Warning: Typo(s), ooc(inside), Femciel

Pairing: Sebastian x femciel x Alois (maybe)

Rated: T

Disclaimer: Kuroshitsuji hanyalah milik Yana Toboso-sensei
Tapi di fict ini saya hanya pinjem beberapa character

Halo minna~
Chapter 9 UPDATE!
Terimakasih yang sudah menunggu cerita saya, dan terimakasih buat yang sudah favorite. Semoga suka ceritanya~

Happy reading~

Don't like don't read!

Chapter 9;

"C-ciel"

Ciel membuang wajahnya, berusaha menyembunyikan semburat merah pada wajahnya.

"Apa yang kau lakukan disini, muka mesum?!" bentak Ciel masih dengan membuang mukanya.

Sebastian tersenyum simpul, melihat tingkah Ciel. Rasa sesaknya serasa berkurang saat melihat Ciel. Akhirnya dia bisa bertemu dengan Ciel. Beberapa hari terakhir, Ciel dan Sebastian memang jarang bertemu apalagi berbicara.

"Kau sendiri, kenapa ada disini, Phantomhive?" Sebastian balik bertanya dengan nada menggoda, sembari menyunggingkan seringai.

"Ah… Ano, Sebastian senpai, kami ingin makan siang disini" Lizzy angkat bicara.

Sebastian masih memandang dengan wajah bertanya, "Kenapa kalian makan disini? Bukankah kalian bisa duduk bersama Alois dan Lau?" tanya Sebastian.

"Kami tidak ingin Ciel bertemu dengan_" Kata-kata Ran Mao terputus karena Lizzy segera membekap mulut Ran Mao.

"Tidak ingin Ciel bertemu dengan siapa?" tanya Claude dengan tatapan penuh selidik, membuat Lizzy gelagapan.

"um, itu… Susah menjelaskannya" jawab Lizzy gelagapan, sementara Claude semakin menatap curiga pada gadis berambut blonde tersebut.

"Ada yang kau sembunyikan, nona Middleford?" tanya Claude menatap Lizzy curiga.

"Ah, tidak kok senpai" Lizzy masih gelagapan.

"Pasti ada"

"tidak"

"ada"

"tidak"

Dan pertengkaran kecil antara Claude dengan Lizzy, membuat Ciel kesal sendiri.

"Sudah diam kalian semua!" bentak Ciel. Lizzy bungkam seketika, sementara Claude memandang Ciel dengan wajah bertanya. Seakan menyiratkan 'apa yang kalian sembunyikan?'

"Mereka tidak ingin membiarkanku bertemu dengan si muka mesum ini! Kau puas'hah?!" Ciel berkata dengan nada sarkastik.

Sebastian terbelalak kaget, sementara dadanya terasa sesak. Apa Ciel berusaha menghindari Sebastian? Apa Ciel membenci Sebastian?

"Kenapa kalian tidak ingin Ciel bertemu dengan Sebastian? Apa kau juga tau soal ini, Ciel?" tanya Claude sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Soal itu, jangan tanyakan padaku" jawab Ciel dengan santainya. Pandangan Claude berganti kearah kedua gadis yang beradai dibelakang Ciel. "Percuma saja, bodoh! Mereka tidak akan menceritakannya. Dan jika kau tanya aku kenapa, aku tidak mau menjawabnya" jelas Ciel panjang lebar.

Sebastian berjalan mendekat kearah Ciel. Ia berlutut, berusaha menyamakan tingginya dengan Ciel sembari memegang pundak gadis itu. Iris crimson itu menatap tepat kedalam iris sapphire dihadapannya. Seakan-akan Sebastian ingin mengungkapkan perasaannya melalui kontak mata tersebut.

"Kumohon.."

Dan entah sejak kapan, Claude menarik Lizzy dan Ran Mao agar meninggalkan kedua sejoli ini berdua saja.

"Jangan menjauh dariku…"

Iris sapphire Ciel terbelalak. Lagi-lagi Ciel merasakan wajahnya memanas, sementara itu detak jantungnya semakin cepat. Perasaan aneh ini muncul lagi.

"Kenapa kau ingin menjauh dariku?" tanya Sebastian dengan tatapan penuh arti, membuat Ciel merona olehnya. Ciel hanya diam.

"apa kau benci padaku?" tanya Ciel dan Sebastian bersamaan.

Keduanya terbelalak, karena perkataan masing-masing. Setelah itu suasana menjadi hening. Entah kenapa keduanya menjadi canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan, masih mendalami pikiran masing-masing.

Sampai akhirnya suara Ciel memecah keheningan, "Sebastian… k-kenapa saat itu, kau.." Ciel berkata dengan wajah sendu. Tanpa ia sadari, cairan bening menggantung pada pelupuk matanya. "K-kau, apa kau membenciku? Apa itu karena aku selalu berbicara kasar?" Tanpa bisa dibendung lagi, air mata Ciel mengalir semakin deras.

Sebastian menatap Ciel dengan tatapan penuh arti. Tangannya mengusap air mata Ciel yang mengalir dipipinya. Perlakuan Sebastian ini, membuat Ciel merona.

"Aku tidak membencimu, dan bahkan aku tidak akan pernah bisa membencimu" ujarnya seraya mengusap wajah Ciel yang basah karena air mata.

Ciel mengerjapkan matanya beberapa kali, "Lalu kenapa?" tanya Ciel

Sebastian tersenyum lembut, "Sebenarnya, aku mencintaimu Ciel" Sebastian mengusap wajah Ciel. Sementara itu, wajah Ciel sudah merah padam seperti kepiting rebus. Detak jantungnya berdetak cepat, dan Ciel merasakan wajahnya memanas saat Sebastian mengusap wajahnya. " Apa kau ingin menerima cintaku, Ciel Phantomhive?"

"Ya"

Hanya itu yang bisa dikatakan Ciel. Hanya satu kata yang mewakili seluruh perasaannya pada Sebastian.

Sebastian langsung memeluk Ciel. Memeluknya erat-sekali- seakan Ciel adalah barang berharga yang mudah hilang.

"Tapi kau membuatku cemburu saat melihat Alois mencium didepan apartemen mu" Sebastian berkata dengan nada menggoda sembari menyeringai.

Ciel berdecak kesal, "DASAR STALKER MESUM!" Ciel berteriak, sementara Sebastian tertawa. "Apa yang lucu'huh? Dasar muka mesum!" Ciel berteriak, sementara Sebastian masih tertawa melihat wajah Ciel yang berubah menjadi merah padam. Entah karena marah atau mungkin.. malu?

"Walaupun kau bilang aku muka mesum, tapi kau tetap jatuh cinta padaku'kan?" goda Sebastian, berhasil membuat wajah Ciel berubah menjadi merah gelap.

'kawaii~' Batin Sebastian saat melihat wajah Ciel

Ciel hanya diam, kepalanya tertunduk. Bagaimanapun, Ciel memang menyukai Sebastian'kan? Bahkan mereka sudah –resmi- pacaran.

"Aku sendiri juga bingung, kenapa aku harus menerimamu'huh?" Ciel membuang mukanya, membuat Sebastian tertawa melihat 'keimutan' gadis berambut kelabu tersebut.

"Tapi, kau harus membayar nya Ciel" Sebastian berkata sembari menyeringai.

Ciel menoleh cepat menatap Sebastian dengan pandangan penuhtanya. "Membayar apa mak_"kata-kata Ciel terputus, saat Sebastian menempelkan bibirnya pada bibir Ciel. Tidak dapat dipungkiri lagi, wajah Ciel ditumbuhi dengan semburat merah. Iris sapphirenya terbelalak, melihat perlakuan –seenaknya- dari sang raven.

Sebastian mencium Ciel cukup lama. Matanya terpejam, menikmati ciuman tersebut. Sementara Ciel hanya diam, atau bisa dibilang ia juga menikmati ciuman tersebut.

Satu ciuman lembut –yang cukup lama- itu mendatar dibibir Ciel untuk pertama kalinya. Dan Sebastian adalah pemuda yang mengambil ciuman pertamanya.

Ciel mengerjapka matanya, masih mencerna apa yang terjadi barusan. Entah kenapa, kinerja otak Ciel melambat hanya karena sebuah ciuman dari Sebastian.

"Itu adalah hukuman, karena telah mencium orang lain selain aku apalagi didepanku" ujar Sebastian dengan seringai kemenangan.

"APA MAKSUDMU? ITU CIUMAN PERTAMAKU TAU! DAN KAU GUNAKAN ITU UNTUK MEMBALASKU KARENA ALOIS MENCIMKU? AKU_" teriakan Ciel terputus, saat Sebastian mengecup bibir Ciel.

Setelah itu Sebastian menempelkan telunjuknya pada bibir Ciel, agar gadis itu dapat diam. "Itu juga ciuman pertamaku, Ciel. Ciuman pertamaku hanya akan kuberikan pada gadis yang kucintai, yaitu kau" Sebastian berbisik dengan nada lembut, membuat wajah Ciel merona. Entah sudah keberapa kalinya Ciel blushing.

Dan itu karena Sebastian.

.

.

Tanpa mereka sadari, sepasang iris biru langit mengamati kedua sejoli yang sedang duduk bersama dikursi taman

Tangannya terkepal kuat, melihat apa yang baru saja ia lihat.

Bibirnya terkatup rapat, menunjukkan kemarahan dibalik semua itu. Sementara irisnya menunjukan kilatan amarah yang tertuju pada kedua sejoli didepannya.

.

.

.

TBC

Chapter 9 selesai juga~

Gomen kalo chapter ini –benar-benar- pendek soalnya saya lagi ngebut tuntasin nih fict sebelum ujian. Dan chapter ini sebenarnya saya lebih focus pada Sebastian dan Ciel yang saling menyadari perasaan mereka.

Oke, silahkan review nya~

Saya juga berterimakasih buat yang baru saja favorit cerita saya.

Jaa~