Warning: Typo, ooc, Femciel!, geje dan sebagainya
SebastianxCielxAlois (maybe)
Disclaimer: Kuroshitsuji hanyalah milik Yana Toboso-sensei
Tapi di Fict ini, saya hanya pinjem beberapa characternya
Halo Mina~
Terimakasih yang sudah menunggu kelanjutan fict geje saya. Dan sebelumnya, saya masih bisa publish cerita ini soalnya ulangan saya masih agak lama, setidaknya 2 minggu lagi.
aduh! Saya bosen belajar terus, jadinya bikin chapter baru deh~
Apa saya terlalu banyak bicara? Oke, maafkan saya, tapi sebelum membaca tolong reviewnya
Saya akan sangat menghargai review kalian
Happy Reading~
Don't Like don't read!
Chapter 6;
Sudah seminggu, semenjak kejadian itu. Ciel tidak kunjung memberikan jawaban cintanya pada Alois. Ciel merasa bingung dengan perasaannya pada Alois, tapi ia sangat berterimakasih pada pemuda berambut blonde itu karena telah –sangat- sabar menunggu jawaban darinya. Walaupun begitu, Alois tidak pernah mengungkit-ungkit mengenai jawaban Ciel, dan itu membuat Ciel merasa lega.
Sementara itu, apa yang terjadi pada Sebastian seminggu terakhir?
Entah apa yang terjadi, semenjak Sebastian melihat dan mendengar gossip bahwa Ciel dan Alois pacaran, Sebastian tidak hanya sering melamun lagi. Tapi lebih dari itu. Ia lebih sering sendirian, dibanding bersama teman-temannya (baca: Alois, Lau, Claude) Atau hampir tidak pernah lagi. Saat ia bertemu dengan ketiga temannya, Sebastian sama sekali tidak menyapa mereka. Dikelas'pun, Sebastian hanya menyimak pelajaran dan jika ia bosan ia akan memandang keluar jendela. Berbeda dengan yang sebelumnya, dia tidak tersenyum-senyum sendiri lagi. Dan ia menjadi jarang tersenyum. Wajahnya yang biasanya murah senyum –salau itu senyum palsu-, kali ini tidak menunjukan senyum sedikitpun.
Sementara itu, saat ia bertemu dengan Ciel, ia hanya memandang gadis berambut kelabu itu dengan tatapan datar dan dingin. Benar-benar tidak seperti Sebastian yang biasanya menyeringai saat bertemu Ciel.
Dan kali ini, Sebastian sedang duduk disebuah bangku taman yang kosong. Tempat ia memberikan sandwich pada Ciel yang saat itu sedang marah padanya. Wajah tampan Sebastian menengadah kearah langit, melihat langit biru cerah membentang diatasnya.
Ia tersenyum miris, mengingat kenangan saat ia memberi sandwich pada gadis itu dan itu adalah ucapan terimakasih Ciel untuk yang pertama kalinya. Yah, setidaknya Ciel tidak memaki-makinya seperti sebelumnya.
Tapi semua itu hilang. Kebahagiaan Sebastian langsung sirna, saat ia melihat sendiri bahwa Alois menggandeng tangan Ciel, dan mereka terlihat… sangat serasi?
Rasanya hanya memikirkan hal itu saja, membuat dada Sebastian sakit. Tangannya mencengkram kuat-kuat dadanya yang sesak, seakan-akan seperti ada lubang yang menganga. Wajah Sebastian menjadi lebih pucat, dan tingkahnya selama seminggu terakhir seperti mayat hidup.
Sebastian memejamkan matanya, mencoba menghilangkan rasa sakit yang ada didadanya. Tapi itu percuma saja. Rasa sakit itu tidak akan hilang hanya dengan memejamkan mata saja.
Sebastian POV
'Ciel..'
'Ciel..'
Aku terus memanggil namanya. Terus seperti itu, didalam pikiranku. Entah sudah keberapa kalinya aku memanggil namanya. Selama seminggu ini juga, aku merasa sesuatu yang menyakitkan. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi rasanya seperti sesak pada dadaku.
Rasa sakit itu membuatku ingin sendiri. Selama seminggu ini juga, aku menghindari teman-temanku. Aku merasa bersalah pada mereka, karena aku tidak menganggap pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Dan aku tau, bahwa mereka sebenarnya cemas padaku. Tapi rasa sakit ini membuatku sulit untuk berbicara.
Sakit
Sesak
Seperti ada yang mau keluar dari dalam dadaku
Aku mulai merasa hidupku mulai kosong kembali. Bahkan lebih kosong, dibanding saat aku sebelum bertemu dengannya.
Apa yang kulakukan?
Aku dapat mengingat, saat ia memandangku dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan karena aku sendiri tidak tau seperti apa perasannya saat itu. Tapi aku membalas tatapan gadis itu dengan tatapan dingin dan datar, seakan-akan aku sudah membenci anak itu. Tapi sungguh, sebenarnya bukan perasaan benci yang kumaksud. Aku tidak akan pernah bisa membencinya. Tapi mungkin, perasaan…
Cemburu?
Ya, aku cemburu! Aku cemburu saat Alois dan Ciel akhir-akhir ini dekat!
Awalnya memang aku menyangkalnya. Tapi beberapa hari setelah kejadian itu, aku mengamati Ciel. Memastikan, bahwa Ia dan Alois benar-benar tidak pacaran. Dan yang kulihat itu justru membuatku semakin sakit.
Aku melihat Alois mengantar Ciel pulang ke apartemennya, dan itu berlangsung sampai saat ini. Semakin lama aku mengamati mereka –diam-diam-, hubungan mereka semakin dekat. Aku bahkan dapat melihat senyum Ciel yang lepas begitu saja, saat ia bersama Alois.
Sementara saat Ciel melihatku?
Aku dapat melihat iris sapphire miliknya terbelalak, dan aku dapat melihat wajahnya yang.. ketakutan?
Apa benar aku membuat Ciel takut?
Dan semakin lama, aku mulai menyadari perasaan apa ini. Cemburu.
Aku sangat iri pada Alois yang dapat dicintai oleh Ciel, dan yah itu hanya pemikiranku. Walaupun tidak pasti, tapi hanya dengan melihat saja aku tau bahwa Ciel mencintai Alois. Dan begitu pula dengan Alois.
Apakah ini akan menjadi cinta segitiga? Dimana aku adalah orang ketiga yang harus tersakiti?
Aku mencintai Ciel, dan itu tidak bisa terbantahkan
Walau aku belum yakin saat pemikiran itu muncul tiba-tiba dalam otakku, tapi sekarang aku yakin.
Aku benar-benar yakin jika aku mencintai Ciel. Dan itu semakin membuatku sakit. Aku harus menerima kenyataan, bahwa gadis yang kucintai menyukai orang lain. Dan orang lain itu adalah Alois, orang yang sangat dekat denganku.
.
.
Bel istirahat yang selesai, membuyarkan lamunanku. Biasanya setelah aku mendengar suara dering bel terbut, aku langsung bergegas kekelas karena tidak ingin terlambat kekelas.
Sementara saat ini?
Aku sangat malas berjalan. Rasanya kakiku tidak cukup kuat untuk menyangga tubuhku. Langkahku begitu berat dan gontai, seperti sedang berjalan ditengah badai.
Dan aku baru masuk kekelas, lima menit kemudian. Dan itu waktu terlama yang pernah kucatat!
Aku mengetuk pintu kelasku dengan sedikit ragu. Tentu saja karena aku terlambat, dan pasti ada hukumannya jika aku terlambat kekelas.
"Silahkan masuk"
Dengan berat hati, aku melangkah masuk kekelasku. Saat ini adalah pelajaran William T. Spears, guru termuda yang ada disekolah ini, sekaligus guru yang cukup ditakuti oleh siswa-siswa lain karena kediplinannya. Yah, selama ini dia selalu memujiku sih. Tapi aku tidak yakin dengan saat ini.
"Michaelis?" tanyanya dengan nada dingin dan datar seperti biasanya.
"Maaf saya terlambat" ujarku dengan nada pasrah. Yah, aku sedang pasrah mau diberikan hukuman apa saja oleh guru ini. Lagipula itu salahku.
Ia membenarkan letak kaca matanya, terlihat dibalik bingkai kacamata itu sepasang iris hijau yang terkesan dingin. "Harus kuakui, aku memujimu selama ini, Michaelis.." dan yah, kalimat yang sudah kuprediksi akan keluar dari mulutnya akhirnya keluar juga. "Tapi, kenapa kau menghianati kepercayaanku dengan terlambat masuk kejam mata pelajaranku? Apa waktu istirahat tadi tidak cukup untukmu?!" DIa berkata dengan nada tajam dan ketus walaupun wajahnya terkesan dingin.
"Kalau begitu, keluar dari kelas saya, sampai jam pelajaran berakhir!" Ia membenarkan letak kacamatanya, sebelum pandangannya beralih kearah papan tulis. Dan itu pertanda bagiku agar keluar dari kelas.
End Sebastian POV
Normal POV
Sebastian berjalan meninggalkan kelas degan wajah datar, seakan-akan tidak ada yang terjadi. Dan itu berhasil membuat semua yang ada dikelas, termasuk ketiga sahabat Sebastian terbelalak kaget. Yang benar saja, Sebastian? Diusir dari kelas? Kenapa murid yang selalu mendapat nilai sempurna dan disukai semua guru itu diusir dari kelas? Dan Sebastian hanya terlihat biasa-biasa saja?
Hal pertaman yang Sebastian pikirkan adalah, ia akan kembali ditaman lagi. Melanjutkan lamunannya tadi.
Apa yang terjadi pada Sebastian? Kenapa hanya karena Ciel dia bisa menjadi seperti mayat hidup? #perumpamaannya sedikit berlebihan.
Dan saat ini, Sebastian kembali menengadah kelangit membiarkan helaian rambut hitamnya bergerak-gerak karena hembusan angin. Matanya terpejam, menahan rasa sesak pada dadanya.
Sebastian POV
Jadi inikah kenapa orang-orang mengatakan 'cinta itu menyakitkan'?
Aku tersenyum miris, mungkin kutujukan pada diriku sendiri. Aku mengasihani diriku yang telah mencintainya.
Tidak!
Aku tidak akan menyesal telah mencintai Ciel!
Yang harus kulakukan hanya membiarkan Ciel bahagia dengan Alois. Yah, itu yang terbaik. Membiarkannya bahagia, tak peduli sesakit apa hatiku saat ini. Dan juga…
"Aku tak akan pernah menyesalinya" aku bergumam lebih pada diriku sendiri.
Aku masih memejamkan mata.
Wajah mungilnya tampak jelas didalam benakku. Rambut kelabunya yang panjang, rasanya ingin kuusap. Wajahnya manis seperti boneka, tapi dibalik itu dia adalah gadis temperamental yang pernah kukenal. Dan yang paling membuatku hanyut adalah iris sapphire miliknya. Begitu dalam, lebih dalam dari samudra dimanapun.
Aku mulai merindukannya
Ciel pasti takut padaku
"Sebastian"
Ah, sepertinya aku terlalu mrindukannya hingga suaranya dapat kudengar dengan jelas. Suara yang begitu merdu, membuatku tidak bosan untuk mendengarnya setiap hari.
"Sebastian?"
Apa aku terlalu larut dalam kecemburuan ini? Sampai-sampai aku berhalusinasi untuk yang kedua kalinya? Atau ini nyata?
"HEY SEBASTIAN!"
Dan aku yakin suara itu nyata.
Aku membuka mataku perlahan. Walaupun aku sempat menebaknya, tapi tetap saja aku terkejut mendapati sosok yang selalu ada didalam benakku kini berdiri dihadapanku. Apa ini mimpi?
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, sementara dia masih memandangku heran.
"Kau kenapa Sebastian? Bahkan aku harus memanggilmu tiga kali!" tanpa kusuruh, Ciel duduk disebelahku? Apa yang ia lakukan disini, bukankah ini masih jam pelajaran? Apa dia bolos?
"Kau bolos?"
Ah, kenapa suaraku terkesan datar dan dingin sih?! Padahal Ciel adalah gadis yang kusuka, tapi kenapa aku tidak bisa bersikap lembut padanya? Jauh berbeda dengan yang dilakukan Alois.
Ya, Alois
"Tidak kok!" ia membantahku seperti biasanya.
Aku benar-benar merindukan omelan itu.
"Lalu kenapa kau ada disini? Jika ada guru yang tau, kau pasti dihukum" Aku mengulum senyum tipis. Entah kenapa, rasa sakit ini sedikit berkurang.
"Kau tidak sakit?"
"Apa maksudmu?"
Apa katanya? Aku sakit? Kenapa dia mengira aku sakit?
"Kau tau? Seminggu terakhir kau seperti mayat hidup! Kau selalu menjauh dari ketiga sahabatmu! Dan kenapa kau menatapku dingin seperti itu?! Apalagi saat aku sedang bersama Alois"
Rasa sesak ini kembali muncul. Wajahku yang awalnya tersenyum, berubah menjadi dingin.
Ciel. Kenapa kau hanya menyebut namanya saja? Kenapa bukan namaku yang kau sebut? Kenapa hanya Alois? Apakah sebegitu besarnya cintamu padanya? Sehingga yang kau lihat hanya Dia?
Oh tuhan, apa lagi yang harus kulakukan? Rasanya sangat sakit
"Dan kau juga harus tau…" suaranya melembut. Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi, karena kau tau dia akan bilang Alois juga menghawatirkanku. Oh kalau itu, kau tidak usah mengatakannya Ciel! Aku juga tau!
Tapi aku membiarkan Ciel kesempatan melanjutkan kalimatnya, walau aku tau apa yang akan ia katakan. Karena semua tebakanku –selalu- benar dalam menebak apa yang lawan bicaraku akan katakan.
"Aku sudah menanyakan kabar berkali-kali pada sahabatmu, termasuk pada Alois yang katanya dekat denganmu. Dan yang kukatakan adalah, 'Apa si muka mesum itu baik-baik saja?' dan 'kenapa kalian tidak menghawatirkannya?'. APA KAU TIDAK BISA BERHENTI MENJADI SEPERTI MAYAT HIDUP, SEBASTIAN?" iris crimson ku tebelalak mendengarnya.
Apa? Ciel menghawatirkanku? Sesering itukah ia memperhatikanku? Kupikir yang ia perhatikan hanya… Alois?
"Ciel," aku sengaja memberi jeda sejenak. "Kau sering memperhatikanku?" aku bertanya sedikit ragu.
Ia mengangguk pelan. "Kau membuatku takut" ujarnya.
Aku tersentak
"Aku takut kau marah padaku. Kau tidak marah'kan?" aku menjawabnya dengan menggeleng.
"Memangnya kenapa aku harus marah?"
"Kau tidak sadar'huh?! Saat aku menatapmu, kau malah menatapku dengan tatapan dingin begitu! Bagaimana aku mengira, jika kau tidak marah?"
Suaranya sedikit bergetar. Aku dapat melihat cairan bening bertengger pada sudut matanya. Segera kurengkuh tubuh mungilnya kedalam pelukanku. Aku sudah tidak dapat berpikir apapun lagi.
"Maaf"
Hanya itu yang terlontar untuk menyatakan rasa bersalahku.
.
.
TBC
Ah! Akhirnya selesai juga~
Saya mau minta doa bagi para readers biar saya bisa belajar yang tekun (Tapi gimana bisa belajar yang tekun kalo bikin fict terus?) Dan saya juga berharap, reader yang juga ulangan dan bagi senpai kelas Sembilan, gambate untuk UN nya!
Terimakasih buat yang udah baca fict geje saya. Tapi jangan lupa untuk review nya. Saya sudah menunggu review kalian loh!
Guest: Gomen kalo cerita saya terlalu berbeli-belit. Saya juga berterimakasih jika reader-san udah baca cerita saya. Dan saya juga senang jika reader-san suka cerita saya, dan saya usahakan biar tidak berbelit-belit.
Oke, hanya itu dari review kali ini. arigato yang sudah review dan baca fict saya
Jangan Lupa bagi reader yang lain buat review nya
Gomen kalo fict ini berbelit-belit
Jaa nee~
