Warning: Typo, ooc, Femciel!, geje dan sebagainya
SebastianxCielxAlois (maybe)

Disclaimer: Kuroshitsuji hanyalah milik Yana Toboso-sensei
Tapi di Fict ini, saya hanya pinjem beberapa characternya

Hallo minna~

Ah, maaf kalo ceritanya makin geje aja.
Saya dapet review kalo cerita ini kebanyakan basa-basinya #telat
Gomen kalo fict saya membuat mata para reader jadi sakit, sangking banyaknya tulisan.
Author sendiri juga pusing liatnya

Oke, terimakasih untuk yang udah review~

Happy reading~

Don't like don't read!

Chapter 8;

Ciel POV

Aku merebahkan diriku diatas kasur, sementara iris ku menjelajahi dinding-dinding langit. Aku menghela nafas panjang.

Saat ini yang terbayang didalam pikiranku adalah Sebastian. Pria yang sudah kusumpai, tidak akan kucintai. Tapi justru aku melanggar sumpahku sendiri. Bahwa aku mencintai Sebastian. Tiba-tiba aku memikirkan ucapan Alois tadi.

'setelah aku menemuimu di kafetaria itu, aku selalu mengamatimu'

Akihir-akhir ini, tanpa Sebastian sadari, aku sering mengamatinya.

'dengan melihatmu saja aku merasa, jantungku berdetak cepat'

Saat Sebastian menatapku, entah kenapa jantungku berdetak cepat. Tidak hanya itu, saat aku berdua saja dengan Sebastian aku akan merasakan hal yang sama

'saat melihat wajahmu, aku merasa wajahku memanas'

Saat aku melihat wajah Sebastian, aku merasa wajahku memanas. Apalagi saat ia tersenyum penuh arti padaku.

Aku mengacak rambutku, frustasi. Benarkah aku mencintai Sebastian? Lalu bagaimana dengannya? Bukankah Sebastian membenciku?

Entah kenapa, mengingat hal itu, membuat dadaku terasa sesak. Benar, jika aku mencintai Sebastian, bagaimana dengannya? Bukankah dia membenciku? Dan jika aku mencintai Sebastian, kenapa aku selalu berbicara kasar padanya? Kenapa aku tidak pernah bersikap lembut padanya? Dan kenapa aku baru sadar akan hal itu SEKARANG?!

Sesak

Rasanya aku ingin menangis, mengingat kenyataan yang pahit ini. Kenyataan bahwa Sebastian membenciku, mungkin? Jika dia tidak membenciuku, kenapa dia menatapku dingin seperti yang waktu itu?

'Seandainya ia tau perasaanku yang sebenarnya'

End Ciel POV

.

.

Normal POV

Beberapa hari kemudian

Sebastian terlihat murung. Ia hanya mengaduk-ngaduk teh nya sedari tadi, dan itu membuat ketiga temannya menatap heran.

"Kau kenapa, Sebas?" tanya Alois

Sebastian hanya diam. Pandangannya tetap sayu.

"Kau tidak sakit'kan?" tanya Lau dan berhasil mendapat dua death glare sekaligus. Dan yang pasti, salah satu darinya bukan dari Sebastian. Dia memang sedikit aneh akhir-akhir ini, tapi hari ini wajahnya semakin murung.

"Ceritakan pada kami" ujar Claude datar, tapi ada sedikit nada memaksa dari ucapannya. Sementara Lau dan Alois ikut memandangnya dengan tatapan serius.

"Akhir-akhir ini kau memang aneh, Sebastian. Tapi hari ini kenapa kau semakin murung?" tanya Alois perhatian. Tapi Sebastian hanya menjawab dengan menatapnya tajam.

'itu semua juga karena kau, Alois. Kau yang telah merebut Ciel!' Sebastian hanya membatin, dan tidak mungkin ia mengatakannya pada Alois'kan? Bagaimanapun, Alois tetap sahabatnya.

"Sebentar lagi, kita akan lulus…" Sebastian berkata dengan nada sendu. Ketiga temannya menatap Sebastian dengan wajah penuh tanya.

"Kenapa memangnya?" tanya Alois dan Claude hampir bersamaan.

"Kau tidak perlu takut kehilangan kami, Sebastian. Kita akan selalu bersama kok" ujar Lau –sedikit- pede.

"Bukan karena itu, tapi…" Sebastian menggantung kalimatnya. Ia merasa sesak pada dadanya semakin bertambah. "Orangtuaku berencana menjodohkanku, dan aku tidak tau dengan siapa aku dijodohkan" lanjut Sebastian, dan tanpa sengaja rombongan Ciel-Lizzy-Ran Mao mendengar hal itu.

'Sebastian akan dijodohkan?' batin Ciel

Iris sapphire Ciel membulat utuh, sementara tubuhnya membeku.

"Eh? Kalian rupanya" ujar Alois tersenyum pada ketiga gadis itu, dan tentu saja senyuman untuk Ciel.

"Kalian mendengarnya?" tanya Claude dan Sebastian bersamaan.

Lizzy dan Ran Mao mengangguk. Sementara Ciel hanya diam mematung.

"Ciel, kau tidak apa-apa?" tanya Alois memandang Ciel dengan tatapan penuh arti.

Ciel mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu tersenyum-senyum miris. "Ah, aku tidak apa-apa kok" Ciel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara ia berpura-pura terlihat ceria. "Dan juga, aku ingin mengucapkan selamat padamu, muka mesum! Aku tidak habis pikir, wanita itu kenapa mau dengan pria bermuka mesum sepertimu sih?" Ciel tersenyum miris. Walaupun nada bicaranya dibuat ceria, tapi semua yang melihatnya juga tau bahwa itu hanya dibuat-buat.

Ciel mati-matian menahan air matanya yang hampir meleleh saat ini

"Terimakasih" Sebastian menanggapi dengan senyum miris. Kenyataan yang sebenarnya bahwa, Sebastian tidak menginginkan perjodohan itu. Tapi kenapa justru Ciel menyelamatinya?

'Jadi kau senang, jika aku bertunangan dengan orang lain Ciel?'

.

.

Beberapa hari setelah itu

Sebastian tampak semakin murung. Ia tidak ingin perjodohan ini, dan teman-temannya tau hal itu. Tapi yang semakin membuat Sebastian merasa sesak adalah, saat Ciel mengucapkan kata 'selamat' untuk Sebastian. Memang ketiga gadis itu (Baca: Ciel, Lizzy dan Ran Mao) tidak tau jika Sebastian tidak menginginkan perjodohan tersebut.

Sementara itu, apa yang terjadi pada Ciel?

Oh, jangan ditanya lagi.

Dia benar-benar berubah 180 derajat dari sebelumnya. Ciel sering melamun, dan sikapnya menjadi semakin dingin dari sebelumnya. Dia juga tidak marah, saat Lizzy dan Ran Mao mencoba untuk menggodanya. Ciel terlihat seperti mayat hidup. Wajah mungilnya tidak pernah lagi dihiasi oleh semburat merah –entah karena marah atau malu- seperti dulu. Ciel juga semakin jarang berbicara.

Jam istirahat ini, Ciel hanya melamun seharian. Dan jika dilihat lebih dekat, terdapat cairan bening yang menggantung pada pelupuk matanya. Iris sapphire nya menatap keluar jendela dengan tatapan sayu, seakan-akan tidak ada lagi cahaya kehidupan yang selalu terpancar sebelumnya.

Lizzy dan Ran Mao menghampiri Ciel yang sedari tadi hanya duduk dibangkunya. Gadis berambut kelabu itu hanya diam, bahkan ia belum makan. Dan itu membuat kedua sahabatnya semakin khawatir.

"Ciel?" panggil Lizzy dengan wajah cemas.

Ciel menoleh, sembari menyunggingkan sebuah senyum- senyum yang dipaksakan dan justru terlihat seperti senyum pahit.

"Ada apa, Lizzy?" tanya Ciel dengan suara lembut dan senyum yang dibuat-buat tersebut.

"Kami tau, kau sedang sedih. Tapi jangan pernah berpura-pura tegar seperti itu, Ciel" celoteh Lizzy dengan wajah sendu menatap sepupunya itu.

"Aku baik-baik saja kok" jawab Ciel dengan wajah yang kembali datar.

"Kami tau, Ciel begini karena Sebastian betunangan'kan?" tanya Ran Mao dengan wajah stoic nya.

Ciel yang mengalihkan perhatiannya dari kedua sahabatnya kejendela, kali ini menoleh cepat kearah Ran Mao. Iris sapphire nya terbelalak.

"Dan kau, menyukai Sebastian-senpai kan?" Tanya Lizzy dengan tatapan sendu. Sementara itu, mata Ciel membulat.

'bagaimana mereka tau?'

"Kami tau, karena kami diam-diam mengamatimu yang sedang mengamati Sebastian-senpai beberapa hari yang lalu" ujar Lizzy, seakan-akan menjawab pertanyaan Ciel. "Dan tatapanmu dengan Alois-senpai dan Sebastian-senpai berbeda. Walaupun kau dekat dengan Alois-senpai, kau hanya menganggapnya sebagai teman'kan? Sementara saat kau menatap Sebastian-senpai, ada sesuatu yang berbeda saat kau menatapnya, walaupun kau mengejeknya seperti apapun" jelas Lizzy, yang hanya diikuti dengan anggukan Ran Mao.

Ciel hanya diam.

"Ciel, kami tau… Sebenarnya kau sedih'kan mendengar berita itu?" Lizzy berkata dengan suara lembut.

Iris emerald nya berusaha menatap kedalam sapphire yang seperti tidak ada kehidupan itu. Ciel ikut menatap Lizzy dengan tatapan sendu. Kali ini Ciel tidak berpura-pura lagi. Yang terlihat adalah perasaannya yang sesungguhnya.

Ciel membenamkan wajahnya dipundak Lizzy. Sementara Lizzy dan Ran Mao, mengusap rambut Ciel. Mereka tau, saat ini Ciel sedang menangis. Menangis dalam diam.

"Kami tau, Ciel" ujar Ran Mao berbisik.

Ciel masih menangis dipundak Lizzy, sementara Lizzy menatap Ciel prihatin sembari mengusap punggung Ciel.

"Jika ada sesuatu yang menganggumu, katakana pada kami. Jangan hanya menyimpannya untuk dirimu saja, atau itu akan membuatmu sakit" Kali ini Lizzy yang berbisik.

"Kau juga harus makan. Bagaimana jika kita ke kafetaria?" usul Ran Mao

"Jangan menangis, oke?" Lizzy mengusap wajah Ciel, beusaha menyeka air mata yang mengalir diwajah manis Ciel. Ciel mengangguk pelan, sebagai jawabannya.

.

.

Suasana kafetaria cukup ramai, karena ini adalah jam istirahat pertama. Semua meja telah terisi penuh. Lizzy dan Ran Mao sedikit kualahan, mencari-cari bangku untuk mereka.

"Bagaimana jika kita makan ditaman saja?" usul Ciel. Sementara Lizzy memandang Ciel dengan senyum cerah, sedangkan Ran Mao masih memasang wajah stoicnya. Serentak, Lizzy dan Ran Mao mengangguk setuju.

.

.

"Jadi, kenapa kau hanya mengajak ku saja Sebastian?" tanya Claude, sembari membenarkan letak kaca matanya. "Bukankah kau bisa cerita pada Alois?" sambung Claude.

"Karena masalah ini juga mengangkut Alois. Jadi tidak mungkin aku mengatakan padanya" jawab Sebastian kalem.

"Memangnya masalah apa?" tanya Claude dengan sebalah alis terangkat.

Saat ini Sebastian dan Claude sedang duduk dikursi taman, tempat Sebastian dan Ciel duduk bersama dulu.

"Gadis yang kusukai sebenarnya adalah Ciel"

Iris gold Claude membulat. Claude sudah tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya lagi. Tapi walaupun begitu, Claude hanya diam saja. Membiarkan Sebastian melanjutkan ceritanya.

"Dan aku tau, Alois mencintai Ciel. Begitu pula sebaliknya" Sebastian tersenyum pahit.

"Kau yakin Sebastian?" tanya Claude. Sebastian menoleh kearah pemuda berambut raven tersebut.

"apa maksudmu, Claude? Kau tidak percaya, jika itu benar?" Sebastian balik bertanya.

"Bukan begitu. Aku tau, Alois mencintai Ciel. Dia sendiri yang mengatakan padaku, bahwa dari awal kita semua bertemu dengan gadis itu, dia menyukainya. Tapi.." Claude memberi jeda sejenak. Sebastian menatap pemuda itu dengan wajah penuh tanya. "Aku tidak yakin bahwa Ciel juga mencintai Alois" sambung Claude.

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Sebastian sarkastik.

"Jika benar Ciel juga mencintai Alois, kenapa dia tidak langsung menerima Alois menjadi pacarnya?" Sebastian hanya diam saja.

"Mungkin saja, ia menyukai Alois tapi dia juga membutuhkan waktu untuk menjawabnya?" sela Sebastian.

"Lalu, kenapa Ciel jadi murung akhir-akhir ini? Kau tau tidak tau itu, Sebastian?"

Iris crimson Sebastian terbelalak. Apa itu benar? Kenapa Sebastian tidak memperhatikan hal itu? Bukankah ia bilang, bahwa ia mencintai Ciel? Tapi kenapa justru ia tidak sadar akan hal itu?

"Dan jika aku benar,… Ciel sebenarnya juga mencintaimu"

Entah apa yang harus dirasakan Sebastian. Entah itu perasaan bersalah, rasa lega, atau senang?

.

"Hey Ciel, kau yakin kita akan makan disini?" tanya Lizzy, sementara Ciel mengangguk sebagai jawaban. "Disini sepi loh" sambung Lizzy, sementara Ciel tidak menanggapinya. Dia justru dengan santainya berjalan menuju sebuah bangku yang ternyata sudah terisi.

"Eh, disini ada orang juga?" tanya Lizzy, menatap kedua pemuda berambut raven yang duduk membelakangi mereka bertiga.

Dan suara Lizzy, membuat kedua pemuda tersebut menoleh.

"S-sebastian senpai? Dan Claude senpai? Kenapa kalian ada disini?!" Lizzy bertanya dengan suara gelagapan. Sementara Ran Mao memegang pundak Ciel, sembari berbisik "Tidak apa, jangan dipikirkan" bisik gadis berwajah oriental tersebut.

"C-ciel" Sebastian memanggil nama gadis berambut kelabu tersebut.

Sementara yang dipanggil hanya membuang muka, seperti biasanya

.

.

TBC

Chapter 8 selesai~
Arigato yang sudah review

Untuk yang sekian kalinya, gomen dengan cerita saya yang makin lama makin dramatis aja. Saya benar-benar gak habis pikir, kenapa saya jadi romantis? *merinding sendiri*

Oke, makasih buat yang review

Dan bagi yang belum, tolong review nya. Mungkin ada kesalahan tata bahasa saya. Oke sampai disini dulu

Jaa~