A/N: HEEEYY! Saya kembali! Maaf kelamaan... maklum, saya sibuk *digampar* dan tahukah kalian? Chapter ini sebanyak 14 halaman di MS Word lhooo~ haha, saya sudah berusaha keras kan? Terimakasih buat kalian yang sudah mereview fic saya ini, saya seneng lho. Maaf ya, saya ga bisa bales review kalian di PM, soalnya internet saya lemot tak terkira. *nangis* Yah, selamat menikmati~!
Disclaimer: hanya Sylvia milikku disini.
VI
Lag tiba-tiba teringat sesuatu, lalu mendongak dan menatap ke seluruh ruangan itu. kemudian, dia melihat Dr. Thunderland sedang berbicara dengan seseorang dari balik pintu. Lag meninggalkan teman-temannya yang sedang mengerumuni Wasiolka dan berjalan menuju Dr. Thunderland.
"Dr. Thunderland?" panggil Lag saat sudah mendapati pria dewasa itu. "Anda sedang berbicara dengan si— oh, Sylvia? Kenapa kau disini? Tidakkah kau mau bertemu Wasiolka?" Tanya Lag.
Sylvia tersenyum dengan percaya diri, lalu berkata; "Tidak, aku tak boleh bertemu dengannya sekarang."
"eh?"
Sambil berkacak pinggang, gadis itu melanjutkan, "Kalau dia sudah sehat, itulah saatnya kami bisa bertemu. Dan saat itu juga, kami akan bertarung."
"a— bertarung? Kenapa?" tanya Lag bingung.
"ini menyangkut harga diri Dingo, Lag. Kau tak bisa masuk di antara kami." Kata Sylvia, kemudian gadis itu berjalan pergi dan melambaikan tangannya pada Lag dan Dr. Thunderland tanpa menoleh. "bilang pada Zaji kalau aku pulang duluan."
"haaah? Ayo kita pulang sama-sama saja!" tapi Sylvia sudah berlalu. Lag masih tidak mengerti dengan maksud Sylvia tentang 'harga diri Dingo' apakah Niche mengerti? Mungkin ya, dan mungkin tidak. Gadis kecil itu lebih rumit daripada Sylvia.
Lag membuka matanya perlahan. Dia merasa tak bisa bernafas. Dadanya sesak, sangat sesak. Bocah mulai panik karena tidak bisa bernafas. Kenapa? Ada apa? Apakah dia terserang suatu penyakit? Pelan-pelan, Lag melihat ke arah dadanya dan terkejut melihat Niche sedang meringkuk di atas dadanya.
"Ni… Che…" katanya susah payah. Dengan sedikit jengkel, Lag menggeser badan Anak Maka itu ke samping dan duduk sambil terengah, berusaha menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Tiba-tiba, Lag merasa tidak mengantuk lagi dan dia mulai haus. Maka dengan perlahan, dia merangkak turun dari tempat tidur dan berjingkat-jingkat sambil menahan nafas menuju pintu.
Setelah akhirnya bisa keluar dengan selamat tanpa membangunkan Niche, Lag berjalan dengan santai untuk mengambil minum ke dapur. Tapi, Lag terkejut melihat pintu kamar Sylvette yang terbuka. Dengan setengah penasaran, Lag mengintip kedalamnya, dan melihat pintu ke beranda juga terbuka. Heran, Lag menoleh ke arah tempat tidur Sylvette dan mendapati gadis itu disana, namun tidak dengan Sylvia. Lag kembali berjingkat-jingkat sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan ke arah beranda. Tapi bocah bermata satu itu tak mendapati siapapun disana.
"Lag?" terdengar suara Sylvia memanggilnya. Lag menoleh ke kanan dan ke kiri namun tak mendapati gadis itu dimanapun. "Disini! Di atasmu!" Lag mendongak dan terkejut bukan main melihat Sylvia sedang duduk di atas atap.
"a-a-a-a-a-ap-apa yang ka-ka-kau lakukan di atas sana?" tanya Lag setengah tergagap karena terkejut.
"hihihi… tak usah terkejut. Aku cuma tak bisa tidur dan ingin melihat langit malam. Mau naik?" Sylvia menjulurkan tangannya. Setengah tak sadar, Lag menjamah tangan itu dan nyaris berteriak saat Sylvia menariknya dengan satu tarikan kuat. "Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu saat Lag sudah duduk di atap dengan wajah pucat dan air mata nyaris menetes.
"ng… kurasa, aku baik-baik saja." Kata Lag walau dia tak yakin dengan kondisinya.
Sylvia tersenyum lembut memandangnya, lalu kembali menatap langit kelam bertabur bintang. Pemandangan di atas mereka terlihat laksana permata yang ditaburkan ke kain beludru hitam.
"indahnya~" desah kagum terdengar dari bibir gadis itu. "kalau ada bulan, pasti akan lebih indah lagi."
"bulan?" Lag bingung mendengar nama suatu benda baru yang tiada dikenalinya. "apa itu?"
Sylvia memandangnya dengan terkejut, membuka mulutnya seakan mau protes tapi mengatupkannya kembali dengan mimik maklum. Gadis itu membetulkan posisi duduknya menjadi menghadap Lag. "kau ingat gambar yang kutunjukkan padamu belum lama ini?" tanyanya.
Lag mencoba mengingat lukisan terakhir yang gadis itu tunjukkan padanya belum lama ini. "iya, Gambar Niche dan steak sedang menghadap langit."
"apa kau ingat sebuah objek besar dan bulat yang kugambar di lukisan itu?"
Lag mengorek-ngorek ingatannya kembali. Gambar itu adalah lukisan Niche, dengan Steak di atas kepalanya, sedang menatap langit dengan sebuah objek bulat besar di langit berwarna abu-abu dan di kelilingi bintang cemerlang di langit malam. "iya, aku ingat."
"itulah bulan, Lag." Katanya. Namun wajah Lag menyuratkan bahwa ia masih membutuhkan lebih banyak informasi. "saat siang hari, ada matahari yang menerangi dunia. Mirip matahari buatan, tapi matahari yang ku tahu menyinari seluruh dunia bukan hanya sebagian kecil dunia bernama 'ibukota'" kalimat terakhir diucapkan gadis itu dengan nada mengejek. Dan Lag hanya bisa mengangkat pundaknya dan menurunkannya lagi. "nah, kalau bulan dia menyinari langit malam. Bulan tidak punya cahaya sendiri seperti matahari dia hanya memantulkan sinar matahari." Sylvia kembali duduk menghadap langit, menopang dagu dan menatap langit, "namun, dia tetap indah di kala malam yang sunyi menghampiri."
Lag memperhatikan tatapan Sylvia. Itu adalah tatapan yang merindukan sesuatu. Sesuatu yang sangat diinginkannya. Entah gadis itu merindukan sesuatu, atau merindukan seseorang. Apakah dia merindukan orang-orang yang ada di sekitarnya sebelum dia kehilangan ingatan? Lag tidak tahu.
Sekali waktu, Sylvia pernah meminta Lag untuk melihat ingatannya, tapi yang muncul tetap putih bersih, walaupun dia sudah bersama-sama dengan Lag dan kawan-kawan selama beberapa hari. Seberapa banyakpun dia mencoba mengorek hati gadis itu, yang muncul hanyalah gambar putih bersih yang kosong.
Largo Llyod tiba di Bee Hive lebih awal dua jam sebelum jam kerja dimulai. Biasanya, yang ada di Bee Hive pada jam seperti ini hanyalah Dr. Thunderlan Jr. lalu Aria akan datang satu jam setelahnya. Masih setengah mengantuk, pria itu menggaruk kepalanya sejenak dan mulai membaca dokumen-dokumen yang diberikan Aria padanya kemarin.
Pada saat itulah, terdengar suara langkah kaki yang tengah berlari ke arah ruang kantornya. Detik berikutnya, pintu dibuka dengan kasar dan Dr. Thunderland berlari ke meja Largo dengan tatapan bingung bercampur khawatir.
"wah, wah, wah, tumben sekali kau datang ke ruanganku pagi-pagi begini." Kata Largo Llyod dengan nada jenaka, "ada apa?"
Dr. Thunderland menormalkan nafasnya yang memburu karena berlari sejenak sejenak, kemudian mengangkat sebuah buku tebal usang berdebu berwarna cokelat. Tulisan di cover buku itu tertulis; GAICHUU ENSIKLOPEDIA. "aku menemukan buku itu di antara dokumen medis para bee." Kata Dr. Thunderland dan menyerahkan ensiklopedia itu pada Sang Ketua Lebah.
"Hmm…" Largo memperhatikan buku itu dengan seksama dan mebalik halaman-halaman yang sudah usang termakan usia dengan hati-hati. "Ini ensiklopedia gaichuu yang pertamakali dikeluarkan oleh pemerintah dan tidak dicetak lagi. Lalu, ada masalah apa?
"Coba buka halaman terakhir ensiklopedia itu."
Largo menuruti dokter itu dan membuka halaman terakhir. "Tidak ada apa-apa, hanya gambar salah satu jenis gaichuu dan penjelasannya." Katanya.
"Perhatikan baik-baik, halaman terakhir itu menempel dengan kertas lain, bukalah bagian yang tertempel itu."
Dengan agak malas, Largo membukanya dan terkejut bukan main melihat judulnya. Dia membaca penjelasannya sekilas lalu menutup ensiklopedia itu dan menatap tajam Dr. Thunderland. "Hal seperti itu tidak mungkin ada." Katanya dengan nada tajam dan rendah pertanda keseriusan yang mendalam, "Itu adalah hal yang tak mungkin—hal yang tidak boleh ada."
"Aku juga mau menganggapnya seperti itu, tapi kalau yang mencetak pemerintah sendiri, bukankah itu artinya—"
"Tidak." Largo memotong ucapan Dr. Thunderland. "Ini tidak mungkin…" Largo mengernyit memandang dokter bermata satu tersebut, kemudian menatap buku itu lama-lama, lalu memasukkannya ke dalam laci mejanya. "Jangan katakan soal ini pada siapapun… mengerti?"
Dr. Thunderland mengangguk samar, "Baiklah, aku mengerti."
Suasana kota yang awalnya sepi, perlahan mulai dipenuhi oleh beragam kegiatan manusia. Warga kota mulai sibuk menghias kota dengan hiasan festival yang khas. Halaman depan Bee Hive sudah dipenuhi dengan stand-stand meriah. Senyum terlukis di setiap wajah, tawa terdengar dimana-mana, suka ria melimpah ruah di kota Yuusari Pusat.
Dibelakang stand-stand yang ada dihalaman Bee Hive, berdirilah dua orang pria. Yang satu memakai kacamata hitam guna menyembunyikan sorot mata tajamnya, memakai jubah hitam panjang. Yang satu lagi berbadan besar dan kekar, alisnya bertemu, tapi sinar kebaikan terpancar jelas di bola matanya.
"Ada apa ini?" tanya pria berjanggut pada pria kekar.
"Entahlah, aku tidak tahu." Kata pria kekar.
Pria berjanggut itu kemudian menyadari keberadaan sebuah spanduk besar yang tergantung di depan Bee Hive. Spanduk itu bertuliskan 'FESTIVAL DINGO' dengan warna merah gelap.
"Festival dingo?" Gumam pria berjanggut.
"oohh… lihat apa yang kutemukan!" Pria kekar menyerahkan sebuah brosur yang ditemukannya di bawa angina pada pria berjanggut.
Pria berjanggut membaca brosur yang menginformasikan perihal Festival Dingo yang sedang berlangsung pada hari itu. "Sepertinya acara utama festifal ini adalah pertandingan antar dingo."
"Benarkah? Kalau begitu, aku harus ikut pertandingan itu!" Kata pria kekar dengan suara menggelegar.
Si pria berjanggut menyeringai samar, "Sebelum itu, ayo kita temui Largo Llyod dulu."
Kemudian Garrard dan Valentine kembali berjalan. Lurus, menuju Bee Hive.
"WOW! Tempat ini benar-benar ramai!" kata Sylvia dengan semangat.
"Aku juga baru kali ini melihat Bee Hive begitu ramai dengan manusia." kata Lag sambil celingukan melihat stand-stand meriah yang sangat mengundang.
"Lag, itu apa? Kalau yang itu apa? Bagaimana dengan yang satu itu? Lag, kau tahu benda apa itu?" Niche menyiksa Lag dengan serbuan pertanyaan yang tiada berhenti. Mata biru cerah gadis mungil itu bersinar-sinar dalam semangat membara.
"Niche! Jangan berlarian! Jangan jauh-jauh dari kami, nanti kau tersesat!" ujar Sylvette penuh kekhawatiran sembari meluncur perlahan di samping Sylvia yang sibuk celingukan.
Ya, sekarang mereka sedang ada di tengah-tengah Festival meriah yang diadakan oleh Largo Llyod.
"Tenang saja Nona Sylvette, Niche akan mudah ditemukan jika dia menghilang. Tunggu dan lihat saja." Kata Sylvia sambil tersenyum.
"Tapi…" Walaupun Sylvette dan Lag ingin memprotes perkataan Sylvia, mereka membiarkan Niche berlarian kesana kemari sampai hilang dari pandangan mereka, tertelan di antara banyak manusia.
Tak lama setelah itu, terdengar suara jeritan Niche; "LAG! KAU DIMANA LAG? LAG! LAG! LAG! LAG!"
Semua orang berkerumun disekitar Niche untuk melihat siapa yang sedang berteriak. "Tuh, kan? Dia mudah ditemukan kan?" Sylvia tertawa sambil mendorong kursi roda Sylvette ke arah Niche yang sedang dikerumuni.
"LAG!" Niche memeluk Lag sekuat-kuatnya sampai-sampai Lag nyaris pingsan karena tak bisa bernafas.
"Niche, kalau kau tak mau kehilangan Lag, berjalanlah disampingnya!" Ujar Sylvette.
Niche mengangguk, melepaskan Lag, dan menempatkan dirinya disisi Lag. Sekarang gadis kecil itu berjalan dengan menyamakan langkahnya dengan langkah tuannya yang sangat dicintainya. Sylvia tertawa dan Sylvette mendesah geli melihat tingkah gadis kecil yang sangat lugu itu. Mereka berempat berjalan terus, menghindari ribuan manusia yang bergerak lambat sampai tiba di depan jadwal turnamen dingo. Lag memandang susunan tanding itu dengan takjub dan Sylvia sibuk mencari-cari namanya.
"Ah, aku di blok D dan Niche di blok B." Sylvia mengumumkan sambil menunjuk namanya dan nama Niche.
"He? Niche juga ikut?" Lag terkejut melihat nama Niche tertulis di susunan turnamen dingo tersebut. "Tapi, aku tak mendaftarkannya."
"Aku yang mendaftarkan." Kata Sylvia, "Aku bilang pada Aria-san agar mendaftarkan aku dan Niche ke turnamen ini."
"Ta-tapi…"
"Kau mau kan ikut pertandingan ini Niche?" Sylvia berjongkok di depan Niche, memegang kedua pundak mungilnya dan tersenyum penuh percaya diri. "Kalau kau memenangi pertandingan ini, kau akan mendapat hadiah dan dipuji semua orang, dan pujia itu akan tertuju pada Lag juga. Bukan hanya itu, semua orang yang ingin mengganggu Lag, akan mengurungkan niatnya karena mengetahui ada seorang DINGO KELAS SATU yang SANGAT KUAT melindungi Lag. Ya, kan? Kau mau ikut kan?"
Tanpa ragu Anak Maka itu menjawab tegas; "YA!"
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" Terdengar suara tawa menggelegar dengan suara rendah om-om. Keempat anak itu langsung menengok ke arah suara dan mendapati dua orang om-om berjenggot. Yang sedang tertawa berbadan kekar dan besar, sementara yang satu lagi bertubuh langsing. "Dengar bocah-bocah dingo yang masih hijau nan lugu, akulah SANG DINGO KELAS SATU!"
Lag, Sylvia, dan Sylvette terbelalak sementara Niche mengerutkan dahi dengan kesal dan membalas; "TIDAK! Akulah DINGO KELAS SATU!"
"HAHAHAHAHAHA! Gadis kecil sepertimu bukanlah apa-apa bagiku, kau tak akan bisa mengalahkanku kalau kau mengikuti turnamen ini."
"APA? Niche pasti menang! Niche kuat!"
"Sekuat papaun dirimu, nona, kau tak akan pernah bisa mengalahkan aku! DINGO KELAS SATU!"
"Niche juga DINGO KELAS SATU!"
"Cukup!" Perintah pria dewasa yang bertubuh ramping. "Ayo kita pergi." Lalu mereka berbalik dan menjauh dari mereka.
"Siapa mereka?" Tanya Lag terheran-heran. Sylvia, Lag dan Sylvette masih terbelalak tak percaya melihat ada orang dengan badan kekar dan berjenggot, suaranya menggelegar luar biasa dan percaya dirinya mengatasi langit.
"Mereka adalah Garrard dan Valentine. Keduanya merupakan inspektur dari Akatsuki." Jawab Aria-san yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka berempat bersama dengan Largo Llyod.
"A-Aria-san, Largo-san!" Kata Sylvette terkejut. "Inspektur? Dari Akatsuki? Ada urusan apa mereka kemari?"
"Entahlah, sebelum mengatakan tujuannya, Valentine malah bilang dia mau berpartisipasi dalam turnamen ini hhh…" Keluh Aria-san.
"Eh? Si Otot itu juga berpartisipasi dalam turnamen dingo ini?" Tanya Sylvette.
"Otot? Maksudmu Valentine?" Tanya Largo sambil menahan tawa. "Ya, dia juga berpartisipasi. Dia memang suka hal-hal seperti ini."
Aria kemudian menempelkan nama Valentine di daftar turnamen. Valentine berada di blok C. Sylvia terbelalak dan tersenyum menantang. "Menarik. Aku akan bertemu dengannya di semifinal. Aku tidak sabar ingin bertanding dengan si Otot itu."
"Itu kalau menang 'kan?" Terdengar suara Zaji dari belakang. Mereka semua menengok kebelakang dan melihat Zaji yang sedang cemberut dan Connor yang sedang nyengir sambil mengunyah roti. "Dasar, bisa-bisanya kau mendaftar pertandingan ini tanpa diskusi dulu denganku."
"Hum? Apa urusannya denganmu? Ini harinya para dingo, suka-suka aku mau apa."
"Jangan sembarangan. Kau sendiri mendaftarkan Niche tanpa bilang apa-apa padanya."
"Itu lain…"
"Sudah-sudah jangan bertengkar." Aria melerai mereka. "Yang penting sekarang, kalian segeralah berkumpul di dekat arena tanding, lima menit lagi babak penyisihan akan dimulai."
Dan akhirnya merekapun berjalan menuju arena tanding yang sudah dihias semeriah mungkin agar menarik perhatian banyak orang. Orang-orang langsung membuka jalan pada mereka saat melihat Largo Llyod dan Aria Link berjalan bersama mereka. Di saat para bee sedang libur dan memakai baju bebas, hanya Largo dan Aria saja yang memakai pakaian formal. Largo memakai pakaiannya yang biasa, sementara Aria memakai seragam bee. Semua penduduk kota sangat menghargai mereka berdua, karena mereka berdua sudah dianggap sebagai kepala pemerintah di kota itu.
Beberapa langkah sebelum mencapai arena tanding, mereka menyadari bahwa orang-orang sedang mengerumuni sesuatu dan berbisik-bisik mengenai penampilan mencolok, orang asing, dan warna emas. Aria dan Largo langsung masuk ke antara kerumunan manusia, sehingga Lag dan kawan-kawan dapat menerobos kawanan manusia dengan aman. Setelah itu, merekapun akhirnya mengetahui siapa yang jadi pusat perhatian. Edward dan Alphonse yang sedang mengobrol dengan Dr. Thunderland.
"Wah, wah… kukira ada gadis cantik dan seksi yang menjadi kerumunan orang-orang disini. Ternyata yang menjadi pusat perhatian malah tiga pria membosankan." Komentar Largo.
"Komentar macam apa itu?" Tanya Dr. Thunderland.
"Mencolok? Kami?" Tanya Edward nampak terkejut.
"Jaket merah kakak mencolok 'sih." Kata Alphonse seraya memberi salam dengan sopan pada semuanya.
Largo memperhatikan Edward dari atas kebawah, lalu tersenyum lebar. "Pantas saja mereka mengerumunimu, wajahmu ternyata lebih manis dari pemuda biasa." Lalu Largo menatap Lag, "Bahkan kau tak kalah cantik dari Lag."
"APA?" Edward nyaris meledak, tapi Alphonse langsung menahan kakaknya.
"Tolong jangan dipancing, Direktur. 'Manis' dan 'mungil' adalah kata tabu bagi kakak." Alphonse memperingati.
"Humm… tidak kusangka ternyata peserta manusianya cukup banyak juga." Kata Zaji sembari memandang ke sekumpulan peserta manusia yang sedang mengobrol sambil pemanasan.
"Memangnya, dingo itu kebanyakan hewan?" Tanya Alphonse.
"Sebagian besar sih begitu." Jawab Connor.
"Sebagian besar dari mereka berasal dari Agensi Tenaga Kerja." Aria menjelaskan. "Karena mereka bilang bosan, makanya Direktur membuat festival dingo seperti ini."
"Jangan bongkar rahasia dong."
"Ups, maaf tidak sengaja." Aria membalas omongan Largo tanpa ekspresi.
Tak lama setelah itu, terdengar pemberitahuan bahwa babak penyisihan akan segera dimulai. Mendengar itu, segera saja semua orang berkumpul untuk melihat siapa yang maju. Dan nama yang disebut paling pertama adalah Sylvia dan seorang lagi.
"Wah, ternyata aku yang paling pertama. Jadi tidak sabar, siapa yang jadi lawanku ya?" Begitu berdiri di atas ring, yang menjadi lawan pertama Sylvia adalah seekor beruang raksasa yang besarnya nyaris tiga kali ukuran tubuh Sylvia.
Sylvette memucat, Lag, Zaji, Connor, Edward, dan Alphonse melongo, Largo nyengir, sedangkan Aria dan Dr. Thunderland menatap beruang itu tanpa ekspresi. Sementara para penonton sisanya hanya bisa terbelalak dan melongo melihat beruang raksasa berwajah sangar yang siap melumat gadis kecil itu kapan saja.
"Oi oi oi… memangnya tidak ada kriteria untuk petarungnya?" Tanya Edward dengan wajah setengah tersenyum setengah melongo.
"Tidak ada, yang penting mereka dingo." Jawab Largo.
"Oh, Tuhan…" Sylvette nyaris menangis.
Peraturan pertandingannya sangat mudah; pertarungan mati-matian, yang jatuh dan tidak bisa bangun sampai hitungan ke sepuluh dianggap kalah, berada di luar ring sampai hitungan ke sepuluh dianggap kalah, diijinkan mengalahkan lawan sampai pingsan, membunuh akan didiskualifikasi dan dipecat sebagai dingo.
Setelah peraturan itu diberitahukan, gong tanda pertandingan dimulai berbunyi dan segera saja si beruang menerjang Sylvia. Sylvia menghindar kesamping, lalu mendorong si beruang dengan satu dorongan kuat. Beruang itu kemudian terdorong keluar ring dan menabrak sebuah tembok. Beruang itu mengerang sejenak lalu lemas tak berdaya. Sang juri mendatangi si beruang untuk memeriksanya lalu berteriak; "SYLVIA MENANG!"
Para penonton hanya bisa melongo, lalu nyengir tak percaya dan bersorak dengan semarak memuja-muja kekuatan Sylvia. Tapi Sylvia turun dari ring dan mendatangi Zaji sambil mendesah kecewa.
"Apa-apaan kau? Menang tapi tidak senang?" Tanya Zaji bingung.
"Habiiis~ dia terlalu lemaaah~" Keluh Sylvia sementara Lag dan kawan-kawan hanya bisa menatap Beruang malang itu dengan wacah biru. "Apa?" Tanya Sylvia setengah cemberut saat melihat Lag dan kawan-kawan menatapnya dengan wajah pucat. Lag dan kawan-kawan menggeleng tanpa ekspresi sebagai jawaban.
Sylvia mendesah, lalu tersentak saat mendengar pengumuman pertandingan yang memberitahukan bahwa sekarang giliran Niche untuk bertarung di arena pertarungan Blok B. Segera saja gadis bermata hijau cerah itu berjongkok dan memegang pundak Niche. "Tenang saja, Niche. Kau pasti menang. Akan kuberitahukan kiat supaya bisa menang mudah." Lalu Sylvia membisikkan sesuatu di telinga Niche dengan wajah licik, sementara Niche mendengarkan dengan serius sampai hidungnya mengembang.
Lima menit setelah itu, Lag dan kawan-kawan kembali melongo melihat Niche mengalahkan seekor panda dengan satu tinju emas raksasa, sementara Sylvia bertepuk tangan dalam kebahagiaan. "Kau hebat Niche!" seru Sylvia yang membuat Niche mendengus bangga dan pipinya merona merah. Steak juga bangga, dia juga mendengus bangga dan tatapan matanya tajam cemerlang.
"Lag!" Niche menyerbu Lag sampai bocah itu terjatuh dengan Niche menindihnya. "Lag! Niche hebat bukan? Niche dingo kelas satu! Niche membuat Lag bangga kan? Niche hebat!" Niche menyerbu Lag dengan seluruh pertanyaan dan pernyataan yang dahsyat. Dan pada akhirnya, Lag hanya bisa berkata "Ya." Dengan lemas. Zaji dan kawan-kawan tertawa melihat tingkah gadis kecil yang polos dan keras kepala itu.
Begitulah, Niche dan Sylvia mengalahkan semua lawannya dengan mudah dan hampir semuanya dikalahkan dalam satu pukulan kuat. Akhirnya, Niche dan Sylvia masuk semi final dengan mudah. Sylvia tersenyum dengan antusias saat mengetahui lawannya di semifinal adalah Valentine, si jenggot kekar dengan suara menggelegar.
"fuh… aku tidak bisa berhenti tersenyum, seluruh sarafku tegang, darahku mendidih, jantungku menggila dan otot-ototku bereaksi. Aku ingin segera bertarung." Desis Sylvia.
"Kau aneh, Sylvia." Ujar Sylvette. "Setahuku tidak ada gadis yang senang bertarung."
"Aku bukan gadis biasa, kan? Aku ini gadis tanpa nama yang hilang ingatan dan berakhir menjadi dingo bagi bocah pemarah yang menyebalkan." Sylvia melirik Zaji sambil nyengir.
"Lalu, memangnya kau yakin tidak akan mati remuk di tangan si jenggot kekar itu?" Tanya Zaji dengan kesal.
"Entahlah," Sylvia mengangkat bahunya, "Tapi kalau berusaha, kita pasti bisa kan?"
"Kurasa Valentine tidak akan meremukmu sampai mati, tapi berhati-hatilah." Kata Largo.
"Kalau hanya patah tulang, kita bisa men-gips-nya." Kata Dr. Thunderland, "Yah, berhubung aku sudah punya bawahan, aku akan suruh mereka yang melakukannya."
"Terima kasih, aku akan berjuang." Kata Sylvia dengan semangat membara. Kemudian dia menatap Niche, "Sampai jumpa di final, Niche." Katanya penuh tantangan, sementara Niche mengangguk sebagai jawaban dengan wajah penuh ketegangan.
Sylvia memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam kemudian menghebuskannya. Saat mata terbuka, ekspresinya berubah tenang dan dingin. Dalam ketenangan, dia naik ke atas arena tanding dan berhadapan dengan Valentine yang melipat tangannya dan menatap Sylvia dengan tatapan menantang.
"Sebaiknya kau menyerah saja nona, karena aku pasti akan meremukkan tulang-tulang mungilmu." Kata Valentine. "Aku tidak bisa menjamin kalau aku bisa menahan kekuatanku."
"Jangan terlalu percaya diri," Sylvia mendengus dan tersenyum remeh, "Bisa saja aku yang meremukkan tulangmu kan?"
Lalu gong tanda pertandingan dimulai. Detik berikutnya, Valentine menendang Sylvia, tapi Sylvia menahannya dan gadis itu terdorong mundur. Setelah berhenti, gadis itu menghindar ke samping karena menyadari serangan Valentine. Tinju Valentine menghantam beton arena tanding. Sylvia mengambil kesempatan untuk meninju wajah Valentine yang sekarang sejajar dengannya, tapi Valentine menahan serangan itu. Valentine menangkap tinju Sylvia dengan tangan kirinya, lalu melempar Sylvia ke luar arena tanding.
Sylvia terpelanting dan menghantam tanah. Wasit mulai menghitung, dan pada hitungan ketiga, Sylvia sudah berada di arena tanding. "FIGHT!" teriak si wasit. Mendengar itu, tubuh Sylvia bereaksi dan tiba-tiba saja dia sudah berada di samping kanan Valentine dan menendang rusuknya dari samping. Valentine terdorong ke samping sambil memegangi rusuknya. Tapi Sylvia tidak member ampun, dia muncul kembali tepat dihadapan Valentine dan melayangkan tinjunya. Valentine menepis tinju itu dan menghantam tubuh Sylvia dengan tinjunya. Sylvia terdorong mundur, gadis itu memegangi tubuhnya.
'Pasti satu atau dua rusuknya patah. Aku terlalu semangat.' Ujar Valentine dalam hati setengah menyesal. Tapi dia terkejut bukan main saat tiba-tiba Sylvia berlari zig-zag dengan cepat—sehingga membuatnya bingung—, melompat, dan menghantam kepalanya dengan dua tangan. Kepala Valentine berdenging dalam kesakitan dan kebingungan. Dia menghindari serangan kedua Sylvia dengan menahan tangannya dan berusaha mematahkannya. Tapi sebelum bisa melakukannya, Sylvia mengangkat tubuhnya dengan menggunakan tangan Valentine yang memegang tangannya sebagai tumpuan dan menendang kepala Valentine. Valentine mengerang dan membanting Sylvia ke beton. Pria besar itu kemudian kembali mengangkat Sylvia, melempar gadis itu ke udara dan menghantamnya sekali lagi dengan segenap kekuatan. Sylvia melindungi tubuhnya dengan menyilangkan kedua lengannya, dia terlempar namun tidak sampai ke luar arena tanding, gadis itu mampu menahan dorongan serangan Valentine sampai ke ujung arena tanding.
Sekarang baik Sylvia maupun Valentine sama-sama berada di daerah paling ujung arena tanding. Mereka berdua memasang kuda-kuda dengan waspada dan menatap satu sama lain tanpa menyerang.
"Aneh," Ujar Sylvette sambil memegangi dada kirinya, merasakan debaran jantung yang tak mau tenang "Kenapa mereka berdua hanya memasang kuda-kuda dan berjalan mengelilingi arena tanpa menyerang satu sama lain?"
"Mereka bersikap waspada." Ujar Alphonse.
"Waspada?" Tanya Sylvette tanpa mengalihkan perhatiannya pada Sylvia.
"Ya," Kata Edward, "Seorang petarung, begitu menyadari kekuatan lawan yang sesungguhnya, akan menjaga jarak dan lebih waspada menyiapkan serangannya untuk memberikan serangan telak dan menghindari cedera parah."
"Hoo~ kenapa kalian bisa tahu hal semacam itu?" Tanya Largo.
"Karena kami juga sering bertarung dulu." Jelas Edward, "Begitu menyadari kekuatan lawan, insting kami akan menjerit untuk lebih waspada dan kami akan menyerang titik lemahnya dan melindungi titik lemah kami sekuat tenaga."
"Daripada itu kakak, apa kau menyadarinya?" Tanya Alphonse. Pemuda itu mengerutkan dahinya dan memperhatikan Sylvia.
"Tentu saja aku sadar." Jawab Edward pada adiknya, "Aku pernah bertarung dengannya juga, dan akupun bertanya-tanya soal keganjilan itu sampai sekarang. Kurasa si otot itu juga sudah menyadarinya, makanya dia waspada."
Dr. Thunderland menyipitkan matanya pada dua orang bawahannya yang baru. "Apa maksud kalian? Apa yang aneh?"
"Tunggu sebentar, dokter, biarkan aku dan adikku konsentrasi sebentar. Kalau pertandingan ini sudah selesai kami akan segera memberitahu anda." Kata Edward sambil menutup mulutnya dengan tangan dan mengunci tatapannya pada Sylvia.
Zaji mendengar pembicaraan ganjil itu dalam diam. Dia mengernyit sebal dan berdecak. Dia tak tahu apa yang salah, bocah kucing itu hanya tidak suka Sylvia, dingo sementaranya, dijadikan objek penelitian. Walaupun dia tidak begitu senang dengan fakta bahwa dia dilindungi perempuan, tapi dia tetap tidak suka kalau temannya dijadikan objek penelitian. Zaji melirik Largo Llyod sebentar kemudian kembali menatap Sylvia. Pada akhirnya, dia tidak akan bisa menghalangi penelitian itu karena Direktur sendiri yang meminta penelitian itu dilaksanakan.
Sylvia terengah dan mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Serangan-serangan Valentine sangat kuat ditubuhnya. Tapi anehnya, serangan itu tidak terasa sakit, bahkan tulang-tulangnya tidak ada yang patah satupun. Darah Sylvia terasa mendidih dan kulitnya terasa terbakar sementara keringat membasahi tubuhnya, saraf-sarafnya terasa melebur dalam panas, tapi Sylvia merasa sangat rileks.
'Aneh…' Batin Sylvia, 'Punggungku terasa panas sekali dan berdenyut-denyut.' Gadis itu menengok kea rah punggung yang tak mungkin bisa dilihatnya, 'Tapi kurasa, tidak maslah. Tidak terlalu sakit. Aku masih bisa bertarung!' Sylvia menguatkan kepalan tangannya, menarik nafas dan menghembuskannya, lalu mulai berlari menuju Valentine. Dia menyerang si pria berotot itu, namun semua serangannya di tahan.
Sylvia bersalto kebelakang dan berlari mengitari Valentine. Gadis itu tiba-tiba berada di depan perut Valentine dan bersiap memberinya tendangan berputar, tapi Valentine menangkap kaki Sylvia dan berusaha menghantam leher gadis itu. Sylvia menghindar tepat pada waktunya dan serangan Valentine hanya menyerempet lehernya, menyebabkan pita yang terikat disana terlepas. Panik, secara insting Sylvia langsung menutup leher bagian kanannya. Gadis berambut cokelat panjang itu menggertakkan gigi, menopang tubuhnya dengan satu tangan dan kakinya yang bebas menghajar lutut Valentine.
Pria berotot itu menggeram kesakitan, dia melepas kaki Sylvia lalu menghantam punggung gadis itu hingga terpelanting ke beton. Sylvia terbelalak, punggungnya terasa begitu panas membakar dan rasa sakitnya membuat kepalanya berdenging. Valentine mengangkatnya, lalu melemparnya ke udara dan menghantam perutnya. Sekali lagi, Sylvia terbanting ke beton di tempat yang sama. Rasa panas membakar punggungnya dan rasa sakit membuat baik kepala dan telinganya berdenging. Seluruh suara menghilang berganti dengan dengingan, matanya terbuka tapi seluruh dunia terlihat buram dan mulai menggelap. Saat gadis itu terbaring di beton, pemandangan terlihat hitam, dan otaknya berhenti berfungsi.
Sylvette dan Lag memucat dan nyaris mengeluarkan air mata. Niche, Zaji, Connor, Largo, Aria, Dr. Thunderland, Alphonse dan Edward terbelalak. Mereka semua hanya bisa terdiam dan menelan ludah dengan gugup saat Valentine menatap gadis yang terbaring diam di beton—hanya dada gadis itu yang nampak naik turun dengan pelan dan berat sebagai tanda bahwa ia masih hidup—dan mulai berkata-kata dengan suaranya yang rendah dan menggelegar;
"Sudah kubilang 'kan, nona, kalau aku tidak bisa menjamin bisa menahan kekuatanku." Pria besar itu menghembuskan nafasnya, "Lebih baik kita akhiri di—"
"Kau terlalu banyak bicara om." Kata Sylvia. Gadis itu bangkit dan berdiri terbungkuk, kedua tangannya terkulai dan wajahnya tertutup oleh rambut depannya, "Siapa yang bilang kalau aku sudah tidak bisa bertarung lagi?"
Melihat pemandangan itu, Edward tersentak dan berteriak pada Zaji; "OI! ZAJI! Apa kau punya kata-kata khusus untuk menenangkan dingo yang lepas kendali?"
Zaji tersentak terkejut lalu menjawab, "Kalau untuk Wasiolka ada. Tapi untuk Sylvia aku tidak—"
"Gawat, ini tidak baik…" Desis Edward sembari kembali melihat kearah Sylvia yang tengah terbaring, "Dia akan mengamuk."
To be continue
A/N: yay! Festival Dingo! Pertarungan antar para dingo yang dengan bangga melindungi majikan mereka itu keren kan? Hehe... Apalagi pas ngetik pertarungan antar Valentine dan Sylvia, wuihi, saya semangat banget!
Yah, sekian dari saya, dan tolong di review! Kasih tau saya dimana kurangnya fic ini dari segi cerita maupun pemilihan kata.
Terimakasih. *Wide smile*
