II

Lag berpisah dengan Zaji dan Connor di sebuah persimpangan. Kemudian berjalan terus sampai ke rumah Sylvette. Dengan ragu Lag membuka pintu rumah tersebut dan berkata, "aku pulang" Sylvette meluncur dengan kursi rodanya dari dapur untuk menyambut Lag, "selamat datang Lag, Niche, kalian pasti lelah. Basuhlah tubuh kalian lalu… tur…" Sylvette terenyak saat melihat sesosok gadis berambut cokelat muda yang tak dia kenal sedang menatapnya. Menyadari keterkejutan Sylvette, dengan gugup Lag berkata pada gadis itu, "dengar dengan tenang Sylvette… gadis ini akan tinggal disini untuk sementara waktu. Bolehkah?" Sylvette menarik Lag ke dapur.

"siapa gadis itu?" bisik Sylvette.

"a—aku tidak tahu…"

"tidak tahu?" Sylvette memutar bola matanya. "kau mengajak orang tak dikenal masuk ke dalam rumah seorang lady yang tinggal seorang diri?"

"apa boleh buat –lagipula kau sudah tak tinggal seorang diri lagi, aku dan Niche juga tinggal disini— Largo-san dan Dr. Thunderland yang memintaku menampungnya untuk sementara." Lag berdesis.

"eehh? Kenapa?"

"dengarkan aku dengan tenang." Lag kemudian menceritakan perjalannnya dan bagaimana ia bisa bertemu dengan gadis misterius itu hingga akhirnya harus menampungnya untuk sementara dengan singkat. Setelah mendengar penjelasan Lag, Sylvette mendesah dan berkata, "baiklah, apa boleh buat. Lagipula akan bagus kalau ada perempuan yang bisa menemaniku dan membantuku saat kalian berdua tak ada. Aku akan siapkan makan malam dan mengurus gadis itu, kau dan Niche basuh tubuh kalian dan turun kemari untuk makan." Lag mengangguk setuju dan mengerjakan apa yang diminta Sylvette.

Setelah memaksa Niche untuk mandi, Lag turun kembali untuk makan 'sup yang super duper menjijikan special buatan Nona Sylvette Suede' yang membuat perut Lag merinding tiap kali memikirkannya. Sesampainya di bawah, dia melihat Sylvette sedang memanaskan 'sup spesial'nya sementara si gadis tanpa nama itu duduk membisu di meja makan. Sylvette menuangkan supnya yang sudah matang ke mangkuk mereka masing-masing. "silahkan dimakan... emm… emm… Lag, siapa namanya? Perkenalkanlah dia." Kata Sylvette. Lag terdiam menatap gadis itu, gadis itu balas menatapnya dengan diam tanpa ekspresi. "dia tak ingat siapa namanya." Sylvette tersentak mendengar hal itu. "oh, sungguh malang dirimu." Kata Sylvette. "yah, baiklah aku akan pikirkan nama yang baik untukmu. Lag, kau yang memberikan nama pada Niche bukan? Pikirkanlah sebuah nama juga untuknya."

"hmm…. Baiklah…" Lag mengangguk.

"nah, silahkan makan supnya." Sylvette menuangkan supnya ke mangkuk si gadis. Dengan ngeri, Lag menatap gadis malang yang tak tahu apa-apa itu menengguk sup buatan Sylvette yang pasti akan dimuntahkan. Setelah menelan satu sendok penih sup hangat itu, mata gadis itu terbelalak. Lag ketakutan memikirkan bahwa gadis itu akan segera muntah. Si gadis memegang kedua tangan Sylvette, lalu berkata: "Luar biasa…" katanya sambil gemetar, "sup buatan anda luar biasa sedap!"

"EEEEEEEEHHHHH!" Lag dan Niche terkejut mendengarnya. Dengan penuh haru Sylvette menuangkan lebih banyak sup ke mangkuk si gadis. "makanlah yang banyak, masih ada sup untukmu."

"benarkah? Terimakasih banyak, sup ini sangat hangat dan enak." Si gadis meminum semua sup buatan Sylvette. Lag dan Niche menatap ngeri setiap suapan yang masuk ke mulut si gadis.

Sylvette lebih kuat 100 kali dari Lag, Aria 500 kali lebih kuat dari Lag, gadis ini pasti 200 kali lebih kuat daripada Lag. Niche harus berhati-hati. Pikir Niche dalam hati. Kemudian Niche menatap tajam kearah dada si gadis tak bernama itu lalu mendesah lega. Setidaknya, dia bukan saingan Niche. Dia tidak punya dada.

Setelah bersantap malam dan berbincang-bincang sejenak, mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan fisik dan pikiran mereka. Si gadis tidur bersama Sylvette di kamar gadis berambut perak itu. Si gadis memperhatikan Sylvette yang dengan cekatan memindahkan tubuhnya dari kursi roda ke tempat tidur dengan hanya bantuan tangan setelah berganti baju dengan gaun malam.

"anda hebat sekali Nona Sylvette." Kata si gadis penuh kekaguman.

"eh? apanya?"

"yah, macam-macam. Kau cantik, pintar, dan kuat."

"kuat? Apa maksudmu?

"hem, yah… kalau aku pasti tak akan bisa memindahkan tubuhku dari satu tempat ke tempat lain dengan hanya bantuan tangan. Anda juga cekatan mengurus rumah hanya dengan tanganmu saja. Anda kuat dan hebat."

Wajah Sylvette memerah mendengar pujian itu. "Kau, orang kedua yang memujiku seperti itu."

"oh ya? Siapa lagi yang pernah memuji anda seperti itu."

"kakak laki-lakiku –gunakanlah gaun tidur ini." Sylvette menyerahkan sebuah gaun tidur berwarna biru terang.

"anda punya kakak laki-laki? Jadi, anda tiga bersaudara?" Si gadis membuka bajunya dan memakai gaun tidur yang diberikan Sylvette, lalu ia melipat bajunya dengan rapih di atas kursi.

"tiga bersaudara? Tidak, aku hanya dua bersaudara."

"lalu, bagaimana dengan Lag? Bukankah dia saudaramu?"

"bukan, dia hanya temanku. Dulu, sewaktu kecil, dia pernah dikirimkan kakakku sebagai surat. Selama selang waktu itu, mereka berteman."

"heee…"

Sylvette kemudian menceritakan perihal kakaknya yang menghilang dan kerinduannya terhadap orang itu, Gauche Suede. Dia juga menceritakan tentang Lag yang tengah berjuang untuk memenuhi janjinya pada Sylvette untuk membawa kembali kakaknya yang hilang. Gadis mungil itu juga menceritakan perihal kakaknya yang kemudian muncul sebagai musuh letter bee, musuh pemerintah. Secara singkat, Sylvette menerangkan pekerjaan seorang Letter Bee dan seorang dingo. Setelah itu, mereka terlelap perlahan.


"kami berangkat Sylvette." Lag berpamitan dengan Sylvette.

"ya, hati-hati di jalan dan jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja Lag. Dengarkan Lag dengan baik ya, Niche, jangan nakal" kata Sylvette sambil mengelus kepala anak perempuan yang masih agak terkantuk itu.

"huh, tak perlu diberitahupun Niche hanya akan mematuhi lag" dengus Niche.

"nunii~" Steak memberikan persetujuannya.

"dan, semoga hasil pemeriksaanmu baik ya." Kata Sylvette pada si gadis berambut cokelat yang dibawa pulang Lag. Si gadis hanya tersenyum saja pada Sylvette. "maaf ya, aku belum bisa memberimu nama yang bagus." Sylvette menambahkan, aku sudah memikirkannya kemarin malam hingga hal itu terbawa dalam mimpiku, tapi aku tak menemukan nama yang cocok untukmu." Si gadis tertawa singkat mendengar cerita Sylvette, "tak usah khawatir, Nona Sylvette. Nama adalah hal yang muncul begitu saja, sama seperti saat seorang ibu melahirkan mereka akan secara spontan memberikan nama pada anaknya yang baru lahir."

setelah berkata demikian, mereka bertiga berangkat menuju Bee Hive. di tengah jalan, mereka bertemu Zaji dan Connor yang juga sedang dalam perjalanan. Zaji yang menyadari kemunculan mereka, berbalik dan menyapa, "yoo~ Lag. Selamat pagi."

"Selamat pagi, Zaji, Connor." Lag balas menyapa, sementara Connor hanya melambaikan tangannya karena mulutnya penuh dengan roti pizza.

Mereka kemudian berjalan bersama sambil berbincang-bincang. "jadi, bagaimana keadaa Wasiolka?" tanya Lag.

"lumayan, sudah agak membaik. Tapi dia masih dalam kondisi yang tak memungkinkan untuk bertugas." Jawab Zaji dengan nada muram karena memikirkan perihal dingonya.

"jangan sedih Zaji, Wasiolka itu sama keras kepalanya denganmu. jadi, dia pasti cepat sembuh." Connor mencoba menghibur. "oh iya, apakah kau sudah mendapatkan nama dari Lag atau Sylvette?"

Si gadis tersentak saat Connor bertanya padanya. "Belum..." Jawab gadis itu agak canggung.

"hee? Sayang sekali. Padahal kukira kau jenius dalam memberi nama, Lag. Apa kejeniusanmu hanya berlaku untuk Niche?" Connor menggoda Lag.

"bukan begitu, hanya saja aku tidak menemukan nama yang tepat untuknya." protes Lag.

"hooo... nama apa saja yang sudah kau pikirkan?"

"ehmm... karena dia keluar dari dalam gaichu, kupikir nama yang cocok adalah 'Naichu' tapi itu tidak cocok untuknya. Saat kupikir lagi, mungkin 'Nala' lebih baik, tapi itu juga rasanya kurang tepat. Kalau 'Maria' rasanya terlalu jauh dari image-nya. Aku jadi bingung." Lag mencoba mengingat-ingat kumpulan nama yang hendak diberikannya pada si gadis.

"hmmm..." Connor mulai serius, "tak kusangka memberikan nama akan sesulit ini. Seorang ibu itu ternyata sangat hebat bisa memikirkan nama yang cocok untuk anaknya. Bagaimana menurutmu Zaji? Nama apa yang cocok untuk gadis ini." Tanya Connor setengah menggoda Zaji.

Zaji yang merasa diejek menjadi kesal, "aahh~ berisik! Ngapain sih susah-susah mikirin nama? Dia kan diurus sama Sylvette, berikan saja nama yang mirip-mirip dengan nama Sylvette. Sylvia misalnya, atau apalah."

Mendengar gagasan Zaji -yang sebenarnya asal-asalan dikeluarkan- mereka berempat terkejut. Mereka sama sekali tak menyangka ternyata Zaji juga adalah salah satu orang yang pintar memberikan nama secara spontan. Mereka berempat memandang Zaji dengan tatapan kagum dan terkejut.

Melihat reaksi temannya, Zaji kebingungan. Dia tak mengerti mengapa teman-temannya menatapnya dengan tatapan seperti itu. "Apa?" Tanya Zaji dengan waspada.

"HEBAT ZAJI! GAGASAN YANG JENIUS!" Lag memuji Zaji.

"hah?"

"kau betul-betul hebat, temanku." Connor menepuk pundak Zaji.

"apaan sih?" Zaji menatap si gadis yang tersenyum penuh kemenangan di wajahnya. "hmm... nama yang bagus, aku suka." Kata gadis itu, "mulai sekarang namaku adalah Sylvia."


"Hasil pemeriksaanmu bagus. Tak ada keanehan dalam tubuhmu. Hatimu juga nampaknya normal. Ini sungguh keajaiban." Dr. Thunderland membacakan hasil pemeriksaan kesehatan Sylvia. "Kau masih tidak ingat apapun?" tanya Dr. Thunderland pada gadis berambut cokelat. "Tidak, aku tidak ingat apapun." Jawab sylvia tanpa ekspresi, "aku bahkan tak ingat nama asliku sendiri." Mendengar jawaban yang jujur itu, Dr. Thunderland menggaruk kepalanya karena bingung. "yah, sudahlah. Largo tertarik padamu dan dia memintaku untuk menelitimu. Aku harus melaporkan hasil pemeriksaanmu padanya, ikut aku." Mereka berdua kemudian pergi ke ruangan Kepala Lebah.

Sesampainya di depan ruangan Kepala Lebah, terdengar protes Zaji yang sangat keras: "Kenapa? Kenapa aku tidak boleh bertugas sendirian? Aku baik-baik saja kok!"

"Tidak bisa, belakangan ini aktivitas gaichu agak aneh, mereka menggila seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Olehh sebab itu, kuputuskan agar pengiriman dilakukan secara berkelompok." Jawab Largo. Mereka begitu serius berdebat, hingga hanya Aria yang menyadari ada yang mengetuk pintu dan membukakannya untuk Dr. Thunderland dan Sylvia. Mereka berdua memasuki ruangan sepelan mungkin dan berdiri di sebelah Lag dan Connor.

"Aku mengerti, aku mengerti, terserah kalian aku akan dikelompokkan dengan siapa. Lagipula tak ada gunanya membantahmu." desis Zaji.

"hoo... rupanya kau sudah mengerti hal seperti itu." kata Largo dengan nada mengejek, "tapi tetap tidak boleh! Awalnya aku akan mengelompokkanmu dengan Lag dan Connor, tapi dingo-mu masih dalam keadaan tak sehat dan aku tak bisa membiarkan bee berjalan sendirian tanpa dingo di situasi yang berbahaya ini."

"mmhh! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Peluru hatiku sangat berguna untuk menyerang sekaligus bertahan!"

"Akabari Lag lebih hebat dari aotoge Zaji." Komentar Niche.

"DIAM NICHE!"

"Aku setuju dengan Niche." Largo nyeletuk dengan nada santai. "Tetap tidak bisa, sehebat apapun kemampuanmu dalam menyerang dan bertahan kalau tanpa dingo-"

"aku yang akan pergi." Sebuah suara dari seorang gadis memotong ucapan Largo yang akhirnya menyadari keberadaan Dr. Thunderland dan gadis yang kehilangan ingatan itu. "Asalkan ada dingo tak masalah bukan? Aku yang akan pergi sebagai dingonya Zaji menggantikan Wasiolka."

"ap.." Zaji kehilangan kata-kata.

Setelah terkejut untuk beberapa saat, Largo menyeringai, "Ini menarik"


A/N: Aku mengganti Vashuka dengan Wasiolka. Maaf kalau ada yang bingung dengan perubahaan nama ini. Vashuka=Wasiolka, awalnya aku menggunakan nama dalam bahasa inggris karena ku kira sama saja, ternyata dalam baha indonesia namanya berbeda. Karena menyadari hal itu, akhirnya ku ganti Vashuka menjadi Wasiolka. Sekian. ^_^