III
Pemuda kucing itu merengut sepanjang jalan. Aura hitam penuh kebencian memancar keluar dari seluruh tubuhnya. Pembuluh darah menonjol keluar di dahinya, tanda bahwa dirinya teramat sangat marah. Sementara Sylvia terus tersenyum sambil bersenandung riang gembira. Melihat kedua manusia yang auranya sangat bertolak belakang itu, Lag dan Connor bagaikan melihat tembok tak terlihat antara 'Si Cantik dan Si Buruk Rupa'.
"Bisakah kau berhenti bernyanyi?" Si Buruk Rupa mulai mengomel. "Aku tak suka mendengarnya."
"Itu bukan urusanmu." Kata Si Cantik, "Aku mau bernyanyi ataupun mau diam, itu bukan urusanmu."
Mendengar perlawanan dari Si Cantik, Si Buruk Rupa mendelik kearahnya, "kau mulai menyebalkan, kalau tahu ini watak aslimu, aku pasti tidak mau menolongmu."
"hm…" Si Cantik tersenyum, "itu urusanmu. Kau memutuskan untuk menolongku, laku-laku sejati tidak akan menelan ludahnya sendiri."
Uwaaahhh…. Lag dan Connor kagum Si Cantik. Baru kali ini ada orang yang mampu membalas perkataan Si Buruk Rupa yang sedang bad mood dengan santai. Mendengar bantahan Si Cantik, kerutan di dahi Si Buruk Rupa semakin dalam. Wajah memerah karena marah, matanya melotot seolah bola matanya akan keluar. Saat itu wajahnya benar-benar seperti tokoh Si Buruk Rupa. "Sudahlah, Zaji… jangan marah terus." Lag mencoba menenangkan temannya. "Ck, aku kesal! Benar-benar kesal! Si ketua lebah sialan itu~ andai saja dia bukan atasanku sudah kuhantam dia." Zaji mengomel sambil mengepal tangannya sekuat tenaga. Hanya mengingat kejadian sepuluh menit yang lalu itu sudah membuatnya darah tinggi.
Sepuluh menit sebelumnya…
"Ap… apa maksudmu dengan 'ini menarik'?" Zaji mengomel pada atasannya. "Ini bukan soal menarik atau tidak! Ini masalah serius! Masa' anda akan memperkerjakan seorang ding—gadis yang tak berguna dalam tugas pengiriman yang sangat penting sebagai parter ku?"
"yah, kita memang belum tahu apakah dia akan berguna atau tidak." Jawab sang Ketua Lebah dengan santai.
"Iya kan? Lagi pula pasti dia tidak memiliki kualitas sebagai dingo. Untuk menjadi dingo, setidaknya dia harus punya kemampuan bergerak yang gesit seperti Niche!" Zaji menuding Niche yang mendengus bangga.
"Kalau begitu, kita periksa saja otot-otonya!"
"Haahhh~?"
"Dr. Thunderland, coba kau periksa otot-otot gadis itu apakah dia memiliki otot yang membuatnya mampu bergerak gesit seperti anak maka itu?" Largo memerintah Dr. Thunderland. Dengan sedikit ragu, dokter bermata satu itu menyentuh lengan si gadis. Dia menekan-nekan lengannya, mempelajari otot-otot si gadis. Kemudian dia berlaih menyentuh perut Sylvia yang rata, lalu saat hendak turun ke bagian kaki, tangannya tertahan di depan paha Sylvia. "Sebelumnya aku minta maaf dan… yah, permisi." Katanya dengan gugup. "Silahkan saja, aku tidak keberatan." Sylvia memberikan persetujuannya. Dengan agak canggung, Dr. Thunderland mengelus Paha Sylvia dan menekan-nekan beberapa bagian, lalu turun ke betis dan melakukan hal yang sama. Setelah puas, Dr. Thunderland berdiri dan mendesah.
"Gadis ini memiliki otot-otot yang terbentuk dan sama fleksibelnya dengan otot-otot Niche." Dr. Thunderland menyampaikan analisisnya, "dia pasti dapat bergerak segesit Niche, dan dapat menjadi dingo yang baik."
Zaji melongo mendengar penjelasan Dr. Thunderland, sementara Largo tersenyum konyol, "Kalau begitu, berarti dia bisa dipekerjakan sebagai dingo."
"tapi, tapi, kita tidak tahu kemampuan bertarungnya, bisa saja otot-otot yang baik, tapi belum tentu dia dapat menggunakannya." Protes Zaji.
"Jangan bodoh, Zaji." Sanggah Dr. Thunderland, "kau kira otot-otot itu bisa didapatkan tanpa digunakan? Kalau ototnya terbentuk seperti itu, pastilah dia seorang yang sudah terbiasa bergerak secara gesit dalam waktu yang lumayan lama."
"tapi… tapi…"
"yah, seperti yang kubilang tadi kita belum tahu apakah gadis ini akan berguna atau tidak." Largo seperti memberikan setitik cahaya harapan untuk Zaji, "karena itu kita harus mencari tahu apakah dia akan berguna atau tidak. Untuk mencari tahu, praktek lebih baik daripada teori bukan?" Zaji menunduk dalam keputusasaan, hancur sudah harapannya. Dia merasa bodoh karena sudah berharap walau hanya sedikit pada orang itu. "baiklah, kuputuskan Sylvia akan menjadi dingo 'dalam masa percobaan'."
"Si bodoh itu~ mengingatnya saja membuatku ingin menghantam wajahnya!" Zaji mengumpat. "Kau akan menghantamnya dengan aotoge?" tanya Connor yang tengah sibuk mengendarai kereta kuda. "tentu saja tidak! Akan kuhantam dengan tanganku sendiri. Senjata lelaki sejati adalah TINJU!" Mendengar ucapan Zaji, Lag merasa bodoh telah berusaha menenangkan temannya itu.
"hmm~" Sylvia menikmati hembusan angin yang terasa nyaman, "kalian rajin sekali ya?" Sylvia mengalihkan topik pembicaraan.
"rajin?" Lag merasa tersanjung.
"ya, kalian rajin sekali. Pagi-pagi sekali kalian sudah berangkat ke kantor untuk mengambil sejumlah surat, kemudian langsung berangkat."
"Ah, itu hal biasa kok. Tidak hanya kami, para Letter Bee yang lain juga datang pada jam-jam yang hampir sama." Lag menggaruk-garuk kepalanya sambil memerah, membuat Niche menatapnya dengan tajam.
"Benarkah? Wah! Kalaiu begitu kalian para Letter Bee benar-benar rajin sekali. Sebelum matahari terbit kalian sudah berangkat untuk mengirim, itu tanda orang yang sangat rajin. Ada pepatah yang mengatakan, carilah rejeki sebelum ayam jantan berkokok kalau tidak nanti rejeki-mu di makan ayam!"
Lag, Zaji, Connor, bahkan Niche dan Gus, tersentak mendengar ucapan Sylvia. "Eh? Se… sebelum matahari terbit?" Lag tergagap.
"Ya! Sekarang masih pagi sekali bukan? Matahari belum terbit, bahkan sinarnya juga belum ada, jadi ini pasti masih subuh. Jam berapa sekarang?"
"Sekarang jam 08.00" Jawab Lag ragu-ragu.
"Eeehhh!" Si gadis terkejut, "harusnya jam segitu langit sudah terang benderang!"
"Langit… terang benderang?" Lag terkejut mendengar ocehan Sylvia. "Sylvia, di dunia ini, malam tak pernah berganti pagi."
"Hah!" Kali ini giliran Sylvia yang terkejut, "hal seperti itu mustahil! Selama bumi masih berputar, dan matahari belum lenyap dari sistem tata surya, malam pasti berganti pagi."
"bumi? Sistem tata surya?" Zaji mulai pusing. "Kau ini membicarakan apa sih?"
"aduuh~ Bumi adalah planet tempat manusia tinggal, planet hijau yang indah, satu-satunya planet yang memiliki kadar oksigen tertinggi. Dan matahari adalah pusat dari sistem tata surya, semua planet termasuk bumi berputar mengitarinya, kalau tak ada matahari, maka dunia sudah kiamat."
Ketiga bee dan kadua dingo itu terperangah. Kepala mereka berputar dengan cepat, mencoba mencerna informasi baru yang mereka dapatkan. "memang, kakekku pernah bilang bahwa, jaman dulu sekali matahari terbit dari barat dan tebenam di ufuk timur."Connor memcahkan keheningan, "tapi kalaupun benar, itu sudah jaman dulu sekali, tidak mungkin Sylvia pernah melihatnya."
"Pernah kok! Sering malah!" bantah Sylvia, "justru aku bingung kenapa kalian bilang tak ada matahari di dunia ini."
"Sylvia, satu-satunya matahari yang kami tahu hanyalah matahari buatan yang ada di ibukota Akatsuki." Lag mencoba memberi penjelasan.
"Matahari buatan? Huh~" Sylvia mendengus, "sungguh konyol tidak mungkin manusia bisa membuat matahari buatan."
"Tapi matahari buatan itu benar-benar ada di Akatsuki, kalau kita sudah kembali ke Yuusari nanti aku akan memperlihatkannya padamu."
"aneh… tempat ini sungguh aneh. Matahari bukanlah hal bisa dibuat tiruannya semudah itu." Sylvia merendahkan suaranya, "kalaupun mungkin, pasti ada suatu cara terlarang yang digunakan demi hal itu."
Lag merinding mendengar spekulasi Sylvia. Dia teringat Gauche, orang-orang dari Reverse dan'Mereka yang tak bisa menjadi roh'. Hatinya terasa sakit mengingat semua hal itu, perasaan bersalah pada Sylvette menyerangnya dan rasa dikhianati menghancurkan hatinya. Melihat Lag murung, Zaji mendecak pelan "Heh, kau pasti bermimpi yang aneh-aneh waktu kau pingsan."
"Tidak kok! Aku benar-benar pernah melihat matahari!" Sylvia menggembungkan salah satu pipinya.
"Buktikan kalau memang begitu, pemimpi." Ejek Zaji.
"Ok, siapa takut, tukang merajuk." Sylvia membalas ucapan si Tukang Merajuk. "Lag, pinjami aku kertas dan pensil."
Mendengar itu, Lag buru-buru membuka tasnya mencari-cari beberapa lembar kertas. Dia memberikan kertas-kertas tersebut pada Sylvia, tapi tidak bisa menemukan pensil. "Coba cari di dalam tasku. Kalau tidak salah, aku membawa pensil." Kata Connor tanpa menoleh sedikitpun. Pria berbadan buntal itu dengan serius mengendalikan kuda yang menarik kereta mereka. Setelah meraba-raba sesaat, Lag menemukan pensil yang dimaksud dan memberikannya pada Sylvia. Setelah menerima pensil itu, dengan cepat Sylvia menggoreskan pensil itu ke kertas dan mulai menggambar.
Dua menit kemudian, dia memberikan salah satu gambar buatannya ke Zaji, Lag dan Niche –yang sebenarnya tidak terlalu tertarik— Gambar itu sungguh mengejutkan Lag, Zaji dan Niche—yang sebenarnya tidak mengerti apapun— Gambar itu adalah sketsa laut saat matahari terbit. Ada sebuah setengah lingkaran di atas garis laut yang menurut Sylvia itu adalah matahari. Cahaya matahari itu bersinar terang dan menyiari lautan luas itu.
Gambar yang kedua adalah gambar matahari menyinari sebuah savana, dimana hewan-hewan yang tak pernah dilihat para bee itu, memandang ke arah matahari. Hewan yang memiliki surai itu adalah singa, binatang kecil bertelinga panjang adalah kelinci –begitulah penjelasan Sylvia—
"hebaat…" mata Lag berbinar penuh kekaguman. "Aku baru tahu kalau kau sangat pintar dalam melukis."
"Aku juga baru tahu." Ucap Sylvia dengan canggung.
"hei, bolehkah aku mengambil gambar-gambar ini?"
"Boleh saja, tapi aku akan mewarnainya dulu, baru kuserahkan padamu. Untuk saat ini, simpan saja dulu di dalam tasmu." Lag menyimpan gambar Sylvia di dasar tasnya agar tidak hilang dan mudah ditemukan kalau-kalau ia akan menyerahkannya lagi pada Sylvia.
Mereka akhirnya sampai di kota tempat mereka menyewa kereta kuda dan mengembalikan kereta kuda itu. Setelah membayar, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kota yang ada jauh di selatan dari kota tersebut. "Mulai dari sini, kita berjalan kaki." Lag menginformasikan teman-temannya, mereka tak memiliki cukup uang untuk menyewa kereta kuda itu lebih lama lagi.
Mereka berjalan kaki melewati jalan yang berbatu-batu. Setelah satu jam berjalan, Zaji berharap gadis yang menggantikan dingo-nya akan lelah, tapi ternyata harapan Zaji hanya sekedar harapan. Gadis itu berjalan dengan santai, langkah kakinya sangat ringan seperti tak ada beban. Dia juga tak sedikitpun berkeringat. Terkadang gadis itu berlari bersama dengan Niche yang sangat ringan, tapi tak ada tanda-tanda bahwa ia kelelahan. Baru kali itu, Lag melihat ada orang yang bisa menyamai Niche.
Setelah nyaris berjalan selama dua jam, Connor mengeluh dan memohon agar mereka beristirahat sejenak. Mereka memakan bekal yang mereka miliki. Lag dan Niche menenggak sup Sylvette dalam sekali teguk. Connor memakan seluruh persediaan roti pizzanya, dan Zaji mau tak mau harus membagi bekalnya dengan Sylvia karena saat ini gadis itu merupakan 'peliharaannya'.
Dua puluh menit kemudian mereka berjalan lagi. Tiba-tiba seekor gaichu muncul dari dalam tanah, gaichu itu bertipe sama dengan gaichu yang menyimpan Sylvia dalam tubuhnya. Dengan cepat, Zaji mengambil shindanjuu-nya tapi sebelum dia sempat menembak, cakar gaichu itu mengarah ke arah Sylvia.
"Awaas!" Zaji menubruk Sylvia untuk menyelamatkannya, Niche memotong cakar itu, sementara Lag dan Connor menembak dan melempar ranjau untuk membuat gaichu itu oleng. Merasa terjepit, gaichu itu menyelam lagi kedalam tanah. "dengar, kita harus membuat rencana!" teriak Zaji. Semua temannya berkumpul untuk mendengar siasat perang si jenius dalam memberantas gaichu. "kita harus berpencar, Niche!" Niche tersentak saat namanya disebut. "Kau dan Steak berjagalah di atas tebing itu dan cari kelemahannya mengerti?" Niche mengangguk, membuat Steak terguncang di atas kepalanya. "Connor, Gus, Lag, kita harus bersiaga dan tunggu petunjuk dari Niche." Connor dan Lag mengangguk pelan. "Sylvia!" Sylvia menunggu instruksi partnernya. "Ukh… berhati-hatilah." Suara Zaji terdengar seperti orang yang tercekik. Sylvia tidak mengangguk, hanya diam dengan kilauan aneh dimatanya. "siapapun yang dihadang oleh gaichu, langsung berperan sebagai umpan." Lag dan Connor langsung mengangguk, "Oke, kalau sudah mengerti, kita berpencar!"
Mereka segera berlari ke segala arah. Mereka berdebar memikirkan siapa yang akan menjadi umpan. Secara tak disangka-sangka, gaichu itu muncul menghadang Sylvia yang langsung berhenti begitu melihat tanah didepannya amblas. Lagi, gaichu itu menyerang Sylvia dengan cakarnya. "SYLVIAAA!" Zaji berteriak dengan panik. Tapi kemudian, mereka semua terkejut dan tertegun. Sylvia menahan cakar gaichu itu dengan tangan telanjang.
Gadis itu mencengkram cakar yang ditujukan padanya. Gaichu itu nampaknya mencoba mendongrong cakarnya mendekat, tapi sia-sia. Tiba-tiba, dalam sekejap mata, Sylvia menarik cakar gaichu itu, membuat gaichu ikut tertarik. Sylvia berputar-putar untuk memutar gaichu di udara. Karena berat gaichu, cakar gaichu itu terlepas dari badannya. Serangga raksasa itu terlempar. Setelah terjatuh ke tanah, Sylvia melempar cakar yang ia pegang ke arah gaichu hingga menembus pelindungnya. Merasa dirinya dalam ancaman yang amat sangat, gaichu itu kembali menyelam ke dalam tanah.
Sylvia menghembuskan nafasnya, lalu berlari ke arah Zaji yang sedang bengong. "hei! Jangan bengong! Kita harus memikirkan rencana lain!" Sylvia menepuk kedua pipi Zaji dengan keras, menyadarkannya dari dunia khayal. "Auw!" Zaji mengaduh, "Baiklah, hei berkumpul!" mereka berkumpul lagi. "daripada berpencar, kurasa lebih baik kita tetap berkumpul." Kata Sylvia. "aku setuju, lebih baik begitu." Lag mengangguk setuju.
Mengikuti rencana Sylvia mereka berkumpul saling memunggungi satu sama lain dalam jarak yang tidak terlalu jauh, dengan keadaan siaga. Secara insting, Sylvia dan Niche menutup mata mereka, sementara gus mencoba merasakan melalui telapak kakinya. Satu menit kemudian, Gus menggeram, Niche dan Sylvia membuka matanya. Saat itu, Zaji dan Sylvia berdiri agak berjauhan. Niche membuat perisai dari rambutnya dan mendekati Lag, sementara Sylvia berlari ke arah tuannya. Zaji sangat terkejut ketika gaichu muncul di hadapannya, padahal ia hanya memalingkan pandangannya sekejap. Gaichu itu menyerang Zaji yang tidak bereaksi dengan cakarnya. Detik berikutnya, Sylvia mengenggam ujung syal Zaji yang melambai-lambai, lalu melempar Zaji kebelakang tepat sebelum cakar itu menusuk kepala Zaji.
"Niche, tangkap Zaji!" teriak Sylvia. Tanpa perlu diberitahu dua kali, Niche langsung menangkap Zaji dengan rambutnya. Marah, gaichu itu mengayunkan cakarnya, tapi Sylvia menghindar kebawah. Lalu dengan gesit gadis itu melompat ke cakar gaichu, lalu melompat ke cakar yang ada diatasnya sampai akhirnya dia melompat dari cakar yang paling atas dan melayang tepat di depan wajah si gaichu. Sylvia mengepalkan telapak tangannya, lalu meninju wajah si gaichu. Kepala gaichu itu lepas. Sylvia mendarat, lalu Niche berlari ke belakang gaichu yang kebingungan. Anak maka itu menjatuhkan gaichu itu hingga lubang besar yang menganga karena kehilangan kepala menghadap ke ara tiga letter bee yang sudah mengisi shindan mereka dengan peluru.
"TEMBAAAK!" Teriak Niche bersemangat.
"AKABARII!" Lag menarik pelatuknya.
"AOTOGE!" Zaji mengikuti.
"KIBAKU!" Connor meledakkan ranjaunya yang sebenarnya sudah ada dalam tubuh si gaichu. Gaichu itu bercahaya lalu hancur berantakan.
Sudah sepuluh menit mereka berdiam diri karena capek. Ketiga bee, tak terkecuali para dingo, berbaring telentang di atas tanah yang berbatu. Mereka tidak memperdulikan betapa tidak nyamannya tanah keras berbatu itu, yang penting mereka bisa beristirahat. Tapi Lag tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi, "Connor, kenapa ranjaumu bisa berada di dalam gaichu tadi?" Mendengar pertanyaan Lag, Connor menyeringai. "Tadi, saat kita sedang bersiaga, Sylvia meminta dua ranjauku. Awalnya aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan tapi kemudian aku menyadari bahwa sesaat setelah kepala gaichu itu lepas, dia menjatuhkan ranjauku ke dalam tubuh gaichu tadi lewat lubang bekas kepala gaichu."
Lag terkejut sekaligus kagum mendengar penjelasan Connor. Gadis ini tak hanya kuat, tapi juga berbakat menjadi dingo! Zaji mendesah, dia tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa Sylvia mempunyai kualitas sebagai dingo kelas atas. Padahal pemuda kucing itu berencana akan menjelek-jelekkan kemampuan si gadis saat mereka melapor ke Kepala Lebah jika tugas mereka sudah selesai. Tapi Zaji sadar, bahwa tak mungkin ia meredupkan bakat seseorang.
Sylvia tetap berbaring, menatap langit yang hitam kelam bertaburkan bintang. Seekor burung elang terbang melayang-layang di langit. Berputar-putar tanpa arah dan tujuan. Sylvia tersenyum, lalu membentuk tangannya seperti sedang memegang pistol dan mengarahkannya pada si burung elang dan berbisik: "Dor!"
Sylvia mempunyai kecepatan gerak yang mengagumkan. Senjatanya adalah tinju besinya. Dia memiliki insting yang tajam dan juga seorang pengamat yang baik. Dia bahkan menyadari keberadaan dingoku.
Jiggy Pepper.
Largo tersenyum puas setelah membaca laporan Jiggy Pepper lewat sepucuk kertas yang dikirmkan melalui perantara dingonya. "Sepertinya, keadaan semakin menarik." Kata Largo.
"Ternyata gadis itu cukup hebat." Aria mengakui.
"Yah, untuk sementara Zaji akan berpasangan dengan Sylvia-chan." Largo membuat keputusan dengan santai, "Apalagi nampaknya Wasiolka tambah murung setelah mendengar bahwa tuannya memiliki dingo baru untuk menggantikan dirinya, sehingga kesehatannya tak akan cepat membaik."
Aria mendesah, "Sepertinya, Zaji akan bad mood untuk beberapa minggu kedepan."
A/N: gimana menurut anda sekalian? chapter selanjutnya mungkin akan ada sedikir crossover. tunggu kelanjutan ceritanya. R&R please~ ^o^
