Maaf minna, Eri lama... (readers: huuu!)
Gyaaa, jangan lempar panci-panci itu dulu! *ngumpet di balik tembok*
*keluar lagi* ehem, alasan Eri telat karena Eri nggak bisa mempublish ceritanya, akun Eri ngadat...
(Readers: ALASAN!)
Gomen~ gomen~ *nari gaje* *abaikan*
Yasudah, kalau begitu langsung kita nikmati pengalaman gaje para penghuni SMP Loid ini, yey!
"Ketemu~…" wajah 'malaikat maut' merah bernama Meiko menyembul dari balik kardus tepat di depan Kaito dan Gakupo.
Kaito dan Gakupo tak dapat berkutik lagi. Mereka pasrah ketika Bunda Meiko mulai mendandani mereka dengan paksa. Ternyata sekarang Bunda Meiko tak lupa memberi parfum juga selain perlengkapan rias wajah…
"Nah, kalian lebih baik begini…" kata Bunda Meiko sambil mengatupkan tangannya.
Gakupo dan Kaito hanya menghela nafas. Yah, namanya juga sudah jatuh ketimpa pesawat ketumpahan cat masuk selokan dikejar anjing dimarahin emak…
"Ayo kita kembali~…" Bunda Meiko menyeret dua makhluk itu untuk kembali ke ruangan 'Perkumpulan Cewek tadi'. Sepanjang jalan, Bunda Meiko tak henti-hentinya bergoyang dombret sehingga Kaito dan Gakupo harus mati-matian menahan isi perut mereka yang ingin meloncat keluar.
"Aku dapat dua 'cowek' cantik… ~(^o^~) ~(^o^)~ (~^o^)~" senandung Bunda Meiko selama perjalanan masih dengan joget gajenya.
Sesampainya di ruangan 'Perkumpulan Cewek'…
JPRET!
JPRET!
JPRET!
Kaito setengah mati menahan emosi ketika cewek-cewek itu mengambil gambar dirinya dengan norak. Ada yang dibuat miring, ada yang pakai 'satu, dua, tiga, buncis!', ada yang sambil loncat-loncat, dan ada pula yang sambil jungkir balik nggak karuan.
Gakupo nggak kalah sebelnya ketika dia dipaksa berpose mirip cewek seksi bahenol tapi perkasa oleh cewek-cewek yang kagum akan kecantikannya itu *dibunuh Gakupo*.
Dan yang membuat mereka tambah sebel adalah Kaiko dan Gakuko (yang tak lain saudara mereka sendiri) yang banyak mengambil bagian memotret (dan untuk Gakuko, mengarahkan Gakupo seperti boneka siap potret).
"Kaito, jangan manyun dong!" kata Kaiko sambil menarik kedua sudut bibir Kaito ke atas supaya Kaito tersenyum, tapi bentuknya jadi aneh karena nariknya kelewat tinggi. Hal itu membuat yang lain ngakak-ngakak. Bahkan Gakupo mau tak mau tersenyum juga melihat wajah Kaito yang amburadul.
"Aku bukan boneka belby yang bisa dimainin sesuka hati!" Kaito bersungut-sungut.
"Siapa yang bilang kamu boneka belby? Kamu kan boneka marmot… buktinya kamu bersungut-sungut, persis marmot deh!" kata Miku sambil mengacungkan jempolnya.
Kaito makin manyun.
Dan mungkin karena Kaiko kelewat nakal, dia memotret wajah Kaito yang mirip ikan koi mangap, membuat Kaito jadi tambah manyun.
"Eh, kasihan ikan koinya kalau lama-lama dikeluarin dari air!" kata Gakuko sambil cekikikan.
"Masukin ke kolam belakang aja!" usul Luka.
"Jangan!" kata Len.
"Kamu membela dia ya, Len?" tanya Rin sementara Kaito sudah berbunga-bunga ada yang membelanya.
"Nggak, tapi kalau make up-nya luntur kan kasihan… nanti mukanya jadi mirip mikrolet deh…" kata Len santai membuat Kaito pundung di pojokan.
"Oh iya, Bunda Meiko juga suka VanaN'Ice ya?" Len bertanya.
"Iya dong!" kata Bunda Meiko sambil mengedipkan sebelah matanya. "Mereka kan perfect, walau sebenarnya aku juga nggak tahu wajah mereka yang sebenarnya…" lanjut Bunda Meiko.
"Tapi aku yakin VanaN'Ice nggak akan membuka topengnya dalam waktu dekat ini! Mungkin setahun lagi, atau dua…" kata Bunda Meiko optimis.
"Bunda Meiko mau taruhan? Kalau Bunda menang, satu kelas akan membelikan persediaan sake untuk Bunda selama 2 bulan. Tapi kalau kalah, Bunda harus mentraktir satu kelas." kata Miku dengan berani.
"Miku! Jangan sembarangan!" pekik Teto.
Bunda Meiko tersenyum. "Setuju!" katanya sambil menjabat tangan Miku.
"Miku, kenapa kamu optimis sekali?" tanya Gumi.
"Aku juga nggak tahu kenapa… hanya punya firasat mereka bakal buka topeng mereka besok Sabtu…" Miku menempelkan telunjuk kanan di bibirnya sambil berpikir.
"Ah, itu tidak mungkin…" Bunda Meiko tertawa.
"Tapi kan firasat Miku selalu benar." Kata Haku.
"Ya, contohnya waktu dia bilang kelas kita bakal menang di lomba kebersihan kelas tahun lalu. Besoknya kita diumumkan sebagai juara 2 kan?" kata Neru sambil mengutak-atik HPnya.
"Miku gitu loh!" kata Miku sambil mengacungkan jempol kanannya.
Mereka sibuk mengobrol kemana-mana, tak menyadari tiga makhluk yang saling bertatapan bingung.
Satu jam kemudian…
"Kaiko, kita pulang duluan ya!" kata Haku, Neru, dan Teto serempak.
"Kita juga mau pulang, sudah malam…" kata Luka dan Gumi.
"Kak, ayo!" Gakuko menarik-narik tangan Gakupo (yang masih memakai rok).
"Jangan dilepas dulu loh, bajunya!" kata Bunda Meiko sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kaito dan Gakupo hanya menyesali nasib mereka yang naas.
'Tuhan, paringana aku iPod…' pikir Kaito dlm hati. (AN: paringana= berikanlah)
"Oh iya, niat mulia kita nggak jadi ya?" tanya Len.
Krik…
"Oh iya!" Kaito dan Gakupo menepuk dahi masing-masing.
"Niat mulia apa sih?" tanya Rin penasaran. Yang lainnya mengurungkan niat untuk pulang hanya demi mendengar 'niat mulia' satu cowok dan dua cowek itu
"Belajar bareng. Besok kan seni budaya ulangan… tadi kan aku udah bilang waktu Kaito dan Gakupo dikejar-kejar Bunda Meiko…" kata Len polos.
Kretek…
Background tembok retak terdapat di belakang Miku dkk. Bunda Meiko hanya cekakakan (hanya?) melihat ekspresi Miku dkk yang mirip mayat.
"Len, ada untungnya kamu bilang…" kata Neru.
"Ayo kita rame-rame gunakan sistem KS!" kata Miku.
"Ya!" yang lainnya mendukung. Bunda Meiko hanya geleng-geleng mendengar keputusan mereka untuk melakukan kebut semalam.
"Jangan lupa SMS teman-teman yg lain, kali-kali ada yang lupa juga!" kata Neru yang kebetulan membawa HP.
Keesokan harinya…
Teeet… teeet…
Bel masuk berbunyi. Kiyoteru sensei memasuki kelas dengan tenang, tapi…
Yang dilihatnya adalah sekumpulan wajah-wajah manusia tanpa nyawa *author dibuang ke kandang hiu (?)*.
"Kenapa wajah kalian seperti bemper mobil kodok nabrak pohon?"
"Ini dikarenakan kita berusaha mendapat nilai yang baik untuk ujian, sensei…" kata Miku dengan wajah setengah teler.
Murid-murid yang duduk di sekitar Miku manggut-manggut meskipun wajah mereka sudah seperti onta padang pasir.
"Em, bagaimana kalau ulangannya ditunda saja… kalian terlihat menakutkan…" kata Kiyoteru sensei. Kontan, satu kelas langsung melotot.
"Kalau begitu sia-sia dong pak, kita berdagang– eh, begadang semalaman!" protes Piko.
"Kalau ulangan sekarang saya yakin kalian hanya akan tidur…" kata Kiyoteru sensei sembari menggebrak meja.
Piko dan Kiyoteru langsung terlibat adu mata.
Miku yang melihat perang mata itu langsung berkata, "Kiyoteru sensei, saya mau bertanya."
Kiyoteru menghela nafas. "Ya?"
"Mengapa Kiyoteru sensei memutuskan untuk mengundang VanaN'Ice ke sekolah?" tanya Miku.
"Karena saya yakin banyak yang menyukai mereka, termasuk anda dan saudara anda yang sudah pingsan di sudut sana." Kata Kiyoteru sensei sembari menunjuk Miku Hagane yang tidur dengan mulut menganga.
Di alam mimpi Miku Hagane…
"Huatsyio!" Miku bersin dengan keras.
Kembali ke kelas…
"Pak, kira-kira besok VanaN'Ice mau membuka topengnya tidak?" tanya Neru.
Kiyoteru sensei langsung diam.
Kelas ikut diam.
Sampai akhirnya Miku buka mulut.
"Kiyoteru sensei, tolong buat mereka mau membuka topeng mereka besok, atau kalau tidak kelas ini akan miskin mendadak…" kata Miku sambil melancarkan puppy eyesnya.
Teto, Rin, Gakuko, dan Gumi yang melihatnya langsung ikut-ikutan berpuppy eyes.
Akhirnya semua perempuan di kelas itu (kecuali Miku Hagane yang masih mendengkur dengan tidak elitnya) berpuppy eyes massal, membuat seluruh murid laki-laki di kelas itu meleleh.
Kiyoteru sensei (yang akhirnya runtuh pertahanannya melihat lautan puppy eyes itu) langsung menghela nafas.
"Yah, nanti saya coba menanyakan pada mereka." Kata Kiyoteru pasrah.
"Hore! Kita nggak jadi miskin mendadak!" Neru langsung melompat ala cheerleader sementara Haku (yang duduk di sebelah Neru) menebarkan confetti ke arah Neru.
"Memangnya kenapa kalian miskin mendadak kalau mereka tidak membuka topeng?" Kiyoteru sensei mengangkat alis.
"Soalnya, gara-gara Miku, kalau VanaN'Ice nggak membuka topeng besok kita sekelas harus membelikan Bunda Meiko persedian sake selama dua bulan!" kata Neru.
"WHOT?!" semua mata langsung tertuju ke arah Miku. Yang ditatap hanya menunduk.
"Miku, yang bener aja... persediaan sake selama dua bulan untuk Bunda Meiko itu sama aja kita mati!" kata Yuki.
"Daripada debat, lebih baik kita berdoa dengan khusyu' supaya kita nggak kena maut karena diperas oleh Bunda Meiko..." SeeU angkat bicara.
Satu kelas manggut-manggut mendengar pernyataan SeeU yang mirip perkataan ahli agama itu.
"Kalau begitu jam pelajaran Kiyoteru sensei dipakai buat doa bersama saja!" usul Neru.
Kelas hening.
"Siapa yang memimpin doanya?" tanya Piko polos.
Krik...
"Ketua kelasnya siapa?" tanya Kiyoteru sensei.
Kelas tambah hening.
"Kami lupa pak..." satu kelas berkata dengan kompak, membuat sang guru langsung bergubrak ria.
"Kalau begitu salah satu dari kalian, siapa yang mau." Kata Kiyoteru sensei setelah bangkit dari gubraknya.
Duapuluh sembilan pasang mata langsung menatap ke arah Miku, sang tersangka utama dalam perkara pertaruhan dengan Bunda Meiko.
Miku yang merasakan aura-aura gelap hanya merinding. Ia sudah tahu siapa yang menjadi tumbalnya. Akhirnya Miku menarik nafas dan mulai berkata...
"Agar isi dompet kita diselamatkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, marilah kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan dengan semangat perjuangan melawan sang Dewi Kematian, Bunda Meiko kita tercinta. Berdoa mulai."
Semua berdoa dengan khusyuk. Dan semua berpikir bahwa Miku cocok kalau disuruh ikut lomba pidato di kelurahan, tak terkecuali Kiyoteru sensei yang tidak berjodoh dengan pidato. Ia hampir ngantuk mendengar kata-kata Miku yang lumayan panjang itu.
Pelajaran berlanjut dengan baik. Dan pada setiap pelajaran, mereka mengadakan doa bersama agar dompet mereka diselamatkan dari cengkraman Bunda Meiko. Namun, pada pelajaran terakhir, mereka tidak melakukannya. Kenapa?
Tentu saja karena ada Bunda Meiko...
Bunda Meiko masuk dengan wajah amat sangat bahagia.
"Gre-"
"Slamat siang semuanya!" kata Bunda Meiko, memotong perkataan Miku.
Kelas langsung merasa horror didatangi Bunda Meiko yang berwajah bahagia seperti baru saja menemukan mangsa.
"Sudah tahu perjanjiannya?" kata Bunda Meiko, masih tersenyum.
"Sudah Bunda..." sekelas berkata dengan nada takut.
"Ahahaha, aku tak sabar mendapat sake dari kalian... lalalala~" Bunda Meiko bersenandung dan menari di depan kelas, membuat semua murid harus menahan isi perut yang rasanya mau meloncat keluar.
Pelajaran terakhir itu hanya terisi Bunda Meiko yang menari-nari gaje dan muka para murid yang seperti traffic light, berwarna merah, kuning, hijau, karena terus menahan hasrat yang bergejolak di dalam badan mereka. Hasrat untuk memuntahkan seluruh makanan mereka ke wajah sang 'guru tercinta'.
Sorenya, setelah pulang sekolah, Len kembali diculik oleh Kaito dan Gakupo. Mereka berkumpul di suatu tempat, sambil mengutak-atik gitar mereka.
Sementara itu, Kiyoteru sensei dalam perjalanan menuju markas VanaN'Ice. Di depan sebuah pintu yang letaknya paling ujung, ia bernafas sejenak sembari menyusun kata-kata untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya.
Kiyoteru sensei baru mau mengetuk pintu ketika salah satu personil VanaN'Ice keluar dan terkena pukulan tangan Kiyoteru sensei di bagian jidat. Untung saja ia menggunakan topeng, kalau tidak mungkin Kiyoteru sensei akan merasa ia tak pantas hidup.
"Ah, maaf... saya hanya ingin berdiskusi sebentar denga-"
"Oh, selamat siang tuan Hiyama! Silahkan masuk..." kata orang bertopeng biru (yang tadi dipukul oleh Kiyoteru sensei) dengan sopan seakan tak terjadi apa-apa.
Orang yang bertopeng biru itu mempersilakan Kiyoteru untuk duduk sementara dua sisanya hanya menemani. Yang paling tinggi menggunakan topeng ungu sedangkan yang perempuan memakai topeng kuning.
"Baiklah, apa yang ingin anda bicarakan, tuan Hiyama?" tanya sang topeng ungu.
"Saya hanya memiliki sebuah permintaan yang menyangkut nyawa dompet anak didik saya..." kata Kiyoteru sensei.
"Dompet?" si topeng kuning dengan nada bingung.
"Iya." Kata Kiyoteru sensei singkat. Lalu ia menceritakan duduk perkara sebenarnya kepada ketiga orang bertopeng itu.
Tiga makhluk bertopeng itu hanya mengangguk-angguk.
"Jadi karena salah seorang muridmu bertaruh dengan gurunya tentang kami, sekelas terancam harus membelikan persediaan sake untuk guru itu selama dua bulan, padahal dalam sehari saja guru itu dapat meminum 20 botol sake, begitu?" si topeng biru menyingkat cerita panjang Kiyoteru sensei.
"Ya, kurang lebih seperti itu." Kata Kiyoteru sensei.
"Kalau begitu anda tenang saja tuan... kami sebenarnya sedang menyiapkan sesuatu untuk besok, seperti kejutan, yang kebetulan dapat menyelamatkan kelas anda." Kata si topeng ungu.
"Kalau begitu terima kasih banyak, maaf kalau saya mengganggu kegiatan kalian. Semoga sukses!" kata Kiyoteru sensei sembari menjabat tangan mereka satu persatu.
"Sama-sama tuan. Kami senang bisa membantu anda!" kata si topeng kuning.
Lalu Kiyoteru sensei berjalan keluar dengan hati yang sedikit bimbang. Kejutan? Mereka menyiapkan kejutan untuk penampilan mereka besok, yang belum pernah mereka lakukan pada konser mereka sebelumnya. Dan lagi, ia bingug mau berkata apa pada kelas maha malang itu karena para personil VanaN'Ice tadi tidak memberi tahu mereka akan membuka topeng mereka atau tidak. Meskipun mereka bilang akan menyelamatkan Miku dkk, Kiyoteru sensei tetap tidak tenang.
Malamnya, satu kelas plus Kiyoteru sensei tak bisa tidur dengan tenang. Yang bisa hanya saudara Miku yang di kelas hanya molor, Hagane Miku.
Keesokan harinya, telah tampak sebuah panggung di halaman SMP Loid yang luas itu. Siswa dari berbagai kelas membicarakan idola mereka yang akan manggung pada jam 08.00 nanti. Walau semua tampak bahagia, ada satu kelas yang harap-harap cemas, itulah kelas Miku dkk
"Miku, bagaimana kalau nanti mereka nggak mau membuka topeng mereka?" tanya Neru sambil menggoyang-goyangkan badan Miku.
"Ganti pembiacaraan yuk!" Miku mencoba mengalihkan tema.
Tiba-tiba, Kaiko datang sambil berlari.
"Hoy, kalian! Aku baru saja menemukan sesuatu!" kata Kaiko setelah dekat.
"Data apa? VanaN'Ice?" tanya Miku.
"Iya, katanya ada satu lagu dimana mereka nyanyi bareng salah satu guru dari sebuah sekolah!" kata Kaiko dengan berapi-api.
"WHOT!?" para fans VanaN'Ice di sekitar situ langsung melontarkan benda-benda ajaib dari mulut mereka.
"Sekolah mana? Lagunya apa?" tanya Neru bertubi-tubi. Luka mencuri dengar dari balik pintu.
"Eh, Luka! Ikut sini!" Kaiko yang melihat Luka mengintip langsung mengajaknya.
Luka langsung ikut nimbrung. Cuek-cuek begitu dia juga suka VanaN'Ice ternyata...
"Jadi, kalau soal gurunya siapa dari mana nggak dijelasin secara terperinci, tapi kalau lagunya itu judulnya '13943 Goushitsu' atau Room no. 13943" jelas Kaiko panjang lebar.
"Suaranya kayak apa ya?" Teto membayangkan.
"Aku ada lagunya..." serentak, semua orang yang berkumpul di situ menatap asal suaranya, Luka.
Miku langsung mendekati Luka.
"Luka..." katanya sambil menepuk pundak Luka, "kau malaikat!"
Luka justru mengangkat alisnya. "Ini kan udah agak lama..."
Semua langsung diam.
"Kalau begitu diputar, ada di Hpmu kan?" tanya Gakuko.
Luka langsung memutar lagu yang dimaksud dengan speaker penuh supaya dapat didengar oleh semuanya.
"Eh iya, ada 4 suara disini, tapi yang satu agak samar..." kata Kaiko.
"Isinya horror..." kata Gumi.
"Tapi bagus..." Gakuko melanjutkan.
"Hai semua! Pada mendengarkan apa?" Rin datang dengan wajah bahagia.
"Hai Rin, sempat-sempatnya kamu memasang wajah bahagia padahal dompet kita sedang berada di ambang kematian..." kata Teto.
"Justru itu, aku sedang mengalihkan semua pikiran negatif supaya aku nggak merasa aku bernasib paling buruk..." kata Rin sambil menunduk.
"Oh, iya... mana Len?" tanya Neru.
"Len tadi diculik..." kata Rin dengan tenang.
"DICULIK?!" semua berteriak serempak.
"Sama siapa?!" Gumi panik.
"Sama Kaito dan Gakupo..." jawab Rin polos.
GDUBRAK!
Gubrak berjamaah terjadi...
"Kenapa sih, pada panik?" Rin masih memasang wajah polosnya.
"Abaikan saja Rin, kami hanya salah persepsi..." kata Luka yang bangun sambil mengelus kepalanya yang nabrak tembok dengan sukses.
Tiba-tiba, terdengar suara Kiyoteru sensei dari speaker.
"Kepada seluruh murid SMP Loid, diharap segera berkumpul di lapangan utama sekarang juga. Sekali lagi, kepada seluruh murid SMP Loid, diharap segera berkumpul di lapangan utama sekarang juga karena acara akan segera dimulai. Terimakasih."
"Sama-sama pak..." kata Miku dengan suara pasrah.
Mereka semua segera pergi ke lapangan utama agar mendapat tempat terdepan. Dan setelah nyelip-nyelip dan sedikit berlari, mereka berhasil sampai di tempat terdepan.
Terlihat Kiyoteru sensei naik ke panggung dengan senyum tergantung di wajahnya.
"Selamat pagi semuanya! Apa kabar? Pasti baik semua. Saya yakin kalian mati-matian membuat diri kalian sehat pada hari ini untuk menyaksikan tiga orang yang khusus di panggil kemari, ya kan?" tanya Kiyoteru sensei.
Semua, terutama yang perempuan, langsung menjerit histeris.
"Di sini, saya menjadi pembawa acara yang mungkin hanya berdiri selama lima menit kurang. Kalau begitu, tanpa banyak bicara lagi, kita sambut mereka, VanaN'Ice!"
Musik mulai terdengar, tirai di belakang langsung terbuka, menampakkan dua laki-laki dan satu perempuan yang berdiri sambil membawa gitar dan bass. Para penonton mulai berteriak-teriak histeris, apalagi ketika mereka mulai bernyanyi.
The distorted ordinary life, a forbidden love,
and a heart of deception.
Our imperfect love has been painted
completely black in this ebony world
I've always wanted to say this to you,
this mere one phrase,
if my uncontrollable impulse
will end up being shattered
Love and be loved, to the point of going mad.
This sweet and hot kiss is an imitation.
My paralyzed senses and fading consciousness
paint my overflowing thoughts and the truth
completely in black
"Lagu pertama Imitation Black!" kata Miku.
Lagu terus berlanjut sampai berakhir. Setelah lagu selesai, laki-laki bertopeng biru langsung menyapa penggemarnya.
"Selamat pagi, SMP Loid! Mana suaranya?!"
Terdengar suara riuh rendah. Angin teriakannya bahkan bisa membuat pita-pita yang digunakan perempuan yang bertopeng kuning seakan tertiup angin kencang.
"Yak, ini pertama kalinya kami mengadakan konser terbuka seperti ini, dan kalian boleh berbangga hati karena kami memilih SMP yang menakjubkan ini sebagai tempat pertama kami. Karena itu, pada kesempatan yang istimewa ini, kami memberlakukan sistem request lagu." Kata si topeng biru.
"Kami akan menyanyikan lagu yang kalian request sampai kalian puas!" kata si topeng ungu menambahkan.
"Untuk selanjutnya, ada yang mau request?" si topeng kuning membuka mulut.
Teriakan-teriakan yang terdengar semakin menjadi-jadi. Bahkan rasanya semakin keras saja.
"Setsugetsuka?" tanya si topeng ungu.
Terdengar kata-kata ya. Para personil VanaN'Ice tampak seperti berpandang-pandangan, lalu mengangguk bersama. Si topeng ungu mengambil gitar tradisional Jepang dan mulai memetiknya.
Setelah kedua temannya mulai menggenjreng gitar dan bass mereka, si topeng ungu langsung berganti ke gitarnya dan mulai bernyanyi.
My heart has been bewildered by you beyond imagination.
Upon seeing the snow, moon, and flowers, I think about you.
I was unable to divert my eyes, as they had been captured
by your bewitching figure with a fan held in one hand
Just when will I meet you, the caged bird?
In this mesmerizing night of the full moon
Unable to meet,
my thoughts for you overflow in this tedious night of long rain.
The river of my tears
keeps soaking my sleeves, but still there's no way for us to meet
If I fall asleep while thinking about you, will I be able to meet you? (If I did not exist that fight had not happened.)
I know clearly that if it's a dream then I won't ever wake up. (I should not have met you that night.)
(AN: bagian kurung di atas dinyanyikan oleh si topeng kuning)
Setelah lagu selesai, si topeng ungu bertanya, "Ada yang mau request lagi?"
"13943 Goushitsu" kata Luka dengan keras di dekat mikrophone (Jawa mode: on) yang tersambung dengan speaker. Semua langsung menatap Luka yang berwajah saya-dipaksa-untuk-mengatakan-ini.
Tiba-tiba, si topeng ungu mengeluarkan bunyi orang terengah-engah. Lalu musik kembali mengalun, mereka mulai bernyanyi.
We have been imprisoned for no reason.
Although we try to look composed, we're dripping with desire
Tiba-tiba muncul seseorang yang menggunakan tudung panjang sehingga wajahnya tertutup. Orang itu menyanyikan beberapa baris dalam lagu itu.
We're the epitome of humans' unsightliness and defilement
Lying to and tricking each other is merely one of the rules.
This place has no need for pretty and nice things.
You, who were my comrades yesterday, are my enemies today
In the process of erasing my cruelly mutilated memories,
you messily devour my brain and slowly become aberrant
Although we could have trusted one another,
we doubted and injured everyone in sight.
The ticking time calls upon the devil yet again
What could be your true goal as the lone survivor?
Lagu terus berjalan sampai akhir, semua memperhatikan suara orang bertudung itu. Tak terkecuali Miku dkk. Setelah lagu selesai, suasananya kembali ramai.
Tiba-tiba ada yang menyolek Miku dari belakang, ialah Bunda Meiko.
Bunda Meiko tersenyum penuh arti, lalu ia berlalu sambil tertawa mengerikan, membuat murid-murid yang berada di sana merinding.
Tiba-tiba (lagi?) si topeng kuning berkata sembari menunjuk orang bertudung tadi, "Kalian mau tahu siapa ini?!"
Semua langsung berteriak, "MAU! MAU! MAU! MAU!" dengan nada 'Pucuk! Pucuk! Pucuk! Pucuk!'
Sang topeng ungu dan biru memegang ujung tudung di depan wajah orang bertudung tadi, bersiap membukanya.
"Kalian sebenarnya mengenalnya seperti kalian mengenal teman kalian. Tapi, daripada kalian bertambah bingung, hitung sama-sama!"
"SATU! DUA! TIGA!"
Serentak, si topeng biru dan ungu membuka tudung yang menyelubungi orang itu.
Penonton melongo.
"Yak, sudah kubilang kalian mengenalnya. Inilah Kiyoteru Hiyama san!" kata si topeng kuning.
Kiyoteru sensei hanya tersenyum.
'Ternyata kedokku dibuka juga...' pikir Kiyoteru sensei.
Suasana tetap sunyi, sampai akhirnya terdengar teriakan dari belakang...
"The Lost Memory!"
Suara itu berasal dari guru maha merah kita, Bunda Meiko.
Tapi itu suasana tetap sepi, sampai akhirnya Miku memutuskan untuk buka mulut.
"Bagaimana kalau kalian membuka topeng kalian?" kata Miku takut-takut.
Si topeng kuning hanya menggeleng, membuat wajah-wajah di sana menjadi kecewa. Tiba-tiba sebuah lagu terdengar.
When I have awakened from my dream,
I smell a nostalgic flowery scent around me.
My thoughts are still left behind
in the place by me, even now...
The wind, making my hair sway, gradually erases everything.
If I could return to that time,
I'd give up everything, for I'd no longer need anything
I wish the two of us could bloom together
until the time when our petals would scatter.
Your fragments will dwell in this tree
until everything completely withers away
Lagu itu terus berlanjut, sampai pada suatu bait, si topeng ungu dan biru memegang topengnya.
As time flows by, even if your appearance should change,
when I gaze at you,
Dan tiba-tiba mereka berdua melemparkan topengnya, sementara si topeng kuning baru memegangi topengnya. Semua yang melihat hanya bengong, tak terkecuali Kiyoteru sensei dan Bunda Meiko.
I'll see that you've become a flower that will never bloom again,
Lalu si topeng kuning melepas topengnya dengan cara yang sama, dilempar.
as though announcing your death and bidding to me farewell
Lagu selesai, mereka bertiga menunduk hormat. Tampak wajah-wajah kaget nan shock, terlebih pada muka Miku dan teman-teman, terlebih pada Kiyoteru sensei, terlebih lagi pada muka Bunda Meiko.
Semua kaget, karena VanaN'Ice yang sangat mereka idolakan berasal dari sekolah mereka sendiri, yaitu Kaito, Gakupo, dan Len. Padahal mereka yakin salah satu dari mereka adalah perempuan, tapi ternyata itu adalah Len yang menggunakan rok!
"Oke, wajah shocknya distop sampai di sini saja! Sekarang, biarlah kami menyanyikan lagu 'The Lost Memory' sebagai penghormatan terakhir bagi dompet Bunda Meiko!" kata Gakupo diiringi gelak tawa teman sekelasnya, tentu saja itu adalah kelas yang nyaris diperas Bunda Meiko.
Being dyed into a sepia color,
it is a scene I have seen before.
Gazing up at the listless sky,
I see an afternoon mixed with lamentation
I feel like I'm about to be crushed into pieces by loneliness and lose my sanity.
The memories robbed away from me, the lies, and the truths,
are being sunk by the cruelly passing time.
I don't even know why I'm here
All I know is that I,
without any emotions, am melting my ripped heart away.
I am unable to remember what is precious to me
I will remember
our sullied and deeply sinned love. (If I can...)
If I could rewind time, (...restore our sullied love,)
I would like to live one more time (I would like to live through...)
through that vivid season we once lived through. (...our season one more time.)
I will remember.
Tell me why my tears wouldn't stop (Tell me...)
in this blank space and time. (...my tears wouldn't stop.)
I will dash through time towards that place. (Dashing through time...)
Where can I find the reason for this inescapable pain? (...why can't I escape this pain?)
(AN: sekali lagi, yang di dalam kurung dinyanyikan oleh Len, si topeng kuning)
Setelah lagunya selesai, mereka menunduk diiringi tepukan tangan yang amat meriah. Len langsung berkata dengan lantang.
"Bunda Meiko, jangan lupa dengan perjanjiannya!" katanya sambil menunjuk Bunda Meiko yang berdiri di paling belakang.
Konser itu kembali berjalan dengan segala kegokilan dan kegajeannya. Sementara itu, Bunda Meiko sibuk meratapi dompetnya.
Akhirnya selesai... sekali lagi maaf Eri lama... ^^ bagi yang ingin memberikritik, saran, usul, flame, hadiah kejutan berupa gebukan, cubitan, jeweran, Eri terima dengan senang hati karena saya sudah biasa disiksa adik-adik saya yang nakal luar biasa...
Erika The Bunny Girl
