Warning: Typo, ooc, Femciel, geje
SebastianxCielxAlois (Maybe)

Disclaimer: Kuroshitsuji adalah milik Yana Toboso sensei

Halo Mina~ Terimakasih telah menunggu fict saya. Saya juga berterimakasih dengan review kalian, dan saya tidak akan menjadi author alay lagi. Saya mohon maaf jika sebelumnya saya –sedikit- alay, jadi di chapter 4 ini dan seterusnya saya akan menjadi diri saya sendiri. Dan terimakasih yang sudah follow dan favorite

Dan yang belum review, tolong review nya! Saya terima kritik, saran, hinaan , cacian dan semacamnya

Happy reading~

Don't like don't read!

Chapter 4;

Sudah seminggu, Sebastian melakukan kegiatan –mengamati Ciel setelah pulang sekolah. Ia mengetahui beberapa hal tentang Ciel, setelah mengikuti Ciel –diam-diam- saat gadis bersurai kelabu itu pulang dari sekolahnya. Pertama, Ciel tinggal disebuah apartemen yang tidak jauh dari sekolah. Sebastian bahkan mengetahui nomer kamar apartemen Ciel. Demi mendapatkannya, Sebastian rela memberikan nomer teleponnya pada petugas wanita – yang kegenitan. Yah walaupun begitu, yang terpenting Sebastian dapat mengetahui nomer kamar apartment Ciel. Dan yang kedua, ia tau bahwa Ciel tinggal sendiri di apartemennya. Sebastian mengetahuinya karena Ciel selalu berangkat dan pulang sendiri. Dan terkadang, Ran Mao atau Lizzy'lah yang menemani Ciel. Selain itu, yang ia tau, Vincent dan Rachel Phantomhive berada diluar negri untuk mengurus bisnis mereka.

Sebastian rela mencari tau siapa sebenarnya Ciel melalui arsip-arsip –yang entah dari mana ia dapatkan-, dan ia menemukan bahwa Ciel adalah putri semata wayang dari bangsawan sekaligus direktur utama Funtom company, yang ternyata adalah rekan bisinis ayah Sebastian. Sungguh kebetulan yang menarik, tapi walaupun begitu Sebastian tidak pernah bertemu dengan Vincent.

Entah apa yang ada dipikirannya, Sebastian rela menjadi seorang stalker hanya demi Ciel? Memangnya sejauh apa perasaannya pada Ciel? Ia sendiri juga bingung dengan perasannya sendiri.

Dan selama seminggu terakhir, Sebastian sering tersenyum sendiri. Membuat ketiga sahabatnya –termasuk Claude yang biasanya tidak peduli- bingung dan penasaran olehnya. Dan tak jarang, mereka bertiga (baca: Alois, Lau, Claude) mendapati Sebastian sedang melamun.

Apa yang dilamunkan Sebastian?

Yang perlu kalian tau, Sebastian sering membayangkan bahwa Ciel adalah kucing. Yah, memang Ciel manis dan imut seperti kucing, tapi mungkin Ciel lebih manis dibanding kucing. Itu yang dipikirkan Sebastian saat ini.

Apa ini artinya…

Aku mencintai Ciel?

.

Sebastian masih dalam lamunannya, memikirkan wajah Ciel –yang menurutnya- lebih imut dari wajah kucing. Bel istirahat telah berbunyi beberapa menit yang lalu, tapi pemuda bersurai raven ini masih tetap berada dibangkunya. Menatap keluar jendela. (Baca: Bangku Sebastian berada disamping jendela)
Tidak seperti biasanya Sebastian tidak langsung menuju kafetaria, padahal biasanya dia'lah yang mengajak teman-temannya ke kafetaria.

Ketiga sahabatnya memandang Sebastian dengan alis terangkat. Mereka menghampiri Sebastian yang masih melamun dan tersenyum sendiri itu. "Hey Sebastian, kau tidak apa-apa?" tanya Alois dengan raut wajah cemas.

"Kau terlihat seperti orang gila seminggu terakhir" dan ucapan Lau itu, berhasil mendapat death glare dari Alois dan Claude. Lau yang merasa risih, akhirnya ikut menatap prihatin kearah sang raven yang justru terlihat seperti sebuah ejekan. "Kau jadi sering melamun dan tersenyum sendiri… Kau jadi semakin aneh" ujar Lau, menggelengkan kepalanya.

Sebastian menoleh, tapi yang membuat ketiga sabatnya terbelalak, Sebastian justru tersenyum simpul. Bukannya harusnya dia marah, saat Lau mengejeknya seperti tadi? Bukankah jika Sebastian diejek seperti itu, ia akan marah? Tapi sekarang, kenapa ia malah tersenyum?

"Mungkin" jawab Sebastian dengan santainya. Ketiga pemuda itu terbelalak kaget, bahkan Claude yang biasanya berwajah datar kini tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Hey Sebastian, kau sakit?!" ujar Alois dengan nada panik sembari memegang kening Sebastian.

Sedikit hangat.

"Suhu tubuhmu cukup hangat, bagaimana jika kau pergi keruang kesehatan?" usul Claude yang ikut memegang kening Sebastian.

Sebastian hanya menggeleng, sembari tersenyum. "Aku tidak sakit kok" ujar Sebastian. Ia berdehem sekali, lalu melanjutkan "Mungkin aku seperti ini karena seseorang.." ujar Sebastian, kembali menatap keluar jendela.

Sementara ketiga temannya? Mata mereka melotot, mendengar alasan kenapa Sebastian menjadi seperti ini. Sebastian bilang ia sedang memikirkan seseorang? Siapa itu?!
Yah, setidaknya mereka tidak tau bahwa yang dipikirkan Sebastian adalah Ciel.

"Siapa?!" tanya ketiganya serempak.

Sebastian menoleh, menatap mereka dengan wajah bertanya. "Aku sering memperhatikannya seminggu terakhir" Sebastian menggumam, layaknya ia berbicara pada dirinya sendiri. Ketiga sahabatnya mendekat, menunggu perkataan Sebastian selanjutnya. Sementara itu, yang ditatap malah merasa risih.

"Apa yang kalian lakukan?!" seru Sebastian –masih- dengan nada kalem, seperti biasanya.

"Siapa gadis itu, Sebastian?" desak ketiganya bersamaan.

Sebastian memalingkan wajahnya, menutupi semburat merah pada wajahnya. Yah, pertanyaan ketiga sahabatnya ini membuat Sebastian ingat pada Ciel.

'Ciel' jawabnya dalam hati, dan tentu saja ia tidak mengucapkannya. Ah, mau ditaruh dimana mukanya jika ketiga temannya tau bahwa seminggu terakhir Sebastian menjadi stalker Ciel? Biarlah itu masih menjadi misteri~

Tapi yang terucap dibibir Sebastian justru pertanyaan dengan nada sinis, "Memangnya kalian perlu tau?" Dan pertanyaan itu membuat ketiganya bungkam seribu bahasa. Tentu saja mereka tau, bahwa arti dari pertanyaan Sebastian agar menyuruh mereka tidak bertanya lebih lanjut.

Tapi berbeda kali ini, mereka justru semakin mendesak Sebastian. "Ayolah, Seb! Beritahu kami, jangan main rahasia-rahasiaan dari kami dong!" seru Lau dengan nada merengek. Lau pertama kalinya memohon hanya untuk mengetahui siapa gadis yang membuat Sebastian seperti ini? Sungguh pemandangan yang langkah dari keduanya.

Tidak hanya itu, Claude juga menunjukan ekspresi yang –tidak bisa dijelaskan- sangat jarang ia perlihatkan. "Kami tidak peduli dengan rahasiamu yang lain, tapi kali ini kami harus tau!" seru Claude dengan nada mendesak?

"Kami juga ingin tau, gadis seperti apa yang membuat cowok –super duper dingin- sepertimu jatuh cinta?!" sambung Alois dengan nada mendesak.

Ah, sepertinya masalah kali ini membuat keempat pemuda itu terlihat berbeda dari biasanya.

"Baiklah, akan kuceritakan siapa orangnya…" Sebastian sengaja memberikan jeda sejenak pada kalimatnya. Teman-temannya menatap Sebastian dengan wajah berseri-seri, termasuk Claude? (Ah, saya juga gak bisa bayangin wajah Claude yang berseri-seri-_-)
"Tapi tidak sekarang, aku butuh waktu" lanjut Sebastian, sementara ketiga temannya mengangguk pelan.

.

.

.

Ciel, Lizzy, dan Ran Mao berjalan melewati koridor kelas. Yah, mereka baru saja dari kafetaria. Saat berjalan melewati kelas-kelas, ketiga gadis itu tidak sengaja bertemu dengan empat pemuda yang tidak asing lagi bagi mereka.

"Halo Ciel~" sapa Lau dengan seringaian yang selalu terhias diwajah pemuda berwajah oriental itu. "Kalian dari mana saja? Kalian tidak ke kafetaria?" tanya Lau melanjutkan.

Ketiga gadis itu hanya menggeleng pelan, "Kami baru saja dari kafetaria, senpai" Jawab Lizzy, mewakili kedua temannya yang hanya bungkam. "Apa kalian tidak ke kafetaria? Tidak biasanya" sambung Lizzy.

Ketiga pemuda itu (Baca: Alois, Claude dan Lau) melirik kearah Sebastian dengan menggunakan ekor mata mereka. "Kami sebenarnya ingin menyusul kalian, tapi yah…" jawab Lau dengan nada menyindir Sebastian.

"Ada sesuatu yang harus kami berempat bicarakan dahulu" sambung Claude, membenarkan letak kaca matanya.

"Dan itu membutuhkan waktu yang –sedikit- lama" timpal Alois.

Sepertinya ketiga sahabatnya ingin menyindir Sebastian secara tidak langsung. Yah, walaupun begitu, Sebastian hanya tersenyum lalu mengangguk pelan. Seakan tidak ada yang terjadi.

"Jadi begitu" Lizzy menanggapi, sementara Ran Mao dan Ciel menanggapinya dengan menggumamkan kata 'oh' pelan. "Kalau begitu, kami kekelas dulu ya senpai!" seru Lizzy pada keempat pemuda itu, yang hanya dibalas dengan senyum dari ketiga oemuda itu-minus Claude yang berwajah datar.

.

.

Ciel sedang duduk dikursi perpustakaan, sementara pandangannya tertuju pada isi buku yang ia baca. Kali ini Ciel sendirian. Kedua temannya, Lizzy dan Ran Mao tidak ikut keperpustakaan, karena memangLizzy tidak suka berada diperpustakaan. Sementara Ran Mao mengikuti Lizzy, atau lebih tepatnya diseret Lizzy agar ikut dengannya.

Suasanya didalam perpustakaan tidak terlalu ramai, karena memang sedikit murid yang suka membaca. Kebanyakan yang berada disini adalah para kutu buku, termasuk Ciel. Selain karena ia suka membaca, Ciel juga menyukai suasana diperpustakaan yang sepi. Dia memang tidak suka keramaian, apalagi kafetaria.

Seorang pemuda berambut blonde sedang duduk disebelahnya, tapi Ciel tidak mempedulikannya. Pandangannya tidak beralih dari isi buku yang ia baca.

"Kau benar-benar suka membaca ya, Ciel?" tanya pemuda itu. Ciel yang merasa mengenali suara ini, segera menoleh. Matanya terbelalak, mendapati sosok pemuda berambut pirang dengan iris biru langit sedang tersenyum padanya.

"Alois-senpai? Kenapa kau ada disini?" tanya Ciel pada pemuda berambut pirang tersebut. "Kau tidak bersama si muka mesum itu?" tanya Ciel, membuat Alois menahan tawanya.

"Siapa yang kau maksud, 'muka mesum' itu, Ciel?" tanya Alois terkekeh pelan.

"Tentu saja, Sebastian" jawab Ciel, menghela nafas panjang.

"Jadi, menurutmu wajah Sebastian mesum?" tanya Alois, sementara Ciel hanya mengangguk pelan. Kali ini pandangan Ciel sudah tertuju pada isi bacaan itu lagi. "Kau lucu juga, Ciel" Alois menambahkan.

Hening

Tidak ada yang berbicara. Ciel tengah sibuk dengan isi buku yang dibacanya, sementara Alois? Dia tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang ia baca. Pandangannya selalu beralih kepada Ciel, seakan wajah gadis berambut kelabu tersebut lebih menarik dibanding dengan isi buku.

"Ciel, kau manis juga ya…" tanpa sadar, Alois menggumamkan isi pikirannya saat memandang Ciel.

Ciel yang sedari tadi membaca, kali ini menoleh cepat kearah pemuda berambut blonde tersebut. Iris sapphire Ciel terbelalak, mendengar ucapan Alois yang terdengar seperti pujian. "Apa maksudmu?" tanya Ciel dengan nada terkejut.

Alois yang mendapat pertanyaan seperti itu, menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. 'dammit!' Alois mengutuk dirinya sendiri yang telah mengatakan isi pikirannya.

Alois POV

Apa yang kukatakan?! Dasar bodoh! Jika sampai Ciel tau aku menyukainya, aku yakin dia pasti membecinku!

Eh tunggu, aku bilang apa? Aku menyukai Ciel?

Oh God! Aku bahkan sudah tertarik padanya saat kami pertama kali bertemu. Ah, dia memang gadis yang unik! Aku masih ingat, sekitar seminggu yang lalu, dia dan Sebastian bertengkar saat kami di kafetaria. Dan wajah kesal Ciel itu…

Benar-benar manis

Entah, semenjak kejadian itu, aku jadi suka mencuri-curi pandang kearah Ciel yang sedang belajar dikelasnya saat aku berjalan melewati koridor kelasnya. Dia manis, tapi sulit untuk didapatkan.

"Alois? Kau baik-baik saja?" tanya Ciel melambaikan tangannya tepat didepan wajahku. Akhirnya, dia memanggil nama kecil ku juga. Yah, dia memang gadis yang aneh tapi imut. Terkadang, ia memanggil namaku dengan tambahan senior, tapi setelah itu dia hanya memanggil namaku saja. Yah, walaupun tidak sopan, tapi aku tidak keberatan.

"Ah, aku tidak apa-apa kok" Aku tersenyum canggung. Dibalik senyumanku itu, aku dapat merasakan panas menjalar leherku, sementara detak jantungku sudah berdetak lebih cepat saat aku melihat Ciel. Jangankan berdua seperti ini, saat aku melihatnya dengan lizzy dan adik Lau yang bernama Ran Mao itu, aku juga merasakan detak jantungku yang semakin cepat.

Ah, apakah ini rasanya mencintai seseorang?

"Oh ya," suara mungilnya yang merdu, membuyarkan lamunanku. "Kau masih belum menjawab pertanyaanku. Apa maksudmu tadi?" tanyanya menatapku penuh tanya.

Aku diam. Apa yang harus kujelaskan padanya? Oh, betapa bodohnya aku!

"itu…"

Aku menarik nafas panjang, sementara Ciel menatapku penuh selidik

"Aku…"

Oh, benar-benar sulit rasanya

"Sebenranya, menyukaimu"

.

.

TBC

Chapter 4 akhirnya selesai juga

Uhm, maaf kalo Chapter 4 nya saya edit karena saya tidak mau fict saya berubah menjadi dramatis. Tapi terimakasih sudah review, dan menunggu chapter ini.

Namika Rahma : Terimakasih telah review. Chapter 4 ini saya udah jawab pertanyaannya. Yah walaupun awalnya saya agak kerepotan mencari ide, dan akhirnya selesai juga. Terimakasih telah nunggu cerita saya, dan saya sudah usahakan Update kilat

Namika Rahma: gomen, saya harus edit ulang. Soalnya agak dramatis yang sebelumnya. Ya, akhirnya sedikit saya ubah. Saya meminta maaf sebesar-besarnya, dan saya usahakan nanti Update nya bener-bener kilat! Dan untuk pertanyaan barusan, Ciel memang sukanya sama Sebastian. Karena memang Ciel dan Sebastian adalah pasangan (Yaoi di animenya) sejati~

Dan yang lain, tolong review nya! Jika ada kesalahan, seperti typos dll, kalian bisa review

Tunggu chapter selanjutnya~