Bleach = Kubo Tite

This story = Searaki Icchy

Rate = M for safe

Genre = Drama, Romance, Slice of Life, dll (selama cocok)

Berdasarkan req dari Hepta Py

Warning! OOC, AU, Typo(s), Abal, Geje, Alur kecepatan, Membosankan.

Enjoy this fic guys~ :D


.

.

Seluruh ragaku terasa kosong, dan aku membutuhkan sesuatu untuk mengisi kekosongan itu.

Mungkin saja ini hanya kebetulan belaka. Hanya saja, kenapa jauh dari dasar hatiku yang tak pernah kuketahui, menginginkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh kurasakan.

Aku ingin diriku dianggap berharga.

Aku ingin keberadaanku diakui.

Aku ingin dimengerti.

Terlebih lagi aku ingin dicintai.

Semua hal itu nyaris kudapatkan dari seseorang.

Tapi, orang itu bukan Toushirou…

.

.

Searaki Icchy's present

.

.

Our Broken Masks

.

.

The Passion

.

.

Rukia merasa tubuhnya diguncang-guncang dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari tubuh mungilnya. Dirinya saat ini tidak tahu mau dibawa kemana oleh pria berambut jingga di depannya. Rukia tidak tahu. Rukia tidak paham. Dia hanya mengikuti langkah lebar pria itu.

Bintang-bintang masing berkumpul mengerumuni bulan yang tertutup oleh awan hitam langit kota Karakura. Gedung-gedung megah yang berdiri tegak satu per satu mulai terlihat gelap. Para pejalan kaki satu per satu mulai menghilang, kembali menuju singgasana mereka. Karakura bersiap untuk mengakhiri hari ini, namun Ichigo masih belum berpendapat sama.

Tangannya masih menarik lengan mungil Rukia, memberi arah gadis itu untuk tetap mengikuti kemana langkahnya berjalan. Satu hal yang terlintas dalam pikirannya ketika keluar dari apartemen Rukia adalah Ichigo harus mencari tempat yang dapat menyalurkan semua keluhan Rukia.

Dan ada satu tempat yang langsung terlintas di benak Ichigo ketika mereka berderap keluar.

Yaitu…

"Karaoke?" Rukia hampir saja kehilangan seimbangan badan kalau saja Ichigo tidak memegangnya. Kini mereka sudah berada di sebuah gedung Karaoke tiga tingkat yang berdiri megah di sekitar sudut jalanan barat Karakura. "Kau mengajakku ke tempat Karaoke?"

"Bukankah tempat karaoke pas untuk suasana hatimu, Rukia?" kata Ichigo sambil membayar tempat yang ia pesan.

Tidak ingin berdebat dengan gadis mungil menggemaskan itu, Ichigo kembali menuntun Rukia menuju tempat karaoke. Salah satu petugas membukakan pintu dan mempersilakan mereka berdua untuk masuk, dan Rukia ternganga.

Mereka hanya datang berdua, tapi tempat yang dipesan hampir seluas satu lantai gedung Rukia bekerja.

"Untuk apa kau memesan ruang VIP," seru Rukia bingung. "Kita ini tidak datang sekampung."

Ichigo langsung menghampiri komputer kecil di sudut kiri tempat duduk, tangannya menyentuh layar untuk memilih lagu-lagu apa saja yang akan mereka nyanyikan. Tidak perlu lagu bagus dan juga suara bagus, Rukia butuh hentakan keras supaya gadis itu bisa mengeluarkan seluruh emosinya saat dia menyanyi.

"Sepertinya lagu ini cocok," Ichigo menekan pilihan di layar. Sebelum lagu dimulai, dia menatap Rukia yang masih bengong di belakang pintu. "Kenapa kau diam di sana? Kemarilah," katanya pelan.

Rukia tidak tahu hantu apa yang merasukinya sehingga dia mau menuruti apa yang Ichigo perintahkan. Kakinya berjalan melewati layar besar televisi yang di tempel di atas dinding bersama dengan lampu bola yang akan menyala terang berputar saat lampu di sekitar dimatikan.

Suasana meremang saat Ichigo mematikan lampu, kemudian perlahan musik terdengar mengalun, sejenak menghentakkan perhatian Rukia.

Lagi-lagi, Rukia hanya bisa terpana.

Kenapa pria sinting itu memilih lagu ini?

"Kau harus menyanyikan ini," saran Ichigo sambil memberikan mic ke Rukia.

Baiklah, Rukia akan menyanyikannya. Hitung-hitung dia jarang melakukan hal gila seperti ini. Persetan dengan pekerjaan, persetan dengan pacar, persetan dengan semuanya! Malam ini Rukia akan bersenang-senang!

Dengan penuh percaya diri, Rukia menyambar mic di tangan Ichigo. Sambil menghirup nafas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan diri dan mencoba menikmati malam ini, Rukia mulai mendengarkan perlahan irama lagu yang berdentum pertanda lagu sudah dimulai.

"Baiklah. Kau jangan sampai terpesona, yah~" seru Rukia pede, lalu melakukan pose sesuai dengan gambar di layar tv besar.

"OPPA GANGNAM STYLE!"

Rukia mulai melakukan tarian kuda ala lagu yang dia nyanyikan. Tubuhnya yang terbilang kecil itu melakukannya tanpa malu dengan seorang pria yang hampir saja mau mati karena tertawa tidak karuan melihatnya menari.

Ichigo ingin sekali merekam tingkah laku Rukia dengan ponselnya. Mengajak gadis itu keluar untuk menghilangkan stress yang dialaminya memang pilihan yang sangat tepat. Buktinya Ichigo bisa melihat sisi konyol dari dalam diri Rukia. Bagaimana gadis itu melampiaskan segala emosi dan kekesalannya dengan berteriak tidak jelas dengan menghancurkan lagu yang sedang booming itu.

Rukia ingin bersenang-senang, kenapa Ichigo tidak juga ikut bersenang-senang?

Tubuh bidang itu berdiri tegap, melangkah menuju Rukia, lalu Ichigo pun ikutan berteriak.

"HEY~! SEXY LAIDEEEEHHHHH~!"

Mereka berdua tertawa, menari bersama dengan tarian konyol yang keluar dari tubuh mereka. Menghabiskan waktu bersama sampai tenaga mereka habis.

Rukia ingin melupakan Toushirou untuk sesaat, dia ingin menghabiskan waktunya dengan berteriak, menyalurkan semua ekspresi kekesalannya dengan menyanyi, dan membiarkan pria mesum-yang-masih-seenaknya-masuk-ke-apartemen di sampingnya ini menyenangkannya.

.

.

.

Hitsugaya Toushirou duduk diam menunggu. Saat ini dia sudah berada di Narita airport, menunggu panggilan keberangkatannya. Beberapa jam setelah dia meninggalkan Rukia sendirian, Toushirou sudah disambut oleh Kira dan temannya itu sudah merapikan hampir seluruh keperluannya. Dan kini Toushirou masih tenang menunggu, menghitung dalam diam detik jarum jam agar sampai pada waktu yang ia tuju.

Dia akan ke Amerika, sesuai dengan ketentuan yang dibuat bos Zaraki dan juga Kurosaki Ichigo, pria yang (mungkin) akan menjadi atasannya kelak seperti yang dikatakan oleh pria itu.

Setelah persetujuan Zaraki dengan pihak Kurosaki, Toushirou mengetahui bahwa kekasihnya juga akan dipindah-tugaskan dari pekerjaannya. Itu berarti Rukia akan bekerja di bawah naungan Kurosaki Ichigo selama Toushirou pergi.

Toushirou pernah mendapati pria itu di dalam apartemen Rukia, dalam keadaan setengah telanjang. Dan Toushirou tahu bahwa Ichigo bukanlah saudara jauh Rukia. Bahkan Ichigo pun mengakui hal itu tanpa merasa bersalah.

Hal itu sebenarnya mengganggu pikiran Toushirou.

Ada hubungan apa sebenarnya Ichigo dengan Rukia sebenarnya?

Kenapa pria itu bisa berada di dalam apartemen Rukia?

Apa yang disembunyikan Rukia selama ini olehnya?

Toushirou mendesah berat, dia sudah lama tidak pernah berkomunikasi dengan Rukia. Hubungan mereka terbilang sangat lama, sekitar kurang-lebih 4 tahun. Namun, mereka jarang terbuka, untuk jalan berdua pun sangat jarang.

Ketika Toushirou memutuskan untuk menerima Rukia sebagai sekretarisnya, Toushirou berharap agar hubungan mereka jauh lebih dekat.

Namun, masih saja ada jarak di antara mereka.

Kenapa? Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Seharusnya jarak itu tidak ada!

Terganggu oleh rasa sesak yang menghimpit dadanya, Toushirou merogoh ponsel birunya di kantung, membuka layar, bersiap untuk mengirimkan pesan singkat untuk Rukia.

Tapi, jarinya tidak bergerak untuk mengetik satu patah kata.

Apa yang akan dia tulis?

Mengucapkan selamat malam?

Mencoba meyakinkan Rukia bahwa dia akan pulang secepatnya?

Atau sekali lagi menuliskan kata 'Aku mencintaimu'?

Akhirnya Toushirou menutup dengan keras ponselnya. Tidak jadi mengirimkan pesan untuk kekasihnya. Biarlah, dia sudah melamar Rukia, mereka akan menikah begitu Toushirou kembali. Itulah satu keyakinan yang saat ini bisa Toushirou pegang.

Benarkah Toushirou meyakinkan itu?

Dia mendesah untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya bangkit untuk masuk ke dalam penerbangannya.

Mungkin sebaiknya nanti saja, setelah Toushirou tiba di Amerika, mengirimkan kabar untuk Rukia. Karena memang sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri dulu.

.

.

.

Malam semakin larut, ketika Rukia menatap layar ponselnya dan menunjukkan tempat jam 12 malam. Tidak ada satu pun pesan yang dikirimkan Toushirou. Sebenarnya Rukia tidak terlalu mengharapkan adanya pesan dari pria itu. Setelah menggila di tempat karaoke bersama dengan pria asing berambut nyentrik tersebut, di sini lah Rukia berada sekarang.

Apakah pria itu sudah ada di dalam pesawat? Apa Toushirou sudah makan sebelum berangkat? Apakah pria itu meninggalkan sesuatu di dalam apartemennya?

Apartemen Toushirou… Rukia teringat, mereka tidak pernah memberikan kunci apartemen masing-masing.

Kemana saja mereka selama 4 tahun belakangan ini?

"Hei, kau tidak ingin keluar dari mobil?"

Rukia menoleh saat pintu mobil terbuka, Ichigo menyapanya, tersenyum pelan saat melihat ekspresi datar gadis mungil itu.

Rukia mengamati keadaan di sekitarnya. Setelah selesai dari tempat karaoke, Ichigo melajukan mobil ke sembarang tempat, tanpa arah. Rukia tidak terlalu memperhatikan karena matanya fokus menatap layar ponsel putihnya. Rukia memicingkan mata ketika sadar di mana dia sekarang.

"Laut?" Rukia membuka pintu mobil untuk keluar, memastikan kembali pemandangan yang ia lihat. Dan benar saja, sayup-sayup suara ombak berhembus bersama angin malam. Udara laut yang khas, terhirup pasti di hidung Rukia.

Malam hari tidak membuat keindahan laut menghilang, meskipun semuanya terlihat hitam.

Langkah Rukia terbentuk karena pasir putih. Mereka benar-benar berada di laut. Kalau begitu, mereka berada di luar kota Karakura sekarang.

Memangnya berapa lama Rukia memandang layar ponselnya?

"Kau tidak suka laut?" tanya Ichigo dari belakangnya. "Menurutku tempat ini sangat pas untuk suasana hatimu," ucapnya melanjutkan.

Rukia mendesah. "Aku tidak benci dengan laut, kok. Hanya saja, laut membuatku jadi melankolis."

Ichigo tersenyum mendengar penuturan jujur itu. Karena kalau mau jujur juga, alasan mengapa Ichigo mengajak Rukia kemari adalah tempat ini merupakan tempat kenangannya dengan seseorang. Kenangan yang tak pernah Ichigo ceritakan kepada siapa pun, bahkan Ishida sekali pun.

Seseorang yang selalu memberikannya inspirasi untuk setiap pekerjaannya.

Seseorang yang pernah hadir di dalam dunianya.

Seseorang yang pernah Ichigo cintai dengan seluruh hatinya.

Seseorang yang pernah Ichigo kira, akan menjadi persinggahan terakhir untuk hatinya.

Ah, masa lalu yang indah…

"Benar kan laut tempat orang menjadi melankolis?" suara Rukia mengembalikannya ke dunia nyata. "Buktinya terlihat jelas," ujarnya sambil menunjuk raut wajah pria itu.

Ichigo hanya tertawa. Entah kenapa gadis ini, Rukia, perempuan mungil yang menarik, bisa membuatnya menertawakan diri sendiri. Ichigo tidak pernah bersikap sembrono dan seekstrim ini ketika menyangkut soal wanita. Dia juga tidak pernah bertindak secara spontan saat menyangkut soal pekerjaan.

Baginya, wanita itu nomor ke sekian puluh dari pekerjaan.

Tapi, kenapa, saat bersama dengan Rukia, Ichigo rela mengubah dirinya?

Hanya agar perempuan ini tersenyum untuknya.

Ichigo rela melakukan apa saja demi senyuman itu.

"Kenapa kau menangis?"

Rukia tidak ingin mengungkit hal memalukan itu. Dia sudah cukup malu ketika tertangkap basah menangis di atas tubuh orang. Rukia tidak mau harus menjelaskan kenapa ia menangis.

"Bisakah kita tidak membicarakan hal itu?" pinta Rukia mengelak.

Ichigo tidak ingin membicarakan topik yang lain selain hal itu. Dia ingin tahu kenapa Rukia menangis. "Ayolah, Rukia, ceritakan padaku," bujuknya.

Rukia berpaling, tidak mau mengabulkan permintaan Ichigo. Kesal karena perasaan sedih tadi kembali mendatanginya karena pria ini, Rukia akhirnya kembali menuju mobil sedan merah yang terparkir rapi di sisi pantai. "Aku ingin pulang," ujarnya jutek.

Tapi, tangannya ditahan oleh Ichigo. Sepertinya pria itu tidak akan melepaskannya sampai Rukia menceritakan semuanya.

Kesal, karena Ichigo seenaknya ikut campur dalam urusannya, Rukia terpaksa melotot ke arah pria itu. "Lepaskan aku," gerutunya, berusaha membuat suaranya terdengar seram.

"Kenapa kau menangis?" tidak menggubris geraman Rukia, Ichigo terus bertanya.

Rukia bungkam.

"Kenapa kau menangis, Rukia?"

Rukia masih diam.

"Apa kau mencintai Toushirou?"

Rukia masih diam, walau keningnya mengerut mendengar pertanyaan Ichigo.

Diamnya Rukia membuat Ichigo tersenyum tipis.

"Kau tidak mencintainya," lagi-lagi, itu pernyataan.

Tanpa sadar, Rukia menyentak kasar tangannya dari genggaman Ichigo. Apa-apaan sih pria itu! Tadi, dia bisa membuat Rukia tertawa dengan tingkah konyolnya di karaoke. Tapi beberapa saat setelah itu, pria ini menjadi pria menyebalkan yang pernah Rukia kenal seumur hidupnya.

Kenapa Ichigo senang ikut campur dengan urusannya?

"Jangan seenaknya mengambil keputusan orang lain, sialan!" Rukia bisa gila kalau dihujani pertanyaan yang sama terus-menerus.

Melihat reaksi Rukia malah membuat Ichigo semakin gencar. Wajahnya menyeringai puas saat gadis mungil itu melotot kepadanya. Sinar keunguan mata Rukia bercahaya ketika dia sedang marah. Dan wajahnya yang memerah karena menahan amarah benar-benar terlihat menggemaskan.

Sepertinya kebiasaan menyiksa orang dengan interogasi langsung masih belum hilang dari dalam dirinya. Entah sudah berapa orang yang kesal dengan Ichigo. Setidaknya sikapnya itu perlu untuk kasus seperti sekarang ini.

Di sini. Bersama Rukia. Menyiksa gadis itu. Menyadarkan gadis itu.

Menyadarkan Rukia dari apa?

"Aku bilang begitu sebenarnya simple saja," ucap Ichigo mulai menjelaskan alasannya. "Saat aku bertanya 'Apakah kau mencintai Toushirou?', wajahmu terlihat berpikir."

"Aku mengerutkan kening karena pertanyaan anehmu itu, tahu! Bukan karena aku tidak mencintai Toushirou!" seru Rukia masih membela diri.

"Baiklah kalau begitu," Ichigo menggapai kembali tangan Rukia, dan menarik perempuan itu mendekat. Ichigo membungkukkan badan agar wajahnya sejajar dengan wajah Rukia yang terbelalak kaget. "Kenapa saat kau berkata tidak, kau tidak berani menatap langsung mataku?"

Rukia benar-benar tidak bisa bergerak. Di dalam otaknya, egonya sudah berteriak marah, menyuruhnya untuk melepaskan diri dan menampar pria kurang ajar itu. Namun, di sisi lain, hatinya berusaha berteriak, mencari-cari perasaan yang dulu pernah dia rasakan kepada Toushirou.

Apakah Rukia mencintai Toushirou?

Dulu, ya.

Bagaimana kalau sekarang?

Ekspresi Rukia terlihat merana. Pria ini berhasil menekannya, memojokkan ke jurang paling dalam. Merusak topeng yang selama ini sudah Rukia buat dengan susah payah.

"A-aku…" Rukia membuka mulut, namun tidak ada satu kata pun yang bisa dia rangkai.

"Katakan: Kau. Mencintai. Toushirou," Rukia memalingkan wajahnya, namun Ichigo berhasil menahan dagu mungil itu agar kembali menatap dirinya. "Tatap aku," perintahnya tegas.

"Ah—" ingin rasanya Rukia menutup matanya, tapi pasti Ichigo punya cara agar matanya terbuka. Katakan saja mencintai Toushirou, seharusnya itu mudah. Tapi, kenapa tidak ada satu kata pun yang keluar. Tubuhnya gemetar, bola matanya berputar tak tentu arah, ke mana pun asalkan tidak menatap mata cokelat yang membius itu.

Kalau dipikir kembali, kenapa Rukia merasakan ketakutan dengan pria ini. Ichigo bukan siapa-siapa. Rukia mengenalnya juga karena tidak sengaja, kan?

"A-apa yang kau inginkan dariku, Ichigo?" hanya kata-kata itu yang bisa Rukia tanyakan. Sepertinya berguna juga untuk mengalihkan pembicaraan.

Rukia hanya bisa menatap, dan terus menatap. Mencari-cari kebohongan dari mata hazel coklat itu. Mata itu tidak berkedip sekalipun Rukia memaksanya. Ichigo sepertinya benar-benar serius dengan kata-katanya.

Hal yang mustahil, mengingat mereka baru bertemu dua kali.

"Apa yang kau inginkan dariku, Kurosaki Ichigo?!" Rukia semakin mengencangkan suaranya. Hatinya sedikit lega karena sesaat Ichigo sedikit tersentak ketika Rukia memanggil pria itu dengan nama lengkapnya.

Seingat Ichigo, dia tidak pernah menyebutkan nama lengkap kepada Rukia. Mungkinkah Rukia tahu dari Toushirou?

"Kau tahu tentangku dari Toushirou?"

Rukia mengangguk. "Apa tujuanmu sebenarnya, Ichigo? Selama ini kau selalu menolak untuk bertemu dengan Ise Nanao, tapi kenapa setelah kau bertemu denganku dan Toushirou kau jadi berubah pikiran? Sebenarnya apa yang kau incar dari kami?" dengan cepat pertanyaan itu berubah.

Kalau diingat kembali, Rukia juga sebenarnya penasaran kenapa perusahaan Kurosaki setuju untuk bekerja-sama dengan pihak Zaraki? Padahal seharusnya perusahaan Zaraki tidak terlalu menguntungkan perusahaan besar itu. Tapi, Ichigo tetap menyetujui penggabungan dua perusahaan itu.

Apakah ini ada hubungannya dengan dirinya dan Toushirou?

Ichigo menjauh dari Rukia, sambil menghela nafas pria itu mengacak pelan rambut jabrik orangenya. Rukia mengamati punggung yang terlihat malas menjawab itu. Mungkin Ichigo tidak ingin menjawab pertanyaan yang menurutnya adalah privasi.

Namun, sepertinya Ichigo harus menjawab pertanyaan itu. Dia tidak terlalu pintar berbohong.

"Jujur saja, sejak awal aku tidak terlalu suka dengan cara kerja Zaraki Kenpachi. Dia adalah tipe orang yang seenaknya dengan jam pekerjaan dan tidak bisa diajak bekerja-sama." Ichigo mulai menjelaskan. "Terlebih lagi Kenpachi adalah orang yang serakah dan ingin meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara mudah. Tidak peduli dari mana dia mendapatkan uang itu."

Dalam hati Rukia mengiyakan pernyataan Ichigo. Sebagai salah satu pegawai Zaraki, tentu Rukia tahu bagaimana rupa asli bos gilanya.

"Kalau begitu, kenapa kau setuju dengan permintaannya?"

Kenapa Ichigo bisa setuju?

Jawabannya terlalu sederhana, namun terlalu sulit diungkapkan.

"Aku setuju karena bertemu denganmu dan Hitsugaya Toushirou," pada akhirnya Ichigo menjawab jujur.

"Apa yang kau inginkan dari Toushirou?" tanya Rukia memicingkan mata, curiga.

"Aku menginginkannya untuk perusahaan. Toushirou adalah aset yang sangat berharga bagi perusahaan Kurosaki. Kemampuannya akan tumpul jika terus bekerja di bawah pimpinan Zaraki."

Yah, alasan itu bisa—setidaknya—diterima Rukia.

"Kalau begitu," rasanya dia tidak ingin bertanya lagi pertanyaan pertama, tapi rasa penasaran terus mengganggunya. "Kenapa kau memilihku dan Kiyone? Aku hanya salah satu karyawan biasa, begitu juga dengan Kiyone. Aku juga tidak mempunyai bakat khusus seperti Toushirou. Tapi kenapa kau malah memilih kami berdua?"

"Aku mengambil Kotetsu Kiyone untuk menemanimu."

Hah?

Dahi Rukia mengerut tidak percaya sekaligus bingung. Jika alasan Kiyone pindah tugas karena hal remeh, berarti yang Ichigo inginkan adalah…

"A-pa… yang kau inginkan dariku, Ichigo?" Rukia tidak bisa tidak kembali ke pertanyaannya semula. Sebagian misteri sudah berhasil dia pecahkan tentang Toushirou. Berarti yang tersisa hanya misteri tentang dirinya.

"Kau."

Singkat. Jelas. Padat.

Tertegun. Jantung Rukia serasa ingin berhenti berdetak. Dia berharap agar waktu bisa diputar ulang sehingga Rukia tidak perlu mendengar jawaban super singkat yang membuat dia hampir mati berdiri.

"Apa maksudmu? Apa yang kau inginkan dariku?" Rukia tidak ingin mendengar jawaban yang sama.

Hanya saja, sepertinya Ichigo tidak akan mengubah jawabannya meskipun Rukia memberikan seribu pertanyaan yang sama.

"Kau. Yang kuinginkan adalah kau, Kuchiki Rukia."

Pernyataan yang keluar malah semakin jelas: Ichigo menginginkan Rukia!

Tidak…

Oke, kalau sudah begini, Rukia ingin pulang.

"Aku ingin pulang, Ichigo," kata Rukia berbalik, menjauh dari tatapan mengincar pria itu. Rukia akhirnya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa apa yang Ichigo katakan tentangnya adalah candaan semata.

"Kau ini senang sekali mengubah topik pembicaraan yah, Rukia?" Ichigo mengikuti langkah Rukia menuju mobil.

Waktu memang berputar semakin larut. Ichigo sadar besok Rukia harus berangkat pagi, berbeda dengannya yang bisa seenaknya masuk jam berapa pun. Baiklah, sudah cukup dia menggoda Rukia, wanita mungil itu benar-benar terlihat berusaha menghindar dari segala pernyataannya.

.

.

.

Setelah mengantar Rukia pulang, wanita itu hanya berterima kasih singkat dan berlalu begitu saja setelah keluar dari mobil. Ichigo tidak mengikuti jejaknya karena dia merasa Rukia perlu waktu untuk sendiri. Yah, Ichigo sadar diri hari ini dia sudah bersikap keterlaluan mencecar Rukia dengan segala pertanyaannya.

Memang siapa dia bagi perempuan itu?

Dia kenal Rukia baru dua hari.

Memang benar-benar, Tuhan sedang mempermainkan hidupnya sekarang.

Ichigo membuka pintu apartemennya, matanya menyipit heran karena ada satu pasang higheels yang ia kenali. Salah satu adiknya ada di sini, menunggunya.

Yang pasti bukan Yuzu, mengingat dia sudah menikah dua tahun yang lalu.

Berarti yang datang ke tempatnya adalah adik yang satunya lagi. Seorang adik keras kepala seperti dirinya.

"Kemana saja kau?" muncul seorang wanita berambut hitam panjang menghampiri Ichigo. Matanya memicing sesuai ciri khasnya, mengamati Ichigo dengan tatapan acuh.

"Seharusnya kau beri tahu dulu kalau mau datang, Karin," Ichigo mengacak rambutnya pelan. Berjalan perlahan menghampiri sofa terdekat, menghempaskan tubuhnya yang lelah.

Wanita berambut hitam, Karin, hanya mendengus pelan. Tidak peduli dengan jawaban cuek Kakaknya. Dia duduk di sofa samping Ichigo, mulai mengutarakan maksud kedatangannya.

"Besok pagi aku harus pergi ke Amerika."

Ichigo tersentak. "Bukankah kau baru pulang? Dari mana kau?"

"Korea."

"Untuk apa kau ke sana?"

"Urusan pekerjaan," sahut Karin singkat. "Terima kasih untukmu, baru satu hari aku menapakkan kaki di Jepang, Baka-oyaji menyuruhku pergi ke New York!"

Karin menggerutu kesal. Beberapa jam dia tiba di rumahnya, dengan niat beristirahat sebanyak-banyaknya, Ayahnya menelpon menyuruh untuk datang secepatnya ke Amerika. Semuanya serba mendadak karena kata sang Ayah, mereka bekerja-sama dengan Zaraki company. Awalnya Karin keberatan karena dari dulu dia tidak terlalu suka dengan pria besar dan urakan itu. Kenpachi bukan mitra yang baik untuk diajak kerjasama, tapi kenapa Ayahnya setuju dengan usulan itu.

Setelah ditanya lebih dalam, barulah Karin mendapati bahwa yang menyetujui permintaan itu bukanlah Ayahnya, melainkan Ichigo, seorang Kakak bodoh yang suka bertindak seenaknya.

"Ini semua gara-gara kau, Ichi-nii!"

Ichigo menguap. "Jadi kau kemari untuk protes padaku?" tanyanya tanpa merasa bersalah.

"Kau sendiri tahu kan bekerja-sama dengan Zaraki tidak menguntungkan apa-apa untuk kita!" sahut Karin tidak terima dengan keputusan sepihak itu. Ichigo memang selalu mengambil keputusan tanpa berunding dulu dengan keluarganya.

Kalau Isshin menyetujui apa yang Ichigo pilih, Karin tidak begitu saja menerima keputusannya.

"Diamlah, Karin," suara Ichigo berubah menjadi tegas. "Aku setuju karena tertarik oleh orang-orang di sana."

"Siapa pastinya orang yang membuatmu tertarik itu?" tanya Karin sudah bisa menebak. "Wanita?"

Ichigo terkekeh pelan, dia memang tidak bisa membohongi adiknya. "Awalnya hanya wanita, tapi prianya juga membuatku tertarik," ucapnya terus terang.

Karin menyerngitkan dahi. "Kau mengirim mereka ke Amerika?"

"Aku hanya mengirim satu orang, yang pria. Mungkin Ayah menyuruhmu datang karena orang yang baru saja kukirim akan menjadi bawahanmu. S-E-G-E-R-A~"

Kalau saja Ichigo bukan saudara kandungnya, Karin pasti sudah akan menghajarnya habis-habisnya. Kakak laki-lakinya dari dulu memang selalu menggodanya, membuatnya kesal. Namun meskipun begitu, Ichigo sangat menyayangi kedua adiknya. Ichigo tidak akan mengampuni siapapun yang membuat Karin dan Yuzu menangis.

Berkat itu, Karin jadi tidak bisa membencinya. Mana bisa?

Sambil merenggut kesal, Karin hanya bisa mendesah pasrah. Jika dia harus mengikuti kata-kata Ichigo, berarti dia harus berangkat secepatnya. Akhirnya Karin beranjak dari sofa, berjalan menuju pintu keluar. "Baiklah, aku pergi dulu."

"Kapan kau berangkat?" Ichigo menemani adiknya keluar. "Apa aku perlu menemanimu ke bandara?"

"Tidak usah. Aku sudah minta Ginjou-san untuk menemaniku," Karin membuka pintu keluar. Sebelum pergi, dia mengucapkan sebuah pesan.

"Ngomong-ngomong, Ichi-nii. Tadi aku bertemu dengan Riruka, dia terlihat bahagia."

Ichigo hanya diam ketika nama Riruka disebut-sebut. Matanya hanya mengamati punggung diam Karin. Adiknya itu mengerti bagaimana sebuah nama bisa membuatmu ingin melupakan hidup. Bagaimana sebuah nama bisa menyakitinya.

Bagi Ichigo, itu adalah masa lalu yang indah. Dia tidak perlu lagi memikirkan hal itu, Ichigo sudah berjanji kepada wanita itu bahwa dia akan bahagia.

"Benarkah?" Ichigo berusaha terlihat santai dengan tertawa.

Karin menoleh, berusaha membalas tawa palsu kakaknya. "Apa ini yang Ichi-nii inginkan?"

Lagi-lagi, Ichigo hanya mendengus geli. Kata-kata Karin mengingatkannya kepada Rukia.

"Apa yang kau inginkan dariku, Ichigo?"

Ichigo menginginkan kebahagiaan wanita itu! Itulah jawabannya.

Pria itu hanya tersenyum tipis. Seharusnya tadi dia berkata begitu.

"Tentu saja. Jika dia sudah bahagia, maka sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk terus mengingatnya," jawab Ichigo akhirnya, dengan mantap.

.

.

~ TBC ~


Balas review :

Guest : makasih reviewnya :) kmu tanya begitu saya jd bingung jg mau jawab apa, hehe. Kalo menurut saya sih, cerita ini tentang hubungan Toushirou-Rukia-Ichigo dan bagaimana mereka berinteraksi dan mengungkap jati diri masing2. Kalau menurut km gimana? :)

chappy ruki : makasih reviewnya :) Ini masih perkembangan awal hubungan IchiRuki sih. Untuk Song For aku masih mau remake lgi, aku baru remake ulang Between me sih kalo km belum baca :)

Chappy n Guest : makasih reviewnya :) sudah dilanjut :)

Kaneko Aki : Makasih reviewnya :) hahaha, aku jg mau dikelonin Ichigo *plak!* Hehehe, sudah diupdate yah :)

Fuuchi : makasih reviewnya :) sudah diupdate yah :)

rukichappy : makasih reviewnya :) sudah diupdate kok. Bukan aku yg nulis Fic 'Darling' , itu fic buatanya Jee ^^a

voidy : makasih reviewnya :) haha iya neh, Ichigo jd punya kekuatan buat 'kontrol' Rukia yah... memang plng ga enak jadi Ishida, hehe :)

Musume Hime-chan : makasih reviewnya :) sudah dilanjut kok, meskipun ga bisa update cepat :)

*untuk yg Login sudah kubalas di PM masing2 :)

Sedikit cuap" : WB itu memang plng menyebalkan, apalagi di saat ide menumpuk di kepala... saya merasa chap 6 ini jelek. tapi ya, berharap masih bisa dinikmati sama kalian yah, hehe :)

Sekian, Have a nice day~! :D