Title : My Jewel Angel

Author : Kim Sun Ri

Genre : Romance, Fantasy, Drama, Family

Rating : T

Length : Chaptered

Disclaimer : This fict is mine, but the casts aren't

Warning : Yaoi, BoyXBoy, BL, AU, Cliché, OOC(?)

Pairing : Eunhae, Slight!Kangteuk, Slight!Kyumin.

.

Don't Like Don't Read!

Enjoy!

.

.:My Jewel Angel:.

.

Chapter 3

'Change of Heart'

.

Author's POV

"Donghae, Hyukjae!"

Hyukjae dan Donghae menghentikan obrolan santai pagi hari mereka dan menoleh kearah teman sekelas mereka yang memanggilnya. Namja manis itu, Ryeowook atau lebih akrab di sapa Wookie berdiri di tepi meja Hyukjae.

"Ada apa Wookie?" Tanya Hyukjae dengan senyuman khasnya.

"Ne, ne! Kalian dengar? Akan ada murid baru di kelas kita!" Seru Ryeowook bersemangat.

"Murid baru?" Donghae menaikkan satu alisnya.

"Iya, katanya namja," seorang teman sekelas lain, Zhoumi, bergabung dengan obrolan itu.

"Apakah tidak aneh pindah dalam waktu seperti ini?" Donghae kembali berujar.

"Memang sih, kami juga bingung," Zhoumi terlihat memasang pose berpikir.

"Semoga saja anaknya menyenangkan," Hyukjae tersenyum bersahabat.

Suara pintu dibuka menghentikan kegiatan ngobrol mereka. Ryeowook dan Zhoumi kembali ke bangku masing-masing, sementara Donghae tersenyum sesaat kepada Hyukjae sebelum menghadap depan lagi. Shindong-seonsaeng masuk kelas sambil diikuti seorang namja yang diyakini mereka sebagai murid baru itu. Namja tersebut lalu berdiri di depan kelas menatap murid lainnya, sebuah senyum mengembang diwajahnya.

"Annyeong! Junsu imnida! Aku pindah kesini karena sebuah urusan. Umurku 17 tahun"

Namja itu memperkenalkan dirinya dengan ramah. Suasana kelas mulai berisik karena murid-murid yang saling berbisik satu sama lain. Semua terlihat tertarik dengan murid baru bernama Junsu ini. Terutama seorang namja berambut biru yang kita kenal sebagai Lee Hyukjae. Meski begitu namja itu segera membuang pandangannya ketika mata Junsu hinggap padanya. Hyukjae menatap langit diluar jendela, tanpa menyadari sepasang mata itu kini sedikit menyeringai padanya.

"Semoga… Kita bisa berteman baik ya!" Seru Junsu.

Semua menjawab dengan bersahabat, meski tanpa disadari siapapun, kalimat itu bermakna lebih dalam. Kalimat tersebut ditujukan kepada seseorang yang lebih spesifik, bukan untuk seisi kelas…

.

.:My Jewel Angel:.

.

"Hyukjae, Donghae, ayo kita ke kantin!"

Suara Ryeowook mengalihkan perhatian keduanya. Terlihat ia sedang berdiri, kedua tangannya berada di balik tubuh kecilnya. Zhoumi dan anak baru bernama Junsu itu berdiri dibelakangnya. Hyukjae bertatapan dengan Junsu sebentar, sebelum memalingkan wajahnya ke Donghae.

"Baikla-"

"Maaf. Aku dan Donghae mau ke perpustakaan sebentar. Kalian duluan saja," Hyukjae memotong ucapan Donghae yang kemudian menatapnya heran.

Tanpa bicara lebih lanjut, Hyukjae bangkit dari bangkunya dan menarik tangan Donghae. Dengan sedikit tergesa-gesa mereka berjalan keluar kelas. Sepasang mata menatap kepergian mereka berdua dari dalam kelas seakan mengawasi.

"Ngomong-ngomong, kalian kenal Park Jungsoo?" Tanya Junsu pada Ryeowook dan Zhoumi.

"Ah, maksudmu Leeteuk-hyung?" Ryeowook balas bertanya.

"Ya kalau tidak salah dia," Jawab Junsu dengan senyuman.

"Dia kakak Hyukjae kan? Kenal sih tidak, tapi tau. Dia di kelas 3-A, bersama namjachingunya, Kim Youngwoon atau yang dipanggil Kangin. Kakak angkat Hyukjae juga," jawab Zhoumi lengkap.

"Oh begitu, terimakasih!" Junsu tersenyum sambil mengikuti Ryeowook dan Zhoumi keluar kelas menuju kantin.

"Memangnya ada apa kau menanyakan Leeteuk-hyung?" Ryeowook berujar lagi.

"Ani… Hanya ada sedikit urusan…" Junsu menjawab.

"Urusan yang sangat penting…" Tambahnya berbisik, hingga tidak terdengar oleh dua temannya yang berjalan lebih dulu. Seringaian kembali muncul di wajahnya.

.

.:My Jewel Angel:.

.

Hyukjae terus menarik pergelangan tangan Donghae. Ia bahkan melewati perpustakaan dan terus berjalan keatas tangga, menghiraukan pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulut lelaki yang diseret-seretnya.

Mereka sampai di atap sekolah. Setelah menutup rapat pintu atap, Hyukjae melepaskan pegangannya pada tangan Donghae dan duduk di bangku disana. Donghae dengan khawatir menyadari keanehan dari Hyukjae dan duduk di sampingnya.

"Kau kenapa?" Tanyanya heran.

"Anak baru itu… Aneh," jawab Hyukjae singkat, wajahnya penuh keseriusan.

"Junsu maksudmu? Kenapa?"

"Auranya sangat familier. Tetapi aku tidak mengenal wajah itu. Bahkan suaranya terdengar tidak asing di telingaku. Yang paling aneh, aku tidak bisa membaca hatinya sama sekali," terang Hyukjae.

"Hati?" Donghae menengglengkan kepalanya bingung.

"Ya, hati. Kami para malaikat bisa melihat hati seseorang. Dari situ kami tau apakah hatinya bersih ataupun kotor. Malaikat bisa melemah dan sekarat bila berdekatan dengan manusia yang hatinya amat kotor. Itulah mengapa waktu itu aku pingsan, dan itu jugalah alasan aku bisa melihat kekelaman di hatimu dulu," jelas Hyukjae.

"Oh begitu… Apa hatiku kotor, Hyukjae?" Tanya Donghae polos.

Hyukjae menatapnya. Ia mengusap lembut rambut Donghae dan tertawa pelan.

"Aniyo. Tentu tidak Pabbo. Kalau hatimu kotor aku sudah mati karena sedekat ini denganmu. Nyatanya hatimu itu sangat bersih, aku bahkan meragukanmu sebagai manusia," tawa Hyukjae.

Donghae tersipu malu. Senyuman malaikat khas terkembang diwajahnya.

"Lalu kenapa kau khawatir dengan Junsu itu?"

"Seperti yang kubilang, aku tidak bisa membaca hatinya sama sekali. Bahkan tidak bisa tau apakah bersih atau kotor. Kurasa tidak kotor karena aku tidak merasa pusing didekatnya tadi. Tapi seakan-akan ia telah mengunci hatinya agar tidak terlihat."

"Apakah itu bisa dilakukan?"

"Entahlah… Kalau aku tau aku tidak akan sebingung ini."

"Kenapa kau bingung?"

Hyukjae terhenyak sesaat. Ia rasa ini sudah waktunya untuk memberitau Donghae. Ia tidak bisa terus-terusan menutupi keadaan keluarganya pada Donghae yang mungkin akan terlibat jauh nantinya. Bisa saja ia meninggalkan Donghae agar namja itu tidak terlibat. Namun ia tidak mau melepasnya, ia tidak bisa melepas Donghae dari hidupnya.

"Donghae… Kemarilah."

Ujarnya lagi mengulurkan tangannya. Donghae menerimanya tanpa keraguan sedikitpun. Dengan satu gerakan lembut Hyukjae menarik Donghae kedalam pelukannya. Ia menyandarkan kepala Donghae di dadanya, memeluk pinggang lelaki itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengelus penuh sayang kepala Donghae.

"H-Hyukjae…?" Bisik Donghae agak terbata.

"Kumohon… Setelah kuberitau ini, jangan tinggalkan aku," lirih Hyukjae.

Donghae hanya mengangguk perlahan. Ia tidak tau mengapa Hyukjae berpikiran bahwa ia akan meninggalkannya setelah ini.

"Kau tau…? Meski aku seorang malaikat, bukan berarti aku akan membawa keberuntungan dalam hidupmu…"

Hyukjae menarik napas panjang sebelum kembali berbicara.

"Aku, Teukie-hyung, Kangin-hyung, dan Kyuhyun kemarin karena sebuah alasan. Kami melarikan diri dari tempat asal kami. Di dunia langit, ada sebuah peraturan penting. Teukie-hyung-, aniKami berdua telah melanggarnya…"

Donghae terlihat sedikit kaget. Namun ia tetap mendengarkan. Sebagian hatinya bertanya kenapa Hyukjae mengganti kalimatnya di akhir tadi.

"Peraturan dunia langit melarang seorang malaikat untuk jatuh cinta dengan sosok yang berbeda. Teukie-hyung melanggarnya. Ia jatuh cinta pada Kangin-hyung, yang adalah seorang iblis. Karena itu mereka memutuskan untuk lari dari tempat masing-masing. Aku dan Kyuhyun mengikuti mereka…"

"Kalian melarikan diri?"

"Ya… Karena itu suatu hari pasti akan ada yang mengejar kami, untuk menghukum kami atas pelanggaran yang kami buat. Melarikan diri juga merupakan sebuah pelanggaran. Dengan begitu, dengan adanya kau di dekatku, ada kemungkinan kau juga akan tertarik dalam masalah ini, Lee Donghae. Kau bisa mengatakan, kami adalah kriminal yang diburu. Dan yang berdekatan dengan kriminal juga bisa terbawa masalah."

"Karena itu kau mengira aku akan menjauhimu? Apa dengan itu aku bisa terbebas dari masalah menurutmu?"

Hyukjae menarik napasnya. Donghae menatap kedua mata Hyukjae dengan berbagai makna yang mendalam.

"Ya, kalau kau tidak ada di dekatku, kau tidak akan terbawa lebih jauh dalam ini. Kau bisa hidup normal dan bahagia, Hae…"

Hyukjae membuang keegoisannya jauh-jauh. Meski ia tidak ingin berpisah dengan Donghae, ia masih memiliki hati malaikatnya untuk tidak membawa orang yang dikasihinya serta kedalam masalah. Ia mengendurkan pelukannya pada Donghae. Meski hatinya menjerit dengan jelas menolak melepaskannya.

Namun sebaliknya, Donghae merapatkan dirinya pada Hyukjae. Ia menatap Hyukjae serius.

"Kau bodoh? Bagaimana bisa aku hidup normal apalagi bahagia tanpamu, Hyukjae. Masa bodoh dengan hukumanmu itu. Aku ingin tetap bersamamu dan aku tidak menerima penolakan, Lee Hyukjae," tegasnya.

Hyukjae terhenyak dengan jawaban itu. Ia sama sekali tidak mengira jawaban itu yang akan keluar dari mulut Donghae. Namun saat itu juga kelegaan yang tak terlukiskan menyelimuti hatinya. Malaikat itu kembali mempererat pelukannya pada Donghae. Ditenggelamkannya wajahnya ke helaian rambut brunette Donghae.

"Kurasa aku memang telah melanggar peraturan itu juga…" Gumamnya amat pelan.

"Kau bilang apa?" Tanya Donghae tidak mendengar gumamannya.

"Tidak…"

Hyukjae lalu kembali duduk dan menatap Donghae serius. Ia teringat kembali alasan awalnya menceritakan ini semua kepada Donghae.

"Junsu itu… Aku curiga padanya. Mungkin dia ada hubungannya dengan dunia langit. Mungkin ia adalah seorang yang ditugaskan mengejar kami. Aku tidak yakin, tapi aku merasa mengenalnya. Mungkin ia adalah seorang yang pernah kutemui diatas sana. Karna itu mulai sekarang jangan jauh-jauh dariku, arra?" Peringatnya.

"Arraseo" Jawab Donghae tersenyum dan mengangguk.

Sebenarnya, Hyukjae tidak hanya merasa mengenal orang itu. Junsu mengingatnya pada seseorang. Seseorang yang dulu amat dekat dengannya. Segalanya, kecuali wajah Junsu amat terasa familier bagi Hyukjae. Ia memejamkan matanya mengenang sesuatu yang sudah berlalu cukup lama…

.

.

"Jewel! Hey Jewel!"

Panggil seorang bocah kecil bersayap putih lembut sambil berlari kearahnya. Bocah satu lagi yang dipanggil menoleh kearahnya.

"Panggil aku dengan sopan! Berapa kali aku harus memberitaumu."

"Huh kau pelit. Kita kan hanya berbeda beberapa bulan. Sesukamulah, Jewel-hyung."

"nim. Panggil aku Jewel-hyungnim," ujar Jewel sambil mengulaskan cengirannya.

"Ne, ne Jewel-hyungnim. Puas?" Bocah itu hanya memutar bola matanya.

"Lebih baik," Jewel tertawa kecil.

"Jewel-hyungnim! Aku ditempatkan di tingkat yang sama denganmu!" Seru bocah itu riang.

"Jinjja?" Balas Jewel sama antusiasnya.

"Ne! Bagus kan! Dengan begitu kita akan bisa menjadi hebat bersama!"

Jewel mengangguk dengan sangat semangat. Ia lalu menatap dengan pandangan menerawang dan antusias.

"Suatu hari aku pasti bisa menjadi malaikat hebat dan melindungi Angel-hyung!" Seru Jewel.

"Kau begitu kagum padanya ya hyungnim?"

"Ne! Angel-hyung begitu hebat! Ia juga penuh kasih sayang, seperti umma saja. Aku ingin mengabdi padanya!" Jewel memancarkan antusiasme di mata kecilnya.

"Kalau begitu aku juga!" Bocah itu ikut berteriak riang.

"Kita bersama ya melindungi Angel-hyung!"

"Ne! Pastinya!" Bocah itu menyetujui.

Keduanya saling berpandangan dengan senyuman lebar menghiasi wajah. Kepolosan terpancar di matanya, namun ketulusan dan ketetapan hati yang kuat terlihat jelas disitu…

.

.

.:My Jewel Angel:.

.

"Ada apa Hyukkie-hyung mengajak kami berkumpul? Tumben. Hae-hyung juga sampai ikut."

Kyuhyun memulai saat mereka berenam, Leeteuk, Kangin, Hyukjae, Donghae, Sungmin dan dirinya duduk di ruang tamu apartemen pada sore harinya. Sungmin juga telah mengetahui jati diri mereka semua. Rupanya teman seangkatan Hyukjae dan Donghae itu telah dekat dengan Kyuhyun.

"Aku ingin memperingati kalian semua. Kuajak Sungmin karena kurasa ia juga perlu mengetahui masalah ini. Kyu, apa kau telah memberitau Sungmin alasan kita ada disini?" Hyukjae bertanya.

"Sudah. Soal Teukie-hyung dan Youngwoon-hyung dan peraturan itu kan?" Sungmin yang menjawab.

"Ne, benar. Karena itu sekali lagi kuingatkan, kita ini pastinya akan dikejar suatu hari nanti," Hyukjae berucap serius.

"Kami tau itu Hyukjae, sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" Kangin memastikan.

"Apa ini ada hubungannya dengan Junsu, Hyukkie-ah?"

Hyukjae tersentak dengan pertanyaan Leeteuk. Ia segera menoleh kearahnya dengan pandangan mata bagaimana-kau-tau nya.

"Junsu? Murid baru dikelas Hyukjae dan Donghae?" Tanya Sungmin.

"Ne. Kurasa Hyukkie juga sudah menangkap sesuatu yang aneh darinya bukan? Kau juga pasti tidak bisa membaca hatinya. Dan aku merasa… Anak itu agak familier. Kemarin aku menangkapnya sedang melihat kearahku di kantin. Meski tidak mengenal wajahnya, bisa saja dia menggunakan kekuatan malaikat untuk mengubahnya," terang Leeteuk.

Donghae menatap Hyukjae dengan pandangan apa-kau-mengubah-wajahmu. Hyukjae tertawa pelan dan menggeleng, mengerti isi pikiran Donghae sebelum kembali membawanya dalam pelukan hangat.

"Meski tidak mengenal wajahnya, aku yakin aku pernah mengenalnya hyung. Karena itu aku takut ia akan bergerak tiba-tiba. Sebaiknya kita waspada mulai dari sekarang. Sungmin, untuk sementara waktu apa kau bisa menginap disini? Aku ingin kau aman dan Kyuhyun bisa menjagamu," tanya Hyukjae berubah serius kembali.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya kearah Sungmin.

"Kurasa bisa. Kebetulan kedua orang tuaku sedang pergi keluar negri untuk beberapa bulan ini, aku jadi sendirian di rumahku," jawab Sungmin tersenyum kearah Kyuhyun.

"Baiklah kalau begitu sudah diputuskan," Hyukjae balas tersenyum ramah.

"Kau tidak mengajakku?" Tanya Donghae polos.

"Tanpa persetujuanmu pun aku akan menyeretmu kesini," jawab Hyukjae santai.

"Ya! Dasar monyet kepala biru!" Omel Donghae sambil cemberut.

Yang lain tertawa melihat tingkah kedua orang itu. Sementara Hyukjae hanya tertawa sambil melindungi kepalanya dari jitakan ikan Mokpo yang sedang merajuk.

.

.:My Jewel Angel:.

.

Suasana rumah sepi. Leeteuk dan Kangin sedang keluar untuk berbelanja ke supermarket sebentar. Donghae dan Sungmin duduk diruang tamu sambil menonton televisi, sedangkan Hyukjae sedang membantu Kyuhyun membereskan kamar evil magnae itu yang kelewat berantakan untuk dihuni bersama Sungmin nantinya.

"Hae-ah, bagaimana hubunganmu dengan Hyukjae?" Tanya Sungmin sambil memakan kripik kentang.

"N-ne?" Donghae terlihat sedikit terkejut.

"Kau mendengarku~" Sungmin tertawa pelan.

Donghae langsung menunduk sambil memainkan jemari tangannya. Terlihat wajahnya memerah dan ia menjadi grogi. Sungmin hanya bisa tertawa gemas melihat tingkah lakunya itu.

"B-biasa saja… Tidak ada hal spesial bagaimana…" Jawabnya pelan.

"Tapi kau menyukainya kan?" Lebih seperti pernyataan dibanding pertanyaan.

Donghae hanya mengangguk pelan malu-malu. Matanya terus menatap kearah kedua jemari tangannya. Entah apa yang menarik dari itu.

"Hyung sendiri, hyung pacaran dengan Kyuhyun?" Donghae berujar.

"Ne. Baru saja beberapa hari lalu," jawab Sungmin santai.

"Umm… B-bagaimana K-kyuhyun mengatakannya?" Donghae terbata sedikit karena malu.

"Mengatakan apa?"

"Mm… Mengajak hyung untuk…"

"Berpacaran? Ani bukan Kyuhyun yang mengajak, tetapi aku yang mengatakannya," Sungmin tertawa pelan.

"Mwo? Jinjja?"

"Ne. Apa ada yang salah dengan itu?" Sungmin menatap Donghae.

Donghae buru-buru menggeleng kuat sambil balas menatap Sungmin.

"Ani! Malah menurutku hyung hebat sekali bisa berani seperti itu," jawabnya.

Sungmin tertawa lalu menepuk-nepuk pelan rambut Donghae. Lalu sesuatu terlintas dipikirannya.

"Ngomong-ngomong, kenapa sekarang kau masih memanggilnya 'Hyukjae'?" Tanya Sungmin.

"Itu karena dulu aku pernah meminta memanggilnya Hyukkie, tapi ia melarangku," jawab Donghae lalu menduduk sedih sedikit.

"Memangnya kapan?"

"Pas pertama kami bertemu…"

"Mwo? Itu sih sudah lama!" Sungmin terlihat terkejut.

"Tapi sejak itu ia tidak pernah memintaku memanggilnya begitu…"

"Memang kamu pernah mencoba?"

Donghae terlihat terhenyak seperti tersadar. Ia lalu menatap Sungmin polos dan menggeleng pelan.

"Belum sih…" Jawabnya.

"Cobalah! Aku yakin ia juga akan senang," usul Sungmin.

Donghae mengangguk pelan dengan wajah memerah.

.

.:My Jewel Angel:.

.

"Minnie ayo tidur~"

Kyuhyun terlihat sedang menarik-narik lengan Sungmin pelan. Anak evil itu langsung jinak kalau berhadapan dengan Sungmin, begitu pikir Hyukjae. Ia tertawa pelan saat melihat Sungmin menghela napasnya pelan sebelum menuntun Kyuhyun kedalam kamar Kyuhyun sendiri. Ia lalu kembali melihat kearah televisi, duduk di sofa bersama Kangin dan Leeteuk.

"Hyukkie," panggil Leeteuk.

"Ne, hyung?"

"Apa kau mengenal Junsu itu?" Tanya Leeteuk tanpa basa basi.

Sesaat Hyukjae menegang. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada Leeteuk dan menatap hyungnya itu.

"Aku belum yakin, tapi kurasa iya," jawab Hyukjae, yang entah kenapa tersenyum miris.

Kangin mengangkat sebelah alisnya lalu menatap Leeteuk heran. Leeteuk tersenyum menenangkan Kangin sebelum kembali menatap Hyukjae.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Leeteuk lagi.

"Jika memang Junsu adalah orang yang kukira… Aku… Kecewa. Tapi aku akan tetap melindungimu hyung. Kau bisa pegang sumpahku," jawab Hyukjae tanpa keraguan.

"Aku tidak pernah sekalipun meragukan kesetiaanmu, Hyukkie. Aku hanya ingin tau apakah kau baik-baik saja," Leeteuk tersenyum menenangkan dongsaengnya itu.

Hyukjae terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Bohong bila ia berkata ia tidak apa-apa. Andaikan Junsu benar adalah orang yang dikenalnya itu, ia tidak tau bagaimana harus menghadapinya. Benar, ia akan melindungi keluarganya. Tapi tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya untuk melawan ataupun melukai malaikat yang satu itu.

Ditengah keheningan itu, tiba-tiba Hyukjae merasakan lengan piyamanya ditarik perlahan. Ia menoleh dan mendapati Donghae menggenggam lengan baju nya, sementara sebelah tangannya mengusap matanya. Seketika itu juga rasa bimbangnya hilang. Ia tersenyum lebar dan bangkit berdiri sambil mengusap pelan rambut Donghae.

"Hyungdeul, aku tidur dulu ya," pamitnya.

"Ne, selamat malam Hyukjae, Donghae," kali ini Kangin yang menjawab sambil tersenyum.

Segera setelah sosok Hyukjae dan Donghae menghilang dari balik pintu, wajah Leeteuk berubah sendu. Ia menghela napasnya panjang.

"Chagi, waeyo?" Tanya Kangin khawatir.

"Youngwoon-ah… Aku merasa… bersalah," Leeteuk memilih kata yang ia maksud.

"Kenapa?"

"Kalau bukan karena aku… Hyukkie mungkin masih ada di dunia langit. Tidak dikejar-kejar dan hidup tenang. Ia malaikat yang hebat," jawab Leeteuk berkaca-kaca.

Kangin menarik Leeteuk dalam pelukannya, lalu mengusap lembut punggung pangeran malaikat yang rapuh itu.

"Itu bukan salahmu. Hyukjae sendiri kan yang memilih jalan ini? Lagipula ia bahagia sekarang. Kalau ia tidak turun kesini, ia tidak akan bertemu Donghae. Dan aku tau ia tidak akan suka itu. Ia juga tidak menyesali perbuatannya. Ia hanya terlalu baik hati, tidak mau melawan orang itu," Kangin menenangkan.

"Tapi… tapi…"

"Dan ia tidak akan memiliki hyung sebaik dirimu, dongsaeng se-evil Kyuhyun, dan keluarga sehangat kita sekarang," selesai Kangin dengan senyuman lembut.

Kata-kata itu cukup untuk menghilangkan penyesalan Leeteuk. Ia mengusap air mata yang akan keluar dari sudut matanya dan tersenyum menunjukkan lesung pipinya yang manis.

"Kurasa begitu…"

.

.:My Jewel Angel:.

.

Seminggu telah berlalu sejak hari itu. Orang yang mereka curigai, Junsu, belum melakukan apapun. Tanpa mereka sadari penjagaan mereka melonggar. Namun justru saat seperti inilah yang ditunggu-tunggu olehnya.

Donghae sedang berada di danau favoritnya, danau yang menjadi tempatnya dan Hyukjae bermain hari itu. Sementara Hyukjae sedang meninggalkannya ke toko sebentar untuk membelikan mereka makan siang. Leeteuk, Kangin, Kyuhyun dan Sungmin sedang ada di apartemen, hanya menghabiskan waktu mereka.

Hyukjae baru selesai membeli makanan, kedua tangannya menenteng kantung berwarna putih. Senyuman mengembang diwajahnya, saat ia mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Ia menoleh dan mendapati Kangin serta Sungmin berlari kearahnya.

"Hyungdeul, waeyo?" Tanyanya.

"Hyukjae! Mana Donghae?" Seru Kangin sambil mengatur nafasnya.

"Donghae masih di danau, aku baru mau menjemputnya. Kenapa?" Hyukjae mulai menyadari gelagat aneh mereka.

"Aku dan Kyuhyun merasakan hawa malaikat lain! Donghae mungkin dalam keadaan bahaya!" Seru Kangin.

"Benar! Aku juga mendengar dari temanku kemarin Xiah Junsu menanya-nanyakan soal Donghae!" Tambah Sungmin.

Mendengar nama dua orang itu, Hyukjae langsung tegang. Ia melepaskan kedua pegangannya pada kantung belanjaannya dan menarik tangan Sungmin kasar.

"Apa kau bilang tadi hyung?!" Serunya tanpa sadar.

"Junsu menanyakan soal Donghae?" Sungmin menjawab sambil sedikit kaget dengan seruan Hyukjae.

"Bukan itu! Nama lengkap Junsu tadi!" Lagi-lagi Hyukjae tak bisa mengontrol sikapnya.

"Xiah Junsu…?" Ulang Sungmin.

"Brengsek… Dia…!"

Hyukjae segera melepaskan cengkramannya pada Sungmin, menghiraukan tatapan bingung dari kedua hyungnya. Ia lalu menarik mereka berdua ke sebuah gang yang sepi dan kosong. Setelah memastikan tidak ada yang melihat, ia memejam dan sepasang sayap menghempas dari punggungnya. Sungmin terlihat sedikit kagum karena ini pertama kalinya ia melihat sayap malaikat itu.

"Hyung aku pergi ke tempat Donghae dulu! Apa pangeran baik-baik saja?" Tanyanya.

"Sudah kusuruh Kyuhyun menjaganya. Kau tenanglah dan pergi ke tempat Donghae," jawab Kangin disertai anggukan Hyukjae.

Saat ia akan terbang pergi, Kangin menahan tangannya dan ia menoleh.

"Jaga dirimu sendiri, Hyukjae," ucap Kangin penuh kesungguhan.

Senyuman tulus mengembang di wajah Hyukjae. Ia mengangguk dan segera mengepakkan kedua sayap putihnya menuju tempat orang yang paling berarti baginya.

.

.:My Jewel Angel:.

.

"JAUHKAN TANGANMU DARINYA, JUNSU!"

Teriak Hyukjae saat ia tiba di danau, melihat Junsu menahan leher Donghae kepada sebuah pohon. Sepasang sayap putih serupa dengan milik Hyukjae ada di punggung Junsu. Namja itu tersenyum sebelum melepaskan cengkramannya, membiarkan Donghae merosot terduduk sambil mengambil udara sebanyak-banyaknya.

"Ah, kau datang juga. Sudah kuduga kalau aku mengincar anak ini kau pasti akan datang."

Junsu berucap santai dan berjalan menjauhi Donghae. Wajahnya mengeluarkan senyuman manis yang sama sekali tidak menggambarkan isi hatinya. Dengan cepat Hyukjae tiba di sisi Donghae, membantunya duduk dan memastikan ia baik-baik saja.

"Tenanglah sedikit. Aku tidak ada niatan membunuhnya, Jewel. Ah atau kau lebih suka aku memanggilmu Hyukkie disini?" Junsu kembali tersenyum manis menatap Hyukjae.

Donghae sedikit menegang. Bukan, bukan karena ia baru bisa bernapas lega. Namun karena nama panggilan yang Junsu gunakan pada Hyukjae, dan Hyukjae tidak terlihat keberatan sama sekali.

Hyukjae mengelus pelan rambut Donghae dengan penuh rasa khawatir dan sayang, sebelum bangkit berdiri dan menatap nanar Junsu yang seolah tersenyum tak berdosa di hadapannya.

"Aku tidak percaya kau melakukan ini, Junsu… Ah tidak. Xiatic," geramnya.

"Pintar sekali akhirnya kau menyadari siapa aku," Junsu tersenyum manis.

Ia mengusapkan tangan kanannya pada wajahnya. Saat itu juga wajahnya berubah menghilangkan penyamarannya selama ini. Sebuah wajah yang sangat dikenal Hyukjae kini berdiri di hadapannya. Namun wajah itu menampilkan perasaan yang sama sekali lain dengan Xiatic yang dikenalnya sejak dulu.

"Aku disini untuk menangkapmu, Jewel, Knight of Heavens. Juga Angel, pangeran dunia langit kepada para dewan," mendadak wajah Junsu berubah tegas dan datar.

"Aku tidak akan pernah kau tangkap. Apalagi kau telah menyakiti Donghae," jawab Hyukjae sama tegasnya.

"Kau sudah berubah sekarang Jewel," Junsu menatap Donghae dengan sorot mata yang tidak bisa ditebak.

"Aku tidak pernah berubah. Kaulah yang berubah, Xiatic. Kau benar-benar telah berubah. Kau melupakan dirimu yang dulu. Kau bukan lagi Xiatic yang kukenal," jawab Hyukjae dengan senyuman sendu.

Detik itu juga, Junsu mengeluarkan pedangnya. Pedang serupa dengan milik Hyukjae, hanya berbeda sedikit ukiran pada gagangnya dan berwarna merah. Tangan Hyukjae menyala dan mengeluarkan pedangnya. Donghae hanya bisa menatap kedua malaikat di hadapannya sambil berlindung di balik pohon terdekat. Tidak pernah ia mengetahui Hyukjae memiliki pedang, apalagi bertarung. Yang ia tau Hyukjae hanyalah malaikat air biasa.

*Trang!*

Kedua pedang beradu keras. Hitungan berikutnya keduanya sudah melompat mundur dan kembali berpijak pada rerumputan. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan intens. Tak ada yang berniat mengalah pada pertarungan ini.

Saat keduanya maju kembali, dentingan demi dentingan pedang terdengar menghiasi sunyinya hembusan angin. Itu terus berlangsung dengan seimbang. Tebasan demi tebasan keluar ditujukan untuk lawannya, namun belum ada yang berhasil menorehkan luka. Kekuatan mereka seimbang, bahkan nyaris sama persis.

"Hentikan ini, Xiatic!" Teriak Hyukjae sambil mengayunkan pedangnya.

Junsu menghalau tebasan itu diatas kepalanya. Kedua pedang berderit keras. Ia menghentakkan keras pedangnya, membuat Hyukjae terpental beberapa meter. Hyukjae mendarat dengan mulus dengan kedua kakinya. Sayapnya mengepak pelan.

"Kenapa harus kuhentikan? Ini tugasku. Kau takut denganku, Jewel?" Jawab Junsu datar.

Hyukjae tidak menjawabnya. Ia hanya terdiam menatap Junsu. Tidak ada rasa takut pada sorot mata itu. Juga bukan rasa marah. Yang ada adalah kekecewaan. Junsu menangkap sorot mata itu namun ia berusaha tidak menghiraukannya. Ia mengangkat pedangnya secara datar ke atas langit di depan wajahnya. Ia meletakkan tangan kirinya pada sisi pedang itu. Perlahan lidah api menyelimuti pedang tersebut.

Hyukjae melakukan hal serupa, namun air lah yang menyelubungi pedangnya. Angin berhembus di sekitar kedua orang itu. Tekanan memberat, rambut mereka mengayun akibat terpaan angin. Disaat keduanya membuka mata, api dan air saling menghantam dengan keras. Keduanya menahan pedang mereka dengan sekuat tenaga. Mereka memejamkan mata mereka mengerahkan segala kemampuan elemen yang dimiliki. Api dan air itu membesar mendorong satu sama lain, tidak ada yang mau mengalah.

Meski begitu pikiran Hyukjae berkecamuk. Tidak pernah sekalipun ia menyerang Junsu dengan tekad bulat. Ia tidak mau membayangkan Junsu benar-benar terluka karena dirinya. Hatinya lagi-lagi melarangnya untuk menyakiti malaikat itu.

Jewel-hyungnim~!

Suara Xiatic kecil dipikiran Hyukjae membuyarkan konsentrasinya. Saat itu juga serangan api Junsu mendorong hingga habis air yang ada, dan menghantam Hyukjae keras. Hyukjae terpental terkena serangan telak hingga punggungnya menabrak pohon yang berada 5 meter di belakangnya. Ia mengeluarkan erangan kesakitan saat sayapnya tergores dahan pohon.

Donghae hampir berteriak melihat kejadian itu. Kalau saja Junsu tidak segera berlari kearahnya dan menggores lengannya, ia pasti sudah berlari kearah Hyukjae. Donghae benar-benar menjerit sekarang. Lengan kirinya tertoreh luka baret sepanjang 5 sentimeter dari pedang Junsu. Anehnya luka tersebut tidak dalam dan berbahaya.

Namun jeritan Donghae cukup untuk menyadarkan Hyukjae dan melihat kearah mereka. Ia melihat darah mengalir dari lengan Donghae, dan menempel pada ujung pedang Junsu. Itu sudah cukup untuk membuang kebimbangan yang ada sebelumnya.

Dengan kecepatan yang hampir mustahil, malaikat itu mengepakkan sayapnya dan segera menghantam pedang Junsu keras dengan pedangnya. Pedang Junsu terpental cukup jauh dan menancap pada tanah 10 meter dari tempat itu. Junsu dengan cepat mengeluarkan api dari tangan kirinya kearah Hyukjae yang segera dipadamkan dengan air Hyukjae.

Tiba-tiba air danau di belakang mereka 'mengikat' tubuh Junsu dengan tali-tali air transparan, memadamkan api itu. Hyukjae menatap malaikat yang terikat di hadapannya dengan sejuta perasaan berkecamuk. Sesaat ia membiarkan air yang ia kendalikan tersebut menahan Junsu, lalu berbalik kearah Donghae. Ia membersihkan darah di lengan Donghae dengan airnya perlahan, membekukan lukanya sebelum kembali menatap Junsu.

"Menyerahlah, Xiatic," ujarnya menghunuskan pedangnya kearah Junsu.

Junsu hanya terdiam menatap pedang itu, sama sekali tidak memberontak karena ia tau itu sia-sia. Tenaga Hyukjae sebenarnya jauh diatas dirinya dan ia tau itu.

"Kumohon, menyerahlah… Tinggalkan kami dan pangeran," kali ini suara Hyukjae terdengar parau, memohon dan putus asa.

Hyukjae menatap Junsu dengan amat sendu. Junsu tidak mengatakan apa-apa. Hyukjae lalu menggenggam erat pedangnya, membulatkan tekad untuk mengakhiri ini meski ia harus membunuh orang dihadapannya sekalipun.

"Maafkan aku, Xiatic."

*Brak!*

*Jleb*

Ikatan air di tubuh Junsu menghilang seiring dengan Hyukjae menerjang tubuh itu sambil menghunuskan pedangnya. Keduanya terjatuh karena dorongan itu. Junsu berbaring di rerumputan, sedang Hyukjae diatasnya. Kedua lutut Hyukjae menumpu dikedua sisi tubuh bagian perut Junsu membuatnya berlutut diatas Junsu. Junsu memejamkan matanya, mengira riwayatnya akan habis saat itu juga.

5 detik berlalu dalam posisi seperti itu. Waktu yang cukup bagi Junsu untuk menyadari ia tidak merasakan rasa sakit apapun. Lalu ia merasakan sesuatu yang hangat menetes mengenai wajahnya. Ia membuka matanya. Bukan, bukan darah. Melainkan air mata. Ia menyadari pedang Hyukjae meleset sedikit dari kepalanya, menghujam tanah disampingnya dan memotong sedikit rambutnya.

Ia menatap namja diatasnya. Hyukjae menunduk. Air mata terlihat keluar di matanya yang sendu. Apapun yang ia berusaha katakan di hatinya, tubuhnya menolak untuk membunuh malaikat yang kini ada di bawahnya tanpa bisa melawan.

"Bahkan sampai sekarang kau masih tidak bisa membunuhku?" Tanya Junsu.

Isakan Hyukjae terdengar mengeras. Tangan kanannya menumpu berat tubuhnya pada genggaman pedangnya. Tangan kirinya mengepal disisi tubuhnya dengan amat keras.

"Kau selalu saja cengeng, Jewel."

.

.

"Kau akan turun bersama Angel-hyung?! Apa kau gila?!" Seru Xiatic menatap sahabatnya.

Jewel hanya mengangguk, menatap mata malaikat di hadapannya.

"Kau bodoh, Jewel-hyungnim! Kau meninggalkan apa yang telah kau capai sekarang! Kau adalah malaikat terhormat dengan kemampuan hebat! Untuk apa kau mengikuti nya dan membuang segala yang kau miliki?! Ia mencintai iblis!"

"Aku tidak membutuhkan kehormatan ini. Aku telah bersumpah melindungi Angel-hyung, dan itulah yang akan kulakukan. Tidak ada yang salah dengan mencintai, sekalipun ia mencintai iblis. Hatinya telah mengatakan itu, tidak ada yang bisa kulakukan untuk melarangnya, apalagi menghakiminya. Hati tidak pernah salah, Xiatic," jawab Jewel tenang.

"Kau gila! Bukankah dulu kau yang mencari apa yang telah kau capai sekarang?!"

"Kau tidak mengerti. Yang kucari adalah menjadi sepertinya, memiliki kasih sayang dan mengikuti kata hatinya yang bebas. Bukan kehormatan semata. Dan kini hatiku mengatakan untuk mengikutinya turun. Ada sesuatu yang memanggilku dari bawah sana, dan aku akan mencarinya."

"Terserah kau! Aku tidak peduli seandainya kau mati dihukum sekalipun nantinya! Bila itu diperlukan, akulah yang akan menyeretmu kembali kesini, Jewel-hyungnim. Ani, malaikat penghianat, Jewel."

Jewel merasa tersakiti mendengar panggilan baru oleh sahabatnya itu. Ia bahkan ragu apakah ia masih boleh mengakui diri sebagai sahabat orang didepannya. Namun ia hanya tersenyum lirih sambil berbalik meninggalkannya, mengucapkan kata-kata terakhirnya dengan pelan.

"Kau berubah, Xiatic… Kau telah membuang hati tulusmu saat kita berangan-angan dulu… Sejak kau diangkat menjadi malaikat tinggi, kau telah berubah…"

.

.

Akhirnya sebuah senyuman mengembang di wajah asli Junsu. Senyuman yang sudah amat lama tidak dilihat oleh Hyukjae.

"Kau benar, Jewel-hyungnim. Kau sama sekali tidak berubah sejak dulu. Akulah yang berubah termakan kehormatan," air mata juga mengalir dari sudut mata Junsu.

Hyukjae mengangkat wajahnya. Ia mengusap air matanya dengan tangan kirinya, dan melihat sahabatnya telah kembali. Sahabatnya tersenyum polos seperti yang terakhir ia lihat bertahun lalu, sejak mereka bersama-sama diangkat menjadi malaikat pengikat elemen. Senyumannya terlihat begitu hangat meski air mata menghiasinya.

"Maafkan aku, apa aku bisa menarik kembali kata-kataku hari ini dan hari itu? Apa aku bisa mengikuti langkahmu melindungi pangeran dan mengikuti kata hatiku, Jewel-hyungnim?" Bisiknya lirih.

Hyukjae mengangguk keras. Ia menyingkirkan pedang yang menancap di samping mereka kembali menjadi cahaya. Ia mencengkeram lemah kedua bahu Junsu di bawahnya.

"Seharusnya kau katakan itu dari dulu, malaikat bodoh," gumamnya kembali menangis.

.

.:My Jewel Angel:.

.

Di apartemen mereka, terlihat seorang malaikat pengikat elemen api sedang berlutut dihadapan seorang malaikat yang paling dewasa. Ia menundukkan kepalanya bersungguh-sungguh.

"Aku Xiatic, malaikat pengikat elemen api. Izinkan aku mengabdi padamu, pangeran!" Serunya tanpa keraguan.

Leeteuk terlihat bingung. Terlebih lagi Kangin, Kyuhyun, dan Sungmin di belakangnya. Ia lalu menoleh kearah Hyukjae yang merangkul Donghae. Hyukjae hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Aku menolak," ujar Leeteuk singkat.

Junsu terlihat kaget, ia lalu menoleh kearah Leeteuk bingung. Wajah Leeteuk terlihat meneliti Junsu sebentar. Setelah menemukan kesungguhan yang ia cari, ia tersenyum amat lembut.

"Aku bukan pangeran sekarang. Aku tidak lagi menerima orang untuk menjadi pelindungku. Namun aku membuka keluargaku untukmu, Xiah Junsu," ujarnya sambil tersenyum.

Junsu tersentak. Ia tiba-tiba merasakan perasaan hangat menyelimuti dirinya. Perasaan yang sudah amat lama hilang darinya, sejak ia diangkat menjadi malaikat pengikat. Sesuatu yang terlalu lama ia tinggalkan dan ia buang. Ia tersenyum polos.

"Gomawo, hyung…"

.

.:My Jewel Angel:.

.

Donghae sedang duduk sendiri di beranda apartemen mereka, menatap langit malam. Ia masih kaget dengan peristiwa hari ini. Takut saat melihat Hyukjae bertarung dihadapannya, juga ending yang diluar perkiraannya. Meski begitu ia bersyukur tidak ada yang terluka tadi. Selain luka di tangannya yang sudah disembuhkan oleh Hyukjae tentunya.

"Namamu Donghae kan?"

Suara di sampingnya membuatnya terkaget. Junsu dengan santainya duduk disampingnya. Donghae tanpa sadar beringsut menjauhi Junsu, masih merasa takut dengan teman baru mereka itu.

"Tak usah takut, aku tidak akan menggigitmu," tawa Junsu pelan.

Donghae berhenti beringsut menjauh dan menatap Junsu heran. Junsu lalu terlihat mengamati Donghae lekat-lekat. Sebelum tersenyum dan ikut menatap langit gelap malam hari.

"Aku ingin meminta maaf karena tadi telah melukai tanganmu," ujar Junsu.

"Hanya itu…?" Donghae bertanya mengetahui ada maksud lain orang itu menghampirinya.

Junsu tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya kepada diri sendiri.

"Kurasa Jewel-hyungnim memilih orang yang tepat," ia bergumam pada diri sendiri, namun Donghae dapat mendengarnya dengan jelas.

"Donghae, aku ingin berterimakasih padamu," ujar Junsu lagi.

"Untuk…?"

"Tadi aku bilang Jewel-hyungnim tidak berubah. Aku salah. Ia banyak berubah. Ia menjadi lebih dewasa dan penyayang. Dan aku yakin pasti kau yang mengubahnya," Junsu menjelaskan sambil memejamkan matanya.

"Aku?"

Junsu mengangguk. Ia kembali membuka matanya sambil menatap langit malam.

"Dulu, aku dan Jewel-hyungnim memiliki suatu impian. Kami bermimpi untuk melayani Angel-hyung dan mengikuti kata hati kami. Tapi di tengah jalan, aku melupakan impian itu. Aku termakan egoku sendiri dan membuang hatiku."

Junsu menunduk seperti menyesali.

"Di hari aku diangkat menjadi malaikat pengikat elemen bersamanya, aku mendapatkan segala yang kuinginkan. Semua orang hormat dan takut padaku. Mereka mengikuti kemauanku. Hari itu, aku tersenyum puas dan sombong. Tidak seperti Jewel-hyungnim yang menangis terharu."

Junsu tertawa mengingatnya. Sementara Donghae terus memperhatikan cerita Junsu, mencari tau apa yang sesungguhnya ingin disampaikan malaikat itu. Meski ia cemburu juga, sepertinya Junsu ini sangat mengenal Hyukjae, sampai-sampai ia tau Hyukjae sering menangis. Sejak Donghae bertemu Hyukjae, baru tadilah ia melihat Hyukjae menangis.

"Tapi saat Jewel-hyungnim diangkat menjadi guardian Angel-hyung, rasa iri timbul. Di otakku terdapat penolakan, kenapa aku 'hanya' menjadi malaikat pengikat elemen, sedangkan dia yang tidak jauh berbeda dariku bisa diangkat menjadi Knight of Heavens yang terhormat. Saat itu aku marah dan kesal. Aku benar-benar kehilangan hatiku."

Junsu menghela napas. Sementara Donghae sedikit bingung. Ia sama sekali tidak tau menau soal guardian, soal Knight of Heavens, atau jati diri Leeteuk. Ia bahkan kaget tadi saat Junsu berlutut di depan Leeteuk dan memanggilnya pangeran. Tapi ia menyimpan semua pertanyaan itu dan memutuskan untuk mendengarkan Junsu.

"Tapi kini rasanya aku mengerti, kenapa ia yang dipilih, bukan aku. Ia memiliki sesuatu yang saat itu aku tidak miliki. Justru hati yang kubuanglah yang membuatku kalah darinya. Dan sekarang, setelah melihatnya masih sama seperti dulu, setelah melihatnya bersamamu, aku mengerti semuanya. Hatiku seakan kembali kepadaku. Karena itu aku ingin berterimakasih kepadamu, Donghae."

Junsu tersenyum dan menatap Donghae.

"Dan kuharap kau mau terus menjaga hatinya. Mungkin kau masih belum bisa menerimaku disini, aku dapat memakluminya. Tapi kuharap kau mau memaafkanku."

"Aku… memang kurang mengerti semuanya. Tapi…"

Donghae menatap mata Junsu dengan matanya yang dalam. Tak tampak kebohongan dan keraguan disana. Yang ada hanyalah ketulusan, ketulusan yang polos. Sorot mata yang sama yang mengingatkan dirinya dan Hyukjae saat berjanji dulu.

"Aku tidak akan memaafkanmu, karena tidak ada yang perlu dimaafkan. Dan aku percaya padamu."

Kalimat tersebut begitu singkat. Tapi cukup bagi Junsu untuk mengetahui bahwa orang didepannya ini sepenuhnya menerimanya disini. Sekali lagi hatinya menghangat dan perasaan itu sangat nyaman dan disukai olehnya. Ia tersenyum.

"Jewel-hyungnim benar-benar beruntung dan hebat," bisiknya sambil cemberut, membuat Donghae tertawa.

"Heyo! Mau apa kau dekat-dekat Donghae!"

Suara itu membuat keduanya menoleh. Terlihat sosok berambut biru berjalan kearah mereka. Ia tersenyum kearah Donghae dengan lembut sebelum menjitak namja di samping Donghae dikepalanya dengan tidak terlalu pelan.

"Aish! Sakit tau Jewel-hyungnim!" Protes Junsu.

"Itu untuk mendekati Donghae diam-diam. Sudahlah bukannya kau harus pulang? Kenapa masih disini?" Hyukjae menendang punggungnya bercanda agar ia bangun dari bangku.

Junsu menggerutu kesal lalu bangkit berdiri. Segera Hyukjae mengambil alih tempatnya disamping Donghae.

"Kau mengusirku? Jahatnya! Iya aku pulang sekarang!"

Sok ngambek, Junsu berjalan meninggalkan mereka. Sesaat sebelum ia keluar dari balkon, Hyukjae memanggilnya.

"Oh iya, Junsu!"

"Ndeee?" Tanya Junsu malas sambil menoleh.

"Kita tidak sedang ada di dunia langit. Panggil aku dengan nama manusia, biasakan diri dengan itu," perintah Hyukjae mutlak.

"Arasseo, Hyukkie-hyung!" Balas Junsu malas.

"-nim!" Hyukjae memelototkan matanya, membuat Junsu tertawa.

"Nee~ Hyukkie-hyungnim!" Ulang Junsu sebelum berlalu dengan tertawa.

Hyukjae ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan. Tanpa ia sadari, Donghae menatapnya sedikit sedih. Junsu yang baru mengetahui nama manusianya seminggu lalu sudah memanggilnya Hyukkie.

Hyukjae merasa Donghae menatapnya, ia lalu beralih menengok ke arah namja yang amat dikasihinya itu. Perlahan ia melingkari tangannya di pinggang Donghae, menariknya dalam pelukan. Disenderkannya kepala Donghae di dadanya.

"Kau kenapa, hae?" Tanyanya lembut.

"Bete," jawab Donghae singkat dan jujur.

Reaksi Donghae membuat Hyukjae tertawa pelan. Ia lalu mengusap pelan pipi Donghae dengan punggung tangannya.

"Kau berhutang banyak cerita padaku," tagih Donghae.

"Aku tau… Maafkan aku. Kau mau aku cerita dari mana?" Tanya Hyukjae.

"Teukie-hyung, juga dirimu. Yang lengkap kali ini," sindir Donghae.

Hyukjae mengangguk. Ia lalu memulai cerita lengkapnya, sambil mengelus-elus rambut Donghae dengan sayang.

"Teukie-hyung, atau Angel, adalah pangeran di dunia langit… Begitu juga Kangin-hyung atau Camomile, adalah pangeran dunia akhir… Meskipun pangeran, Leeteuk-hyung tidak memiliki kekuatan untuk menjaga dirinya ataupun bertempur. Karena itu pangeran memiliki pelindung, atau yang disebut dengan guardian untuk melindunginya. Guardian disebut dengan Knight of Heavens, yang dipilih dari para malaikat kemampuan khusus terbaik."

Donghae mendengarkan dengan seksama. Hyukjae menarik napas panjang menghirup wangi rambut namja yang dipeluknya. Ia tidak pernah bosan menyium wangi vanilla yang entah mengapa selalu ada pada Donghae. Lalu kembali bercerita.

"Tugas Knight of Heavens adalah melindungi sang pangeran tanpa syarat dengan nyawanya. Ia harus bisa menjaga pangeran apapun yang terjadi. Dan guardian Teukie-hyung, yang diangkat sejak 3 tahun lalu, bernama Jewel. Ia adalah malaikat pengikat elemen air yang telah mengucapkan sumpah suci di depan dewan agung. Singkatnya, aku."

Donghae mengerjapkan matanya sebelum mendongak dan menatap Hyukjae. Matanya bersinar-sinar, membuat Hyukjae tertawa pelan melihat tingkah lucu itu. Hyukjae menyentil pelan kening Donghae.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Hyukjae.

"Aku tidak menyangka kau sehebat itu," jawab Donghae jujur.

"Memang aku hebat," Hyukjae menyombong bercanda, membuat keduanya tertawa pelan.

"Apa itu berarti kau banyak bertarung?" Donghae kembali serius sambil menatapnya.

"Hmm… Bertarung ya…?"

Hyukjae terlihat berpikir mengingat-ngingat sebentar. Ia lalu mengangguk pelan memperoleh wajah sendu dari Donghae.

"Kalau menolong Teukie-hyung dari naga langit yang mengamuk juga termasuk bertarung, ya aku sering melakukannya. Karena hampir setiap minggu ia akan mengganggu naga yang berbeda-beda hanya untuk mencari telurnya untuk dipelihara. Percayalah merepotkan untuk mengembalikan telur itu satu persatu setelah menghajar naga itu hingga pingsan dan menyeret Teukie-hyung pulang."

Donghae cengo dengan bodohnya mendengar cerita Hyukjae. Tidak pernah disangkanya Leeteuk bisa jadi sekekanakan itu, merepotkan dongsaengnya sendiri. Hyukjae tertawa melihat reaksi Donghae.

"Tapi pernah suatu kali saat menolongnya, aku lengah dan naga itu berhasil merobek lenganku. Yah meski menang, tapi kondisiku saat itu cukup parah. Teukie-hyung amat merasa bersalah waktu itu sampai menangis tidak berhenti. Sejak itu ia tidak pernah mencuri telur naga lagi. Tapi itu kejadian sekitar satu tahun lalu, jadi dua tahun aku bekerja sebagai pengembali telur."

Tiba-tiba Donghae melepas pelukannya dan menarik membuka kedua lengan baju Hyukjae, meneliti kedua lengannya. Hyukjae menatapnya bingung. Ia lalu tertawa dan menenangkan Donghae, mengembalikannya ke posisi semula.

"Malaikat memiliki regenerasi yang cepat, Hae. Luka itu sudah hilang enam bulan lalu," jelasnya.

"Enam bulan?! Berarti lukanya sekitar enam bulan juga baru hilang kan? Berarti itu luka besar!" Donghae terlihat amat khawatir.

"Memang. Kalau tidak mana mungkin Teukie-hyung kapok," Hyukjae menjawab dengan santai.

Jawaban Hyukjae membuat Donghae menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung panik dan mengelus-elus pelan rambut Donghae. Ia mendudukkan Donghae di pangkuannya menyamping, lalu memeluk pinggangnya.

"Hae, Hae… Tenanglah aku tidak apa kok… Aku selalu berhati-hati…"

Donghae mengangguk pelan. Ia lalu teringat pertanyaan terpenting yang ingin ditanyakannya hari ini juga.

"Satu pertanyaan lagi," ia berucap serius.

Hyukjae hanya menengglengkan kepalanya ke sebelah kiri.

"Siapa Junsu?" Tanya Donghae.

"Junsu itu malaikat pengikat api. Salah satu dari malaikat empat elemen. Tapi ia setingkat dibawahku karena aku adalah Knight of Heavens juga."

"Bukan itu… Maksudku… siapa Junsu… bagimu?"

Donghae menunduk tidak ingin melihat wajah Hyukjae. Ia sedikit malu telah menanyakan itu, sekaligus takut mendengar jawaban Hyukjae. Hyukjae tersenyum lembut mengangkat dagu Donghae agar mereka saling bertatapan.

"Junsu adalah sahabatku sejak umurku lima tahun. Ia sudah seperti adik kandungku, saudaraku sendiri. Tidak lebih, tidak kurang. Dan… Meski aku baru mengenalmu sekitar satu bulan… Bagiku kau lebih dari itu, Hae…"

Donghae bersemu merah. Ia berusaha mengalihkan pandangannya meski wajahnya tak bisa digerakkan karena ditahan oleh Hyukjae.

"Lee Donghae… Saranghae…" Bisik Hyukjae pelan.

Donghae terkaget dengan pernyataan mendadak itu. Ia menatap mata Hyukjae dan hanya menemukan ketulusan yang dalam disana. Senyuman mengembang diwajahnya.

"Nado…" Jawabnya mengembangkan senyuman Hyukjae.

Perlahan Hyukjae mengusap pipi Donghae dengan lembut, menariknya mendekat. Donghae dengan senang hati memejamkan kedua matanya dan mengalungkan lengannya di leher Hyukjae yang memangkunya. Hyukjae mencium lembut bibir Donghae selama beberapa saat. Saat terlepas, senyuman semakin mengembang di wajah keduanya.

"Hyukjae… boleh aku-"

"Hyukkie," potong Hyukjae membuat Donghae bingung.

"Mwo?"

"Panggil aku Hyukkie. Kau ingin memanggilku begitu kan?" Senyum Hyukjae.

Donghae mengangguk senang lalu memeluk erat Hyukjae. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hyukjae. Senyuman lebar terlukis di wajahnya.

"Hyukkie, Hyukkie, Hyukkie~…" Gumamnya berulang-ulang.

Hyukjae tertawa mendengarnya. Sepertinya Donghae senang sekali hanya karena memanggilnya begitu. Ia lalu teringat sesuatu.

"Kau tau, Hae?"

"Hmm~?" Donghae tak bisa menyembunyikan kesenangan di suaranya.

"Kau sangat lucu saat cemburu mendengar Junsu, Teukie-hyung atau Kyuhyun memanggilku begitu."

Sesaat Donghae membatu sebelum mundur melepaskan pelukannya dan menatap Hyukjae.

"K-kau menyadarinya…?"

Hyukjae hanya mengulaskan cengiran lebar sambil mengangguk. Mendapatkan pukulan pelan gratis di bahu kanannya. Donghae langsung berubah cemberut.

"Ya! Kalau begitu kenapa kau baru memperbolehkanku memanggilmu begitu sekarang!"

"Maaf, maaf. Habis kau lucu sih! Selain itu…" Hyukjae menunduk perlahan.

Donghae baru saja hendak menjitak pelan Hyukjae kalau saja ia tidak mendengar kelanjutan kalimat Hyukjae.

"Aku merasa belum berhak menerima panggilan itu darimu bila aku belum menceritakanmu semuanya," jelasnya lalu mengelus lembut rambut Donghae.

Donghae terhenyak. Ternyata Hyukjae berpikir sejauh itu. Ia lalu tersenyum lembut mengerti. Kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hyukjae.

"Hyukkie…" Panggilnya lagi.

"Mmm…?"

"Aku mengantuk…" Gumamnya pelan.

"Ayo pindah ke kamar, tidur," jawab Hyukjae.

Donghae menggeleng pelan membuat Hyukjae bingung.

"Tidak mau… Sudah enak begini."

Hyukjae tertawa pelan. Sifat kekanakan Donghae keluar lagi, tapi justru itu adalah salah satu hal yang ia sukai dari Donghae. Dan hanya pada Hyukjae lah Donghae mengeluarkan sifat tersembunyinya itu.

Hyukjae lalu melihat sekeliling, menajamkan insting malaikatnya. Setelah memastikan tidak ada orang disekitar mereka, ia mengeluarkan kedua sayap lembutnya membuat Donghae kaget sedikit. Ia mengelus belakang kepala Donghae untuk menenangkannya kembali. Donghae perlahan memejam lagi bersandar padanya. Sayap Hyukjae terbuka lebar, sebelum lalu menengkap tubuh Donghae, membawanya kedalam pelukan. Sayap halus itu seperti menyelimutinya.

Malam itu Donghae tertidur dalam dekapan hangat kedua lengan Hyukjae dan kedua belah sayap lembut Hyukjae, namjachingunya, malaikatnya, yang menemaninya dalam hidupnya. Memberi warna di hari yang sepi…

.

.

.

-To Be Continued-

.

Panjang bener ya chapter ini baru sadar aku. Bener-bener cerita ini. Meskipun ada konfliknya, tetep aja di dominasi dengan fluff yang cheesy abis. Lol.

Xiah Junsu JYJ muncul! Yay! Aku suka banget sih sama friendship HyukSu hehe. Dari kecil gitu kyeopta banget. Disini kubikin Junsu manggil Hyukjae pake –hyungnim. Karena aku lupa dimana gitu, pernah di bilang dulu Hyukjae selalu nyuruh Junsu manggil dia begitu(meski tentunya tak dilakukan oleh Junsu). Dan karena aku kebanyakan ngeliatin HyukSu moment yang kyeopta. Aduh pengen punya sahabat dari kecil begitu pasti lucu. Sahabatku yang sampe sekarang masih bareng terus, paling lama bareng baru 6 tahun, namja. Kadang berasa jadi noona dia(meski dia lebih tua 2 bulan 7 hari), kadang berasa punya oppa koplak, kadang berasa punya kembaran partner-in-crime. Memang paling asik kalo punya sahabat udah bener-bener kenal lama. Dan aku baru sadar, aku ga pernah berantem sama dia selama 6 tahun kenal. Kita abis mikirin kapan kita pernah berantem dan hasilnya nihil. Waw hebat juga(kok jadi curhat).

Intinya! Adakah yang belum sadar, bahwa fanfic ini juga memusatkan pada genre Family? Hehe. Update berikutnya akan ada Side Story. Ada yang bisa tebak tentang apa(ato minimal siapa sama siapa)? Yang jelas bertemakan family. Ada cluenya di chapter ini. Hayo ada yang tau?~

Waktunya bales review~

AngeLeeteuk : gomawo~ saya akan berusaha jadi sangat beda dengan DHA :)

Haelicious : nah kalo yang aku suka keren! Kkk~

Anonymouss : mencurigakan gimana? O.o . kalo kepribadian ganda mah Hyuk di Innocent Beast! kkk~

Eun Byeol : hmm… gimana yaaa…. #smirk . ah kalo nc gak ada, aku ga bikin nc haha

dekdes : semua review diterima di chapter manapun kkk~ cerita ini mainly romance kok, tenang aja~

dew'yellow : gomawo~ ahaha iya ini bikinnya jaman dulu banget sih jadi gini deh~

anchofishy : tenang ringan-ringan kok. Seringan bulu~

Cho Kyura : aaa mianhae T.T #bow . ini cerita lama yang aku post jadi maklum kalo gaya penulisannya beda dan Donghaenya terlalu feminim ._.

Eunhae1207 : gomawo~ ^^

Bunnyminimi Cloudsomnia : kkk begitulah~ ne gomawo~ ^^

arumfishy : bakal balik lagi ga ya… liat ntar deh~ kkk~

RianaClouds : yang di awal? Hmm nanti sepertinya di jelasin lagi di chapter 5 seingetku ._.

sullhaehyuk : gomawo~! Hehe. Aah reader baru yaa. Mianhae tapi aku emang gapernah bikin Haehyuk, uda kutulis di bio kok. Aku lebih suka Hyukhae soalnya hehe~

Seperti yang ku bilang, berikutnya adalah Side Story! Yang bisa nebak bener dapet hadiah~.

Mind to RnR? ^^