Selang beberapa menit, pelayan di restoran tersebut mulai bergentayangan membawa pesanan makhluk-makhluk nggak jelas itu. Paling sering kalau nggak menggentayangi mejanya Kaito ya ke tempatnya Kaiko. Dua pecinta es krim ini sudah menelan hampir separuh stok es krim restoran itu dan karena list pesanan mereka yang panjang membuat cafetaria itu order es krim ke tujuh pabrik es krim berbeda dengan catatan khusus; pesanan kilat diantar secepat kilat kalo nggak kilat nyambar.

"Kaiko, kamu nggak takut gemuk apa?" tanya Mizki yang kebetulan duduk tak jauh dari Kaiko yang sedang berperang dengan hebohnya.

"Dia cukup kebal dengan lemak kok Miz, tenang saja..." Miki yang duduk di sebelahnya menyahut.

"Ooh..." Mizki ngangguk-angguk bego.

"Tapi Kaiko itu mending lho... daripada si baka itu..." kata Miku sambil menunjuk Kaito.

"Memang ada apa dengan Kaito?"

"Kalo dia mau, dia bisa nelen kutub utara dan selatan sekaligus... kalo perlu Pluto ikutan dia telan." kata Miku, Mizki ngakak.

"HUATSYII!" Kaito bersin.

Kaiko menyindir Kaito, "Makanya makan es krim jangan banyak-banyak... nanti sakit lhoo..."

"Ciah ciah... Kaiko perhatian sama kakaknya ternyata..." kata Len, yang langsung mendapat lemparan mangkok es krim kosong. Gratis stiknya pula.

Tiba-tiba terdengar suara nan ajaib. Suaranya mirip beton dijatuhin dari lantai 15. Serentak semua menoleh ke asal suara yaitu di mana Luka duduk dan mendapati seekor tuna bakar yang memenuhi meja dan lima orang maid yang menggelepar kecapekan di sekitarnya.

"Apa?" Luka bengong melihat teman sekelasnya bengong sehingga terjadi acara bengong berjamaah yang dipimpin oleh– *kicked*

"Luka, kamu habis makan segitu?" tanya Rin.

"Kalo nggak kenapa aku pesen ini?" tanya Luka sambil menunjuk ikan tuna jaman dinosaurusnya itu.

'Itu makannya gimana lagi... nggak, yang paling penting kompornya seberapa itu?' pikir Gakupo yang terpaksa ngemut sendok gegara pesanannya nggak dateng-dateng.

"Heh, Gaku! Sendoknya jangan ditelen lho!" Kaito yang masih sibuk menikmati es krimnya menyikut rusuk Gakupo, dan sendoknya nyaris ketelen beneran.

"Hekh!" Gakupo langsung batuk-batuk sementara Yuuma di sebelahnya ketawa-ketawa sambil ditahan.

Gakupo baru mau memandang Yuuma dengan tatapan pembunuh ketika ia melihat sup terongnya datang. Batallah niatnya untuk memelototi Yuuma. Yuuma sendiri menggembungkan pipinya, diam-diam dia merasakan lapar yang teramat dalam. Rasa sakitnya menusuk-nusuk lambung, seakan-akan lambungnya bisa memaksanya untuk menelan seluruh makanan yang ada.

Dan datanglah pesanan Yuuma yang tak lain adalah unagi pie (pai belut). Dia langsung makan dengan lahap dan cepat, nggak kelihatan kalo lagi sariawan. Sesekali ia juga bercanda dengan Gakupo. Kaito yang merasa disingkirkan hanya melengos lalu melampiaskan amarahnya pada es krimnya.

Luka yang melihat itu langsung membuat cerita sambil mengisi suaranya, tapi ia ucapkan pelan-pelan karena ia bisa dilempar pake meja kalo orang-orang yang bersangkutan mendengar. Sementara SeeU mencatat ceritanya. Orang-orang yang duduk di sekitarnya menyimak dengan seksama.

Yang Luka ucapkan:

Sore yang indah itu, Gakupo dan Yuuma sedang duduk bersama di dekat kolam. Mereka terlihat mesra. Bak sepasang merpati, mereka bermain dan bercanda bersama sembari menikmati hembusan angin yang tampaknya turut merestui hubungan mereka. Namun sebenarnya, Gakupo sudah bersama dengan Kaito. Dengan kata lain, ia selingkuh. Selingkuh, sodara-sodara!

Dan tanpa sepengatahuan Gakupo dan Yuuma, sebenarnya Kaito melihatnya. Ia marah dan mendekati mereka.

"Ternyata selama ini kau cuma mempermainkan aku! Harusnya aku tahu itu!" Kaito membentak Gakupo.

"Tunggu dulu Kaito! Ini tidak seperti yang kau lihat!" Gakupo mencoba mengelak.

"Lalu apa?! Jelaskan!"

Gakupo bungkam, ia jelas tak bisa berdalih lagi.

"Dasar makhluk nggak berperasaan!"

PLAKK!

Kaito menampar Gakupo di pipi kanan. Gakupo beku di tempat. Tampaknya Yuuma tidak terima kekasihnya diperlakukan sedemikian rupa, lalu ia balas menampar Kaito, tak kalah kerasnya.

PLAKKK!

Mereka berdua terlibat pertengkaran hebat, Gakupo hanya terdiam sampai akhirnya ia memisahkan mereka berdua.

"SUDAH CUKUUUUUP! KALAU MAU MARAH-MARAH JANGAN DI SINI!"

"Tapi kau yang menyebabkan ini semua terjadi Gaku!" Kaito menghardik Gakupo.

"Dia tidak bersalah! Akulah yang–" Yuuma terbatuk dan mengeluarkan darah.

"Yuuma!" Gakupo kaget. "Hei, kamu nggak apa-apa kan?"

"Sana, main sama pacarmu!" Kaito mendorong Gakupo hingga– he?

Yang sebenarnya terjadi:

Gakupo yang penasaran dengan makanan yang dipesan Yuuma iseng mencomotnya, yang langsung dibalas dengan cengiran khas kuda dari kuda pemberani kita *ditendang Yuuma*. Dan Yuuma balas mencoba menyomot terong Gakupo. Mereka melakukan itu sambil cekikikan nggak jelas. Kaito yang melihatnya berkata,

"Iih, Gakupo mentang-mentang punya temen baru aku terus dilupakan ya..." Kaito melengos.

"Hasyah, bilang aja kamu juga pengen ikut nimbrung..." Gakupo mengangkat alis sambil melirik ke arah Kaito.

"Siapa bilang?!" nada suara Kaito meninggi. Ia menatap Gakupo dengan tatapan 'jangan-sok-tau-deh'.

Gakupo mengeluarkan cengiran khas miliknya yang memiliki aura menggoda (?).

"Eh, ada nyamuk..."

PLOK!

Kaito memukul pipi Gakupo dengan daftar menu pelan sambil nyengir penuh kemenangan. Dan tiba-tiba Yuuma balas menggepok pipinya dengan kotak tisu.

"Di lap dulu es krimnya! Kamu belepotan..." kata Yuuma dengan agak ditahan.

"Oh ya..." Kaito menerima pemberian tisunya, "kamu masih bisa ngomong ya? Eh, siapa namamu tadi? Yuuma?"

"Hmm" Yuuma ngangguk.

"Yuuma... artinya kuda kan?" Kaito berkata

"Kuda pemberani..." Yuuma membenarkan

"Iya kuda kan?" Kaito tampak nggak terima

"Hoi, ceritanya mau menghina atau mengej– NNGGh!" Yuuma menutup mulutnya

"Eh, kenapa?" Gakupo bertanya, Kaito menatap dengan tatapan penasaran.

"Sariawannya kegigit ya?" Kaito pindah dengan cepat sampai nabrak Gakupo dan tanpa sengaja membuat Gakupo menubruk Yuuma. Yuuma dan Gakupo jatuh dari kursi.

Back To Normal

"Eh... eh..." Luka bengong. Kaito speechless, baru sadar apa yang sudah diperbuatnya

"Kak..." Gakuko nggak kalah bengong. 'Wedyan... kakak gue maho!' pikir Gakuko dengan nistanya.

Semua orang mendadak menghentikan aktivitas masing-masing. Mata mereka tertuju ke arah dua orang yang sedang ada di dalam posisi yang...

Yeah, posisi yang...

Posisi...

Posisi...

Yang... (readers: cepetan!)

Maha awkward sekali... (readers: woooy!)

Yaitu... (readers: *lempar golok ke author*)

Yaitu posisi Yuuma tidur telentang di bawah Gakupo...

Muka mereka berdua dekat. Terlalu dekat (tapi nggak nemplek lho ya... ngarep banget... *author dicincang*). Luka dan Rin langsung keluar sifat aslinya. Dua makhluk ini langsung beraksi dengan kamera di tangan, mengabadikan momen langka yang terjadi berkat si baKaito.

Mereka terdiam beberapa saat sampai akhirnya nyawa Gakupo kembali setelah mengembara dan ia pun segera berdiri. Ia menggeser Kaito lalu duduk dengan wajah sebel setengah manyun.

Yuuma sendiri bangkit, berjalan memutar, dan duduk di sebelah Kaito juga. Kaito sendiri merasa antara bersalah dan bingung.

Kelas masih bengong.

"Ahah... lupakan kejadian tadi... gimana kalau kita lanjut makan?" Miku berusaha mengubah atmosfir aneh yang merajalela.

Siiinnngg...

"...emm... atau harus diingat..." Miku cengengesan sementara di sebelahnya Rin dan Luka ketawa-ketawa nggak jelas mirip setan kerasukan.

"HOI! LUKA! RIN!" Bunda Meiko berteriak.

"Y– Y– YES MAAM!" keduanya langsung berdiri bak serdadu dibentak atasannya. Bunda Meiko berjalan mendekat lalu berbisik di dekat telinga mereka berdua.

"... aku dapet fotonya yg dari dekat... muka mereka kelihatan kyk stro~ be~ ri~"

"Mana?!" Luka dan Rin berkata serentak, plus puppy eyes. Bunda Meiko menunjukkan masterpiecenya dan memang benar foto itu lebih jelas ketimbang foto milik Rin dan Luka.

Kaito yang mulai merasa kalau itu salahnya melemparkan stik es krimnya ke arah kamera Bunda Meiko, dan bahkan berhasil membuatnya terjatuh dengan sukses ke lantai sampai batrenya copot.

Rata-rata wajah orang disana adalah begini O.O

Yuuma langsung berdiri, mengambil kameranya, mengeluarkan kartu memorinya, lalu menginjak-injak kartu memori malang itu sampai remuk-muk-muk mirip wafer kelindes road roller.

Semua berwajah begini O_O"

Sementara yang berbaju merah dari atas sampai bawah memajang wajah khas gorila ngamuk.

"Hapus fotonya... HAPUUUUUUSSS!" Gakupo melemparkan beberapa pisau yang entah dia dapat dari mana ke arah Luka dan Rin.

"He..?" Kaito bengong.

"Hapus fotonya atau kamera kalian senasib dengan kartu memori ini..." Yuuma berkata dengan perlahan walau tampak jelas aura pembunuh di sekitarnya.

"Balikin kartu memorinya plus isinya sekarang..." Bunda Meiko nggak mau kalah.

"Hapus fotonya..." Gakupo berdiri menggenggam beberapa pisau dan garpu makan.

"Atau kalian..." Yuuma menarik beberapa pisau dari lengan bajunya.

"Yang kami hapus..." mereka serempak berkata, aura pembunuh menyebar.

"Langkahi mayatku dulu..." kata Bunda Meiko sementara di belakangnya Luka membawa tuna besar (dan mentah) yang entah dapat darimana dan Rin mengacungkan meriam jeruknya.

"Yak, dan tampaknya kedua belah pihak telah menyiapkan senjata masing-masing dan bersiap untuk memulai pertempuran terseru abad ini!" Kaiko berlagak menjadi MC setelah merebut mikrofon yang sebenarnya akan digunakan oleh salah satu pelayan restoran untuk mendamaikan suasana.

"Bunda Meiko terlihat sangat garang dan bengis, ia benar-benar serius untuk melindungi foto-foto langka yang baru saja didapatlan walaupun sudah kehilangan beberapa foto yang lebih antik" Kaito malah ikut merebut mikrofon yang lain dan ikut menjadi MC.

"Har–" niat mulia sang pelayan restoran kembali gagal karena Gakuko menyomot mikrofonnya dengan cepat sambil berlari.

"Dan yak, MC Gakuko berhasil merebut mikrofon dari monster besar penghuni gua hantu!" kata-kata Kaiko membuat sang pelayan pundung di pojokan.

"Sementara pada pihak laki-laki, terdapat satu samurai ungu dan satu eh– " Gakuko bingung

"Ninja pink!" kata Kaito dengan pose norak.

"Meskipun warna mereka tidak menampakkan aura jantan, mereka tidak kalah mengerikan dari barisan wanita!"

Kaiko berjalan ke tengah, di antara Bunda Meiko dan Roro a.k.a Yuuma yang sedang perang deathglare. Ia memegang sebuah bulu.

"Jika bulu ini menyentuh lantai, pertandingan akan dimulai. Siap?!" Kaiko menoleh ke arah Luka dan Rin, melihat mereka mengangguk mantap. Lalu menoleh ke arah Gakupo dan mendapat jawaban berupa cengiran setan. Lalu ia menatap ke arah Yuuma dan Bunda Meiko. Yuuma menatapnya dengan tatapan tegas sementara Bunda Meiko berteriak, "SIAP UNTUK MENCINCANG TERONG PINK!" yang jelas membuat aura kegelapan Gakupo dan Yuuma bertambah.

Gakuko, dengan pakaian khas pedagang popcorn, berkeliling sambil berteriak, "Popcorn! Popcorn! Minuman dingin!"

"Bagi penonton diharap menyiapkan pelindung badan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan..." Kaito memperingatkan.

Kaiko memegang bulunya (yang sepertinya dia cabut dari kemoceng di ujung ruangan) dengan jempol dan telunjuk kanannya. Lalu ia menjatuhkannya...

Setiap mata di sana memperhatikan dengan seksama bulu ayam yang lebar itu jatuh perlahan karena ditahan oleh udara, bahkan mereka mungkin malah tidak berkedip. Dan sedikit lagi bulu itu menyentuh lantai.

Dan...


Sudah berapa abad Eri pergi? O.o
Maaf minna lama nunggu... Eri harus mencari koneksi yang cukup cepat kalau mau sukses upload, dan beginilah hasilnya... *emo corner*

Maaf kalau Eri nggak bisa bales review, tapi terimakasih pada yang mau menyempatkan diri buat ngeklik tombol review, favourite this story, follow this story, atau bahkan ngeklik judul fanfic ini untuk mbaca... Eri udah seneng banget kok! ^^ (kok malah kayak surat selamat tinggal ya?)

Sampai jumpa di chapter depan XD