Warning: typo, ooc, Femciel, geje
SebastianxCielxAlois

Disclaimer: Kuroshitsuji adalah milik Yana Toboso-sensei
Saya disini hanya meminjam beberapa character saja

Halo Mina~ Chapter 5 udah UPDATE! Saya sangat berterimakasih bagi para readers yang sudah nunggu kelanjutan cerita saya. Tapi saya juga berharap, reader mau kasih kritik dan saran dengan reviewnya~

Happy Reading~

Don't like don't read!

Chapter 5;

Ciel POV

"Aku…"

"Sebenarnya, menyukaimu"

Iris sapphire ku terbelalak. Apa yang Alois katakan? Dia menyukaiku?

Aku menggigit bibir bagian bawahku, wajahku tertunduk malu. Aku yakin wajahku sudah merah padam saat ini, tapi aneh. Jika aku juga menyukai Alois, kenapa rasanya aku tidak merasakan apa-apa?

Oh demi tuhan! Aku tidak tau harus menjawabnya seperti apa. Jika aku menolaknya, itu sama saja menyakiti hati Alois. Tapi, aku sama sekali tidak mencintainya. Apa yang harus kulakukan?

Aku hanya menunduk, menutupi wajahku dibalik rambut kelabuku. Aku tidak bisa menatap Alois lagi! Aku tidak bisa menjawab pernyataan cintanya!

"Aku…" Aku menggumam pelan.

"Aku tau, kau tidak mencintaiku'kan?" Aku mendongak, dan dapat kurasakan kesedihan yang terbesit pada wajahnya. Ia tersenyum, tapi aku tau itu senyum pahit karena aku tidak bisa menerima cintanya. Aku merasa bersalah saat ini.

"Maaf, bukannya aku tidak ingin menerima cintamu. Aku,… aku tidak bisa menjawabnya" aku menunduk.

Ia lalu beridiri, dan mengusap rambutku dengan lembut. "Sudahlah Ciel, kau tidak harus menjawabnya sekarang kok" ujarnya. "Lagipula aku tau, kau tidak menyukaiku. Tapi,…" dia memberi jeda pada kalimatnya. Aku mendongak, karena penasaran. Ia tersenyum lembut, "Tapi kuharap, ini tidak mengubah persahabatan kita" ujarnya.

Aku mengangguk, membalas senyumnya dengan senyum yang sedikit canggung. Kenapa aku jadi canggung seperti ini? Seminggu terakhir, aku memang dekat dengan Alois. Yah, dia memang yang paling 'normal' dari teman-temannya. Berbicara tentang 'kenormalan', aku jadi ingat si mesum itu.

Aku tersentak sendiri, kenapa aku memikirkan Sebastian?

Oh tentu saja bukan karena aku menyukainya! Itu karena dia'lah yang paling aneh dari yang lain!

Tapi, semakin aku membencinya, aku jadi semakin mengingatnya. Aku menggelengkan kepalaku, mencoba menghilangkan pikiran tersebut. Oh, aku TIDAK AKAN dan JANGAN SAMPAI menyukai si wajah mesum itu!

"Kau tidak apa-apa, Ciel?" Aku dapat mendengar suara Alois yang berjalan menelusuri koridor sekolah. Ia menatapku, sedikit hawatir.

"Aku tidak apa-apa kok" jawabku tersenyum tipis.

End Ciel POV

.

.

Sebastian menatap keluar jendela, seperti biasanya. Sepertinya, dia sering melamun akhir-akhir ini. Oh, Apa itu karena Ciel? Apa dia benar-benar mencintai Ciel? Ia sendiri merasa frustasi jika harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus ia lontarkan pada dirinya sendiri.

Sementara itu, Claude dan Lau hanya memandang kearah Sebastian dengan tatapan prihatin pada sahabatnya tersebut. Entah sejak kapan, mereka berdua sudah menganggap itu sebagai kebiasaan baru Sebastian. Lagipula mereka juga tidak bisa memaksa Sebastian untuk cerita lebih banyak, jika mereka tidak ingin cari mati.

Tidak lama setelah itu, Alois tampak memasukki kelasnya dengan seseorang yang berjalan disampingnya. Dia adalah… Ciel?

"Kau boleh masuk, tenang saja~" ujar Alois dengan nada santai, sembari menarik tangan Ciel agar ikut masuk dengannya. Ciel sedikit tersentak karena gerakan tiba-tiba itu, tapi ia hanya bisa pasrah.

Alois membimbing Ciel menuju bangku pemuda berambut blonde itu, dengan menggenggam tangannya? Dan itu berhasil membuat gadis-gadis yang ada dikelas berbisik-bisik, sembari menatap kearah Ciel. Yah, walaupun hanya berbisik, tapi tetap saja suaranya cukup untuk didengar Ciel dan Alois. Sebagian dari gadis-gadis itu berbisik 'Apa dia pacar Alois?' sementara yang lain juga berbisik, 'gadis itu beruntung mendapatkan pacar seperti Alois' dan tentu saja, mereka mengatakannya dengan nada iri.

Ciel merasa jengah, mendengar semua bisikan tersebut. "Jangan dengarkan mereka" bisik Alois disela aktifitasnya. Ciel mengangguk pelan.

Lau terbelalak dengan kedua sejoli itu, sementara Claude hanya berwajah datar. Pandangan Lau dan Claude tertuju pada Alois dan Ciel yang tampak seperti… sepasang kekasih? Jadi berita yang baru saja menyebar keseluruh penjuru kelas ini benar? Bahwa Alois dan Ciel sudah pacaran?

Sementara itu, apa yang terjadi pada Sebastian?

Jangan ditanya lagi, saat ini tubuhnya membeku. Iris crimson Sebastian membulat, tapi ia tidak menoleh kearah mereka. Pandangannya tetap tertuju pada jendela, tapi pikirannya sudah kembali kedunia nyata. Sebastian sama sekali tidak menoleh. Wajahnya datar dan dingin. Tapi dibalik semua itu, terbesit rasa sedih? Dan entah sejak kapan, Sebastian merasa dadanya sedikit sesak?

"Wah! Rupanya kalian sudah pacaran ya? Kenapa tidak bilang-bilang jika kalian sudah jadian?" tanya Lau dengan wajah senang, dan sedikit menggoda.

"i-itu tidak be_" kata-kata Ciel terpotong, saat Alois menatapnya penuh arti. Well, itu membuat Ciel tidak bisa berkata apapun. Sebenarnya Alois sudah mengatakan cintanya pada Ciel. Jika saja Ciel menerimanya, mungkin mereka memang –benar-benar- jadian. Sekarang jawabannya tergantung pada Ciel. Apa dia juga mencintai Alois, dan ingin menerima cintanya? Atau ia harus menolak cinta Alois?

"Tidak, kami tidak jadian kok" ujar Alois tersenyum lembut, dan itu membuat kedua temannya terbelalak. Apa? Alois? Tersenyum lembut seperti itu? Dan mereka shock, karena biasanya Alois tidak pernah tersenyum seperti itu. Walau ia adalah pemuda yang murah senyum, tapi kali ini senyumnya sedikit berbeda. Senyum itu… untuk Ciel?

"Tapi kenapa kalian mesra gitu? Atau jangan-jangan, kalian diam-diam menjalani hubungan dibelakang kami?" tanya Lau dengan tatapan penuh selidik, sementara pemuda berwajah oriental itu berhasil mendapat jitakan dari Alois dan Claude.

"Jangan berkata yang tidak-tidak, Lau!" seru Alois dan Claude bersamaan.

Claude hanya mengusap kepalanya sembari tersenyum canggung, "Ah, maaf-maaf" ujarnya menggaruk kepala yang tidak gatal. "Tapi jika kalian bergandengan tangan seperti itu, kalian pasti akan dianggap pacaran" sambung Lau.

Ciel melirik kearah Alois, sementara yang dilirik hanya tersenyum canggung. Bagaimanapun, yang menggandeng tangan Ciel adalah Alois. "Ah, itu salahku" Alois menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi sungguh, aku dan Ciel belum jadian" sambungnya.

"Apa maksudmu 'belum'?" tanya Claude. Keempat orang itu, dan termasuk Claude yang melontarkan pertanyaan itu'pun terkejut (Baca: Alois, Ciel, Lau, Claude).

Bagaimana tidak? Sejak kapan Sebastian menyimak pembicaraan tersebut? Oh, dan untuk Ciel, kenapa nada bicara Sebastian terlihat sarkastik?

Kali ini Sebastian berdiri, menatap Ciel dengan pandangan yang sulit diartikan. Tatapannya berbeda dari biasanya, dan Ciel menyadari hal itu. Tatapannya seperti… sedih? Marah? Kecewa?

"Aku tanya, apa maksudnya kata 'belum' itu?" tanya Sebastian dengan penekanan pada kata 'belum'.

Keempat orang itu memandang Sebastian dengan tatapan tidak percaya. Alois, Lau dan Claude bergidik ngeri, melihat tatapan Sebastian. Mereka tau apa maksudnya tatapan itu. Tatapan yang hanya dikeluarkan Sebastian saat marah, dan –sangat- jarang ia tunjukkan. Sementara Ciel? Iris sapphire Ciel membulat, saat Sebastian menatapnya tajam.

Entah kenapa, tatapan tajam dari Sebastian membuat hati Ciel sedikit sakit? Rasanya sedikit perih. Seperti luka akibat goresan pisau kecil yang tajam.

"Apa itu berarti, ada kemungkinan kalian akan jadian?" tanya Sebastian dengan tatapan sendu.

Ciel terbelalak kaget, karena tatapan Sebastian menuju padanya.

Kenapa Sebastian seperti itu?

.

.

TBC

Akhirnya selesai juga chapter ini. Gomen kalo ceritanya lebih pendek
Saya juga merasa ceritanya sedikit dramatis. Dan chapter selanjutnya gak bisa update kilat, soalnya saya harus belajar untuk ujian kenaikan kelas. Saya juga minta maaf, jika cerita saya semakin lama semakin ngawur. Tapi saya tidak akan membiarkan fict ini berakhir seperti fict saya yang sebelumnya.

Jika ada kritik dan saran mengenai cerita saya, tolong review nya! Saya sangat butuh review nya, jadi tolong review ya!

Saya sangat berterimakasih yang sudah review, dan yang sudah baca fict saya.