Title : My Jewel Angel
Author : Kim Sun Ri
Genre : Romance, Fantasy, Drama, Family
Rating : T
Length : Chaptered
Disclaimer : This fict is mine, but the casts aren't
Warning : Yaoi, BoyXBoy, BL, AU, Cliché, OOC(?)
Pairing : Eunhae, Slight!Kangteuk, Slight!Kyumin.
.
Don't Like Don't Read!
IMPORTANT : Read the Author note below. MUST READ!
Enjoy!
.
.:My Jewel Angel:.
.
Chapter 1
'The Sullen Heart'
.
Jewel / Hyukjae's POV
"Hyukkie-hyung! Cepat bangun nanti kita terlambat!"
Aku mengerang mendengar suara iblis itu berteriak kepadaku. Dengan malas kutarik selimutku hingga menutupi wajahku. Berusaha menghiraukannya.
"Kata Teukie-hyung kalau kau tidak bangun jatah susu strawberry mu akan diambil."
"Aku sudah bangun!"
Seruku panik langsung melompat dari tempat tidurku. Dengan segera aku mengambil handuk dan bergegas pergi mandi. Meninggalkan iblis kecil yang menertawaiku. Bagaimana aku tidak buru-buru kalau diancam dengan minuman favorite ku itu. Konyol, baru beberapa hari aku di dunia manusia, aku sudah jadi pecandu buah merah itu.
Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolah, aku turun kebawah. Mendapati ketiga anggota keluargaku sudah duduk di meja makan, termasuk iblis tadi. Aku duduk disampingnya dan mereka menyapaku.
"Pagi Hyukkie," senyum Angel-hyung, atau Teukie-hyung kepadaku.
"Aku baru tau ksatria pangeran suka bangun siang," Camomile-hyung, atau Kangin-hyung menyeringai kearahku.
"Ksatria pangeran juga manusia," jawabku malas.
"Ralat, malaikat," iblis kecil, Sparkyu atau Kyuhyun mengoreksiku.
"Apapun lah."
"Sudah kalian berdua, cepat habiskan sarapannya kita harus berangkat. Kita tidak mau terlambat di hari pertama sekolah kan?"
"Benar kata Teukie. Ngomong-ngomong Hyukjae, kau sudah menyisir belum sih?" Kangin-hyung menoleh kearah rambutku.
"Belum" Jawabku singkat sambil mengunyah roti panggangku.
"Paling nanti dia disangka murid berandal karena rambut birunya itu," ledek Kyuhyun.
Aku hanya tertawa remeh tidak peduli sambil melanjutkan makanku. Sesudah makan kami berempat segera bersiap memakai sepatu, membawa tas masing-masing dan hendak berangkat bersama. Dengan baik hati Teukie-hyung membereskan rambutku selagi aku memakai sepatu.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Kami berempat berdiri di depan gerbang sekolah besar. SM High School, disinilah kami akan bersekolah mulai sekarang. Kutatap ketiga orang yang berdiri sedikit di depanku ini.
"Jadi, aku dan Kangin-ah akan masuk kelas tiga, Hyukkie di kelas dua, dan Kyunnie di kelas satu," ucap Teukie-hyung.
"Semoga saja semua berjalan lancar," Kangin-hyung bergumam pelan.
"Memangnya apa yang bisa tidak lancar?" Kyuhyun menyeringai sedikit.
"Sebenarnya kau yang paling mengkhawatirkan Kyu," Kangin-hyung menghela napasnya.
"Ah sudahlah hyungdeul tenang saja. Ayo masuk!"
"Pangeran, hati-hati jangan terlalu dekat dengan manusia yang berhati kotor," ujarku.
"Aku tau itu Hyukkie… Dan berhenti memanggilku pangeran," Teukie-hyung menghela napasnya.
"Baiklah Angel-hyu-… Ah ani, Teukie-hyung," aku mengeluarkan gummy smile ku.
"Aku sudah bukan pangeran lagi, dan itu berarti kau juga bebas dari tugas ksatria mu. Kau juga harus berhati-hati, ne Hyuk?" Teukie-hyung tersenyum.
Aku hanya mengangguk. Kami pun masuk ke gedung dan berpencar ke kelas masing-masing. Aku dan Teukie-hyung, sebagai malaikat, kami tidak bisa berada di tempat atau berdekatan dengan manusia yang memiliki hati terlalu kotor. Kami bisa melemah, bahkan sekarat bila terlalu berdekatan dengan mereka. Sebaliknya, iblis seperti Kyuhyun dan Kangin-hyung menghisap hati yang kotor itu. Jadi mereka bisa berfungsi untuk melindungi kami.
Kalau begitu kalian bertanya kenapa malaikat dan iblis seperti kita bisa baik-baik saja hidup berdampingan? Memang, jiwa Kyuhyun dan Kangin-hyung sebagai iblis itu kotor. Tapi hati mereka tidak. Yang kotor itu bukan hatinya. Serta rasa persaudaraan, atau keluarga yang ada dalam hati kami berempat mampu menetralisir pengaruh negative tersebut. Memang tidak terlihat, tapi sebenarnya akupun menyayangi hyungdeul dan dongsaeng ku itu. Lagipula hanya mereka sajalah yang kupunya sekarang.
Aku berjalan bersama Kyuhyun karena kelas satu dan dua berada di sisi gedung yang sama. Sedangkan Kangin-hyung dan Teukie-hyung sudah berpisah dengan kami sejak di gerbang tadi. Kyuhyun terlihat tersenyum iblis khasnya tanda bahwa ia sedang senang dan tertarik.
"Kelasku sudah dekat, sampai nanti ya Hyukkie-hyung!"
Aku hanya mengangguk. Aku terus berjalan hingga tiba didepan sebuah pintu dengan papan penanda bertuliskan 2-C. Kutarik napas perlahan, lalu melihat kembali kearah seragamku. Semua rapih. Kueratkan pegangan pada tas ransel yang kuselempangkan sebelah, lalu mengetuk pintu dan masuk.
Guru yang ada didepan menoleh kearahku, sebelum tersenyum amat ramah. Kurasakan aura orang ini hangat sekali. Hatinya sangat bersih untuk ukuran manusia. Aku berjalan kearahnya perlahan, semua pasang mata murid menatap kearahku.
"Ah, kau murid baru itu ya? Saya guru wali mu mulai sekarang. Shin Donghee, tapi kau boleh memanggilku Shindong-seonsaengnim. Ayo perkenalkan diri dulu," ujarnya ramah.
"Ah, ne. Annyeong haseyo, Lee Hyukjae imnida. Kalian bisa memanggilku Hyukjae. Banggapseumnida."
Aku memperkenalkan diri lalu mengeluarkan gummy smile ku. Entah perasaanku saja atau apa, aku merasa beberapa orang menatapku dengan pandangan terpaku yang agak aneh. Lalu aku menyapukan pandanganku ke seisi kelas.
Hmm… Sepertinya kelas ini cukup 'steril'. Hati mereka tidak ada yang kotor atau bagaimana…
Aku tersenyum lega. Kelas ini tidak buruk, sama sekali tidak buruk. Saat aku berpikir seperti itu, tiba-tiba aku menangkap sesuatu pada seorang lelaki yang duduk di samping jendela. Auranya… Aneh. Tidak, tidak kotor. Namun… Kelam? Entahlah.
"Baiklah Hyukjae, sekarang kau bisa duduk. Hmm…"
Shindong-seonsaeng lalu menyapukan pandangannya ke sekitar kelas.
"Di tepi jendela situ, di belakang Lee Donghae."
Ia menunjuk kearah bangku kosong di belakang lelaki beraura kelam tadi. Lelaki itu, kalau tidak salah dengar tadi katanya bernama Donghae, melambaikan tangannya sambil tersenyum kearahku. Aku mengangguk lalu berjalan kearah bangku itu.
Penampilannya biasa saja. Rambutnya berwarna brunette ditata dengan cukup rapih. Dia mengenakan kacamata bingkai hitam yang cukup besar. Terlihat ceria namun… Ada yang aneh. Entah apa itu.
Aku duduk di bangku yang ditunjuk untukku lalu menaruh tas ransel ku di samping meja. Lelaki itu berbalik menghadapku dan tersenyum sambil mengulurkan tangannya, Sepertinya hendak mengajak kenalan.
"Lee Donghae imnida! Kau bisa memanggilku Donghae."
"Hyukjae. Banggapseumnida," aku balas menjabat tangannya dan tersenyum singkat.
"Senyummu itu manis sekali. Ne, boleh aku memanggilmu Hyukkie?" Ia tersenyum.
"Emm… Tidak?"
"Eeeh… Kenapa?" Senyumnya hilang digantikan dengan wajah cemberut.
"Hanya orang dekatku saja yang boleh memanggilku begitu," aku tersenyum lagi.
Ia masih tetap cemberut tetapi mengangguk mengerti. Lalu ia kembali berbalik kearah depan karena pelajaran akan segera dimulai.
Aku memperhatikan pelajaran. Namun semua sudah kumengerti dan kuhapal sempurna karena beberapa hari ini Kyuhyun sudah mengajari kami semua tentang pelajaran manusia. Sebagai malaikat dan iblis, hanya butuh waktu sangat singkat untuk menghapal pelajaran baru. Pelajaran dari kelas satu SD atau apalah itu sudah masuk semua keotakku hingga dua SMA ini. Kenapa Kyuhyun yang mengajari? Seakan belum cukup kepintaran non-human kami, anak itu jenius. Jadi ya, jenius dari jenius untuk manusia.
Karena bosan, perhatianku teralihkan pada namja di depanku ini. Memang ada yang aneh pada aura nya. Sama sekali tidak kotor. Bersih malah, namun ada perasaan kelam disitu. Kelam yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Padahal kelihatannya ia anak yang cukup periang, temannya pun terlihat banyak karena terkadang ia berbincang-bincang dengan namja lainnya di kelas. Tapi terlihat ada yang… Palsu disana.
Tanpa sadar aku melewati jam pelajaran dengan memperhatikan namja itu. Jujur saja aku penasaran dengan auranya. Intuisi malaikat tidak pernah salah. Lalu bel istirahat berbunyi. Ia berbalik dan tersenyum kearahku lagi. Aku hanya mengangkat sebelah alisku bingung.
"Wae?" Tanyaku.
"Ke kantin yuk! Sudah jam istirahat," ajaknya.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Ia terlihat bersemangat lalu berdiri. Aku mengikutinya lalu berjalan bersamanya ke kantin. Sesampainya di kantin, aku mendengar suara yang cukup familier memanggilku.
"Hyukkie-hyung! Yeogi!"
Aku menoleh kearah sumber suara, dan mendapati Kyuhyun melambai kearahku. Ia duduk bersama seorang namja yang imut berambut hitam pendek. Donghae menoleh kearahku dan aku tersenyum mengajaknya kearah Kyuhyun. Ia mengangguk dan mengikutiku.
"Nugu, Kyu?" Tanyaku setelah duduk, menengok kearah namja disebelahnya itu.
"Ah, annyeong! Lee Sungmin imnida!" Namja itu tersenyum.
Aku memperhatikannya sekilas. Hati namja ini bersih sekali.
"Sungmin-hyung anak kelas 2-B. Tadi pagi aku tidak sengaja menabraknya, lalu untuk meminta maaf aku traktir saja," Kyuhyun berucap santai.
"Oh begitu. Naega Lee Hyukjae imnida. Kelas 2-C. Aku kakak Kyuhyun," aku balas memperkenalkan diri dan tersenyum.
"Geuneun?" Kyuhyun menunjuk Donghae yang duduk disampingku.
"Lee Donghae imnida. Aku teman sekelas Hyukjae," Donghae tersenyum manis.
Setelah percakapan singkat kami membeli makan sebentar, sebelum duduk berkumpul lagi. Aku membeli sesuatu yang bernama ramyeon dan tentunya susu strawberry. Aku belum pernah mencoba memakan ramyeon ini tapi boleh dicoba.
"Ngomong-ngomong, boleh aku bertanya?" Sungmin membuka pembicaraan kembali.
"Nae?" Tanya Kyuhyun sambil menyantap makanannya.
"Kalian saudara katanya? Kok nama marga kalian berbeda?"
"Nah sedari tadi juga aku mau menanyakan itu," Donghae menimpali.
Aku melirik kearah Kyuhyun. Aku belum berpikir sampai situ, jadi biarlah dia yang mengarang cerita dan aku ikut saja. Aku menyeruput ramyeon ku. Diluar dugaan, rasanya lezat.
"Kami bukan saudara kandung. Dulu kami dibesarkan di panti asuhan. Tetapi karena suatu alasan panti itu ditutup, dan sekarang aku tinggal bersama Hyukkie-hyung dan dua hyungku yang lain dari panti itu," ceritanya.
Tidak buruk juga karangannya.
"Wah, pasti berat ya?" Sungmin menatapku dan Kyuhyun bergantian.
"Tidak, asalkan kami berempat tidak terasa berat kok. Lagipula kami sudah benar-benar seperti keluarga dan saudara kandung. Kami selalu melewatinya bersama," aku tersenyum gummy smile.
Ya, kami kabur bersama dan menantang maut. Semua akan ditanggung bersama.
Aku dapat melihat dari sudut mataku Donghae terdiam mendengar jawabanku. Ia tersenyum, namun senyumannya itu… Sedih?
.
.:My Jewel Angel:.
.
"Hyukkie-hyung!"
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Aku sedang merapihkan isi tasku saat mendengar namaku dipanggil. Kyuhyun berdiri di depan pintu kelasku. Aku segera menghampirinya.
"Waeyo, Kyu?"
"Aku pulang sedikit telat ya? Aku mau berkeliling Myeondong bersama Sungmin-hyung. Hyung pulang sendiri tak apa kan?"
"Teukie-hyung dan Kangin-hyung?" Tanyaku bingung.
"Mereka pergi kencan," jawab Kyuhyun menyeringai.
"Aish. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada pangeran…" Gerutuku pelan.
"Tenang kan ada Kangin-hyung. Kau itu terlalu protektif hyung."
"Aku kan guardian nya. Wajar kalau aku protektif."
"Lupakan itu hyung, sekarang kita ini manusia," Kyuhyun menenangkanku.
Aku menghela napas pelan. Lalu mengacak lembut rambut dongsaeng favoriteku itu.
"Arrasseo… Kau juga hati-hatilah," aku tersenyum padanya.
"Gomawo hyung!" Kyuhyun memelukku singkat sebelum berlari meninggalkanku.
Aku tersenyum melihat anak itu dengan riangnya pergi. Disaat seperti ini dia pun terlihat seperti manusia biasa. Mungkin aku juga harus mulai bisa membiasakan diri dalam kehidupan ini. Aku sedang tersenyum saat kurasakan sebuah tangan menepuk pelan bahuku. Aku menoleh dan mendapati Donghae sedang tersenyum.
"Pulang bareng yuk?" Ajaknya.
"Ne, kajja!" Aku tersenyum riang dan berjalan bersamanya.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Selama perjalanan kami tidak banyak berbicara. Hanya beberapa patah kata setiap beberapa saat sekali untuk mengisi keheningan. Aku tidak tau harus berbicara banyak ataupun bertanya. Karena melihat sosok hatinya yang… Kelam. Seperti senyuman nya itu palsu. Ada yang lain dari tatapan mata itu, yang bisa kulihat meski dibalik kacamatanya sekalipun. Tapi dari percakapan singkat kami aku tau bahwa rumahnya berada tepat di seberang apartemenku.
Saat berjalan, aku melihat seekor anjing coklat tengah berteduh sambil menjilati bulunya yang kecoklatan. Dia terlihat haus. Aku berjongkok kearah anjing itu dan menadahkan tanganku didekatnya.
"Heyo, kau haus?"
Kupastikan Donghae sedang tidak melihat lalu perlahan muncul air di telapak tanganku. Tentu saja aku bisa melakukannya, aku ini malaikat air. Malaikat memiliki posisi masing-masing. Ada malaikat pengatur musim, seperti Snow, dongsaengku di sana. Ada juga malaikat pengikat elemen sepertiku. Sebelum diangkat menjati ksatria pangeran, aku adalah malaikat air.
Anjing itu menjilati air ditanganku dengan senangnya. Donghae ikut berjongkok disampingku sambil mengelus kepala anjing itu pelan.
"Kau tidak bawa botol minum kan? Dari mana air itu?" Tanyanya heran.
"Dari malaikat," jawabku asal.
"Kau suka anjing, Hyukjae?" Tanyanya lagi.
"Tidak juga. Aku memberinya minum atas dasar melindungi makhluk hidup saja."
Bisa kurasakan Donghae menatap kearahku bingung. Aku tertawa kecil. Mungkin aku berbicara terlalu jujur.
"Aku aneh ya?" Kualihkan pandanganku menatap kedua matanya yang dalam.
"Sangat," sekilas aku melihat sinar matanya berubah.
Donghae lalu kembali bangkit berdiri dan mengajakku kembali berjalan. Saat aku hendak bangkit, tiba-tiba kepalaku terasa pusing sekali. Sepertinya ada tekanan jiwa kotor di dekat sini yang sangat kuat. Aish…
Perlahan pandanganku memudar. Kepalaku semakin terasa pusing dan setelah itu semua gelap, aku tidak mengingat apapun lagi.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Hangat…
"Kau sudah sadar?"
Suara itu. Aku langsung bangun dan mendapati Donghae duduk di sampingku. Ternyata tadi aku menggunakan pangkuannya untuk tidur. Ia menatapku dengan matanya yang dalam itu. Aku memperhatikan sekelilingku, kami ada di bangku taman. Hari sudah sore.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku sedikit parau.
"Tiba-tiba kau pingsan tadi di jalan. Aku mau membawamu pulang tapi dirumahmu juga katanya kan tidak ada orang. Apa kau sudah merasa baikan?"
Aku mengangguk pelan sambil mengusap kepalaku. Sepertinya tadi ada jiwa kotor, sekarang aku sudah baikan karena jiwa itu sudah menjauh dan beristirahat sebentar. Aku kembali menatap kearah Donghae, ke bola mata itu.
"Kau… Apa yang terjadi?"
Donghae mengerutkan keningnya. "Sudah kubilang kau tadi ping-"
"Bukan itu. Maksudku denganmu."
"Eh?" Donghae menatapku kaget.
"Ada apa denganmu? Apa kau memiliki sesuatu yang kau pendam? Kesedihan? Sejak pertama melihatmu aku menangkap sesuatu yang aneh darimu. Aku melihatmu agak… Kelam."
"Ke-kelam?"
"Ne. Padahal hatimu tidak kotor. Tapi ada kekelaman yang aneh darimu," jelasku jujur.
"Maksudmu apa sih? Kau aneh," Donghae menepuk pelan lenganku sambil tertawa.
Aku tidak bercanda.
"Kau berbohong."
"Hah?" Ia menatapku semakin heran.
"Kau tertawa, tapi hatimu tidak. Seharian inipun begitu. Kau tersenyum dan tertawa, padahal hatimu terluka."
Perlahan kulepaskan kacamatanya dan menatap mata coklat tua itu dalam-dalam. Mata yang menyimpan sesuatu, terkubur begitu dalam. Donghae terlihat kaget.
"S-siapa kau?"
"Aku malaikat," jawabku santai.
"Bodoh, malaikat itu tidak ada," Donghae tersenyum pilu dan menatap langit.
"Ya, terserah mu," aku ikut memandang langit.
"Kacamata ini…"
Donghae memainkan kacamata di tangannya. Tanpa kacamatanya, terlihat jelas matanya yang berwarna coklat itu, begitu indah. Ia tersenyum pilu sambil menatapnya.
"Sebenarnya aku tidak membutuhkannya. Penglihatanku normal. Namun aku menggunakannya untuk menutupi mataku. Karena aku merasa orang dapat melihat dari matanya kan? Mataku memancarkan isi hatiku, dan aku tidak ingin orang lain melihatnya," jelasnya tersenyum.
Donghae lalu menatap kearahku dalam. Ia tersenyum. Tapi bukan senyum seperti yang sehari ini kulihat. Melainkan sebuah senyuman penuh kesedihan, matanya menatap sayu.
"Tapi rasanya aku tidak bisa menyembunyikannya darimu ya? Mungkin aku juga aneh. Sejak pertama melihatmu pun aku merasa dirimu berbeda. Aku merasa seperti menemukan apa yang selama ini aku cari," ia kembali menatap langit, menerawang jauh.
"Apa yang kau cari?" Tanyaku.
Aneh. Tapi hatiku mengatakan untuk menghapus kekelaman itu.
"Cinta…" Ia tersenyum sedih menatap langit.
Aku mengangkat kedua alisku heran.
"Aku anak tunggal, orangtuaku meninggal sejak aku masih sangat kecil. Namun tidak sedikit harta yang mereka tinggalkan untukku. Aku dibesarkan di rumah mewah dengan banyak pelayan. Meski begitu rasanya begitu kosong dan sepi. Semua teman yang mendekatiku hanya karena harta. Tidak ada ketulusan disana. Sejak itu aku memisahkan diriku, aku pindah dan tinggal sendiri di rumah sederhana. Aku mengganti penampilanku agar terlihat senormal mungkin, memakai kacamata untuk menutupi sorot mataku. Menyedihkan ya?"
"Bagaimana dengan hari raya? Apa kau sama sekali tidak pernah berkumpul? Natal misalnya? Setauku manusia berbagi kasih di hari seperti itu," aku berbicara santai, seolah mengatakan bahwa aku memang bukan manusia, walau ia tidak menghiraukannya.
"Justru aku tidak menyukai natal. Karena di hari itu para pelayanku kembali ke keluarga mereka untuk berpesta, dan aku semakin sendiri."
Aku larut dalam pikiranku. Jadi kekelaman itulah yang kudapat darinya? Ia kesepian. Dan sakit. Aku ingin menghapus kesedihan itu darinya. Hati ku menyuruhku demikian.
"Hari sudah sore, apa kau tidak sebaiknya pulang, Hyukjae?"
Aku tersadar dari lamunanku dan mengangguk. Kami bangkit berdiri dan berjalan kearah rumah masing-masing yang tidak jauh lagi. Tidak butuh waktu lama hingga kami sampai di depan rumah masing-masing yang bersebrangan. Aku menatapnya di sampingku.
"Donghae," panggilku.
Ia hanya menoleh dan menengglengkan kepalanya heran.
"Kelam yang kurasakan itu, bukan berarti sesuatu telah hilang darimu. Hanya saja hatimu sedang membeku. Yang ada hanyalah hati yang terdiam, tak berwarna…"
Aku menatap kedua matanya dalam-dalam. Mata itu, mata yang kelam. Aku akan mengubahnya. Aku akan mengembalikan kilauan hati di mata itu.
"Aku akan memberikan kembali warna di hatimu."
Donghae tertawa, tawa palsu itu lagi. "Bagaimana caranya?"
"Aku akan menunjukkanmu pelangi, yang akan mengembalikan warna-warna Hidupmu."
"Pelangi? Hyukjae, sekarang musim panas. Tidak akan ada hujan, apalagi pelangi."
"Nanti malam keluarlah ke halaman belakang rumahmu itu. Akan kutunjukkan pelangi itu. Aku akan memberikan apa yang telah kau cari."
Aku tersenyum, gummy smileku yang tulus. Ku usap pelan wajahnya sebelum kugerakkan tanganku di depan wajahnya. Dan perlahan muncul semilir air yang menari di depan wajahnya sebelum jatuh ke tanah. Tentu Donghae kaget bukan main melihatnya.
"Lee Hyukjae… Siapa kau sebenarnya?"
"Sudah kubilang kan? Aku ini malaikat."
Aku tersenyum lagi sebelum meninggalkannya dan memasuki apartemenku. Aku yakin dia benar-benar bingung sekarang. Tapi aku tak ragu lagi sekarang. Aku sudah memahaminya. Dan aku tau apa yang akan kulakukan.
.
.:My Jewel Angel:.
.
"Boleh, pangeran?" Aku bertanya sambil duduk bersila diatas sofa.
"Satu syarat," balasnya menatapku.
"Nde?" Tanyaku mengangkat satu alisku.
"Untuk yang kesekian kalinya, Lee Hyukjae. Berhenti memanggilku pangeran atau kusuruh Kangin untuk menghajarmu," Teukie-hyung menghela napasnya.
Aku mengeluarkan cengiranku sebelum memeluknya sesaat.
"Gomawo, Teukie-hyung," senyumku.
"Ne. Kalau hatimu ingin melakukannya, ikutilah. Mungkin takdir yang mempertemukanmu dengan anak itu. Mungkin memang kaulah malaikat yang dikirim untuknya."
Aku mengangguk senang.
"Dan Hyukkie… Mungkin kau bisa menemukan orang lain untuk kau jaga dan lindungi. Aku sudah bukan pangeran, tugasmu sebagai guardianku sudah usai. Jangan lindungi aku lagi."
Aku menggeleng, tetap dengan senyumanku.
"Kalaupun aku menemukan orang lain untuk aku lindungi, aku tetap akan melindungimu juga hyung. Bukan sebagai Knight of Heavens ataupun Jewel. Tetapi sebagai Lee Hyukjae, dongsaeng dari Park Jungsoo. Aku akan melindungimu dengan nyawaku. Bolehkan itu?"
Teukie-hyung menatapku dengan mata berkaca-kaca sebelum tersenyum dan memelukku erat.
"Tentu saja, anak bodoh…"
.
.:My Jewel Angel:.
.
"Aku tidak menyangka hyung bisa mengatakan hal seperti itu."
Aku menoleh kearah pintu kamarku, mendapati Kyuhyun sedang menyender pada bingkai pintu.
"Kau menguping ya? Dasar iblis kecil," gurauku dan menepuk kasurku, mengajaknya duduk disampingku.
"Tidak sengaja terdengar," cengirnya tak berdosa dan duduk.
Keheningan menyelimuti kami selama beberapa saat. Kyuhyun terlihat terlarut dalam pikirannya sendiri sebelum lalu bersandar pada bahuku. Aku hanya menatapnya heran.
"Rasanya sekarang aku paham kenapa kau dipilih menjadi guardiannya, hyung."
Aku hanya tersenyum sambil mengelus rambutnya perlahan. Entah sejak kapan kami berempat menjadi sangat dekat seperti ini. Aku sangat menyayangi mereka. Kyuhyun memejamkan matanya dan tersenyum penuh makna.
"Aku bangga menjadi dongsaengmu, hyung," gumamnya.
"Terimakasih, magnae kesayanganku," jawabku tertawa pelan.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Hari mulai malam, saatnya aku menjalankan rencanaku. Kubuka jendela kamarku dan berdiri disitu. Perlahan aku memejamkan mata, dan sepasang sayap putih berbulu halus menghempas dari punggungku, menembus kaus putih yang kugunakan. Aku mencoba mengepakkannya sebentar, membiasakan diri setelah lama tidak menggunakannya.
Malam ini akan kutunjukkan, sesuatu yang telah lama dicarinya…
"Hati-hati, jangan sampai orang lain melihatmu," peringat Teukie-hyung.
Kangin-hyung berdiri disampingnya, memeluk pinggang Teukie-hyung. Aku tertawa pelan. Rasanya seperti kedua orang tuaku melepasku untuk menikah saja. Kyuhyun yang seperti bisa mengerti pikiranku, ikut tertawa.
"Ne hyungdeul, Kyu, aku berangkat."
Dengan sekali hentakkan aku meloncat dan langsung terbang bebas di langit malam. Semilir angin lembut menerpa helaian rambut dan tubuhku. Beberapa helai bulu sayapku terbang kemana-mana. Ini benar-benar perasaan yang menyenangkan…
Rasanya sangat lega dan damai…
Aku lalu terbang melayang ke halaman belakang rumah Donghae. Terlihat Donghae sedang duduk di dalam rumah, di tepi jendela, melihat kearah tamannya. Aku tersenyum mengetahui dia benar-benar menungguku.
Perlahan aku menggerakkan jari-jariku, menari-nari di udara malam. Dari jari-jariku muncul tetesan-tetesan air, membentuk aliran air kecil, semakin banyak, dan banyak. Hingga turun hujan. Hanya di taman rumah Donghae. Donghae terlihat kaget melihat hujan turun tiba-tiba di pekarangan rumahnya. Ia segera keluar untuk menatap hujan di musim panas itu.
Setelah beberapa menit, aku menghentikan gerakkanku. Hujan berhenti, cahaya bulan membias di udara lembab menunjukkan sebuah pelangi yang amat indah. Aku tersenyum puas menatap hasil karyaku, masih melayang saat mendengar sebuah panggilan.
"H-Hyukjae?!"
Kutatap sumber suara itu dan tersenyum lembut. Perlahan aku melayang turun dan berpijak di hadapannya. Kedua sayapku masih mengembang lebar. Aku mengulaskan gummy smileku kepadanya.
"Donghae," panggilku.
"H-Hyukjae? Apa ini mimpi…?"
"Inilah yang kujanjikan padamu. Aku sudah bilang akan mengembalikan warna di hatimu kan? Ini pelangi untukmu."
Donghae masih menatapku dengan shock. "Sekarang katakan padaku… Apa kau… Benar-benar malaikat?"
"Sudah kukatakan sejak awal kan? Bodoh," tawaku pelan dan mengusap rambutnya.
Donghae masih terdiam menatap pelangi itu, lalu aku dan sepasang sayapku itu.
"Mulai hari ini aku akan memberimu apa yang kau cari. Aku akan melelehkan hatimu yang telah membeku. Aku akan memberi warna pada hari-harimu dan mengisi kesepian hidupmu. Kau tidak akan pernah sendirian lagi…"
Donghae menatapku dengan mata berkaca-kaca. Sesuatu yang berbeda kini terpancar dari mata coklat dalam itu. Tak ada lagi kekelaman yang kulihat sebelumnya. Ia lalu tersenyum. Namun senyumnya kali ini sungguh berbeda dari semua senyumannya yang pernah kulihat. Senyumnya amat manis dan damai. Senyuman malaikat…
Donghae lalu perlahan menarikku kedalam pelukannya. Dapat kurasakan isakannya di bahuku. Meski begitu aku dapat merasakannya. Ia bahagia, bebannya telah hilang.
"G-gomawo… Jeongmal gomawo…"
Aku tersenyum dan mengusap punggungnya perlahan.
"Cheonmaneyo… I'll be with you… Youngwonhi…"
Dan malam itu, aku menemukan seorang malaikat lagi. Malaikat tak bersayap dengan senyuman sehangat mentari, hati selembut kapas…
.
.
.
-To Be Continued-
.
IMPORTANT
Ada yang merasa cerita ini familier?
Bukan, bukan hanya perasaan kalian. Tapi memang cerita ini mungkin pernah di baca sebelumnya. Tepatnya bukan cerita ini, tapi cerita lain.
Sebelum ada yang komentar, saya jelaskan terlebih dahulu. Cerita ini memang saya ambil garis besar awalnya dari cerita author terkenal ffn, Kim Tae Na-ssi yang berjudul 'D.H.A' , atau 'Devil Half Angel'. Yang mau baca karya Tae Na-ssi yang amat menakjubkan itu, silahkan kunjungi blognya. ^^ (saya juga fansnya~). Jadi bisa dibilang ini salah satu fanfic yang 'Inspired By-'.
Karena itulah mungkin awal cerita ini amat sangat mirip sekali dengan cerita Tae Na-ssi. Dan chapter 1 nanti mungkin masih amat mirip. Meski begitu untuk chapter berikutnya saya sepenuhnya memakai plot saya sendiri, dengan kejadian dan arah cerita yang sepenuhnya berbeda tentunya. Saya juga sudah meminta izin ke Tae Na-ssi tentang cerita saya ini. Meski belum keluar balasannya, mungkin dia sudah tidak pernah membuka FB lagi. Twitternya juga sudah ganti u-name sepertinya. Bagi yang tau cara menghubungi Tae Na-ssi, bisa tolong kasih tau saya?
Dan kalau seandainya, saat cerita ini sedang on-going Tae Na-ssi membalas permintaan izin saya dan bilang cerita ini tidak boleh saya publish, saya akan segera men-deletenya.
Sekian klarifikasinya.
IMPORTANT part, END
.
Important note diatas ku copas di chapter satu jaga-jaga aja ada yang belum baca di prolog sebelumnya.
Chapter satu ini masih mirip sama cerita Tae Na-ssi di D.H.A. Berikutnya baru ceritanya sepenuhnya berubah. #bow
Aku udah DM Tae Na-ssi di twitter, tapi belum ada balesannya. Jujur aja grogi nervous dan takut sendiri setengah mati aku ahaha. Tapi seperti yang kubilang, kalau ga di kasih izinnya ini akan segera kuhapus. #bow
Umm bingung mau ngomong apa ya ahaha. Bales review aja dulu deh ._.
Shin Min Hwa : pasti di lanjutin kalau diperbolehkan kkk~. Ini bukan tipe 'Fate's Call' yang cuma oneshot gajelas tenang aja. Kyaaa maaaaaff. Aku juga pengen secepetnya update tapi ide sedang agak mandek di tengah #pundung
Anonymouss : kkk namanya jg prolog. Ini masih mabok ga?
anchofishy : gomawo udah baca dan setia menunggu ffku yang updatenya setaon #sniff #terharu
Eun Byeol : gomawo~. Iya gpp hehe :)
Bunnyminimi Cloudsomnia : uwaaaaaaaaah gomawo! Aku nemu u-name twitternya tapi ternyata udah ganti. Udah coba yang chingu kasih bisa kkk~ tinggal menunggu balesan DM nya. Sekali lagi jeongmal gomawo loh ya! ^^
aninda. c. octa : gomawo. Tapi prolognya aku masih ngikut Tae Na-ssi, jadi dia yang berhak dapet pujiannya kkk~
Cuteeunhae : tentu aku akan selalu bikin eunhae kkk… entah kenapa aku jg lebih suka eunhae/hyukhae daripada haehyuk. Mungkin karena factor bias?
Sekali lagi gomawo buat semua yang udah RnR/ sekedar baca. Tapi sekedar mengingatkan aja ini prolognya sama kebanyakan chapter 1 aku masih ngikut Tae Na-ssi. Jadi dia yang berhak dpt pujiannya~ gomawo smua #bow
Mind to RnR? ^^
