Rise Of Bangtan
Title : Rise Of Bangtan
Author : Risma & Rizka
Genre : Action, Brothership, Comedy, School of life
Lenght : Chapter 2
Cast : All of BTS member
Note : It's my first time to FF BTS. So I hope you be enjoy to read this Fanfic.. If you not like don't be read Okey..
Happy reading!
************** BANGTAN****************
Hhh ...
Hhh ...
Hhh ...
Jungkook terus saja lari, lari, dan lari ia tidak tau ia akan pergi sekarang. Jungkook berlari terus hingga masuk semakin dalam kehutan yang gelap. Yang dipikirannya hanya satu 'Bagaimana nasib Hyungdeulnya? Apakah mereka tertangkap? Atau mati... ?' fikiran Jungkook tidak bisa jernih saat ini. Ia terus berlari tanpa terasa ia menjatuhkan air matanya—ia takut sendiri.
"DIA DISANA!". Jungkook yang sempat beristirahat dibawah sebuah pohon besar pun langsung berlari mendengar teriakan komplotan polisi yang sedang mengejarnya sedari tadi.
Akankah ia akan mati? Apakah ini akhir hidupnya? Mati Ditangan polis? Tidak! Jungkook menggelengkan kepalanya kuat. Ia tidak ingin mati di tangan polisi. Jika ia mati pun ia ingin mati bersama Hyungdeulnya.
Dengan sisa tenaganya ia makin mempercepat larinya, hingga ia menemukan titik cahaya. Jungkook belari sekuat tenaganya hingga mencapai titik itu. Dan setelah ia keluar dari hutan tersebut. Ia jatuh terkulai lemas.
Bagaimana bisa?
Jungkook melihat dengan mata kepalanya sendiri, semuanya Jin Hyung, Suga Hyung, Namjoo Hyung, Jimin Hyung, J-Hope Hyung, dan bahkan V Hyung tergeletak ditanah dengan mata tertutup dan aliran darah memenuhi kawasan itu.
Myungsoo berdiri diantara mayat-mayar tersebut sambil memegang pistol dan juga terpampang jelas raut kemenangan terpatri diwajah tampan Myungsoo.
"A-Andwe ... ". Lirih Jungkook dengan suara serak. Jungkook menyeret kakinya mendekati Hyungdeulnya. Dan mengenggam kemeja putih Jin yang sekarang sudah berubah warnah menjadi merah.
Myungsoo melihat kearah Jungkook yang mendekati mayat Hyungdeulnya. Ia langsung memusatkan ujung pistolnya tepat kearah Jongkook.
"dan sekarang giliran kau, Jongkook! Hahaha ... ".
DOOR
"ANDWEEE HYUUUUUNGGG!"
CEKLEK
"Junggie-ah!". Jin yang pernama membuka berlari saat mendengar adiknya berteriak langsung menghampiri Jungkook dan membawanya kedalam pelukannya. Dan disusul yang lainnya langsung duduk menghambur duduk disisi kiri dan kanan Jungkook.
"kau kenapa chagi?". Tanya jin lembut sambil mengusap surai hitam legam adiknya,
"hiks ... hiks ..Hyung ... aku takut ...". isak tangis Jungkook terdengar. Ia mengeratkan pelukan Jin sambil bergetar.
"takut kenapa? Kau mimpi buruk?". Tanya Suga. Yang lain hanya menunggu dengan wajah khawatir yang sangat. Apa yang terjadi dengan Uri Magnae?
"Hyung ... aku bermimpi ... hiks ... kalau kalian semua dibunuh oleh Myungsoo ...". mereka semua tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Jungkook barusan. Apakah Myungsoo sebahaya itu bagi mereka?
"sstt ... sudahlah jangan nangis ... tidak akan terjadi apa-apa kok ... kami akan selalu disampingmu". Ucap Jin lembut sambil mengecup pucak kepala adiknya yang berkeringat dingin itu. Walaupun ia sendiri tidak tau, tapi pasti apapun caranya ia akan melindungi adiknya dan juga semuanya.
Jin menatap semua, seolah raut wajahnya mengatakan 'apa yang harus kita lakukan?'
************** BANGTAN****************
Pagi ini matahari menyinari bumi lebih cerah dari biasanya. Hari ini saatnya Suga dan J-Hope yang bertugas memantau lokasi berikutnya yang menjadi target BANGTAN nanti malam. Mereka memeriksa semua tempat di lokasi tersebut untuk menemukan dari mana nantinya mereka akan muncul dan melancarkan aksinya.
Tampak mereka berdua berjalan dengan setelan baju santai dan tidak lupa dengan topi untuk menutupi muka mereka dari sengatan matahari yang sangat nyentrik pagi hari ini. Mereka berjalan dengan santai layaknya orang yang tak pernah melakukan dosa sekecil apa pun sambil melihat-lihat ke sekeliling sudut kota.
Dddrrrttttt...
Tiba-tiba ponsel Suga bergetar, ia pun segera mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut yang ternyata adalah Jin.
"Bagaimana?". Tanya jin diseberang sana.
"beres, mereka akan tutup pukul 22.00, kita akan melancarkan aksi kita jam 22.30 sampai dengan 22.45, kita hanya bisa 15 menit untuk ini, karena polisi penjaga toko ini datang 30 menit setelah toko tutup, waktu yang dibutuhkan polisi dari markas ke lokasi membutuhkan waktu 15 menit, hanya waktu itu kita bisa pergunakan". Ujar Suga menjelaskan analisisnya yang sudah ia selidiki tadi bersama J-Hope.
"Ok, kerja yang bagus, Kalian memang pandai dalam hal yang seperti ini". Puji Jin dengan tawanya yang khas, dan hanya dibalas senyuman manis penuh kemenangan dari Suga.
"Hyung, Polisi datang". Ujar J-hope sambil memukul pundak Suga, Suga segera menoleh kearah tatapan J-Hope dan kemudian tersenyum.
" Hyung, ada Polisi ... aku ingin sedikit bermain dengan mereka". Ia menatap polisi itu dengan pandangan seperti ia telah mendapatkan mainan baru. " hahaha... baiklah, terserah!". Setelah Jin mengatakan itu segera panggilan terputus, ia tau Suga sangat suka dengan permainan seperti itu, sudah menjadi hal biasa baginya.
"kajja kita hampiri polisi bodoh itu". Ajak Suga dan disambut dengan anggukan oleh J-Hope. Mereka pun berjalan kearah polisi-polisi yang baru saja turun dari mobilnya.
"annyeonghaseyo". Sapa mereka kepada polisi itu.
"ah, ne annyeonghaseyo ... ada yang bisa saya bantu? Apa kalian tersesat?". Sahut polisi itu. Suga memutar kedua bola matanya sebal, apa mereka terlihat seperti anak yang tersesat eoh?
"ah, tidak, hanya saja saya ingin bertanya, apa di to- ... ".
"Lapor pak". Belum sempat Suga melanjutkan pertanyaannya tiba-tiba datang seseorang dengan segala kehormatannya yang menurut Suga cukup sangat mengganggu.
Perhatian pak polisi teralih dan menatap seseorng yang barusan datang yang ternyata polisi juga, namun terlihat masih sangat muda.
"Lapor, keadaan disini aman pak". Dan what? Ige mwoya? Hanya itu? Hanya itu saja yang ingin disampaikan kenapa harus memotong pembicaraannya? Kini Suga benar-benar marah ingin rasanya ia patahkan leher polisi itu, tapi mengingat ya profesi mereka apa, Suga mengurungkannya.
"ya, baiklah, kerja yang bagus Myungsoo". Ujar pak polisi tersebut, dan akhirnya polisi mudah yang di panggil Myungsoo itu pun pergi.
But,What? Myungsoo? Ia pernah mendengar nama ini, rasanya sangat familiar, ia segera memandang bingung kearah J-Hope dan yang benar saja J-Hope pun sama sepertinya, memandang Suga dengan penuh kebingungan. Kali ini mungkin mereka memiliki pemikiran yang sama.
"ah, maaf tadi anda mau bertanya apa ya?". Lamunan mereka buyar dengan munculnya suara khas bapak-bapak menggelegar di telinga mereka.
"a-ah, itu kami hanya ingin bilang, tolong jaga baik-baik toko senjata yang disana, sekarang lagi maraknya pencurian senjata, ah, kami harus ke suatu tempat, kami permisi dulu, annyeonghaseyo". Setelah mengatakan itu , mereka segera berjalan dengan terburu-buru menjauhi polisi tersebut yang masih kebingungan di tempat memikirkan perkataan mereka tadi yang sedikit aneh, tapi memang seperti itu kan? Memang kenyataannya sekarang lagi maraknya pencurian senjata, betul juga yang dikatakan mereka, polisi harus berjaga ketat.
"pak, maaf pak". Ujar seseorang dari arah belakang yang sedari tadi terus memanggil sang polisi. Pak polisi itu pun segera berbalik.
"ah, Myungsoo-ah, ada apa?". Tanya polisi itu. " ah tidaak. Hanya saja saya melihat anda melamun, sampai saya panggil anda tidak menjawabnya". Ujar Myungsoo.
"Jinja? Ah, itu saya sedang memikirkan perkataan mereka tadi, mereka bilang kita dimintai untuk merjaga ketat toko senjata di seberang sana, karena sekarang lagi maraknya pencurian senjata". Ujar pak polisi bingung.
"benarkah? Aneh sekali". Seru Mungsoo penuh selidik. " yah, awalnya saya berpikiran seperti itu juga, tapi kan yang mereka katakan memang betul, sudah kajja kita patroli lagi!" Setelah mengatakannya polisi itu pun pergi, tapi tidak dengan Myungsoo yang masih menatap punggung kedua orang tersebut yang baru saja hilang di balik tikungan.
************** BANGTAN****************
"Hope, pemikiran kita sama kan?". Tanya Suga dan dianggukkan oleh J-Hope.
"iya, aku merasa tidak asing mendengar nama itu". Ujar J-Hope. "tapi aku tidak ingat dimana mendengarnya". Lanjut J-Hope.
"apa kita perlu menanyakannya pada Jin Hyung?".
"tidak usah, mungkin saja dia pencuri yang sama seperti kita yang menyamar jadi polisi terus namanya di ungkit-ungkit di berita, makannya kita tidak asing mendengar nama itu, jadi kita tak perlu memberi tahukan ini pada Jin Hyung Ok?". Walaupun agak ragu tapi J-Hope tetap menganggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Suga.
************** BANGTAN****************
"hey, jalan sini". Ya, mereka sedang melancarkan aksinya mencuri pistol di toko yang sudah tadi pagi Suga dan J-Hope selidiki. Mereka telah berhasil mencuri pistol itu, namun mereka terlambat satu menit dari waktu yang direncanakan dan al hasil polisi keburu datang, mereka harus mencari jalan keluar lain untuk kabur. Dan Jungkook mendapatkan jalannya.
Mereka berlari secepat yang mereka bisa. Tak ada yang bisa menemukan mereka.
BLAM
Sampai pada akhirnya mereka sampai didalam mobil dan langsung melaju cepat mobil menuju rumah.
"hwa... hampir saja". Ujar Rap Mon lega sambil mengusap-usap dadanya dan bersandar ke sandaran jok mobil.
"iya, untung saja ada Uri Magnae". Langsung saja Jungkook berbangga ria pada dirinya.
"Jeon Jungkook gituh". Bangganya. Dan dilanjutkan oleh tawa yang membahana dari semua yang memenuhi mobil.
************** BANGTAN****************
BRUK...
"aaarrrggghhhhh, lagi lagi aku kebobolan". Gerutu Myungsoo kesal sambil menendang semua apa yang ada di sana. Bagaimana tidak? Ia sudah beberapa kali kebobolan, toko senjata yang menjadi tempat penjagaannya kini telah kehilangan semua senjata tepat saat baru saja ia sampai, ini namanya kalah sebelum berperang.
"V lihat saja, kali ini aku tidak akan bermain lagi denganmu, aku berjanji akan segera menangkap mu dengan komplotanmu dan akan segera mencobloskanmu ke penjara, ingat!". Serunya kesal dan pergi melangkah menjauhi tempa kejadian.
keesokan harinya [ di sekolah ]
Pluk...
Baru saja memasuki kelas Myungsoo langsung menduduki pantatnya di bangku sebelah V, V yang sedang membaca novel berjudul 'beuty and the Beast' menoleh ke sampingnya dan melihat Myungsoo yang tersenyum manis – sok manis lebih tepatnya – kearahnya.
"wae?". V memandang Myungsoo dengan pandangan penuh tanda tanya – bingung lebih tepatnya .
"ani, aku hanya ingin duduk disampingmu saja, biar kita bisa lebih dekat, aku lihat di antara yang lain hanya kamu yang memandang aku seperti tidak menyukaiku, jadi mulai hari ini aku duduk dengan mu okey?". Ujar Myungsoo dengan senyumannya yang terpasang di wajahnya, V tidak tau maksud dari senyuman itu, yang jelas ia sangat sangat ganjal.
"tidak, aku tidak mengizinkanmu duduk di sini, aku hanya ingin duduk sendiri. Lebih baik kau duduk lagi saja dengan Jeon Jungkook itu". V menunjuk Jungkook dengan dagunya. Jungkook yang memang sedari tadi memerhatikan mereka terkejut saat namanya di sebut-sebut dalam percakapan itu.
"M-mwo? Ah, gwaenchana, dia duduk sama kamu aja, aku lebih nyaman duduk sendiri". Cengir Jungkook.
'JUN JUNGKOOOOOK! AKU TIDAK MAU SEBANGKU DENGAN POLISI INI!'. Teriak V dalam hati dan memelototi Jungkook. Yang di pelototi hanya mengangkat bahunya cuek kemudian pergi meninggalkan kelas.
"Hyung ini gawat". Saat ia keluar kelas, Jungkook langsung mengambil ponselnya dalam saku celananya dan langsung menelopon seseorang.
"gawat? Apanya?". Ucap seseorang di seberang sana yang ternyata adalah Jin.
"pokoknya gawat, yang penting Hyung siap-siap aja deh".
"Hah? – PIP ". Belum kelar Jin dengan kebingungannya tiba-tiba saja sambungannya di putuskan oleh Jungkook.
************** BANGTAN****************
"yang jelas aku tidak ingin duduk denganmu, jadi silahkan pergi dari sini". Ujar V tidak suka.
"tidak, aku akan tetap disini". Myungsoo tetap bersikukuh dengan pendiriannya, tidak di pedulikannya V yang kini mulai jengah dan marah.
"ya sudah, biar aku yang pindah". Finalnya, V segera bangun dari duduknya dan berniat ingin mencari bangku lain.
"memang kenapa? Kenapa aku tidak boleh berteman denganmu eoh? Apa kau sangat takut dekat dengan orang eoh? Kau takut identitas aslimu diketahui oleh orang? Apa jangan-jangan kau takut identitas orang tuamu yang ternyata adalah penjahat? Atau mungkin saja kau takut identitasmu ketahuan kalau kau itu ... ternyata penjahat?". Ujar Myungsoo dengan nada sedikit membentak. V tidak terima ini, secara tidak langsung ia telah mengejek orang tuanya, ia sangat tidak bisa menerima ini. V berbalik dan menatap Myungsoo tajam.
"Mwo?". Dengan segala keamarahannya ia berjalan kearah Myungsoo.
"Wae? Mungkin saja kan itu bisa terjadi? Kita tidak bisa memprediksi kehidupan orang".
BUG...
Satu pukulan kuat mendarat di pipi Myungsoo membuat bibirnya tersobek dan mengeluarkan darah.
"aku sangat tidak suka ada orang yang mengejek orang tuaku, kau dengar itu?". Marah V.
Dan kali ini giliran Myungsoo yang menatap V tajam.
"eoh? Seharusnya kalau memang tidak seperti itu kau tidak perlu marah, Apa aku benar? Dan kau tau, aku sangat tidak suka ada yang memukuli wajahku".
BUG...
Dan yang benar saja kali ini pukulan Myungsoo mendarat di wajah V, membuat bibirnya berdarah juga seperti Myungsoo.
BUG ... BUG ... BUG ...
Karena saling tak terima satu sama lain, terjadilah aksi pukul memukul satu sama lain. Dan tanpa sadar murid-murid sudah berkumpul di ruangan kelas melihat kejadian adu mulut dan kekuatan si pangeran sekolah dengan si anak baru, tiada satupun murid yang ingin menghentikan mereka, salah-salah mereka juga bisa kena bugeman mereka.
"STOOOOOOOOOPPPPPPP". Teriak seseorang berbadan atltetis dan berbadan dengan penuh kotak-kotak ditubuhnya. Semua orang reflek menghentikan aktifitasnya – tak terkecuali Myungsoo dan V – dan langsung menatap seseorang yang berteriak tadi yang tak lain adalah Park Songsaenim – Jimin – .
"Semuanya BUUUBAAAAAAAR". Murka sang songsaenim. Otomatis semua murid bubar, mereka tak mau jadi korban jurus Taekwando gurunya ini.
"dan kalian berdua ... ikut aku ke kantor, SEKARANG!". Ujar Jimin sambil menunjuk kearah V dan Myungsoo, kemudian pergi dari tempat kejadian perkara.
kantor
"kalian berdua akan ku serahkan kepada kepala sekolah". Ujar Jimin final saat mereka berdua sudah berdiri dihadapannya kini.
"Mwo?". Teriak V dan Myungsoo tak terima.
V langsung menatap Jimin dengan pandangan ' Hyung, tolong aku! Jangan lakukan ini pada ku, jebal!'. Dan Jimin membalasnya dengan pandangan 'mian, aku tak bisa melakukan apa pun, ini semua salahmu tau!'.
Myungsoo yang melihat gelagat itu pun merasa aneh, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Ia tiba-tiba menggeleng gelisah.
"Park songsaenim, tolong jangan percaya dengannya, dia sangat pandai dalam hal menipu, tolong percaya padaku". Timpal Myungsoo.
"Mwo? Sejak kapan aku berbohong hah?". Merasa tak terima V langsung membantah perkataan Myungsoo.
"eoh? Kau belum mau mengakuinya juga?". Dan selagi sebelum pertempurannya berlanjut dengan season 2 jimin langsung memberhentikan mereka.
"DIAM KALIAN! Aku tidak percaya pada kalian, silahkan keruangan guru, SEKARANG JUGA!". Ujar Jimin sedikit berteriak, sebelum gendang telinga mereka rusak segera mungkin Myungsoo dan V memasuki ruangan kepala sekolah.
Dan yang benar saja sesampainya di ruangan kepala sekolah mereka di sambut dengan tatapan mengerikan dari sang kepsek untuk mereka.
BRAK ...
"kalian keterlaluan, kalian tau hukuman di sekolah ini bagi yang berantam pada saat jam sekolah Eoh?". Setelah menggebrak meja, sang kepsek langsung memarahi Myungsoo dan V, ya tentu saja mereka hanya mengangguk mengiyakannya tanpa berani mengangkat muka.
"jadi kenapa kalian tetap melakukannya hah? Aku sudah menelepon orang tua kalian, jadi aku akan bicara langsung dengan mereka". Ucapan itu membuat mereka berdua mengangkat muka menatapa sang kepsek tidak percaya.
"Mwo? ANDWEEEE". Seru mereka yang hampir bersamaan.
'aish, eottokhe? Hyung, mianhae'. Sesal V dalam hati.
'habis ini aku akan di marahi habis-habisan oleh appa, aarrggghhh eottokhe?'. Tak beda jauh Myungsoo pun meratapi nasipnya setelah ini.
KREK ...
Tak lama setelah itu pintu ruangan terbuka dan menampakkan 3 sosok yang memasuki ruangan itu.
'mwo? Ige mwonde? Kenapa Suga dan J-Hope Hyung yang harus datang, kenapa tidak Jin Hyung? Ini sama saja memperburuk keadaan'. Rutuk V saat melihat 2 orang yang dikenalnya memasuki ruangan kepsek – Suga dan J-hope – .
'Mampus, tidak ada lagi harapan buatku lagi sekarang,aish'. Ujar Myungsoo saat melihat sesosok namja tua dengan pakaian lengkap kepolisiannya memasuk ruangan, itu ayahnya. Kini ayahnya tengah menatapnya dengan pandangan tajam.
"annyeonghaseyo". Sapa Suga dan J-Hope kepada sang kepsek dengan senyum manisnya. Myungsoo yang sibuk melihat ayahnya kini matanya teralih melihat Suga dan J-Hope. Tapi tunggu...
'aku merasa pernah melihat kedua orang tersebut,tapi dimana?'. Myungsoo terus mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan dua orang itu.
'ah, iya, mereka dua orang aneh yang menyuruh polisi untuk menjaga ketat toko senjata yang tadi malam di bobol'. 'ah, apa mereka kakaknya V? Sudah jelas bahwa V adalah komplotan dari BANGTAN, apa mereka ada kaitannya dengan komplotan itu? A-atau jangan-jangan mereka juga bagian dari ... BANGTAN?'.
"ANDWE!". Tanpa sadar Myungsoo malah berteriak, otomatis semua mata tertuju padanya, menatapnya heran.
"kenapa kau tiba-tiba berteriak? Kau sudah berani berteriak dengan ku eoh? Jujur appa yang sebagai jendral polisi ini merasa malu harus dipanggil kemari karena anaknya berkelahi". Bentak sang ayah.
"a-ah bukan itu maksudku ... jeongsohamnida". Myungsoo langsung membantah perkataan ayahnya dan meminta maaf sambil membungkukkan diri 90 derajat.
Suga dan J-Hope yang pandangannya teralihkan kini menatap Myungsoo.
"bukannya itu polisi kemarin yang bernama Myungsoo itu?". Bisik Suga pada J-Hope. "iya, Myungsoo yang di bicarakan oleh Jungkook hari itu, aku baru ingat". Jelas J-Hope.
"EHEM...". Merasa sudah tak di perdulikan lagi sang kepsek pun berdehem.
"baiklah, sekarang saatnya kita membahas masalah ini". Ujar kepsek dengan wajah kesalnya.
************** BANGTAN****************
Terlihat Myungsoo dan sang ayah keluar dengan muka mengecewakan, berbeda dengan V,Suga dan J-Hope yang keluar dengan wajah yang bisa di bilang santai saja.
"jujur appa, aku kesini hanya karena tugas, bukan mau berkelahi". Ujar Myungsoo meyakinkan ayahnya, saat mereka berjalan di koridor.
"appa tidak akan percaya lagi dengan mu, appa sangat kecewa". Marah sang ayah, Myungsoo mengacak rambutnya frustasi, tidak tau bagaimana lagi cara meyakinkan ayahnya.
"ehem ... permisi". Ujar seseorang dari arah belakang mereka yang ternyata itu adalah Park Seongsaenim – Jimin – .
"Park Seongsaenim, tolong bantu aku, bantu aku untuk meyakinkan appa". Pinta Myungsoo sambil menggenggam tangan Jimin.
"tidak bisa, jujur saya sangat kecewa denganmu". Ujar Jimin dan langsung menepis tangan Myungsoo. "aku sangat kecewa mendengar kau menuduh orang tua V dan dia adalah pencuri". Sesal Jimin.
"tapi memang kenyataannya seperti itu Saem". Bantah Myungsoo.
"apa kau memiliki bukti mengatakan itu eoh?". Tanya Jimin membuat Myungsoo terdiam.
"jujur, aku sangat kecewa pada mu, padahal kamu adalah siswa yang paling aku banggakan, karna hanya kau yang bisa mengalahkanku di bidang Taekwando, tapi kau malah menggunakan kekuatanmu untuk menghancurkan orang lain?". Jelas Jimin dengan nada penuh kekecewaan.
"dan apa lagi sekarang? Kau bahkan lebih buruk dari yang kupikirkan, aku pergi". Sang ayah langsung melangkah pergi dengan rasa kecewa. Myungsoo hanya memandang sang ayah melangkah pergi dengan mata sendu.
"Saem tolong percaya padaku, dengarkan aku, aku kesini hanya untuk menjalankan tugas, V betul-betul seorang pencuri, dia salah satu dari bagian komplotan BANGTAN". Ujar Myungsoo meyakinkan sang guru.
"apa kau memiliki bukti?". Tanya Jimin dengan menatap Myungsoo tajam. Myungsoo terdiam, bertanda tidak.
"tapi, aku tidak berbohong, percayalah padaku, aku ini seorang polisi". Terang Myungsoo.
"dan sekarang apa lagi? Polisi? Apa kau mempunyai bukti kalau kau itu adalah polisi? Biar aku percaya padamu". Ujar jimin.
"ada". Dengan penuh keyakinan ia segera mencari bukti tersebut di saku bajunya, namun tak ada, ia pun mencari di saku celananya namun ia juga tidak menemukan benda tersebut. Ia sangat yakin ia menaruh benda itu di saku bajunya, dan tak pernah ia keluarkan. Apa terjatu di suatu tempat? Ini gawat.
"sekarang apa? Kau tidak memilikinya?". Ujar Jimin saat melihat Myungsoo seperti tengah mencari sesuatu disana sini.
"ada, aku sangat yakin ada di saku baju ini, mungkin aku lupa taruhnya di mana, atau mungkin terjatuh di suatu tempat?". Myungsoo terus mencari benda tersebut di daerah tubuhnya, sampai ...
TAK ...
Tiba-tiba saja benda yang sedari tadi ia cari terjatuh tepat di depan matanya, seperti ada yang melemparnya dengan sengaja. Ia segera melihat kearah objek yang melempar itu. Dan yang benar saja Jungkook sekarang sudah ada tepat di depannya dan kini berada di samping Jimin dengan senyumnya, belum lagi kelar dengan kebingungannya. Kini ia di bingungkan lagi dengan datangnya V,Suga dan J-Hope tepat di belakang Jungkook dengan senyum mereka tentunya.
"kau mencari itukan? Benda itu terjatuh tepat didepanku". Ujar Jungkook tak lupa dengan senyum mengejeknya. Mata Myungsoo bergerak gelisah menatap orang-orang yang kini tengah berdiri di depannya dengan senyum mengejek kearahanya. Mungkinkah ... mereka ... ?
"H-HAH? A-ANDWEE!".
TBC
Thank's for Reading, i hope you always be happy to read my post ...
Please, coment it...
I very need your coment and your advice...
Annyeong...^^
