Ketika mencintai seseorang, cintailah dia apa adanya. Jangan berharap dia yang sempurna. Karena kesempurnaan adalah ketika mencintai tanpa syarat.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bebhe Present"
.
.
.
.
SHE IS MINE, NOT YOURS!
"LAST CHAPTER"
Pairing : NaruHina slight GaaHina
Rated: T-Indonesia
Genre: Romance/ Friendship
Disclaimer: Cerita punya Bebhe-chan, Naruto punya Om Mashashi Kishimoto
Warning: Bahasa amburadul, alur nggak nyambung, typo(s) (masih) bertebaran dimana-mana, romance yang kurang berasa, menggunakan EYD (Ejaan yang Disemawutkan), etc.
Previews Chapter 3 :: 'Aku…menatap wajah…Naruto-kun? Aku….'/"Karena…. Sangat tidak bagus jika wajah cantikmu itu terus di sembunyikan seperti itu."/ "Ga-Gaara-kun?"/"Hinata itu milikku. Jadi jangan ganggu kami."/ "Karena aku…..Mencintai Hinata."
.
.
.
.
"Bebhe Present"
.
.
.
.
Hinata membulatkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya dari Naruto. Gaara terkekeh pelan.
"Apa yang baru saja kau katakan? Cinta? Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan Hinata!" Kali ini Gaara sedikit menaikkan suaranya. Naruto mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di liriknya Hinata yang berada di gendongan Gaara. Naruto melihat Hinata sedikit mengeluarkan air matanya. Naruto semakin geram dengan Gaara. Naruto bertekad untuk menyelamatkan Hinata dari Gaara. Naruto tidak mau melihat Hinata menangis seperti sekarang. Naruto tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Hinata. Termasuk itu adalah saudara Hinata sendiri.
"Hinata…" kata Gaara sambil tersenyum lembut menatap Hinata.
"Hanya milikku."
"Jangan bermimpi!"
DUAKKK!
Tiba-tiba Naruto sudah berada di depan Gaara dan memukul Gaara tepat pada wajahnya. Gaara dan Hinata terlempar karena saking kerasnya pukulan Naruto.
"Kyaaaa!" teriak Hinata dan semua orang yang sedang berada di situ bersamaan. Untung saja Hinata terlindungi oleh Gaara di bawahnya. Naruto cepat-cepat menarik tangan Hinata, tetapi berhasil di tahan oleh Gaara.
"Lepaskan Hinata sekarang juga!" bentak Gaara pada Naruto. Naruto menyeringai melihat darah yang mengucur dari sudut bibir Gaara.
" .Pernah" Saat Gaara hendak berdiri, Naruto mencoba untuk menendang perut Gaara dengan kaki kanannya. Tendangan Naruto tepat mengenai sasaran. Gaara terlempar kembali. Naruto cepat-cepat merebut Hinata dari Gaara. Naruto menyuruh Hinata untuk berlindung di belakang punggungnya.
"Hiks… A-aku ta-takut, Na-Naruto-kun" kata Hinata sambil terisak di belakang tubuh Naruto. Naruto menoleh ke belakang untuk melihat Hinata. Naruto merasa bersalah karena sudah membuat Hinata menangis seperti sekarang. Seharusnya malam ini menjadi malam yang indah untuk Naruto dan Hinata. Tetapi ternyata semua ini terjadi. Maka dari itu Naruto bertekad untuk menyingkirkan Gaara yang saat ini tengah terkapar(?) di depannya. Naruto tersenyum manis menatap Hinata.
"Tenanglah Hinata. Kau aman sekarang. Kau aman bersamaku. Jadi jangan menangis lagi ya?" kata Naruto mencoba untuk menenangkan Hinata. Hinata hanya mengangguk menanggapi perkataan Naruto barusan. Hinata sudah jauh lebih tenang sekarang, Karena ia berada di belakang Naruto. Naruto tersenyum melihat Hinata yang sedang mengusap air matanya.
"Wah..wah..wah.. Berani-beraninya kau memukulku." Naruto mengalihkan pandangannya pada Gaara kembali. Gaara mencoba untuk berdiri. Tangan kanannya memegangi perutnya bekas tendangan Naruto tadi. Naruto merentangkan kedua tangannya berniat untuk melindungi Hinata.
"Aku tidak akan menyerahkan Hinata padamu" kata Naruto sinis. Gaara menyeringai menatap Naruto.
"Aku mencintai Hinata lebih dulu darimu. Jadi aku tidak akan pernah menyerahkan Hinata kepada siapapun. Termasuk dirimu!" Hinata tersenyum senang mendengar pernyataan yang di ucapkan Naruto. Hinata senang ternyata Naruto juga mempunyai perasaan yang sama seperti dirinya. Gaara mulai berjalan mendekati Naruto dan Hinata. Naruto menyuruh Hinata supaya tidak usah takut.
"Ohh.. Begitu ya?" Gaara menghentikan langkahnya. Dia menatap Hinata dengan tatapan sayu. Hinata menunduk bersembunyi di belakang punggung Naruto. Cukup lama mereka bertiga terdiam, Gaara akhirnya membuka mulut.
"Seberapa besar kau mencintai Hinata?" Tanya Gaara sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Naruto hanya diam. Sementara Hinata menunggu jawaban Naruto.
"Aku menunggu" Naruto masih diam menatap Gaara. Entah apa yang ada di fikirannya saat ini. Namun Naruto tidak segera menjawab pertanyaan Gaara.
"Na-Naruto-kun?" Hinata mencoba untuk memanggil Naruto. Naruto tetap diam di tempat. Hinata mulai gelisah. Dia takut jika kata-kata yang di lontarkan Naruto tadi tentang perasaannya hanya bohong belaka. Hinata mengepalkan kedua tangannyadi depan dada.
"Apakah aku harus menjelaskannya padamu, eh?" Bukannya menjawab, Naruto malah balik melemparkan pertanyaan pada Gaara. Gaara menaikkan sebelah alisnya. Hinata menatap punggung Naruto. Tangan Hinata mengepal semakin kuat.
"Ya. Karena aku ingin tau semuanya." Jawab Gaara dengan santai. Naruto tertawa, Hinata semakin heran dengan sikap Naruto.
"Kau tau? Cinta itu tidak beralasan." Jawab Naruto singkat. Gaara dan Hinata tidak mengerti maksud Naruto. Naruto menghela nafas pendek.
"Jika seseorang mencintai seseorang dengan alasan. Orang itu tidak mencintainya. Karena cinta itu adalah sebuah emosi. Bukan definisi." Gaara terdiam mendengar jawaban Naruto. Memang ada benaranya juga apa yang di katakan Naruto. Sementara Hinata, hanya bisa tersenyum senang mendengar jawaban Naruto. Wajahnya kembali memerah.
'Naruto-kun…'
"Cihh! Sialan kau!" Naruto hanya menaikkan bahunya menanggapi umpatan Gaara untuknya.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan yang meriah di sekeliling mereka. Naruto baru menyadari jika sejak dari tadi dirinya menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung dan warga yang berada di sekitar kedai ramen Ichiraku. Naruto menunjukkan cengiran rubahnya kepada semua orang yang berada disitu. Sementara Hinata, sudah pasti sekarang wajahnya sudah seperti tomat. Tetapi untung saja lampu di sekitar mereka tidak terlalu banyak, jadi Hinata tidak terlalu mengkhawatirkan wajahnya akan di lihat orang banyak.
Gaara berjalan mendekati Naruto dan Hinata. Merasa ada seseorang yang mendekatinya, Naruto mengalihkan pandangannya pada Gaara. Gaara berhenti tepat di depan Naruto. Naruto dapat melihat senyum tipis bertengger(?) di bibir tipis Gaara. Naruto menaikkan sebelah alisnya saat melihat Gaara mengulurkan tangan ke arahnya.
"Aku restui hubungan kalian." Naruto semakin tidak mengerti apa yang di ucapkan cowok bertato "Ai" di depannya ini.
"Kau sudah lulus dalam uji coba kami." Tiba-tiba muncul seorang pria berambut raven bermodel pantat ayam dan seorang gadis berambut merah jambu dari belakang Gaara.
"Teme? Sakura?" Naruto terkejut melihat Sakura dan Sasuke yang tiba-tiba muncul. Padahal Naruto pikir Sasuke mengantar Sakura pulang ke rumahnya. Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Sebenarnya apa maksudnya ini?" Sakura tersenyum lima jari menanggapi pertanyaan Naruto. Sementara Sasuke dan Gaara hanya tersenyum tipis. Gaara menoleh ke belakang member isyarat pada pasangan di belakangnya. Sakura hanya mengangguk menanggapi isyarat dari Gaara. Kembali Gaara memfokuskan diri pada pria berambut pirang di depannya.
"Biar Sakura yang menjelaskan semuanya." Kata Gaara sambil menyalami Naruto, Gaara lalu mundur ke belakang. Sakura membentuk huruf 'V' dengan jarinya.
"Begini, Naruto. Aku sudah tau tentang perasaan kalian satu sama lain. Aku sudah tau jika kalian sama-sama menyukai. Tetapi aku takut jika salah satu dari kalian tiba-tiba pergi ke lain hati karena menunggu kepastian dari salah satu dari kalian. Maaf ya Naruto, Hinata. Bukannya aku mau ikut campur dalam urusan cinta aku merasa jika kalian itu pantas bersama. Kalian sama-sama mencintai dan sangat serasi. Jadi aku, Sasuke, dan Gaara-senpai membuat rencana untuk membuat kalian agar bisa lebih dekat." Jelas Sakura panjang lebar. Naruto mulai mengerti dengan maksud Sakura. Naruto melirik Hinata yang masih berada di belakangnya, lalu mengalihkan pandangan pada Gaara yang berada di samping Sasuke.
"Be-berarti… Apa yang di lakukan Gaara tadi juga cuma akting?" Tanya Naruto dengan sedikit gugup, mengingat tadi dia sudah memukuli Gaara. Sakura mengangguk mantap.
"Hai. Dia mendapatkan peran untuk menguji cintamu. Wah, tadi itu bagus sekali Naruto. Kau benar-benar keren" kata Sakura sambil mengacungkan jempolnya di depan wajah Naruto. Naruto menelan ludahnya dengan susah payah.
'Mati aku. Pantas saja tadi Gaara tidak membalas seranganku.' Kata Naruto dalam hati. Naruto tau jika Gaara adalah murid yang terkenal dengan kemahirannya dalam berkelahi. Semua orang pasti akan tunduk pada Gaara. Tidak ada yang berani untuk menjahili Gaara, atau jika ada yang mau mencoba, maka rumah sakit akan menerimanya dengan senang hati.
GLEK
"Tenang saja Naruto. Aku tidak akan membalas apa yang kau perbuat kepadaku tadi. Justru itu yang aku mau. Itu artinya kau benar-benar mencintai Hinata, dan berani mengorbankan dirimu untuknya" jelas Gaara panjang lebar. Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali berusaha mencerna kata-kata yang di ucapkan Gaara.
"Be-benarkah?"
"Ya. Aku sebagai saudaranya tidak akan khawatir lagi jika Hinata bersamamu. Aku yakin kau bisa melindunginya." Naruto merasa lega mendengar penjelasan Gaara. Dia pikir jika nanti Gaara akan membalasnya.
"Huftt.. Syukurlah kalau begitu" Naruto baru menyadari jika Hinata sudah berada di sampingnya.
'Sejak kapan?' katanya dalam hati. Namun sejenak kemudian, raut wajah heran Naruto menjadi raut wajah gembira. Naruto tersenyum manis menatap wajah Hinata yang tetap terlihat cantik meski tidak di terangi oleh cahaya yang terang. Hinata menoleh menatap Naruto. Naruto dapat melihat semburat merah di wajah Hinata. Hinata tersenyum menatap Naruto. Dalam hati Hinata sangat tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Yang paling membuat Hinata senang adalah saat Naruto mengungkapkan perasaannya di depan orang banyak. Itu hal yang sangat indah untuk Hinata.
"Ekhemm… Sepertinya kami hanya mengganggu disini. Kalau begitu lebih baik kami pergi" kata Sakura mengejutkan Naruto dan Hinata. Naruto dan HInata segera memalingkan wajah mereka bersaamaan dengan wajah yang semakin memerah.
"Baiklah. Jaga Hinata ya, Naruto. Kau harus membawanya kembali dalam keadaan utuh" kata Gaara dengan nada sedikit mengancam. Sementara Sasuke hanya memberikan acungan jempol untuk Naruto.
"Kami duluan ya, Naruto, Hinata" teriak Sakura dengan bersemangat. Akhirnya Sakura, Sasuke, dan Gaara pun pergi meninggalkan tempat itu. Orang-orang yang menjadi penonton aksi Naruto malam itu pun juga ikut bubar. Hanya tinggal Naruto dan Hinata disitu. Naruto melirik Hinata dari sudut matanya.
"Eee.. Hinata. Kita cari tempat lain yuk" ajak Naruto sambil mengulurkan tangannya ke arah Hinata. Hinata tersenyum lalu menyambut tangan Naruto. Naruto dan Hinata berjalan menuju ke sebuah taman kota. Meskipun malam hari, taman kota tetap ramai pengunjungnya. Naruto dan Hinata duduk di salah satu kursi ditaman itu yang terletak di samping kolam ikan dan lampu taman. Seperti biasa, Naruto bingung mencari topik pembicaraan. Akhirnya mereka berdua hanya diam-diaman saja. Hanya suara gemericik air dan suara kecipak ikan yang terdengar. Naruto merasakan sesuatu yang dingin di tangannya. Naruto melirik tangannya dan baru menyadari jika tangan mereka masih berpautan. Naruto melepaskan genggaman tangannya lalu melepaskan sweaternya.
"Pakai ini Hinata. Tanganmu dingin sekali. Aku khawatir kau sakit nanti." Hinata senang mendengar pernyataan yang di ucapkan Naruto. Hinata lalu menerima sweater orange milik Naruto.
"A-arigatou Naruto-kun" Naruto mengangguk sambil tersenyum manis. Kini Hinata sudah mengenakan sweater milik Naruto.
'Bau parfum Naruto-kun' kata Hinata dalam hati. Hinata melirik Naruto dari sudut matanya. Senyum manis terukir di bibir tipisnya itu.
"Eee.. Hi-Hinata" Merasa di panggil, Hinata menoleh ke arah Naruto. Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"A-ada apa Naruto-kun?" Suara lembut Hinata menyadarkan Naruto dari lamunannya.
"Hinata.." Naruto memutar posisi duduknya menjadi menghadap Hinata. Wajah Hinata kembali memerah melihat Naruto yang menatapnya serius.
"Kau tau? Yang aku katakan tadi bukan main-main" Hinata tersenyum.
"A-aku tau Naruto-kun. A-aku percaya dengan Naruto-kun" Naruto tersenyum mendengar jawaban Hinata. Naruto menggenggam kedua tangan Hinata yang masih terasa dingin. Senyum manis terukir di bibir Naruto. Jantung Hinata berdetak lebih kencang melihat senyuman Naruto.
"Eee.. Hinata. Aku tau aku bukanlah orang yang romantis. Aku juga bukan pujangga yang pandai merangkai kata-kata. Tapi… Aku mencintaimu Hinata. Maukah kamu jadi kekasihku?" pernyataan cinta dari Naruto sangat membuat Hinata seperti melayang sampai langit ke tujuh*jieh* Hinata tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Naruto barusan. Hinata berharap jika ini bukan mimpi. Air mata Hinata turun membasahi pipi putihnya.
"A-aku juga mencintaimu Naruto-kun. Sangat mencintaimu" Naruto tersenyum mendengar jawaban Hinata. Naruto segera menarik Hinata ke dalam pelukannya. Naruto memeluk Hinata dengan erat, lalu mengecup puncak kepala Hinata dengan lembut. Hinata terisak di dalam pelukan Naruto.
"Hei.. Seharusnya senang kan? Bukan menangis begitu" Hinata tertawa kecil di dalam pelukan Naruto. Hinata mengeratkan pelukannya pada Naruto.
"A-aku tidak me-menangis Naruto-kun. A-aku senang. A-aku pikir jika ha-hari ini tidak a-akan pernah te-terjadi" Naruto tersenyum mendengar pernyataan Hinata. Naruto lalu melepas pelukannya. Di tangkupnya wajah Hinata dengan kedua telapak tangannya. Di usapnya perlahan air mata Hinata. Hinata tersenyum menatap wajah Naruto.
"Sudahlah Hinata. Yang penting sekarang kau sudah menjadi milikku, dan aku sudah menjadi milikmu" kata Naruto sambil tersenyum manis. Hinata mengangguk. Perlahan Naruto mendekatkan wajahnya pada Hinata.
CUP
Naruto mengecup dengan lembut dahi Hinata lalu tersenyum menatap Hinata, yang sekarang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.
"Aku tidak akan mencium bibirmu, sebelum kita menikah nanti"
BLUSH
Wajah Hinata kembali memerah mendengar perkataan Naruto. Karena apa yang di katakan Naruto barusan adalah lamaran tidak langsung padanya. Hinata tersenyum menatap Naruto. Naruto terkejut melihat Hinata yang tiba-tiba memeluknya dengan erat.
"Terima kasih Naruto-kun. Aku mencintaimu, Naruto-kun" Naruto membalas pelukan Hinata.
"Iya-iya Hinata-chan sayang~ Aku juga mencintaimu" Hinata terkikik mendengar Naruto yang berbicara dengan nada lebaynya.
Lampu taman menjadi saksi cinta di antara mereka. Tidak ada satupun yang dapat memisahkan cinta mereka. Cinta tulus dari hati, yang di landasi dengan kesetiaan.
-OWARI-
Yeeee.. xD
Akhirnya fic ini selesai jugaaaa*sujud sujud di tanah
Maaf jika ada kesalahan dalam penulisannya, soalnya neliti cuma satu kali*di uber paketan xD
Terima kasih buat semuanya yang udah reviews, follow, n' yang udh ng'fave fic Bebhe ini, skaligus buat silent readers, Bebhe ucapin terima kasih banyak… ^o^/
Sebenarnya Bebhe belum ikhlas berpisah dengan kalian. Tapi karena mengikuti alur, jadi apa boleh buat*plak xD
Kalian telah berjasa dalam menyemangati Bebhe untuk menyelesaikan fic ini ^^
Semoga semuanya terhibur dengan fic abal Bebhe ini. Jangan lupa baca fic Bebhe yang lainnya ya ^_^b
Balasan Reviews ::
namikaze abe-san :: wawawawawawaww*plak xD
terima kasih ya udah dukung Bebhe dalam penyelesaian fic ini. jangan lupa nangkring di ripiuw fic Bebhe yang lainnya ya,, ^o^/
Doumo Arigatou ^^b
Lambungchan :: Haha.. iya ini endingnya udah NaruHina :D
Trima kasih udah mau reviews ^^b
jangan lupa nangkring di ripiuw fic Bebhe yang lainnya ya,, ^o^/
Hyuna. Toki :: wah, kamu yang paling rajin nanya'in update nih xD
Makasih ya udah mau ripiuw fic ini. jangan lupa nangkring di ripiuw fic Bebhe yang lainnya ya,, ^o^/
Oke.. makasih buat semuanya..
Sii yuu.. muahmuahmuahmuah*PLAK PLAK PLAK xD
