Title : My Jewel Angel
Author : Kim Sun Ri
Genre : Romance, Fantasy, Drama, Family
Rating : T
Length : Chaptered
Disclaimer : This fict is mine, but the casts aren't
Warning : Yaoi, BoyXBoy, BL, AU, Cliché, OOC(?)
Pairing : Eunhae, Slight!Kangteuk, Slight!Kyumin.
.
Don't Like Don't Read!
Enjoy!
.
.:My Jewel Angel:.
.
Chapter 2
'Jewel, Angel of Water'
.
Jewel / Hyukjae's POV
Aku merasakan guncangan pelan di bahu ku. Masih malas, aku hanya menggeram pelan dan menenggelamkan wajah ku di bantal. Lalu guncangan itu berhenti. Namun tidak lama aku dapat merasakan seseorang merangkak naik ke kasurku. Dua buah lengan melingkari pinggangku dan memelukku dari belakang. Tanpa sadar aku tersenyum menyadari pemiliknya.
"Hyukjae bangun…" Panggil suara yang familier.
"Aku masih mengantuk…" Gumamku.
"Nanti kita telat. Kau mau dihukum Kim-seonsaeng? Dia menyeramkan."
"Baiklah baiklah aku bangun," gerutuku.
Perlahan aku membuka mata dan mengacak rambutku. Aku menggenggam tangan yang memelukku untuk memindahkannya, lalu bangun duduk di kasurku. Dia ikut bangun disampingku, sudah mengenakan seragam rapih.
"Pagi Hyukjae," sapanya tersenyum tulus.
"Pagi Donghae," jawabku ikut tersenyum.
Sudah dua minggu sejak aku pertama bertemu Donghae. Kami menjadi dekat. Dia juga tau identitas keluargaku, dan mereka menerimanya. Bahkan Donghae telah di rekrut untuk menjadi alarm pribadiku. Karena mereka tau aku akan segera bangun bila itu Donghae yang membangunkanku. Jangan tanya kenapa, aku juga tidak tau.
"Kalian terlihat seperti pengantin baru, tau tidak?"
Aku dan Donghae menoleh kearah pintu dan menemukan Kyuhyun sedang menyeringai licik. Donghae terlihat memerah karena malu. Memang ia itu ternyata sangat pemalu, padahal Kyuhyun hanya bercanda. Aku hanya menguap tidak perduli.
"Tapi aku berterima kasih padamu, Hae-hyung. Jadinya aku tidak harus membangunkan monyet yang hibernasi itu setiap hari," ia tertawa pelan.
"Siapa yang kau sebut monyet hah?" Aku mengambil bantal terdekat dan menimpuknya.
Kyuhyun tertawa sambil menghindari bantal itu, sebelum kabur turun ke ruang makan menyelamatkan diri dariku. Bukannya marah, aku ikut tertawa.
"Dasar iblis kecil," tawaku pelan.
Aku menoleh dan mendapati Donghae sedang menatapku dengan matanya yang dalam. Senyuman malaikat, begitu aku suka menyebutnya, mengembang diwajahnya. Matanya seolah bersinar-sinar senang. Aku bangkit berdiri dan mengambil handuk dan seragamku.
"Aku mandi dulu, kau bergabung dengan yang lain saja dibawah Hae," senyum khasku padanya.
Donghae mengangguk sebelum agak melompat dari kasurku. Dengan riangnya ia berjalan-setengah melompat-lompat kearah ruang makan. Aku tertawa melihat kekanakannya dan pergi mandi. Memang, beginilah Lee Donghae yang sebenarnya.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Author's POV
"Kyaaa Hyukjae!" Teriakan-teriakan terdengar dari sisi lapangan.
Hyukjae hanya menghela napasnya sesaat setelah melakukan lompat jauh. Sekarang pelajaran olahraga. Sebenarnya salah satu mata pelajaran yang amat Hyukjae sukai. Tetapi ia menjadi agak risih dengan banyaknya fan-girling yang ditujukan padanya, hanya karena dia kelepasan dan melompat sejauh 7 meter. Untungnya ia baru latihan dan guru tidak melihatnya, atau pasti dia dipaksa masuk klub atletik.
Dengan malas ia duduk di pinggir lapangan. Kedua kakinya dilipat di depan tubuhnya. Ia menatap murid-murid lain yang sibuk melakukan lompat jauh. Baginya itu mudah. Kalau ia mau juga ia bisa melompat sampai belasan meter. Bagaimanapun ia malaikat, fisiknya jauh diatas manusia. Apalagi dia mantan ksatria terbaik yang ditugaskan melindungi pangeran dunia langit. Kau pikir ksatria pangeran dipilih begitu saja? Tentu tidak. Ia telah melalui latihan berat dan lulus dengan nilai sempurna, jauh diatas malaikat lainnya.
Sekali lagi Hyukjae menghela napas panjang mendengar jeritan namanya.
"Fans mu itu berisik sekali."
Hyukjae menoleh dan melihat Donghae duduk di sampingnya dengan santai.
"Ucapkan itu pada dirimu sendiri. Fans mu tidak kalah berisik dariku," balasnya.
Ya, sejak dua minggu lalu Donghae melepas kacamatanya, karena sudah tidak dibutuhkan lagi. Itu menunjukkan wajah tampannya yang selama ini tersembunyi, dan gadis-gadis mulai mengejarnya.
"Kau tau? Kita bahkan mempunyai fans club bersama," Donghae tertawa pelan.
Hyukjae mengangkat sebelah alisnya dan menatap Donghae bingung.
"Karena kita selalu bersama, ada fans yang menyatakan diri sebagai Eunhae shipper."
"Eunhae?"
"Ya, kau tau kan fans mu menyebutmu Eunhyuk? Eunhae, gabungan dari nama kita. EUNhyuk dan dongHAE," jelasnya.
Hyukjae terdiam sebentar sebelum menatap Donghae.
"Apa kau keberatan?" Tanyanya.
"Maksudmu?" Donghae balas menatap Hyukjae dengan heran.
"Dipasangkan denganku seperti itu. Apa kau keberatan?"
Donghae terlihat kaget dengan pertanyaan itu, lalu menggeleng kuat-kuat.
"Tentu tidak! Justru aku berterima kasih memilikimu disisiku Hyukjae," tegasnya.
Hyukjae menyunggingkan gummy smile nya, membuat Donghae ikut tersenyum. Hyukjae kadang bingung, sebenarnya siapa yang malaikat. Karena sungguh senyum Donghae itu bagaikan senyuman malaikat baginya. Ia merangkul sahabatnya itu dengan santainya, dan terdengar jeritan histeris dari pinggir lapangan.
"Yap, kurasa itu mereka," tawa Donghae.
.
.:My Jewel Angel:.
.
"Hyukjae~!"
Hyukjae menoleh saat merasakan sepasang lengan mengalungi lehernya dan memeluknya dari belakang. Ia menghentikan kegiatannya menatap ujung koridor dan tersenyum. Donghae baru saja pergi ke perpustakaan sebentar mengembalikan buku dan meminta Hyukjae untuk menunggunya.
"Sudah, Hae?" Tanyanya.
Donghae mengangguk tanpa melepaskan pelukannya.
"Ayo kita pulang!" Ajaknya tersenyum riang.
"Hari ini kita tidak jalan ya," Hyukjae mengajak sambil berjalan kearah atap.
Donghae menatapnya heran namun ia hanya mengikuti saja.
"Kyunnie dan Minnie-hyung mana?" Tanya Donghae sambil melompat-lompat girang.
"Katanya mereka kencan. Anak itu, aku bahkan tidak tau mungkin dia sudah jadian."
Hyukjae tertawa pelan, tidak menangkap perubahan raut wajah Donghae saat itu. Donghae menautkan jemari tangannya perlahan di tangan Hyukjae, yang disambut dengan senyuman manis olehnya.
Mereka lalu sampai di atap gedung sekolah. Semilir angin bertiup, langit sore berwarna oranye menghias. Hyukjae memejamkan matanya sesaat menikmati angin yang melewati helaian rambut merahnya dengan senyum terkembang. Ia merentangkan kedua tangannya. Ia begitu menyukainya, perasaan saat angin menyapu tubuhnya.
"Hyukjae sedang apa kita kesini?" Tanya Donghae memecah keheningan.
"Jalan untuk pulang," Jawab Hyukjae singkat, membuka matanya dan tersenyum kearah Donghae.
Donghae menautkan alisnya bingung. Namun lalu Hyukjae kembali memejamkan matanya sesaat. Sepasang sayap putih menghempas dari punggungnya. Donghae menatap sayap lembut itu dengan mata bersinar-sinar. Hyukjae membuka matanya.
"Kemarilah," Hyukjae tersenyum sambil mengulurkan tangannya kearah Donghae.
Dengan antusias Donghae menyambut uluran tangan itu, sedikit kaget saat Hyukjae menariknya kedalam sebuah pelukan. Wajahnya memerah dan jantungnya kembali berdegup kencang.
"Pegangan yang erat, Hae," bisik Hyukjae di telinganya.
Yang berikutnya Donghae tau, ia telah melayang tinggi di langit dalam dekapan Hyukjae. Ia memejamkan matanya erat-erat saat kakinya tak lagi memijak. Hyukjae tertawa kecil melihat orang dalam dekapannya ketakutan.
"Tenang saja Hae, kau tidak akan kubiarkan jatuh. Sekarang buka matamu," bisiknya lembut.
Perlahan Donghae membuka matanya. Dan saat itu juga rasa takutnya menghilang begitu saja. Pemandangan dibawahnya begitu indah, dihiasi sinar lembayung senja sore hari. Ia tersenyum lebar dan riang dengan semangat.
"Hyukjae! Hyukjae lihat! Taman itu indah sekali!" Serunya.
Donghae menunjuk pada sebuah taman, sambil tangan yang satu lagi masih memeluk Hyukjae dengan erat. Hyukjae tidak melepaskan tangannya dari Donghae dan ikut menoleh kearah yang ditunjuknya. Ia tersenyum lembut.
"Hyukjae lihat disana! Itu danau? Aku baru tau ada danau dibalik sana! Kapan-kapan kita kesana yuk?" Ajaknya tertawa-tawa girang.
"Ah iya, aku hampir lupa kau itu ikan Mokpo," jawab Hyukjae tertawa.
"Berisik kau monyet kepala biru," dengus Donghae bercanda.
"Ara? Berani mengejekku ya sekarang. Kau mau kulepaskan sekarang juga?" Ancam Hyukjae dengan seringaian yang dipelajarinya dari dongsaeng kesayangannya.
"Kau tidak akan tega, Lee Hyukjae," Donghae balas tersenyum malaikat.
Sesaat Hyukjae terkagum melihat senyuman itu. Ia mengeratkan pelukannya pada Donghae dan balas tersenyum.
"Memang," jawabnya singkat.
Hyukjae menenggelamkan kepalanya di bahu Donghae, menghirup wangi vanilla dari rambut brunette nya yang halus. Ia begitu terlena dengan perasaan hangat dan nyaman yang ada meskipun mereka sedang melayang di ketinggian dengan semilir angin sore hari. Tanpa ia sadari tingkahnya itu membuat orang yang dipeluknya hampir mati jantungan.
Beberapa menit berlalu. Meski Hyukjae tidak mau melepaskan kehangatan yang ada, tetapi ia menyadari hari sudah mulai sore. Ia perlahan melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Donghae yang dipeluknya. Ia sedikit bingung melihat wajah Donghae yang semerah strawberry, namun ia hanya melewatinya.
"Sudah puas? Sekarang kita pulang?" Tawarnya.
Donghae mengangguk pelan. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hyukjae karena malu. Hyukjae mengelus perlahan rambutnya dengan sayang sebelum mengepakkan kedua sayapnya, terbang menuju halaman belakang rumah Donghae.
Setelah memastikan dari atas tak ada yang melihat dengan insting malaikatnya, Hyukjae mendarat perlahan di pekarangan belakang rumah Donghae. Karena tinggi mereka yang berbeda sedikit, Hyukjae telah memijakkan kakinya ke tanah, sedangkan Donghae masih mengambang sekitar 5 sentimeter dari tanah, memejamkan matanya karena takut saat turun. Hyukjae tertawa gemas melihatnya dan mencubit pelan pipi Donghae.
"Kita sudah sampai Hae," ujarnya tertawa pelan.
Donghae membuka matanya perlahan, mendapati wajah Hyukjae hanya beberapa centi dari wajahnya. Ia segera melepaskan pelukannya dan berpijak pada tanah, menengok menyembunyikan wajahnya yang merah.
"G-gomawo…" Gumamnya.
"Cheonmaneyo."
Hyukjae mengacak lembut rambutnya, sebelum memejam sebentar kembali, membuat sayapnya bercahaya terang sebelum perlahan masuk kembali ke tubuhnya. Ia mengecek kembali punggung baju seragamnya untuk memastikan tidak ada robekan disana. Setelah yakin, ia kembali menatap Donghae untuk pamit.
"Ya sudah hae, aku pulang dulu. Besok… Kau ada waktu?"
"T-tentu… Kenapa?" Tanyanya berusaha menatap Hyukjae.
"Bagaimana kalau kita ke danau yang tadi kau tunjuk? Besok hari sabtu," ajak Hyukjae tersenyum.
"Jeongmal?!" Donghae berseru girang.
"Ne. Tetapi bangunkan aku besok," Hyukjae mengulaskan cengirannya sambil menggaruk kepalanya.
"Ne!" Donghae berseru.
Mereka lalu masuk bersama kedalam rumah Donghae. Lalu Hyukjae pun pamit untuk pulang, di balas lambaian senang dari Donghae.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Jewel / Hyukjae's POV
*Jdarr!*
Aku tersentak oleh suara guntur yang keras. Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku belum juga tertidur. Tiba-tiba hujan deras turun menyusul suara guntur itu. Badai musim panas sepertinya. Lalu tiba-tiba aku mendapat perasaan aneh.
Aku bangkit berdiri dari kasurku. Perasaanku mengatakan untuk ke tempat Donghae. Aneh? Entahlah aku juga bingung. Aku seperti memiliki sensor untuk anak itu. Bukan, ini bukan kemampuan khusus malaikat. Malaikat tidak memiliki sensor untuk manusia spesifik. Kecuali…
*Jdar!*
Lagi-lagi guntur menyambar. Aku segera keluar kamar dan turun ke ruang tamu. Aku mengambil jaket ku dan mengenakannya, lalu mendapati Kyuhyun masih duduk di sofa memainkan laptopnya di meja. Aku berani jamin ia begadang main Starcraft lagi.
"Mau kemana hyung sedang badai begini?" Tanya Kyuhyun tanpa menoleh dari laptopnya.
"Rumah Donghae, firasatku tidak enak. Katakan pada Teukie-hyung aku menginap disana malam ini," jawabku singkat.
Kyuhyun hanya mengangguk singkat. Aku membuka pintu rumah, tidak repot-repot untuk mengambil payung. Aku mengangkat tangan kananku dan berkonsentrasi. Air hujan disekitarku membelah dan membuka jalan untukku. Tentu saja aku bisa mengontrolnya, karena aku malaikat air. Dengan agak terburu-buru aku segera pergi ke rumah Donghae di seberang jalan.
.
.:My Jewel Angel:.
.
*tok tok tok*
"Donghae?" Panggilku mengetuk pintu depan.
Tidak mendapat jawaban, aku mencoba membuka pintu itu. Ternyata tidak dikunci. Aku segera masuk dan mengunci pintu, lalu mencoba memanggilnya lagi di lorong rumahnya.
"Donghae!"
Sunyi…
Mulai khawatir aku berlari ke lantai dua, dan bergegas ke kamar Donghae. Perlahan aku membuka pintu kamarnya. Disana aku melihat diatas kasur Donghae, sebuah gundukan besar tertutup selimut. Aku berani bertaruh pasti dia sedang meringkuk disitu.
"Hae-yah?" Panggilku lagi.
Gundukan itu bergerak tersentak. Perlahan selimutnya tersingkap sedikit, menunjukkan wajah Donghae yang sembab.
Ia menangis…
Dengan cepat aku menghampirinya dan memeluknya erat. Donghae langsung keluar dari dalam selimut dan balas memelukku. Aku menyelimuti kami berdua sebelum mengelus punggungnya untuk menenangkannya.
"Sssh… Uljimma… Kau kenapa Hae?" Tanyaku.
"Nan… dulyeowo…" Gumamnya terisak.
"Uljimma… Nan yeogiisseo…" Aku berbisik lembut di telinganya.
Aku terus berusaha menenangkan 'malaikat' rapuh di pelukanku. Perlahan isakkannya memelan. Ia lalu menenang dan berhenti menangis. Tetapi setiap ada guntur menyambar, tubuhnya terlonjak sedikit. Sepertinya ia benar-benar ketakutan.
"Hae-yah…" Panggilku.
Donghae mengangkat wajahnya dan menatapku. Matanya masih berkaca-kaca. Ia menengglengkan sedikit kepalanya pertanda bingung. Aku menarik napas ku sebentar.
"Kalau kau mau, aku bisa menghentikan badai ini. Tetapi besok mungkin kita tidak jadi ke danau, bagaimana?" Tanyaku sambil mengusap rambutnya.
"K-kenapa?" Tanyanya terbata karena sehabis menangis.
"Aku sudah jarang menggunakan kekuatanku. Kalau untuk menghentikan badai seperti ini dalam kondisi sekarang, mungkin aku akan butuh istirahat sekitar dua hari," jawabku menghela napas, menyesal.
"Andwae! Kalau begitu jangan… Aku tidak apa kok," tolaknya segera.
"Tapi kau ketakutan, Hae-yah…"
"Aku tidak apa… Tapi…" Ia menggumam pelan.
"Tapi?" Tanyaku.
"T-temani aku ya…?" Pintanya memelas.
Aku tersenyum mengangguk lalu merebahkannya di kasur, masih memeluknya. Kuselimuti kami sebelum mengelus lembut rambutnya untuk menenangkannya.
"Tidurlah Hae…" Bisikku.
"Ne, Hyukjae… Gomawo… Untuk selalu menemaniku…" Gumamnya mulai tertidur.
"Aku malaikatmu…" Bisikku ikut tertidur sambil memeluknya…
.
.:My Jewel Angel:.
.
"Hyukjae… Irreona…"
Aku menggumam pelan saat merasakan pelukan Donghae. Namun kali ini lain, ia tidak memelukku dari belakang. Melainkan ia sedang berada di dalam dekapanku juga. Aku membuka mata dan mendapati wajah Donghae beberapa senti dari wajahku. Aku tersenyum dan saat itu juga wajahnya memerah seperti strawberry kesukaanku.
"Pagi Hae…"
"N-ne… Pagi…" Ia menunduk.
Perlahan kulepaskan pelukanku dan bangkit duduk bersamanya. Aku menatapnya sebentar. Tidurnya nyenyak semalam, baguslah. Dari mana aku tau? Kalian lupa aku memiliki sensor khusus untuk anak ini?
"Jam berapa sekarang hae?" Tanyaku.
"Eum… setengah delapan."
"Wah! Ayo kita bersiap! Ppalli! Jam segini danau sedang terlihat indah!" Aku bangkit berdiri.
Donghae mengusap-usap matanya dengan punggung tangannya. Terlihat sangat menggemaskan seperti anak kecil. Aku tertawa gemas melihatnya.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Akupun pulang terlebih dulu untuk bersiap. Aku mengenakan kaus putih polos dengan jaket jeans diatasnya. Juga celana jeans panjang senada dengan jaketku. Aku mengacak rapih rambut biruku sebelum menjemput Donghae ke rumahnya lagi. Tentunya setelah pamit pada keluargaku, dan terkena ledekan Kangin-hyung karena aku menginap semalam.
"Kita berangkat Hae?" Senyumku padanya yang baru menutup gerbang rumah.
"Ne!" Donghae menjawab antusias.
Donghae mengenakan kaus biru polos dan cardigan putih bergaris. Ia mengenakan celana jeans selutut. Aku tersenyum sekilas lalu mengulurkan tanganku padanya. Ia segera menerima uluran tanganku lalu memejamkan mata. Aku tertawa melihatnya, ia kembali membuka matanya.
"Loh, kita tidak terbang?" Tanyanya bingung.
"Tidak, jalan saja. Aku mau menyimpan tenaga," jawabku masih tertawa.
"Kalau begitu kenapa kau mengulurkan tangan?"
"Hanya ingin menggandengmu. Tidak bolehkah?" Aku tersenyum tak berdosa.
Donghae tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajah merahnya ke arah lain. Sungguh lucu sekali anak ini. Membuatku semakin ingin menggodanya.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Author's POV
"Indahnyaaaa!" Seru Donghae riang.
Ia merentangkan kedua tangannya di depan danau setibanya mereka berdua disitu. Hyukjae hanya tertawa pelan melihat tingkah kekanakkannya. Lalu Hyukjae melepas jaketnya dan menggantungnya di pepohonan dekat situ. Ia memandangi pemandangan di hadapannya sesaat.
Danau nya begitu jernih dan indah, seperti kaca. Mungkin karena terletak di area lumayan pedalaman, tersembunyi di rimbunan pepohonan di pinggir kota. Langit biru pagi hari, pepohonan hijau menjadi latar pemandangan indah tersebut. Didepan danau, Donghae berdiri menghadap danau.
"Hae-yah!" Panggil Hyukjae.
Yang dipanggil menoleh tanpa membalikan badannya sambil tersenyum. Hyukjae berani bersumpah bahwa itu adalah 'lukisan' terindah yang pernah ia lihat. Donghae yang tersenyum malaikat, dengan pemandangan yang begitu menakjubkan. Ia lalu berdiri dan menghampirinya.
"Ayo berenang!" Ajak Hyukjae dengan gummy smilenya.
"Sepertinya airnya dingin," gumam Donghae ragu.
"Ayolah kau kan ikan, lagipula pasti segar kok."
"Oh ya? Baiklah selamat mencoba lebih dulu!"
Dengan seringaian Donghae mendorong Hyukjae kuat-kuat, membuat namja itu tercebur kedalam danau dengan indahnya. Donghae tertawa puas melihatnya. Sekitar beberapa detik kemudian, Hyukjae muncul di permukaan dengan rambut turun karena basah. Ia cemberut menatap Donghae. Membuat sang pelaku kriminal tertawa semakin keras.
Tak lama seringaian ikut muncul di wajah Hyukjae. Donghae dalam bahaya sekarang. Hyukjae sedang berada di dalam danau, tempat yang menjadi daerah kekuasaannya. Hyukjae menggerakkan tangan kanannya dari belakang ke depan, seolah menyapukannya. Tiba-tiba muncul ombak yang mengguyur dan menyeret Donghae masuk ke air. Donghae tenggelam ke dalam air sebelum muncul ke permukaan beberapa saat kemudian.
"K-kau curang!" Protes Donghae sambil cemberut.
"Itulah yang kau dapat kalau berani melawanku!" Hyukjae tertawa puas.
"Awas kau monyet kepala biru!"
"Lawan aku ikan Mokpo!"
Lalu terjadilah pertengkaran ciprat-cipratan air yang tidak elit dan sangat tidak menunjukkan usia mereka 17 tahun. Tawa tak henti-hentinya keluar dari mulut keduanya. Air yang masih agak dingin sama sekali tidak dihiraukan keduanya. Mereka terus bermain hingga akhirnya kedua kubu kelelahan dan menyerah.
Hyukjae dan Donghae tengah berbaring mengambang diatas air sambil menatap langit biru di atas mereka. Kepala mereka hampir saling bertubrukan karena posisi berlawanan. Senyuman khas masing-masing terkembang di wajah keduanya. Yang satu senyuman yang menunjukkan gusinya yang merah, yang satu lagi senyuman polos malaikatnya.
"Hyukjae," panggil Donghae di tengah ketenangan.
"Nde?"
"Terimakasih…" Gumam Donghae tiba-tiba.
"Untuk?" Tanya Hyukjae bingung.
"Segalanya…" Dari suaranya, Hyukjae tau Donghae sedang tersenyum lebar.
"Aku tidak melakukan hal yang spesial kok," Hyukjae ikut tersenyum.
"Apanya yang tidak spesial… Kau menemaniku, hidupku. Apalagi kau memberikan pelangi waktu itu kepadaku," Donghae mengenangnya.
"Akan kuberikan berapapun banyaknya pelangi yang kau minta, Hae."
"Apa kau sedang menggombaliku?"
"Tidak. Mau kubuktikan?"
Hyukjae 'bangun' dari posisi tidurannya dan kembali mengambang berdiri di air, hanya bahu keatas yang ada di atas permukaan. Donghae ikut berubah posisi dan menatap Hyukjae dengan heran.
"Kemarilah," Hyukjae mengulurkan tangan kirinya.
Lagi-lagi Donghae menerima uluran tangan itu. Ia lalu berenang mengambang di samping Hyukjae. Hyukjae memejamkan matanya sesaat, sebelum tangan kanannya diayunkan agak menghentak kearah langit. Bersamaan dengan itu air di depan mereka menyembur keatas seperti air mancur. Sebelum terjatuh kembali dengan indahnya, dan meninggalkan pelangi di atas.
Donghae hanya bisa terpana kembali dibuatnya melihat pelangi itu. Hyukjae tersenyum puas melihat hasil karyanya. Bukan, bukan pelangi itu. Tetapi senyuman malaikat di wajah Donghae yang kini terkembang.
.
.:My Jewel Angel:.
.
Hyukjae dan Donghae kini duduk di atas rerumputan di tepi danau. Dengan kekuatan Hyukjae mengendalikan air, baju mereka segera kering sesaat setelah keluar dari danau. Hyukjae telah mengambil jaketnya dan menyampirkannya di bahu Donghae. Mereka berdua terduduk sambil menikmati angin. Donghae memeluk lututnya sendiri, sedangkan Hyukjae berselonjor sambil menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangan di belakang.
"Hyukjae, boleh aku bertanya?" Ujar Donghae memecah keheningan.
"Apa?" Tanya Hyukjae tanpa membuka matanya.
"Apa semua malaikat bisa mengendalikan air sepertimu?"
Hyukjae membuka matanya dan bangkit duduk bersila di depan Donghae. Ia menatap Donghae dan menemukan rasa ingin tau yang besar di matanya. Hyukjae tersenyum. Dalam hati ia sedang memilah-milah apa yang akan diberitau, dan apa yang tidak akan ia beritau kepada Donghae. Memang Donghae telah mengenalnya dan keluarganya, tapi yang ia tau hanyalah sebatas Leeteuk dan dirinya adalah malaikat, sedangkan Kyuhyun dan Kangin adalah iblis.
Hyukjae menarik sebuah napas panjang sebelum mulai membuka mulutnya dan bercerita.
"Tidak, malaikat juga ada jenisnya masing-masing Hae. Mau kujelaskan? Tapi aku tidak tau apa-apa soal iblis seperti Kyuhyun dan Kangin-hyung. Tak apa?"
"Ne!" Donghae mengangguk dan tersenyum, tanpa sadar aegyonya muncul.
"Malaikat itu ada yang memiliki kemampuan khusus, atau ada yang hanya bisa mengeluarkan cahaya suci dan menjadi tentara dunia langit biasa. Malaikat berkemampuan khusus pun ada banyak jenis. Seperti pengatur musim. Malaikat jenis ini ada banyak sekali, semua di bagian berbeda-beda. Malaikat jenis itu mengendalikan musim. Malaikat bunga, bertugas memekarkan bunga. Musim panas, bertugas mengatur cahaya matahari. Musim gugur bertugas mengeringkan dedaunan dan menjaga masa panen. Malaikat Salju bertugas menurunkan salju. Aku juga memiliki teman malaikat salju dulu, namanya Snow."
Donghae mengangguk-angguk sambil tetap memperhatikan dengan antusias.
"Malaikat terkadang terbawa sifatnya sesuai jenisnya. Malaikat temanku, Snow itu, sesuai tugas dan namanya ia cukup pendiam dan kalem. Bisa dibilang sedikit dingin, tetapi kalau sudah kenal ia berubah lembut. Meski begitu senyumnya disebut 'killer smile' oleh para malaikat yeojya. Karena selain ia jarang sekali tersenyum, katanya senyumnya amat menawan."
Hyukjae tertawa pelan. Ia cukup rindu dengan temannya itu. Donghae sedang bertanya-tanya, mungkin karena Hyukjae adalah malaikat air maka ia terlihat kalem dan tenang.
"Ada juga malaikat pengawas. Mereka bertugas mengawasi bumi dan mengatur hubungan antara manusia. Menjaga garis kehidupan mereka. Aku juga memiliki seorang teman disina. Ia bernama Cloud. Orangnya cukup aneh, tapi ia cocok dengan pekerjaannya itu. Karena Cloud-hyung sangat perhatian kepada orang lain dan memiliki hati yang amat baik. Ia juga salah satu hyung yang dekat denganku selain Angel-hyung."
"Angel-hyung?" Tanya Donghae.
"Ah aku lupa bilang, nama malaikat Leeteuk-hyung adalah Angel-hyung."
"Oh begitu…"
"Diatas mereka, ada malaikat pengikat elemen. Yaitu malaikat yang bertugas mengendalikan empat elemen dasar. Hanya ada empat malaikat di tingkat ini, aku salah satunya. Malaikat api, malaikat tanah, malaikat angin, dan malaikat air, yaitu aku sendiri."
"Wah berarti posisi mu hebat sekali Hyukjae! Oh ya, apa malaikat memilih sendiri kemampuan khususnya?"
Hyukjae tersenyum dan memerah sedikit atas pujian Donghae. Dilain sisi ia juga sedikit terpikirkan, bagaimana ya ke tiga malaikat lain setelah ia pergi dari dunia langit?
"Tidak, malaikat diberkahi kekuatan sejak ia 'terlahir'. Saat usia mereka memasuki beberapa bulan, kemampuannya akan muncul sendiri. Dan dari situlah mereka dibimbing sesuai kemampuan masing-masing."
"Apa semua malaikat itu terlahir dari dua orang malaikat lain?"
Hyukjae terlihat berpikir sejenak, memilah yang akan dikatakannya sebelum kembali menjelaskan kepada Donghae.
"Tidak, memang ada malaikat yang sejati. Yang dimaksud adalah malaikat yang terlahir dari dua orang malaikat orang tuanya. Aku juga termasuk. Tetapi ada juga malaikat yang terlahir dari jiwa manusia yang telah mati. Tentu tidak sembarang manusia yang bisa menjadi malaikat, hanya manusia yang berjiwa amat bersih dan murni. Inilah tugas Teukie-hyung. Ia adalah malaikat tingkat tertinggi yang bertugas menghidupkan para malaikat baru ini. Begitu juga dengan seorang malaikat bernama Siwonest, ia pacar dari Snow."
"Apa hanya ada dua malaikat dengan tugas itu?"
"Ya, hanya mereka berdua saja."
Sekarang satu, karena Angel telah keluar dari dunia langit bersama Jewel.
Hyukjae tersenyum pilu pada satu kalimat yang tercipta di benaknya. Namun ia segera menghiraukannya.
"Para malaikat berada dibawah pengawasan dewan agung, merekalah yang mengatur para malaikat dibawah berkah dari Dewa. Dewan agung terdiri dari beberapa malaikat sesuai garis keturunan dewa. Mereka tidak memiliki kemampuan khusus, tetapi diberi wewenang yang tidak bisa dibantah oleh Teukie-hyung sekalipun."
"Ibaratnya Teukie-hyung adalah presiden sedangkan para dewan itu para mentrinya begitu?"
"Ya kira-kira begitulah. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
Sesaat wajah cerah Donghae berubah. Ia menatap Hyukjae dalam sebelum bertanya lagi.
"Ya, ini yang paling ingin kutanyakan. Kenapa… Kau dan Teukie-hyung ada di sini sekarang? Dan kenapa bersama Kyuhyun dan Kangin-hyung yang merupakan iblis?"
Air wajah Hyukjae berubah serius. Perasaan yang bercampur aduk tersirat dari matanya. Ia memejam sebentar sambil menghela napas, sebelum membukanya kembali dan tersenyum pilu kepada Donghae.
"Maaf, bisakah kau menunggu untuk mendapat jawabannya? Untuk saat ini, aku ingin melupakan hal itu," jawabnya tenang.
Donghae terdiam sebentar. Ia menangkap kesedihan dari suara Hyukjae. Ia tau bahwa namja itu tidak merasa tenang, dan entah mengapa ada sedikit ketakutan disana. Perlahan ia memeluk lengan Hyukjae erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Hyukjae.
"Tentu… Kau bisa memberitauku kapan saja kalau kau sudah siap. Lagipula kita akan terus bersama seperti ini kan," jawabnya tersenyum.
Hyukjae tersenyum. Namun sebuah pikiran mulai berkecamuk di otaknya. Mungkin ia tidak bisa terus seperti ini bersama Donghae. Ia tau tindakannya melarikan diri adalah sebuah kesalahan besar yang tidak bisa diterima di dunia langit. Cepat atau lambat, akan ada yang mengejarnya dan Angel. Mereka telah melanggar peraturan paling penting dunia langit. Angel telah menjalin kasih dengan seorang pangeran iblis, Camomile. Karena itulah mereka kabur dari dunia langit dan dunia akhir. Dan untuk memperparah keadaan, ia merasa hatinya telah menunjuk jalan hidupnya. Ia jatuh cinta. Jewel sang Knight of Heavens, juga salah satu malaikat pengikat elemen, telah jatuh cinta pada manusia berhati malaikat yang kini ada di sisinya…
.
.
.
-To Be Continued-
.
Gila… lucu baca cerita yang kubuat dulu sekali. Ini… Fluffy banget… #muntahpelangi
Chapter ini masih pengenalan juga sepertinya. Tapi semoga gak bosen. Ato diabetes. Astaga aku aja kaget bacanya ini bener-bener so sweet. Betapa labilnya aku waktu bikin ini rofl.
Dulu emang demennya cerita yang begini. Ringan-ringan gimana gitu. Konfliknya gak ribet dan diselesaikan dengan cliché. Entah itu hal bagus / buruk haha.
Update kilat karena… Kan aku udah bilang cerita ini sebenarnya udah jadi. Cuman tergantung moodku ya kapan mo ngepostnya muahahaha~ #evilkyulaughter
Sebenernya aku ngerasa ini updatenya jadi kecepetan, jadi kurang ada 'thrill' nya gitu kalau gak di bikin sedikit cliff hanger. Cuman aku ngerasa harus segera update paling ngga sampe chapter 2 ini. Biar menunjukkan ceritanya beda sama DHA. Kurang lebih gara-gara itu sih. Tapi mulai dari sini… Mungkin updatenya akan kuperlambat? Entahlah tergantung mood. Doakan saja aku tidak terlalu evil kkk~
Bales review dulu~
chen clouds : gomawo ~ ^^ . ya aku bakal berusaha meski mungkin ga sebanding kkk~
RianaClouds : gomawo~ ^^
AngeLeeteuk : ahaha begitulah. Ngga, ini gak kayak DHA karena aku cuma pake satu pairing utama. Aku cuma ambil plot awalnya aja. Jadi ini lebih kayak alur cerita utuh. Iya kayak Innocent Beast! gitu. Kyaa maaf kalau menunggu lama Innocent Beast! nya #bow #pundung.
Eun Byeol : memang Hyukjae super cheesy banget di cerita ini aduh aku sendiri bingung kenapa dia bisa jadi begitu kkk~
Cho Kyura : he is by having Hyukjae in all my stories #envy. Semoga udah ngerti ya kkk~
Arum Junnie : bukan kok tenang aja. Kan aku udah taro juga di pairingnya ini Kyumin kkk~
Haelicious : waduh kasian amat kkk~ gomawo~ xD . iya biru. Mengingat belum lama ini rambut dia biru, dan pas dengan jadi malaikat air. Ngomong-ngomong, bayanginnya modelnya jangan yang jamur ya. Entah kenapa aku kurang suka pas dia rambut jamur ahaha
shintasonelf : kkk~ itu nama panggilan fans mereka masing-masing aslinya :)
Mind to RnR? ^^
