? Apalagi yang menatapnya Sebastian!

Ketiga teman Sebastian hanya diam ditempat, tidak ada yang menghentikan perbuatan Sebastian. Atau lebih tepatnya, mereka tidak berani melawan Sebastian. Sementara Ran Mao, dia hanya diam dengan wajah innocent.

"memangnya kenapa? Apa itu urusanmu, Michaelis?" suara Ciel membuyarkan ketegangan diantara mereka semua. Ciel? Yah, saya lupa jika satu-satunya yang berani pada Sebastian hanyalah gadis bersurai kelabu tersebut. Ciel menyunggingkan senyum miris yang dibuat-buat, bermaksud mengejek Sebastian. "Ah, ternyata kau mesum juga, Michaelis…" Ciel sengaja menggantungkan kalimatnya, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi kau juga ingin tau rahasia para gadis-gadis?" tanya Ciel dengan nada sarkastik.

Sebastian diam ditempat. Iris crimson miliknya terbelalak, tidak percaya. Alasan yang digunakan Ciel, benar-benar sangat menjatuhkan harga diri Sebastian. Dan untungnya, halaman depan sekolah cukup sepi saat ini.

Lizzy yang berdiri dibelakang Ciel, ikut terbelalak. Apa yang Ciel lakukan? Apa Ciel berusaha menolongnya barusan? Bukankah harusnya Ciel yang marah, tapi kenapa malah menolongnya?

Sesaat kemudian, Sebastian tersenyum simpul. Kali ini iris sapphire Ciel yang terbelalak, melihat senyuman Sebastian yang lebih mirip dengan… seringai?

"Ah, percuma saja jika berdebat denganmu, Phantomhive" Sebastian berkata dengan nada kalem. Ia berusaha me nahan tawanya, mendengar perkataan Ciel. 'ah, dia memang imut seperti kucing!' batin Sebastian yang jelas tidak ia lontarkan.

Sebastian berjalan melewati Ciel yang masih mengerjap beberapa kali, sembari melambai tanpa menoleh. "Sampai jumpa, Phantomhive. Besok kita bertemu lagi" ujar Sebastian menuju tempat parkiran, tempatnya memarkirkan mobilnya. Kedua sahabat Sebastian (baca: Claude dan Alois) mengikuti langkahnya, sembari menutup mulutnya. Memangnya kenapa dengan mulut mereka? Dan ternyata, mereka sedang menahan tawanya. Alois menutup mulutnya dengan tangannya, menahan agar tawanya tidak lepas. Sedangkan Claude? Dia menggigit bibir bagian bawahnya, berusaha tidak tersenyum walaupun sedikit saja. Sungguh ekspresi yang langka dari seorang poker face seperti Claude.

Sementara Lau? Kenapa dia tidak ikut dengan ketiga temannya?

Pandangan Ciel beralih kearah pemuda berwajah oriental, yang jika dipikir-pikir, mirip dengan Ran Mao?

"Kau tidak pergi juga?" tanya Ciel melirik dengan ekor matanya. Sementara yang dilirik, hanya tersenyum simpul seperti biasanya.

"Tidak, Ciel" ujar Lau memasang wajah –berpura-pura- prihatin. "aku membawa mobil sendiri. Dan ada satu keperluan lain" ujar Lau, membuat Ciel menaikkan sebelah alisnya.

"Keperluan apa?" tanya Ciel

"Tentu saja mengantar adikku ini, Ciel!" seru Lau dengan penekanan pada setiap kalimatnya, sembari menunjuk Ran Mao yang sedari tadi berdiri disampingnya.

Ciel terbelalak kaget, "Kalian Kakak-adik?" tanya Ciel tidak percaya, sementara Lau dan Ran Mao menjawabnya dengan anggukan berbarengan. Sungguh kompak. Beberapa saat, Ciel menghela nafas.

"Oh ya, kami pergi dulu Ciel, Lizzy. Sampai jumpa!" seru Lau dan Ran Mao -hampir- berbarengan. Sementara kedua gadis itu mengangguk.

Beberapa saat kemudian, terlihat sedan hitam yang dikemudikan oleh supir keluarga Middleford. Dengan segera, Lizzy menghampiri mobil tersebut sembari melambai kearah Ciel. "Aku pergi juga Ciel! Sampai jumpa disekolah!" seru gadis berambut blonde tersebut, sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu sedan hitam yang akhirnya tertutup. Beberapa detik kemudian, mobil sedan hitam tersebut melaju dan hilang dibalik tikungan.

Dan akhirnya Ciel sendiri. Ciel menarik nafas panjang, kakinya mulai melangkah meninggalkan sekolah.

Tanpa ia sadari, sepasang iris crimson mengamati gerak gerik gadis berambut kelabu itu dibalik mobil Porsche hitam yang terparkir tidak jauh dari halaman sekolah.

Sebastian sedang mengamati Ciel dari mobilnya. Kali ini ia sendirian. Alois dan Claude sudah pulang dengan mobil masing-masing. Entah kenapa, Sebastian ingin mengamati Ciel.

Sebegitu bersar'kah rasa tertariknya pada Ciel?

.

.

TBC

Akhirnya selesai juga chapter 3 kali ini. Saya berharap, reader suka ceritanya.

Please review nya!