Bleach = Kubo Tite
This story = Searaki Icchy
Rate = M for safe
Genre = Drama, Romance, Slice of Life, dll (selama cocok)
Berdasarkan req dari Hepta Py
Warning! OOC, AU, Typo(s), Abal, Geje, Alur kecepatan, Membosankan.
Enjoy this fic guys~ :D
Searaki Icchy's present
.
.
Our Broken Masks
.
.
The Lullaby
.
.
Ruangan Zaraki Kenpachi tidak pernah berubah meski entah sudah yang ke berapa kalinya Rukia menginjakkan kaki di sini. Beberapa menit setelah ia mengetahui tentang status dirinya bersama dengan Kiyone, akhirnya di sinilah Rukia, berdiri diam sambil menunggu aba-aba dari atasan yang padahal (sama sekali) tidak cocok di anggap sebagai pimpinan untuk perusahaannya sendiri.
Meski Rukia dan Kiyone sudah diam tenang dan sabar menunggu apa yang akan Zaraki katakan, pria itu masih cuek saja bermain dengan anak asuhnya, Yachiru, dengan gaya yang menurut Rukia sama sekali bukan gaya seorang Kenpachi.
"Apakah kita akan tetap seperti ini sampai setengah jam kemudian?" kata Kiyone setengah berbisik.
Rukia menggeleng, hanya bisa mendesah berat. Kiyone pun mengikuti tingkahnya. Zaraki sama sekali tidak merespon mereka berdua. Dan kini dua wanita mungil itu sudah tidak sabar ingin segera meninggalkan ruangan itu. Kalau saja saat ini mereka berdua sedang tidak di dalam ruang kerja bos, mereka pasti tidak akan segan-segan keluar dari sana.
"Apa lebih baik kita langsung tanya saja, Rukia?" Kiyone berbisik lagi.
Rukia masih berpikir apa yang seharusnya mereka lakukan. Sepertinya saran Kiyone ada benarnya, Zaraki tidak akan menggubris mereka jika mereka tetap diam terus. Masih banyak hal penting yang ingin Rukia lakukan selain berdiri diam di sini. Rukia harus membantu Toushirou untuk mengepas barang-barang yang akan pria itu bawa ke Amerika, dia tidak akan melewatkan satu menit kesempatan untuk bersama dengan Toushirou. Pria itu akan pergi ke Amerika selama dua bulan!
Rukia menghirup nafas dalam-dalam lalu dihembuskan dengan kasar. Dia akan mengganggu kesenangan Zaraki, hal yang sangat tabu jika masih ingin bekerja di sini. Tapi apa boleh buat, bersama Toushirou jauh lebih penting dari kehilangan pekerjaan saat ini.
"Ngg... bos, ada yang ingin Anda—" Rukia teralihkan oleh suara ketukan dari pintu. Otomatis dia dan Kiyone berbalik menatap pintu tersebut.
Ketukan pintu itu tidak menunggu persetujuan untuk dibuka, Toushirou muncul tanpa basa-basi di hadapan Zaraki—setelah tersenyum singkat kepada Rukia dan Kiyone yang selalu membungkuk hormat kepadanya. Hanya Hitsugaya Toushirou satu-satunya yang berani bersikap biasa saja kepada Zaraki. Mungkin karena Toushirou adalah orang kepercayaan Zaraki, itu sebabnya kenapa pria tua itu tidak pernah marah ketika Toushirou bersikap biasa dan tidak terlalu kaku kepadanya. Zaraki memang selalu menekankan kepada setiap karyawan-karyawan yang bekerja dengannya untuk bersikap santai, namun bukan berarti sikap santai itu bisa disalah-artikan dengan sikap kurang ajar kepada atasan. Zaraki tidak akan pikir panjang untuk langsung memecat siapapun itu.
Walau Toushirou bersikap biasa seperti langsung masuk ke dalam setelah mengetuk pintu, biasanya pria itu langsung meminta maaf dan memberitahukan alasan kenapa ia masuk tanpa permisi. Zaraki akan langsung menerima tindakan sopan Toushirou walaupun kadang dengan setengah hati.
"Kau mengganggu waktu mainku dengan Yachiru, cebol," keluh Zaraki.
Rukia hampir tersedak saat Zaraki memanggil Toushirou dengan sebutan terlarang itu. Hitsugaya Toushirou sangat benci dipanggil cebol, kecil, dan sanak saudara lainnya. Dulu ketika awal mereka pacaran, Toushirou pernah terlibat perkelahian karena seseorang mengatainya dengan sebutan a tiny-winy, hal yang mampu menyulut emosi Toushirou yang biasanya selalu memperhatian raut ekspresi di wajahnya.
Anehnya Toushirou tidak menyiratkan ketidaksenangan saat Zaraki memanggilnya begitu. Mungkin Toushirou berusaha untuk tidak terlalu memikirkan perkataan Zaraki yang memang selalu memanggil bawahannya dengan nama panggilannya sendiri. Zaraki juga pernah menyebut Rukia 'pendek', Kiyone juga pernah dipanggil begitu. Dan mereka hanya bisa tertawa pasrah menerima.
Dalam hati Rukia kagum dengan gerak-gerik Toushirou yang mampu mengontrol emosinya agar tidak terlihat dalam ekspresinya. Pria itu memang pandai menyimpan perasaan, itu mungkin salah satu hal yang membuat Rukia salut kepadanya. Rukia sendiri tidak terlalu pandai menyimpan perasaan, meskipun selama ini dia sudah berusaha menjaga agar ekspresi dan emosinya tidak terbaca oleh karyawan sekitar, terkadang Rukia bisa juga lepas kendali karena pengaruh keadaan hati saat itu. Mungkin setelah Toushirou kembali Rukia akan minta diajari pengendalian diri Toushirou yang kuat itu.
"Kau ada perlu denganku?" suara Kenpachi membuyarkan kekaguman Rukia. Tidak mungkin Toushirou masuk kemari tanpa tujuan. Dan memang pria itu menaruh sebuah amplop cokelat besar di meja kerja Kenpachi lalu memberitahu apa isi amplop tersebut.
"Ini surat perjanjian dengan pihak Kurosaki yang kuterima tadi. Mungkin Ishida Uryuu juga sudah memberikannya kepadamu, tapi aku tetap akan memberikan ini." Toushirou menjelaskan.
Kenpachi mengambil amplop tersebut, membukanya dengan mudah dan membaca apa yang tertulis di dalam kertas putih berlambang marga Kurosaki di sisi kiri atas itu. Wajahnya memunculkan seringai khasnya ketika membaca isi surat yang menyatakan persetujuan untuk menggabungkan perusahaan dengan tanda tangan seseorang yang semakin membuat senyum Zaraki sumringah. Kurosaki Ichigo.
"Kapan kau berangkat?" tanya Kenpachi tidak berhenti menyeringai.
"Besok pagi."
"Wow, semua berjalan melebihi yang kukira," decak Kenpachi mengagumi cara kerja pihak Kurosaki. Dia bisa mengira bahwa pasti Kurosaki akan tertarik dengan kemampuan Toushirou dan memang itulah rencananya dari awal. Namun yang tidak ia perkiraan adalah kepergian Toushirou yang katakanlah terlalu sangat mendadak. Ini bisa dibilang Kurosaki Ichigo—wakil direktur Kurosaki Company—sangat menyukai bakat Toushirou.
Well, bocah ingusan itu ternyata tidak buta, dia bisa melihat emas di dalam tumpukan kotoran sapi. Pikir Kenpachi terkekeh.
Di belakang punggung Hitsugaya Toushirou, Rukia dan Kiyone masih menunggu. Sedikit kesal karena merasa kehadiran mereka tidak dianggap, Rukia pun akhirnya bersuara, "Ada yang mau kau katakan kepada kami, bos?" tanyanya dengan suara yang (dibuat) sangat sopan.
Kenpachi akhirnya memperhatikan mereka. "Ah iya!" serunya teringat, "Kalian mulai pindah besok, Ishida Uryuu yang akan menjemput kalian."
Kiyone bengong, sedangkan Rukia kembali mengerutkan keningnya lebih dalam. Untuk apa mereka perlu dijemput segala? Mereka bukan karyawan elit yang harus tunggu jemputan datang, seharusnya hal itu tidak perlu, mereka bisa pergi ke sana sendiri.
"Apakah itu juga masuk dalam persetujuan kita, bos?" Toushirou seakan mengerti apa yang Rukia pikirkan. Dia sendiri juga bingung dengan keistimewaan itu.
"Tentu saja! Tidak mungkin kan aku memberikan dua pekerjaku secara cuma-cuma?" jawab Kenpachi dengan bangga.
"Bos…" Kiyone hampir menangis karena terharu mendengar pernyataan itu. Ternyata dibalik ketidak-pedulian dan sikap cueknya, Zaraki Kenpachi sangat peduli terhadap kesejahteraan para anak buahnya.
Sayang, respon Rukia berbeda jauh dengan Kiyone. Dia tidak merasa terharu apalagi senang. Tentu saja karena Rukia merasa dirinyalah yang menjadi kambing hitam dalam persetujuan ini. Jika Kenpachi tidak ada pikiran bodoh untuk menggabungkan dua perusahaan, Toushirou tidak perlu pergi ke Amerika dan Rukia tidak perlu pindah. Dia tidak terlalu senang dengan keputusan mendadak ini. Dia ingin mengajukan keberatannya. Hanya saja, Rukia masih perlu memikirkan apa konsekuensi yang akan dia tanggung jika memberitahukan kata hatinya. Dan yang lebih penting, masa depan Toushirou setelah itu.
Toushirou mengangkat bahu, memberikan isyarat bahwa dirinya setuju dengan Kenpachi. Ia berbalik dan menatap Rukia, memandangnya dengan sangat lama. Rukia menyadari maksud tatapan itu, seharusnya Toushirou tidak melakukannya—apalagi di depan Kiyone dan Kenpachi!
Rukia bergerak resah, berusaha menjaga mukanya agar tidak terlihat memerah. Dia sengaja tidak menatap langsung wajah Toushirou. Sinar mata itu memberikan sinyal yang tidak biasa, Rukia tahu itu.
Melihat Rukia tidak nyaman, Toushirou malah tersenyum geli. Akhirnya setelah berpamitan kepada atasan, Toushirou melewati Rukia dan Kiyone. Sebelum pergi, Toushirou menyentuh singkat tangan Rukia yang bersembunyi di punggungnya. Meremasnya pelan, lalu pergi.
Refleks Rukia berbalik namun Toushirou terlanjur menghilang. Remasan pelan itu, Rukia tahu apa maksudnya. Mereka akan menghabiskan waktu bersama sampai keberangkatan Toushirou.
.
.
.
Ishida Uryuu terlihat fokus mengetik di ruang kerjanya. Setelah kedatangannya menuju perusahaan Zaraki, Ishida harus rela melemburkan diri demi deadline pekerjaan yang semakin menumpuk. Ini gara-gara Kurosaki Ichigo yang sudah menghilang dari ruangannya dan menghilang entah kemana. Menjadi sekretaris pribadi memang bukan pekerjaan Ishida, namun saat ia ditugaskan menjadi salah satu manager di bawah naungan Ichigo, Ishida harus bisa menerima satu pekerjaan yang diberikan khusus kepadanya: seorang 'budak'. Budak yang harus selalu mengerjakan setiap tugas yang tidak Ichigo kerjakan. Ishida selalu membereskannya padahal yang punya pekerjaan itu sendiri tidak pernah peduli. Biarlah, dia sudah terlanjur menikmati—walau setengah hati—pekerjaan tambahan ini karena Ichigo selalu memberinya kepercayaan yang bisa dibilang—terlalu—berlebihan.
Ichigo tidak akan ragu mencari Ishida ketika pria itu membutuhkan bantuan karena Ishida selalu siap (walau datang dengan sedikit makian) membantu. Meskipun mengeluh, Ishida tidak pernah menolak apapun yang Ichigo minta (walau kadang Ishida perlu-harus-wajib meneror Ichigo saat deadline menjelang). Dan yang paling penting dari semua, Ishida adalah satu-satunya yang bisa diandalkan Ichigo dalam segala hal.
Pekerjaan demi pekerjaan sudah mulai berkurang, sudah saatnya Ishida mengistirahatkan mata dan tangannya yang lelah. Beberapa menit setelah ia kembali, Ichigo sudah tidak lagi berada di ruangannya. Hal yang selalu pria jeruk itu lakukan di saat Ishida lengah. Pria itu menghela nafas, pasrah saja dengan kondisi sekarang, toh mereka sudah menyelesaikan satu pekerjaan, untuk pekerjaan selanjutnya itu urusan nanti, setelah Ishida menyelesaikan pekerjaan ini.
Menggabungkan dua perusahaan menjadi satu itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ishida harus melaporkan semuanya kepada direktur atasan yang kini menetap di New York. Ishida juga harus merapatkan hasil keputusan Ichigo ini kepada dewan dan rekan pemegang saham untuk persetujuan mereka. Bukan hal susah tapi juga bukan hal mudah. Kadang ada saja dari beberapa pihak keberatan dengan keputusan mendadak ini. Well, suara hati itu juga Ishidalah yang menanggung semuanya. Sikap keberatan, tidak terima, protes, dimarah-marahi, dia yang akan menanggung semuanya.
Rapat kilat beserta dampak-akibat yang sudah diperkiraan Ishida akan terjadi besok siang. Dan (lagi-lagi) tanpa kehadiran Ichigo, biang keladi dari semua keputusan konyol ini.
Diraihnya ponsel putih dengan lambang salib biru di kantung kemeja. Ishida menekan tombol dial, berharap dengan ini Ichigo mengangkat panggilannya. Terdengar bunyi di seberang telinga, Ishida sudah menduga Ichigo tidak akan mengangkatnya.
Dia mendesah pelan, bergumam. "Dasar jeruk sialan…" lalu berputar haluan dengan mengetik sebuah pesan. Ishida akan meneror Ichigo dengan bom e-mail. Ishida tidak akan menyerah sebelum Ichigo menelponnya.
.
.
.
Malam hari ini terasa sangat dingin. Angin berhembus terasa membekukan kulit, pertanda bahwa sebentar lagi musim gugur akan berakhir. Bulan masih terlihat bulat, bersinar sempurna ketika kelip bintang menemaninya. Daun-daun yang berguguran terlihat seperti sedang menari ketika angin meniupkan udara, menemani suasana hati Rukia dan Toushirou.
Rukia begitu senang saat Toushirou menunggunya di depan kantor saat Rukia baru saja ingin mencarinya. Pria itu tidak lupa bahwa hari ini mereka akan menghabiskan waktu bersama-sama sebelum pergi. Rukia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini ketika Toushirou mempunyai waktu luang.
"Sebentar lagi musim dingin," suara Toushirou membuyarkan keheningan. Mereka berjalan pelan menelusuri jalanan Karakura yang masih padat dengan orang-orang yang melintas. Rukia masih setia memperhatikan langit malam. Bulan masih berbentuk bulat, bersinar cahaya keemasan.
"Aku tidak menyangka kau tidak akan berada di sini ketika malam natal." Rukia mendesah, teringat dengan semua rencana yang sudah dia pikirkan. Mereka berdua akan menghabiskan malam, menikmati suasana ketika salju turun.
Kedua tangan mereka menggenggam erat. Toushirou bisa merasakan kehangatan tangan mungil kekasihnya. Seharusnya Toushirou berada di sini seperti malam natal sebelumnya. Seharusnya mereka bisa bersama seperti tahun lalu sekarang. Apa boleh buat, rencana terkadang bisa berubah.
Angin berhembus tidak memberinya rasa dingin karena Toushirou tetap merasa hangat dari genggaman Rukia. Melakukan jalan kaki seperti sekarang membuatnya tidak ingin meninggalkan Karakura. Tidak ingin meninggalkan Rukia.
Kalau saja seandainya Toushirou memutuskan untuk tidak pergi.
"Rukia," Toushirou meremas pelan tangan kecil itu. "Jika aku memberitahu tentang—" kata-katanya terhenti ketika Toushirou merasakan getaran di saku celananya. Sebuah pesan datang, Toushirou langsung membacanya. Keningnya mengerut ketika membaca isi pesan tersebut.
"Dari siapa?" tanya Rukia penasaran. Raut wajah Toushirou seketika berubah ketika melihat layar ponsel.
"Kira," jawab Toushirou dengan berat hati, Rukia pasti akan kecewa dengan berita mendadak ini. "Ternyata dia tidak bisa memesan tiket untuk besok karena semuanya penuh, jadi dia memajukan harinya."
"Kapan?"
"Nanti malam."
Rukia merasakan petir menyambar menegakkan bahunya. Dia sudah merencanakan apa saja yang akan mereka lakukan malam ini, malam terakhirnya bersama Toushirou di Karakura sampai dua bulan kemudian. Malam yang romantis yang mungkin akan berakhir di ranjang Toushirou.
Rukia tidak ingin momen ini berakhir begitu cepat. Apa-apaan keberangkatan Toushirou dipercepat? Rukia tidak mau secepat ini! Rasanya dia harus mengeluarkan apa yang ia rasakan. Rukia sudah mengalah membiarkan Toushirou pergi, kali ini biarlah Rukia menentang keputusan mendadak itu.
"Bisakah kau menundanya? Apakah pergi ke Amerika harus secepat ini?" tanya Rukia berusaha mengganti keputusan Toushirou—walau pria itu belum mengatakannya.
Terlihat sekali Toushirou tidak setuju dengan pendapat Rukia. Meskipun sebenarnya dia juga kesal karena kepergian tiba-tiba ini, tapi Toushirou harus tetap pergi. Jika Kira sudah memesankan tiket untuk malam ini, maka Toushirou harus pergi malam ini!
Namun sayangnya, Rukia tidak setuju dengannya. Toushirou tahu, dia bisa melihat jelas apa yang terpancar di wajah mungil itu. Sebuah permohonan untuk Toushirou, memintanya untuk tetap tinggal walau hanya sesaat.
"Maafkan aku, Rukia." Toushirou menggeleng pelan, terlihat menyesal. "Aku harus pergi."
"Setidaknya, izinkan aku membantumu. Kau pasti belum mengemasi barang-barangmu, kan?" Rukia masih terus berusaha. Dia harus bersama dengan Toushirou.
Hati Toushirou bagai ditusuk seribu jarum. Mendengar suara Rukia memelas membuatnya nyeri. Wanita mungilnya hampir menangis memohon untuk bersamanya, bersikeras untuk tetap bersamanya di menit terakhir. Sayang, Toushirou tidak bisa sependapat dengan Rukia, jika dia terus berada bersama Rukia, Toushirou mungkin tidak akan bisa pergi. Kehadiran Rukia jujur saja sedikit mengganggunya untuk rencananya di masa mendatang. Dan Toushirou lebih rela tidak bersama Rukia sekarang daripada ia harus berpisah dengan gadis itu di masa datang.
Toushirou memeluk erat Rukia, memberikan kehangatannya untuk saat terakhir. Toushirou ingin menghirup aroma Rukia, rasa Rukia, agar selalu membuatnya teringat bahwa gadis itu selalu menunggunya untuk kembali ke Karakura. Wajah mungil yang sering tersenyum menggodanya bekerja tidak akan pernah Toushirou lupakan.
Dia akan merindukan Rukia. Itu pasti.
"Aku mencintaimu," bisiknya di telinga Rukia. "Aku akan kembali untukmu. Kau tahu itu kan?"
Rukia berusaha untuk tidak menangis. Namun, kata-kata Toushirou sanggup membuatnya meleleh seperti gula cair. Kehangatan Toushirou, suara Toushirou, rasa Toushirou ketika pria itu menciumnya. Rukia tidak akan pernah melupakannya. Momen ini yang seharusnya Rukia rasakan sampai besok pagi. Seharusnya mereka bisa melakukan yang lebih dari sekedar berpelukan.
Rukia mengangguk berat, berusaha menjaga perasaannya agar tidak meledak keluar dalam bentuk air mata. "Aku tahu," suaranya mulai pecah. "Kau harus kembali. Kau sudah berjanji padaku. Kau… harus…" sekuat tenaga Rukia menahan air mata agar tidak turun.
Toushirou tersenyum. Tangannya membelai lembut rambut hitam Rukia. Dalam hatinya Toushirou berjanji, setelah dia pulang, Toushirou akan memberitahukan pada dunia bahwa dia akan memiliki Rukia. Ya, itu adalah sebuah janji yang segera Toushirou tepati.
Pasti.
.
.
.
Sepanjang lorong menuju pintu apartemennya, Rukia hanya berjalan lunglai. Tidak tahu rohnya masih berada di tubuhnya atau tidak. Setelah perpisahan Toushirou yang bisa dibilang sangat singkat, Rukia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Jalan-jalan sendirian di malam hari rasanya terlihat menyedihkan. Rukia tidak bisa menikmatinya, padahal saat itu orang-orang di sekitarnya tertawa penuh bahagia.
Tapi tidak dirinya. Rukia tidak bahagia. Tidak saat Toushirou berpamitan setelah memeluknya.
Pria itu memang mengucapkan kata cinta, memberinya janji bahwa dia akan kembali secepatnya. Dan yang lebih penting, Toushirou sudah melamarnya. Rukia akan menikah segera.
Rukia bahagia. Seharusnya dia bahagia.
Ada sesuatu yang kurang dan Rukia tidak tahu apa itu. Hatinya merasa hampa ketika mendengar penuturan hangat kekasihnya. Mereka sudah jalan selama kurang lebih 4 tahun. Rukia seharusnya tahu bagaimana sifat Toushirou yang sebenarnya. Hanya saja dia merasa hampa, 4 tahun itu bukan waktu yang cepat, tetapi Rukia masih saja merasa dia tidak mengenal Toushirou.
"Aku mencintainya…"
Rukia menenangkan dirinya sendiri dengan menggumamkan kalimat itu berulang-ulang. Ya, dia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa Toushirou tidak akan meninggalkannya. Pria itu sudah berjanji dan Toushirou adalah orang yang selalu menepati janji. Baiklah, saat ini hanya itu satu-satunya yang bisa menenangkan hatinya yang mendadak gelisah.
Diputarnya kenop pintu, pikirannya merencanakan semua kegiatan yang akan Rukia lakukan setelah pintu terbuka. Lepas sepatu, rapikan barang-barang yang masih berserakan (jika ada), makan makanan yang ada di dalam kulkas, mandi, kirim pesan selamat malam untuk Toushirou, tidur.
Rencana yang sempurna.
Rukia masuk, dia merasa aneh dengan keadaan apartemennya. Terakhir kali Rukia masih ingat ia mematikan lampu rumah, tapi kenapa saat dia datang lampu dalam keadaan menyala?
Apakah ada pencuri masuk?
"Halo?" panggilnya, berharap pikirannya buruknya tidak terjadi.
Pelan-pelan Rukia melangkah masuk, mengamati dengan hati-hati sudut-sudut ruangan, mungkin saja memang benar ada pencuri yang sedang bersembunyi. Rukia sudah siaga penuh kalau-kalau ada serangan menyambutnya. Pandangannya menyebar mengamati bersamaan dengan langkah kakinya. Derit lantai kayu terdengar berbeda ketika Rukia melangkah. Sepertinya ada suara langkah lain yang mendekat ke arahnya.
Kaget, Rukia berhenti. Memasang telinga agar lebih terdengar. Suara langkah itu semakin terdengar jelas, seperti sedang mendekat ke arahnya. Dan…
Perkiraan Rukia benar! Ada orang yang masuk ke apartemennya!
Jantung Rukia berdebar lebih cepat dari biasanya. Langkah itu semakin lama semakin terdengar jelas. Otaknya berpikir keras.
Harus menyerang duluan!
Dan ketika sesosok bayangan hitam muncul dari sudut lorong, tanpa memperhatikan apa-apa lagi Rukia langsung menyerang secara membabi-buta. Dimulai dari mendorong tubuh yang Rukia rasa lebih besar darinya. Tubuh Rukia terhempas bersamaan dengan tubuh besar itu. Dengan kedua mata tertutup (karena terlalu nekat plus ketakutan) Rukia memukul habis-habisan tubuh besar itu. Suaranya melengking keras ketika menyerang sosok asing itu.
"Ciaaaatttt! Rasakan kau!" seru Rukia masih memberikan pukulan nyasarnya, "Rasakan kau, MALING!"
"Hey! Tunggu dulu!" seru suara seorang pria tersebut, melindungi wajahnya dari pukulan Rukia. "Aku bukan maling!" teriaknya membela diri.
Tidak peduli orang asing itu meronta, Rukia masih belum membuka matanya. Suara pria itu rasanya tidak terdengar asing di telinganya. Sepertinya Rukia baru saja mendengar suara itu tadi pagi. Otaknya berpikir keras, tadi pagi Toushirou datang dengan tujuan ingin pergi bersama.
Tidak. Suara ini bukan milik Toushirou. Rukia hafal dengan ciri khas suara kekasihnya. Suara ini terdengar lebih berat, jauh lebih kasar dari suara Toushirou.
Otak Rukia berpikir dua kali (masih dengan gerakan tangan melayang di udara), suara ini sepertinya datang dari seorang pria yang kemarin seenaknya masuk ke dalam apartemennya.
Seseorang yang mempunyai hobi dengan celana dalam wanita. Bukan. Bukan hobi. Dia bekerja sebagai fashion celana dalam wanita (katanya, sih). Dia juga yang sudah seenaknya berkata bahwa Rukia tidak bahagia dengan Toushirou. Dan dialah semua biang keladi dari kepergian Toushirou.
Dia adalah…
"Hei, Rukia!"
Dan Rukia pun berhenti. Mencoba membuka kedua matanya perlahan. Samar-samar terlihat warna orange, dan perlayan bayangan kabur itu membentuk sebuah gambar jelas. Seorang pria, tinggi, tampan, berambut nyentrik seperti mentari, dan Rukia sedang menindihnya.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~!"
.
.
.
Setelah pertemuan mendebarkan (katanya sih begitu) dengan Hitsugaya Toushirou, seperti biasa Kurosaki Ichigo memerintahkan Ishida untuk segera pergi menuju Zaraki company dan memberitahukan pimpinan Toushirou—dan juga Rukia—siapa saja yang akan pindah masuk bekerja di perusahaannya.
Setelah melihat sekilas daftar nama-nama karyawan yang bekerja dengan Zaraki—yang ternyata jumlahnya tidak terlalu banyak—Ichigo memutuskan untuk mengambil dua karyawan saja. Kotetsu Kiyone dan Kuchiki Rukia.
Sebenarnya Ichigo hanya ingin mengambil Rukia saja, tapi kalau hanya satu bisa-bisa akan menimbulkan kecurigaan, jadi apa boleh buat, dia harus mengambil satu orang lagi. Dan Kiyonelah yang terpilih dari beberapa kandidat yang ada. Sebenarnya Ichigo memilih secara random, itu sebabnya Ichigo tidak tahu seperti apa hubungan mereka berdua. Jika mereka tidak dekat, Ichigo mungkin akan memisahkan mereka sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan di Zaraki. Namun, jika mereka berdua adalah teman dekat, mau tidak mau Ichigo harus memasukkan mereka ke dalam satu team.
Senang karena semua rencananya mulai berjalan sesuai keinginannya, Ichigo melangkahkan kakinya kembali menuju sebuah apartemen yang kemarin tidak sengaja ia masuki. Apartemen Rukia di lantai 2, dengan ruangan yang sedang-sedang saja. Warna putih mendominasi seluruh penjuru ruangan. Hanya sedikit dekorasi yang Rukia berikan untuk tempat tinggalnya, memberikan kesan sederhana sekaligus nyaman. Berbeda sekali dengan apartemen Ichigo yang hampir semua perabotannya berwarna hitam.
Sepertinya Rukia memang kebalikan dari Ichigo. Meskipun dia tidak pernah tahu bagaimana Rukia, Ichigo selalu berpikir Rukia adalah seorang wanita yang tidak begitu menyukai keributan. Itu semua terlihat dari akserosis rumah yang terpajang, semuanya rata-rata hanya didasari dengan satu warna. Itu juga membuktikan Rukia adalah orang yang sederhana.
Dengan mudahnya Ichigo masuk, layaknya rumah sendiri. Pria itu berputar-putar mengamati ruangan. Dasar memang Rukia, padahal gara-gara tindakannya yang selalu menyembunyikan kunci cadangan di dalam kotak pos menimbulkan dia kecolongan (dalam arti dimasuki seseorang) tapi dia masih menaruh kunci itu sesuai seperti sebelumnya.
Well, di sinilah Ichigo. Menunggu kedatangan pemilik rumah. Penasaran akan bereaksi seperti apa gadis itu jika dia melihat lagi-lagi ada Ichigo di dalam apartemennya.
Matanya tidak sengaja menangkap sesosok buku gambar yang tergeletak di bawah meja. Ichigo mengambil buku gambar tersebut, penasaran apakah ada gambar dibalik kertas itu. Kedua matanya mengamati dan sangat terkejut.
Ternyata dia punya hobi menggambar juga? Pikir Ichigo tertawa. Gambar di tangannya menampilkan sebuah coretan sketsa desain sebuah kostum. Ichigo mengernyit, mencoba menangkap kira-kira apa model baju tersebut. Rukia menggambar sketsa itu hanya menggunakan pensil sehingga gambarnya tidak terlalu tebal.
Ichigo membalik halaman, melihat setiap gambar yang Rukia ciptakan. Sebuah desain yang sangat unik meskipun penggambarannya belum sempurna. Tanpa sadar pria itu tersenyum, Rukia pasti senang bekerja dengannya nanti.
Klik!
Terdengar pintu dibuka, Rukia sudah pulang. Oke, Ichigo akan menunggu sampai Rukia menghampirinya. Dalam hati penasaran bagaimana reaksi gadis itu jika mendapati dirinya ada di sini, lagi-lagi masuk tanpa seizinnya.
"Halo?"
Haruskah Ichigo menjawab panggilan Rukia? Rasanya tidak perlu. Adalah tindakan yang wajar jika gadis itu curiga ada seseorang yang masuk. Keadaan apartemennya pasti berubah setelah kedatangan Ichigo.
Baiklah, mungkin sudah seharusnya Ichigo menghampiri Rukia. Tidak mungkin gadis itu asal masuk saja setelah dia merasa ada yang masuk ke dalam rumahnya? Bagaimana kalau pencuri yang masuk?
Ichigo melangkahkan kaki, menjemput Rukia. Namun… tanpa pertahanan tubuhnya terasa mengambang sebelum akhirnya menempel tepat di lantai. Belum bisa berpikir jernih, sebuah tangan kecil secara asal-asalan menyerangnya, meninjunya dengan sekuat tenaga, dan berteriak.
Rukia menyerangnya dengan mata terpejam. Dasar bodoh, dia malah tutup mata?
Rasanya Ichigo ingin menarik bahu Rukia dan menciumnya.
"Hey, Rukia!" teriakan Ichigo lebih besar dari sebelumnya, dan akhirnya Rukia berhenti.
Kedua mata cantik itu terbuka, membulat sempurna. Setelah sadar apa yang sudah terjadi kepadanya, Rukia pun berteriak.
"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~!"
.
.
.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?!" Rukia begitu murka ketika lagi-lagi ia mendapati pria berambut jeruk itu di dalam rumahnya. Sialan, Rukia pasti lupa mengambil kunci di kotak posnya. Setelah kemarin Ichigo masuk sembarangan, seharusnya Rukia ingat untuk tidak menaruh lagi di tempat surat. Tapi apa daya, setelah beberapa masalah yang datang secara bergiliran itu membuat otaknya tidak mampu berpikir jauh lebih banyak.
"Keluar sekarang juga!"
Suasana hati Rukia sedang buruk dan ia tidak ingin bertambah lebih buruk lagi. Kehadiran tak diundang Ichigo mampu membuatnya meledak jika pria itu nekat seperti kemarin. Tapi menyingkirkan Ichigo rasanya seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Susahnya setengah mati!
Seharusnya yang berada di dalam rumahnya adalah Hitsugaya Toushirou! Toushirou, kekasihnya.
Tanpa ia sadari air mata bergelinangan membasahi mata Rukia. Dia tidak mampu menahan ganjalan yang semakin menghimpit hatinya.
Dan inilah hasilnya.
"Rukia?" rasanya jantung Ichigo hampir lompat dari tempatnya ketika melihat air mata Rukia turun. Apa tadi Ichigo melakukan kesalahan makanya Rukia menangis?
"Rukia, ada apa?" panggil Ichigo lagi, suaranya jauh lebih lembut.
Tidak menjawab, Rukia bangkit dan bergerak menjauh dari tempat Ichigo. Meringkuk di samping sofa putih miliknya, bersembunyi dari pandangan pria tampan itu. Saat ini kondisinya jauh lebih memalukan dari anjing yang dibuang. Ketika sedih, Rukia selalu dihibur oleh Kakaknya. Namun saat ini, tidak ada yang bisa menenangkan hati Rukia. Kepergian Toushirou sama sekali tidak membantu, dan Kakaknya tinggal di Hokkaido.
Rukia benci menjadi lemah tak berdaya. Dia benci tak bisa melakukan apa-apa untuk merapikan suasana hatinya ini. Rukia tahu Toushirou tidak meninggalkannya selamanya, Rukia juga tahu setelah kembali mereka akan menikah sesuai pria itu janjikan kepadanya. Tapi tetap saja—kalau boleh sangat jujur—Rukia tidak ingin perpisahan di antara mereka, meski hanya sebentar.
Sebuah tangan besar menepuk pelan kepalanya. Seketika itu juga Rukia merasakan kehangatan menyelimutinya. Entah sejak kapan Ichigo sudah berada di sampingnya, ikut meringkuk bersamanya. Tangannya yang besar dan kokoh itu hanya menepuk pelan, tanpa kata-kata, tanpa alasan apapun. Hanya menepuk, diam-diam membelai pelan rambut hitamnya.
Anehnya, Rukia merasa nyaman.
"Kau tak apa-apa?" tanya pria itu.
Rukia menghapus sisa air-mata yang masih menempel di pipi mungilnya. Dia pasti terlihat jelek dengan muka bengep dan maskara yang luntur dari pelipis mata. Ichigo meraih sapu tangan dari sakunya dan langsung membersihkan wajah Rukia tanpa izin dari gadis itu.
Kali ini Rukia tidak protes, tindakan Ichigo membuatnya nyaman. Meski Rukia tidak mengakuinya terang-terangan. Tangan Ichigo masih mengelus pelan kepalanya, menenangkannya seperti anak kecil. Dari kehangatan itu Rukia seperti berada bersama kakaknya.
"Kau seperti Kakakku…" kata Rukia.
Ichigo menurunkan pandangan. "Dia selalu melakukan ini ketika kau menangis?" tidak merasa tersinggung. Ichigo sendiri adalah anak pertama, dia selalu menenangkan adik kembar perempuannya jika mereka sedang sedih.
Rukia mengangguk. "Waktu kecil aku sangat cengeng. Kakakku selalu bilang saat masih kecil kau boleh menangis sesuka hati agar setelah dewasa nanti kau tidak akan menangis lagi."
Rukia mengingat hal itu sambil tersenyum rindu. Kenangan akan Kakaknya membuat Rukia merindukannya. Kira-kira bagaimana kabarnya, yah? Sepertinya aku harus menelponnya, pikir Rukia.
Ichigo ikut tersenyum, dalam hati kagum dengan gagasan masuk akal itu. Saat kanak-kanak kau boleh menangis, setelah dewasa kau harus jadi kuat untuk melindungi orang yang kau sayangi. Dulu ayahnya yang berkata seperti itu padanya.
Jelas Rukia saat ini sedang ada masalah yang tidak bisa ia hadapi sendiri. Dan walaupun Ichigo bisa menebak masalah apa yang saat ini menghinggapi Rukia, pria itu tidak akan berkomentar kali ini. Dia akan membuat Rukia nyaman. Saat ini, bersamanya.
"Kau ingin pergi ke suatu tempat?" ajak pria itu.
"Mau ke mana?"
"Ke mana saja yang kau mau. Aku akan mengabulkannya," jawab Ichigo mantap.
Tidak mau menunggu lama jawaban Rukia, Ichigo bangkit dan langsung menarik lengan mungil itu. Menariknya keluar dari apartemennya.
Malam ini, mereka akan bersenang-senang… berdua…
.
.
~ TBC ~
.
.
A/N : Selamat malam semuanya :D
Minggu ini bener2 minggu yg menyebalkan buat saya (karena banyak tugas yg menumpuk, dosennya ga tanggung2 kalo ngasih T_T), anyway, chap ini adalah chap pembuka kedekatan Ichigo-Rukia. Maap kalo akhirannya rada2 geje, aku ngetik ini habis bikin tugas wawancara, jadinya ngalur-ngidul *guling2*
Terima kasih buat kalian semua yang bersedia membaca dan memberikan review untuk Icchy. Thank you so much~ *kluk*
.
chappy ruki : Met kenal jg chappy :) makasih sudah mau review. Iya yg chap 3 memang sudah ku publish diblogku... hahaha, untuk fic yg lainnya akan kupublish jg, tapi kyknya tunggu fic ini tamat dulu biar nanti ga banyak utang. Hehehehe... review lg yah :D
inai chan : makasih reviewnya :) iya ini pasti diselesain kok. review lg yah :D
chappy : makasih, ini sudah dilanjut :) review lg yah :D
Nyia : makasih reviewnya nyia :) Ini sudah diupdate, review lg yah :D
Aki Kaneko : makasih reviewnya Aki :) Iya ini sudah diupdate kok, review lg yah :D
Guest : makasih reviewnya :) sudah diupdate. review lg yah :D
Fuuchi : makasih reviewnya :) Kabarku baik2 saja seperti sebelumnya :) Iya, tapi satu-satu dlu biar ga banyak utang, hehehe... iya, syng sama moment hitsurukinya yah #plak! baca aja biar nanti tahu gimana tindakan Ichigo ^^ direview lg yah :D
*buat yg login sudah kubls di PM masing2 :)
Lasty : "Enjoy reading this Fic, Guys, and please leave a comment if you want. Thank you~" :D
Have a nice day~! :D
