Title : Janus (Chapter 5)
Pairing : Jo Twins, No Minwoo, dan Lee Jeong Min
Genre : Hurt, Romance
Rating : T
Disclaimer : Jo Twins milik Tuhan tapiii fict nya punya author.
Warning : Kayak biasa.. YAOI. Typo(s). Gaje. Abal. Bikin boring. Dsbg..
Summary : Aku sudah mempunyai orang yang aku sukai dan aku cintai, meskipun perasaan itu salah aku tetap mencintainya. Aku mencintai Jo Youngmin, kakak kembarku sendiri. *maaf gak bisa bikin summary -_-*
Selamat Membaca!
Janus, dewa yang memiliki dua muka sehingga ia bisa melihat ke depan dan ke belakang secara bersamaan. Kedua muka tersebut juga membuatnya dapat melihat ke masa lalu dan masa depan. Janus dikenal sebagai dewa permulaan dan akhir.
"kau tahu aku sama sekali tidak pernah membencimu Young, aku mencoba melindungimu dengan sepenuh hati. Aku tak pernah mengeluh saat kau tak pernah mempedulikanku. Aku tidak pernah menyukai Minwoo Young, aku menyukaimu. Aku mencintaimu young, cinta yang lebih dari sekedar saudara. Meski aku tahu perasaan ini salah. Tapi aku tetap mencintaimu young."jelas Kwangmin seraya pergi meninggalkan Youngmin yang terdiam mendengar ucapan saudaranya itu.
"kau dengar itu Young, dia itu mencintaimu, cinta yang lebih dari sekedar saudara. Dan asal kau tahu, aku telah mengetahui hal itu jauh sebelum kau mengetahuinya. Satu lagi, aku juga tidak pernah punya perasaan padamu atau pada Kwangmin. Aku hanya menyukai Donghyun hyung, ingat itu."jelas Minwoo sambil pergi meninggalkan Youngmin dan mengejar Kwangmin.
Chapter 5 Let's read...
Di lapangan Basket
Youngmin POV
Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar dari mulut Kwangmin dan Minwoo tadi. Aku benar-benar seperti orang bodoh disini. Kwangmin, apa aku tidak salah dengar tadi. Dia mencintaiku, bukankah aku saudaranya sendiri. Dan Minwoo, dia menyukai Donghyun hyung. Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Aku putuskan untuk berlari menuju atap sekolah. Aku menangis sejadi-jadinya, ada perasaan tidak terima saat mengetahui Kwangmin mencintaiku juga saat Minwoo mengatakan dia menyukai Donghyun. Ada perasaan bersalah yang terbesit saat ini, apa aku seburuk itu pada Kwangmin. Aku mencoba menenangkan pikiranku untuk tetap berada di atap sekolah saat ini.
Sementara itu...
Kwangmin POV
Di koridor sekolah.
Aku mengatakan hal itu pada Youngmin, aku tidak percaya. Tapi apa nanti Youngmin tidak semakin benci padaku. Ah aku tidak peduli.
"Kwang...Kwangmin. Jo Kwangmin." Aku menoleh kebelakang ke belakang mencari sumber suara yang memenggilku barusan. Kutemukan Minwoo yang berlari mengejarku.
"ada apa Woo." Tanyaku pada Minwoo. Aku masih memegangi pipiku yang di tinju Youngmin tadi.
"kau baik-baik saja." Tanya Minwoo padaku, di perhatikannya wajahku yang agak lebam.
"hey, aku ini manusia yang paling kuat Woo. Aku baik-baik saja, tenanglah."ucapku menenangkan Minwoo.
"aku hanya khawatir padamu. Tapi jujur kau tadi terlihat sangat keren." Minwoo tersenyum padaku.
"keren, maksudmu?"aku pura-pura tidak mengerti.
"iya saat kau mengatakan perasaanmu pada Youngmin." Ucapnya sambil berjalan mendahuluiku.
"aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mengatakan hal itu. Eh sebentar lagi jam sekolah berakhir, bukannya kau ada janji dengan Donghyun hyung." Ucapku mengingatkan Minwoo.
"ah kau benar, aku akan menemuinya. Kau tidak apa-apa kan pulang sendirian.?"ucapnya sambil menoleh ke arahku.
"hahaha, kau terlihat seperti ibuku Woo, selalu mengkhawatirkanku. Aku akan latihan basket bersama Jeong min, kau bersenang-senanglah dengan Donghyun hyung." Kataku menyuruhnya pergi.
"baiklah, aku pergi dulu ne, bye"ucapnya seraya pergi meninggalkanku dengan sedikit berlari menjauhiku. Minwoo melambaikan tangannya, begitu juga denganku. Aku masih tersenyum memperhatikannya hingga dia tak terlihat lagi.
Aku berjalan sendiri untuk menemui Jeong min, namun aku melihat dia berlari ke arahku. Dia melambaikan tangannya padaku seperti orang yang sudah lama tak pernah bertemu.
"Kwang, untung aku bertemu denganmu." Ucapnya padaku dengan nafas yang agak tersengal, lelah berlari.
"ada apa Jeong, aku baru saja akan menemuimu." Tanyaku pada Jeong Min
"Dua minggu lagi kita ada pertandingan basket."
"pertandingan basket?"ucapku heran.
"benar, ini pertandingan besar Kwang. Banyak team yang akan ikut." Jelasnya padaku.
"wah ayo kita ikut pertandingan itu. Pasti menyenangkan." Ucapku antusias.
"baiklah, ayo kita latihan." Ajaknya padaku. Kuambil tasku di kelas yang sudah sepi dan menuju ke lapangan basket
Di lapangan Basket.
Author POV
Kwangmin terburu-buru menuju ke lapangan basket, tidak lupa di mengganti pakaiannya dengan seragam basket miliknya yang selalu dia bawa di dalam tasnya. Kwangmin sudah tidak melihat Youngmin di sana. Yang ada hanya Jeong min, Hyun Seong, Onew, Key, Minho, dan pelatih Park Jung Soo.
Pelatih Park menyuruh Team Kwangmin atau Team yang di beri nama Black Wolf untuk melakukan pemanasan. Mereka pun berlari mengelilingi lapangan basket dan kemudian berlatih memasukkan bola ke dalam ring. Setelah itu terdengar bunyi pluit dari pelatih Park.
Priiiiiiiiitttttttttttttttt...
Semua anggota Team Black Wolf berkumpul di hadapan pelatih Park.
"Kalian tahu, sebentar lagi kita akan mengikuti pertandingan Basket antar sekolah. Apa kalian siap mengikuti pertandingan itu." Tanya pelatih Park sambil mondar mandir memperhatikan anak asuhnya satu persatu.
"Siaapp Pelatih,"ujar Anggota team Black Wolf serentak.
""bagus, sekarang berlatihlah, jangan sampai ada yang mengganggu pertandingan kita. Mengerti..."
"mengerti Pelatih." Ucap anggota team Black Wolf sambil berlari menuju tempat masing-masing melanjutkan latihan mereka.
Sementara itu di atap sekolah.
Seorang namja bersurai pirang bermain dalam lamunannya, masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Akhirnya dia memutuskan untuk berlatih dance mengingat teamnya akan mengikuti kompetisi Dance. Mungkin sekitar 10 hari lagi, dia harus berlatih lebih keras lagi agar tidak mengecewakan teamnya, yaitu Team White Fox. Bermacam-macam gerakan Youngmin lakukan, hal itu di maksudkan agar dia bertambah mahir dalam Dance. Kwangmin dan Youngmin sama-sama berlatih di waktu yang sama hanya tempatnya saja yang berbeda.
Tanpa terasa matahari telah terbenam meninggalkan warna jingga di langit. Saatnya bagi Kwangmin dan youngmin untuk pulang. Kwangmin bersiap-siap memasukkan barang-barangnya ke dalam tas berwarna hitam miliknya. Sedangkan Youngmin dia berjalan menuju ke kelas, mengingat tasnya tadi masih berada di kelas. Di ambilnya tas berwarna kuning miliknya dan kemudian dia berjalan berniat untuk pulang ke rumah. Namun langkahnya berhenti saat dia bertemu dengan Kwangmin di gerbang sekolah.
"Kwang/Young."ucap mereka bersamaan. Kemudian Youngmin hanya membuang muka dan terus berjalan tanpa mempedulikan Kwangmin yang juga berjalan di belakangnya. Tidak ada percakapan yang terjadi. Baik Youngmin maupun Kwangmin tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Hening, hingga tiba-tiba Youngmin menoleh ke belakang melihat Kwangmin dengan tajam.
"Kau, jangan mengikutiku terus."Youngmin menatap Kwangmin tajam.
"tapi kita kan searah Young."ucap Kwangmin sambil menundukkan kepala.
"Bukankah masih ada jalan lain, jadi jangan mengikutiku. Arraso!" Youngmin membentak Kwangmin
"tapi.." belum sempat Kwangmin melanjutkan kata-katanya Youngmin sudah berbicara kembali.
"tidak ada tapi-tapian, awas saja kalau kau masih mengikutiku."ucap Youngmin lalu kembali berjalan bermaksud ingin menyeberang jalan. Kwangmin hanya bisa diam.
Saat Youngmin ingin menyeberang sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menghampiri Youngmin, sedangkan Youngmin hanya terdiam melihat mobil melaju kencang ke arahnya, tubuhnya terasa kaku tidak tahu apa yang harus dia perbuat. Kwangmin terkejut melihat mobil tersebut hampir menabrak Youngmin.
"Young awas!" teriak Kwangmin sambil mendorong tubuh Youngmin ke arah sisi jalan yang tidak memungkinkan Youngmin untuk tertabrak. Benar Youngmin berhasil di selamatkan, namun tidak bagi Kwangmin. Dia rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Youngmin.
Youngmin terbelalak melihat tubuh Kwangmin tergeletak di tengah jalan dengan darah yang bercucuran di tubuhnya. Youngmin menghampiri tubuh Kwangmin yang tergeletak di tengah jalan dan mengangkat kepala Kwangmin ke pangkuannya. Tidak peduli kepala Kwangmin bercucuran darah segar. Youngmin tetap melakukan hal itu.
"Kwang, sadarlah Kwang, jangan begini Kwang, bertahanlah Kwang aku mohon." Teriak Youngmin panik. Sadar atau tidak, saat ini Youngmin menangis. Di pukul-pukulnya pipi Kwangmin, berharap Kwangmin membuka mata. Tapi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan Youngmin, Kwangmin tidak juga membuka mata. Segera di ambilnya ponsel di saku celananya di tekannya nomor rumah sakit.
"yoebseyo, rumah sakit, tolong kirim ambulance sekarang juga. Adikku...adikku kecelakaan!"teriak Youngmin pada petugas rumah sakit. Terdengar samar-samar suara di seberang sana.
"Baiklah dimana keberadaan anda sekarang?"
"cepat kirim ambulancenya. Aku..aku ada di dekat jalur dua seoul high school. Cepat tolong adikku!"teriak Youngmin lagi kemudian ditutupnya ponsel tersebut dan dimasukkan dalam saku celananya.
Tidak sabar menunggu Ambulance, Youngmin berusaha menggendong Kwangmin. Tak peduli seberapa berat tubuh Kwangmin, tetap saja Youngmin menggendongnya.
Youngmin POV
"Kwang, bertahanlah sedikit aku akan membawamu ke rumah sakit. Bertahanlah sebentar, aku mohon."ucapku sambil menggendong tubuh Kwangmin. Tidak ku pedulikan seberapa berat tubuhnya dan juga tidak ku pedulikan darah yang terus keluar dari kepalanya membasahi pundakku.
Hampir 10 menit aku berjalan sambil mengendongnya, aku tidak lagi merasakan lelah. Kulihat rumah sakit sudah dekat. Aku sedikit berlari, sesampainya di pintu rumah sakit aku berteriak pada petugas rumah sakit.
"seseorang tolong adikku." Hal itu membuat para perawat di rumah sakit panik. Segera di letakkan tubuh Kwangmin di ranjang rumah sakit(?)untuk di bawa ke ruang ICU. Semua perawat dan para dokter berlarian menuju keruang ICU. Youngmin sendiri ikut mengiringi Kwangmin menuju ke ruang ICU.
"maaf, silahkan menunggu di luar" ujar seorang perawat pada Youngmin seraya menutup pintu ruang ICU.
Youngmin hanya mondar-mandir di depan pintu ruang ICU. Dia panik, dia hanya berharap Kwangmin baik-baik saja. Baju Youngmin sekarang penuh dengan bercak darah Kwangmin. Tangisnya tak berhenti sejak tadi, dia benar-benar takut saat ini.
Di ambilnya lagi ponsel yang ada di saku celananya tadi, ingin sekali dia menghubungi orang tuanya. Tapi tidak mungkin, sekarang orang tuanya berada di amerika menjalankan bisnis yang ada disana. Lalu di tekannya nomor Minwoo.
"Yeobseyo, Minwoo. Tolong aku, Kwangmin.."ucap Youngmin terputus oleh isakannya.
"jebal, kemarilah. Aku berada di rumah sakit. Kwangmin Woo, aku mahon datanglah cepat."ucapnya lagi. Lalu ditutupnya telpon itu.
Di rumah Minwoo
Minwoo POV
Drrrrtttt
Handphoneku berbunyi, kulihat id si penelpon, ternyata Youngmin. Mau apa dia menelponku malam-malam begini.
"Yeobseyo, ada apa Young?" tanyaku dengan sedikit ketus padanya.
"Yeobseyo, Minwoo. Tolong aku, Kwangmin.." ucapnhya terputus-putus. Tunggu apa maksudnya dengan menyebut nama Kwangmin.
"Young Kwangmin kenapa?"tanyaku panik.
""jebal, kemarilah. Aku berada di rumah sakit. Kwangmin Woo, aku mahon datanglah cepat."ucap Youngmin diseberang sana.
Tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke rumah sakit. Aku panik, apa sebenarnya yang terjadi pada Kwangmin. Kebetulan saat aku keluar dari rumah sebuah taksi datang, langsung saja ku stop taksi tersebut. Di sepanjang jalan aku sangat ketakutan, ya Tuhan semoga Kwangmin baik-baik saja.
Sesampainya di rumah sakit aku langsung berlari menuju tempat Youngmin berada. Aku agak kesulitan mencari ruang ICU tempat Kwangmin dtangani. Tidak beberapa lama kemudian kulihat seseorang yang ku kenal, ya itu dia Youngmin. Ku hampiri namja bertubuh tinggi yang sedang berdiri mondar-mandir di depan pintu ruang ICU.
"Young."panggilku pada Youngmin. Dia menghampiriku, di peluknya tubuhku. Tangisnya tidak berhenti, entah sejak kapan dia menangis. Airmatanya membanjiri pipnya.
"Woo, aku takut, sungguh aku takut sekali Woo." Ujarnya masih terus memelukku sambil menangis.
"Young, jelaskan padaku apa yang terjadi pada Kwangmin."ucapku sambil menenangkan Youngmin.
"ini semua salahku Woo, gara-gara aku dia kecelakaan." Ucap Youngmin sambil melapaskan pelukannya. Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan Youngmin.
"apa yang sebenarnya terjadi pada Kwangmin, Young. Jelaskan padaku."
"tadi waktu aku ingin menyeberang jalan tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang. Dia mencoba menyelamatkanku dan mengorbankkan dirinya Woo. Ini salahku, Woo. Seharusnya aku yang terbaring di sana Woo. Hiks" ucap Youngmin menjelaskan kronologi kecelakaan itu padaku. Aku hanya bisa menenangkannya, berusaha agar Youngmin berhenti menangis.
Author POV
Cklekk
Pintu ruang ICU terbuka, para perawat membawa Kwangmin yang terbaring di ranjang rumah sakit ke sebuah ruangan. Youngmin ingin mengikutinya, tapi ditahan oleh seorang dokter yang berbicara dengan nada serius.
"siapa disini keluarga pasien?" tanya dokter yang melepaskan sebuah masker yang tertempel di wajahnya.
"saya dok, saya kakak kembarnya."ucap Youngmin pada dokter tersebut.
"mari ikut dengan saya, ada beberapa hal yang perlu anda ketahui."ujar sang dokter berjalan menuju sebuah ruangan yang diikuti oleh Youngmin di belakangnya.
Di sinilah sebuah ruangan bercat putih dengan sebuah meja dan 3 buah kursi yang terletak di tengah ruangan. 1 kursi berada di depan meja, disanalah duduk dokter yang menangani Kwangmin. Lalu 2 kursi di belakang meja yang slah satu kursinya diduduki oleh Youngmin saat ini.
"bagaimana keadaan adik saya Dok.?"tanya Youngmin dengan cepat, sperti tidak sabar menunggu penjelasan dari dokter.
"adik anda mengalami benturan yang sangat keras dibagian kepala, sehingga terjadi pendarahan diotaknya. Hal itu membuat adik anda koma, kami sendiri tidak tahu kapan Kwangmin akan sadarkan diri. Tapi dia masih bisa mendengar selama dia koma."ucap dokter tersebut dengan penuh hati-hati.
"apa dok,koma?
TBC
Chapter 5 selesai, RnR please. Author gak tau kenapa dichapter ini jadi kayak gini, jelek banget. Walaupun jelek tetep ya review, soalnya ini penting banget buat Author. Dan buat yang udah Review di Chapter sebelumnya, Author ucapkan beribu-ribu terima kasih. Jeongmal Gomawo...
