January 2010 – London, United Kingdom.
Seorang pria—atau makhluk berambut hitam panjang, yang memiliki mata berwarna kuning seperti ular, dan pelayan pribadinya yang memiliki rambut berwarna putih—serta kacamata bulat yang membingkai matanya, berjalan menelusuri koridor istana Caeruleus. Pria bermata ular itu, berjalan dengan angkuh. Di tambah lagi, wajahnya yang selalu memperlihatkan seringai licik. Mereka berjalan, sampai mereka menemukan lorong panjang yang menghubungkan kesuatu tempat. Segera saja mereka memasuki lorong tersebut.
Lorong tersebut memiliki dinding pola papan catur Masonic berwarna hitam-merah, dengan ukiran-ukiran di bebagai sudut, sedangkan langit-langit lorong terdapat ukiran kuda-kuda Unicorn, ditambah lagi lantai yang berwarna hitam kelam.
Pria dengan mata ular, dan pelayan pribadi berkacamata itu, berhenti berjalan saat melihat pintu berwarna perak dengan ukiran-ukiran indah, di pintu itu terdapat ukiran bentuk kepala kambing jantan, dengan ukiran bintang lima di kepala tersebut.
Pria bermata ular itu meletakan telapak tangannya tepat di ukiran kepala kambing tersebut. Dan keluarlah sinar berwarna biru terang dari telapak tangannya, dan sinar biru tersebut terserap oleh ukiran itu.
Setelah itu, pria berkacamata meletakan telapak tangannya tepat di ukiran kepala kambing tersebut. Tiba-tiba, sinar berwarna hijau keluar dari telapak tangannya, dan sinar tersebut, telah terserap oleh ukiran kepala kambing yang terdapat di pintu.
Segera saja pintu itu terbuka, menampilkan ruangan yang disinari warna biru cerah, dan para penghuni Caeruleus yang sedang terdiam dengan tenang, di kursi tingginya masing-masing. Tetapi, tidak semua penghuni kerajaan ini yang terdiam dengan tenang, karena ada salah satu pria yang duduk, dengan gelisah.
Mereka berdua memasuki ruangan tersebut, lalu segera saja pintu itu kembali tertutup sambil meninggalkan sinar keunguan yang semakin lama menghilang. Pria bermata ular, berkulit pucat tersebut berjalan menuju kursi tinggi berwarna hitam—mewah, yang diikuti oleh pria berambut putih—dikuncir, dengan kacamata yang membingkai matanya—pelayan pribadinya.
Pria bermata ular tersebut, berdiri di depan kursi tingginya dengan penuh wibawa dan keangkuhan, sedangkan pelayan pribadinya hanya menunduk memandang lantai berwarna hitam yang disinari warna biru.
Segera saja, seluruh makhluk yang berada di ruangan itu berdiri tegap, pertanda mereka menghormati pria berambut panjang tersebut.
"Selamat malam, semuanya," sapa pria bermata ular dengan seringainya.
Seluruh makhluk di ruangan itu langsung menunduk hormat, "Selamat malam Mr. Vastiglione," balas seluruh makhluk di ruangan ini dengan sopan. Setelah itu, para makhluk tersebut langsung mendudukkan diri mereka kembali—termasuk pelayan pribadi Mr. Vastiglione, di kursi masing-masing.
"Malam bulan purnama, adalah malam yang tepat untuk bercinta dengan pasangannya, benar begitu?" kata Mr. Vastiglione membuka pembicaraan.
"Ya, Mr. Vastiglione," balas seluruh makhluk Vampire Cannibals, membenarkan perkataan sang pemimpin.
Mr. Vastiglione mengangguk sambil memperlebar seringai liciknya, "Tetapi, kenapa akhir-akhir ini, saat malam purnama, salah satu dari kalian sering melanggar peraturan dengan cara berburu manusia pada malam tersebut?" tanya Mr. Vastiglione yang mungkin lebih tepat dengan sindirian, yang membuat salah satu dari mereka semakin gelisah mendengarnya.
Hening.
Seluruh makhluk Vampire Cannibals tidak berani menjawab perkataan pemimpin mereka.
"Padahal, di kerajaan ini, jelas-jelas tidak memperbolehkan seseorang, siapapun mereka, berburu manusia di saat malam bulan purnama. Benar begitu, Mr. Castiglione?" tambah Mr. Vastiglione menyindir salah satu makhluk yang paling tampan, dan juga yang paling sering melanggar peraturan—Mr. Castiglione.
Makhluk pria berciri khas selalu memakai kalung berbandul kepala kuda Unicorn berwarna perak—yang sedang di sindirnya mulai berkeringat dingin. Sedangkan makhluk pria berciri khas yang selalu memakai kalung berbandul jam pasir berwarna perak—di sampingnya, terus memandangnya khawatir, dengan ujung matanya.
Melihat tidak ada jawaban, Mr. Vastiglione menyeringai lebar, "Saya menunggu jawaban anda, Castiglione,"
Pria yang di maksud hanya menundudukkan kepalanya, dan mengepalkan tangannya dengan erat, "Maafkan saya, Mr. Vastiglione," kata pria bermarga Castiglione tersebut dengan penuh penyesalan.
Pria bermata ular tersebut menghela napas berat, dan melanjutkan perkataannya, "Anda telah melanggar peraturan tersebut selama bertahun-tahun, selama ini saya hanya membiarkan anda melakukannya, tapi perilaku anda sangat-sangat keterlaluan. Apakah anda tidak memikirkan perasaan pasanganmu?" sindir Mr. Vastiglione yang semakin membuat pria bernama Castiglione tersebut menyesal.
"Dan.. apakah anda tidak sakit hati dengan perlakuan kekasih anda, Mr. Napolitano?" katanya melanjutkan, dengan bertanya kepada pria bernama Napolitano.
Hening.
Hening.
Ruangan yang diisi oleh makhluk-makhluk mengerikan, telah di landa keheningan. Tidak ada yang berani menjawab perkataan sang ketua. Seluruh makhluk tersebut hanya menundukkan kepala—tidak berani memandang Mr. Vastiglione yang sedang menatap dingin ke arah mereka.
Karena tidak tahan dengan keheningan yang mengerikan ini, pelayan pribadi Mr. Vastiglione angkat suara, "Mr. Vastiglione, saya rasa—"
"Saya tidak butuh pendapatmu, Mr. Siciliano." potong Mr. Vastiglione dengan nada berbahaya, yang membuat pelayan pribadinya—Siciliano tertunduk diam.
Mr. Vastiglione tersenyum. Tidak. Lebih tepatnya menyeringai iblis.
"Angkat kepalamu dan berdiri, Castiglione!" seru Mr. Vastiglione dengan nada memerintah. Langsung saja, dengan ragu-ragu, makhluk pria yang bernama Castglione tersebut, berdiri tegap, dan mendongakkan kepalanya—memperlihatkan wajah tampannya.
Mata tajamnya berani menatap mata ular licik yang sedang berdiri dengan angkuh di depan.
Mengapa ia berani?
Karena pria bernama Castiglione yang satu ini adalah makhluk kesayangan Mr. Vastiglione. Karena, di antara makhluk-makhluk Vampire Cannibals yang lain, makhluk pria ini adalah makhluk yang paling tampan, pintar, memiliki kharisma yang tidak dapat di tolak siapapun, dan tentu saja makhluk yang satu ini sangat pembangkang.
Mr. Vastiglione menghela napas berat, saat memandang wajah pria yang menurutnya begitu tampan, manis, atau imut.. entahlah. Tidak ada yang mampu menebak, karena pria ini memiliki berbagai macam sifat. Jadi, mudah saja ia merubah sifat-sifatnya dalam hitungan menit atau mungkin.. detik—termasuk ekspresi wajah.
"Castiglione, kau sudah benar-benar keterlaluan. Sikap pembangkangmu, sikap yang seenaknya, melanggar peraturan.. itu sudah sangat keterlaluan. Kau harus disiplin mulai dari sekarang," ucap Mr. Vastiglione dengan tegas dan penuh wibawa.
Sedangkan orang yang di maksud hanya memutar kedua bola matanya—bosan, sambil mengikuti perkataan sang ketua—tanpa suara. Dan itu pertanda ia sedang mengejek perkataan sang ketua.
Melihat itu, membuat Mr. Vastiglione geram.
Sudah cukup!
"Kau.. kau benar-benar! Mulai detik ini kau di hukum, dengan pergi dari benua Eropa, dan pindah ke benua Asia,"
Seluruh mata makhluk yang berada terbelalak tidak percaya, dan memandang miris sang Castiglione yang sedang mematung dengan mulut menganga dan mata terbelalak.
Benua Asia?
Yang benar saja!
"Kau bercanda.." desis Castiglione yang masih mematung di tempat—dengan tatapan tidak percaya.
Pria bernama Napolitano yang sedari tadi duduk di samping Castiglione mulai bangkit berdiri dan membela kekasihnya, "Mr. Vastiglione, saya mohon, jangan memperlakukan Castiglione seperti itu!" kata Napolitano mecoba membela kekasihnya, sambil memandang Mr. Vastiglione dengan penuh harap.
Mr. Vastiglione menyeringai licik, "Siapa yang bercanda? Malam ini saya tidak ingin bercanda. Kekasih anda, Castiglione, sudah sangat keterlaluan—" katanya sambil memperlebar seringainya.
Ia menatap Castiglione dengan mata ularnya, "—Pria bergelar Sex God ini, selalu melanggar peraturan. Dan, saya bingung dengan anda, Castiglione, kenapa saat anda ingin berburu manusia, harus di awali dengan sex terlebih dahulu?" lanjutnya sambil menatap tajam Castiglione.
Castiglione mendengus kesal, "Tidak. Hanya hampir melakukan sex. Dan tentu saja, saya ingin bersenang-senang terlebih dahulu sebelum memangsa mereka, agar tidak membosankan," jawabnya santai, sambil memandang ke arah lain, tidak memperdulikan kekasihnya sedang menatapnya sendu.
BRAK!
Terdengar suara gebrakan meja dengan keras, dan ternyata Mr. Vastiglione lah yang menggebrak meja dengan keras, dan menatap tajam sang Castiglione.
"Sudah cukup! Kau benar-benar harus di kirim ke benua Asia, belajarlah kehidupan disana, tingkatkanlah keahlian menyamar dan kamuflase mu, sehingga para penduduk benua tersebut tidak menyadari kalau kau salah satu dari makhluk Vampire Cannibals!" bentaknya dengan nada tegas.
Mendengar itu, Castiglione mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat—tidak memperdulikan darah yang menetes dari sela-sela telapak tangannya.
Hening.
Kali ini tidak ada yang bisa membantah perkataan sang ketua kalau sedang murka seperti ini.
"Kalau begitu, saya ikut!" ucap Napolitano dengan tegas—memecahkan keheningan.
Sreet..
"Saya ikut!" seru makhluk pria berciri khas yang selalu memakai kalung berbandul segitiga berwarna perak, dan bernama Testarossa—langsung berdiri tegap membela Castiglione.
Sreet..
"Saya juga!" seru makhluk pria berciri khas yang selalu memakai kalung berbandul bintang berwarna perak, dan bernama Spatafore—ikut berdiri tegap.
Mr. Vastiglione menyeringai, "Oh.. jadi Napolitano, Terstarossa, dan Spatafore membela Castiglione," sindir Orochimaru sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, sekarang saya putuskan, Mr. Castiglione, Mr. Napolitano, Mr. Testarossa, dan Mr. Spatafore akan pergi ke benua Asia dengan pengawasan saya!"
Segera saja keempat makhluk pria yang di maksud berjalan menuju sang ketua yang diiringi hembusan angin lembut, dan berdiri dengan hormat, pertanda siap untuk pergi ke benua Asia.
Mereka berlima—Mr. Vastiglione, Castiglione, Napolitano, Testarossa,dan Spatafore—berjalan dan berdiri membentuk bintang segi lima terbalik.
Lalu, mereka saling berhadapan, dan bergandengan tangan.
Mr. Vastiglione memejamkan mata, dan berkata lantang.
"DIC LVX.. Dicit Lux.. Lux Ferre!"
CTAR!
Perlahan sinar yang terlihat seperti petir berwarna biru terang menyelimuti tangan mereka, yang diikuti dengan angin berhembus kencang, dan suara petir menyambar. Perlahan tapi pasti, sinar yang terlihat seperti petir berwarna biru itu menyelimuti tubuh ketiga makhluk pria tersebut—kecuali Mr. Vastiglione.
BRASH!
Perlahan ketiga tubuh makhluk tersebut memudar, digantikan dengan kelopak-kelopak bunga mawar hitam yang bertebaran.
xxx
June 2012 – Tokyo, Japan.
Tokyo International School. Sekolah SMA ter-erlit dan terkenal di Jepang, hanya orang-orang kaya saja yang dapat bersekolah di sekolah ini. Sekolah ini begitu mewah, tampak seperti istana yang megah—yang membuat siapapun berdecak kagum, kecuali beberapa siswa atau siswi di sekolah ini yang sudah terbiasa akan kemewahannya.
Seorang pria berambut pirang acak-acakan, yang memiliki warna iris sebiru langit, dan aksesoris-aksesoris yang selalu di pakai di tangan kiri dan kanannya, semacam gelang berwarna hitam—putih, dan jam tangan berwarna hitam di tangan kirinya, di tambah lagi gelang hitam—merah berbentuk segitiga di tangan kanannya—sedang berjalan riang di koridor sekolah, dan jangan lupa dengan sapaan-sapaan orang-orang untuknya, tentu saja pria itu membalas sapaan mereka dengan senyum cerahnya.
Di sebelahnya seorang pria berambut coklat acak-acakan, yang memiliki tato segitiga terbalik berwarna merah di kedua pipinya, ditambah lagi kalung berbandul serigala yang menjadi ciri khasnya—sedang berjalan riang mengikuti sahabatnya.
BRAK!
"Aduh!"
TRING!
Pria pirang tersebut terjatuh, saat menabrak pria di depannya. Ia meringis kecil, dan mendengus kesal, lalu ia mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menabraknya.
Seorang pria berambut sedikit panjang yang berwarna merah—sedang menatapnya dengan mata abu-abunya yang terbelalak, dan pipi yang sedikit memerah.
Pria berambut coklat—sahabatnya langsung membantu pria pirang tersebut untuk berdiri.
Pria pirang itu bangkit, langsung saja pria berambut merah di depannya itu membungkuk-bungkukkan tubuhnya beberapa kali, "Maaf~ maaf aku tidak sengaja," katanya dengan nada menyesal.
Pria pirang itu mengerjapkan matanya, sehingga terlihat lucu. Tak lama kemudian, ia tersenyum lebar, "Tidak apa-apa kok," balasnya dengan senyum manis di wajahnya, yang membuat pria berambut merah yang bernama Nagato itu merona.
"A—aku pergi dulu ya~" katanya sambil berlari kencang, dengan wajah yang semakin memerah. Pria pirang yang melihat itu hanya memiringkan kepalanya–tanda tidak mengerti.
Ia mengangkat kedua bahunya acuh, "Ah, sudahlah," gumamnya sambil kembali berjalan ke depan.
'Bisa tidak, orang itu berjalan dengan hati-hati? Mengesalkan sekali!'
Batinnya kesal, walaupun batinnya terus merutuki pria yang bernama Nagato itu, wajahnya tetap mengekspresikan kehangatan, dan keceriaan.
"Naruto Uzumaki!"
Seorang pria pirang yang bernama Naruto Uzumaki itu memutar tubuhnya menghadap sahabatnya, Inuzuka Kiba, dan mendengus kesal. "Tidak usah pakai bahasa formal seperti itu, Kiba!"
Pria yang di panggil Kiba itu hanya mengeluarkan cengirannya, dan menyodorkan sebuah kalung berbandul kepala kuda Unicorn berwarna perak ke arah Naruto.
"Kalung 'kesayangan' mu tertinggal, bodoh!"
"Hehehe," pria yang di maksud hanya nyengir tak berdosa, sambil berjalan dan mengambil kalung miliknya, "Thanks, Kiba!" kata Naruto, mengucapkan terima kasih.
Segera saja Naruto memakai kalungnya dengan cepat, lalu ia tersenyum ceria kepada sahabatnya, "Ayo, Kiba, kita ke kelas!" serunya sambil berlari menuju kelas, yang diikuti sahabatnya, Kiba.
Vampire Cannibals
Diclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Sasuke x Naruto | Naruto x Gaara
Rate: M
Genre: Romance | Supernatural | Horror | Mistery | Bloody
Warning: AU | OOC | Typo | Yaoi | Dark Naruto | Aslinya disini kulit Naruto berwarna putih pucat, tapi dia merubah warna kulitnya menjadi tan saat di Jepang | Many more.
Don't Like, Don't Read.
Naruto mendudukkan dirinya di tempat duduknya, tanpa merasakan lirikan dingin, dan tajam yang berasal dari pemuda berambut merah, di sebelahnya.
Ia menolehkan kepalanya dan memperhatikan, pria berambut merah, ber-tatto 'Ai, berciri khas kalung berbandul jam pasir berwarna perak, yang sedang membaca buku yang cukup tebal.
"Gaara~" panggilnya dengan suara yang di buat manis, pria berstatus kekasihnya yang bernama Sabaku Gaara itu hanya mendengus kesal dan bergumam, "Hn," dengan nada dingin, tanpa memperdulikan Naruto yang memajukan bibirnya kesal, dan itu membuatnya tampak imut.
"Ck, hentikan tampang imut yang kau perlihatkan itu Naruto! Tidak cocok sekali dengan seorang—" Gaara menghela napas, dan bergumam pelan, "—Castiglione." gumamnya dengan sangat pelan, dan tentu saja dapat di dengar Naruto.
Naruto menghela napas lelah, "Napolitano—" gumamnya sangat pelan, yang tentu saja dapat di dengar oleh Gaara, "—Kau kenapa?" tanyanya dengan suara lembut, dan pelan. Memang, tidak tahu kenapa, status mereka di sembunyikan, karena perintah Orochimaru Vastiglione—sang ketua.
BRAK!
Gaara menutup bukunya dengan kasar, lalu menoleh ke arah Naruto, dan memandang dingin kekasihnya, "Kau meninggalkanku lagi kemarin malam, kau selalu meninggalkanku saat malam bulan purnama," desisnya pelan dengan penuh penekanan, sambil beranjak dari kursinya, dan pergi meninggalkan Naruto yang menatapnya dengan tatapan bersalah.
Naruto menghela napas berat, dan mengusap wajah tampan—manis—imutnya.. ahh entahlah—dengan satu telapak tangannya, dan mendesah frustasi.
Tap. Tap. Tap.
BRUK.
"Rasakan, Nar~ Gaara jadi marah, 'kan sama kamu, un?" celetuk pria berambut pirang panjang, bermata Aquamarine, dengan berciri khas kalung berbandul segitiga berwarna perak yang selalu di pakainya, duduk seenaknya di bangku kosong di sebelah Naruto.
Mendengarnya, Naruto menoleh dan mendelik kesal, "Ck, diamlah, Deidara!" ucapnya kesal, yang dibalas dengan cengiran polos pria yang bernama Namikaze Deidara.
Tap. Tap. Tap.
"Naruto," panggil seorang lelaki berambut Raven yang bernama Uchiha Sasuke dengan nada dingin dan datar.
Naruto menolehkan kepalanya agar ia bisa menatap Sasuke, "Apa?" tanyanya ketus.
"Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Sasuke dengan nada datar.
"Ck," langsung saja Naruto berdiri dan mengikuti Sasuke yang sudah berjalan lebih dulu.
Setelah Naruto, dan Sasuke pergi, pria berambut merah bata yang berciri khas kalung berbandul bintang berwarna perak langsung menghampiri Deidara yang masih menempati tempat Naruto, dan Gaara.
"Dan kejadian itulah yang membuat Gaara kesal," celetuk pria bernama Akasuna Sasori tersebut dengan duduk di sebelah Deidara.
Deidara langsung menoleh, dan langsung memamerkan senyuman cerianya, "Eh, Sasori! Benar, un! Gaara 'kan suka kesal kalau melihat Naruto dan Sasuke, un!" katanya dengan suara pelan.
Sasori mendengus geli, dan terkekeh kecil, "Itu namanya cemburu Testarossa, sayang~" bisiknya pelan, sambil mengacak-acak surai pirang kekasihnya. Mendapat perlakuan seperti itu, wajah Deidara memerah, "Hentikan, Spatafore, un!" balasnya sambil mengembungkan kedua pipinya, "Tapi 'kan Naruto, dan Sasuke musuh, un! Kenapa Gaara harus cemburu?"
Sasori mengangkat kedua bahunya acuh, "Terserah lah, mereka memang sulit dimengerti."
Castiglione as Naruto | Napolitano as Gaara
Spatafore as Sasori | Testarossa as Deidara
Vastiglione as Orochimaru | Siciliano as Kabuto
"Mau apa kau membawaku ke tempat ini?!" tanya pria berambut pirang yang bernama Naruto, saat Sasuke membawanya ke atap sekolah.
Sasuke menghela napas, "Ada yang ingin aku bicarakan," jawabnya dengan nada serius, sambil menatap mata biru Naruto.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Naruto lagi sambil menatap tajam mata kelam pria yang berada di depannya.
BRAK!
Sasuke mendorong Naruto ke dinding yang tepat di belakang pria itu, dan itu membuat Naruto sedikit meringis dan menatap nyalang ke arah Sasuke. Tapi pria yang ditatapnya hanya memasang wajah datar, dan berjalan mendekati Naruto.
Tap. Tap. Tap
Sasuke semakin dekat dengan Naruto.
Tidak. Sekarang ia berdiri tepat di hadapan Naruto, dan menatap Naruto dengan pandangan sulit di artikan.
"Apa maumu?!" tanya Naruto saat melihat wajah Sasuke begitu dekat dengan wajahnya.
"Naruto.. kenapa kau sangat tidak peka?" tanya Sasuke balik, sambil membelai pipi Naruto yang terdapat tiga guratan tipis itu.
"Apa maksudmu?"
Sasuke menempelkan dahinya ke dahi Naruto, "Kenapa kau tidak pernah menyadarinya?" tanya Sasuke lagi tanpa menjawab pertanyaan Naruto.
"Sasuke!" bentak Naruto ketus membuat Sasuke melingkarkan tangannya di pinggangnya.
"Apa hubunganmu dengan pria berambut merah itu, hm?"
"..."
"Kenapa kau begitu dekat dengannya?"
"..."
"Kau tidak peka, Naruto. Kenapa kau tidak merasakannya? Kau benar-benar brengsek, Dobe," kata Sasuke sambil mengecup bibir merah Naruto.
Naruto membelalakkan kedua matanya, dan menatap pria di depannya dengan tatapan tidak percaya.
Brengsek.
Seenaknya saja ia menciumku!
Kenapa pria yang satu ini tidak langsung berbicara tentang intinya, sih? Sejak kapan pria dingin ini banyak berbicara? Memuakkan.
"Cepat katakan apa maumu! Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan! Kau memuakkan!" bentak Naruto yang sudah muak dengan pembicaraan yang tidak dimengerti oleh nya.
"..."
"Kau tidak peka, Dobe,"
"Sasuke!"
"..."
"..."
"Kau tau kenapa aku mengatakan ini?"
"..."
"Karena—"
"Ck! Banyak bicara kau, Teme!"
"—Aku—"
"..."
Sasuke memejamkan matanya sejenak, dan melanjutkan ucapannya.
"—Mencintaimu."
.
.
.
TBC
Balasan Review:
Kitsune Syhufellrs: Ga kok, pair nya tetep sasunaru, makasih udah mau review, RnR lagi ya^.^
widi orihara: Hehe, makasih udh mau review. RnR lg ya^.^
Guest: Udah kejawab 'kan di chp ini? Makasih udah mau review, RnR lg ya^.^
HaikuReSanovA: Err.. psikopat?._. hehe.. ga kok. Makasih udah mau review, RnR lg ya^.^
Prince Kitsu-kun: Hehe, makasih udah mau review, RnR lg ya^.^
miao-chan2: Hehe bukan sasuke. Chp ini udah muncul kan? Makasih udah mau review, RnR lg ya^.^
Suzugamori Ren: Makasih udah mau review, RnR lg ya^.^
MoodMaker: Bukan :), makasih udah mau review, RnR lg ya^.^
Hoshi Yukinua: Ini udah update, makasih udah mau review, RnR lg ya^.^
greenilicious: Yup! Kau benar, hehe :D makasih udah mau review, RnR lg ya^.^
MisaMayMicha: Tapi naru yg jadi vampire. Tp tetep aja naru yg jd uke nya sasu kok, makasih udah review, RnR lg ya^.^
Hanako Sakairi: Ini udah update, makasih udah review, RnR lg ya^.^
Rin Miharu-Uzu: Hehe, makasih :). Terima kasih udah mau review, RnR lg ya^.^
Saya ngerasa aneh buat chp ini, apa lg yang pas di sekolahnya.
Terima kasih yang sudah mau mereview fict aneh ini :D
Untuk Prince Kitsu-kun, Maesaroh-chan, chiisana yume, dan chersygunawan terima kasih sudah mau memfav fict ini :)
Untuk widi orihara, Rin Miharu-Uzu, dan chersygunawan, terimakasih sudah mengalert fict ini :)
Maaf kalo ada kesalahan, typo, aneh, makin gaje, dll. Jadi, saya minta kritik dan sarannya^.^
Untuk crita ini, saya tidak menerima Flame kecuali Flame yang membangun.
Jadi gimana? Apa mau lanjut? Kalau ga ada yang review, ga jadi lanjut T.T
Saya tunggu Reviewnya ya :D
