"Em, masakan rumah memang yang terbaik!", kata Elisa senang.

"Makanlah yang banyak, Elisa", kata ibu Asahi.

"Baik bu! Eh? Asahi, kau tidak makan?"

Asahi hanya menatap Elisa.

"cih, mereka ini… mudah sekali menerima gadis ini… tapi biarlah, aku sudah terlanjur berjanji padanya"

Kemarin sore…

"Apa! Kau ingin tinggal dirumahku?"

"Baiklah jika tidak boleh…", wajah Elisa murung sembari kembali berjalan ke gudang.

"Bu-bukan seperti itu, hanya saja…"

"umm?"

"Entah orang tuaku mengizinkan atau tidak"

"Serahkan padaku!"

Dirumah Asahi.

"Baiklah, kau boleh tinggal disini", kata Ayah Asahi.

"APA?!", seru Asahi dan Elisa.

….

"aku seharusnya malu punya keluarga yang mudah percaya kalau Elisa adalah tawanan bajak laut", kata Asahi dalam hati.

Asahi berjalan menuju kamarnya, namun ia kembali dan meminta Elisa untuk ikut bersamanya. Dikamar Asahi,

"Elisa, sebenarnya siapa kau?"

"Aku? Kenapa kau menanyakannya?"

"Kau Tanya kenapa? Bagaimana bisa dengan mudahnya aku menerima orang asing dirumahku?"

"Aku tak tahu dengan mu, tapi bukankah orang tuamu tidak bermasalah dengan itu?"

"Lupakan mereka, sungguh aku belum bisa mempercayaimu. Aku Tanya sekali lagi, siapa kau sebenarnya?"

Dan Elisa pun menamparnya.

"jangan kau tanyakan lagi pertanyaan itu! Anggap aku tawanan yang berhasil kabur. Akutidak akan berbuat jahat padamu ataupun keluargamu. Dan bukankah kau sudah berjanji padaku untuk selalu bersamaku?"

Elisa berlari ke kamarnya.

"yah, mungkin aku harus mencari tahu sendiri"

Keesokan harinya, disekolah.

"Asahi, selamat pagi", kata seorang teman Asahi.

Ia adalah Rezuna, seorang cowok yang disampingnya selalu ada seorang cewek bernama Datchi, dan ia adalah kekasihnya.

"… selamat pagi", jawab Asahi lesu.

"Asahi, bagaimana pagimu?", kata Datchi.

"biasa… seperti biasa, biasa biasa saja"

Tiba-tiba Datchi dan Rezuna tertawa.

"Rezuna, ia bilang biasa saja!"

"ia Datchi, tidak sepertiku yang pagi ini dipenuhi cinta dan wajahmu dihatiku"

"kyaaaa! Rezuna…. Aku juga! Ternyata kita memang ditakdirkan bersama!"

"Iya, Datchiiiiii!"

dan mereka memang selalu begitu.

Melihat tingkah mereka berdua, Asahi sedikit kesal.

"Bisakah kalian diam dan pergi!"

"Datchi! Ada yang cemburu dengan keharmonisan kita!

"Iya! Asahi yang kesepian!"

"Aaaaaaaaaaaaaaarrgh!"

"pssst… psssstt"

Ketika Asahi sudah marah besar, terdengar bisikan dari luar jendela. Asahi menoleh, dan ternyata Elisa yang berdiri diluar jendela. (perlu sedikit info, kelas Asahi ada di lantai 3)

"Hiii! Apa yang kau lakukan Elisa?!"

"kau lupa bekallmu, ini!", kata Elisa sembari menyerahkan sekotak makanan.

"Bagaimana kau bisa berada disana?"

"Kau ingin tahu? Aku dari pintu itu"

Elisa menunjuk pintu kelas Asahi.

"lalu bagaimana kau bisa disitu?"

Tiba-tiba Elisa membuka jendela, menuju pintu dan keluar. Asahi melongo. Beberapa saat kemudian, Elisa membuka pintu, berjalan menuju jendela, membukanya, dan melompat keluar, lalu menutup jendela dan berdiri diatas kipas AC.

"jadi, seperti itulah bagaimana aku bisa sampai disini"

"lalu kenapa kau disitu!"

"kau lupa? Barusan aku memberimu bekal yang lupa kau bawa"

"lalu kenapa kau tidak memberikannya diluar saja!"

Elisa pun tertawa.

"jadi, siapa dia, Asahi?"

"hiii! Yuuhi! Kau mengagetkanku!"

Yuuhi, teman sekelas Asahi yang paling pendiam, bersamanya selalu ada sebuah buku besar yang umurnya tampak sudah sekitar ribuan tahun.

"ti-tidak, dia…"

namun Elisa sudah menghilang, dan Yuuhi tampak tidak terlalu mengharapkan jawaban Asahi.

"AAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRGGGH HTT!"