Warning: Typo, ooc, Femciel!, geje dan sebagainya
SebastianxCielxAlois (maybe)

Disclaimer: Kuroshitsuji hanyalah milik Yana Toboso-sensei
Tapi di Fict ini, saya hanya pinjem beberapa characternya

Hallo Minna~
Gimana ceritanya? Semakin berbelit-belit tentunya. Saya juga tidak tau, kenapa genre saya berubah menjadi drama? Itu masih menjadi misteri~

Dan terimakasih buat yang sudah menunggu cerita saya, saya harap banyak yang review. Soalnya saya sangat hobi balesin review. Tapi masih sedikit yang review (-_-)

Baik, cukup basa-basinya

Happy reading~

Don't like don't read!

Chapter 7;

Still Sebastian POV

Kurengkuh tubuhnya dalam dekapanku. Aku tidak tau, tapi hanya ini yang bisa kulakukan. Aku tidak ingin Ciel menangis, apalagi hanya karena aku.

"Maaf"

Hanya itu yang dapat kukatakan untuk mewakili rasa bersalahku padanya.

Oh, kenapa aku bertindak sebodoh ini? Membiarkan Ciel menghawatirkanku? Sementara aku bersikap dingin padanya, padahal jelas-jelas aku mencintainya.

Jika Ciel menghawatirkanku, itu berarti…

"Bagaimana hubunganmu dengan Alois?" tanyaku dengan suara lembut. Tanganku mengusap helaian rambut kelabu yang yang terasa lembut. Oh, sungguh ini adalah hal yang paling kuinginkan selama ini. Membiarkan Ciel mendekap dalam pelukanku, sementara tanganku bergerak-gerak mengusap rambutnya yang lembut.

Rasanya sangat menyenangkan, seperti mengusap bulu anak kucing.

Blusshhh~

"Sudah kubilang, kami tidak pacaran bodoh! Dan jangan mengambil kesempatan untuk peluk-peluk, dasar mesum!"

Aku sweatdrop seketika.

Akhirnya dia menjadi gadis temperamental yang kukenal lagi. Walaupun begitu, aku rindu sosoknya yang seperti itu. Rasanya ingin sekali menggodanya, seperti dulu.

"Tapi tadi kau mau saja? Kau juga bilang menghawatirkanku, itu berarti kau menyukaiku ya~" Aku menyeringai, tapi dibalik semua itu aku berharap Ciel mengatakan 'iya'

Ciel membuang muka dariku, wajahnya tampak kesal tapi… Wajahnya merah padam saat ini! Oh, sungguh manis! Aku jadi ingin menggodanya terus menerus.

"Siapa bilang aku menghawatirkanmu karena aku menyukaimu?! Aku hawatir karena kau itu seperti mayat hidup! Muka mesum!"

Ah, walaupun ia mengelak sebanyak apapun, aku dapat melihat wajahnya merah padam seperti tomat.

Kawaii~

"Lagipula, kau tidak bersama teman-temanmu lagi? Alois bahkan sangat menghawatirkanmu"

Lagi-lagi Ciel menyebut namanya. Alois, Alois, dan Alois. Kenapa hanya nama itu yang dia ingat? Apa dia menyukai Alois? Seperti yang kupikirkan selama ini?

"Kenapa kau selalu membahas tentang Alois? Apa kau menyukainya?" terbesit rasa cemburu saat aku menanyakannya.

Iris sapphire Ciel melebar, dan itu kuanggap sebagai jawaban bahwa ia terkejut bagaimana aku bisa tau perasaannya yang sesungguhnya.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Aku harus menjawab apa? Oh, ini benar-benar sulit. Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya, bahwa aku cemburu saat ia berdua dengan Alois?

"Jika tidak mau menjawab, tidak apa-apa. Lagipula…" aku memberi jeda pada kalimatku. Aku menelan ludah dengan susah payah. "Aku sudah tau jawaban apa yang akan kau lontarkan"

Aku bangkit berdiri. Saat ini aku membelakangi Ciel yang masih duduk.

"Sebentar lagi jam selanjutnya dimulai, aku ingin masuk kekelas. Kau juga tidak masuk kekelas mu, Ciel?" aku bertanya sembari berjalan meninggalkan Ciel.

Rasanya langkahku sangat berat meninggalkannya, tapi kaki ini menghianatiku. Aku ingin bersamanya, tapi rasa cemburu ini membuatku harus pergi. Setidaknya aku membutuhkan waktu untuk sendiri.

End Sebastian POV

Normal POV

Sebastian berjalan meninggalkan Ciel yang masih duduk dibangkunya. Iris sapphire Ciel tertuju pada punggung sang raven. Matanya tebelalak, sementara ia merasakan sesuatu yang ada didalam dadanya. Rasanya seperti… sesak?

Mata Ciel masih tertuju pada tempat terakhir kali Ciel melihat Sebastian sebelum pemuda itu menghilang dari pandangannya. Saat ini ekspresi Ciel tidak bisa dijelaskan lagi.

Ciel lalu kembali kedalam kelasnya, sebelum dia mendapatkan hukuman karena izin ke toilet tapi tidak segera kembali. Yah, awalnya dia memang ingin ke toilet, tapi saat mau kembali kekelasnya, ia melihat Sebastian ada ditaman, tempat Ciel saat sedang menahan laparnya dan tiba-tiba Sebastian datang dengan sepotong sandwich.

Oh, itu sungguh kenangan yang menyenangkan!

Sebastian masih seperti biasanya, tidak seperti saat ini.

Yah, semenjak kejadian itu, Sebastian berubah menjadi aneh. Kejadian saat Alois menggandeng tangannya didepan anak-anak yang ada dikelasnya, termasuk Sebastian.

-Flashback-

"Apa maksudnya kata 'belum'itu?"

"Apa maksudmu, Sebastian?"

"Kau pasti tau maksudku, Alois"

Alois merunduk, sebenarnya ia tau apa maksudnya. Pandangan Sebastian berganti kepada Ciel.

"Aku tau, sebenarnya gadis yang kau sukai adalah Ciel'kan?"

Alois hanya menunduk, sementara wajahnya sudah ditumbuhi rona pink.

"Dan kau pasti tau maksud dari kata 'belum' itu'kan?"

Setelah mengatakan hal itu, Sebastian keluar dari kelas. Meninggalkan Ketiga temannya-minus Alois yang masih merunduk- dan Ciel yang berwajah cengo.

Dan seketika, pertanyaan yang sama muncul pada benak mereka bertiga –minus Alois

'Apa yang terjadi pada Sebastian?'

-End Flashback-

Ciel masuk kedalam kelasnya. Suasana dikelasnya cukup ramai, karena tidak ada guru yang ada disana. Tentu saja, itu karena ini adalah pergantian jam pelajaran.

Betapa beruntungnya Ciel, karena guru yang masuk selanjutnya masih belum masuk. Jika tidak, Ciel akan mendapat hukuman karena dianggap telah bolos selama pelajaran.

Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Fisika yang diajar oleh Charles Fipp. Ia dikenal sebagai guru yang kurang suka bergaul dengan murid-muridnya, membuat kesan bahwa ia adalah guru yang misterius.

Selama pelajaran berlangsung, Ciel hanya melamun keluar jendela. Biasanya Ciel selalu antusias dalam pelajaran Fisika karena ia memang suka pelajaran tersebut, tapi kali ini berbeda. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dalam pelajaran. Walaupun ia melamun, sebisa mungkin Ciel mencatat beberapa hal penting yang dijelaskan Charles Fipp.

Ciel benar-benar frustasi

Kenapa ia seperti itu?

Dan jawabannya adalah sikap Sebastian barusan.

Ciel POV

Kenapa dia seperti itu? Apa dia marah padaku? Kenapa dia seperti itu akhir-akhir ini?

Aku tidak tau, tapi…

Aku mohon, ia akan baik-baik saja. Walaupun ia bersikap dingin padaku, tapi kilatan pada matanya menunjukan kesedihan.

Aku masih ingat saat dia memelukku, rasanya…

Hangat.

Aku merasa panas menjalar pada wajahku saat mengingatnya, sementara detak jantungku berdetak semakin cepat. Oh god, kenapa dengannya? Aku ingin tau apa yang membuatnya bersikap seperti itu, dan… Apa dia membenciku?

Apa aku membuatnya sakit?

Oh! Ada apa denganmu, Ciel?! Kenapa kau jadi seperti ini?! Sadarlah! Si mesum itu…
Dia…

"Ciel kau tidak apa-apa?" tanya Ran Mao.

Bagus! Semenjak kapan aku jadi suka melamun seperti ini? Apa aku mulai tertular dengan penyakit si mesum itu?!

"Aku tidak apa-apa" Jawabku tersenyum tipis. Sangat tipis, setipis benang laba-laba mungkin.

Ran Mao mengangguk, lalu pandangannya kembali tertuju pada Charles Fipp, guru Fisika yang sedang menerangkan beberapa rumus.

Aku kembali kedalam lamunanku. Entah apa yang sebenarnya membuatku menjadi seperti ini. Apa itu karena Sebastian? Oh, kenapa aku jadi sering memikirkannya? Kenapa dia melihatku dengan pandangan seperti itu? Apa dia membenciku?

Pertanyaan yang sama berputar didalam otakku.

Aku hanya menghabiskan sisa jam pelajaran ini hanya dengan melamun. Entah kenapa, aku sedang tidak mood untuk memperhatikan pelajaran.

Yang kupikirkan saat ini adalah…

Sebastian?

'Ch! Kenapa aku harus memikirkannya? Bukankah dia membenciku?' aku membatin, tapi semakin lama aku memikirkannya, dadaku terasa sesak. Yah, Sebastian membenciku karena alasan yang tidak bisa kuketahui. Apa itu?

Aku mulai berpikir, sesuatu yang kira-kira membuat Sebastian membenciku.

Dan…

Ah! Aku rasa banyak hal yang kulakukan sehingga membuatnya marah!

Aku selalu mencemoohnya, memanggilnya dengan sebutan 'si wajah mesum', selalu memandangnya dengan tatapan tajam, berbicara kasar padanya. Dan banyak yang aku sendiri juga lupa.

Agh! Kenapa aku jadi merasa bersalah begini padanya? Walaupun aku selalu berbicara kasal dengannya, tapi aku sudah menganggapnya sebagai… Yah, teman mungkin?

Bel pulang sekolah membuatku tersentak.

Apa? Sudah waktunya pulang? Apa aku terlalu larut dalam lamunanku sehingga aku tidak sadar jam berapa sekarang?

"Ciel? Kau tidak apa-apa?"

Ah! Itu suara Lizzy? Bagaimana dia bisa ada disini?

Oh tuhan! Bahkan sekarang kelas sudah sepi. Hanya kita bertiga, termasuk Lizzy yang terpaksa masuk kekelasku. Apa aku dibuat gila oleh Sebastian? Hanya melafalkan namanya saja aku merasa… senang?

"Aku tidak apa-apa Liz! Maaf, aku melamun" aku berusaha berkata dengan nada ceria dan senyum yang bisa dibilang well, hanya senyum palsu.

"sedari tadi kau melamun terus saat pelajaran" Ran Mao menambahkan.

"Aku hanya merasa bosan dengan pelajaran hari ini" aku menanggapi sembari senyum –dipaksakan

"Kalau begitu, ayo" Lizzy berkata, dengan raut wajah yang sedikit ragu. Oh, apakah wajahku terlihat sangat dipaksakan? Apa dia tau, jika aku hanya berpura-pura?

.

.

Kami bertiga berjalan menuju halaman depan sekolah, tempat biasanya kami menunggu jemputan. Atau bisa dibilang, Lizzy dan Ran Mao saja yang dijemput.

Seperti biasanya pula, ketiga sahabat Sebastian –minus Sebastian- sudah beridiri didekat gerbang sekolah. Aku dapat melihat Alois datang menghampiriku, wajahnya terlihat ceria seperti biasanya. Aku hanya membalas dengan senyum –dipaksakan-

"Hey Ciel, kau mau pulang bersama lagi?" tanya Alois dengan wajah berseri-seri. Dan yah, sebenarnya aku sedang tidak ingin ditemani siapapun. Tapi melihat wajahnya itu membuatku harus menjawab…

"Baiklah"

"Hey kalian berdua, kami pergi dulu ya jaa, ne~" Lau melambai kearah kami dari jauh. Yah, tentu saja dengan Ran Mao yang memasang wajah stoic yang ikut melambaik kearah kami.

"Aku pergi duluan ya Ciel, dan Alois-senpai! Sampai jumpa"

Dan kini Lizzy juga ikut pulang, meninggalkan aku dan Alois sendirian.

.

.

Kami berjalan beriringan. Suasana menjadi sedikit canggung. Aku hanya sibuk melamunkan… Sebastian lagi? Ah, apa dia marah padaku? Atau bahkan ia membenciku?

"Ciel?"

Aku tersentak

Aku menoleh cepat kearah Alois yang saat ini memandangku dengan wajah yang sedikit… merona? Apa yang akan ia katakan? Apa dia ingin meminta jawabanku? Oh tidak! Aku belum siap untuk itu! Waktu yang Ia berikan memang cukup lama, tapi aku masih tidak mengerti perasaan apa yang kurasakan padanya.

"Ada apa?" tanyaku berharap ia tidak menanyakan hal itu, dan…

"Bagaimana dengan jawaban atas pernyataan cintaku?"

Oh tidak! Itu sungguh terjadi!

Aku tidak bisa menjawabnya

Ah, kenapa aku justru berharap Sebastian lah yang mengatakan hal itu padaku? Sungguh, rasanya sangat berbeda saat bersama Alois dan Sebastian.

Saat bersama Alois, aku tidak merasakan apapun. Ranya biasa saja, walau terkadang dia memberiku perlakuan yang cukup –dibilang lebih dari sekedar teman. Sementara saat bersama Sebastian? Hanya dengan menatap iris crimsonnya saja membuat jantungku berdetak cepat. Walaupun aku selalu mencemoohnya, tapi dibalik semua itu aku sebenarnya menutupi rasa gugupku pada Sebastian.

"CIel?" suara Alois membuyarkan lamunanku.

"Ah, a-aku…" ujarku terbata-bata.

"Kenapa kau ikut-ikutan suka melamun seperti Sebastian?" tanyanya, membuatku terbelalak kaget. Hanya dengan mendengar namanya saja, membuat wajahku terasa panas. "Jika kau tidak bisa menjawabnya, aku bisa menunggumu. Aku akan selalu menunggumu, sampai kau menjawab 'ya' my dear"

Oh god! Bisakah kau bunuh saja aku?!

Aku tidak yakin, aku akan mengucapkan 'ya' itu. Apa dia akan menungguku selama itu, sampai aku mengatakannya?

"Alois" aku memanggil namanya. Ia berbalik, menatapku dnegan senyum penuh arti.

"Kenapa kau menyukaiku?" tanyaku dengan suara yang –sebisa mungkin- kutahan agar tidak bergetar.

"Aku tidak tau. Rasanya aneh, setelah aku menemuimu di kafetaria itu aku selalu mengamatimu. Dan dengan melihatmu saja aku merasa, jantungku berdetak cepat. Selain itu, saat melihat wajahmu yang manis itu, aku merasa wajahku memanas" jelasnya dengan wajah yang tak bisa kuartikan lagi.

Tapi yang Alois katakana itu, sama seperti yang kurasakan akhir-akhir ini.

Aku selalu merasa berdebar-debar saat menatap iris Sebastian terlalu lama. Terkadang, aku memikirkannya. Apa yang ia lakukan? Apa ia membenciku? Dan itu membuatku terasa sesak. Saat ia memelukku seperti kemarin, aku merasa wajahku memanas disertai dengan debaran aneh didalam tubuhku.

Satu hal yang ingin kuketahui

Apa aku mencintai Sebastian?

"Kenapa kau bertanya seperti itu, Ciel?" tanya Alois

Aku menggeleng pelan, sembari tersenyum –dipaksakan. "Aku,… Aku tidak bisa menjawabnya… Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri"

"Tenanglah, masih ada banyak waktu untuk menjawabnya. Setidaknya sampai kita lulus kuliah pun aku akan menunggu jawaban itu" ujarnya

Aku menelan ludah dengan susah payah. Alois benar-benar serius dengan perkataannya? Oh tuhan! Apa ia akan tetap menungguku, setelah ia mengetahui justru aku mencintai sahabatnya sendiri? Bagaimana jika ia tau aku mencintai Sebastian?

Aku hanya tersenyum canggung

Tidak terasa, kami telah sampai didepan gedung apartemenku.

"Kalau begitu, sampai jumpa besok disekolah, my dear"

Tanpa meminta izin, Alois mencium keningku. Aku malu sekaligus marah.

"Hey! APA-APAAN KAU INI?!" aku berteriak padanya, sementara dia hanya tersenyum.

"Itu adalah hukuman karena kau yang sangat lama menunggu jawabanku"

Ia berlari sembari tertawa. Yah, sebenarnya apa sih maunya dia? Mencium keningku seenak jidatnya saja!

End Ciel POV

Normal POV

Tanpa Ciel sadari, sepasang iris crimson sedari tadi memperhatikan mereka dibalik kaca mobil.

Sebastian menggigit bibir bagian bawahnya, sementara iris nya menunjukan kilatan amarah yang tertuju pada gadis berambut kelabu tersebut.

Apa yang akan dilakukan Sebastian selanjutnya?

.

.

TBC

Selesai juga chapter ke 7?

Ah, author sampe lupa ini chapter berapa. Saya memang suka pikun.
Gomen kalo ceritanya semakin mengarah ke genre drama. Apa saya ganti genre aja ya? Aduh! Saya pusing!

Arigato buat yang udah review

Ryozuke16: arigato udah review! Saya emang sadar kalo cerita ini berbelit-belit, terutama dibagian chapter awal-awalnya. Saya usahakan, setelah saya menyelesaikan fict ini sampai tamat -entah kapan itu- saya akan memperbaiki chapter awal-awal biar word nya gak kebanyakan. Saya sendiri sebagai author juga merasa pusing liat tulisan yang begitu banyak itu. Gomen, ya Ryozuke-san bisa liat chapter selanjutnya yang udah saya publish sebagai jawabannya.

Saya pasti akan melaksanakan apapun sesuai perintah (?) dari review. Oke, sampe disini dulu carita saya dan jangan lupa untuk yang belum review

Silahkan review nya~

Jaa~