TRAANGG!

Bersamaan dengan sang bulu menyentuh lantai, Yuuma dan Bunda Meiko menyerang satu sama lain. Yuuma menggunakan pisau roti sedangkan Bunda Meiko menggunakan gelangnya yang terbuat dari besi.

"Yak! Pertandingan telah dimulai! Bunda Meiko dan Roro mengadu pisau roti dan mentega sementara Gakupo menangkis semua jeruk yang meloncat ke arahnya dengan menggunakan pisau roti juga!" Kaiko berlagak bak MC sepakbola.

"Dan jeruk-jeruk itu terkupas dengan indahnya sodara-sodara! Lihatlah!" Kaito mengambil jeruk yang jatuh di dekatnya. "Bahkan bersih dari bagian putihnya..." lanjutnya sambil menunjukkan buah jeruk yang sudah bersih mengkilap(?).

"Popcorn! Popcorn! Masih hangat, masih hangat! Silahkan dibeli!" Gakuko malah jualan dengan gajenya.

SYUT! SYUT! SYUT!

Bunda Meiko melemparkan gelang-gelangnya ke arah Roro alias Yuuma dan Gakupo. Roro menghindarinya dengan cepat sedangkan Gakupo menangkapnya lalu melemparkannya ke arah Luka dan Rin. Luka membalikkannya dengan cara memukul gelang itu dengan tuna besarnya sedangkan Rin...

Jidat Rin tidak selamat...

"AWAS SAJA KAU!" Rin tampak nggak terima dengan perlakuan sang pelempar gelang yang dengan kejamnya melemparkan gelang besi dengan kecepatan tinggi ke arah jidat tersayangnya.

"Yah, sodara-sodara... Luka berhasil memukul balik gelang yang dilempar Gakupo. Bahkan ia membuat gelang itu meluncur dua kali lebih cepat, ke arah Yuuma. Sedangkan Rin mendapat ciuman manis dari gelang yang lain tepat di jidatnya!" Kaiko berkata sampai membuat hujan lokal.

"Dan ooh! Yuuma menghindar dengan manis, gelang itu kembali ditangkap oleh Gakupo dan dilempar kembali, kali ini bersamaan dengan beberapa pisau. Rin mengarahkan meriam jeruknya dan menembakkan ke arah pisau-pisau itu! Dan pisau-pisau itu nancep dengan sukses tepat di tengah jeruk-jeruk malang itu!" Kaito nggak mau kalah.

"Es jeruk! Jeruk hangat! Jus jeruk! Asli baru dibuat! Silahkan dibeli!" Gakuko masih berjualan (dengan noraknya).

"WOY!" Kaiko dan Kaito meneriaki Gakuko yang cuek bebek dan melanjutkan bisnisnya.

Penonton begitu antusias melihat betapa seriusnya pertandingan antara grup cowok dan cewek ini. Bak bioskop, sejauh mata memandang kau hanya akan melihat orang dan popcorn. Dan bisa ditebak, jualan Gakuko laris manis.

"OOH! Sodara-sodara! Si kuning membantu Bu Merah yang tampak tersudut karena serangan-serangan mematikan dari si pink-boy. Dan yak! Ia akhirnya membuat si pink-boy mundur ke tempat si ungu." Dan entah darimana Gakuko mendapat julukan-julukan itu. Dan dia masih saja mengenakan baju khas penjual popcorn.

"Dan melihat si Pink-boy mendapat kesulitan, si Ungu melemparkan pisau-pisaunya yang entah bagaimana bisa jadi macem-macem. Ada pisau roti, pisau dapur, pisau buah, pisau daging, sampai golok pun dilempar!" dan Kaiko ketularan.

"Bu Merah menghindari pisau-pisau itu dengan mudahnya, dengan gerakan bak penari balet profesional! Sementara si Kuning dan si Pink-girl menghindar sebisa mereka... dan ooohh sodara-sodara, golok yang dilempar si Ungu dengan anggunnya nancep di mata sang tuna milik si Pink-girl, tembus sampai belakang!" dan entah kenapa Kaiko bisa tertular dengan cepat.

"Si Pink-boy dan Ungu-boy kembali melancarkan serangan, dan Bu Merah, si Kuning, dan Pink-girl juga tidak mau kalah!" dan Kaito ikut ketularan virus nista Gakuko.

Gakupo tiba-tiba menghentikan serangannya ketika mendengar tiga MC maha nggak jelas itu terus-menerus memanggilnya si Ungu. Dan perempatan muncul ketika Gakuko berkata, "Apa yang terjadi?! Si girly-man alias Ungu chan menghentikan serangannya!"

Detik itu juga sebuah pisau melesat melewati pelipis Gakuko yang meringis kaget plus ngeri sementara Kaito dan Kaiko berwajah O_O

"Kalau kau memanggilku begitu lagi, akan kupastikan benda ini menembus kepalamu..." Gakupo mengeluarkan aura iblis sambil menggenggam golok. Gakuko ketawa maksa.

Kaiko menyenggol Gakuko dan bertanya, "dia nggak sungguh-sungguh melakukannya kan?"

"Tiap kali aura itu muncul, setiap kata yang diucapkannya nggak pernah cuma gertak sambel... dia PASTI akan melakukannya, tanya Kaito yang sudah pernah mengalami..."

"Kaito, apa iya?" Kaiko menoleh ke arah sodaranya dan mendapati Kaito tampak begitu depresi dan nyaris mirip orang trauma berat.

"Aku nggak ngelakuin... aku nggak ngelakuin... aku nggak ngelakuin.. aku nggak ngelakuin... aku nggak ngelakuin..." Kaito mengatakan itu berulang-ulang bak mantra pemanggil arwah. Kalau dilihat sekilas, Kaito mirip dengan dukun yang komat-kamit mau nyantet.

"Dia trauma liat aura Gakupo..." bisik Gakuko, "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang terjadi pada Kaito..."

Kaiko memasang wajah 'cerita! Ayo cerita!' dan membuat Gakuko menghela nafas.

"Jadi, begini..."


~Flashback~

Pulang sekolah, Gakupo menunggu seseorang di bawah pohon dengan ekspresi khas orang yang yakin bahwa sebentar lagi dirinya akan mati bosan dan berlumut. Ia baru saja berniat untuk meninggalkan tempat itu ketika tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.

"GAKKUN!" pemilik suara itu, Kaito, adalah makhluk yang sedari tadi ditunggu Gakupo.

"Lama amat!" Gakupo menghela nafas.

"Hie~ maaf~" Kaito menggaruk belakang kepalanya yang nggak gatal.

Mereka lalu berjalan bersama sambil membahas macam-macam, yang kalau diperhatikan nggak jauh-jauh dari musik. Dan mereka tiba di rumah Gakupo. Di sana, mereka beristirahat sambil membahas kostum. Dan tiba-tiba Kaito berkata, "mungkin kau harus memotong pendek rambutmu..."

"Eh, kenapa?"

"Dari belakang kau terlihat seperti perempuan yang ahemcantikahem... aku bahkan sering nyaris salah memanggilmu Gakuko. Dan banyak yang salah memanggilmu 'mbak' atau 'bu'..."

"Tapi aku suka ekspresi mereka waktu mereka tau aku sebenernya cowok..."

"Ya sudah deh... itu pilihanmu. Aku cuma berdoa nggak ada yang menganggapmu banci. Atau seperti yang temenku bilang, girly-man. Mungkin cowok cantik lebih cocok..."

"Menganggapku apa?" Gakupo mengepalkan tangannya, dan saat itulah Gakuko masuk.

"BANCI! B-A-N-C-I! Karena kau terlihat cantik untuk ukuran cowok. Cowok cantik~" kata Kaito dengan nada menggoda.

"Katakan itu sekali lagi dan kau akan menyesal..." aura iblis mengelilingi Gakupo. Gakuko nggak berani mendekat, hanya menatap dari balik pintu.

"Kamu itu cowok cantik~ masih kurang jelas juga kah? Biar kuulang lagi... COWOK CANTIK~" Kaito masih belum menyadari aura gelap Gakupo.

Dan sudah terlambat untuk itu.

Gakupo menarik syal Kaito kuat-kuat sampai mencekiknya. Lalu ia menggantung Kaito di langit-langit dan mengambil raket nyamuk. Raket. Nyamuk.

Kaito berusaha melepaskan diri, tapi pelukan syalnya yang amat sangat kuat membuatnya tak bisa melakukan apapun. Lalu ia merasakan sengatan kuat di pantatnya, yang tak lain adalah pukulan manis dari Gakupo (dengan menggunakan raket nyamuk yang dialiri listrik). Gakupo terus menerus memukulkan raket nyamuk itu ke pantat Kaito yang malang, sampai nyaris 2 jam. Nyaris, karena Gakuko memberanikan dirinya untuk menyeret Gakupo yang baru saja akan memukulkan setrika panas.

Setelah kejadian itu, Kaito nggak bisa duduk selama sebulan dan kalau bertemu dengan Gakupo dia langsung sembah sujud sambil meminta maaf, bahkan memperlakukannya bak raja.


"Begitulah ceritanya..." kata Gakuko. Kaiko merinding gila lalu melirik ke arah Kaito yang masih memohon ampun, pada siapa tak ada yang tahu.

Sementara itu, Rin berhasil mendaratkan ciuman manis ke jidat VY2 melalui jeruknya, membuatnya jatuh ke belakang dengan elitnya. Tak rela teman seperjuangannya dilempar jeruk, Gakupo melemparkan piring-piring yang ada di sekitarnya.

"Yak, Gakupo_sama mengeluarkan jurus rahasianya, PIRING TERBANG!" kata Kaito, masih gemetaran nggak jelas walau berusaha terlihat ceria. Gakupo langsung mendeathglare Kaito, membuat mental Kaito hancur seketika.

Tiba-tiba Gakupo tersenyum, yang kalau diteliti lebih jauh, sebenarnya adalah smirk. Ia mengambil satu tong es krim milik Kaito dan meriam kecil. Lalu ia memasukkan es krim sebanyak-banyaknya dan menembakkan ke arah Luka.

"NOOO! MY DEAR ES KRIM!" Kaito berteriak, Kaiko membiarkan mulutnya menggantung terbuka melihat es krim itu terbang ke arah Luka, dan...

Strike.

Luka langsung marah-marah karena rambutnya yang panjang dipenuhi krim dan badannya dingin. Dengan bantuan Rin, ia menembakkan sekumpulan tuna. Sebelum tuna-tuna itu mencium mereka, VY2 dengan tangkas memutar-mutarkan gantungan jaket seolah-olah itu adalah bambu yang panjang. Tuna yang bujubunek banyaknya itu terbang ke seluruh penjuru ruangan, dan salah satunya mencium Bunda Meiko. Di bibir.

"BIBIR GUEEE! BIBIR GUE YANG INNOCENT, SEKSI, DAN ADUHAI!" Bunda Meiko menarik-narik rambutnya frustasi. Gakupo dan VY2 ngakak guling-guling sedangkan Rin dan Luka susah payah nahan tawa.

"APA KALIAN KETAWA-TAWA!" Bunda Meiko menunjuk VY2 dan Gakupo. Mereka berenti tertawa dan berguling-guling sesaat, lalu melanjutkan kegiatan mereka lagi, dengan tawa yang lebih keras.

Untuk sesaat Bunda Meiko mendengar cekikikan di belakangnya.

"NGAPA KALIAN IKUTAN KETAWA?!" Bunda Meiko mendeath glare Luka dan Rin yang langsung menciut.

SPLAT!

Es krim seukuran mangkok menabrak belakang kepala Bunda Meiko.

SPLAT!

SPLAT!

Dua lagi, masih menyasar kepala Bunda Meiko yang malang. Kepalanya doang, orangnya nggak *author dibunuh*

"Kalian..." aura horor memancar, Bunda Meiko berbalik badan.

SPLAT!

Kali ini wajahnya nggak luput dari sasaran. Terdengar suara Gakupo dan VY2 yang ngakak nggak karuan sementara penghuni yang lain terdiam ngeri melihat tindakan pemanggil setan yang dilakukan dua cowok berwarna cewek itu.

Selanjutnya, krim kue yang menghiasi baju Bunda Meiko karena VY2 memencet tube krim kuat-kuat dan menggerakkannya seakan-akan dia sedang melukis jarak jauh dengan medan lukis baju Bunda Meiko.

Saat boneka salju yang terbuat dari krim itu mengeluarkan aura-aura ganas, Gakupo dan VY2 melewatinya diam-diam dan menyerang langsung ke arah Luka dan Rin yang memandang horor. Terjadi perebutan sengit saat Gakupo dan VY2 berusaha mengambil hape berisikan foto maha nista dari tangan Rin dan Luka.

Dan akhirnya hape itu jatuh ke tangan VY2.

"TIDAAAAAaaaaaak!" teriakan frustasi keluar dari mulut Rin sementara Luka berusaha melepaskan diri dari cengkraman Gakupo.

"Lepasin MORON!" teriak Luka sambil berusaha menendang suatu area di badan Gakupo dimana matahari tidak bersinar, dan dia gagal.

"Yuuma! Hapus foto maha nista yang tak bisa dimaafkan walau malaikat memafkan itu!" kata Gakupo sambil berusaha menahan Rin dan Luka yang semakin berontak.

VY2 baru mau menyalakan hapenya ketika tiba-tiba sebuah tangan merebut hape itu dan menggunakannya untuk memukul kepalanya keras-keras.

"Siapa. Yang. Menyuruhmu. Melemparkan. Es. Krim. Nista. Ini. Ke. Wajahku?" Bunda Meiko memberi penekanan pada setiap kata pada kalimatnya dan memukul VY2 lagi dengan hape malang itu. Cukup keras sampai terdengar bunyi 'krak'. VY2 mulai limbung ke belakang, memegangi kepalanya yang dipukul. Bunda Meiko mengangkat hape itu tinggi-tinggi, bersiap memukulkannya lagi ke kepala VY2.

"JANGAN!" Gakupo, Luka, dan Rin meneriakkan hal yang sama.

Tiba-tiba Yuuma bergerak menghindar di saat yang tepat sebelum hape yang keras itu menabrak kepalanya. Yang terjadi adalah, hape itu lepas dari tangan Bunda Meiko dan terbanting ke lantai, remuk.

Senyum bahagia yang terkontaminasi oleh smirk terlukis di wajah VY2 dan Gakupo.

"NOOO! KAU MENGAMBIL NYAWAKU!" Rin berteriak frustasi, Luka tampak seperti orang kehilangan arwah, menatap kosong ke arah hape remuk itu.

Bunda Meiko masih separuh iblis... tapi juga separuh bengong.

Seisi restoran bengong.

"Yak, itulah akhir dari pertandingan yang maha menegangkan, mengerikan, dan penuh adrenalin ini. Terimakasih sudah menonton dan selamat menikmati hidangan yang tadi sudah kalian pesan. Saya Gakuko Kamui dan kedua teman saya, Kaito dan Kaiko Shion mohon undur diri dari hadapan anda. Sekali lagi, terimakasih." Gakuko mengakhiri pidatonya dan kembali ke kursinya, memakan terong gorengnya.

Yuuma berjalan sempoyongan ke kursinya. Rasanya kepalanya berputar-putar. Ia duduk lalu menidurkan kepalanya di meja. Kaito duduk di sebelahnya dan mengeluarkan kotak P3K.

Gakupo baru akan kembali ke kursinya ketika tiba-tiba tangannya ditarik ke belakang dengan kuat dan sebuah sapu tangan nemplek di depan mulut dan hidungnya. Gakupo ambruk

"Sebagai hukuman karena kau sudah menghilangkan hape dan gambar menakjubkan dan langka itu, kau harus menanggung akibatnya!" Luka, Rin, dan Bunda Meiko menyeret Gakupo pergi dengan aura nggak enak.

Sayangnya nggak ada yang merasa ada yang hilang. Mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Lalu Rin, Luka, dan Bunda Meiko kembali sambil memasang wajah puas dan melanjutkan makan.

"Mbak! Saya pesan sup neginya lagi!" Miku berteriak sementara pelayan-pelayan (plus koki) yang mendengarnya menatap horor. Mereka harus kembali berhadapan dengan sup negi alias sup daun bawang.

"Es krimnya boleh tambah nggak?" Kaiko menatap salah satu pelayan di dekatnya dengan puppy eyes andalannya.

"Boleh, mau apa?"

"Rasa coklat mint satu truk..." Kaiko tersenyum polos sementara pelayan itu beku di tempat sementara pelayan-pelayan lain menjauh, menatap sang pelayan yang malang itu dengan tatapan 'tanggung jawab... kamu yang ngebolehin...'.

"SAKEEE! MAU SAKE LAGI!" Bunda Meiko berteriak sembari mengangkat botol sakenya yang segede galon dan sudah kosong.

'Itu botol ke sepuluh...' pikir tiap orang di sana.

Kaito mengutak-atik es krim di mangkoknya, lalu melirik ke arah makhluk berambut pink di sebelahnya yang tampaknya kehilangan pikirannya.

"Oi Yuuma... udah mending belum kepalanya?" Kaito bertanya pada makhluk di sebelahnya.

"Udah sih... mending daripada yang tadi." Kata Yuuma.

"Oh iya, bunyi 'krak' yang pertama itu kepalamu atau hapenya?" tanya Kaito.

"Hapenya mungkin, kalo kepalaku yang bunyi harusnya udah ada darah mengucur dengan nggak elitnya dari kepalaku..." Yuuma melengos pelan, "lagipula itu masih lebih mending dibandingkan dengan pukulan tongkat baseball..."

"Pernah kepukul?"

"Yep, dengan pukulan kencang yang bisa membuat homerun..."

"Dan aku penasaran kenapa aku masih hidup dengan pukulan begitu..." Yuuma memasang wajah 'aku ini zombie atau apa?'

"Kalau kau tahu, kau harus kuat dapat pukulan seperti itu karena kalau tidak..." Kaito menggantungkan kalimatnya.

"Kalau tidak?" Yuuma menatap Kaito.

"Kau nggak bakal bisa hidup di kelas ini, karena pasti ada suatu kejadian yang lebih parah dari itu... contohnya, tadi pagi aku dilindes road roller milik Rin, si kuning dengan pita putih itu..."

Yuuma speechless.

"Tapi biasanya yang ketiban sial itu itu aja... biasanya... nggak kalau ada suatu hal yang membuat satu kelas nyaris mati..."

Yuuma mulai berfikir dia sudah masuk ke kelas yang salah. Bukan, tapi sekolah yang salah.

"Tapi kelas ini terlihat begitu normal..." Yuuma berkata sambil ketawa maksa.

"Trus yang tadi itu? Perang gegara foto?"

Yuuma kembali speechless.

Mereka terdiam selama beberapa detik, sampai Kaito kembali bertanya, "sariawanmu tiba-tiba hilang atau kamu udah nggak ngerasa apa-apa?"

"Mungkin sarafku lupa untuk mengirimkan rasa sakit ke otak..." dan tiba-tiba Yuuma teringat sesuatu.

"Gakupo ke mana ya?"

Dan dengan ajaibnya kelas tiba-tiba sunyi.

"Eh iya, si baka itu ngilang ke mana ya?" Gakuko menyadari hilangnya Gakupo.

'Ini sodara atau apaan sih? Sodaranya ngilang dan dia nggak tau...?' pikir hampir setiap insan yang waras di sana.

"Hee... Gakupo siapa...? Si ungu itu kah...?" Bunda Meiko berkata dengan kondisi maha mabok.

Bunda Meiko lalu pergi dengan jalan sempoyongan. Tempat itu sunyi, hanya terdengar cekikikan setan dari Rin dan Luka, membuat suasana jadi horor. Kaito sendiri punya perasaan kalau ketiga makhluk bejat itu (Rin, Luka, dan Bunda Meiko) telah merubah Gakupo menjadi Sailor Moon, Pretty Cure, Powerpuff Girl, atau apapun yang membuatnya terlihat 'perempuan'.

"HIAAA! JANGAN BAWA AKU KE SANA!" teriakan seorang laki-laki.

"Ayolah, kamu bagus kok! Nggak aneh..." suara perempuan dewasa yang mabok.

"TAPI INI GILAA!"

"Ayolah, atau mau kupakaikan bikini?"

"JANGAAAAAAN!"

Dan sepertinya terkaan Kaito benar.

"Ayolaa... yang lain jadi penasaran tuuh..." tampaklah figur Bunda Meiko yang terlihat seperti menarik tangan seseorang.

"NGGAK MAOOOO!"

Bunda Meiko terus berusaha menarik seseorang itu, yang tak lain adalah Gakupo. Semua murid di sana sudah bisa menggambarkan apa yang terjadi, kecuali VY1 dan VY2.

Dan akhirnya Bunda Meiko berhasil menarik Gakupo dan membuat setiap orang di sana berwajah aneh.


oke... cerita ini menggantung di pohon palem lagi...
tapi Eri bersyukur paling nggak ini nggak melar berbulan-bulan lagi T.T

Yak, terimakasih pada reader semua yang telah membaca fic ini, walau Eri tau berbagai gajeness di sana-sini dan ada banyak yang nggak nyambung...

Akhir kata (lho?), terimakasih sudah membaca ^^