Hening.
Mungkin, perkataan itu yang mampu mendeskripsikan keadaan yang terjadi diantara Sasuke dan Naruto. Sejak mendengar pernyataan cinta yang diucapkan oleh Uchiha, Naruto hanya bisa mematung sambil menatap Sasuke dengan pandangan tidak percaya—ditambah lagi mulut yang sedikit menganga. Sedangkan manusia yang menyebabkan Naruto mengeluarkan ekspresi seperti itu hanya menatap dalam iris mata biru sapphire Naruto. Namun, hasilnya tetap sama.
Pria berambut raven itu tidak akan bisa menemukan apa-apa di dalam iris mata biru sapphire pria di depannya.
"Apa maksudmu?" akhirnya suara yang sedari tadi tidak dapat dikeluarkan Naruto—muncul.
Sasuke mendengus mendengarnya, "Apa kau tuli, Dobe? Aku mencintaimu," jawabnya dengan penekanan di perkataannya.
Mendengar perkataan Sasuke, Naruto mengeluarkan senyum mengejek, "Kau gila? Aku sudah memiliki kekasih," balasnya sambil menatap iris mata onyx pria dihadapannya dengan tajam.
Sasuke mengangkat sudut kanan bibirnya—tersenyum meremehkan, "Siapa? Siapa kekasihmu? Apakah pria panda berambut merah sialan yang sering bersamamu?" tanya Sasuke sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Jangan menyebut Gaara seperti itu," desis Naruto—dingin.
Sasuke mendekatkan mulutnya ke telinga Naruto, "Kenapa? Kau tidak terima? Lagipula.. apa bagusnya kekasihmu itu, hm?"
Tanyanya dengan nada serak sambil menjilat telinga Naruto.
"Bre—brengsek kau, Uchiha!" desis Naruto dengan nada dingin. Mendengar itu, Sasuke tidak perduli. Bibirnya mulai menelusuri leher jenjang Naruto, dan mengecupnya.
Chup.
"Sas—nghh.." perkataan Naruto terhenti dan digantikan oleh desahan saat ia merasakan lidah Sasuke menjilati lehernya.
Sasuke mulai menggigit leher jenjang Naruto, sehingga meninggalkan bekas kemerahan. Dan itu membuat Naruto mengerang, "Nghh.."
Mendengar desahan yang keluar dari mulut Naruto, Sasuke semakin berani bertindak lebih jauh. Tangannya mulai masuk ke dalam pakaian yang Naruto kenakan, dan menggerayangi tubuhnya.
"Nghh.. shh.. henti—ahh.."
Naruto memejamkan mata, dan menggigit bibir bawahnya.
Tidak.
Ini tidak boleh terjadi, sudah cukup aku menyakiti perasaan Gaara.
Aku harus menghentikannya.
Naruto membuka matanya, dan menatap Sasuke dengan pandangan tajam dan menusuk.
Buagh!
"Brengsek!"
Dengan tatapan mata yang sangat tajam, Naruto meninju rahang Sasuke, sehingga punggungnya menabrak dinding.
"Akh.. shit," Sasuke sedikit meringis, dan menyeka darah yang keluar dari mulutnya memakai punggung tangannya. Ia menatap dingin kearah Naruto yang masih terengah-engah, "Kau akan menjadi milikku, Naruto. Kau, akan meninggalkan panda merah sialan itu. Dan akan ku pastikan, kau.. akan jatuh ke dalam pelukanku." Desisnya dengan nada dingin dan menusuk. Sasuke bangkit, dan berjalan dengan angkuh melewati Naruto. Ia menekan kenop pintu sehingga pintu itu terbuka, lalu melangkahkan kakinya—keluar, dan menutup pintu dengan keras.
BRAK!
Setelah Sasuke menutup pintu, Naruto mengerang frustasi.
"Arrghh! Sialan!"
Buagh!
"Hah.. hah.. hah.."
Ia meninju dinding hingga retak, sehingga jari-jarinya mengeluarkan darah.
Bruk.
Deg! Deg! Deg!
Naruto jatuh terduduk sambil meremas dadanya, "Tidak.. tidak mungkin aku merasakan ini," desisnya frustasi.
Naruto memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan diri.
Ya, tidak mungkin aku merasakan hal ini. Terlebih lagi dengan manusia seperti dia.
Sudah cukup, sudah cukup Gaara merasakan sakit hati akibat perbuatanku. Walaupun aku brengsek, tapi.. yang aku cintai hanya Gaara. Tidak dengan Uchiha itu. Apalagi, dia seorang manusia.
Naruto membuka matanya, sehingga memperlihatkan iris mata sapphire yang dingin, "Hanya Gaara, tidak dengan yang lain." Desisnya dengan nada dingin. Ia berdiri dan memutar tubuhnya menghadap ke dinding yang sudah retak akibat perbuataanya. Naruto meletakan telapak tangan kirinya dipermukaan dinding tersebut. Lama-kelamaan, terlihat sinar bewarna biru terang—menyelimuti telapak tangannya. Perlahan, permukaan dinding yang retak itu kembali seperti sedia kala dan sinar biru yang dikeluarkan Naruto perlahan menghilang.
Naruto menjauhkan telapak tangannya dari permukaan dinding dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia berjalan menuju pintu, Naruto menekan kenop pintu, lalu ia melangkahkan kakinya—keluar, dan menutup pintu tersebut dengan kasar—
BRAK!
—Tanpa menyadari ada sepasang iris mata lavender keperakan yang sedari tadi mengamatinya.
xxx
Seorang pria berambut hitam yang memiliki iris mata berwarna coklat sedang berjalan menelusuri koridor Venator13 Mansion. Pria yang merupakan pencandu rokok tersebut menelusuri lantai berwarna putih gading koridor dengan santai. Pria yang memiliki wajah yang tegas itu berjalan dengan ekspresi santai, tetapi raut wajahnya tidak terbaca. Pria bermata tajam tersebut terus berjalan sehingga iris mata coklatnya menangkap sebuah pintu masuk berwarna perak.
Pintu berwarna perak tersebut hanya bisa terbuka dengan password. Dengan santai, pria berkulit gelap itu mengangkat jari-jarinya dan menekan tombol password yang terdapat di dipermukaan pintu.
Setelah menekan tombol password, pintu itu terbuka lebar sehingga para Venator yang sedang berbisik-bisik, mengobrol, dan sebagainya langsung menghentikan aktivitasnya. Para Venator langsung terdiam dan membenarkan posisi duduk mereka saat melihat sang ketua sedang berdiri ditengah-tengah pintu yang terbuka lebar.
Dengan senyuman ramah nya, dia melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan tersebut. Setelah kakinya sudah menginjak lantai ruangan itu, ia memutar tubuhnya menghadap ke pintu untuk menekan tombol password agar pintu tersebut kembali tertutup.
Setelah pintu itu sudah tertutup rapat, pria penuh wibawa tersebut melangkahkan kakinya menuju kursi tinggi berwarna putih yang sudah dirancang khusus untuk sang ketua. Tetapi, ia tidak segera duduk dikursi tinggi itu. Pria berbadan kekar itu berdiri tegap di depan kursi tersebut dengan senyum penuh wibawa. Melihat sang ketua berdiri tegap, para Venator segera berdiri tegap untuk menyambut ketua mereka.
"Selamat malam, semuanya," sapa sang ketua yang diketahui bernama Restaverd dengan senyuman hangatnya.
"Selamat malam, Restaverd-sama," balas para Venator, sambil membungkukkan badan mereka dengan hormat.
Pria yang sering dipanggil Restaverd itu tersenyum, "Silahkan duduk," perintahnya dengan nada tegas. Mendengar perintah Restaverd, para Venator kembali duduk dikursi mereka masing-masing.
"Tokyo International School. Sekolah elit yang di dalamnya terdapat beberapa makhluk Vampire Cannibals. Benar, kan?" ucap Restaverd dengan senyuman lebarnya—entah apa arti senyuman itu.
"Benar, Restaverd-sama," sahut para Venator dengan suara lantang.
"Tapi, saya mendapat informasi dari seseorang, kalau salah satu dari kalian telah menyatakan cinta kepada salah satu makhluk Vampire Cannibals dan menciumnya—" ucap Restaverd dengan nada santai, "—Apakah saya tidak salah dengar, Hyuuga?" lanjutnya dengan nada datar.
Pria yang merasa nama klannya disebut—menganggukkan kepalanya, "Anda tidak salah dengar, Restaverd-sama," jawab pria yang berasal dari klan Hyuuga dengan nada tegas.
Mendengar jawaban Hyuuga yang sudah memberikan informasi sebelum pertemuan ini, Restaverd mengangkat sebelah sudut bibirnya, "Baiklah," ucapnya—datar sambil menoleh ke arah pria yang sedari tadi di sindirnya, "Bisakah kau jelaskan maksud dari semua ini, Uchiha?" tanya Restaverd dengan nada penuh penekanan.
Pria yang diberi pertanyaan dari sang ketua hanya menatap Restaverd—datar. Pria sedari tadi di sindirnya bernama Sasuke Uchiha. Pria tersebut adalah anggota Venator terpintar dan terhebat diantara para Venator lainnya. Dia bisa mengetahui dengan mudah makhluk-makhluk Vampire Cannibals yang sedang menyamar dalam bentuk apapun.
Jadi, ia tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk menyadari kehadiran para makhluk Vampire Cannibals disekolah yang sekarang ia tempati.
"Ya, aku memang menyatakan cinta dan mencium salah satu makhluk Vampire Cannibals. Aku memiliki maksud lain dari itu. Tentu saja aku bukan manusia bodoh yang menyatakan cinta kepada makhluk yang perlu dimusnahkan dari muka bumi ini," jawab pria bermata onyx itu sambil menaikan sebelah sudut bibirnya.
"Aku akan membuat salah satu makhluk menjijikan itu jatuh cinta padaku, dan bertekuk lutut dihadapanku. Dengan itu, aku dapat lebih mudah menghancurkan salah satu makhluk tersebut," lanjutnya dengan nada dingin dan menusuk. Ditambah lagi seringai licik yang terlukis di wajah tampannya.
Mendengar penjelasan Uchiha, Restaverd mengeluarkan seringai liciknya. Ia tahu, Sasuke Uchiha bukanlah seorang manusia bodoh yang menyatakan cintanya kepada makhluk menjijikan seperti Vampire Cannibals. Pasti ada maksud lain dari apa yang dilakukannya. Dan itu terbukti.
"Kau memang selalu bisa diandalkan, Uchiha," puji Restaverd dengan seringai liciknya.
Mendengar pujian dari sang ketua, Sasuke Uchiha menaikan sudut bibirnya, dan membalas pujian Restaverd dengan angkuh.
"Tentu saja."
Vampire Cannibals
Diclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Sasuke x Naruto | Naruto x Gaara
Rate: M
Genre: Romance | Supernatural | Horror | Mistery | Bloody
Warning: AU | OOC | Typo | Yaoi | Dark Naruto | Aslinya disini kulit Naruto berwarna putih pucat, tapi ia merubah warna kulitnya menjadi tan saat di Jepang | Many more.
Don't Like, Don't Read.
Sudah beribu-ribu tahun lamanya para Vampire Cannibals dan para Werewolves memiliki hubungan yang sangat baik. Werewolves atau makhluk berwujud setengah manusia, setengah serigala—sering dianggap sebagai budak para Vampire Cannibals. Tapi nyatanya, Werewolves merupakan sahabat baik para Vampire Cannibals. Sejak dulu, kedua makhluk berbeda tersebut saling membantu, berbagi, dan melindungi.
Hal itu terbukti saat pemimpin Werewolves mendengar kabar kalau beberapa makhluk Vampire Cannibals dipindahkan oleh Mr. Vastiglione ke benua Asia. Sang ketua yang sering dipanggil Mr. Finucci langsung mengirim beberapa anggota Warewolves untuk menyusul para Vampire Cannibals ke benua Asia untuk melindungi mereka.
xxx
Terlihat tiga makhluk Werewolves sedang menyantap hasil buruannya dimeja makan yang telihat mewah. Di depan ketiga makhluk Werewolves tersebut, terdapat piring yang terbuat dari perak—diatasnya terdapat daging merah segar berukuran cukup besar hasil buruan mereka.
"Aku merasa Castiglione sedang dalam bahaya," gumam makluk pria berambut coklat yang membuat kedua sahabatnya menoleh kearahnya.
"Mengapa kau berbicara seperti itu?" tanya makluk pria berambut putih sambil menyuapkan beberapa daging segar ke dalam mulutnya.
"Aku merasa kalau Uchiha sialan itu sedang merencanakan sesuatu," balas makhluk pria berambut coklat yang ditanya oleh makhluk pria berambut putih tadi—sambil memotong-motong dagingnya dengan pisau, sesekali ia menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya.
"Maksudmu, manusia Venator itu?" tanya makhluk pria berambut abu-abu keunguan dengan nada datar.
Makhluk pria berambut coklat itu mengangguk, sambil terus memasukan potongan-potongan daging kedalam mulutnya.
Makluk pria yang memiliki rambut berwarna putih menghela napas, "Kenapa kau tidak juga memberi tahu Castiglione kalau Sasuke Uchiha itu sebenarnya seorang Venator?"
"Untuk apa?"
Mendengar jawaban sahabatnya, sang pemilik rambut putih dan pemilik rambut abu-abu keunguan mengehentikan 'acara' makan malamnya dan menatap pemilik rambut coklat dengan pandangan penuh tanya.
Melihat reaksi kedua sahabatnya, makhluk yang memiliki mata berwarna hitam itu menatap kedua sahabatnya, dan melanjutkan perkataannya dengan nada datar.
"Kurasa.. dia sudah mengetahuinya."
xxx
"Siapa yang melakukannya?" desis makhluk pria yang memiliki rambut berwarna merah darah bernama Gaara Napolitano dengan nada dingin dan menusuk. Iris mata jade-nya menatap tajam makhluk pria di depannya. Dadanya bergemuruh hebat. Jantungnya berdetak kencang, setiap irama detakan nya menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat. Sehingga rasanya ia ingin merobek dada nya, dan menarik jantungnya keluar dengan paksa.
Ia merasa dikhianati.
Kalian pasti bingung kenapa seorang Vampire seperti mereka memiliki jantung. Vampire Cannibals adalah Vampire yang istimewa. Mereka memiliki organ-organ manusia yang masih berfungsi dengan baik di tubuh mereka. Vampire Cannibals berbeda dengan vampire-vampire lainnya yang terlihat seperti mayat hidup. Karena mereka istimewa.
Tapi karena keistimewaan itu, Vampire Cannibals memiliki perasaan. Dan itu sangat menyebalkan.
Gaara tahu, kekasihnya memang brengsek. Namun, ia tidak terima kalau ada yang berani menandai Naruto. Gaara baru menyadari kissmark itu ketika sesudah pulang sekolah, saat Naruto sedang tertidur dikamarnya. Tanda itu belum ada sebelum Uchiha sialan itu mengajaknya bertemu—ia mengetahui hal itu karena dirinya mendapat informasi dari kedua sahabatnya. Yah.. siapa lagi kalau bukan Sasori Spatafore dan Deidara Testarossa.
Dan perasaannya tidak mungkin salah. Dirinya yakin, manusia yang berani melakukan hal tersebut adalah Sasuke Uchiha—manusia yang sangat Gaara yakini seorang Venator.
Bagaimana bisa dirinya berpikir kalau Sasuke adalah salah satu dari perkumpulan manusia bodoh itu? Tentu saja karena dia Vampire Cannibals. Vampire Cannibals adalah makhluk yang memiliki kepintaran diatas rata-rata. Gaara sudah dapat merasakan kehadiran seorang Venator disekolah yang sekarang ditempatinya. Walaupun, kekasihnya yang terlebih dahulu menyadarinya.
Naruto mendengus, dan mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Itu tidak penting, lagipula—"
"Tidak penting? Tidak penting katamu?!" Gaara memotong perkataan kekasihnya dengan nada serak. Ia benar-benar tidak terima dengan tanggapan acuh kekasihnya.
"Bre—brengsek! Kau.. hiks.. tidak pernah memikirkan perasaanku! Kau bertindak seolah-olah.. hiks.. aku tidak sakit hati dengan kelakuanmu," Gaara berucap lirih dengan air mata yang mengalir dari iris mata hijaunya. Isakan mulai keluar dari mulutnya.
"Bahkan.. bahkan.. aku tidak tahu bagaimana perasaanmu terhadapku selama ini, hiks.. kau tidak mencintaiku, Naruto.. kau—hiks," Gaara terus saja meracau dengan nada parau. Saking sakit hatinya, ia tidak dapat melanjutkan perkataannya dan terus terisak. Bahkan Gaara telah menutup wajah yang sudah basah karena air mata itu dengan kedua telapak tangan putih pucatnya.
Naruto memandang nanar kekasihnya, ia tahu dirinya memang brengsek. Tapi, ia tidak bermaksud membuat Gaara menangis. Kenapa mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Gaara?
"Gaara.."
"Kenapa kau selalu menyakitiku? Apa.. hiks.. selama ini kau memang tidak mencintaiku? Hiks.. aku—"
Perkataan Gaara terpotong saat Naruto menarik tubuh yang terlihat rapuh itu ke dalam pelukannya dengan lembut. Telapak tangannya mengelus surai rambut merah darah kekasihnya. Bibirnya menggumamkan kata-kata permintaan maaf. Sedangkan Gaara tetap menangis dan memeluk Naruto dengan erat.
"Maafkan aku, Gaara.. maaf," Naruto terus menggumamkan kata-kata itu dengan tulus.
"Aku tahu diriku memang brengsek, tapi aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis seperti ini," lanjutnya dengan nada lembut sambil mengelus surai merah darah kekasihnya. Sesekali ia mengecup puncak kepala Gaara dengan penuh kasih sayang.
Gaara tidak menjawab. Ia terus menangis dan terisak sambil memeluk Naruto dengan erat.
"Napolitano, tatap aku," perintah Naruto dengan nada tegas. Ia melepaskan pelukannya, dan menatap Gaara yang tertunduk.
"Gaara Napolitano, tatap aku," perintahnya sekali lagi dengan nada lembut, ia mengangkat dagu Gaara dengan telunjuknya agar kekasihnya melihat kearahnya.
Naruto memperhatikan wajah seseorang yang telah sabar menghadap sifat buruknya. Pria yang selalu ia sakiti, dan pria yang mencintainya dengan tulus. Wajah putih pucatnya telah basah karena air mata. Iris mata hijau jade yang telah membuatnya jatuh cinta—terus mengeluarkan cairan bening. Bibir merahnya bergetar menahan isakan yang terus keluar dari mulutnya.
Naruto merasa sangat bersalah.
Tapi, ini bukan salahnya.
Ia sudah menolak perlakuan manusia gila itu.
Tapi—
Naruto menghela napas berat. Ia mengusap air mata Gaara dengan kedua ibu jarinya—
Chup.
—Dan mengecup bibir merah kekasihnya dengan lembut. Lalu, Naruto kembali menatap Gaara dengan lembut.
"Dengar," Naruto membelai pipi Gaara dengan penuh kasih sayang, "Aku mencintaimu. Sangat.. sangat mencintamu. Maafkan aku, ya?" ucapnya dengan lembut sambil mengecup pipi kiri Gaara dengan lembut.
Gaara tersenyum manis. Sampai kapan pun ia tidak bisa membencinya. Ia sudah jatuh. Benar-benar jatuh kedalam lubang mengerikan yang dinamakan cinta.
Perlahan Gaara mengangguk dengan semburat kemerahan dikedua pipinya, lalu ia kembali memeluk Naruto dengan erat.
'Ya, aku mencintai Gaara. Tidak dengan yang lain. Aku yakin itu.. tapi, aku tidak mengerti dengan perasaan yang aku rasakan ketika bersamanya. Aku merasa nyaman saat bersamanya, walaupun dia sangat berbahaya bagi makhluk sepertiku. Tapi—hah..'
Naruto menatap kekasihnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
'Aku tahu ada direncanakan olehnya. Tidak. Ini tidak benar. Aku tidak boleh mencintai musuhku sendiri. Aku tidak boleh jatuh cinta kepada yang lain, terlebih lagi kepada manusia Venator itu. Hanya Gaara Napolitano, ya.. hanya dia.'
xxx
Caeruleus Palace – London, United Kingdom.
Terlihat seorang pria—atau mungkin bisa disebut makhluk berambut panjang yang memiliki mata berwarna kuning seperti ular sedang duduk di depan kursi tinggi berwarna hitam sambil memandang tajam kaca berukuran raksasa—terbuat dari kristal bening yang tertempel di dinding. Permukaan kaca berukuran raksasa tersebut menampilkan berbagai macam peristiwa yang di alami oleh ke empat makhluk Vampire Cannibals yang sedang hidup di Jepang.
Ternyata benar, selama ini pemimpin Vampire Cannibals yang sering dipanggil Mr. Vastiglione itu selalu memantau ke empat pengikutnya melewati kaca berukuran raksasa tersebut. Karena dirinya tahu, benua Asia adalah benua yang sangat berbahaya bagi Vampire Cannibals.
Dan itu semua terbukti dengan terbongkarnya identitas Castiglione, Napolitano, Tertarossa, dan Spatafore. Tentu saja, cepat atau lambat para manusia Venator akan mengetahuinya. Karena walaupun ke empat pengikutnya sangat ahli dalam menyamar dan kamuflase, mereka memiliki aura kejahatan yang kuat—apalagi Castiglione. Dan hal tersebut sulit ditutupi. Mungkin, hal tersebut yang menyebabkan Venator menyadarinya melewati aura berbahaya yang keluar dari tubuh mereka.
Sebenarnya, kalau untuk Venator level rendah, mereka tidak akan menyadari kehadiran para Vampire Cannibals di negara mereka. Tetapi sialnya, kota Tokyo ditempati para Venator level tinggi, yang dapat dengan mudah menyadari kehadiran para Vampire Cannibals.
Sekumpulan para pemburu makhluk penghisap darah sekaligus pemakan daging manusia, yang sering disebut Venator itu memiliki beberapa tingkatan, atau bisa disebut level. Level 1 adalah level terendah. Sedangkan level 13 adalah level tertinggi.
"Sial, kenapa aku bisa melupakan kehadiran para Venator tingkat 13 itu?" pria bermata ular itu bergumam kesal. Ia menyesal, seharusnya ia jangan terlalu bertindak gegabah. Tapi, apa boleh buat? Dirinya termakan emosi yang disebabkan oleh makhluk kesayangannya yang brengsek itu.
Sedangkan makhluk pria berambut putih panjang dikuncir, serta memakai kacamata bulat—yang duduk disebelahnya hanya menghela napas lelah. Sedari tadi yang ia dengar hanya gerutuan yang berasal dari mulut Mr. Vastiglione.
"Tidak baik menggerutu terus, Mr. Vastiglione. Lagipula, semua ini salah anda kerena telah bertindak gegabah, dan tanpa berpikir panjang.. anda memindahkan mereka ke benua Asia," Akhirnya pelayan pribadinya—Kabuto Siciliano memberi tanggapan.
"Seharusnya, anda tidak terpancing dengan kelakuan Castiglione itu. Anda seharusnya memaklumi sifat buruknya—" pelayan pribadi Mr. Vastiglione terus berbicara tanpa henti. Dirinya tidak menyadari kalau pemimpin kerajaan Caeruleus itu sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"—Tapi, ya.. mau bagaimana lagi? Gandum sudah menjadi roti, atau.. erm.. nasi sudah menjadi bubur? Ah, saya lupa kata-kata yang berasal dari dunia manusia itu, tapi apapun itu, saya benar 'kan, Mr. Vastiglione?" lanjutnya sambil menoleh kearah sang ketua dengan senyuman manis. Dan langsung saja senyumannya memudar saat senyumannya disambut dengan senyuman sinis dan tatapan tajam khas Mr. Orochimaru Vastiglione.
Orochimaru mendengus kesal, "Cih, kau berkata seakan-akan hanya aku yang salah disini—" Orochimaru membalas perkataan pelayan pribadinya dengan kesal sambil melihat kearah lain. Lalu, ia kembali menatap pelayan pribadinya dengan sinis, "—Jangan lupakan Naruto Castiglione makhluk pembangkang itu," desisnya kesal.
"Lagipula, kenapa kau jadi membelanya, sih?" lanjutnya yang sedari tadi tidak berhenti merutuki makhluk kesayangannya.
Sedangkan Kabuto, ia hanya menatap Orochimaru dengan datar, "Lalu memangnya anda ingin melakukan apa?" tanya Kabuto sambil mengambil secangkir darah segar yang terletak di permukaan meja yang tak jauh dari tempatnya.
Kabuto menyeruput darah segarnya, setelah itu ia kembali meletakan cangkir tersebut dipermukaan meja.
Mendengar pertanyaan pelayan pribadinya, Orochimaru mengeluarkan seringai liciknya, lalu bangkit dari tempat duduknya, "Aku tidak akan melakukan apa-apa, yang aku lakukan hanya memantau mereka. Aku ingin melihat, seberapa jauh mereka bisa bertahan,"
"Tapi, karena saya khawatir dengan mereka.. saya akan mengirim pelayan pribadi Castiglione—Mr. DeMarco ke benua Asia,"
"DeMarco?"
"Ya," jawabnya sambil berjalan menuju lorong panjang yang terdapat di tengah-tengah ruangan.
"Awasi mereka berempat selama aku menemui dia," lanjutnya dengan suara dingin dan datar—sambil memasuki lorong gelap tersebut.
Dengan angkuh, Orochimaru berjalan lurus ke depan, ia tidak memperdulikan hawa dingin yang semakin terasa seiring langkah kakinya. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu berukuran cukup besar yang terbuat dari kaca bening dengan ukiran-ukiran khas istana Caeruleus.
Bibir tipisnya bergerak menggumamkan sesuatu, ia menggumamkan kata-kata seperti.. mantra. Seiring bisikan mantra yang diucapkan Orochimaru, beberapa retakan mulai terlihat di pintu kaca tersebut. Suara retakan kaca mulai terdengar. Pintu kaca itu terus retak, sehingga pintu kaca tersebut hancur berkeping-keping.
Setelah pintu kaca itu telah hancur seluruhnya, Orochimaru mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki rungan tanpa cahaya tersebut. Seiring dengan langkah kakinya, pintu kaca yang telah hancur itu mulai menyatu kembali. Pecahan-pecahan kaca tersebut saling bergerak untuk menyatukan diri mereka. Perlahan, ruangan gelap dan dingin tersebut tertutup oleh pintu kaca—yang telah kembali menyatu seperti sedia kala.
Iris mata ularnya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan tersebut terlihat sangat gelap, tidak ada satupun cahaya yang terlihat dari ruangan itu. Bahkan lilin-lilin yang terdapat dipermukaan dinding dibiarkan saja. Hawa dingin yang menyelimuti ruangan tersebut begitu terasa menusuk tulang.
Orochimaru memiliki mata yang dapat berfungsi di tengah-tengah kegelapan, ia dapat melihat sesuatu dalam gelap dengan matanya. Iris mata ularnya menangkap sebuah peti mati berwarna hitam berukuran besar. Orochimaru melangkahkan kakinya mendekati peti tersebut, seiring dengan langkah kakinya, ia merasakan hawa disekitarnya semakin dingin.
Pemimpin kerajaan Caeruleus itu memperhatikan peti mati yang terdapat ukiran-ukiran indah itu dengan wajah tanpa ekspresi. Perlahan, tangan putih pucat milik Orochimaru membuka pintu peti mati tersebut. Seiring terbukanya pintu peti mati itu, terlihat sinar keperakan mucul menyinari ruangan gelap tersebut.
Sinar keperakan tersebut membuat ruangan yang terdapat unsur-unsur seni tinggi itu—terlihat jelas dimata Orochimaru. Bahkan bunga-bunga mawar merah darah yang terdapat diseluruh penjuru ruangan dan disekeliling peti tersebut mulai terlihat.
Tetapi, hal itu tidak seindah sesosok mayat manusia di dalam peti mati tersebut.
Orochimaru menatap sosok mayat manusia yang terdapat di dalam peti mati tersebut dengan sendu. Ia mengangkat jari-jarinya untuk membelai pipi halus wanita cantik tersebut, "Walaupun kau sudah tidak bernyawa.. wajahmu tetap cantik, Evangeline.."
"Seandainya saat itu kau memilihku, dan tidak memilih manusia Venator itu, pasti kau masih hidup," gumamnya lirih dengan ekspresi dinginnya.
Chup.
Orochimaru mengecup mayat wanita cantik tersebut tepat di bibir merah cherry-nya.
"Tapi sekarang hal itu tidak menjadi masalah, karena.. kau milikku selamanya."
.
.
.
TBC
Siapa manusia yang sering dipanggil Restaverd?
Siapa ketiga Werewolves yang sedang berada dibenua Asia?
Siapa pemimpin Werewolves yang sering dipanggil Mr. Finucci?
Siapa pelayan pribadi Naruto yang dipanggil Mr. DeMarco?
Siapa mayat wanita cantik yang dipanggil Evangeline oleh Orochimaru?
Hoho, siapa yang bisa menebaknya?^^
Balasan review:
widi orihara: Nejigaa? Ga tau, hehe. Saya juga bingung, Naruto bakal ninggalin Gaara apa enggak._. hehe, makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
cutenaru: Haha, iya Naruto nya jahat yah, kasian Gaara nya T.T perannya Naruto jahat apa ga, saya juga ga tau, hehe #plak Sasuke disini manusia kok :) untuk para vampire yang ga boleh ninggalin pasangannya/berburu saat bulan purnama itu udah tradisi.. mungkin._.hoho, makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
Rin Miharu-Uzu: Iya, Castiglione itu Naruto, hehe. Iya Sasuke nekat yah? Kan kasian Gaara nya T.T hehe, makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
Ichigo 'Momo' Citrusz: Iya, Naruchan vampire hehe. Sasuke manusia :) makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
Gunchan CacuNalu Polepel: Makasih udah tertarik sama fic ini^^hoho, mual ya?._.Hehe iya, Naruto vampire. Sasuke pemburu vampire :D iya, kalo lagi mood bakal ada gore nya, tapi kalo lagi ga mood.. ga tau juga sih, hehe #plak makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
MisaMayMicha: Hehe, makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
MJ: Iya, kau benar :D hehe, udah liat kan reaksi Naru?^^makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
miao-chan2: Hehe, iya ternyata Naruto vampire nya :D iya, Gaara kasian yah di duain sama Naru? T.T Shikamaru ga tau, tapi Neji ada :D makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
MoodMaker: Iya, yang lagi iya-iya Naruto sama Gaara ;) hoho, makasih udah mau review, RnR lagi ya :)
Ga tau kenapa, chp ini jadi melenceng jauh dari pikiran saya-_-padahal ceritanya seharusnya ga seperti ini, tapi ga tau kenapa saya jadi pengen kayak gini, hehe :3
Erm.. saya jadi bingung, fic ini bakal jadi SasuNaru apa NaruGaa ya?._.
Terima kasih yang sudah mereview, memfav, dan mengalert fic ini^^
Maaf jika ada kesalahan, typo, makin gaje, dll. Jadi, saya minta kritik dan sarannya :D
Untuk cerita ini, saya tidak menerima Flame kecuali Flame yang membangun :)
Jadi gimana? Apa mau lanjut? Kalau ga ada yang review, ga jadi lanjut T.T
Saya tunggu Reviewnya ya :D
