Ini hari senin, lebih tepatnya dua hari setelah konser VanaN'Ice yang menggemparkan. Banyak– bukan, tapi amat banyak murid yang tidak percaya akan apa yang mereka lihat, tapi mereka sudah berjanji tidak akan memberi tahu identitas sebenarnya dari VanaN'Ice.

Pagi ini, Kaito berjalan sendiri ke sekolahnya. Seakan tak terjadi apa-apa, ia berjalan santai, bahkan ia berusaha berjalan sesantai mungkin ketika ia memasuki lingkungan sekolahnya.

"Eh, itu Kaito kan? Si biru?"

"Nggak nyangka ya, ternyata dia artis!"

"Kyaaaa! Dia lewat! Dia lewat!"

Oke, abaikan teriakan khas fansgirl tadi. Yang jelas, itu membuat Kaito sedikit merinding. Di dekat gerbang sekolah, makin banyak suara-suara gaib yang terdengar, termasuk suara ajaib yang satu ini.

"KAITO CHAAAAAAAANNNNN!"

Setiap orang yang mendengarnya langsung menoleh, lalu menyingkir dengan kecepatan yang bahkan bisa mengalahkan superhero Flash dikejar kereta Shinkashen, sedangkan yang dipanggil hanya bisa berdoa ia tidak dijemput malaikat maut sekarang.

Dan sekarang, ia sekarat tergilas road roller.

"Rin, sudah kubilang jangan mengemudikan road roller terlalu cepat. Kan kalo di-rem nggak bisa langsung berhenti!" ujar Len sembari turun dari 'kendaraan pribadi'nya.

"Hehe, habis kalo pelan rasanya nggak asyik sih..." Rin cengar-cengir.

Gakupo yang baru datang langsung menghentikan langkahnya, membuat Gakuko yang berjalan dibelakangnya menabrak punggungnya.

"Kalo ngerem bilang-bilang dong!" Gakuko langsung nyemprot.

"Kurang kerjaan! Mending kamu pasang mata biar gak nabrak!"

"Harusnya kamu yang salah!"

"Ya nggak dong! Kamu itu yang salah!"

Dua makhluk ungu itu terlibat pertengkaran tidak bermutu yang jelas membuat banyak orang di sekitar sweatdrop berjamaah. Mungkin Kaito tidak terima atau apa, dia langsung bangkit dan berteriak dengan semangat '45.

"WOY, ADA ORANG SEKARAT KOK MALAH DITINGGAL?! PANGGIL AMBULAN KEK! APA KEK!"

Dua makhluk ungu itu memandang Kaito, lalu meneruskan acara debat super mereka.

Rasanya Kaito ingin membenturkan kepalanya ke roda road roller milik Rin, tapi ia terlalu tipis untuk berdiri.

"Eh, ada keripik es krim gede banget!" Miku berteriak, Luka ngakak.

"Bukan keripik es krim... Itu lebih mirip keset dibanding keripik!" kata Kaiko yang sukses membuat Miku, Luka, Rin, Len, dan duo Gaku ngakak nggak keruan.

"Kalian semua setan!" Kaito menggerutu, dan langsung dihujani jeruk, pisang, es krim, negi, sepasang terong dan tuna yang amat besar. Lalu ia dilindas road roller lima kali bolak-balik.

Tamatlah riwayat Kaito.

Tiba-tiba terdengar bel masuk. Mereka bergegas pergi ke kelas.

"Tunggu dulu!" kata Miku. Semua langsung berhenti mendadak, bahkan mereka hampir saling tabrak mirip domino.

"Apa yang akan kita lakukan buat menyingkirkan bukti kalau kita melakukan KDLS?" tanya Miku.

"Sebelum ada yang menjawab, ada yang tau apa itu KDLS?" tanya Len.

"KDLS itu singkatan dari Kekerasan Dalam Lingkungan Sekolah..." jawab Miku.

"Oooh..." respon Len.

"Gimana kalau kita tempel di mading sekolah?" usul Gakupo asal-asalan.

"Boleh tuh! Tumben otakmu encer kak!" kata Gakuko yang membuatnya mendapatkan sambitan di kepala dari Gakupo.

"Sudah-sudah... mending kita kumpulkan kertas tugas yang bentuknya nggak keruan itu ke mejanya Kiyoteru sensei..." usul Luka sambil menunjuk tempat Kaito berada.

"Ya sudah, ayo kita am–" kalimat Kaiko terputus saat melihat Kaito sudah tidak ada di tempatnya.

"Mana Kaito?" tanya Rin.

"Mungkin dia sudah kembali ke sisi Sang Pencip–"

BHUAAGGGHHH!

Gakupo tak dapat melanjutkan kalimatnya karena ia dilempar dengan tas warna biru yang tak lain milik Kaito.

"Eh, itu tasnya Kaito!" kata Miku, lalu menoleh ke sumber datangnya tas tersebut.

Kosong...

Sepi...

"Kabur yuk! Langsung ke kelas... Horor nih..." kata Gakuko sambil menarik-narik lengan Gakupo.

Tanpa dikomando, mereka langsung tancap gas ke dalam kelas. Tak menengok ke belakang sedikitpun...

.

.

.

.

.

.

"Yah, kok aku ditinggal..."


Di kelas~

"Jadi, zat dapat berupa benda padat, cair, dan gas. Molekul-molekul zat memiliki karakter yang berbeda-beda tergantung pada–"

Seperti kelas-kelas kebanyakan, kelas ini juga mengalami nasib yang sama jika ada penjelasan tentang Fisika yang kerjaannya hanya muter-muter. Dijamin, 90 persen penghuni tidak terlalu mendengarkan penjelasan Leon sensei selaku guru Fisika yang sedang sibuk berkoar-koar bak tarzan.

SeeU, dia mencatat asal-asalan apa yang diterangkan oleh Leon sensei

Teto, dia bermain-main dengan rambutnya yang seperti angin bahorok di cat pink. *author dirajam*

Miku, dia nyanyi-nyanyi gaje dengan perlahan supaya tidak didamprat oleh Leon sensei.

Akaito makan permen karet rasa cabe.

Gakupo dan Gakuko saling mengeriting rambut berubung mereka duduk berseberangan.

Hanya Luka yang tampak memperhatikan. Matanya terfokus pada papan tulis, tangannya sibuk mencatat walau agak terkesan asal-asalan, dan ia mendengarkan dengan seksama dan juga dengan konsentrasi tinggi tingkat internasional terhadap lagu yang disetelnya keras-keras dari HP-nya dengan headset.

Teng teng teng teng

Bel maha norak itu berbunyi tanda pergantian pelajaran.

"Baiklah anak-anak, pelajaran fisika kali ini kita sudahi." Kata Leon sensei sambil membereskan buku Fisika yang bujubuneg tebalnya.

"Greeting to our teacher." Kata Miku dengan suara bersemangat.

"Teee~nnng yuuuuu~ seeee~r [1]" Dengan kompak satu kelas menyatakan terima kasih dengan suara melempem mirip kerupuk kecebur sungai.

Leon sensei hanya tersenyum masam sambil melangkah keluar. Beberapa detik setelah Leon sensei pergi, kelas mulai ramai.

"Haah... akhirnya bebas dari penderitaan..." komentar Miku.

"HEEH! RAMBUTKU KAU APAKAN?!" teriak Gakupo pada Gakuko sambil mengacungkan rambutnya yang penuh pita-pita berwarna norak.

"KAU SENDIRI?! NIH LIAT RAMBUTKU YANG CANTIK JADI ANCUR!" Gakuko tak mau kalah. Rambutnya sendiri jadi bulat mirip rambut anjing pudel.

"HALAH, ITU LEBIH BAGUS DARIPADA RAMBUTMU YANG LAMA! YANG LAMA KAYAK EKOR MERAK!"

"APA KAU BILANG?! ULANGI LAGI, BANCI KALENG!"

Teriakan demi teriakan terdengar dari mulut dua Gaku ini. Selain membuatkan pertunjukan gratis untuk seisi kelas, mereka juga telah membuat author harus menempel capslock yang jebol.

"CIAAAAAT!" Gakuko mengarahkan pedangnya yang terbuat dari penggaris ke arah Gakupo, yang dengan cepat ditangkis oleh Gakupo.

"HYEAAAA!" Gakupo melemparkan beberapa meriam buku Fisika yang tebal-tebal, dan dengan gerakan gaje dihindari oleh Gakuko.

"Dan Gakuko kembali menyerang Gakupo. Tapi sodara-sodara, ia gagal mengenai titik lemah Gakupo. Dan yak! Gakupo mengeluarkan jurus seribu pensil yang langsung diarahkan pada Gakuko. Gakuko menghindarianya dengan manis. Daaan..."

"BISA DIAM KAGAK?!" duo Gaku itu menyembur Kaito yang berlagak menjadi pembawa acara.

Tunggu... Kaito?

Bukannya tadi dia udah the end ya?

.

.

.

"SUETAAAAAAAAAN!" bak dikejar singa, sekelas penuh langsung berlari dengan gajenya, meninggalkan Kaito yang bengong di tempat.

Saat itu, Bunda Meiko sedang berjalan dari arah yang lain. Di belakangnya terdapat dua orang, seorang laki-laki dan seorang lagi perempuan. Dan...

BRUK! BRAK! GEDUBRAK! DHER! DBUG! JDEKK! BLEDUG! THUNG! PYAR!

Mereka bertumpuk seperti gunung. Ajaibnya, dua mahkluk yang tadi berjalan di belakang Bunda Meiko sehat wal'afiat. Mereka hanya terkena virus sweatdrop berjama'ah.

"Kalian..." aura horor Bunda Meiko langsung menyebar kesana kemari.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?! CEPAT MENYINGKIR ATAU KUSATE SATU-SATU" bak halilintar di malam yang sepi, suara Bunda Meiko menggelegar. Seluruh murid yang (dengan ajaibnya) menimpanya langsung lari terbirit-birit menuju kelas.

"Huff..." Bunda Meiko berdiri.

"Maafkan yang tadi, sekarang mari kita menuju ke kelas kalian. Dan saranku, siapkan mental kalian." Kata Bunda Meiko sembari tersenyum, senyum manis dan mematikan.

"Baik, bu." Dua murid itu mengangguk bersama.


[1] thank you sir, dalam bahasa orang males (contohnya saya)

Yak, akhirnya saya bisa update setelah mengalami ide buntu... maaf sudah membuat readers sekalian menjadi fosil saking lamanya... *dibunuh, dicincang, terus diblender sama readers*

Gomennasai! *bungkuk-bungkuk* TToTT

Paling tidak saya nggak lupa :)

Dan, terimakasih sudah menunggu dan membaca. Segala kritik, saran, makian, tamparan, tendangan, flame, ejekan, dan teman-temannya saya terima dengan senang hati.

Erika the Bunny Girl