Apakah itu cinta?
CINTA?
Hanya dari ke hati yang bisa mengartikannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bebhe Present"
.
.
.
.
SHE IS MINE, NOT YOURS!
Pairing : Naruto U. & Hinata H.
Rated: T-Indonesia
Genre: Romance/ Friendship
Disclaimer: Cerita punya Bebhe-chan, Naruto punya Om Mashashi Kishimoto
Warning: Bahasa amburadul, alur nggak nyambung, typo(s) bertebaran dimana-mana, romance yang kurang berasa, humor garing nyempil, menggunakan EYD (Ejaan yang Disemawutkan), etc.
Dalam suatu rumah yang mewah dan bisa di bilang saaaaaaaaangat mewah, terdapat dua orang remaja pria yang sedang duduk di depan televise. Seorang pria berambut pirang dengan mata sebiru lautan tengah asyik memainkan tombol remot untuk menggonta-ganti chanel. Di sampingnya ada seorang pria berambut raven dengan model persisi seperti pantat ayam tengah asyik memandangi teman berambut kuning di sampingnya dengan pandangan yang sulit di artikan dengan kata-kata*ciyee*
Mereka adalah Naruto dan Sasuke. Naruto datang ke rumah Sasuke untuk menepati janji yang ia katakan tadi sewaktu di kelas. Namun setelah memasuki rumah Sasuke, Naruto malah asyik sendiri dengan remote Tv milik Sasuke. Hal itu karena Naruto bosan karena daritadi Naruto di kacangin sama Sasuke. Naruto sampai capek bertanya tentang apa yang ingin di katakan Sasuke padanya, tetapi Sasuke hanya diam saja. Lama-lama Naruto kesal hingga akhirnya menemukan korban untuk di jadikan pelampiasan. Yaitulah remot Tv milik Sasuke. Sasuke sedari tadi hanya diam memandangi Naruto*ciyeh* yang sedang sibuk dengan kegiatannya. Naruto menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Naruto mematikan televisi Sasuke lalu meletakkan remot yang malang itu di sampingnya.
"Yasudah jika tidak ada yang ingin kau sampaikan. Daripada disini aku hanya menjadi patung. Aku mau pulang saja." Kata Naruto sambil beranjak berdiri. Sasuke hanya diam saja. Naruto tidak tau sebenarnya apa yang di fikirkan temannya ini. Naruto melirik Sasuke dari sudut matanya. Naruto menyadari jika ada yang aneh dengan Sasuke. Naruto mengurungkan niatnya untuk pulang, Naruto kembali duduk di samping Sasuke. Di tatapnya Sasuke serius.
"Oke Sasuke. Ini tidak lucu. Sebenarnya apa yang akan kau katakan padaku. Wajahmu sama sekali tidak meyakinkan." Kata Naruto sambil membenarkan posisi duduknya untuk menghadap Sasuke. Sasuke seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Naruto memutar bola matanya bosan.
"Jangan katakan kalau ini soal Sakura, Sasuke." Sasuke terperanjat lalu menatap Naruto. Naruto terkekeh.
"Jadi benar, eh?" Sasuke menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Naruto melihat Sasuke mengangguk pelan. Naruto terkikik melihat tingkah sahabatnya ini.
"Tapi bukan itu topik utamanya." Kata Sasuke dengan nada datar. Naruto memperhatikan Sasuke menunggu kata-kata Sasuke selanjutnya. Sasuke memalingkan wajahnya ke arah lain lalu menghela nafas pendek.
"Kau menyukai Hyuuga itu, Dobe?" Wajah Naruto langsung memerah mendengar perkataan Sasuke barusan. Mendengar nama "Hyuuga", Naruto langsung tau jika yang di maksud Sasuke adalah Hinata.
"Ap-apa maksudmu, Teme?" Sasuke tersenyum tipis. Naruto merinding melihat senyuman Sasuke. Aura tidak menyenangkan mulai menyelubunginya.
"Suka atau tidak?" Tanya Sasuke sedikit mendesak Naruto.
"Kalau iya kenapa?" jawab Naruto dengan nada sedikit di tinggikan untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Sasuke menyeringai, tetapi tidak dilihat oleh Naruto.
'Kena kau, Dobe.'
"Oh, tidak. Akau hanya bertanya kok. Kalau benar begitu. Kau mau tidak double date?" Mata Naruto membulat dan mulutnya menganga.
"Double date? Apa kau sudah gila! Aku dan Hinata bahkan belum pacaran." Sasuke menjitak pelan kepala kuning milik Naruto.
"Aww! Apa yang kau lakukan, Teme!" Naruto meringis sambil mengusap kepalanya.
"Dasar baka dobe! Makanya aku mengajakmu supaya kau bisa menyatakan cinta pada Hinta. Biar kalian bisa jadian." Kata Sasuke dengan wajah tanpa dosa setelah memukul Naruto. Naruto tiba-tiba teringat sesuatu. Di tatapnya Naruto dengan tatapan menakutkan. Sasuke menaikkan sebelah alisnya melihat wajah Naruto.
"Tunggu dulu. Kalau begitu, artinya kau dan Sakura sudah jadian dong." Kata Naruto sekenanya. Kembali melayang sebuah jitakan di kepala kuning Naruto. Semburat merah tipis kembali muncul di wajah Sasuke. Naruto mengaduh sambil cekikikan.
"Aduduh. Hahaha... Jadi benar ya kalian udah jadian? Wah kau curang, Teme." Sasuke mendelik ke arah Naruto.
"Siapa yang jadian, dasar bodoh. Aku hanya ingin kita sama-sama pedekate aja gitu. Kau jangan berfikir yang tidak-tidak dulu, Dobe." Naruto mendekatkan wajahnya dengan Sasuke, lalu tersenyum jahil.
"Jadi….." Sasuke sedikit menjauhkan wajahnya dengan Naruto, tetapi Naruto tetap maju mendekatinya.
"Kau benar-benar menyukai Sakura, Teme?"
BUAKK! DUKK!
"Diam kau. Dasar bodoh!." Naruto terjungkal tepat di bawah Sasuke dengan kepala yang mendarat duluan akibat tendangan maut yang di berikan Sasuke pada Naruto barusan. Sasuke lalu meninggalkan Naruto yang sekarat di bawahnya.
"Aduduuhh.. Kau kejam sekali sih Teme! Kau pikir tidak sakit apa! Huh!" Naruto lalu bangkit berdiri. Tangannya mengusap-usap kepalanya yang terasa benjol untuk yang kesekian kalinya. Naruto berjalan mengikuti Sasuke sambil menggerutu dan kadang mengumpat si pantat ayam yang berada tak jauh di depannya.
"Diam kau, Dobe. Nanti malam aku tunggu kau di depan kedai ramen Ichiraku jam tujuh. Soal Hinata, ku serahkan padamu." Kata Sasuke datar. Sementara Naruto masih komat-kamit tak karuan di belakang Sasuke. Perlahan Sasuke menoleh ke belakang.
"Kau dengar tidak?" Naruto memanyunkan bibirnya membuat kesan lucu di wajahnya.
"Iya-iya.. Aku mengerti. Tapi jangan salahkan aku jika aku tidak datang." Sasuke memberikan deathglare andalannya pada Naruto, namun Naruto menanggapinya dengan biasa. Dia sudah kebal dengan deathglare Sasuke itu. Sasuke hanya menghela nafas melihat respon si pecinta ramen itu.
Setelah berpamitan pada Sasuke, Naruto memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Hinata untuk menyampaikan undangan Sasuke. Detak jantung Naruto tak beraturan saat membayangkan apa yang akan terjadi malam nanti. Dirinya dan Hinata. Wajah Naruto terasa memanas membayangkannya. Naruto menampar kedua pipinya sendiri.
"Bodoh! Apa yang aku fikirkan sih." Tiba-tiba Naruto melihat seorang gadis yang berjalan di depannya. Rambut indigonya yang melambai-lambai terasa sangat tidak asing bagi Naruto. Mata Naruto membulat ketika menyadari siapa yang ada di depannya.
"Hinata…" gumam Naruto. Naruto lalu berlari untuk menghampiri Hinata.
"Hinata!" panggil Naruto. Hinata menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Naruto tengah berlari menuju ke arahnya. Hinata merasakan wajahnya memanas, dan detak jantungnya tak beraturan ketika melihat Naruto.
"Naruto-kun…" Naruto lalu berhenti di depan Hinata. Nafasnya masih terengah-engah karena mengejar Hinata. Setelah nafasnya normal, Naruto berdiri menghadap Hinata. Senyum manis terukir di bibirnya. Wajah Hinata semakin memerah melihat senyuman Naruto. Hinata lalu menundukkan wajahnya agar Naruto tidak melihat rona merah di wajahnya.
"A-ada apa, Naruto-kun?" tanya Hinata sambil menunduk.
"A-anu, Hinata… Aku.." Naruto bingung menyusun kata-kata.
'Bagaimana cara menanyakannya?' batin Naruto frustasi.
"Anu.. Sasuke mengajak kita untuk keluar nanti malam. Kau bisa ikut?" Tanya Naruto yang membuat mata Hinata membulat. Hinata sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat Naruto.
"Ke-keluar? Ke-kemana?" Tanya Hinata. Skak. Naruto bingung untuk mencari alasan lagi. Tidak ada cara lain selain mengatakan yang sebenarnya pada Hinata.
"A-anu.. Double date." Mata Hinata membulat sempurna. Wajahnya sekarang sudah seperti tomat. Untung saja Sasuke tidak ada disitu. Kalau tidak, bisa-bisa Hinata dimakan karena di sangka tomat, buah kesukaannya.
"Ap-apa?" kata Hinata tidak percaya. Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Naruto menunjukkan cengiran khas rubahnya.
"Iya, Hinata. Kau bisa ikut kan? Bersamaku?" Hinata menunduk dalam-dalam, takut jika Naruto melihat wajahnya yang memerah. Hinata tersenyum senang memikirkan ajakan Naruto barusan. Hinata tidak percaya jika Naruto akan mengajaknya kencan. Yah meskipun itu double date, tapi itu bukan masalah bagi Hinata.
"Te-tentu Naruto-kun. A-aku bisa da-datang kok." Kata Hinata pelan. Naruto tersenyum lebar. Hatinya terasa lega setelah mendengar jawaban dari Hinata.
"Baiklah. Nanti malam aku tunggu kau di depan gerbang rumahmu ya. Jam setengah tujuh." Kata Naruto sambil membentuk angka tujuh dengan jarinya. Hinata sedikit mengangkat kepalanya, lalu tersenyum ke arah Naruto. Semburat merah terlihat di pipi tan Naruto saat melihat senyuman manis Hinata. Naruto sangat menyukai senyuman Hinata. Naruto membalas senyuman Hinata. Dengan cepat-cepat, Hinata kembali menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang makin memerah.
"Oh ya, Hinata. Ngomong-ngomong kau mau kemana?" Tanya Naruto. Naruto memperhatikan pakaian Hinata. Sepertinya Hinata mau pergi ke suatu tempat. Saat itu Hinata mengenakan kaos berwarna putih polos dengan celana jeans panjang berwarna hitam. Tas punggung melekat manis di belakang Hinata.
"Mmm… A-aku habis da-dari ru-rumah Sakura-chan untuk me-mengerjakan tu-tugas kelompok. Ka-kalau Naruto-kun, da-darimana a-atau mau ke-kemana?" Tanya Hinata sambil memainkan kedua telunjuknya di depan dada. Naruto mengangguk tanda mengerti.
"Aku habis dari rumah Sasuke tadi. Oh ya, Hinata. Kau bilang kau habis dari rumah Sakura. Apa Sakura juga tau tentang acara nanti malam?" Hinata mengangguk.
"I-iya. Sakura-chan sudah ta-tau. Ta-tadi a-aku ju-juga se-sebenarnya sudah di-dibilangi oleh Sakura-chan." Naruto terkejut dengan pernyataan Hinata barusan.
'Jadi mereka bekerja sama. Kurang ajar SasuSaku. Awas aja nanti kalau ketemu.' Batin Naruto geram.
"Naruto-kun.."
"Eh, ya? Maaf Hinata, aku melamun. Hinata tersenyum.
"Yasudah, ayo Hinata, aku antar kau pulang." Hinata mengangguk lalu mengikuti Naruto dari belakang.
"Hei, Hinata. Kenapa masih berjalan di belakangku. Disini saja tidak apa-apa. Tidak ada yang melihat." Kata Naruto sambil menunjuk sampingnya. Hinata diam saja masih menunduk. Naruto menghela nafas panjang. Naruto sedikit merasa terganggu dengan sikap Hinata.
"Ayolah, Hinata. Justru orang-orang akan lebih curiga kalau mereka melihat kita berjalan berjauhan. Karena mereka biasa melihat kita bersama, Hinata." Hinata menggigit bibir bawahnya. Hinata berfikir jika perkataan Naruto ada benarnya juga. Dengan malu-malu Hinata menyusul Naruto dan berjalan di sampingnya. Senyum manis terukir di bibir mungil Hinata. Naruto sangat senang melihat Hinata mau berjalan di sampingnya lagi. Hinata menundukkan wajahnya dakam-dalam, sampai-sampai rambut panjangnya menutupi wajahnya.
"Hei, Hinata." pannggil Naruto. Hinata sedikit mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Naruto. Naruto kembali menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Semburat merah tipis terlihat di wajahnya yang tampan itu.
"Err.. Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Jantung Hinata tiba-tiba kembali berdetak tak beraturan. Wajahnya semakin memanas membayangkan yang tidak-tidak tentang pertanyaan Naruto.
"Bo-boleh, Naruto-kun." Jawab Hinata pelan.
"A-anu.. Kenapa sih, kamu selalu saja tidak mau menatap wajahku kalau sedang berbicara denganku?" Naruto menatap wajah Hinata. Wajah Hinata semakin memerah. Hinata menundukkan kepalanya lebih dalam. Naruto memanyunkan bibirnya melihat respon Hinata.
"Tuh kan. Kau selalu menunduk kalau ku ajak bicara. Ayolah Hinata. Kita adalah sahabat sejak kecil. Masa kau masih tetap canggung sih denganku?" kata Naruto sambil menepuk pelan bahu Hinata. Sementara Hinata, dia bingung mau menjawab apa.
'Karena aku belum sanggup untuk menatap matamu Naruto. Karena aku belum sanggup untuk menatap wajahmu' kata Hinata dalam hati. Ingin sekali Hinata mengatakannya pada Naruto. Tetapi Hinata tidak bisa. Naruto menghela nafas panjang.
"Baiklah. Kita sudah sampai di rumahmu Hinata. Masuklah." Hinata sedikit menyesal karena tidak bisa menjawab pertanyaan Naruto. Tapi mau bagaimana lagi.
"A-arigatou, Naruto-kun. Go-gomen sudah me-merepotkanmu." Hinata membungkuk lalu segera memasuki rumahnya. Naruto mengangguk sambil tersenyum.
"Jangan lupa nanti malam ya, Hinata." kata Naruto saat Hinata akan memasuki rumahnya. Naruto sedikit bisa melihat senyuman Hinata yang kelihatan di balik kaca pintu rumah Hinata. Naruto tersenyum lalu segera berjalan untuk menuju rumahnya. Sebenarnya Naruto masih penasaran dengan jawaban Hinata tentang pertanyaannya tadi. Tiba-tiba Naruto teringat seseorang.
"Sai. Aku harus menemuinya sekarang." Naruto segera berlari melewati rumahnya. Dia berencana untuk pergi kerumah temannya yang bernama Sai terlebih dahulu sebelum pulang ke rumahnya. Kebetulan rumah Sai tidak jauh dari rumah Naruto.
*SKIP*
Naruto mengetuk pintu berwarna coklat milik rumah Sai. Tidak lama kemudian muncullah seorang pria berbadan tinggi hampir sama dengan Naruto, kulitnya putih pucat. Senyum terukir di bibirnya.
"Oh, kau Naruto. Masuklah." Kata Sai mempersilahkan.
"Oh, tidak terima kasih Sai. Aku buru-buru. Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Sai menaikkan sebelah alisnya.
"Apa itu, Naruto?" Tanya Sai heran. Naruto bingung mau menyusun kata-kata.
"Anu.. Kau masih memiliki buku yang di berikan oleh guru Kakashi waktu itu?" Sai semakin bingung dengan Naruto. Sudah datang ke rumahnya tanpa memberi tau dulu, tiba-tiba Naruto menanyakan buku pemberian Kakashi.
"Ada. Untuk apa, Naruto?" Naruto hanya nyengir menanggapi pertanyaan Sai.
"Aku pinjam sebentar boleh kan?" Sai memutar bola matanya.
"Yasudah, tunggu sebentar ya. Aku ambilkan dulu." Naruto mengangguk.
Tidak lama kemudian Sai keluar dengan membawa sebuah buku bersambul merah di tangannya.
"Ini kan bukunya?" Sai menyerahkan buku itu pada Naruto.
'Bagaimana mengetahui perasaan seorang wanita melalui tingkah lakunya'
Begitulah judul buku yang di berikan Sai pada Naruto.
"Iya. Aku pinjam dulu ya, Sai. Tidak lama kok." Sai hanya tersenyum menanggapi perkataan Naruto. Setelah selesai dengan urusannya, Naruto pamit pulang.
Di dalam kamarnya, Naruto terus membolak balik buku yang di pegangnya. Matanya terus menelusuri tulisan-tulisan dalam buku itu. Mencari-cari sesuatu di dalam sana.
"Ketemu!" Naruto lalu membaca sesuatu yang di carinya. Wajahnya tiba-tiba memerah saat membaca hal yang di temukannya.
'Benarkah ini?' kata Naruto dalam hati. Naruto tersenyum lebar.
"Aku jadi tidak sabar ingin segera bertemu Hinata nanti malam." Gumam Naruto. . Naruto lalu meneruskan kegiatannya mencari sesuatu dalam buku yang di pinjamnya dari Sai.
To be Continue
Yeeee….. xD
Akhirnya chapter 2 selesai. ^^
Bebhe ucapin makasih banyak buat yang udah mau reviews, follow, atau nge'fave fic Bebhe ini. Itu sangat menambah semangat Bebhe untuk ngelanjutin fic ini. ^^
Bebhe juga minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan. Karena Bebhe juga manusia biasa bukan dewa yang tak pernah berbuat dosa*lagunya Armada dong xD
Jangan lupa nangkring lagi di reviews ya ^^b
Sii yuuu di next chapter… mumumumumumuahh :* :* :* #plak plak plak xD
Ripiuw please? ^^b
