SAYA KEMBALI! YEAAAHH~


Disclaimer: hanya Sylvia milikku~ *ditinju


V

Ed bersalto ke belakang untuk menghindari serangan Sylvia. Sylvia menghantam tanah hingga kepingan-kepingan tanah berterbangan. Niche yang hendak menusuk Ed dengan rambutnya ditahan oleh Al, pemuda itu mentransmutasi tanah menjadi sangkar yang mengurung Niche. Marah, Niche menghancurkan sangkar itu dan menyerang Al.

"SYL, minggir! Biar aku menembaknya!" teriak pemuda langsing berambut hitam.

"tak usah." Tolak Sylvia, "kau sudah lelah dengan peluru hati, biar aku menghabisinya!"

Sylvia kembali menyerang Ed. Pemuda kepang itu membuat tombak dari tanah dan mencoba menusuk gadis itu. Sylvia menghindar, dan menghancurkan tombak tersebut. Sylvia menyarangkan tinjunya di perut Ed. Ed mundur dan terbatuk. Belum sempat Ed menenangkan dirinya, serangan dari Sylvia datang lagi. Ed menghindari tinju gadis itu dengan tangan automailnya. Sylvia nampak terkejut saat merasakan tangan keras dari besi itu. Memanfaatkan keterkejutannya, Ed membalas tinju Sylvia dengan tangan automailnya. Ketika tangannya menyentuh kulit perut Sylvia, dia juga terkejut dengan alasan yang sama.

"kau, jangan-jangan…" tapi Sylvia tak memberikan waktu pada Ed untuk bertanya, sehingga Ed harus menghindar dengan cepat agar wajahnya tak hancur karena tinju besi Sylvia.

Sementara itu, Al kerepotan menghindari serangan Niche yang sangat tajam. Perisai yang dibuatnya tak mempan ketika menghadapi panah yang diluncurkan Niche—anak maka itu meniru kakaknya— Al berguling menghindari hujan panah emas. Baru saja berhenti berguling, dia menyadari bayangan besar diatasnya. Bayangan itu adalah pendulum berduri emas yang sangat besar. Al menutup matanya…

BUM!

Eh? Tidak sakit? Al membuka matanya perlahan dan memucat saat menyadari pendulum itu ternyata meleset hanya beberapa inci darinya. Al menepuk tangannya dan menyentuh tanah.

Niche terbelalak melihat empat tangan tanah rakasasa dari empat penjuru muncul dari dalam tanah. Tangan-tangan itu hendak menangkapnya, tapi Niche menghancurleburkan semua tangan tanah itu. Bongkahan tanah melayang dimana-mana, Al menghilang dari pandangan, Niche mencari sosok itu.

Al terengah. Dia sedang bersembunyi dibalik sebuah gundukan tanah yang dibuatnya saat Niche sibuk dengan tangan-tangan raksasa. Pemuda berambut emas itu merasa ada sesuatu yang salah dibalik hipotesa yang dibuatnya dengan kakaknya. Benarkah Niche dan gadis bernama Sylvia itu adalah homunculus? Memang, kekuatan Niche yang dapat memanipulasi rambutnya menjadi segala macam benda—terutama benda tajam—mirip kekuatan Lust si homunculus genit, dan kekukatan tinju besi Sylvia mirip Sloth. Dan, yang membuat kedua alchemist ini yakin adalah batu merah yang tertanam di mata bocah berambut putih itu. Mungkinkah itu adalah batu philosopher? Semua itu menjadi petunjuk yang mengatakan bahwa mereka adalah sekelompok homunculus.

Namun, ada suatu hal yang mengganggu pikiran Al. Ada sesuatu yang nampaknya terlupakan. Al memperhatikan pakaian bocah berambut putih itu. Seragam dengan jas dan celana biru, tas besar, syal putih, topi biru dengan bordir lebah berwarna kuning. Dan ada satu kata yang terdengar familiar di telinga. DINGO. Apa itu? eh? seragam biru, bordir lebah, dingo! Itu dia! Akhirnya Al menarik sebuah kesimpulan yang sangat masuk akal.

Al menepuk tangannya dan menyentuh tanah.


"NICHE! BELAKANGMU!" pekik Lag panik.

Sontak Niche membentuk bor emas raksasa yang diarahkan kebelakang. Tapi nyatanya, tindakan gadis kecil itu salah! Tanah yang dihantam Niche bukannya hancur tapi malah memeluk rambut emas Niche dan membeku hingga ia tak dapat menggerakkan pedang emasnya. Memanfaatkan kebingungan Niche, Al kembali menepuk tangannya dan membentuk sangkar tanah untuk mengurung si gadis kecil.

Pemuda berambut emas itu berlari menuju pemuda kepang yang sedang berurusan dengan Sylvia. Melihat itu, Zaji berusaha menghentikan pemuda bernama Al itu dengan Aotoge, tapi batu ambernya bersinar lemah tanda ia tak memiliki hati yang cukup untuk menembak.

"Sial!" umpat Zaji. "Sylvia! Awas bantuan datang dari belakang!"

Al menyentuhkan tangannya ke tanah. Detik berikutnya, tanah di bawah Sylvia mengangkat gadis itu keatas. Tak mau kalah, pemuda kepang—Ed juga membentuk tangan tanah raksasa yang siap menghancurkan gadis itu jadi bubur sum-sum. Sylvia bersalto kebelakang. Setelah mendarat, tangan-tangan raksasa bermunculan semakin banyak memaksa Sylvia untuk terus bersalto.

Lompatan yang terakhir cukup jauh. Sylvia memasang kuda-kuda dan menghancurkan sebuah tangan tanah raksasa.

Nampaknya Ed dan Al cukup terkejut melihatnya. Apalagi saat Sylvia berlari ke arah mereka dengan tatapan ganas. Ed segera menepuk tangannya dan membentuk tangan-tangan raksasa yang lebih besar dari yang pertama. Tapi gadis itu dengan mudah menghancurkan semuanya.

"Ukh, tu—tunggu sebentar!" teriak Al.

"aku tahu siapa kalian, kalian letter bee bukan?"

Sylvia terus maju sambil menghancurkan tangan-tangan raksasa.

"ka—kami punya surat izin masuk Yuusari!"

Sylvia sudah berada sepuluh langkah didepan mereka.

"he—hei… kami juga punya ini…"

Al merogoh kantongnya berusaha mengeluarkan sesuatu. Sylvia terus maju, setelah semua tangan habis, dia memasang kuda-kuda dan melayangkan tinjunya.

"INI SURAT TUGAS YANG HARUS DISERAHKAN PADA LARGO LLYOD!" pekik Al sembari menunjukkan surat bersegelkan segel resmi letter bee.

Tinju Sylvia berhenti tepat di depan surat tersebut.

Kedua belah pihak terdiam. Beberapa menit kemudian, Sylvia menurunkan tangannya dan menatap baik-baik segel surat tersebut dan menghela nafas.

"tunjukkan surat itu pada Connor, bocah gempal itu." Sylvia menuding Connor dengan ibu jarinya.

Al mengangguk. Sylvia memutar tubuhnya, memberikan tempat pada Al untuk berjalan. Ed berniat mengikuti adiknya, tapi Sylvia menghadangnya. "kau tetap ditempat."

Al berjalan perlahan ke arah Connor. Dia menelan ludah dengan gugup saat menyadari bahwa pemuda bermata kucing—Zaji, menudingkan shot gun padanya. Saat sampai di depan Connor, Al langsung menyerahkan surat tersebut. Zaji menyentuhkan moncong shot gun-nya ke kepala Al.

Connor memeriksa segel itu dengan seksama. Segel itu berlukiskan lambang Letter Bee yang menandakan bahwa itu adalah surat resmi untuk pemerintah. Connor membuka sarung tangannya dan mengelus segel itu lalu mendesah dan berkata; "ini asli." Kata Connor. Tapi Zaji tidak menurunkan shot gun-nya. Semua orang terdiam. Para dingo masih dalam kondisi siaga, mereka siap menerjang siapa saja yang bergerak saat itu.

"kalau begitu, ayo kita berjalan bersama sampai Bee Hive." Kata Zaji dengan nada mengancam, "Tapi kalau kalian menunjukkan gerak-gerik berbahaya, aku—kami tak akan segan-segan menemmbak kalian."

Al menatap Zaji dan menelan ludahnya, "Baik."


"Waaah~ ramainya!" Sylvia mendesah kagum melihat jumlah bee yang berlalu-lalang di depan Bee Hive.

"Apakah biasanya tak seramai ini?" Tanya Ed.

"Tidak, karena bee bisa bertugas sampai seminggu lebih dan baru kembali ke tempat ini." jawab Lag.

"Kira-kira, ada apa ya?" Connor terheran-heran melihat para bee yang sedang sibuk menghias halaman kantor mereka, dan halaman di depan Bee Hive mulai dikelilingi tenda-tenda.

"AAH!" pekik Zaji.

"ada apa Zaji?" Tanya Sylvia yang melompat karena terkejut.

"i—itu…" Zaji menunjuk sebuah motor yang terparkir di depan Bee Hive. "ITU MOTOR JIGGY PEPPER KAN?"

"ah, benar, itu milik Jiggy-san." Kata Lag.

Mereka kemudian memasuki Bee Hive setelah puas mengagumi motor Letter Bee Delivery Express (maaf kalau salah -_-") itu. Begitu mereka melangkahkan kaki ke dalam Bee Hive, mereka semua menarik nafas kagum melihat bee dan dingo lain yang baru pertama kali itu mereka lihat. Para bee itu nampak sangat santai dan mengobrol dengan teman mereka. Dengan wajah ceria mereka menghasilkan suara riuh yang jarang terdengar di Bee Hive. Tapi Sylvia memucat. Warna biru dan kuning membuatnya pusing, rasa mual menderanya. Gadis itu menutupi mulutnya dengan tangan, nampaknya berusaha keras agar tidak muntah.

"kau baik-baik saja?" tanya Lag yang melihat perubahan Sylvia.

"ah, ehm… iya, tenang saja." Kata Sylvia sembari menurunkan tangannya. "hanya… sedikit pusing." Senyum lemah yang menghiasi wajah gadis bermata hijau itu diperhatikan Zaji. Tapi pemuda kucing itu tiada mengatakan sepatah katapun dan diam-diam menyesuaikan langkah dengan Sylvia.

Mereka terus berjalan sampai ke depan ruangan Largo Llyod, mengetuk pintunya dan masuk setelah dipersilahkan oleh Aria.

"Selamat datang, para bee kecilku yang manis." Kata Largo sambil tersenyum jenaka.

"heh, menjijikan." Umpat Zaji dengan mimik seperti baru saja melihat hal yang sangat nista.

"ah, ehm… kami membawa tamu untukmu." Kata Lag, berusaha membuat Zaji diam. Para bee cilik itu kemudian memberikan ruang pada dua kakak beradik berambut dan bermata emas itu untuk maju menghadap Largo Llyod.

"Nama saya Edward Elric, dan ini adikku Alphonse Elric." Ed memperkenalkan diri. "Kami datang kemari atas rekomendasi dari Dorothy."

Al memberikan surat tugas pada Aria. Aria memperhatikan surat itu terutama segelnya dengan seksama, kemudian menyerahkannya pada Largo tanpa berkata sepatah katapun. Sang ketua lebah membuka surat itu dan membacanya dengan cepat dan kemudian beliau tersenyum sendiri begitu selesai membacanya.

"ah, kalian rupanya." Katanya santai sembari memasukkan surat tersebut kedalam amplop dan menyimpannya di laci meja kerjanya. "Yah, kalian boleh bekerja mulai hari ini atau besok. Terserah kalian saja."

"eh?" Ed dan Al melongo mengetahui sifat santai bos baru mereka.

"Ketua, sebenarnya mereka ini…" kata Connor dengan hati-hati.

"Mereka adalah alchemist." Kata Largo, "baru-baru ini aku tertarik pada sesuatu dan meminta Dr. Thunderland menelitinya untukku. Namun nampaknya dia kesulitan. Jadi, aku bertanya pada Dorothy, kenalanku, untuk mencarikan seorang yang pengetahuannya bisa menyamai Dr. Thunderland. Jadi, mereka akan bekerja disini sebagai asisten Dr. Thunderland."

"jadi," Sylvia menambahkan dengan malas, "kau sedang tertarik pada apa?"

Largo tersenyum dan menuding Sylvia dengan satai.

Sylvia tertegun melihat jari telunjuk yang ditujukan padanya, "aku? Kau tertarik padaku?"

"begitulah, aku tertarik padamu. Kenapa? Aku mendapat laporan kau punya tenaga raksasa yang tidak biasa. Bisa membuat celah pada gaichu hanya menggunakan tangan kosong itu luar biasa. Aku jadi ingin tahu alasan dibalik kekuatan dahsyat yang tersimpan di tubuh langsingmu itu."

Sylvia terdiam dan menatap Largo dengan tatapan dingin. perasaan tak suka terpancar jelas diwajahnya. Hasrat untuk menerjangnya terasa begitu nyata dikulit setiap orang yang ada disitu. Tapi Alphonse dengan sigap menghadapi situasi itu.

"kalau begitu, bisa berikan kukumu untukku?" pintanya halus.

"kuku?" tanya Sylvia bingung. "kenapa?" gadis itu membuka sarung tangan kanannya memperlihatkan jemari panjang yang lentik lagi indah.

"tadi, saat bertarung dengan gaichu kau menusuk kulit kerasnya dengan menggunakan jari 'kan?" Alphonse menjelaskan, "kulit serangga raksasa itu sangat keras, mungkin sama kerasnya dengan berlian. Berlian hanya bisa dihancurkan dengan berlian. Nah, kalau tadi kau menembus kulit keras itu dengan jari, harusnya kukumu hancur. Tapi, nampaknya tak ada masalah dengan kuku itu. Jadi, kupikir aku bisa tahu jawaban dari rahasia kekuatanmu dari kukumu."

Sylvia terdiam sejenak dan mendesah. Dia menggigiti kukunya dan menyerahkannya ke Edward. "kalau sudah tahu rahasianya, beritahu aku juga ya?" kata Sylvia setengah bercanda dan direspons dengan cengiran kecil Ed.

"nah, nah, karena semuanya telah selesai, bagaimana kalau kalian mengantar para asisten baru Dr. Thunderland ini ke laboratorium?" kata Largo dengan ceria.

"oh iya…" Aria nampak teringat akan sesuatu. "Dr. Thunderland bilang, Wasiolka bisa dijenguk, tapi sebentar saja. Dan, kalian jangan terlalu berisik— hei! Dengar tidak?"

Setelah mendengar bahwa Wasiolka bisa dijenguk, Zaji langsung melesat bagai kilat hitam mengabaikan peringatan Aria dan yang lainnyapun terpaksa menngikutinya. Hatinya melompat-lompat mendengar kabar dingo kesayangannya. Belakangan ini Dr. Thunderland melarangnya untuk menjenguk kucing besar itu dengan alasan kesehatan Wasiolka. Tapi sekarang dia bisa dijenguk! Yang hanya Zaji pikirkan saat ini adalah berlari secepat mungkin menuju dingo kekasih hatinya yang begitu ia rindukan.


Dr. Thunderland kebingungan mendengar suara langkah kaki yang sepertinya begitu banyak tengah berlari menuju laboratoriumnya. Apakah itu musuh? Ah, mungkin bukan. Wasiolka tidak menggeram sama sekali. Mungkin ada seorang bee yang terluka parah atau mungkin itu Zaji. Batin Dr. Thunderland. Dan, tebakannya yang kedua sangat benar.

Zaji mendobrak pintu dan langsung menubruk Wasiolka yang sama terkejutnya dengan Dr. Thunderland. "HEI! Apa-apan kau Zaji jangan— WUAAAH!" Dr. Thunderland makin terkejut saat Lag, Niche—yang hanya ikut-ikutan—Connor, dan Gus menubruknya juga hingga terjatuh dan kepalanya terbentur.

"aduhhh… sakiiit… minggir kalian! Berat tahu, sedang apa kalian menubruk-nuburk begitu?" omelnya sambil mengusap-usap kepalanya.

"ah, maaf. Aku terbawa suasana." Kata Lag.

"Niche juga!"

"A—aku juga…"

"GUK!"

"ALASAN MACAM APA ITU?" pekiknya, dan dia menjitak mereka semua, termasuk Zaji. "Lalu, siapa mereka ini?" tanyanya begitu puas menjitak anak-anak nakal yang rusuh itu. Dia menatap Edward dan Alphonse dari atas kebawah dengan nafsu ingin membedah tubuh mereka.

"ah, perkenalkan saya Edward Elric dan ini adikku, Alphonse Elric. Mulai hari ini kami akan menjadi asisten anda untuk meneliti kekuatan Sylvia." Kata Edward sesopan mungkin.

"oh, begitu." Mereka saling bersalam-salaman dengan sopan. "kalian boleh bertanya apapun padaku dan kalian juga boleh memakai apapun yang ada di laboratorium ini dengan catatan tidak menggunakan apapun bila tidak mengerti cara kerjanya." Puas melihat Alphonse dan Edward yang mengangguk sopan, dia mengijinkan mereka melihat-lihat laboratorium itu terlebih dahulu dan memberitahu para bee dengan setengah mengancam agar mereka tidak membuat Wasiolka terlalu lelah. Setelah itu, barulah ia menyadari ketidak hadiran seseorang. Sylvia. Dimana gadis itu? Dr. Thunderland melangkah keluar untuk mencari sosok gadis itu dan menemukannya sedang berdiri termangu di balik pintu.


"sedang apa kau disitu?" Sylvia dikejutkan oleh sebuah suara rendah. Dia meninggikan pandangannya dan melihat Dr. Thunderland sedang menatapnya dengan bingung. "kenapa kau tidak ikut masuk?" bau steril milik Dr. Thunderland kembali membuatnya mual, kemeja putih panjang milik pria itu juga membuatnya gemetar dan pusing.

"ukh, bisa tolong jangan dekat-dekat?" tanyanya sinis. Tapi kemudian dia menyesali ketajaman nadanya begitu melihat mimik terkejut Dr. Thunderland. "ah, maaf aku tak bermaksud begitu… aku bukannya benci padamu… hanya… aku tak tenang melihat orang dengan penampilan sepertimu. Bau steril dari badanmu juga membuatku pusing. Aku takut… takut dan benci…tapi aku tak benci padamu!" Sylvia berusaha menjelaskan.

Dr. Thunderland mengerti maksudnya dan melepas kemeja itu. "aku tak bisa berbuat apa-apa dengan aroma steril ini. Kau sudah merasa lebih baik?"

Walau masih pucat, Sylvia menjawab lemah; "ya, sudah lebih baik. Maafkan aku kalau kau tersinggung."

"tidak masalah, tiap orang punya sesuatu yang ditakuti." Dr. Thunderland berhenti sejenak untuk tersenyum lembut pada Sylvia, "jadi, kenapa kau tidak masuk?"

Sylvia terdiam dengan wajah sendu dan perlahan mengintip kedalam laboratorium. "karena, aku merasa aku tak boleh masuk kedalam lingkaran itu." katanya lirih, "aku senang bertemu dengan mereka. Aku senang bisa bersama dengan mereka. Tapi aku merasa bila tempat itu bukan untukku. Aku merasa tak pantas berada disitu. Aku merasa, tak selayaknya aku masuk kedalam lingkaran itu."

"siapa yang memutuskan apakah kau layak atau tidak?"

"eh?"

"apakah mereka menolakmu? Tidak kan? Bagaimana dengan Sylvette? Apa yang dikatakan gadis itu?"

Sylvia tertunduk sambil merona saat mengingat perkataan Sylvette kemarin malam. "dia bilang, aku harus menjadi bagian dari keluarganya…"

"Sylvia, kau tidak ingat siapa keluargamu kan? Bagaimana kalau kita jadi keluarga? Namamu akan menjadi Sylvia Suede."

Kata-kata Sylvette menggema ditelinganya, menggetarkan dan menghangatkan hatinya. "dia bilang, Gauche pasti akan menerimaku."

"kakak pasti tak akan keberatan. Dia pasti senang kalau tahu aku punya kawan dirumah. Ya? Mau ya?"

"dia bilang, aku adalah saudaranya."

"pikirkanlah ini baik-baik. Kalau sudah mantap, ayo kita daftarkan anggotak keluarga kita yang baru. Dan kita akan jadi saudara."

"aku senang… sangat senang…."

"ya kan? Sylvette juga menerimamu kan? Kalau begitu, angkatlah kepala dan janganlah rendah diri. Karena mereka suka padamu, maka disitulah tempatmu bernaung." Kata Dr. Thunderland lembut.

Sylvia kembali tertunduk malu. "eng, ja—jadi… kenapa banya bee yang menganggur hari ini?" tanya gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan.

"oh, kalian belum dengar pengumuman? Banyak yang menganggur hari ini karena besok hari libur bagi seluruh bee."

"kenapa?"

"karena, besok akan ada FESTIVAL DINGO."

"festival dingo?"

"ya, semua bee, bebas mendaftarkan dingonya untuk mengikuti pertarungan dengan sistem turnamen, siapa yang menang akan mendapatkan hadiah sejumlah uang."

Sylvia menyeringai, "Festival dingo? Pertarungan sistem turnamen?" katanya dengan suara tajam. Cahaya percaya diri kembali menyinari mata hijaunya, dengan seringai iblis dia berbisik; "sepertinya menarik…"


A/N: akhirnyaaaa~ saya bisa update chapt baru... akhirnya masa-masa neraka hidup (ujian) selesai dan tinggal mengerjakan tugas tambahan dari guru-guru...

maaf kalau terlalu lama hiatusnya... semoga chapt baru ini bisa menghibur kalian...

blakangan ini juga, saya lagi suka sama Princess Tutu dan agak terpengaruh dengan anime itu, smoga aja Letter Bee nggak jadi Princess Tutu ya? ^^" (Zaji nari2 balet, Lag pake tutu... *digebok readers)

uhuk, ditunggu reviewnya~ saya menunggu kritik dan saran dari kalian semua.. ^_^