disclaimer: i don't own tegami bachi
IV
Sesudah beristirahat selama sepuluh menit, mereka kembali berjalan. Sebelum mencapaikotatujuan mereka mengalahkan tiga gaichu lagi dan kabur dari dua gaichu. Dalam keadaan payah, akhirnya mereka sampai cukup kecil besar dikelilingi oleh tiga desa kecil. Paraletter bee itu langsung bergerak mengerjakan tugas mereka masing-masing. Empat jam kemudian, mereka berkumpul di alun-alunkotatersebut.
Ketiga letter bee itu berdebat apakah mereka akan bermalam dikotaitu atau akan langsung kembali ke Bee Hive. Conor bersikeras agar mereka bermalam saja disana karena dia sudah capek, lagipula mereka tidak punya uang yang cukup untuk menyewa kereta kuda. Menurutnya, tidur dimanapun tak maslaah asalkan bisa istirahat. Tapi menurut Lag dan Zaji, lebih baik mereka langsung kembali ke Yuusari Pusat. Sementara menurut para dingo, yang manapun tak masalah karena mereka masih punya sisa energi untuk dihabiskan.
Untunglah pada saat itu seorang paman yang kenal dengan Connor mendengar pembicaraan mereka. "Kebetulan aku baru saja menyewa kereta kuda dari Yuusari Pusat dan belum kukembalikan. Bawalah itu bersama kalian, ini uang untuk membayar sewanya." Kata paman baik hatu itu. "Terimakasih pak, kami sangat terbantu." Ucap Lag dan Connor penuh syukur.
Akhirnya dilema merekapun berakhir dengan damai. Dalam perjalanan kembali ke Yuusari Pusat, tak ada gaichu yang menghadang. "Sylvia, waktu itu kau pernah bilang kalau kau tak pernah melihat matahari buatankan?" kata Lag saatkotaYuusari Pusat mulai nampak. "Nah, itulah matahari buatan yang menyinari Akatsuki." Lag menunjuk matahari buatan. Sylvia memandang ke sebuah objek bercahaya tanpa minat, "hmm…" gumamnya.
"Bagaimana?" tanya Lag penuh semangat. "Indah bukan? Suatu saat aku akan pergi ke Akatsuki dan menyaksikan matahari buatan dari dekat."
"Niche juga akan ikut dengan Lag." Niche angkat bicara. "Niche akan melindungi Lag."
Lag tersenyum penuh kasih pada anak maka itu.
"Aku tak suka dengan matahari buatan itu." Kata Sylvia dengan dingin. Dengan heran, Lag dan Zaji memandang gadis berambut cokelat terang yang tengah menatap mentari buatan tanpa minat. "Matahari buatan itu menakutkan, kalau aku 'sih tidak mau pergi ke Akatsuki."
"Kenapa?" Tanya Lag.
"Kenapa yang mana? Kenapa aku takut pada matahari buatan atau kenapa aku tak mau ke Akatsuki?"
"Keduanya." Jawab Zaji. Connor mendengarkan pembicaraan temannya dengan diam sambil mengendalikan kuda.
"Yah, aku tidak tahu kenapa tapi instingku mengatakan kalau benda itu berbahaya." Sylvia memulai, "Lagipula aku tak sudi tinggal ditempat yang membutakan begitu –walaupun tinggal di tempat yang gelap terus juga nggak bagus— sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kalau mau jujur, menurutku tinggal di Yuusari sudah lebih dari cukup."
Pembicaraan mereka berhenti begitu saja begitu memasuki Yuusari Pusat. Mereka melaporkan segala kegiatan mereka pada Largo Llyod ketika sampai di Bee Hive –sesudah mengembalikan kereta kuda— Tapi yang paling menarik perhatian Largo Llyod ialah bahwa mereka mengalahkan empat gaichu dan kabur dari dua gaichu dalam perjalanan pergi dan tidak dihadang gaichu apapun dalam perjalanan kembali.
Setelah mendengar laporan ketiga Letter Bee muda itu,Largoterdiam sejenak sambil merengut lalu mendesah. "ternyata aktivitas gaichu memang sangat aneh. Keputusanku untuk mengeleompokkan letter bee dan melarang letter bee tanpa dingo untuk bekerja sudah tepat." Gumamnya lebih untuk dirinya sendiri. "Baiklah, untuk sementara kalian bertiga ada dalam satu kelompok. Cukup sekian untuk hari ini, beristirahatlah."
"Siap." Ucap ketiga letter bee bersamaan.
"Ah, tentang Sylvia—" "aku sudah mendapat laporan dari Jiggy soal dia." Largo memotong perkataan Zaji dengan tidak sabar. "Untuk sementara dia akan jadi dingomu sampai Wasiolka sembuh. Sekarang pergilah."
Tanpa diminta dua kali, Lag dan kawan-kawan langsung melesat pergi dari ruangan kepala lebah dan pulang ke rumah masing-masing.
Zaji memang hampir setiap hari menumpang sarapan di rumah Sylvette, tapi kali ini dia bangun lebih awal dan berangkat lebih awal sehingga ini kali pertama dia melihat pemandangan yang begitu mencengangkan; Niche berlarian di rumah tanpa celana dalam, Sylvette mengejarnya sambil melambai-lambaikan sikat gigi, diikuti Lag yang berlari sambil mengibarkan celana dalam yang kebesaran miliknya.
"Niche! Sikat gigimu dulu!" teriak Sylvette.
"Tidak mau! Rasa odol itu aneh."
"Ni—Niche! Kau harus pakai celana dalam…" kata Lag kewalahan.
"Ah, Zaji!" Sylvette akhirnya menyadari keberadaan Zaji yang sedang terperangah. "Sylvia masih tidur dikamarku, tolong bangunkan dia ya?"
"Nggak apa-apa nih, aku masuk ke kamar anak cewek?" tanya Zaji.
"Memangnya kau bisa apa?" Sylvette mendengus. "Aku sudah dengar dari Lag kalau kemarin Sylvia membanting gaichu." Kemudian gadis itu kembali meluncur mengejar Niche.
Zaji mendesah, dengan malas dia menuju kamar gadis berambut perak itu dan masuk kedalamnya. Disana, dia mendapati Sylvia yang sedang tidur pulas. "Hei! Bangun!" Zaji mengguncang tubuh si gadis, "Kita harus kerja tahu!" Sylvia mengerang dan mendudukkan tubuhnya dengan malas. Gaun tidurnya berkerut dan rambutnya berantakan. Zaji memalingkan wajahnya dengan gugup dan berkata; "Ce—cepat bangun dan bersiap. Kita bisa telat nanti.
Pemuda kucing itu dengan susah payah menyembunyikan kegugupan dalam suaranya tapi nampaknya tak berhasil. Tatapan Sylvia yang ditujukan padanya membuatnya semakin gugup. Kesal karena tak mendengar respon Sylvia Zaji berbalik untuk mengomel, "Hei! Ayo ce—" Zaji tersentak. Sylvia menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan. Tubuhnya gemetar dan nafasnya tak beraturan, nampaknya ia sulit untuk bernafas. Sambil gemetar, gadis itu merapatkan selimut ke tubuhnya dengan panik. Dengan bingung dan khawatir, Zaji mendekat ke arah gadis itu dan menjulurkan tangan untuk menyetuh pundaknya, "Sylvia?"
"TIDAAAAAAAAAAAAKK!" gadis itu menjerit. Zaji menarik kembali tangannya dengn terkejut. "Jangan mendekat, jangan pandang aku jangan sentuh aku!"
Gadis itu kemudian terbatuk-batuk seperti tercekik sambil mengeluarkan air mata. Dengan panik dia berusaha meredakan batuknya, tapi tampaknya tidak berhasil. Saat Zaji berusaha menyentuhnya karena khawatir, gadis itu tersentak dan menjauhkan diri darinya sampai jatuh dari tempat tidur.
"Ja—jangan mendekat… hhhh… pergi… hhh…. Upphh…." Gadis itu mulai muntah dengan suara yang menyedihkan. Zaji membeku. Pada saat itulah Sylvette datang dan menyuruh Zaji untuk keluar. Lag mencoba membimbing Zaji yang tengah terpana melihat Sylvia muntah dengan panic dan Sylvette yang mencoba menenangkan gadis itu. kemudian Zaji tak ingat apapun lagi, kecuali pintu yang tertutup.
"Huuufftt…. Aku nyeraaahh~" Keluh Connor.
"Lagi? Ayo kuatkan dirimu Connor." Lag mengeluh pada temannya itu.
"Apa boleh buat! Tasku hari ini rasanya lebih berat dari biasanya.."
"itu sih apa boleh buat, kita harus mengantarsuratke tigakotasekaligus, sudah pasti tas kita makin berat."
"huh! Ketua keterlaluan. Mentang-mentang kita pergi berkelompok dia lantas menambah jumlah pengiriman."
"Apa boleh buat, lebih cepat selesai lebih baikkan? Lagipula,kotatadi adalahkotayang terakhir, jadi kita bisa langsung pulang sekarang."
"Tapi~~"
"Sudah, sudah, jangan bertengkar." Sylvia menengahi mereka "kitakanbaru jalan tiga puluh menit, masa berhenti sekarang? Kalau tasmu terasa berat, sini biar aku yang bawakan."
"eeh? Boleh nih? bukannya lebih baik kalau kau bawakan tas Zaji?"
"tak perlu khawatir. Bocah itu sih bisa mengurus dirinya sendiri."
Selagi mereka berbincang dengan riang gembira dan penuh tawa, Zaji terus berjalan didunianya sendiri. Dia tak menanggapi dengan serius obrolan temannya dan tak memperhatikan sekelilingnya. Angannya melayang ke peristiwa pagi tadi…
"Ada apa denganmu tadi?" Tanya Zaji pada Sylvia yang tengah duduk di meja makan untuk sarapan.
"tidak ada apa-apa." Ucap Sylvia perlahan. "Hanya saja, tiba-tiba aku diserang perasaan takut yang teramat sangat. Sepertinya aku pernah melihat pemandangan yang sama, tapi aku tak bisa mengingatnya." Sylvia menyentuh dahinya dengan murung, tapi saat menyadari tatapan khawatir Sylvette dan Lag, gadis itu tersenyum ceria. "sudahlah, tak usah dipikirkan. Kalau memang tak bisa diingat ya apa boleh buat."
Tapi bukan itu yang membuat Zaji termenung, melainkan tatapan mata Sylvia yang penuh ketakutan itu yang terus mengganggu pikirannya. Pemandangan macam apa yang dilihatnya hingga menghasilkan tatapan yang sedemikian menyedihkan? Pengalaman macam apa yang membuatnya gemetar begitu hebat? Ketakutan seperti apa yang dirasakannya hingga dia merasa mual dan muntah? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuinya sepanjang hari.
Ditengah lamunannya, kata-kata Lag mengejutkan pemuda kucing itu ; "Zaji, ayo kita istirahat."
"a—aah… oke." Setelah duduk, dia kembali diam termenung sementara teman-temannya berbincang dengan ceria.
"Jubah yang kau pakai bagus sekali Sylvia, aku tidak ingat kalau kau mengenakan jubah di hari pertama kita berjumpa." Connor mengagumi jubah cokelat yang dikenakan Sylvia.
"Oh, itu pemberian Sylvette." Kata Lag, "Dia bilang, baju yang dikenakan Sylvia terlalu pendek dan tipis. Jadi, supaya tidak masuk angin, Sylvette memberikannya jubah itu agar tubuhnya selalu hangat."
"Sylvette memang gadis yang baik. Tapi sepertinya itu bukan tipe jubah yang akan dikenakan Sylvette."
"tentu saja, ini jubah kakaknya saat berumur 15 tahun." Kata Sylvia.
"waduh, tanggung jawab besar tuh. Apa kau tak tertekan mengenakannya?"
"tentu saja aku tertekan. Dari tadi aku tidak berani berlari di samping Niche karena takut jubah ini kotor. Kenapa sih Sylvette memberikan benda yang segini penting padaku? Bikin orang jantungan saja."
Pembicaraan itu terhenti saat mereka mendengar suara hantaman yang menggelegar dan permukaan tanah terasa bergetar. Niche dan Gus serentak waspada. "Dari depan." Kata Sylvia, "Adasesuatu didepansana. Ayo kita lihat."Paradingo berlari mendahului tuannya. Beberapa meter didepan, mereka melihat ada dua orang remaja laki-laki sedang bertarung melawan gaichu. Mereka berdua berambut emas sama seperti Niche. Remaja yang satu berambut panjang dikepang kebelakang dan mengenakan jaket panjang berwarna merah mencolok dengan gambar salib yang dililit ular dan ada mahkota kecil bersayap diatas gambar tersebut. Sementara pemuda yang satu lagi sedikit lebih tinggi dari yang pertama, berambut pendek dan mengenakan setelan hitam. Tapi wajah mereka berdua tak terlihat karena memunggungi Lag dan kawan-kawan.
Lag dan kawan-kawan menyaksikan kedua remaja itu dari jauh. "Jangan bengong saja, ayo kita bantu mereka." Kata Lag.
"Baiklah, para dingo pergi lebih dulu dan tarik perhatian gaichu itu, kami akan menyusul setelahnya." Kata Zaji.
"kalau begitu, ayo kita laksanakan formasi A-1 Niche." Kata Sylvia sambil mengepalkan tinjunya.
"oke," "Nuinini~" ucap Niche dan Steak bersamaan.
"eehh? Kalian akan me-melakukan itu? jangan! Itu berbahaya!" Lag mencoba menghentikan dua anak perempuan gila itu.
"apa itu formasi A-1." Tanya Connor
"uh, i-itu."
"Praktek lebih baik daripada teori." Kata Sylvia bersemangat, "Lag, bersamaan dengan terlaksananya 'itu' tolong tembak AKABARI untuk mengalihkan perhatian gaichu itu. Lalu, setelah AKABARI ditembak, kalian bertiga langsung menyusul kami ya? Ok? Let's go Niche~"
Dan, terlaksalah formasi A-1: Niche membentuk rambutnya menjadi tangan dan mencengkeram Sylvia, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dengangayapitcher profesional. Sementara Gus memandang tajam kearah gaichu. Matanya bersinar tajam, "guk, guk, guk" katanya pada Niche, dan Niche mengubah ketinggian dan kemiringan tangannya. "GUUUUK!" bersamaan dengan itu Niche melempar Sylvia, diikuti dengan melesatnya AKABARI Lag.
Edward Elric dan Alphonse Elric tersentak saat melihat cahaya merah menabrak dan menggoyahkan makhluk aneh didepan mereka. Saat mereka menengok ke arah cahaya ditembakkan, mereka melongo melihat seorang gadis, melesat dengan kecepatan tinggi ke arah monster berkulit keras yang berbahaya itu. Gadis itu kemudian menghantam monster itu sampai oleng. Marah, monter itu mengayunkan cakarnya. Si gadis menyilangkan kedua tangannya untuk berlindung dan terhempas kebelakang. Gadis berambut cokelat muda itu mendarat tepat didepan mereka.
"NICHE!" gadis itu berteriak. Kemudian seorang anak kecil berambut kuning melesat dari belakang dan memotong-motong cakar monster itu dengan rambutnya. Edward sangat terkejut melihatnya, "hei, jangan-jangan anak itu…" bisiknya.
"bisa jadi, kak… mungkin saja memang…" Alphonse merendahkan suaranya sebisa mungkin.
"Daripada bisik-bisik begitu, lebih baik kalian berlindung dibelakangku dengan baik." Kata gadis itu pada mereka.
"siapa namamu?" tanya Ed
"aku Sylvia." Sebuah cakar menuju kearah gadis itu. Tapi dengan mudah dia menghentikannya, "aku adalah Dingo." Sylvia menampik cakar itu.
Dingo? Apa itu? Apakah sejenis dengan 'itu'? Ed dan Al berfikir keras.
"HOOOOOOOIIII!" seseorang berteriak dibelakang mereka. Seorang pria yang lebih muda dari Al, menepuk Sylvia, "Apa-apaan yang kau lakukan tadi haaahh!"
"kerenkan?"
"su-sudah kubilangkan, berbahaya…" kata seorang bocah berambut putih bermata satu.
"yang penting keren."
"sudahlah, ayo kalahkan gaichu itu dulu." Kata seorang pemuda gempal bermata lembut.
"NICHEE!" pemuda bermata satu itu berteriak saat bocah perempuan berambut emas, yang sedari tadi bertarung dengan monster itu, dililit oleh sesuatu seperti tentakel monter itu.
"Mengisi Shindan!" kata bocah bermata satu itu, sementara kedua temannya berpencar ke sekeliling monster aneh itu. Mata yang ditutupi rambut itu kemudian memancarkan cahaya berwarna merah, "AKABARI!" pekiknya, detik berikutnya, cahaya merah terang melesat menghantam tentakel yang melilit bocah bernama Niche itu. Niche terlepas dari tentakel dan langsung mendekati bocah bermata satu.
"yoooshhh…." Pemuda langsing yang tadi menepuk Sylvia mengarahkan senapannya ke langit, "AOTOGE NO AME! (hujan duri biru)" teriaknya. Sebuah kembang api biru meledak dilangit dan turun seperi hujan ke bumi.
"waaa~ dasar bodoh!" kata Sylvia dengan panik. "cepat lari kita harus cari tempat berlindung jangan sam—"
Sebelum Sylvia menyelesaikan kalimatnya, Ed menepuk kedua tangannya dan berjongkok menyentuh tanah, hingga tanah datar itu berubah bentuk menjadi paying yang melindungi mereka.
Sylvia melongo ke arah Edward yang tersenyum dengan cengiran nakal. Sylvia tersenyum pada pemuda kepang itu "heee, boleh juga." Katanya lembut. Gadis itu berbalik dengan cepat dan berteriak: "HEI! Kalian sudah temukan celahnya belum?"
"Sudah, tapi sulit ditembak!" teriak pemuda gempal.
"Kalau begitu mau kubuatkan celah?"
Gadis itu langsung bergerak menuju monster aneh itu walaupun belum mendapat balasan. Untuk melindungi gadis itu, cahaya merah, kuning dan biru menghantam monster untuk menarik perhatiannya. Begitu pula dengan Niche dan anjing berwajah malas yang sedari tadi melompat kesana kemari untuk mengalihkan perhatian monster yang mereka sebut gaichu itu.
Satu menit kemudian, gadis itu sudah ada di depan gaichu yang tidak menyadari keberadaannya, dia meluruskan jemari tangannya dan menusuk kulit keras gaichu dengan jemarinya hingga menghasilkan sebuah lubang kecil. Setelah itu, dia kembali ke payung tanah tadi.
Karena hantaman Sylvia tadi, gaichu oleng dan tampak kebingungan. Memanfaatkan momen ini, bocah bermata satu melesat mengitari gaichu lalu menembakkan cahaya merah kedalam celah yang dibuat Sylvia. Ketiga bocah lelaki itu kemudian berlari menjauhi gaichu saat serangga raksasa itu bersinar, kemudian hancur berkeping-keping.
Ed dan Al terkejut melihat kepingan-kepingan gaichu itu. Baru kali itu mereka melihat monster yang kosong didalam. Bocah-bocah itu kemudian berkumpul dan menanyakan kondisi masing-masing.
"Al, Sylvia dan bocah bernama Niche itu, mungkinkah mereka…" kata Ed setengah berbisik.
"mungkin saja kak, lagipula, batu di mata kiri bocah berambut putih itu, jangan-jangan itu…"
"kalau memang benar, itu tak bisa dibiarkan!" Edward menepuk tangannya kemudian menyentuh tanah. Sebuah gundukan tanah melesat ke arah Sylvia. Si pemuda langsing menyadari hal itu, dan berteriak; "Sylvia!". Gadis itu menengok kemudian dia terhantam oleh gundukan tanah itu dari samping.
"SYLVIA!" Zaji berteriak saat melihat sebuah gundukan tanah muncul dan melesat ke arah dingonya. Sylvia menengok lalu terhantam gundukan tanah itu dari samping, untunglah gadis itu sempat melindungi diri dengan tangannya.
Sylvia terdorong, setelah berhenti, dia langsung mengamuk: "Apa-apaan kau? Jangan-jangan kalian dari Reverse?"
"Reverse? Apa pula itu? Jangan membuat scenario yang aneh-aneh ya…" kata pemuda kepang. "Dasar homunculus licik! Jadi kalian melarikan diri sampai ke tempat ini?"
"Homonculus? Makhluk apa itu?" Sylvia mendengus remeh. "Sudah kubilangkan? Kalau aku ini DINGO!" Sylvia melesat dengan amarah ke arah si pemuda kepang, diikuti Niche yang berniat membantu.
A/N: yahooo~ gimana? dah tahu crossover sama apa? A_A duh, susah juga mindahin sudut pandangnya (mengubah dari sudut pandang LB cs ke sudut pandang FMA cs) nah, karena kemunculan si crossover itu cuma sedikit, aku jadi berfikir harus didaftarin sebagai crossover tw ga ya? ada yang mau kasih saran? ^^"
