Warning: Typo(s), ooc(inside), FemCiel!

Pairing: Sebastian x femciel x Alois(maybe)

Rated: T

Kuroshitsuji hanya milik Yana Toboso-sensei

Tapi Fict ini milik saya #muahaha *ditabok*

Happy reading~

Dont like dont read!

Chapter 10;

Sesak

Itulah yang dirasakan pemuda bersurai blonde ini.

Saat ini, pemuda berambut blondr itu tengah duduk dibangkunya. Seharian ini, pemuda yang biasanya tampak ceria itupun hanya diam saja. Wajahnya yang tampak cerah dan murah senyum itu, digantikan dengan tatapan datar dan dingin. Sungguh aneh, tapi itulah yang terjadi saat ini.

"Kau kenapa? Tumben seharian ini kau hanya diam saja" komentar pemilik iris gold yang diketahui bernama Claude Fautus. Memang sih, dari teman-teman Alois yang lain, Claude lah yang paling dekat dengannya.

"..." Alois hanya membisu. Ia sama sekali tidak menanggapi perkataan Claude. Bahkan wajahnya tidak menunjukan perunahan mimik sekalipun, dan itu -sedikit- membuat Claude terkejut. Mungkin ini karena, Alois bersikap dingin seperti ini untuk pertama kalinya.

"Hey. Jawab pertanyaanku" suara Claude terdengar datar seperti biasanya. Tapi Alois tau, itu adalah nada perintah dari pria pemilik orb gold itu.

"..." Walaupun ia tau jika sahabatnya itu menuntut jawaban, tapi Alois tetap membungkam mulutnya. Ia tidam berniat menjawab pertanyaan Claude.

"Apa ini karena Ciel?"

Deg!

Hanya mendengar satu kata itu, jantung Alois langsung berdebar kencang. Rasa senang, sekaligus sedih bercampur aduk. Ia senang mendengar nama 'Ciel', tapi dilain sisi, dadanya yang sesak terasa semakin sesak.

Setelah sebelumnya Alois menatap keluar jendela, mengalihkan pandangannya dari Claude, saat ini pemuda itu menatap Claude dengan tatapan penuh arti. Claude sendiri menyadari, jika Alois sebenarnya menyukai Ciel. Bagimanapun, mereka adalah sahabat. Claude sudah hafal sikap Alois.

Waaupun Alois menyukai Ciel, tapi kenyataan berkata lain. Ciel, gadis yang selama ini disukai Alois semenjak pandangan pertama mereka, ternyata menyukai orang lain. Dan, orang itu adalah temannya sendiri, Sebastian.

Kenyataan tersebut mengingatkannya akan kejadian kemarin. Saat dimana, Sebastian mencium bibir Ciel untuk pertama kalinya. Betapa beruntungnya Sebastian, mengambil first kiss Ciel.

Ia merasa... iri

"Jadi kau melihat kejadian kemarin?" tebakan Claude benar lagi. Harus Alois akui, pria itu memang pandai menebak.

"Aku mengerti perasaanmu, tapi kau harus tau bahwa Ciel dan Sebastian saling mencintai" Claude -dengan seenaknya- duduk diatas meja Alois. Sementara Alois sendiri hanya diam menunduk.

"Jadi hanya satu saranku,..." jeda sejenak, "Jika kau mencintai Ciel, kau harus merelakannya bahagia bersama orang lain yang ia cintai" lanjut Claude.

Alois mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga tangannya tampak pucat.

Ia menatap Claude tajam.

"Aku..." suara Alois terdengar bergetar. Entah itu karena ia menahan marah, atau menahan rasa kecewanya. Yang jelas, ia tampak berbeda dari biasanya. "aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kau harus tau itu, Claude" bisik Alois dengan suara yang dapat membuat semua orang bergidik saat mendenar suaranya -kecuali Claude.

"Tapi Ciel-" Sebelum Claude melanjutkan kata-katanya, Alois menyela perkataannya.

"Aku sudah cukup mengalah pada Sebastian! Selama ini, ia selalu mendapatkan semuanya, dan aku tidak peduli. Dan sekarang, aku tidak akan melepaskan Ciel begitu saja..." desis Alois. Claude merasa jika Alois banyak berubah.

"Aku sangat menginginkannya, dan aku akan terus mengejarnya sampai kapanpun"

.

.

.

.

Saat ini, Ciel dan Sebastian duduk di bangku taman yang sudah menjadi saksi bisu mengenai perjalan cinta mereka (alay). Mulai dari saat Sebastian memberikan sandwich pada Ciel, hingga mengatakan cintanya pada Ciel disini. Sungguh tempat dengan memori yang indah...

Yah, jika mereka menikah nanti, mungkin mereka akan menikah disini (?) #plak

Hening

Tidak ada yang memulai pembicaraan. Baik Ciel, Sebastian, maupun author hanya diam.

Ciel dengan santainya memakan bekal yang ia bawa dari rumah -tanpa mempedulikan Sebastian dan author yang ngiler melihatnya makan. Sementara author ngiler, tapi tidak untuk Sebastian. Ia malah tersenyum -mesum-, melihat sang pujaan hati yang sedang memakan bekalnya.

Sebastian tersenyum simpul, lalu ia mengambil sapu tangan yang ada didalam sakunya.

Tanpa Ciel sadari, Sebastian mengusap bibir ranumnya yang ternoda oleh makanannya.

Dapat Sebastian lihat, wajah Ciel semerah tomat saat ini. Gadis itu tampak salting saat melihat Sebastian yang tersenyum -mesum menurut Ciel.

"Apa-apaan senyum mesum itu?!" Ciel berteriak dengan wajah memerah karena malu. Sementara itu, author hanya bisa geleng-geleng kepala 'dasar tsundere' batin author.

"Tidak kok" Sebastian tersenyum simpul. Ia menyelipkan jarinya disela helaian rambut kelabu Ciel sambil berkata, "Kau sangat manis saat makan" dengan santainya Sebastian membuat Ciel yang blushing, tambah blushing.

Ciel segera membuang mukanya dari Sebastian, berharap pemuda itu tidak melihat semerah apa wajahnya saat ini. Yah, itu memang percuma. Sebastian sendiri sudah tau jika Ciel sedang blushing, melihat telinganya juga ikut merah.

Hening untuk kedua kalinya

Keduanya masih mendalami pikirannya masing-masing, sementara author yang menjadi penganggu sedang pergi ke toilet karena sakit perut.

"Oh ya Ciel..." Sebastian memilih untuk memecah keheningan. Kedua crimson miliknya menatap pemandangan yang ada didepannya.

Ciel menoleh kearah Sebastian dengan mengangkat sebelah alisnya.

"Jadi, sebenarnya apa kita sudah pacaran?" Walaupun awalnya ia sedikit ragu, tapi akhirnya Sebastian menanyakannya juga. Memang benar, Sebastian sudah mencium Ciel, tapi itu tidak berati jika mereka sudah pacaran. Apalagi, kemarin Sebastian tidak mengatakan 'maukah kau menjadi pacarku?' melainkan 'aku mencintaimu, Ciel'. Dua kata itu memang mirip, tapi jika kita lihat lebih teliti, memiliki arti yang berbeda.

"Kau pikir apa?!" Sebastian spechless melihat Ciel yang kembali membentaknya. (Ah, yang sabar ya sebby-chan~ #plak)

"Jangan berteriak seperti itu, nanti aku tidak bisa mendengar suara indahmu loh" goda Sebastian memasang senyum yang selalu dibilang sebagai senyum pedofil. Tentu saja, orang yang mengatakan itu, siapa lagi kalau bukan sang gadis tsundere, Ciel Phantomhive.

"Kau sendiri yang bodoh! Apa kau tidak ingat apa yang kukatakan... kemarin?" Wajah Ciel semakin memerah, membuat gadis itu terlihat semakin imut.

"Apa? kau mau bilang jika kau mencintaiku?" goda Sebastian pura-pura tidak mendengar.

Ciel semakin merengut karena kesal.

Dengan gerakan cepat, Sebastian mengecup bibir Ciel.

"H-hei! Apa-apaan itu?!" teriak Ciel dengan wajah yang merah padam.

"Aku hanya ingin mengambil jatah ku hari ini" kata Sebastian sambil tertawa. "Dan, mulai hari ini,Ciel Phantomhive telah resmi menjadi pacar Sebastian Michaelis" Sebastian tersenyum saat ia mendeklarasikan hubungan mereka. Sementara Ciel sendiri tidak menyangkalnya, tapi ia hanya menunduk karena malu.

Dan pemandangan tersebut, tanpa mereka sadari telah diamati oleh seseorang.

Kedua tangan Alois terkepal.

Ia menatap pemandangan pahit itu dari jendela kelasnya yang kebetulan menghadap kearah taman tersebut.

"Awas saja nanti... aku akan membuatmu menjadi milikku, Ciel" desis Alois.

.

.

TBC

Owari~

Arigatou buat reader-san yang udah setia menunggu kelanjutan fict ini dan memberikan saya semangat untuk update kilat ^^

Oh iya, Selamat natal dan tahun baru buat reader-san~ #telat *digampar*

Oke, tunggu chapter selanjutnya~

Jaa~