Bahagia adalah ketika kamu memiliki orang yang peduli, mencintai, dan mengerti dirimu lebih dari dirimu sendiri.

Jika kamu mencintai seseorang, jangan pernah malu untuk menyatakannya. Karena rasa malu jauh lebih baik daripada penyesalan seumur hidup.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bebhe Present"

.

.

.

.

SHE IS MINE, NOT YOURS!

Pairing : NaruHina slight SasuSaku

Rated: T-Indonesia

Genre: Romance/ Friendship

Disclaimer: Cerita punya Bebhe-chan, Naruto punya Om Mashashi Kishimoto

Warning: Bahasa amburadul, alur nggak nyambung, typo(s) (masih) bertebaran dimana-mana, romance yang kurang berasa, menggunakan EYD (Ejaan yang Disemawutkan), etc.

Seorang pemuda berambut jabrik berwarna pirang terlihat sedang menimang sebuah ponsel di tangannya. Matanya tak henti-hentinya melirik pada pintu gerbang yang ada di sampingnya. dialah Uzumaki Naruto, tokoh utama kita sekaligus selingkuhan author xD #plak. Oke, back to the story.

Naruto sedang menunggu sang heiress-nya, Hyuuga Hinata. Sudah seperempat jam Naruto menunggu Hinata di depan pintu gerbang mansion keluarga Hyuuga. Namun Hinata belum juga kelihatan batang hidungnya. Naruto sudah mengirimikan pesan kepada Hinata, tetapi belum ada balasan. Naruto mulai khawatir jika Hinata tidak bisa hadir dalam date malam ini. padahal Naruto sangat mengharapkan saat-saat malam ini. Naruto kembali melirik ke arah pintu gerbang rumah Hinata. Kosong. Kemudian Naruto melihat pada layar ponselnya. Tidak ada tanda pesan masuk.

"Hahh.. Kenapa Hinata tidak keluar-keluar sih?" Baru saja Naruto selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara pintu gerbang yang ada di sampingnya bergerak. Naruto lalu menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah pintu gerbang. Mata Naruto membulat seketika melihat sesosok gadis di depannya. Dengan sebuah short dress selutut berwarna putih, dengan pita besar di pinggang kanannya yang berwarna merah, dan jaket bolero berwarna lavender, terlihat sangat cocok untuknya. Rambutnya di biarkan tergerai begitu saja. Senyuman manis terpatri di wajah cantiknya. Tubuh Naruto terpaku melihat sesosok malaikat tanpa sayap di depannya. Matanya sampai-sampai tak berkedip melihatnya.

"Na-Naruto-kun?" Suara lembut Hinata mengejutkan lamunan Naruto, yang entah baru terbang kemana saja karena terpesona oleh kilauan manis Hinata.

"Eh, ya? Gomen Hinata, aku tadi melamun." Kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Hinata menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah. Wajah Naruto ikut-ikutan memerah karena melihat Hinata. Selain karena melihat Hinata yang sangat cantik malam itu walau tidak menggunakan riasan apapun, Naruto teringat akan sebuah kalimat yang baru saja di bacanya tadi sore dari buku yang di pinjamnya dari Sai.

"Jika wajah seorang wanita selalu memerah jika bertemu denganmu, dan terkadang dia tidak berani menatap wajahmu. Itu artinya dia menyukaimu."

'Apa benar Hinata menyukaiku?' kata Naruto dalam hati. Sementara Hinata tidak berani menatap wajah Naruto saat itu. Saat keluar dari gerbang, Hinata sempat melihat bayangan Naruto yang berdiri di samping gerbang rumahnya. Hinata terpesona melihat penampilan Naruto malam itu. Naruto mengenakan kemeja berwarna putih yang di bungkus(?) dengan sweater berwarna oranye, dan celana jeans berwarna hitam. Hinata menyukai penampilan Naruto yang begitu sederhana. Karena itu akan menunjukkan diri Naruto yang sebenarnya. Hinata sedikit mendongak ketika menyadari ada sebuah tangan yang terulur di depannya. Hinata melihat Naruto sedang mengulurkan tangannya dengan sebuah senyum manis terukir di bibir tipisnya. Dengan cepat-cepat Hinata kembali menundukkan kepalanya. Detak jantung Hinata mulai berpacu kembali saat melihat senyuman Naruto.

"Ayo, Hinata." Naruto sedikit menggoyangkan tangannya, Mengisyaratkan kepada Hinata agar menyambut tangannya. Dengan malu-malu, Hinata menyambut tangan Naruto. Naruto tersenyum senang. Dia berfikir jika Hinata sudah kembali seperti dulu lagi, yang tidak menolak setiap ajakannya. Naruto merasa, jika tangan Hinata sangat hangat. Genggamannya dapat menghangatkan hatinya dan membuatnya sangat nyaman. Naruto dan Hinata mulai berjalan menuju tempat yang di janjikan Sasuke. Malam itu Naruto memang sengaja tidak menjemput HInata dengan sepeda, karena letak kedai ramen Ichiraku dekat dengan rumah Naruto dan Hinata. Jadi jalan kaki pun tidak akan terasa capek. Lagipula, itu bisa menambah kesan romantis kan?*mungkin xD

Hinata dan Naruto berjalan berdampingan dengan tangan yang saling terpaut satu sama lain. Hinata dan Naruto menikmati saat-saat seperti ini. Berjalan berdua bersama dengan orang yang dicintai memang sangat menyenangkan.

"Mmm.. Naruto-kun.." panggil Hinata lirih, namun Naruto masih bisa mendengarnya. Naruto pun menolehkan kepalanya kearah Hinata yang sedang menunduk di sampingnya.

"Ada apa, Hinata?" Tanya Naruto. Hinata berniat untuk menolehkan kepalanya untuk menatap Naruto. Namun baru saja 35 derajat Hinata memutar kepalanya, Hinata kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Naruto menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah Hinata.

"Mmm.. Go-gomen untuk ta-tadi. A-aku sudah me-membuat Naruto-kun me-menunggu la-lama." Hinata mengepalkan tangannya yang bebas di depan dada. Naruto tersenyum menanggapi pernyataan Hinata.

"Tidak apa-apa Hinata. Lagipula aku tadi belum lama disitu." Bohong Naruto. Hinata merasa lega mendengar jawaban Naruto. Dengan tidak sadar Hinata tersenyum sambil menatap wajah Naruto. Wajah Naruto memerah ketika melihat Hinata tersenyum manis kepadanya. Menyadari dirinya bertatapan dengan Naruto, Hinata langsung menundukkan kepalanya kembali. Detak jantung Hinata semakin tak karuan ketika menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

'Aku…menatap wajah…Naruto-kun? Aku….'

"Hei, Hinata." Hinata malah semakin menunduk mendengar Naruto memanggil namanya.

"Hinata. A-aku ingin….kau mengangkat wajahmu sekarang." Hinata terkejut mendengar permintaan Naruto barusan. Belum selesai Hinata mencerna kata-kata Naruto barusan, Hinata kembali di kejutkan oleh perkataaan Naruto untuknya.

"Karena…. Sangat tidak bagus jika wajah cantikmu itu terus di sembunyikan seperti itu." Skak! Wajah Hinata sekarang sudah persisi seperti tomat. Hampir saja Hinata pingsan jika Hinata tidak segera menyadarkan dirinya. Melihat wajah Hinata yang semakin memerah, membuat Naruto ikut-ikutan merona. Meski saat itu sudah gelap, namun Naruto masih bisa melihat semburat merah yang sangat jelas di wajah Hinata.

"Biasakan dirimu jika sedang bersamaku Hinata." Hinata tidak percaya jika Naruto akan mengatakan hal yang membuat hatinya terasa seakan melayang. Hinata sangat senang dengan apa yang di sampaikan oleh Naruto. Hinata sempat berfikir jika Naruto juga menyukainya. Tetapi fikiran seperti itu segera di tepisnya. Naruto melirik Hinata dari sudut matanya. Dilihatnya Hinata yang sedikit demi sedikit bisa mengangkat kepalanya. Naruto tersenyum lebar. Padahal dia tadi hanya mempraktekkan apa yang di bacanya dari buku yang di pinjamnya dari Sai.

"Cara mengatasinya adalah: keluarkan kata-kata manis yang memuji dirinya, seperti : "Sayang jika wajah cantikmu itu tidak dapat dilihat oleh semua orang." atau "Mencobalah bersikap biasa jika kau sedang bersamaku."

Naruto sangat tidak menyangka jika apa yang di katakannya akan berhasil membuat Hinata memperlihatkan wajahnya. Walaupun dengan sedikit perubahan pada kata-katanya, namun Naruto tidak mempermasalahkannya. Toh, berhasil juga kan?

Dengan malu-malu tetapi di landasi oleh semangat yang di dapatnya dari Naruto barusan, Hinata mencoba untuk mengangkat kepalanya. Sedikit demi sedikit, Naruto dapat melihat wajah cantik Hinata. Kali ini Naruto dapat melihat dengan jelas senyuman manis Hinata. Rona merah di wajahnya menambah kesan manis di wajah Hinata. Detak jantung Naruto tak beraturan saat melihat Hinata. Naruto merasa seperti berjalan di samping seorang bidadari tanpa sayap, yang turun ke bumi untuk menemaninya. Naruto juga baru menyadari jika genggaman pada tangan mereka berdua semakin kuat. Naruto tersenyum, lalu menatap wajah Hinata.

"Teruslah seperti itu Hinata." kata Naruto. Hinata hanya mengangguk menanggapi perkataan Naruto.

'Teruslah seperti itu, dan teruslah di sampingku Hinata.'

.

.

.

.

.

Tanpa disadari, Naruto dan Hinata sudah sampai di tempat yang di janjikan Sasuke. Yaitu di kedai ramen Ichiraku. Naruto dapat melihat Sakura dan Sasuke sudah menunggu mereka di depan kedai. Naruto melambaikan tangannya ke arah Sakura dan Sasuke.

"Sudah lama menunggu ya?" Sakura cepat-cepat menggeleng.

"Oh, ti-tidak kok. Kami juga baru saja sampai disini. Iya kan Sasuke?" Sakura menginjak pelan kaki Sasuke sambil tersenyum lima jari menatap pasangan(?) NaruHina.

"Aww! Ah, iya." Sasuke mendelik ke arah Sakura, namun Sakura tidak menanggapinya.

"Ayo masuk. Kalian duluan saja. Kami menyusul." Kata Sakura. Naruto hanya mengangguk menanggapi perkataan Sakura. Naruto lalu menoleh ke arah Hinata. Wajah Hinata memerah. Hinata mencoba untuk tidak menunduk lagi. Mengerti maksud Naruto, Hinata tersenyum lalu mengangguk. Naruto dan Hinata memasuki kedai ramen ichiraku lebih dulu.

Merasa sudah aman, Sakura lalu membisikan sesuatu ke telinga Sasuke.

"Sepertinya ada yang aneh. Kau lihat tangan mereka tadi? Dan kau menyadari tidak jika ada yang aneh dengan Hinata?" Sakura lalu menjauhkan bibirnya dari telinga Sasuke. Sasuke hanya mengangguk menanggapi perkataan Sakura.

"Heh, ayam. Kau dengar tidak sih?"

"Dengar kok." Sakura memutar bola matanya.

"Kalau begitu jawab pertanyaanku tadi. Huh!" Sakura melipat kedua tangannya di depan dada. Sementara Sasuke tersenyum tipis.

"Malah bagus kan? Itu artinya kita sudah tidak perlu repot-repot untuk menyatukan mereka." Sakura memanyunkan bibirnya menatap Sasuke. Sasuke menaikkan sebelah alisnya melihat wajah Sakura.

"Kenapa?" kata Sasuke dengan sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura dan menirukan ekspresi wajah Sakura. Semburat merah tipis terlihat di wajah Sakura. Menyadarinya Sakura segera berbalik dan memasuki kedai ramen untuk menyusul Naruto dan Hinata. Sasuke menyeringai melihat respon Sakura. Sasuke lalu ikut masuk ke dalam untuk menyusul Sakura.

.

.

.

.

.

"Hah.. Apa yang di lakukan Sakura dan Teme, sih. Lama sekali." Kata Naruto sambil mengipas-ngipaskan daftar menu. Hinata tersenyum melihat tingkah Naruto.

"Hinata, kau mau pesan apa?" Tanya Naruto pada akhirnya. Naruto sudah tidak sabar untuk menunggu pasangan SasuSaku itu. Wajah Hinata memerah saat melihat Naruto tengah menatap wajahnya.

"Eee… A-aku…ss-sama sa-saja..de-dengan.. Na-Naruto-kun." Hinata mencoba untuk menjawab pertanyaan Naruto tanpa memalingkan wajahnya. Wajah Hinata semakin memerah ketika melihat Naruto tersenyum manis menatapnya. Untuk beberapa detik mata mereka bertemu. Saling mendalami arti dari masing-masing warna.

"Ekhemm…." Naruto dan Hinata terlonjak bersamaan. Naruto segera melihat ke sumber suara, dan mendapati Sakura dan Sasuke sedang berdiri di belakang mereka. Naruto memanyunkan bibirnya.

"Darimana saja kalian?" Sakura dan Sasuke tidak menghiraukan pertanyaan Naruto. Mereka segera mengambil duduk di depan Naruto dan Hinata. Tiba-tiba Hinata merasakan hawa yang tidak enak. Hinata melihat Sakura yang sedang tersenyum lima jari menatapnya. Bulu kuduk Hinata langsung berdiri melihat Sakura. Merasa di acuhkan, Naruto hanya menghela nafas. Naruto lalu mengarahkan pandangan ke seluruh meja-meja di dalam kedai. Setelah mendapati orang yang di carinya, Naruto mengangkat tangannya lalu berteriak untuk memanggil orang itu. Semua orang yang ada disitu langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah meja Naruto dan kawan-kawan. Sasuke dan Sakura mendelik ke arah Naruto, sementara Hinata hanya terkikik pelan melihat tingkah Naruto. Memang Naruto sudah biasa pergi ke kedai ramen ini, jadi dia bersikap biasa-biasa saja. Seorang wanita muda menghampiri mereka sambil membawa daftar menu.

"Eh, kau Naruto. Sedang kencan bersama ya?" Naruto dan yang lainnya langsung merona massal.

"Ah, Ayame-san. Tidak kok." Kata Sakura malu-malu. Sedangkan pelayan yang di panggil Ayame itu hanya tersenyum.

"Mau pesan apa? Untuk Naruto dan teman-teman akan kami berikan harga murah." Naruto terlonjak seketika.

"Ha? Benarkah? Kalau begitu aku pesan ramen jumbo tiga porsi ya." Kata Naruto dengan penuh semangat. Sementara teman-temannya yang lain, tak terkecuali Hinata cengo mendengar pesanan Naruto barusan.

"Eh Naruto. Emangnya perutmu itu muat?" Tanya Sakura tidak percaya. Naruto menanggapi pertanyaan Sakura dengan menepuk perutnya.

"Tentu saja." Kata Naruto sambil menunjukkan cengiran rubahnya. Sakura hanya geleng-geleng kepala. Sementara Hinata bingung. Dia tadi terlanjur mengatakan jika akan memesan sama dengan Naruto. Tapi ternyata yang di pesan Naruto sangatlah tidak mungkin untuk di tamping perut kecil Hinata.

"Baiklah. Lalu yang lain?" Tanya si pelayan itu.

"Aku ramen biasa saja dan Sasuke ramen dengan ekstra tomat." Kata Sakura dengan bersemangat.

"Hei. Kenapa kau seenaknya saja memutuskan?" protes Sasuke, karena Sakura memesankan dia makanan tanpa persetujuannya terlebih dahulu. Sakura hanya menangggapinya dengan menjulurkan lidahnya. Sasuke pun hanya pasrah saja.

"Lalu gadis cantik ini?" Tanya pelayan itu kepada Hinata.

"Eee.. A-aku-"

"Berikan dia mie ramen yang biasa saja Ayame-san. Tapi jangan terlalu pedas." Hinata terkejut saat Naruto memotong perkataannya. Naruto tersenyum kearah Hinata.

"Aku yakin kau tak mungkin mampu memakan seperti yang aku pesan." Kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Hinata dapat melihat semburat merah tipis di pipi Naruto. Hinata tersenyum lalu mengangguk.

"A-arigatou, Naruto-kun." Kata Hinata pelan. Setelah selesai mencatat, Ayame pun segera pergi untuk membuatkan pesanan. Sambil menungggu pesanan, pasangan NaruHina dan SasuSaku saling berbincang-bincang. Tiba-tiba Sasuke mendekati Naruto lalu membisikkan sesuatu kepada Naruto. Mata Naruto melebar ketika mendengarkan sesuatu yang di bisikkan Sasuke.

"Ha! Apa kau gila Teme! Lalu kau-hemmmpphhh.." Sasuke cepat-cepat membekap mulut Naruto sebelum Naruto protes lebih banyak.

"Sudah lakukan saja." Kata Sasuke kemudian melepas bekapannya pada Naruto. Naruto menghela nafas pendek.

"Ya sudah. Kau juga ya." Kata Naruto pada akhirnya. Sakura mengernyit melihat tingkah laku dua pria di depannya ini. Sementara Hinata hanya diam saja, meski hatinya bertanya-tanya apa yang baru saja di bicarakan Naruto dan Sasuke. Sasuke lalu kembali ke samping Sakura. Sakura melihat Sasuke memberikan isyarat kepadanya dengan tangannya yang berada di bawah meja. Sakura tersenyum tipis lalu mengangguk. Sakura mengambil ponselnya dari dalam tasnya.

"Err.. Naruto, Hinata, Sasuke, maaf ya. Sepertinya aku harus pulang duluan. Aku baru saja mendapat pesan dari ibu. Katanya aku di suruh cepat pulang. Maaf ya?" kata Sakura dengan nada memelas.

"Ti-tidak apa-apa, Sakura-chan." Kata Hinata sambil tersenyum . Sementara Naruto hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan kecil.

"Biar aku antar." Kata Sasuke sambil beranjak berdiri. Sakura mendongak.

"Ah, tidak usah Sasuke. Aku nanti malah merepotkanmu." Kata Sakura ikut berdiri.

"Tidak apa-apa. Tidak baik seorang gadis berjalan sendirian di malam hari." Sakura tersenyum menanggapi perkataan Sasuke.

"Yasudah. Tapi apa kalian tidak apa-apa kami tinggal disini?"

"Tidak apa-apa kok." Jawab Hinata dan Naruto hampir bersamaan. Sakura dan Sasuke menyeringai tipis.

"Yasudah kalau begitu. Naruto, jaga Hinata ya. Hinata, aku pulang duluan." Naruto dan Hinata hanya mengangguk. Kini hanya tinggal mereka berdua di meja tersebut. Sesekali Naruto melirik Hinata dari sudut matanya. Sementara Hinata hanya diam tidak tau harus berbuat apa.

"Emm… Hinata." panggil Naruto. Merasa namanya di panggil, Hinata pun menolehkan kepalanya menatap wajah Naruto.

"A-ada apa, Naruto-kun?" Tanya Hinata. Bukannya menjawab pertanyaan Hinata, Naruto malah salah tingkah sendiri. Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya. Hinata heran dengan sikap Naruto yang tiba-tiba menjadi aneh.

"A-ada apa, Naruto-kun?" Hinata mengulang pertanyaannya. Naruto mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya. Naruto lalu menatap mata Hinata dengan serius. Wajah Hinata memerah melihat tatapan Naruto yang tidak seperti biasanya. Hinata hampir menundukkan kepalanya jika tidak di tahannya.

"Hinata…" Hinata hanya diam. Kali ini dia sibuk untuk mengatur detak jantungnya yang semakin menggila karena Naruto.

"Hinata.. Aku… Aku tidak tau kenapa semua ini bisa terjadi.." Hinata masih diam menatap wajah Naruto.

"Tetapi, jika semakin aku pendam malah akan semakin menjadi. Rasanya selalu aneh disini." Naruto meletakkan telapak tangannya di dadanya sebelah kiri.

"Aku… Aku baru menyadari.. Jika aku-"

"Hinata, hanya milikku." Naruto dan Hinata terkejut dengan suara barusan. Naruto dan Hinata mencari ke arah sumber suara. Naruto mengernyitkan dahinya. Seorang pria berambut merah bata, dengan tato "Ai" di dahinya tengah berdiri di belakang mereka dan menatap mereka berdua dengan tatapan datar. Naruto merasa seperti pernah mengenali orang itu, tetapi dia lupa. Naruto melirik ke arah Hinata. Naruto melihat Hinata tengah diam terpaku dengan mata membulat melihat sosok di depannya.

"Ga-Gaara-kun?" Naruto terkejut saat mendengar nama orang itu dari mulut Hinata. Naruto baru ingat siapa orang itu. Naruto pernah bertemu dengannya saat dirinya masih kelas 3 SMP di rumah Hinata. Dia adalah Sabaku Gaara, teman Naruto dan Hinata sewaktu SMP. Tetapi Naruto pikir jika Gaara adalah saudara Hinata. Karena Hinata pernah mengatakan jika Gaara adalah saudara jauhnya. Tetapi kata-kata yang di ucapkan Gaara barusan membuatnya bertanya-tanya.

"Apa maksudmu?" Tanya Naruto dengan nada sedikit membentak. Gaara hanya diam dan masih menatapnya datar. Gaara berjalan mendekati Hinata. Alangkah terkejutnya Naruto dan semua orang yang berada disitu. Tiba-tiba Gaara mengangkat tubuh Hinata dengan gaya ala bridal style.

"Gaara-kun. A-apa yang ka-kau lakukan?" Hinata mencoba memberontak, tetapi tetap saja tenaganya terlalu kecil untuk melawan seorang lelaki. Naruto berdiri dan mencoba merebut Hinata.

"Cepat turunkan Hinata sekarang juga, Gaara!" bentak Naruto. Bukannya menanggapi perkataan Naruto, Gaara malah beranjak pergi dengan membawa Hinata.

"Hei! Mau kau bawa kemana Hinata?!" Naruto mencoba untuk menyusul Gaara. Semua orang yang ada di dalam kedai ramen tersebut ikut keluar untuk melihat Naruto. Naruto berlari mencoba untuk menyusul Gaara dan Hinata.

"Cepat turunkan Hinata sekarang juga!" Gaara menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan menghadap Naruto.

"Hinata itu milikku. Jadi jangan ganggu kami." Kata Gaara dengan seringai di akhir kalimatnya. Mata Naruto membulat mendengar perkataan Gaara barusan.

"Ga-Gaara-kun. Tu-turunkan aku. Aku ti-tidak mau. Na-Naruto-ku, i-itu se-semua tidak be-benar!" Hinata mencoba untuk terus memberontak.

"Diamlah, Hinata. Aku akan membawamu."

"Hei. Apa kau tidak dengar dengan apa yang di katakan Hinata. Dia tidak mau denganmu!" Naruto mencoba untuk menarik tangan Hinata. Tetapi Gaara berhasil menangkis tangan Naruto. Naruto mulai geram dengan sikap Gaara.

"Memangnya siapa kau? Melarangku untuk membawa Hinata?" Naruto pun terdiam. Dia memang menyukai Hinata, tetapi Hinata belum menjadi kekasihnya. Gaara terkekeh. Sementara Hinata merasa akan menangis saat itu juga. Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak menyangka jika Gaara akan berbuat seperti ini. Hinata juga sedih karena tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kenapa kau diam, eh? Kalau bukan siapa-siapamu. Lalu kenapa kau melarangku membawa Hinata? Kau tidak ada hak untuk melarangku membawanya."

"Aku tidak akan menyerahkan Hinata padamu." Hinata terkejut mendengar pernyataan Naruto. Gaara menaikkan sebelah alisnya.

"Karena aku…..Mencintai Hinata."

To be Continue

Arena nyengnyengnyongnyeng author::

Yippiii… xD

Chapter 3 selesai. Hontou ni gomen karena Bebhe update-nya kelamaan. Itu di karenakan pulsa modem Bebhe abis :D

Bebhe seneng banget pas ngeliat reviews, follow, sama fave banyak. Bebhe kira fic Bebhe kali ini bakalan bernasib sama kaya' fic Bebhe yang sebelumnya xD *gak laku

Jujur saja pas Bebhe buka fic Bebhe yg ini trus liat reviewsnya, Bebhe langsung loncat-loncat gak karu-karuan*lebe dikit gapapa yah, namanya orang terharu xD #PLAK

Ternyata ripuwnya banyak dan bagus-bagus :D

Bebhe sueneeeeeeeeeeeengg banget. Makasih buat semuanya yang udah mau reviews, follow, atau nge'fave fic Bebhe ini. Bebhe makin semangat buat ngelanjutin fic ini. Semangat banget malah xD

Pas Bebhe online di hape n' ngeliat banyak yang nanggep'I, Bebhe langsung lempar buku trus ambil lepy buat ngetik kelanjutan fic ini. Lembur ampe' malem deh jadinya xD

Oke deh, Bebhe mau kasih balasan ripiuw dulu ^^

namikaze abe-san :: makasih ya buat kritik dan sarannya. Bebhe orang jawa tulen, pelajaran bahasa Indonesia juga kagak ada yang mudeng xD jadi begitulah, penulisannya amburadul. Tapi makasih banget ya udah ngasih tau ^^

Review lagi yak ^_^b

Namikaze-Hayato :: iya ini udah update ^^

makasih banyak ya, di tunggu reviews'nya ^^b

Hyuna. Toki :: ini udah update ^^ reviews lagi ya ^^b

:: haha :D ikuti terus ya, di tunggu reviewsnya ^^b

Furusawa21 :: makasih ya ^^ reviews lagi ^^b

Guest :: ini udah update ^^ reviews lagi ya ^^b

NHL polepel aptel :: okeoke :D makasih ya sarannya. Aku gak akan nelantarin fic ini kok xD makasih buat dukungannya. Reviews lagi ya :D

Oke cukup sampai disini dulu, sampai jumpa di next chapter ya.

Sii yuuu.. xD

Reviews please? ^_^