Hai! Saya balik lagi dengan lanjutan dari cerita gaje nan aneh kemarin! (Readers: Huu! Lama!)

Maaf, dapet resesi ngenet dari orang tua... (~.)~

Tapi, yang terpenting, saya masih sempat publish ini! ~(^o^~)

Gakupo: publish cerita yang bikin sial! *lempar author pakai terong*

Eri: Ampun... *sembah sujud*

Kaito: ngelantur terus kerjaannya, daripada lari aku baca disclaimernya ya!

Disclaimer: Vocaloid bukan punya saya, untuk selamanya Vocaloid punya yang bikin...

Warning: cerita gaje, tak dapat dibenarkan, humor garing segaring krupuk, jauh dari alur cerita sebenarnya, alur muter-muter, typo, bahasa tak baku, penuh karakter OOC, dll (saking banyaknya, nggak bisa disebut satu-satu).

Eri: *bawa spanduk* SELAMAT MENIKMATI!

GakuKai: *lempar author pake sandal* Emangnya mau makan?


Mereka semua pulang. Gakupo dan Kaito pulang bersama karena selain rumah mereka sejalur, ini sudah menjadi kebiasaan kalau tiap pulang sekolah Kaito pasti mampir ke rumah Gakupo. Alasannya macam-macam. Yang kerja kelompok, belajar bersama, hanya iseng main karena di rumah sepi, atau paling karena dipaksa Gakupo datang.

Dan hari ini, alasannya sedikit lain, ini berkenaan dengan acara pagelaran musik yang sebentar lagi bakalan mereka ikuti.

"Jadi latihan kan?" Kaito bertanya pada Gakupo.

"Apa?"

"Itu, gitar…" Kaito mengingatkan Gakupo.

"Oooohh…" Gakupo ngangguk-angguk bego.

"Berarti kita harus pinjam Len dari Rin dulu ya…" kata Kaito.

Krik…

"Apa kita harus menghadapi singa dari segala singa itu?" Kaito memikirkan ulang kata-katanya tadi.

"Sepertinya… iya… kalau cuma ditelepon, pasti nggak bakalan datang…" kata Gakupo.

Mereka saling bertatapan, lalu membayangkan kemungkinan yang akan terjadi kalau mereka nekat datang ke rumah Len tanpa persiapan fisik, mental, kosakata, dan alasan yang bagus dan masuk akal.

"Gimana kalau alasannya karena disuruh Kiyoteru sensei, guru seni musik kita?" usul Kaito.

"Bisa sih… tapi pasti Rin nggak percaya meskipun itu beneran…" Gakupo memberi sangkalan.

"Masa' kita harus memberitahu alasan sebenarnya? Kan nggak jadi kejutan…"

Mereka terdiam. Dengan suatu keajaiban yang entah datang dari mana, Rin dan Len lewat… (Rin sama Len panjang umur, baru diomongin nongol…).

"Gakupo! Kaito! Kalian bukannya pulang kok malah bengong di tengah jalan?" sapa Rin.

"Ee… kami baru jalan-jalan, nggak ada kerjaan…" Kaito berusaha menutupi percakapannya dengan Gakupo tadi.

"Len, jadi?" Gakupo memberi sinyal pengingat pada Len.

"Jadi apa?" Len masih belum connect.

"Jadi batu! Alaah… itu looh…" Gakupo berusaha membantu Len menggali ingatannya yang dikubur Rin *plak!*.

"Itu apaan?" Len malah tambah bingung.

Gakupo menepuk dahinya dengan sangat keras, menyisakan bentuk tapak tangan merah di jidatnya sementara Kaito geleng-geleng karena dua hal. Pertama, jidat Gakupo dan kedua, Len yang lupa dan nggak ingat-ingat.

"Apaan sih?" Len makin bingung sementara Rin sama nggak dong-nya dengan Len.

"Hanya ada tiga hal. Pak Kiyoteru, Gitar, dan Lagu." kata Kaito.

"Oooooh… sekarang ya?" Len yang baru connect bertanya lagi dengan polosnya, membuat Gakupo dan Kaito cengo.

"Perasaan kemarin udah diberi tahu…" pikir Kaito dan Gakupo yang entah kapan janjian biar pikirannya sama.

"Sebenernya kalian omongin apa sih?" Rin yang masih bingung meminta kejelasan.

"Itu sesuatu yang penting, mendesak, dan rahasia." kata Len.

"Apa? Kasih tahu dong…" Rin mengeluarkan jurus puppy eyes andalannya.

"Tapi Rin, ini rahasia…" kata Gakupo.

"Aah… ayolah…" Rin mengeluarkan jurus puppy eyes tingkat 2.

"Ini kejutan, kalau diberi tahu kan nggak seru… kamu mau dapat kejutan kan Rin?" Kaito membantu Gakupo.

"Eh, kejutan?" Rin mulai tertarik.

"Iya, kamu mau kan?" Gakupo mengerti siasat Kaito.

"Mau!" Rin bersemangat.

"Kalau begitu jangan tanya-tanya lagi, biar seru nanti." kata Len ngikut.

"Oke deh! Kalau begitu aku pulang dulu ya… aku nggak mau mengganggu acara mempersiapkan kejutannya." Rin berlari pergi.

Setelah Rin pergi, ketiga orang itu menghela nafas lega.

"Untung kita bisa mengelabuinya…" Kaito mengusap dahinya.

"Ya, biasanya kita berakhir dilindas roadrollernya…" Gakupo merinding disco.

"Kalau begitu ayo! Tinggal dua hari lagi kan?" Len mengingatkan.

"Iya, ayo langsung ke rumah si terong!" Kaito mengepalkan tangannya tinggi-tinggi sementara Gakupo langsung berwajah suram setelah disebut terong.

"Yaay!" Len melompat a la cheerleader. Gakupo sweatdrop sambil menatap mereka berdua yang sedang joget-joget gaje sambil nyanyi "We Are the Champion".

Sepanjang perjalanan, Len dan Kaito terus menyanyikan lagu "We Are the Champion". Gakupo sampai tutup telinga karena selain karena suara mereka yang keras, lagunya hanya diulang-ulang pada bagian reff-nya seperti kaset rusak.

Sampai di rumah Gakupo, tanpa basa-basi, ketuk pintu, atau sekedar berhenti, Len langsung nyelonong masuk.

"Ampun deh Len… yang punya rumah belum masuk kamu malah udah…" Kaito sweatdrop

"Oh, kalau begitu diulang aja!" Len keluar lagi.

Gakupo masuk ke dalam rumah sedangkan Kaito dan Len tetap diluar.

Tiga menit kemudian, Gakupo keluar lagi, sudah berganti baju, bukan seragam lagi, tapi baju samurai ungu kesayangannya.

"Monggo, pinara–salah, silakan masuk… " kata Gakupo yang sempet-sempetnya mau pakai Jawa Krama.

"Kaito, kamu nggak ganti ya?" Len memperhatikan Kaito dari atas sampai bawah.

"Aku bawa baju ganti kok!" Kaito menatap Len yang sedang memperhatikannya.

"Kaito… ganti baju di… depanku nggak ya?" pikir satu uke bejad ini *dikutuk Len jadi monyet*.

"Ya ampun, kalau Kaito pasti gantinya pakai ngunci pintu kali…" Gakupo sweatdrop lihat Len yang ngiler karena ngebayangin Kaito telanjang. "Tapi aku juga mau lihat…" Gakupo ikut bayangin yang nggak-nggak (–dan ngiler juga).

Kaito sweatdrop melihat dua temannya yang sedang rada-rada itu…

Lama-kelamaan, air yang keluar semakin banyak dan ketinggian air terus naik. Sampai akhirnya, terbentuklah sebuah danau. Danau itu dinamai Danau SweatdropIler karena terbuat dari kedua bahan itu…

Stop! Stop! Script eror! Balik ke cerita! Ini bukan sejarah pembuatan danau!

Karena tidak tahan kepanasan plus ngeri lihat Len dan Gakupo yang terus-menerus memproduksi air liur (dikata pabrik apa?) Kaito langsung mengajak mereka masuk

"Kita masuk dulu aja yuk! Daripada dikira tiang listrik…" Kaito langsung masuk sedangkan Len dan Gakupo ngekor di belakangnya.

Mereka langsung menuju ruang musik milik keluarga Kamui yang terletak di paling belakang rumah.

"Len, gitarmu yang warna putih di ujung itu! Dicek dulu nadanya pas belum." Gakupo memberitahu.

"Kamu bagian bass kan, Kai–" Gakupo melongo, Len yang bingung melihat ekspresi Gakupo ikut menoleh ke arah Kaito, dan apa yang ia lihat?

Kaito ancang-ancang mau buka baju sodara-sodara!

"Tumben dia begini… kau ternyata bisa menebak isi hatiku Kaito!" Gakupo ge-er

"Kyaaah… aku bisa lihat Kaito topless!" Len berpikir ke-uke-uke-an (ini kata dari bahasa mana?).

Kaito membuka atasannya seragamnya, lalu membuangnya ke dekat tasnya.

Krik…

"GUBRAK!" Gakupo dan Len bergubrak ria. Ada apa? Bukannya keinginan mereka sudah terkabul?

Ooh… ternyata Kaito memakai kaos putih berlengan pendek bertuliskan 'I Love Ice Cream' di balik seragamnya…

"Ternyata Kaito dobelan kaos…" pikir dua mahkluk bejad bin pervert ini… *author dijadiin oseng terong dan pisang*

"Kalian dari tadi kok ngeliatin aku terus?" Kaito mengangkat sebelah alisnya. Aduh Kaito, sadar dong… mereka itu kecewa nggak lihat kamu topless…

"Eh, nggak apa-apa kok!" Gakupo senyam-senyum gaje, menutupi kenyataan yang tak kalah gaje.

"Eh, nyoba lagu yuk!" Len mengalihkan tema pembicaraan.

"He?" Kaito masih bingung melihat dua makhluk di depannya yang senyum-senyum aneh.

"Ya sudah deh, mau apa nih?" Kaito mengambil bass hitamnya.

Len mengambil gitarnya dan mulai memetik senar gitarnya.

"Neng neng nong neng… nong nang nong neng neng nong neng… nong nang nong neng neng nong neng…"

"Emm… Len… kita mau pakai lagu itu?" Gakupo sweatdrop.

"Tentu saja! Lagu ini lagi popular di dunia dan akhirat!" Len mengacungkan jempol kakinya.

"Aku ikut nyoba ya…" Kaito mulai memetik bassnya.

"Deng deng dong deng… dong dang dong deng deng dong deng… dong dang dong deng deng dong deng…"

Len dan Gakupo sweatdrop mendengar "Neng Neng Nong Neng" versi bass…

"Bagus nggak? Bagus nggak?" Kaito bertanya dengan tambahan puppy eyes.

"Bagus kok!" Gakupo yang terkena efek puppy eyes Kaito mengiyakan sementara Len memberi efek kembang-kembang dan kinclong-kinclong.

Saat itu, adik Gakupo datang.

"Kak, tadi itu apaan sih! Ganggu amat! Lagi ndengerin lagunya VanaN'Ice nih, keren-keren lho…!" Gakuko, alias adik Gakupo, promosi band favoritnya.

"VanaN'Ice?" Gakupo mengangkat alisnya.

"Iya! Mereka kalau konser pakai topeng, bahkan wig juga, dan terlihat misterius! Belum ada yang tahu siapa sebenarnya mereka, bahkan manager mereka juga! Tapi mereka keren!" Gakuko berputar-putar OOC.

"Katanya mereka mau konser di sekolah kita Sabtu besok! Kyaaaa! Aku sudah tak sabar!" Gakuko berlagak a la fangirl.

"Di sekolah? Besok Sabtu?" Kaito mengulang kata-kata Gakuko.

"Iya! Makanya jangan ketinggalan berita dong!" Gakuko mencibir.

"Udah ah, aku mau main ke rumah Kaiko dulu… mau minta lagu Imitation Black…" Gakuko pergi, meninggalkan tiga orang itu.

Tapi belum lama Gakuko pergi, dia balik lagi…

"Mode ruangan kedap suaranya dinyalakan dong, kasihan anak tetangga kalau kalian main gitar keras-keras…" kata Gakuko sambil menekan sebuah tombol. Lalu ia keluar lagi.

Setelah Gakuko keluar, mereka bertiga merapat.

"Gakupo, adikmu ngefans sama VanaN'Ice sampai segitunya… tapi dia nggak tahu kebenaran VanaN'Ice kan?" Kaito berbisik.

"Nggak, nggak ada yang tahu… kalau VanaN'Ice itu…"

Di rumah Kaiko…

"Kaiko! Aku boleh minta kan?" Gakuko menatap playlist di laptop Kaiko.

"Eh, besok minta tanda tangan yuk!" Miku mengajak.

"Ha? Bukannya mereka selalu menolak ya?" Rin menatap Miku.

"Coba saja, mungkin mereka mau… kan mereka hanya bikin konser di sekolah kita. Murid sekolah lain pada ngiri loh…!" kata Miku.

"Eh, beneran? Berarti sekolah kita yang pertama dikunjungi dong?" Rin bersemangat.

"Bukan yang palsu kan? Soalnya akhir-akhir ini banyak yang mengaku-ngaku sebagai personil VanaN'Ice…" Luka terlihat ragu.

"Nggak mungkin lah! Kan Kiyoteru_sensei sudah memastikan…" Miku mengerling ke arah Luka.

"Omong-omong soal Kiyoteru sensei, tadi aku bertemu dengan Kaito dan Gakupo di jalan. Mereka meminjam Len, katanya ada kepentingan mendesak, kejutan, dan rahasia" Rin teringat percakapannya tadi siang dengan Gakupo dan Kaito.

"Oh ya?" Luka tampak tidak percaya.

"Iya, mereka juga menyebut-nyebut tentang lagu!" Rin mengingat-ingat apa lagi yang tadi dibicarakan.

"Ah, mungkin mereka mau diikutkan lomba oleh Kiyoteru sensei… biasanya begitu kan?" Luka menyanggah perkataan Rin.

"Tapi kan biasanya tidak dirahasiakan… biasanya Len malah cerita-cerita padaku…" Rin menyangkal kata-kata Luka.

"Kan bisa aja mereka lombanya agak jauh dan nggak mau terlihat mencolok, makanya mereka diam" Luka kembali menyangkal.

"Luka benar, mungkin mereka mau lomba di suatu tempat yang agak jauh. Atau malah untuk tingkat internasional… soalnya tadi kakakku bawa-bawa Kaito dan Len ke ruang musik di rumahku…" Gakuko mendukung Luka.

"Iya juga ya…" Rin mengangguk-angguk.

Lalu mereka kembali mengerumpi tentang VanaN'Ice…

Balik ke tempat Gakupo, Kaito, dan Len…

"Aduuh… jariku panas nih…" Len mengeluh sambil mengibaskan tangannya.

"Telingaku sakit… speakernya keras banget…" Kaito mengusap telinganya.

"Untung ruangan ini bisa disetting kedap suara, kalau nggak mungkin ada yang sampai jantungan denger musik tadi…" Gakupo merapikan rambutnya yang acak-acakan seperti habis party rock.

"Tapi itu tadi sudah bagus, lebih baik daripada yang kemarin…" Len duduk di dekat tembok.

"Kita istirahat dulu saja… jariku terlalu lemes buat lanjut… kalian mau apa?" Gakupo bertanya sambil menggemeretakkan jari-jarinya.

"Air es!"

"Sama!"

Gakupo geleng-geleng dugem mendengar pesanan kedua temannya itu. Lalu ia pergi dari ruangan itu.

Kaito langsung duduk di sebelah Len dan menyandarkan kepalanya ke tembok.

"Kaito…" Len memanggil.

"Apa?" Kaito menoleh ke arah makhluk yang duduk di sebelahnya itu.

"A… aku… aku… kamu…–ku…" Len terbata-bata.

"Yang jelas dong! Bingung nih…"

"Itu… anoo… kamu… aku… aku…"

"Apa sih?"

"Emm… kamu… menduduki tanganku, dodol!" Len berteriak tepat di telinga Kaito.

"Aih! Maaf! Aku nggak tahu…" Kaito sujud-sujud di depan Len.

"Iya, iya… hahaha…" Len ketawa-ketawa nggak jelas.

Saat itu, Gakupo masuk membawa dua botol besar air es asli dari kutub selatan beserta tiga gelasnya.

"Ah, Gakupo… kau pahlawan penyelamat tenggorokan!" Kaito langsung menyambar sebuah gelas kosong dan mengisinya dengan air dingin yang dibawa Gakupo sementara Gakupo berpikir ulang kalau haus yang kering itu kerongkongan atau tenggorokan

"Aku mau juga!" Len ikut menyambar gelas lainnya.

"Heits… kalian kayak habis tersesat di gurun Sahara selama seminggu…" Gakupo senyum-senyum, yang seperti biasa, bermakna ganda.

"Tapi kau tadi lama sekali… kamu ngisi botol di rumah tetangga dulu ya?" Kaito nyolot.

Pik… ada perempatan yang sedang bergaya di karpe– jidat.

"Nggak kok! Tadi aku nyuci gelas dulu…" Gakupo menahan marahnya.

"Nyuci di sungai?" Kaito nyolot lagi. Aduh, Kaito memang nggak peka…

Dan karenanya, Kaito jadi kehilangan minumnya alias Gakupo mengambil gelas Kaito.

"Gakupo, balikin! Woy! Aku haus nih!" Kaito berusaha merebut kembali gelasnya.

"Eits, mintanya yang baik dong!" Gakupo berkelit menghindari tangan Kaito yang menggapai-gapai gelasnya.

"Ah, Gakupo… balikin dong…" Kaito berhenti mencoba meraih gelas, menggantinya dengan puppy eyesnya yang paling ampuh.

Gakupo yang memang tidak tahan melihat itu sedikit kendor, tapi tetap belum mau memberikan gelasnya. Len? Ia justru jeprat-jepret dengan HPnya…

"Gakupo_san… kumohon…" Kaito memeluk kaki kanan Gakupo sambil memakai puppy eyes tingkat 3 alias sudah hampir nangis! Len masih jeprat-jepret…

Leleh sudah pertahanan Gakupo. Tampaknya ia tak tega melihat Kaito yang sampai meratap-ratap di kakinya. Akhirnya diberikanlah gelas Kaito.

"Kau ini memang pandai menghancurkan iman orang! Nih, aku balikin…" Gakupo memberikan gelasnya, membuat Kaito langsung bersorak.

Len justru berhaha-hihi di sudut ruangan melihat hasil jepretannya yang sempurna. Termasuk wajah puppy eyes Kaito saat ia memeluk kaki Gakupo yang di zoom dan diambil dari sudut yang bagus (–dan membuatnya harus susah payah menahan darah yang mau meledak dari hidungnya).

Gakupo dan Kaito sampai sweatdrop melihat Len yang ngakak-ngakak nggak jelas di pojokan.

"Hei, Len… menurutmu aku tadi jelek nggak waktu dipaksa pakai baju balet?" tiba-tiba Kaito bertanya kepada Len yang masih ngakak.

Len langsung diam, menatap Kaito dengan mata khas orang lagi keselek. Tapi ia akhirnya menjawab.

"Kamu cantik. Benar-benar cantik." Kata Len.

Krik…

"He? Aku? Cantik?" pikir Kaito.

"Len, kau jujur sekali…" Gakupo sweatdrop.

"Yakin?" Kaito bertanya sambil memastikan telinganya nggak salah dengar.

"Iya, tanya saja sama Gakupo… dia pasti sependapat juga." Len mengerlingkan matanya ke arah Gakupo.

"Memangnya benar ya aku tadi cantik?" Kaito menatap Gakupo dengan puppy eyesnya (–lagi…).

"Eh, iya… imut cute malah… kayaknya kamu lebih cocok jadi perempuan…" Gakupo menjawab sambil memperhatikan wajah Kaito yang nyaris seperti anak kecil minta permen.

Krik…

Kaito langsung pundung di sudut ruangan. Di sekitarnya ada aura suram yang menyelimutinya.

"Yakinkan kalau aku salah dengar… kumohon… aku salah dengar… pasti aku salah dengar! Tuhan… kenapa kau ciptakan diriku berwajah cantik…? Demi es krim-es krimku, aku ini laki-laki… COWOK TULEEENNNN!" pikir Kaito yang sedang mengheningkan cipta di sudut.

Gakupo dan Len mendadak bergubrak ria lagi.

"Kaito… aku barusan memujimu… bukan mengejekmu… jangan suram begitu dong…" Gakupo berusaha menghibur Kaito yang sedang mendapat tekanan lahir dan batin (emang lebaran?).

"Iya, kami jujur kok! Nggak ada niat menghinamu…" Len ikut membantu.

Tapi itu justru membuat Kaito tambah suram. Dia semakin pundung di pojokan.

Gakupo dan Len malah sweatdrop…

"Yah, kamu nggak marah kan Kaito…" Gakupo bertanya.

"Lagipula kamu memang begit– ADUH!" Len tidak jadi meneruskan kata-katanya karena Gakupo keburu menyodok pinggang Len dengan sikunya.

"Mak… maksudku… kamu justru terlihat keren dengan wajahmu itu… ahaha… kau tahu, banyak yang menyukaimu karena kamu apa adanya. Jangan suram dong…" Len meralat kata-katanya dengan kalimat bijaksana yang entah dia dapat di mana.

Kaito menatap dua temannya dengan tatapan memelas (–tapi imut menurut Len dan Gakupo).

"Aah…" Len dan Gakupo langsung pingsan setelah melihat wajah Kaito yang oh-so-imoet-sekali.

"Hei… Hei! Gakupo! Len! Kalian kenapa? Ooii! Jangan pingsan di sini!" Kaito bingung.

"Kita nggak pingsan kok!" Gakupo bangun lagi.

"Lah, terus tadi itu ngapain?" Kaito bingung.

"Tadi kita cuma jatuh kok!" seperti biasa, Len ikut.

Sekarang giliran Kaito yang bergubrak ria, membuat Gakupo dan Len ikut gubrak juga. Dan ini membuat author serta readers ikut-ikutan bergubrak ria. Sejak itu, ada tradisi yang dinamai "Gubrak Berantai" yang diadakan sedetik sekali.

Mbak… nyasar mbak… gak bisa baca peta ya? *digiling*

"Ini udah selesai kan? Udah boleh pulang kan?" Kaito langsung menyemburkan pertanyaan.

"Iya. Memang kenapa sih, kamu buru-buru mau pulang? Biasanya kamu kalau main ke sini sampai jam 6 malam." Gakupo mengomentari keanehan Kaito hari ini.

"Loh, bukannya besok mau ada ulangan?" Kaito justru balik bertanya.

"Heh? Ulangan apa?" Len dan Gakupo kompak bertanya. Dari tadi mereka sehati terus…

"Ulangan seni budaya, kan?"

Setelah Kaito menjawab, suasana langsung sepi.

"Sumpah, Kaito rajin banget! Ulangan aja diingat bener-bener…" pikir Gakupo

"Mampus! Aku nggak belajar sama sekali!" pikir Len

"Ini jam berapa sih?" Kaito tiba-tiba bertanya jam. Mereka serentak melihat ke arah jam berbentuk terong di atas meja.

"Baru jam 3 sore ya… gimana kalau kita belajar bersama sekalian?" Kaito usul.

"Kaito… kau memang dewi penyelamat! Tunggu, dewi…?" pikiran Gakupo nyasar-nyasar lagi.

"Ayo! Catatanmu lengkap kan, Gakupo?" Len bertanya.

Krik…

Gakupo langsung pundung setelah ditanya begitu oleh Len.

"Pasti catatannya bolong-bolong…" pikir Len dan Kaito.

Tunggu, bolong-bolong? Dimakan tikus ya?

(all: banyak bacot kau! *bacok author pake golok rame-rame*)

"Kalau begitu, kita main aja ke rumah Kaito." Usul Len.

"Ide yang bagus! Ayo kita kesana!" Gakupo langsung semangat lagi.

"Ha? Sekarang? Tapi kalian jangan protes ya kalau ada apa-apa…" kata Kaito.

"Memang kenapa?" tanya Gakupo, "aku kan sudah biasa ke rumahmu, dan tak ada kejadian aneh yang terjadi."

"Lho, kan Kaiko dan kawan-kawan, termasuk adikmu, sekarang lagi ngumpul disana… Biasanya ngerumpi, makanya aku lebih suka mendekam di rumahmu daripada mendengarkan ocehan dari perkumpulan wanita itu…" Kaito berkata berat dibagi panjang kali lebar kali tinggi aliasnya volume sehingga ketemu berat jenis *abaikan*.

Len dan Gakupo bengong.

"Dan kalau ada Miku disana, mereka pasti mendengarkan musik dengan speaker bervolume tinggi…"

Len dan Gakupo makin bengong.

"Nggak apa-apa deh… yang penting kita bisa baca-baca…" Len berkata meski di dalam hati dia komat-kamit baca doa supaya suara-suara ekstim yang diceritakan Kaito tidak membuat telinganya nggak tuli.

Akhirnya, mereka bertiga pergi ke rumah Kaito. Dan, kata-kata Kaito memang benar. Dari dalam rumah, terdengar suara musik yang amat sangat keras. Saking kerasnya, rumah Kaito sampai ikut melompat-lompat, membuat Gakupo dan Len sweatdrop berjamaah.

Tiba-tiba musiknya berhenti. Gakupo dan Len langsung bernafas lega. Kaito membuka pintu.

"Ayo masuk, anggap rumah sendiri." Kaito berkata plus berbasa-basi.

Mereka pun masuk. Di dalam, Len tak henti-hentinya berwow-wow ria melihat rumah Kaito yang luas. Jelas lah, sodaranya Kaito saja ada berapa?

Saat mereka melewati sebuah ruangan, tiba-tiba genjrengan gitar listrik terdengar amat sangat keras. Len saja sampai loncat kaget.

Kaito mengetuk pintu tempat asal suara mengagetkan tadi.

"Kaiko, kalau pakai speaker jangan keras-keras." Kata Kaito setelah mengetuk pintu tanpa menunggu orang yang di dalam membukakan pintu.

Ckrek…

"Ah, kakak sudah pulang ya? Maaf kalau tadi terlalu keras." Kaiko tertawa kecil, di belakangnya ada Miku, Gakuko, Rin, Luka, Gumi, Teto, Neru, Haku, dan… Bunda Meiko?

Gakupo dan Len melongo melihat penampakan merah tersebut.

"Eh, kalian rupanya… Kaiko, kau punya dress yang bagus tidak?" Bunda Meiko tersenyum.

"Gyah! Kaiko! Jangan pinjami dia!" Kaito yang awalnya kalem mendadak ribut.

"Aku punya banyak kok! Ada di lemari itu" Kaiko menunjuk ke arah lemari di samping kasurnya (dengan polosnya).

"Bagus…" Bunda Meiko menyeringai. Bunda Meiko mengambil dua buah baju Maid dan dua buah bando berhiaskan telinga kucing dari lemari Kaiko.

Gakupo dan Kaito langsung berpelukan sambil gemetaran.

"Bagaimana kalau kalian memakai ini…?" Bunda Meiko menyeringai lebar.

"Jangan lagi…" Len geleng-geleng plus sweatdrop.

Bunda Meiko mendekat, masih dengan seringainya yang mengerikan.

"LARIIII!" Tanpa dikomando, Kaito dan Gakupo berteriak, lalu melarikan diri. Kaito tidak memiliki masalah dalam mencari ruang yang aman karena ia ada di rumahnya sendiri. Sedangkan Gakupo? Ia terus-menerus nyasar sampai akhirnya ia tiba di sebuah kamar.

Gakupo langsung swetadrop ketika melihat isi kamar itu. Dan dengan segera dia dapat menyimpulkan pemilik kamar tersebut.

Mau tahu isi kamar itu? Dengarkan saja omongan Gakupo…

"…jam dinding es krim, kasur bergambar es krim, wallpaper es krim… ckckckckck…"

Sudah tahu kan sekarang?

Gakupo menatap ke seluruh ruangan yang bernuansa biru itu. Ia berkeliling memperhatikan kamar es krim yang terlihat rapi tapi berantakan itu. Yah, setidak-tidaknya ini lebih mendingan daripada kamar Gakupo sendiri.

"HUWAAA!" terdengar teriakan Kaito di luar, diikuti derap langkah kaki yang tak beraturan.

Gakupo langsung waspada. Ia menyembunyikan dirinya di balik sebuah kotak.

Ckrek!

BRAKK!

"Kaito?"

"Gakupo? Kau sembunyi di sini?"

Pertanyaan Kaito tidak diindahkan oleh Gakupo. Ia justru sibuk memperhatikan Kaito yang sudah memakai rok.

"Woy, Gakupo! Kau dengar aku?"

"Iya, aku dengar." Gakupo kelur dari persembunyiannya dan berjalan mendekati Kaito.

Jarak mereka makin sedikit, mungkin tinggal satu meter lagi. Saat itu…

BRAK!

"Kutemukan kalian…" Bunda Meiko muncul!

Mereka hanya mematung…

Balik ke tempat "Perkumpulan Cewek" yang tadi sibuk arisan…

"Hei, Len, tadi katanya mau nyiapin kejutan… kok udah pergi-pergi lagi…" Rin mengungkit-ungkit percakapannya lagi.

"Itu karena tadi Kaito ingat besok ada ulangan Seni Budaya…" Len menjawab singkat (memang soal ujian?).

"Oooh… EH?" Rin langsung kaget setengah pingsan (ini caranya gimana juga…?).

"Tumben kakak inget ada ulangan, biasanya nggak…" Kaiko malah bongkar-bongkar aib.

"Tapi dia kan memang nggak pernah lupa kalau menyangkut pelajarannya Kiyoteru sensei…" Miku mengangkat alisnya.

"Iya sih… sejak dihukum oleh Kiyoteru sensei dia harus bersihin WC plus dilarang makan es krim seminggu penuh…" Kaiko mendesah pelan, teringat bagaimana dia dulu harus selalu mengingatkan Kaito agar tidak makan es krim selama seminggu penuh.

"Neraka dunia buat Kaito…" Len sweatdrop.

Saat itu terdengar teriakan-teriakan menggenaskan dari luar.

"JANGAAAANNN!"

"GYAAAAHHH! LARIII!"

Tak satupun dari penghuni ruangan itu yang tidak sweatdrop…

Kembali pada dua makhluk kita yang cantik-cantik ini…

Tampak Gakupo sudah memakai rok dan Kaito sudah memakai baju berlengan, sudah terlihat seperti maid. Mereka berlari secepat-cepatnya menghindari kejaran setan merah alias Meiko.

"LONTONG KAMIIII!" Kaito berteriak.

"Hei Kaito, bukannya tolong ya…?" Gakupo dan Kaito spontan berhenti.

"Oh iya… lidah kepeleset, maaf…" Kaito menggaruk belakang kepalanya yang nggak gatal.

Mereka terdiam.

"Boleh aku bertanya kenapa kita berhenti?" Kaito mengangkat tangan kanannya.

"Em, aku tidak tahu…" Gakupo mengangkat bahu.

Suasana kembali sepi.

Tuk tak tuk tak tuk tak tuk tak…

Tuk tak tuk tak tuk tak tuk tak tuk tak…

"Lalu… kenapa kita nggak segera lari?" Kaito merinding.

Tuk tak tuk tak tuk tak tuk tak…

"Eh, lari lagi yuk… suara sepatunya mengerikan…" Gakupo menarik-narik rok Kaito.

"Ya ayo!" Kaito menyahut.

"Ya ayo jalan!"

"Ya udah ayo!"

"Gek cepet mbaknya, aku sedang ada misi menangkap Gakupo dan Kaito…"

"Oh, ya… silahkan duluan." Kaito menyingkir ke kanan, dan Gakupo ke kiri.

Bunda Meiko berjalan pergi.

Beberapa detik kemudian…

Bunda Meiko langsung berhenti, Kaito dan Gakupo merapat dan berpegangan tangan sambil saling melirik.

Meiko: "Tunggu, bukannya mereka itu Kaito dan Gakupo?"

KaitoGakupo: "Tadi itu Bunda Meiko kan?"

Seketika, Bunda Meiko langsung berbalik dan berlari ke arah Kaito dan Gakupo dengan kecepatan yang bahkan mengalahkan lari sebuah cahaya (cahaya bisa lari ya? Kakinya mana?).

"HUWAAAAAAA!" Gakupo dan Kaito berteriak bersama.

Di tempat perkumpulan cewek (plus satu cowok)…

Dddrrrttt… *sedikit bergetar*

Prang! *gelas jatuh*

"Dengar suara?"

"Iya, suara gelas pecah…"

"Suara lain?"

"Suaramu…"

"Suara lain lagi?"

"Nggak…"

Kembali sunyi.

Balik ke tempat mangsa dan pemangsa…

(GakuKaiMei: WOOOOIIII!)

"GYAAAHHH!" Gakupo dan Kaito berlari sekencang-kencangnya demi menyelamatkan harga diri mereka sebagai laki-laki.

"Kemari kalian! Aku punya beberapa make up dan aksesoris menarik untuk kalian!" Bunda Meiko mengejar dua anak didiknya yang bertampang cowok tapi sebenernya cewe– eh, kebalik… tampang cewek tapi sebenarnya cowok!

Dari arah berlawanan, Nigaito sedang membawa setumpuk kertas (yang entah apa itu). Dan… lewatlah Kaito dan Gakupo…

WHUOOOSSSHHHZZZ! *ke-lebay-an author kumat…*

Kertas-kertas yang dibawa Nigaito langsung terbang…

"MAAF, NIGAITO!" Kaito berteriak sementara Nigaito hanya menatap ke arah kepergian Kaito.

WHUOOOOSSSHHHHH! *lebay lagi*

"WOY! BALIK KE SINI!" Bunda Meiko ikut teriak-teriak.

Nigaito tak bergeming, hanya menatap tiga makhluk tidak tahu aturan menggunakan jalan umum (mboknya, ini di dalam rumah bukan jalan raya…).

Kaito dan Gakupo terus berlari, sampai akhirnya mereka capek dan bersembunyi di gudang belakang.

"Bunda Meiko memang T-Rex dari segala T-Rex…" Kaito berkomentar.

"Tadi Rin kamu bilang singa… dan sekarang Bunda Meiko kamu sebut sebagai salah satu dinosaurus terganas yang sudah punah…" Gakupo menghela nafas.

"Yah, itu lumayan, Akaito pernah bilang kalau Bunda Meiko marah sama saja dengan tujuh Gunung Merapi meletus di saat yang bersamaan…"

"Dan membuatnya berakhir menjadi sambel uleg di tangang Bunda Meiko?" tanya Gakupo.

"Bukan sambel uleg… sambel blender..." Kaito menutup matanya, menikmati angin yang berhembus melalui celah angin di atasnya.

"Hah?" Gakupo menganga lebar.

"Dia berakhir opname di rumah sakit selama seminggu…" Kaito terkikik geli ingat betapa memelasnya wajah Akaito waktu itu.

"Oh…" Gakupo menjawab singkat sembari memperhatikan wajah damai Kaito.

Suasana langsung sepi. Tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah yang mengerikan.

Tuk tak tuk tak tuk tak tuk tak…

Kaito dan Gakupo kaget. Mereka langsung mojok di sudut gudang di balik kardus-kardus besar dan berusaha menyembunyikan bunyi nafas mereka.

Loh? Mojok? Pacaran dong? (Kalau di kalangan teman-teman author, mojok itu artinya pacaran di tempat sepi…)

JGLEG!

Tampaklah sosok merah (yang tidak diinginkan keberadaannya) berdiri di pintu. Matanya nyalang kemana-mana, lalu ia mulai berjalan berkeliling.

Kaito gemetaran hebat, membayangkan nasibnya nanti. Nasib Gakupo pun tak jauh dari Kaito. Mereka berpelukan menunggu malaikat maut menjemput mereka…

"Ketemu~…" wajah 'malaikat maut' merah bernama Meiko menyembul dari balik kardus tepat di depan Kaito dan Gakupo.

Gakupo dan Kaito tak dapat berkutik lagi…


Oh yeah! Cerita yang nggak kalah aneh dan garing dari saya selesai! Saya tahu, yang ini nggak kalah ancur dengan cerita kemarin. Maka, saya masih membutuhkan review yang membangun dari senior-senior, rekan-rekan, dan pembaca sekalian agar kedepannya lebih baik lagi.

Kaito: *gebug author* ceramah doang! Gak maju-maju nih, tulisannya!

Gakupo: setuju! Masih banyak yang ditambal-sulam di mana-mana...

Eri: Aduuh... namanya juga nilai B. Indo tengkurep gimana nggak ancur?

GakuKai: *lempar kamus EYD* MAKANYA BELAJAR!

Eri: *kabur*

Dari kejauhan...

Eri: Minna! Terimakasih sudah membaca!