Bunda Meiko memasuki kelas dengan langkah biasa tapi dengan perasaan dag dig dug kalau-kalau janjinya mau ditagih. Ia berhenti sejenak hanya untuk sweatdrop di tempat melihat kursi di sekitar tempat duduk Kaito kosong melompong dan murid yang duduk dekat-dekat area itu memajang muka 'KELAS INI ADA HANTUNYAAA!' sementara Kaito sendiri pundung.
"Um... greeting to our teacher..."
"Good morning maam..."
Siiiiiinnngg...
"E..? Sebenarnya apa yang terjadi di sini?" Bunda Meiko nyengir kuda melihat keadaan kelasnya dan nada sambutan murid-muridnya yang seperti baru saja masuk rumah hantu.
Bunda Meiko melangkah masuk, diikuti dua murid yang masih terdiam dari tadi.
Bunda Meiko menarik nafas sejenak.
"...bagi penghuni asli kursi yang kosong di sekitar Kaito, harap kembali ke tempat duduk. Kalau nggak mau, aku punya tiga pilihan: duduk di sana dengan tenang, atau aku lem pantat kalian di sana, dan yang terakhir terbang lewat jendela!"
Tik tok tik tok...
Tak ada yang mau kembali.
Tik tok tik tok tik tok...
Masih tak ada.
Dua murid yang masih mengekor Bunda Meiko masih tetap diam saja dengan wajah datar.
"Lima..." Bunda Meiko mulai menghitung.
"Empat"
"Tiga"
"Dua"
GRUDUG GRUDUG GRUDUG
Bunda Meiko langsung melengos melihat murid-muridnya yang langsung ngibrit ke posisi masing-masing.
"Ha~ah, kalian ini. Sebenarnya ada apa sih?" Bunda Meiko menggaruk kepalanya yang sebenernya nggak gatal.
"A... itu... tadi Kaito sudah tergilas road roller Rin berkali-kali, tapi entah kenapa ia masih di sini..." kata Miku terbata-bata.
"Kalo cuma digilas road roller sih biasa... Aku sering menggilasnya pakai pemotong rumput liar..." Bunda Meiko mengangkat sebelah alis.
Kelas langsung suram.
"Intinya, aku bukan hantu. Aku masih hidup..." suara Kaito membelah kesunyian.
"KENAPA GAK MATI AJA SONO?!" semprot Miku, Luka, Rin, Len, Gakuko, dan Kaiko bersamaan.
Kaito pundung di tempat.
"Oh iya, sampai lupa kan! Dua makhluk di sebelahku ini akan menjadi teman sekelas kalian yang baru..." kata Bunda Meiko dengan riang sementara dua orang yang dimaksud sweatdrop.
"Nah, perkenalkan diri kalian!"
"Nama saya VY1 Mizki, senang berkenalan dengan kalian." Kata yang perempuan.
"Saya VY2 Yuuma, atau juga bisa dipanggil Roro. Senang berkenalan dengan kalian." Kata yang laki-laki
Krik...
"Ehehe, mereka nggak kembar juga bukan sodara kok! Tenang saja, sudah cukup banyak makhluk aneh dengan muka mirip di sini..." Bunda Meiko mengeluarkan evil laugh-nya.
"Baik, kalian boleh duduk."
VY1 memilih tempat duduk di samping Miki sementara VY2 duduk di depan Gakupo.
"Oh iya, Bunda Meiko kan berjanji untuk mentraktir kami sekelas karena kalah taruhan!" celetuk Gakuko.
'Gajah makan kawat!' pikir Bunda Meiko
"Tumben kamu ingat, biasanya kamu pelupa..." kata Gakupo dengan muka datar yang di sambut dengan deathglare dari 'entah adik atau kembarannya' itu. Mereka langsung memulai kembali saling sambit-menyambit dengan alat tulis.
"Oi oi, kalian ini nggak bisa jaga imej ya?" Miki nyeletuk dari belakang, Mizki ketawa.
"DIAM KAU!" duo Gaku itu langsung menyembur Miki dan Mizki, membuat dua orang berawalan mi berakhiran ki itu langsung bungkam.
"Hei... aku punya ide bagus, gimana kalo sekarang kita pergi ke restoran terdekat (dan termahal) di sini?" kata Miku, ia hanya berbisik sewaktu mengatakan 'termahal' dengan harapan Bunada Meiko takkan mendengar.
"AYOOO!" sekelas menjawab kompak.
Sedangkan Bunda Meiko sendiri hanya berekspresi begini= \(TToTT)/ dan bernyanyi Owata.
Sekelas berlomba-lomba untuk ke luar dari ruangan dengan hati yang riang gembira, kecuali Bunda Meiko tentu saja. Tapi ada juga yang menunggu sampai pintu keluar agak kosong (pintunya memang mampet).
"Nee, Kaito! Ayo! Kau mau ditinggal atau bagaimana?" Len menggoyang-goyangkan badan Kaito yang masih pundung di tempat.
"Aaa... nanti aja..." Kaito menjawab dengan nada khas bangun tidur.
"Yah, mukanya kusut deh..." Gakupo menahan tawa.
"Hei Len, nanti kita beli es krim yang banyak! Kaito nggak usah dibagi!" Rin menyarankan.
"Nggak boleh! Es krim selalu punyaku!" Kaito bangkit.
Len, Rin, dan Gakupo ngakak. VY2 yang masih duduk di situ mau tak mau senyum-senyum nggak jelas.
"Hei, ini nggak lucu! Aku serius!" Kaito ngambek.
"Haha, iya deh! Nanti es krimnya buat kamu semua, hahaha" Rin ngakak.
"Eh, ayo keluar! Udah kosong nih! Kita ditinggal nanti..." Len celingukan di pintu.
Rin dan Len langsung lari ke luar.
"Hei, ayo keluar!" Gakupo mengajak VY2 yang dari tadi bungkam seribu bahasa.
VY2 menggeleng.
"Ayolah, nggak bakalan ada yang menghancurkan tulangmu satu-persatu kok!"
"Hhh, iya deh..." akhirnya VY2 merespon.
"Hei, Kaito, ayo!"
"Ya!"
Mereka bertiga berjalan keluar dengan setengah berlari supaya nggak ditinggal.
Sepanjang perjalanan, Gakupo dan Kaito tak henti-hentinya nyerocos kesana-kemari. Mulai dari semut sampai cara gosok gigi yang benar dibahas dengan urutan yang loncat-loncat. Bahkan mereka nggak lupa membahas gorila.
VY2 seperinya cukup senang menjadi pendengar. Ia (yang berjalan di sebelah Gakupo) tampak senyum-senyum kayak orang kehilangan kewarasan waktu Kaito menceritakan pengalamannya yang ia beri judul 'Sedetik Sebelum Saya Nyebur Got'.
Mau tau ceritanya? Mari pertajam pendengaran...
"Jadi, waktu pulang sekolah bareng Kaiko sebulan lalu, kami nyemplung got dengan kerennya!"
"Heh?"
"Iya, waktu kita jalan minggir-minggir sambil berpegangan tangan dekat got besar di sekitar rumah Gumi, ada orang yang mengguyurkan air dari atas. Kayaknya airnya itu bekas pot mawar, masih ada beberapa tangkai mawarnya. Airnya itu kena Kaiko, aku kena cipratan plus tangkai berdurinya. Entah karena kaget atau apa, Kaiko kepleset dan kecebur. Aku ketarik, ikut kecebur. Akhirnya kita jadi monster mawar got."
Gakupo ngakak kayak orang gila sementara VY2 menahan tawa. Sebenarnya, orang yang menuangkan air bekas vas bunga itu tak lain adalah Gakuko yang sedang main ke rumah Gumi. Gakupo sudah mendengar cerita dari Gakuko bahwa waktu adiknya yang rada-rada itu menuangkan air pot, terdengar suara, "KYAAAAA!" dan "HUWAAAA!" yang nyaris bersamaan dengan suara khas orang kecemplung.
"Hei, VY2, kamu kok diem aja dari tadi?" Gakupo yang tawanya sudah reda bertanya pada makhluk berambut pink di sebelahnya.
VY2 menggeleng.
"Eh, enaknya kamu dipanggil siapa? VY2, Yuuma, atau Roro?" tanya Kaito
"Terserah"
"Emm... biasanya dipanggil siapa?"
"..."
"..."
"..."
Mereka berjalan dalam kesunyian, sampai akhirnya mereka melihat kerumunan teman-teman sekelas mereka di depan sebuah cafetaria (yang mewah). Terlihat Bunda Meiko yang berusaha protes akan pemerasan tidak langsung yang dilakukan oleh murid-muridnya.
Mereka bertiga menghampiri cafetaria tersebut dan langsung memasukinya. Tampak kursi-kursi sudah dipenuhi, tinggal bangku di sudut yang kosong.
"Kita duduk di sana saja!" Gakupo berusaha mencairkan suasana.
"Hn" balas VY2
'Kok dia kayaknya cuek banget... dari tadi kalo ngomong ditahan terus...' pikir Gakupo dan Kaito.
Mereka duduk di tempat kosong tadi, berseberangan dengan tempat duduk yang dipilih oleh sodara Gakupo dan Kaito, yang sepertinya sudah menambah anggota baru, Mizki.
Miku mendekati mereka sambil membawa daftar menu.
"Pilihlah kalian mau apa, tempat ini sudah kupesan khusus kemarin jadi nggak perlu khawatir kalian mau pesan banyak-banyak" kata Miku
"Aye, maam!" respon Kaito. Ia langsung menuliskan pesanannya yang hampir semuanya mengandung kata es krim.
"Kayaknya mudah sekali pesan tempat..." kata Gakupo sambil sesekali melirik-lirik list yang dibuat Kaito (sudah tiga lembar).
"Jelas dong! Cafetaria ini kan punya teman dekat ibuku!" kata Miku sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Pantas saja..." Gakupo sweatdrop.
"Nanti taruh saja di meja pemesanan!" kata Miku, lalu ia pun pergi ke meja-meja lainnya.
Sepi, tak ada percakapan di antara tiga laki-laki itu. Yang terdengar hanyalah suara goresan pensil.
Srat sret srat sret srat sret.
"Kaito, gantian dong..."
"Nih!"
Gakupo nggak separah Kaito, tapi entah pesanannya itu bikin mual atau nggak. (note: pesanannya adalah jus terong, sup terong, dan nasi terong)
Gakupo menyerahkan kertas itu pada VY2
Sret sret sret
"Hei, kamu pesan apa?" tanya Gakupo
VY2 memperlihatkan kertasnya
"Kamu dari tadi diem terus, sebenarnya kamu kenapa? Sakit?" tanya Gakupo lagi.
VY2 menulis sesuatu lagi dan menyerahkannya ke Gakupo.
(tulisan: 'Aku sariawan, di pertemuan antara gigi taring atas sama bawah. Kalo ngomongnya nggak pelan-pelan, sariawannya kegigit. Sakit.')
Gakupo bingung antara mau facepalm, headwall, atau headtable (?).
VY2 buang muka.
Gakupo mengeluarkan buku catatan kecil, menyobek kertasnya, lalu menuliskan sesuatu.
'Mau kupanggil siapa? Roro atau Yuuma?' (Gakupo)
'Dua duanya boleh, terserah kamu' (VY2)
'Kamu enakan yang mana?' (Gakupo)
'Yuuma' (VY2)
'Yaudah... pesanannya aku ambil ya...' (Gakupo)
'Ya' (Yuuma)
"Kaito, kamu nggak nambah lagi kan?"
"Nggak, bawa aja sono..."
Gakupo berjalan ke tempat pemesanan sambil membawa gulungan kertas. Langkahnya dihentikan oleh adiknya.
"Ara? Kertasnya panjang amat? Laper ato rakus kak?"
Gakupo hanya mengeluarkan evil smirk miliknya.
"Punyaku dan Yuuma di kertas kecil ini, yang panjang banget kayak shopping listmu ini punya Kaito" kata Gakupo sembari membentangkan kertas berisi pesanan Kaito.
Bunda Meiko yang melihatnya langsung menganga.
"Nggak beda sama punya Kaiko nih..." giliran Gakuko membentangkan 'shopping list' milik Kaiko.
Kaito yang melihat itu kontan teriak, "HEH KAIKO! ES KRIM DI SINI PUNYAKU!"
"ENAK AJA! ES KRIM TUH PUNYAKU!"
"PUNYAKUU!" Kaito teriak pake toa
"NGGAK, PUNYAKU!" Kaiko teriak pake mikrophone
Perang mata terjadi di antara mereka.
Gakupo dan Gakuko mengacuhkan pertandingan es krim itu dan meletakkan 'shopping list' masing-masing. Pelayan yang melihat betapa panjang pesanan mereka hanya pundung. Bunda Meiko sendiri berdoa supaya ada keajaiban dan ia dibebaskan dari pemerasan ini.
Gakupo dan Gakupo saling lirik dengan tatapan mematikan mereka sesaat. Lalu kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Di kursinya, Gakupo disambut selembar kertas.
'Kelas ini memang selalu rame ya?' (Yuuma)
'Ya, begitulah...' (Gakupo)
'Kudengar kita kesini karena menang taruhan dengan Bunda Meiko. Taruhan apa?' (Yuuma)
'Bunda Meiko bilang akan mentraktir satu kelas kalau VanaN'Ice membuka topeng mereka kemarin waktu konser di sekolah' (Gakupo)
'Memang sebenarnya VanaN'Ice itu siapa saja?' (Yuuma)
Gakupo diam. Entah dia mau menjawab apa. Baru saja dia mau menulis lagi ketika tiba-tiba terdengar teriakan Gakuko.
"CIYEEE, GAKUPO MAU NULIS SURAT CINTA! BUAT SIAPA TUUUH!"
'Matilah aku...' pikir Gakupo.
"Ini bukan surat cinta... ini cuma–" Gakupo bingung mau menjawab apa.
"SURAT LAMARAN!" Gakuko ngakak guling-guling.
"Bukan, ini... –"
Yuuma bangkit, mengambil spidol white board yang dipegang salah satu pelayan disana. Lalu ia menghapus papan menu yang terbuat dari white board dan menulis disana: 'Itu cuma percakapan antara aku dan Gakupo. Nggak ada yang spesial'
Bunda Meiko yang melihat langsung bangkit dan berkata, "kalian ini homo?"
VY2 facepalm sejenak, lalu menulis: 'Nggak, itu cuma gara-gara aku nggak bisa ngomong banyak-banyak. Sariawan.'
Seluruh penghuni tempat itu hanya manggut-manggut bego.
VY2 kembali ke tempat duduknya setelah membereskan apa yang ia perbuat tadi. Ia disambut kertas.
'Makasih' (Gakupo)
VY2 menghela nafas sambil tersenyum miring ke kiri.
'Ya, anggap saja karena aku nggak mau menghancurkan harga diriku.' (Yuuma)
'Sariawanmu di kanan ya?' (Gakupo)
'...iya' (Yuuma)
Hahaha, Eri balik lagi dengan cerita yang full dengan kata ness, mulai dari full gajeness, sintingness, gilaness, gendengness, sampai-sampai para chara Vocaloid bernasib ngeness... hahaha
Tentang sariawan Yuuma, Eri juga pernah... alhasil nggak bisa ngomong dengan lancar sampai sekitar seminggu DX
Tapi yang terpenting, terima kasih sudah membaca XD segala kritik, saran, makian, cacian, tendangan, dampratan, teriakan, saya terima dengan senang hati
